CHAPTER 4
APOLOGY
"Apa kau senang sekarang?"
Taehyung dan Jungkook sekarang berada di dalam tenda Jungkook. Sambil duduk di salah satu meja yang ada, Jungkook dapat melihat Taehyung dengan telaten mengurut kakinya yang terkilir. Sesekali perempuan itu meringis kesakitan saat tangan Taehyung yang dengan sengaja menekan bagian yang sakit. Jungkook hanya dapat menundukkan kepalanya lesu saat Taehyung melontarkan beberapa pertanyaan yang terucap dingin. Ia ingin membantah, tapi ia sadar ini semua akibat kecerobohannya sendiri. Oleh sebab itu, sampai detik ini pun Jungkook tak berani mengatakan sepatah kalimat kepada Taehyung.
"Tahanlah sebentar! Ini akan sedikit sakit"
Mengambil ancang-ancang, Jungkook berpegangan pada sisi meja. Dirasakannya pijatan Taehyung semakin menguat. Rasa sakitnya sungguh luar biasa. Jungkook ingin sekali menjerit, tapi ia terlalu gengsi untuk melakukannya.
"AAAKKKH…!"
Bersamaan dengan jeritan Jungkook, terdengar pula suara tulang yang bergeser dari kaki Jungkook. Jungkook menatap ngeri kakinya yang baru saja dipijat Taehyung. Ia hanya berharap Taehyung tak melakukan kesalahan prosedur saat mengobatinya.
"Apa itu akan baik-baik saja?" Jungkook bertanya tak yakin
"Kau meragukanku?" Bukannya menjawab, Taehyung justru balik bertanya
"Anni. Hanya saja kenapa kau tak membawaku ke tenda kesehatan saja Tae?"
"Apa kau tau ini jam berapa? Ini baru jam 06.45. Apa kau yakin tenda kesehatan sudah buka?"
Dengan tatapan sengit nan mengejek, Taehyung menunjukkan jam tangan yang dipakainya kepada Jungkook. Benar saja, sekarang jam masih menunjukkan pukul 06.45 dan biasanya tenda kesehatan baru akan buka pukul 07.30. Jungkook hanya membuang muka untuk menutupi rasa malunya.
"Katakan padaku! Kenapa kau meninggalkanku tadi?"
Kali ini Taehyung meminta penjelasan dari Jungkook. Ia ingin mendengar sendiri dari bibir Jungkook kenapa gadis itu meninggalkannya tadi padahal dengan jelas Taehyung mengatakan agar Jungkook menunggunya.
"Aku tak meninggalkanmu tadi. Aku hanya melakukan peregangan dan Jimin oppa menyapaku. Dia menawariku untuk mencuci muka di sungai, jadi aku menerima tawarannya"
"Dan kau melupakan aku?"
"Anni. Aku tak melupakanmu Tae!"
"Lalu apa?"
"Aku…"
Jungkook tak bisa berkata-kata. Tak bisa dipungkiri bahwa secara tak langsung ia telah melupakan Taehyung saat Jimin mengajaknya pergi ke sungai tadi. Ia ingin berkata jujur, tapi itu pasti akan melukai perasaan Taehyung. Jungkook semakin menundukkan kepalanya, berlahan tapi pasti air mata mulai merembes membasahi pipi chubby Jungkook.
"Tatap mataku saat kita bicara Kook!"
Kali ini Taehyung berujar sedikit lebih lembut, ia mengerti gadis seperti Jungkook sangat sensitive dan tak bisa untuk dikasari sedikitpun. Taehyung berjongkok di depan Jungkook. Ditegakkannya kepala Jungkook dan dengan berlahan dihapusnya air mata yang mengalir di pipi chubby gadis itu. Sungguh Taehyung tak bermaksud untuk membuat Jungkook menangis. Ia hanya ingin Jungkook jujur kepadanya.
"Tae… Aku…" Jungkook berujar dengan isakan yang semakin kuat
"Tak apa. Katakan yang sejujurnya padaku!"
"Mianhae tae"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut dengan susah payah, tangisan Jungkook akhirnya meledak. Jungkook semakin merasa bersalah pada Taehyung. Yang pertama ia telah melupakan laki-laki tersebut, dan yang kedua ia telah berusaha untuk membohongi Taehyung. Jika Jungkook berada di posisi Taehyung saat ini, ia pasti akan mengamuk habis-habisan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Taehyung saat ini.
"Apa terlalu sulit untuk menungguku walau itu hanya lima menit Kook? Kau bahkan pergi dengan orang yang baru kau kenal dan melupakan aku. Bagaimana kalau dia melakukan hal yang macam-macam kepadamu?"
"Jimin oppa orang baik Tae. Aku yakin itu"
"Kau bahkan memanggilnya 'oppa'? Kau benar-benar gadis naif"
"Kenapa kau seperti ini Tae? Aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga setiap saat, aku berhak menentukan apa yang ingin aku lakukan. Jangan perlakukan aku seperti ini"
"Jungkook, dengar baik-baik. Apa aku pernah memperlakukanmu seperti anak kecil? Sejatinya kau sendirilah yang bertingkah kekanakan sehingga orang lain juga memperlakukanmu seperti anak kecil. Tapi aku tidak. Aku juga tak pernah melarangmu melakukan apa yang kau suka. Hanya saja, kau kadang mengabaikan keselamatanmu. Aku hanya ingin menjagamu, apa itu salah? Dan satu lagi, apa kau mulai meragukanku sebagai sahabatmu?"
Suara Taehyung begitu lirih kali ini. Jungkook dapat mendengar dengan jelas ada nada kekecewaan di suara itu. Perkataan Taehyung begitu menyayat hati Jungkook, Taehyung hanya ingin menjaganya dan ia telah salah paham selama ini. Sambil terus terisak, Jungkook berusaha meraih tangan Taehyung tapi ditepis oleh Taehyung. Jungkook hanya memandang Taehyung dengan tatapan kosong terlebih lagi Taehyung mulai berdiri dan menjauh dari dirinya.
"Taehyung-ah"
Jungkook menjerit saat Taehyung berjalan mantab meninggalkannya. Ia semakin panik karena Taehyung sama sekali tak menolehkan kepalanya walau Jungkook sudah memanggilnya. Jungkook ingin mengejar Taehyung, dengan nekad ia bangkit dan mencoba untuk berlari. Jungkook tersungkur di atas tanah saat baru melangkah dan hatinya lebih sakit saat Taehyung tetap tak menoleh. Kepanikannya mula mereda saat di pintu tenda Taehyung berpapasan dengan KyungSoo. 'KyungSoo, hentikan Taehyung! Kumohon' Jungkook berujar dalam hati.
"Kyung, gantikan pakaian Jungkook. Pakaiannya basah, jika tetap dibiarkan dia bisa masuk angin"
"Apa yang terjadi pada Jungkook?"
Taehyung pergi begitu saja setelah mengatakan pesan tersebut kepada KyungSoo tanpa minat untu menjawab pertanyaan KyungSoo.
"Andwe…!"
Mendengar jeritan Jungkook, atensi KyungSoo seketika berpaling. Dilihatnya Jungkook yang terduduk tak berdaya di tanah dengan raut wajah yang penuh air mata. Buru-buru KyungSoo menghampiri gadis tersebut dan membantunya berdiri. Ia dudukkan Jungkook di atas meja terdekat dan dengan telaten menghapus air mata Jungkook. Ia tak tau badai apa yang baru menerpa Taehyung dan Jungkook, tapi ia bisa memastikan bahwa mereka berdua baru saja bertengkar.
"Apa yang terjadi Hmm?"
Jungkook menjawab pertanyaan KyungSoo dengan gelengan. Merasa iba, direngkuhnya Jungkook kedalam pelukannya. Yang dibutuhkan Jungkook adalah ketenangan saat ini, bukan saatnya untuk KyungSoo menanyakan berbagai pertanyaan. Ditepuknya pelan punggung Jungkook agar gadis itu merasa lebih tenang.
"Bajumu basah. Sebaiknya kita menggantinya terlebih dahulu"
Dengan anggukan patuh, Jungkook menuruti perkataan KyungSoo. Tubuhnya sudah mulai merasa kedinginan saat ini. Jika terus dibiarkan dia bisa saja masuk angin dan semakin merepotkan banyak orang.
.
.
.
Dua minggu berlalu begitu cepat setelah perkemahan berlangsung. Para murid 'Bangtan High School' sudah memulai aktivitas belajar seperti biasanya. Saat ini, Jungkook tengah berada di kantin menemani Yoongi makan siang. Suasana kantin tak begitu ramai kala itu.
"Hei Kook, apa kau tak merasa aneh dengan sikap Taehyung akhir-akhir ini? Dia banyak diam dan saat kutanya apa ada masalah dia hanya menggeleng. Apa kau mengetahui sesuatu yang membuat sikapnya aneh?"
Jungkook tersedak mie ramennya saat Yoongi melontarkan pertanyaan panjang lebarnya itu. Diraihnya segelas jus jeruk pesanan yang telah ia pesan sebelumnya untuk membantu mendorong makanan yang tersangkut di tenggorokannya.
"Entahlah eonni. Aku tak tau"
Dengan enggan, Jungkook menjawab pertanyaan Yoongi. Tiba-tiba saja nafsu makannya menguap entah kemana. Nama Kim Taehyung begitu sensitive di telinga Jungkook akhir-akhir ini. Memang, sejak pertengkarannya saat diperkemahan, tak ada satupun pembicaraan diantara Taehyung dan Jungkook. Mereka berdua sama-sama menutup diri satu sama lain seolah-olah mereka adalah musuh yang harus dihindari. Bahkan Taehyung memilih bertukar bangku dengan JongIn. Apalagi kalau bukan untuk menghindari seorang Jeon Jungkook?
Jungkook hanya tersenyum kecut memikirkan hal tersebut. Nampaknya Taehyung benar-benar membencinya. Jujur saja, Jungkook lebih memilih Taehyung memarahinya dengan emosi yang meledak dibanding harus saling mendiamkan seperti ini. Akan sulit untuk mengakhiri pertengkaran dalam situasi seperti ini menurut Jungkook. Terkadang, Jungkook memiliki niatan untuk meminta maaf kepada Taehyung. Tetapi egonya juga terlalu besar untuk memulai terlebih dahulu. Benar-benar gadis yang naif.
.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Para murid berhamburan keluar kelas tak terkecuali Jungkook. Ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju toilet yang berada tak jauh dari kelasnya. Setibanya di sana, Jungkook membasuh mukanya dengan maksud menjernihkan fikirannya yang bimbang.
"Oke Jungkook. Tarik nafas, hembuskan. Akhiri semuanya sekarang, dan kau akan baik-baik saja"
Jungkook berujar pada pantulan dirinya yang ada di cermin. Ia berniat untuk meminta maaf kepada Taehyung kali ini. Jungkook ingin mengakhiri kecanggungan yang terjadi di antara mereka. Ia sudah tak tahan berdiam diri melihat Taehyung yang seolah-olah tak menganggap keberadaannya. Dengan hati mantab, Jungkook mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dicarinya nama Kim Taehyung dalam daftar kontak di ponselnya. Namun, jari telunjuknya mendadak bimbang. Sekelebat fikiran negative menyerang otaknya yang sudah berniat meminta maaf. Bagaimana kalau Taehyung tak memaafkannya? Bagaimana kalau Taehyung memakinya? Yang lebih parah, bagaimana kalau Taehyung tak menjawab panggilan telfonnya?
Saat asyik bergelut dengan fikirannya, tiba-tiba seorang murid perempuan yang baru keluar dari bilik kamar mandi tak sengaja menabrak bahu Jungkook dari belakang. Akibatnya, dengan gerakan yang super kilat, jari telunjuk Jungkook menekan tombol 'Call' yang membuat ponselnya secara ilmiah menghubungi Taehyung. Menyadari hal tersebut, Jungkook memaki dengan kencang.
"Sialan kau gadis pirang"
Sayangnya, makian Jungkook tak di dengar oleh gadis yang menabraknya tadi. Jungkook panik sendiri melihat ponselnya yang masih tersambung dalam panggilan. Jika ia batalkan, mau ditaruh dimana wajahnya yang imut nanti. 'Astaga, jangan angkat telfonnya Kim Taehyung' Jungkook berdoa dalam hati.
"Yeoboseo"
'Tamatlah riwayatmu Jeon Jungkook'. Terdengar suara sahutan dari telfon Jungkook. Sialan. Jungkook berjanji akan menggantung gadis yang menabraknya tadi di pohon jeruk depan rumahnya. Dengan gugup Jungkook menjawab telfonnya.
"Tae, ini Jungkook"
"Aku tau"
"Apa kau sibuk?"
"Tidak"
"Aku ingin kita bertemu. Ada yang ingin ku bicarakan"
Setelah kalimat tersebut terlotar dari bibir Jungkook, tak ada sahutan dari Taehyung. Jungkook menggigit kuku jarinya dengan gelisah. Kenapa lama sekali? Apa Taehyung mendadak pingsan?.
"Baiklah. Kau tentukan tempatnya dan kirim alamatnya padaku melalui pesan"
Jungkook menarik nafas lega. Ia menjawab 'Arraseo' kepada Taehyung. Belum sempat Jungkook memutus sambungan telfon, telfonnya sudah lebih dulu diputus oleh Taehyung. Jungkook mendengus geli, padahal ia ingin memutus sambungan telfon terlebih dahulu untuk menjaga harga dirinya tapi ternyata ia kalah cepat. Diketiknya alamat tempat mereka akan bertemu nanti dan kemudian ia tekan tombol 'send'.
.
.
.
Lima belas menit dalam perjalanan, akhirnya Jungkook tiba di 'ChimChim Cafe'. Ia memasuki café tersebut dan mengedarkan pandangannya menelusuri seluruh sudut café. Kim Taehyung belum datang. Jungkook menarik nafas lega, setidaknya ia memiliki waktu untuk mempersiapkan diri dan menyusun kata-kata. Jungkook memilih duduk di bangku pinggir jendela yang menghadap langsung ke jalan raya Kota Seoul.
Sambil menunggu Taehyung, Jungkook memesan dua porsi brownis ukuran sedang dan dua gelas jus strobery. Akhirnya, Taehyung datang setelah dua menit pesanan Jungkook diantarkan ke mejanya. Dengan santai, laki-laki itu duduk di depan Jungkook dan menatapnya lekat.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Taehyung memulai percakapan
"Dia bahkan tak menanyakan kabarku" Jungkook berujar lirih sambil memalingkan muka
"Bicaralah lebih keras! Aku tak bisa mendengarmu"
Jungkook mendengus sebal. Apa Taehyung tak bisa basa-basi sedikit saja? Apalagi sekarang ia sedang berbicara dengan perempuan. Pantas saja Taehyung tak pernah punya pacar, berbasa-basi saja ia tak bisa. Jungkook terkikik dalam hati.
"Begini tae…"
Jungkook memajukan sedikit kursi yang ia duduki dan menegakkan badannya pertanda ia serius dalam pembicaraan ini.
"Pertama, aku minta maaf kepada mu tentang pertengkaran kita di perkemahan. Aku memang ceroboh. Maaf karena meninggalkanmu dan membuatmu marah saat itu. Aku menyesal, dan sungguh aku tak bermaksud membuat mu marah saat itu. Maafkan aku"
"Arraseo. Aku sudah memaafkanmu sejak aku pergi dari tenda itu"
"Jinjja? Kau menyebalkan. Kau mendiamkan ku selama dua minggu lebih padahal kau sudah memaafkanku"
Dengan berujar sebal, Jungkook memajukan bibirnya pertanda ia kesal dengan ulah Taehyung. Dua minggu ini ia kalang kabut dengan diamnya Taehyung dan ternyata lelaki itu sudah memaafkannya. Jika tau seperti ini Jungkook tak akan mau melawan egonya untuk meminta maaf.
Sementara itu, Taehyung terkekeh geli dengan ekspresi Jungkook. Ia yakin gadis di depannya ini pasti sangat sebal, tapi Taehyung hanya ingin mengajari sedikit pengetahuan kepada Jungkook. Dengan rasa sayang, Taehyung mengusak rambut Jungkook yang mendapat tepisan sebal dari sang empunya.
"Kenapa? Kau merindukanku saat aku mendiamkan mu hmm?"
"Kau benar-benar jahat Tae. Kau tak tau rasanya berada di posisiku sekarang"
"Hei Jeon Jungkook! Aku hanya ingin kau merenungi perbuatanmu. Aku tak mempunyai maksud untuk marah padamu. Ya, walau ku akui aku sempat emosi sesaat waktu itu"
"Arraseo"
Taehyung menyeruput jus strobery yang telah dipesan Jungkook sebelumnya dan mencomot secuil brownis yang terasa manis di mulutnya. Jungkook tau makanan apa yang membuat mood seseorang agar membaik. Gadis ini memiliki selera yang cukup baik di mata Taehyung.
"Kau bilang itu tadi yang pertama, lalu apa yang kedua?" Taehyung memulai lagi
"Aku ingin mengembalikan jaketmu yang waktu itu kau pinjamkan"
Disodorkannya sebuah paper bag ukuran sedang kepada Taehyung. Taehyung membuka paper bag tersebut dan mencium wangi jaketnya, sekedar memastikan bahwa Jungkook benar-benar mencucinya.
"Ada yang ingin kau sampaikan lagi Kook?"
"Apa kau sibuk sekarang? Sejak kapan kau menjadi manusia super sibuk?"
"Tidak. Hanya saja ini sudah mulai sore"
"Ah, benar juga. Tae apa kau ingat jika hari ini ulang tahun Yoongi eonni?"
Taehyung menepuk jidatnya kasar saat mendengar ucapan Jungkook. Ia bahkan melupakan ulang tahun sahabat mungilnya itu. Kalau saja Yoongi tau jika Taehyung melupakan ulang tahunnya, Yoongi pasti akan memukuli Taehyung dengan tas selempang Hello Kitty-nya.
"Apa rencanamu tahun ini Kook? Apa kau akan mengadakan perta BBQ?"
"Ayo hias rumah eonni"
Setuju dengan ide gila Jungkook, Taehyung-pun mengangguk antusias. Setelah Taehyung membayar makanan, mereka berdua memutuskan untuk pergi berbelanja membeli keperluan pesta Yoongi.
.
.
.
Saat ini, di tangan tangan Taehyung sudah ada lebih dari tujuh paper bag hasil belanjaan Jungkook. Gadis itu sedari tadi berjalan mengelilingi mall tanpa henti untuk berbelanja keperluan ulang tahun Yoongi. Dan hasilnya, Taehyung yang berjalan di belakangnya sudah seperti kuli angkut pribadi Jungkook yang bertugas membawakan barang belanjaannya.
"Menurutmu, hadiah apa yang bagus untuk Yoongi eonni?"
Mendadak, Jungkook menghentikan langkahnya dan berbalik pada Taehyung. Ia bingung harus membelikan hadiah apa tahun ini. Tahun lalu, ia membelikan Yoongi sebuah gaun yang sangat dilaknat oleh Yoongi karena kelewat minim baginya. Sementara dua tahun lalu, Jungkook membelikan sebuah jam tangan yang juga jarang sekali di pakai oleh Yoongi. Oleh sebab itu, Jungkook bertekat akan memberikan hadiah yang pasti akan dipakai oleh Yoongi.
"Belikan saja ia high heels. Dia kan pendek"
Taehyung berujar cuek. Kakinya saat ini sudah pegal karena hampir dua jam menemani Jungkook berbelanja dan mereka sama sekali tak beristirahat.
"Eonni pasti akan melukis mulutmu dengan pisau kalau ia mendengar perkataanmu"
Jungkook berujar layaknya kakak yang menasehati anak kecil dan Taehyung hanya tertawa geli melihatnya. Akhirnya, Jungkook mengikuti saran Taehyung untuk membelikan Yoongi sebuah high heels untuk kado kali ini.
Kaki ramping Jungkook berjalan menuju toko sepatu andalannya. Disana, ia sangat takjub dengan berbagai model high heels keluaran terbaru yang belum sempat ia miliki. Setelah tiga puluh menit memilih, Jungkook menjatuhkan pilihannya pada sebuah high heel setinggi tujuh sentimeter berwarna putih dengan pita mungil di bagian depannya. Tak lupa Jungkook juga memastikan ukurannya akan pas di kaki Yoongi, mengingat kaki gadis itu sangat kecil. Saat semuanya sudah terpenuhi, Jungkook membawa high heels tersebut ke kasir dan membayarnya.
.
.
.
Malam sudah datang. Jimin berjalan menyusuri koridor kelas yang sangat sepi, tak ada satupun orang yang lewat hanya sekedar untuk bersimpangan. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 18.15 dan ia baru saja selesai latihan dance di ruang tari. Pikirannya agak kalut hari ini, sehingga Jimin memilih untuk meluapkannya di ruang tari.
Saat kakinya melewati ruang musik, sayup-sayup ia mendengar suara dentingan piano. Fikiran Jimin sudah melayang kemana-mana. Jangan-jangan itu hantu sekolah yang sedang kesepian dan bermain piano? Jimin mencoba mengusir fikiran negatifnya. Digelengkan kepalanya dan setelah itu ia putuskan untuk melihat sendiri siapa pelaku dentingan piano tersebut. Tanpa menimbulkan suara, Jimin mendekati ruang musik. Dibukanya berlahan pintu ruang musik, dan disitu Jimin dapat melihat seorang perempuan berambut sepundak tengah membelakanginya. Perempuan itu mengenakan seragam yang sama dengan Jimin, 'Ia pasti murid di sini juga' fikir Jimin. Cukup lama Jimin memperhatikan permainannya, laki-laki itu baru menyadari bahwa orang yang sedang memainkan piano tersebut sangat tak asing di pandangannya.
Belum sempat Jimin menebak siapa perempuan itu, perempuan itu sudah menoleh ke arahnya mengintip yang sontak membuat Jimin kelabakan.
"Aku hanya mendengar suara piano, dan aku mencoba mencari asal suaranya. Ternyata kau yang sedang bermain"
Jimin mencoba mencari alasan, walaupun yang dikatakannya tak sepenuhnya adalah alasan. Ia kepergok sedang mengintip, dan ia yakin tak semua perempuan akan berfikiran positif jika berada di posisi gadis tersebut. Terlebih lagi ini sudah malam. Jimin hanya berusaha untuk memberikan alasan yang logis dan masuk akal.
"Park Jimin-ssi?"
"Oh, kau gadis yang di bus waktu itu"
Nada bicara Jimin sedikit meninggi saat menyadari gadis yang bermain piano tersebut adalah gadis yang duduk bersamanya di bus perkemahan. Yoongi berdiri menghampiri Jimin yang berada di ambang pintu.
"Aku pulang dulu Jimin-ssi"
Sambil membenarkan tas punggungnya, Yoongi berlalu meninggalkan Jimin. Disusurinya koridor yang sangat sepi malam itu. Saat melewati area UKS, Yoongi mendengar derap langkah yang mengikutinya. Namun saat ia menoleh, tak ada seorangpun yang mengikutinya.
"Hei cantik, kau mau kemana?"
Yoongi berjengit kaget saat ada suara yang memanggilnya. Itu, Bang Yong Guk dan Jung Daehyun. Mereka adalah dua laki-laki yang dikenal sebagai preman di 'Bangtan High School'. Dengan berlahan, Yong Guk mendekati Yoongi dan dengan berlahan juga Yoongi memundurkan langkah kakinya.
"Mau kemana kau?"
"Jangan mendekat! Aku akan berteriak"
"Silakan saja kau berteriak. Tak akan ada yang mendengarmu"
"TOLOOONG…..!"
Yoongi berteriak kencang saat Yong Guk tak mengindahkan perkataannya. Dengan segera, Daehyun yang ada di dekat Yoongi membekap mulut gadis tersebut. Yoongi memberontak cukup kuat untuk bisa melepaskan diri dari kedua preman tersebut. Namun nihil, tenaga Yoongi tak sebanding dengan tenaga Daehyun yang tujuh kali lebih kuat daripada dirinya.
"Hei…! Lepaskan gadis itu! Apa kau tak dengar?"
Itu Jimin. Dengan gaya menantang, ia melemparkan tas punggungnya dan melakukan peregangan.
"Kalian berdua hadapi aku dulu. Jangan jadi pengecut dengan menyerang perempuan"
"Kau berlagak seperti pahlawan kesiangan heh? Dasar Park Jimin sialan"
Tak dapat menahan amarahnya, Yong Guk menyerang Jimin dengan brutal. Perkelahian diantara mereka berdua berjalan sangat sengit. Daehyun ingin membantu Yong Guk, tapi tak mungkin ia melepaskan Yoongi, bisa-bisa gadis ini kabur.
Setelah beberapa saat berlalu, perkelahian pun dimenangkan oleh Jimin. Yong Guk terkapar tak berdaya dengan beberapa luka di wajahnya.
"Kau ingin berkelahi juga dengan ku?" Jimin menantang Daehyun
"Tidak. Ini kau ambil saja Yoongi"
Daehyun mendorong Yoongi kepada Jimin yang di tangkap sigap oleh laki-laki tersebut. Sementara itu, Daehyun membantu Yong Guk berdiri dan memapahnya menjauhi Jimin. Dengan tatapan dendam, Yong Guk berujar pada Jimin.
"Tunggu pembalasanku Park Jimin"
.
.
.
TBC
A/N
Annyeong readers-deul. Aku datang bawa chapter baru :D
Sebenarnya, aku pengen post Chater 4 ini setelah UNBK ku selesai. Tapi apa daya tangan ini gak bisa diajak kompromi buat ngetik chapter baru :v
Semoga chapter ini memuaskan karena aku banyakin VKook momentnya.
Makasih buat yang sudah dan selalu review di chapter sebelumnya, jangan bosen-bosen review dan kasih masukan ya :D
