Maafkan author abal ini ya chap 4 di update karena ada kesalahan di sebuah
scene sekarang sudah di rubah jadi, enjoy reading aja ^^

CHAP 4

"Yifan! Kau mau ice cream?" tanya Yixing. Aku dan Yixing sedang pergi ke pusat
perbelanjaan untuk membantu Yixing mencari pakaian dan entah apa. Aku hanya
menemaninya. Dan kami baru saja makan di sebuah restoran fast food karena Yixing
belum makan pagi. Aku benar-benar sudah kenyang. Apalagi Yixing menghabiskan
2 porsi kentang goreng. Dan sekarang ia masih mau makan ice cream lagi?
Oh Tuhan, terbuat dari apa perut bocah ini?

"Kau masih mau makan hah?" tanyaku. "Tidak... hanya dari kemarin aku ingin makan
ice cream. Kau mau?" Yixing menawariku lagi. Aku menggelengkan kepalaku. "Hmm
baiklah, kau tunggu disini sebentar!" tak lama kemudian Yixing sudah menghilang
entah kemana mencari penjual ice cream di gedung ini.

Aku duduk dibangku yang disediakan gedung ini untuk pengunjung. Saat ini aku
harus benar-benar menunggu Yixing kembali.

"Yifaaan!" Yixing memanggilku dari kejauhan dengan suara yang cukup keras. Banyak
orang-orang yang menoleh ke arahnya. Aku hanya menunduk malu dan pura-pura tidak
mengenalnya. Yixing berlari ke arahku sambil membawa ice cream vanilla yang ia
beli. Ia duduk di sebelahku dan tersenyum tanpa dosa. Tapi wajahnya sangat
menggemaskan. Tolong aku tidak sanggup.
"Jangan berteriak seperti itu, Xing. Itu benar-benar memalukan." ujarku sebal
sambil masih menunduk. "Maaf, aku hanya terlalu senang. Kau tahu aku menemukan
apa?" tanyanya masih polos. "Barang yang kau cari?" tanyaku. "Tidak. Ayo ikut aku
nanti akan kutunjukan." jawabnya sambil seraya berdiri. Ia menarik-narik tanganku
agar aku cepat berdiri.

Kemudian aku berdiri dan berbisik padanya, "Jangan membuat hal-hal yang memalukan."
Yixing tertawa cukup keras. Oh tidak tamat sudah aku.

.

.

"Lihat poster ini." kami berhenti di depan sebuah dinding yang ditempeli poster
pengumuman. Aku membacanya. Rupanya itu adalah poster lomba dance yang berhadiah-
tunggu. Hadiahnya jalan-jalan ke eropa?
"Kau ingin ikut?" tanyaku. Yixing mengangguk semangat. Setahuku, Yixing tidak
terlalu pintar menari. "Kau bisa menari?" tanyaku yang kedengaran meremehkan. "Kau
kemana saja kapten? Aku sering latihan menari! Luhan bahkan Sehun saja tahu,
bagaimana bisa kau tidak tahu fan?!" baiklah, Yixing malah memarahiku. Aku hanya
diam tak bisa berkutik. Oke khusus Yixing aku tak berani melawan. Entah kenapa.

"Ya ya ya terserah. Good luck, semoga beruntung." ujarku basi. Yixing memukul
punggungku keras. Sial ini sakit. Aku mengerang kesakitan. "Heh kau kenapa kau
memukulku?!" tanyaku tidak terima atas pukulannya. "Kau yang bagaimana! Aku kan
mau mewujudkan mimpiku! Kenapa kau tidak pekaaa!" omelnya padaku.
Oh ya hadiahnya adalah perjalanan ke eropa. Baiklah dimana otakku. Aku baru saja
paham. "Kalau aku menang kau juga pasti ikut ke eropa!" Yixing masih mengomeliku.

"Ngomong-ngomong kenapa kau mau pergi ke eropa bersamaku? Kau tidak mau dengan
adikmu, ayah, ibumu?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian. "Aku sudah punya
mimpi sendiri untuk keluargaku! Untuk ke eropa aku harus pergi kesana denganmu! Kau
paham Wu Yi Fan?!" tanya Yixing sambil mengeja namaku di akhir.
Yixing lalu membuka tasnya dan mencari sesuatu. Ternyata ia ingin mengambil buku
impian itu. "Baca mimpiku disana." perintahnya masih ketus.

Mimpi Zhang Yi Xing : Aku ingin memberi hadiah ibuku sebuah Toko yang besar, lalu
aku ingin memberi ayah mobil dan kendaraan yang mewah dan aku ingin memberikan
adikku mainan dan pabriknya. Aku ingin sukses agar mereka bahagia!

Terlihat seperti mimpi anak kecil tapi penuh arti. "Ya baiklah terserah kau." aku
mengembalikan buku itu pada Yixing. "Kau juga harus menuliskan mimpi-mimpimu disini
kau paham?!" sekali lagi ia bertanya dengan nada marah. Aku mengangguk malas.
"Besok kau harus menemaniku latihan untuk lomba ini, kau paham?!" tanyanya lagi.
Aku mengangguk lagi. "Baguslah memang kau harus seperti itu, Wu Yi Fan." ujarnya
terdengar seperti bangga. Ya ya terserah padamu.

.

.

Yixing benar-benar niat ingin memenangkan lomba ini. Ia telah mendaftar dan latihan
dengan keras. Sepulang sekolah ia rajin berlatih. Tentu saja saat latihan aku
harus menemaninya. Kalau tidak, ia akan memarahiku lagi habis-habisan.
Oh Ya, Zi Tao sudah masuk ke sekolahku. Ia benar-benar seperti orang putus asa.
Dia masuk di kelasku. Tentu saja dengan malu yang sangat mendalam. Ia tidak punya
banyak teman. Mengingat saat pertandingan final kemarin ia membuat Henry cidera.
Tapi ada saja murid-murid orang kaya yang mau berteman dengannya. Tapi itu semua
harus ia tanggung.

"Xing, aku mau ikut kau latihan!" ujar Luhan sambil memakan burger yang ia beli. "Luhan
telan dulu makananmu!" protes Yixing karena melihat kelakuan Luhan yang agak jorok itu.
Dengan cepat Luhan menelan sisa-sisa burger yang ada di mulutnya. "Aku bosan Xing. Sehun
sudah kembali ke korea. Masa liburan 1 bulannya telah berakhir," ujar luhan. Ngomong-ngomong
soal Sehun, kenapa ia libur lama sekali? "Sehun bukan anak Senior High School?" tanyaku ikut
nimbrung. Luhan masih memakan kentang goreng itu cukup tersendak saat mendengar pertanyaanku.

"Eum, jadi Sehun itu sudah kuliah. Ia mengikuti program percepatan studi atau
akselerasi. Padahal umurnya masih satu tahun dibawah kita," ujar Luhan sambil masih
menelan sisa-sia kentang goreng yang ada di mulutnya. Aku mengangguk-angguk paham.
"Berarti Sehun itu pintar?" tanya Yixing. "Ya begitulah. Rencananya, saat sudah
lulus dari Shengzuang, aku kan berada di satu universitas, fakultas dan jurusan
yang sama dengan Sehun." Luhan menerangkan dengan gaya imutnya.

"Ngomong-ngomong kalian ingin kuliah dimana?" tanya Luhan. "Dibidang seni? Ah tidak
seni sedikit membosankan. Kau ingin dimana Fan?" tanya Yixing kepadaku. Aku
berfikir sejenak. Jujur saja aku tidak tahu harus meneruskan kemana. "Aku tidak
tahu." jawabku putus asa. "Haiyaaa kau harus memikirkannya!" protes Yixing.
Aku mengangguk-angguk malas. "Baiklah ayo kita mulai latihannya!" ajak Luhan.

Dari restoran depan sekolah, kami beranjak ke rumahku. Ya tunggu, ke rumahku. Ibu
Yixing benci kebisingan. Akhirnya Yixing selalu berlatih di rumahku. Tentu saja
tidak apa-apa. Karena ayah ibuku saat ini sedang pergi ke luar negeri entah
untuk apa. Jadi di rumah aku sendirian sejak seminggu yang lalu. Dan Yixing dengan
sifat keibuannya rajin memasakkanku makan pagi dan malam. Untuk makan pagi, Ia
akan mengirimiku sarapan yang ada di rumahnya. Untuk makan malam, ia akan memasak
di rumahku.

Dan Luhan tak pernah absen untuk makan malam di rumahku saat aku home alone.
Oh Ya, rumahku, Luhan, Zi Tao dan Yixing berada dalam satu komplek. Itu
sangat memudahkan Luhan untuk meminta makanan di rumahku atau Yixing dan jika dulu
saat masih kecil akan memudahkan Zi Tao untuk mengerjaiku atau Yixing.

.

.

"Luhaaan! Jangan yang itu!" protes Yixing saat Luhan mengambil sayuran Yixing. Oke
memang seperti anak kecil. Tapi dua manusia yang saat ini makan malam di rumahku
ini adalah sama-sama tukang makan. "Baiklah Xing, tapi aku harus ambil yang mana?"
Luhan bertanya sambil masih menggerakkan sumpitnya yang siap menyikat habis makanan
yang disodorkan kepadanya. Aku berhenti makan sejenak melihat tingkah Yixing dan
Luhan. Wajah Yixing benar-benar terlihat lucu saat kebingungan.

"Yifan apa kau sudah selesai?" tanya Yixing. Oh tunggu, aku tahu apa maksud
pertanyaannya ini. Ini pasti akan diberikan kepada Luhan. Memang, jika dibandingkan
dengan Luhan atau Yixing, porsi makanku paling sedikit. Luhan terus menatap
makanan yang aku tinggalkan karena melihat kelakuan dua manusia vacum cleaner ini.

"Makan saja jika kau mau. Aku sudah kenyang." ujarku yang akhirnya pasrah. Wajah
Luhan dan Yixing langsung bersinar. Dengan segera, makananku mereka habiskan
seperti orang kelaparan. "Terima kasih fan! Kau memang baik~" ujar Yixing riang
sambil tersenyum. Mereka gila atau apa sih.

.

.

Luhan berpamitaan saat selesai makan malam. Dasar Luhan. Untung ibu dan ayahnya
sibuk karena selalu pulang disaat selesai makan malam. Dan tentu saja Luhan tak
ingin menyia-nyiakan makan malam gratis dari Yixing.

"Kau masih mau berlatih?" tanyaku kemudian menguap panjang. "Yifan, kau sudah
lelah ya?" Yixing malah berbalik bertanya. Aku mengangguk. "Tapi, bolehkah aku
menginap? Besok kan sudah lomba jadi..." "Batasmu jam 11 untuk tidur, kau harus
jaga stamina. Oke?" aku memotong perkataan Yixing. Yixing mengangguk. "Bangunkan
aku jika kau sudah selesai, Xing." ujarku sambil kembali menguap.

"Yifan..." panggil Yixing malu-malu. "Apa?" tanyaku ketus. "Eum tak apa, selamat
beristirahat~!" jawabnya dengan senyum riang terpaksa. Aku tidak menghiraukannya
dan masuk ke kamarku untuk tidur. Yaaah selamat malam xing.

.

.

Mataku terbuka pelan-pelan. Tandanya sudah pagi. Tunggu. Aku merasa ada yang aneh
di badanku. Suara gumaman seseorang terdengar. Ini mengerikan. Lalu, aku melihat
Yixing tidur di sebelahku lengkap dengan satu selimut yang sama. Bedanya, dia
memunggungiku. Untung kasurku cukup untuk 2 orang dan kami tak terlalu berdesakan.
Secara tiba-tiba, Yixing membalikan badannya menghadapku.

Jantungku berdegup cepat melihat wajah polos Yixing yang masih terlelap. Entah
refleks apa, tanganku tiba-tiba menyentuh wajahnya yang selalu membuatku gemas ini.
Aku mengelus pipi Yixing yang manis ini dengan hati-hati. Aku takut ia terbangun.
Tiba-tiba mata Yixing terbuka perlahan. Tentu saja ini membuatku terkejut. Tapi
tanganku masih berada di wajahnya. Sial aku membangunkannya.

"Yifan...?" tanyanya dengan suara lemah. Dengan segera aku melepaskan tanganku
yang berada di wajah Yixing dan berdeham keras. "Kau sudah bangun? Hoaaam aku masih
mengantuuk..." Yixing berbicara pelan sambil menutup matanya lagi. Tangan sialan.
"Eum Xing, lomba dancemu akan dimulai jam berapa?" tanyaku mengalihkan perhatian.
Aku tahu Yixing sudah setengah sadar. "Jam 10 pagi... ini jam berapa eum?" Yixing
bertanya dengan mata terpejam lagi. "Jam 6 pagi..." jawabku gugup. "Oh baiklah...
Kau tak mau tidur lagi fan?" tanya Yixing.
Aku tidak menjawab pertanyaan Yixing karena takut membangunkannya lagi. Yixing
kembali tidur. Sedangkan aku tak tahu harus apa. Mungkin aku harus bangun untuk
berolahraga sejenak...

.

.

"Pagi fan." ujar Yixing yang masih mengantuk. Aku hanya melirik ke arahnya dan
meneruskan mengoles rotiku dengan mentega. "Kau mau makan?" tanyaku tanpa memandang
nya. "Kau bisa memasak?" Yixing meremehkanku. Ya memang sebenarnya jika aku tak
bisa memasak. "Aku hanya ingin menawarimu roti isi." ungkapku jujur. Yixing yang
tadinya masih mengantuk mendadak tertawa keras. "Kau terlalu stay cool, Fan!" ujar
Yixing sambil tertawa keras. "Ya ya ya ya..." ujarku malas.

Yixing menatapku lekat-lekat. Aku menaikkan dagu dan melihat ke arahnya. "Yifan."
panggilnya yang terkesan tidak penting. "Kenapa kau tadi memegang wajahku saat
tidur?" Oh tidak. Aku tidak menjawabnya-lebih tepatnya aku bingung harus menjawab
apa. Aku memutar bola mataku. Aku menyerah xing. Aku hanya lepas kendali dan ingin
mencium pipimu! Tunggu, itu bukan jawaban yang tepat. Oh Tuhan kenapa aku rumit
sekali?!
"Yifan kau dengar pertanyaanku kan?" tanya Yixing penasaran. Aku terdiam kaku dan
benar-benar tak bisa menjawabnya. "Eum Xing, kau harus bersiap untuk lombamu."
ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan. "Yifan, jawab dulu pertanyaanku!" Yixing
masih merengek dan penasaran.

Aku berdiri dari kursiku. "Aku mandi dulu." ujarku pada Yixing. Tapi tangan Yixing
mencegahku untuk pergi. "Duduk dan berbicara jujur, Yifan." katanya serius. Oh
Tidak. Tamatlah aku. "Jujur saja padaku. Kau pikir aku akan marah?" tanyanya dengan
nada serius. Bukan kau yang marah, tapi aku yang malu... "Anggap saja itu tidak
sengaja." ujarku akhirnya. Yixing tertawa kecil. "Tidak sengaja? Kau kira aku tidak
tahu kau mengusap pipiku?" Tidak. Tamatlah aku. Tuhan aku ingin mati sekarang.

Aku benar-benar diam membeku. Aku melirik ke arah jam dinding dan mendapati sudah
pukul setengah 9. Ini akan menjadi bahan pengalihan pembicaraan. "Xing, kau harus
siap-siap. Jam 9 kita berangkat ke venue lomba." ujarku. Yixing melirik ke arah jam.
Matanya langsung membulat terkejut. Tak banyak bicara, Yixing sudah melesat menuju
kamar mandi. Huhh... leganya...

.

.

Aku dan Yixing sudah sampai tempat lomba. Banyak orang sudah menunggu disini. "Xing,
kau harus semangat." aku terus memberi semangat pada Yixing. Ini karena aku tak
ingin dia marah dan mengataiku tidak peka lagi. "Apa tak ada kata-kata lain selain
itu?" sial. Pertanyaannya benar-benar membuatku harus berfikir tentang kata apa
yang harus aku katakan padanya lagi.
"Baiklah, aku sudah berjanji padamu berarti sekarang janjimu adalah memenangkan
lomba ini dan pergi ke eropa." itulah yang kuucapkan. Setidaknya itu harus
membuat semangatnya bangkit. "Hmm tentu saja!" ujarnya bersemangat. Rupanya kata-
kataku tadi cukup membuatnya bersemangat lagi.

"PESERTA NOMOR 2011 DIHARAP MEMASUKI RUANG AUDISI." suara itu membuat Yixing bangkit
dari tempat duduknya. "Fan, do'akan aku," ujarnya sambil tersenyum manis. Aku
mengangguk sambil ikut tersenyum. Yixing melangkah menuju ruang audisi yang tidak
jauh dari tempat kami duduk tapi. Ya Zhang Yi Xing, kali ini kau harus menang.

.

.

"Kau lihat itu Yifan?! Aku lolos ke babak berikutnya! Tinggal 2 babak lagi menuju
ke final!" seru Yixing bangga. Aku ikut tersenyum melihatnya. Kau pasti bisa Xing,
kau harus bisa.

Mimpi Zhang Yi Xing : Aku akan memenangkan lomba ini dan pergi ke eropa bersama
Yifan 3

#####end of chapter 4#####