FF BAP/YAOI/BANGHIM & All Couple/ONE SHOT/Part 4

Title: One Shot

Author: Bang Young Ran

Rating: T

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Crime(?)/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Him Chan *(^3)(0.0)*

Bang Yong Guk~~

Support Cast:

DaeLo (Jung Dae Hyun & Choi Zelo/Jun Hong)

JongJae (Moon Jong Up & Yoo Young Jae)

Disclaimer: BAP is TSEntertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Kim Him Chan adalah seorang polisi yang ditugaskan untuk menyamar, menjadi salah satu anggota geng yang disebut The Mato's. Dalam penyamarannya, Him Chan berperan sebagai kekasih Bang Yong Guk, si pemimpin geng The Mato's. Lalu, akankah Him Chan berhasil menjebak The Mato's? Atau dia harus terjebak, terperosok begitu dalam atas kasih sayang dari seorang Bang Yong Guk?!

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

One Shot

Part 4

"Anda hanya perlu menyentuhkan ujungnya dengan air seni. Dalam dua atau tiga menit hasilnya akan keluar; merah artinya positif, dan biru berarti negatif."

Him Chan hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan petugas apoteker tersebut. Ia sepenuhnya melupakan bagaimana tatapan aneh beberapa pengunjung apotik di sekitarnya. Toh, siapa yang peduli, kalau di tanganmu saat ini terdapat benda penentu hidup dan matimu? Baiklah, itu terlalu berlebihan. Hanya beberapa jenis 'test pack'. Dan Him Chan rasanya tidak akan pernah tenang bila tidak menggunakan kesemua jenis benda penentu kehamilan tersebut padanya nanti.

"Kau yakin hasilnya akurat?"

Yeoja petugas apoteker tersebut tersenyum mendengar pertanyaan Him Chan. "Ya, tentu saja. Apa ini kehamilan pertama anda?" tanyanya.

Him Chan mematung. Hampir saja kata-kata sinis seperti ini-bukan-urusanmu keluar dari mulut namja cantik tersebut jika saja tidak dilihatnya senyuman ramah sang apoteker padanya. Yah, yeoja itu hanya bertanya. Karenanya, mau tidak mau Him Chan akhirnya juga membalas dengan senyuman hangat. "Tidak, ini yang ke dua."

"Oh? Kalau begitu kenapa anda masih bingung menggunakan test pack?"

"Hahaha, yang pertama aku tidak sengaja mengetahuinya saat berkunjung ke dokter. Eum... baru kali ini aku menggunakan... benda ini." Suara Him Chan semakin mencicit pada kata-kata terakhir. Ditatapnya benda-benda persegi tersebut intens. Apakah biru? Atau merah lah yang akan keluar?

Sepenuhnya larut dalam pikiran saat suara tawa renyah si apoteker membawanya kembali ke dunia nyata,

"Kalau begitu selamat mencoba. Anda tidak perlu meragukan hasilya. Aku menjamin kesemuanya akurat. Dan semoga nanti anda mendapatkan putera, ataupun puteri yang berwajah cantik seperti anda."

Deg~

'Putera? Puteri?'

Entah kenapa ada debaran aneh saat kata-kata itu menyapa pendengaran Him Chan. Dia dilemma antara perasaan senang, haru, namun juga bercampur dengan kesedihan. Semuanya campur aduk. Tidak menentu.

Apa yang akan dilakukannya kalau ternyata dia benar-benar... hamil?

Dan ini... darah daging Yong Guk...

~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~

PRANNGGGGGGG!

Smartphone. Benda elektronik super canggih tersebut pecah berhamburan membentur dinding. Menyusul setelahnya sebuah kepalan tangan memukul bagian dinding yang sama. Terlalu keras, dan mungkin kalau orang biasa yang mengalaminya, pastilah saat ini ia akan berteriak kesakitan dengan tulang jemari retak. Tapi... ini Bang Yong Guk; pria bertubuh muscular yang bahkan tetap berdiri tegap meskipun lebih dari enam peluru pernah bersarang di tubuhnya.

"AAAAKKKKHHH! Aku tidak mengerti lagi apa yang terjadi padanya!? Kenapa dia labil sekali akhir-akhir ini!?"

"Hyung, tenanglah. Mungkin Him Chan Hyung punya masalah yang tidak bisa diceritakannya." Young Jae akhirnya angkat bicara setelah lima menit berdiri di depan pintu kamar tanpa melakukan apa-apa selain memperhatikan sang leader yang tengah mengamuk. Ia sempat melirik Jong Up di sebelahnya, meminta dukungan, meskipun tidak tahu dukungan seperti apa yang dibutuhkan di saat-saat seperti ini.

"AKH!" Hanya dengusan kasar yang bisa Yong Guk berikan. Lelaki tampan tersebut kemudian menghempaskan tubuhnya terlentang di atas ranjang. Ia menutup mata dan merentangkan tangan selebar-lebarnya. Nafasnya masih tidak beraturan, namun kedua orang di depan pintu tahu kalau saat ini Yong Guk tengah berusaha untuk meredam emosinya.

"Aku tidak mengerti. Kenapa susah sekali memahami Kim Him Chan?" Yong Guk mulai bergumam pelan. Bukannya bermaksud untuk bertanya. Kata-kata tersebut lebih ditujukannya pada diri sendiri.

Kembali Young Jae bertukar pandang dengan Jong Up. Terus terang ini bukanlah pertama kalinya mereka melihat Yong Guk lemah seperti ini. Terakhir kali saat... namja itu kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan mobil oleh pengendara mabuk. Dan, itu sudah sangat lama. Young Jae dan Jong Up rasanya belum siap jika dihadapkan dalam pemandangan menyedihkan seperti ini lagi.

"Kalian bisa membantuku?"

Namja di atas ranjang tiba-tiba bersuara. Nada tenang, tidak lagi terdengar frustasi.

"Apa, Hyung?"

"Carilah, Him Chan. Kupikir... tidak baik membiarkannya sendirian di luar sana. Dia... terlihat kacau sekali tadi."

Tidak butuh diperintah dua kali bagi keduanya—Young Jae dan Jong Up—untuk segera melesat keluar dan melaksanakan titah sang leader.

Tinggallah Yong Guk di kamar. Sendiri. Rasanya sepi sekali tanpa Him Chan di sana. Yong Guk seolah baru sadar betapa luasnya kamarnya tersebut. Lalu? Apa yang terjadi dengan sebelum-tidak-adanya Him Chan dalam kehidupannya? Kenapa waktu itu Yong Guk tidak merasa kesepian seperti ini?

'Hime... berbagilah denganku~'

########^0^########

"Biru... biru... biru..." Him Chan mengucapkan kata itu berkali-kali layaknya mantra. Yah, mantra yang sekiranya akan membuatnya... lega? Atau sedih? Entahlah.

Namja cantik itu saat ini tengah berada pada salah satu bilik toilet. Ia duduk dengan tangan menggenggam ujung kertas-kertas panjang seukuran pensil. Kelopak matanya yang dihiasi bulu mata panjang dan lebat terpejam erat. Berbagai macam pikiran buruk dan gila seolah berseliweran di benaknya.

Hamil?

Seharusnya dia waspada, bukan?

Seharusnya Him Chan tidak membiarkan Yong Guk berejakulasi di dalam tubuhnya. Dan mengingat intensitas hubungan intim mereka...

AKHHHH! TIDAK!

'Tenang, Him Chan... Tenang... kau hanya sakit, kelelahan. Tidak ada yang hamil di sini. Yah, kau tidak hamil.'

Lagi-lagi Him Chan melakukannya; bermonolog, berusaha meyakinkan dirinya melalui pikiran. Namja cantik itu kemudian melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Lima menit sudah berlalu. Dua menit lebih lama dari waktu yang tertulis dalam bungkusan test pack.

Inilah saatnya. Apapun yang terjadi, ia akan menghadapinya. Perlahan marbel hitam Him Chan terbuka, ragu-ragu mengintip hasil pada kertas-kertas di tangannya.

Mungkin, badai disertai petir tidak sebanding dengan apa yang Him Chan rasakan sekarang. Perlahan kedua manik mata indah tersebut terasa panas, mulai digenangi air yang secara perlahan menganak sungai di kedua pipi putihnya.

Kesemua ujung kertas-kertas di tangannya, seolah kompak menunjukkan satu warna yang sama.

Merah.

Positif.

~~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~

'Si Chubby Cheeks meyebalkan itu! Kenapa dia sok rahasia-rahasiaan segala?! MENYEBALKAAAAAAANNNN!'

Jung Dae Hyun memang tidak bisa ditebak. Terkadang, namja tampan itu terlihat begitu tenang. Tapi sekarang... dia kembali berekspresi seolah-olah langit akan runtuh. Dia tidak rela sedikitpun kalah dari Young Jae. Tapi... dia bisa apa?

Hei, itu bukan salah Young Jae 'kan, kalau namja manis tersebut berani mengungkapkan perasaannya? Harusnya Dae Hyun juga mengambil tindakan kalau tidak ingin dipecundangi, tapi... mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai tidak semudah yang dibayangkan! Bagaimana kalau nanti Zelo menolaknya? Atau yang lebih parah... namja manis itu menjauhinya karena merasa tidak nyaman!? NO!

"Daehyunie Hyung, Hyung tidak makan?"

Panggilan bernada lembut itu menyadarkan Dae Hyun dari kegalauannya. Ck, apa yang dia lakukan?! Melamun di saat Zelo berada di dekatnya?! "A-ah, ne, Junhongie," sahutnya. Kemudian mulai menyuap ramen yang dibuatkan Zelo sebagai menu makan siang mereka.

Pada awalnya Dae Hyun sama sekali tidak menyadari, namun... setelah beberapa menit berlalu, Zelo sama sekali tidak bersuara. Dae Hyun tahu, terjadi sesuatu pada namja manis di hadapannya.

"Eum... Junhongie, waegeure? Kenapa kau diam saja?"

Zelo hanya tersenyum lemah dan menggeleng, "gwencahana, Hyung. Aku hanya memikirkan Him Chan Hyung," dustanya. Oh, haruskah Zelo mengatakan kalau saat ini dia dilanda rasa cemburu?! Cemburu tidak beralasan, lebih tepatnya. Zelo bahkan tidak bisa menentukan, apakah ia pantas cemburu atau tidak? Karena... hubungan mereka selama ini layaknya dongsaeng dan hyung. Tidak lebih.

"Oh, kau tenang saja. Him Chan Hyung pasti baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, Junhongie~" ujar Dae Hyun sembari tersenyum ramah.

'Ck, kenapa kau tidak peka sekali, Hyung?'

#######^0^########

Sebuah Range Rover hitam tampak membelah jalanan kota Bangkok yang kebanyakan dipenuhi pengendara motor maupun sepeda. Tidak sebanding dengan kemewahannya, mobil mewah tersebut hanya melaju pelan, sesekali berhenti di sisi jalan, lalu kembali melaju dalam kecepatan pelan.

"Bagaimana ini, Jongupie? Kita harus mencari Him Chan Hyung kemana lagi?"

"Tenanglah, Youngie. Kurasa... Him Chan Hyung di sekitar pertokoan ini. Seingatku dia selalu ke daerah ini untuk berbelanja." Jong Up menjawab, sementara matanya nyalang memperhatikan sekeliling, melewati kaca mobil.

Young Jae menghembuskan nafas berat. Dan tanpa bisa dicegah, bibir bawahnya mencebik cemberut. "Tapi Jongupie, Him Chan Hyung sedang marah. Dia tidak mungkin berbelanja, Babbo! Lagipula, Yong Guk Hyung benar-benar. Sudah jelas Him Chan Hyung sedang tidak stabil. Tidak seharusnya dia terus-terusan bertanya, bukan?!" gerutu Young Jae sebal. Dia tadi mendapat tambahan informasi dari Zelo yang samar-samar mendengar sedikit perdebatan pasangan BangHim.

Jong Up malah tersenyum dan menggeleng. Kalau di saat-saat seperti ini, rasanya lebih dewasa dia daripada Young Jae. "Youngie, tidak ada salahnya kalau seorang kekasih mengkhawatirkan orang yang dicintainya. Justru keadaan seperti Him Chan Hyung-lah yang membuat Yong Guk Hyung penasaran. Dia hanya mencemaskan kekasihnya. Itu saja."

Kata-kata sang kekasih membuat namja manis di sebelah kursi pengemudi pouting. "Yah, apa benar kau ini lebih muda dua tahun dariku?! Kau terdengar seperti orang tua. Atau jangan-jangan... kau memalsukan umurmu!?" tuduhnya.

"Hahaha, jangan menempatkan kebijaksanaan seseorang berdasarkan umur, Youngie~" celetuk Jong Up sembari menggusak gemas surai cokelat sang kekasih. Baiklah, namja ini benar-benar memperlakukan makhluk jenius seperti Yoo Young Jae secara semena-mena, eoh?

"Yak! Menyebalkan sekali. Jangan berlagak dewasa, Jongupie."

Jong Up hanya tertawa melihat betapa kerasnya usaha young Jae untuk menjauh dari jangkauannya. Percuma. Mereka di dalam mobil. Terperangkap, berdua. Namja manis itu bahkan tidak punya ruang untuk menghindar.

Melihat hal tersebut, perlahan muncul ide jahil di benak Jong Up. Namja bertubuh atletis tersebut sengaja menghentikan mobil di tepi jalan dan bergerak mendekatkan wajahnya pada Young Jae. Membuat namja manis bermata doe tersebut terbelalak.

Blush~

"Jo-Jongupie? A-apa yang akan kau lakukan?"

Jong Up menyeringai, "menurutmu?"

"Ki-kita di tempat umum, Babbo! Kau tidak malu kalau sampai ada yang melihat kita!?" Suara Young Jae meninggi marah. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang memerah panas.

"Ini kaca film, Youngie Baby~ Mereka tidak akan bisa melihat kita dari luar," bisik Jong Up seduktif. Wajahnya semakin mendekat, membuat Young Jae mau tidak mau menutup kedua matanya erat.

Oh, ini menggemaskan. Bagaimana mungkin makhluk manis ini semalam begitu berani hingga membuat kedua kaki Jong Up lemas layaknya jelly, sementara sekarang malah bersikap menggemaskan dan blushing parah? Niat Jong Up yang tadinya ingin mengerjai sang kekasih, mendadak buyar. Ia benar-benar ingin melakukannya. Mencium Young Jae.

Oleh karena itu, kedua telapak tangannya menangkup pipi kenyal tersebut dan... mendaratkan ciuman lembut pada bibir manis yang tampaknya tidak akan pernah membuat Jong Up merasa bosan untuk singgah.

Young Jae yang pada awalnya berdiam diri, kini mulai ikut menggerakkan belahan bibirnya seirama dengan Jong Up. Ini bukanlah ciuman pertama, tapi tetap saja menciptakan efek percikan panas ke sekujur tubuh keduanya. Panas yang sama seperti yang melanda keduanya semalam, hanya saja... kali ini terasa lebih manis. Hanya pertukaran saliva, mengulum disertai gigitan kecil yang lembut.

Plop~

Jong Up mengakhiri ciuman basah mereka dengan suara nyaring. Dada keduanya sedikit naik-turun, lumayan sesak meskipun ciuman manis-lah yang saling mereka bagi.

Melihat Young Jae dengan mulut sedikit terbuka, mengundang Jong Up untuk kembali mendekat. Namun apa boleh buat saat kedua tangan namja manis tersebut menghalangi dengan menapak di dadanya.

"Wae?"

Bukannya menjawab dengan benar, Young Jae malah menunjuk dengan dagu ke arah belakang Jong Up. Mata namja manis tersebut terlihat fokus menatap ke arah yang ditunjuknya.

'Memangnya... ada apa?'

Tidak butuh waktu lama bagi Jong Up untuk mendapatkan jawaban. Di luar sana, tepatnya di ujung trotoar berseberangan dari mobil mereka, terlihat sosok namja cantik berkaus putih dan berseragam montir yang bagian atasnya dibiarkan turun, menggantung sempurna di pinggang rampingnya.

Him Chan.

Hanya saja... terlihat berbeda. Tidak ada keceriaan yang tergambar dari kepala yang menunduk dan terus-terusan menatap jalanan beraspal itu. Him Chan sebanding dengan mayat hidup. Tatapannya kosong meskipun saat ini Young Jae dan Jong Up melihatnya dari jarak yang cukup jauh. Yang lebih mengkhawatirkan, namja cantik itu terus melangkah ke depan. Dapat dipastikan kalau kesadaran Him Chan patut dipertanyakan saat ini.

"Huft... biar aku yang menghampirinya, Jongupie. Kau tunggulah di mobil." Young Jae langsung melompat turun tanpa menunggu jawaban dari sang kekasih. "Him Chan Hyung!" panggilnya sembari menyeberangi jalan. Sayangnya, makhluk cantik yang dipanggil malah terus melangkah tanpa menoleh. Sepenuhnya tenggelam dalam dunianya. Sepertinya.

"HYUNG!" Kali ini Young Jae berteriak. Tidak perlu sebenarnya, toh, dia sudah berdiri di depan Him Chan. Menghadang langkah lesu namja cantik itu.

"Eh? Youngie? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Hyung, seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang Hyung lakukan di sini? Ayo kita pulang!" Young Jae meraih pergelangan tangan Him Chan hanya untuk ditepis oleh namja cantik tersebut.

"Aku tidak akan kembali ke sana."

"Hyung?"

Kaki Him Chan seolah bergerak mundur dengan sendirinya. "Aku tidak akan kembali ke sana. Aku tidak bisa bernafas di sana; Dia membuatku tidak bisa bernafas."

"Dia? Maksudmu... Yong Guk Hyung?" Him Chan tidak menjawab. Namun ekspresi keras dan tegang yang ditunjukkannya seolah berkata 'ya, Bang Yong Guk-lah yang membuatku tidak bisa bernafas'.

"Huft..." Lagi-lagi Young Jae menghembuskan nafas berat. Dia memang tidak pernah mengalami apa itu yang namanya dikekang, namun... melihat ke-overpro-an yang Yong Guk tunjukkan pada Him Chan... sedikit-banyaknya, ia paham. Him Chan merasa tidak bisa bernafas. Apa karena itu akhir-akhir ini dia tampak stress?

"Hyung, aku tahu terkadang Yong Guk Hyung berlebihan. Tapi... ada yang berkata padaku, tidak ada salahnya, 'kan, jika seorang kekasih mengkhawatirkan orang yang dicintainya? Yong Guk Hyung hanya terlalu mencintaimu. Dia sangat mencemaskanmu. Karena itulah, meskipun kalian sedang bertengkar dan seberapa-pun labilnya emosinya saat ini, Yong Guk Hyung tetap mengutus aku dan Jongupie untuk mencarimu. Dia terlalu peduli dan mencintaimu, Hyung." Dan sepertinya Young Jae harus berterima kasih banyak pada Jong Up atas kata-kata bijaksananya ini.

Bagai tertusuk dan terhujam di ulu hati, Him Chan tenggelam dalam berbagai emosi.

Cinta...

Itulah yang menjadi masalah sekarang!

Apa Yong Guk tahu apa itu 'cinta'?

Peduli...

Apa Yong Guk pernah memikirkan perasaan orang lain?

Deg~

Oh, Him Chan... siapa yang sebenarnya kau bohongi? Bagaimana hatimu bisa memainkan intrik rumit seperti ini?!

Cinta dan rasa peduli... bukankah Yong Guk memilikinya? Rasa cinta dan peduli-lah yang membuat namja tampan itu... menjadi seorang pembunuh. Yah, dia membunuh semua pejabat bejat itu untuk balas dendam. Tapi... benarkah?

"Hyung, ayo kita pulang, ne?" ajak dan bujuk Young Jae sembari mengulurkan tangannya. Pada awalnya uluran tangan itu hanya ditatap nanar oleh si cantik, namun akhirnya senyuman lega menghiasi wajah Young Jae saat uluran tangannya dibalas dengan genggaman erat oleh jemari putih halus milik Him Chan.

"Ne, ayo kita pulang," ucapnya balas tersenyum.

Yah, Him Chan tidak punya pilihan. Dia sudah jatuh ke dalam kubangan, jadi... kenapa tidak berenang saja sekalian?! Dia akan mencari tahu sendiri kebenaran mengenai Bang Yong Guk. Bila itu bukan untuk kebaikan dirinya... maka ini untuk... makhluk hidup yang bertumbuh di dalam tubuhnya. Paling tidak, di masa depan nanti Him Chan tidak perlu berbohong pada si mungil; mengatakan kalau appanya adalah orang baik. Bukannya pembunuh berdarah dingin.

~~~~~~~\(=^3^=)(=0o0=)/~~~~~~

From: Young Jae

—Hyung, kami sudah menemukan Him Chan Hyung. Sebentar lagi kami sampai di bengkel^^—

14 : 23

Baru dua menit berlalu semenjak terakhir kali mata tajam Yong Guk mengecek jam digital di atas meja nakas di samping tempat tidur. Namja tampan tersebut melakukannya berkali-kali, berharap waktu berjalan dengan cepat dan membawa Him Chan kembali ke ruangan ini. Kamar mereka. Entah kenapa dia merutuki kebodohan yang dilakukannya hingga mengakibatkan ia dan Him Chan bertengkar. Him Chan tidak mau berbagi beban? Fine. Him Chan sekarang membencinya? It's absolutely the-big-NOT FINE!

Brum... cklek!

Suara mesin berhenti dan pintu mobil yang dibuka dari arah garasi hampir saja membuat Yong Guk melompat riang, nyaris berlari keluar dari kamarnya jika saja ia tidak teringat kalau...

'AKU SEDANG TIDAK INGIN MELIHATMU!'

Deg~

Benar. Him Chan sedang tidak ingin melihatnya. Teriakan frustasi namja cantik itu menegaskan hal tersebut. Lalu... apa yang sekarang harus Yong Guk lakukan? Menghindar? Ah, atau lebih tepatnya... menyembunyikan dirinya?

'Huh, lihatlah betapa konyolnya dirimu, Bang Yong Guk! Kau berencana bersembunyi layaknya pengecut dari sosok cantik... lembut... dan... rapuh.'

Cklek.

Yong Guk mematung di tempat. Babbo! Dia berpikir terlalu lama. Si cantik, lembut, dan rapuh itu sekarang sudah berdiri di depan pintu. Pandangan mereka bertemu.

Suasana serasa mencekam karena keduanya tidak bergerak sama sekali. Juga tidak ada pergerakan bibir yang berinisiatif untuk memecah keheningan. Hingga pada akhirnya kepala bersurai hitam Him Chan tertunduk, menatap jemari kakinya. Saat itulah Yong Guk sadar, sosok Him Chan, terlihat semakin rapuh. Layaknya bocah terlantar yang tidak memiliki jalan pulang. Sepenuhnya tersesat.

Tidak tahan melihat pemandangan menyedihkan di depannya, Yong Guk langsung menyongsong dan meraup tubuh kurus sang kekasih ke dalam pelukan luar biasa erat. Tidak membiarkan sedikitpun udara menyela diantara mereka.

"Mianhe, mianhe... Aku memang manusia pabbo. Aku egois. Mianhe, Hime... tidak seharusnya aku memaksamu. Maafkan aku, jeongmal..." ujar Yong Guk beruntun. Salah satu telapak tangan lebarnya menekan bagian belakang kepala Him Chan sehingga wajah cantik namja berkulit putih itu semakin tersembunyi di perpotongan lehernya.

Tidak ada yang bisa Him Chan salahkan selain hormon yang mengambil alih tubuhnya secara semena-mena. Ia bergetar, menangis, entah karena kata-kata penyesalan yang Yong Guk ucapkan atau karena... kenyataan bahwa dirinya hamil. Dia bingung. Takdir membuat posisinya serba sulit.

"Jangan menangis. Kumohon jangan menangis." Yong Guk menenangkan sembari mengusap surai hitam Him Chan lembut. Tindakan yang dilakukannya ini malah membuat si cantik semakin bergetar.

Him Chan benci menjadi melankolis. Tapi sekarang, dia malah menangis dalam pelukan hangat seseorang layaknya tidak ada hari esok.

'Damn hormon...'

Saat tangisan Him Chan mulai mereda, hanya terdengar sesegukan dari bibirnya, Yong Guk melepaskan pelukan erat mereka. Hanya berjarak sedikit. Tubuh keduanya masih menempel sempurna satu sama lain. Kedua tangan Yong Guk kemudian bergerak menghapus linangan air mata di kedua pipi putih tersebut.

"Mianhe, aku membuatmu menangis. Jangan membenciku, Hime. Jangan membenciku."

Si cantik menatap lurus wajah tampan di hadapannya. Mata yang selalu menatap siapapun tajam dan menusuk, kali ini menatap dengan cara berbeda. Terlihat lembut, dilingkupi permohonan. Bukanlah seorang Bang Yong Guk, si pemimpin The Mato's yang tersohor. Mengingatkan Him Chan akan tatapan memelas saat mereka berdebat tadi.

"Bbang, kenapa kau... mencintaiku?" Entah kenapa Him Chan menanyakan ini. Dapat dilihatnya kedua mata Yong Guk melebar, lalu kemudian membentuk dua bulan sabit dengan gummy smile menghiasi bibir.

"Kau baru menanyakan hal itu sekarang?" Yong Guk mencubit pelan pipi kanan sang kekasih. "Saat pertama kali melihatmu; berdiri limbung dengan lengan bersimbah darah, aku hanya berpikir... kenapa bukan aku saja? Kenapa kau harus mendorongku? Percayalah, merahnya darah terlihat sangat mengerikan di atas kulit putihmu. Aku benar-benar panik waktu itu. Seolah lengan yang tertembak mampu membunuhmu seketika." Puncak hidung namja tampan tersebut berkerut. Ia pastinya mengingat dengan jelas saat-saat mengerikan itu, dimana untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Bang Yong Guk takut akan merahnya darah.

Him Chan saat ini tak ubahnya seperti pengamat. Ia memperhatikan bagaimana tarikan otot-otot ekspresi pada wajah Yong Guk. Berharap dengan melakukannya, ia akan dapat membaca apa, dan siapa itu Bang Yong Guk.

Mungkin keduanya memang berjodoh. Mereka sama-sama buntu pada kata 'apa' dan 'siapa' diri masing-masing. Oh, seandainya hidup ini lebih mudah dan setiap manusia dapat dengan bebas menyampaikan isi hati satu sama lain.

"Bagiku kau seperti obat. Candu. Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana jadinya diriku tanpamu. Setiap kali melihatmu di sekitar, melindungimu sepenuh hati adalah satu-satunya yang kupikirkan. Kau terluka, aku akan jauh beribu-ribu lebih terluka. Terdengar mustahil dan gombal, tapi... itulah kenyataannya." Yong Guk mengakhiri kata-katanya dengan memberi kecupan kilat di bibir Him Chan. Membuat mata bengkak si makhluk cantik melebar.

Dan lagi-lagi Him Chan terlihat seperti anjing kecil karena memiringkan kepala dengan tatapan innocence terpatri jelas di wajahnya. "Jadi... kau benar-benar... mencintaiku?"

Yah, mungkin namja cantik ini tidak sadar telah membuat ekspresi menggemaskan tersebut. Oh, bagaimana Yong Guk harus bertahan bila Him Chan secara tanpa sadar telah mempesonanya, membutakan matanya dengan segala kecantikan dan keimutan yang dimilikinya?

Merasa tidak tahan, Yong Guk kemudian kembali mencuri kecupan kilat di bibir merah Him Chan. "Ne, aku sangat mencintaimu, Hime," tegasnya tanpa keraguan.

Deg~

Deg~

Deg~

Jantung Him Chan kembali berdebar. Jadi... Bang Yong Guk tahu apa itu... cinta? Dan namja itu sungguh-sungguh... mencintainya?

"Apa... tidak sebaiknya kalian pergi? Kupikir tidak baik mengintip apa yang dua anak manusia lakukan."

Kedua makhluk yang sedang berhimpitan di balik pintu kamar BangHim, mengintip, tentu saja terlonjak kaget. Terlebih, orang yang baru saja menegur mereka juga ikut menyandarkan dagu di puncak kepala paling atas. Untunglah, mereka berpegangan erat pada sisi kerangka pintu sehingga tidak terjatuh.

"Ya, Youngie Hyung! Kau mengagetkan kami!" Si maknae Zelo berbisik. Mereka masih saja pada posisi kepala tersusun satu sama lain. Sementara... Dae Hyun yang berada paling bawah, mulai bergerak gusar karena ada tambahan berat di puncak kepalanya yang terdapat dagu Zelo.

"Kkkkkk~ kalian ini memang kompak sekali, eoh?! Melakukan perbuatan buruk pun kalian bersama!" kekeh dan ledek Young Jae.

"Ya! Young Jae! Cepat minggir! Kepalaku sakit, Babbo!"

Bukan Young Jae namanya kalau ia akan menuruti perintah Dae Hyun. Malah, dengan sengaja namja manis tersebut menambahkan berat pada dagunya, menekan sekeras mungkin ke bawah. Young Jae tertawa keras saat didengarnya pekikan kesakitan dari bawah. Puas sekali karena ia tahu suara penderitaan milik siapa itu.

Cklek~

"Kalian sedang apa?"

SIIIIIIIINNNGGGGGGG...

Pintu kamar BangHim terbuka sepenuhnya, ketiga onggok manusia di depan pintu mematung seketika. Sang leader, Bang Yong Guk, menatap mereka dengan satu alis terangkat dan kening berkerut. Di balik bahunya tampak Him Chan mengntip dengan wajah memerah—mungkin karena menangis—dan mata membengkak.

"Youngie, Zelo-ya, Dae Hyun? Kalian sedang... apa?" tanya Him Chan bingung.

"Mmmm..."

"Eng..."

"Aaa..."

Yong Guk menyipitkan mata, curiga, atau mungkin menyadari apa yang tengah dilakukan ketiga makhluk di hadapannya ini.

"Hehehe... jadi kalian sudah baikan?" tanya Young Jae sok polos disertai cengiran aneh.

Urat di dahi Yong Guk berkedut. Giginya terdengar keras bergemeletuk, hingga...

"YA! BERANINYA KALIAN MENGINTIP KAMI!? JIGULLE?!" teriak sang leader membahana. Ketiga manusia yang diteriaki sontak berhamburan, berlari dari kejaran 'monster' tampan bernama Bang Yong Guk. Jong Up yang tengah berlatih di ruang bawah pun mungkin dapat mendengar teriakan tersebut.

Tinggallah Him Chan sendiri. Berdiri, melongo di pintu kamar mereka sembari memperhatikan kekasihnya yang berlari mengejar Young Jae, Dae Hyun, dan Zelo. Tanpa sadar, ia tersenyum. Dan... benarkah orang seperti Bang Yong Guk adalah orang jahat?

'Entahlah~'

TBC