Bukan Akhir Persahabatan

:

Naruto Fanfiction

Spesial Story Based Kehidupan Baru Boruto

:

Disclaimer : Masashi Kishimoto

:

Taufiq879

::==\\==\\==::

:

:

:

Bagian 4 : Uzumaki Naruto

==\\==\\==

Di sana juga, Boruto memiliki teman-teman yang mengerti keadaannya dan berusaha menguatkan Boruto kala ia di ejek oleh siswa yang lain. Menurut cerita Boruto, ada seorang gadis kaya raya yang paling suka menggangunya dan mengejek sekaligus menghinanya.

Suatu hari, aku mendapat panggilan untuk segera berkumpul di Amegakure. Ternyata panggilan kali ini adalah untuk mengerjakan sebuah proyek yang sangat besar. Sebuah proyek yang harus di kerjakan oleh 5 tim PT. Bangun mandiri. Aku sangat beruntung karena tim kami yang terpilih untuk menjadi bagian dalam pembangunan proyek besar kali ini.

Namun tiba-tiba semangatku sedikit memudar kala mendengar penjelasan proyek itu. Proyek itu adalah pembangunan kompleks perumahan Techconnec di Kota Sunagakure. Meskipun proyek ini memiliki bayaran akhir yang sangat besar, tapi tetap saja proyek ini berhubungan dengan Techconnec. Apalagi Di suna, ada sebuah kantor cabang Techconnec yang di pimpin langsung oleh Itachi—Kakak Uchiha Sasuke.

Dan pastinya Itachi lah yang akan menjadi penanggung jawab proyek ini.

==\\==\\==

:

:

:

Pagi hari, di hari pertama pembangunan kompleks perumahan Techconnec. Pagi itu aku sama sekali tidak punya semangat untuk kerja. Hal itu karena aku tahu, di hari pertama pasti akan ada tatap muka antara pekerja proyek dengan pemilik proyek. Tentu saja bisa jadi yang datang berpidato adalah Itachi, atau lebih buruk lagi yaitu Sasuke.

Pagi itu, semua pekerja dari berbagai tim di kumpulkan di lokasi konstruksi yang masih rata dengan pasir. Pasir? Ya pasir. Tentu saja karena proyek ini adalah proyek pembangunan kompleks perumahan Techconnec di Sunagakure, sebuah kota besar yang di kelilingi oleh pasir. Kompleks perumahan itu akan di bangun di luar wilayah kota Suna sehingga lokasinya masih di penuhi pasir. Tugas utama himpunan tim-tim pekerja konstruksi PT. Bangun Mandiri ini adalah menyulap area seluas 20 hektar yang hanya terdiri dari pasir menjadi sebuah kompleks perumahan untuk para pegawai dan pengawal Techconnec di Sunagakure.

Berat memang, tapi apa gunanya kami di bentuk jika tidak bisa melakukannya. 5 tim di himpun menjadi satu untuk pembangunan proyek super besar kali ini. Memang sangat beruntung timku bisa diikutkan dalam proyek besar ini.

Saat itu, 5 mandor dari masing-masing tim berkumpul untuk berdiskusi sambil menunggu kedatangan utusan Techconnec yang akan berpidato. Sementara para pekerja saling mengakrabkan diri dengan pekerja dari tim lain.

15 menit kemudian, mobil hitam berlambangkan Techconnec tiba di lokasi Konstruksi. Semua pekerja pun berbaris. Tak satu pun ada yang berbicara. Semua mata tertuju pada orang yang hendak keluar dari mobil hitam itu. Termasuk diriku sendiri yang sedari tadi sudah memperhatikannya.

Ternyata yang keluar adalah Itachi dan seorang wanita berambut pink sebahu. Tunggu, apa itu istri kak Itachi? Aku tiba-tiba semakin penasaran sehingga aku tidak menyembunyikan diri dari para pekerja yang lain.

Itachi dan wanita itu pun berjalan menuju terop yang di sediakan untuk mereka. Di terop itu juga sudah tersedia pengeras suara dan sepiring camilan dan segelas sirup. Dan tak lupa meja dan kursi tentunya.

Para pekerja hanya duduk beralaskan pasir dengan terpal sebagai peneduh. Tidak begitu panas memang karena saat itu masih jam 7 pagi. Tapi tetap saja duduk beralaskan pasir sangatlah tidak nyaman terutama jika kau adalah pekerja dengan Ijazah.

Beberapa menit kemudian, terdengarlah suara mikrofon di nyalakan. Semua pun bersiap untuk mendengarkan pidato penanggung jawab proyek. Meskipun pidato ini akan lebih tepat di sebut pengarahan.

"selamat pagi semua!" kemudian berdiri. "Perkenalkan saya Itachi Uchiha, pemegang proyek ini. Namun karena dalam beberapa bulan saya akan pergi keluar negeri, jadi nona di samping saya ini yang akan menggantikan saya," katanya menyudahi lalu kembali duduk.

"Terima kasih kak, Itachi," kata wanita itu.

"Kak? Siapa wanita ini sebenarnya? Perasaan nyonya Mikoto hanya punya 2 anak dan mereka adalah laki-laki. Siapa sebenarnya wanita ini?" batinku merasa bingung.

"Saya di sini untuk menggantikan Itachi untuk memegang proyek ini selama beberapa bulan ke depan. Jadi saya mohon kepada para mandor untuk kerja samanya. Oh ya, nama saya, Uchiha...Sakura," kata wanita itu.

Aku pun menjadi lebih kebingungan lagi. Sampai-sampai kebingunganku itu di sadari oleh Ezio dan orang di sebelahku. Sebenarnya siapa wanita ini, sudah pasti dia bukan istri Itachi karena barusan ia panggil Itachi dengan nama 'kak'. Apa jangan-jangan wanita itu adalah Istri dari Uchiha Sasuke? Kalau itu memang benar maka semua jelas sekarang.

Setelah setengah jam memberikan arahan dan instruksi dan juga sedikit penjelasan tentang proyek besar itu, Itachi bersama wanita itu pun pergi. Dan para mandor pun mengumpulkan para pekerjanya untuk membicarakan beberapa hal penting mengenai pekerjaan yang sudah bisa di mulai esok hari.

==\\==\\==

Keesokan harinya, pekerjaan di mulai. Untuk saat ini, pekerjaan masihlah ringan. Saat ini para pekerja profesional sedang membuat rencana pembangunan agar hasilnya bisa sesuai dengan cetak biru yang di berikan oleh pihak Techconnec.

Tentu saja membangun sebuah bangunan di pasir akan sangat menyusahkan. Apalagi pasir di kenal sangat tidak stabil. Jadi usaha pertama mereka adalah membasahi pasir tersebut agar dapat di padatkan lalu menimbunnya dengan tanah. Mereka juga harus memastikan tanah selalu lembab selama masa pembangunan.

3 hari kemudian, kami mulai membuat fondasi-fondasi setiap rumah. Kira-kira ada sekitar 125 rumah yang hendak di bangun di tempat seluas 20 Hectar. Selain itu, menurut cetak biru tersebut, akan di bangun sebuah taman seluas 1 hektar. Kemudian ada pagar tembok yang akan mengelilingi kompleks perumahan itu dan tak lupa pos penjagaan di gerbang masuk.

Setiap hari setidaknya ada 8-10 truk yang berlalu lalang membawa material bangunan. Hari itu, aku dan Ezio bertugas menurunkan karung-karung semen dan material lainnya dari truk. Pekerjaan itu kami lakukan hingga semua material bangunan yang di perlukan sudah tidak datang lagi. Sementara itu, para pekerja yang lain membuat fondasi setiap rumah.

Pekerjaan ini memang kami cicil sedikit demi sedikit. Kemudian menurut rencana para mandor, setiap tim akan di bagi menjadi beberapa kelompok yang berisi 5 orang untuk membangun 1 rumah di atas fondasi yang telah di buat.

Setelah sebulan, akhirnya semua fondasi untuk setiap rumah telah selesai. Kami di beri beberapa hari libur untuk beristirahat dahulu sebelum akhirnya akan di bagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan 1 rumah.

Kala itu, aku dan Ezio memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah selama 2 hari. Jadi pagi harinya aku mulai meninggalkan lokasi konstruksi dan pergi ke terminal bus yang berada di dekat lokasi Konstruksi. Berhubung antara lokasi konstruksi dengan pinggiran kota berjarak 100 meter dan belum ada jalan yang telah di aspal, aku dan Ezio pun harus berjalan di atas pasir hingga ke kota.

Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya aku dan Ezio tiba di terminal bus itu.

"Aku tak tahu kalau ternyata ada bus yang pergi sampai Kumogakure," kataku pada Ezio ketika melihat bus dengan tujuan Kota Kumo.

"Pastinya adalah. Meskipun waktu tempuhnya lebih lama dari kereta dan sedikit lebih mahal. tapi setidaknya aku tidak perlu menunggu berjam-jam hingga kereta dari Kumo datang. Lagi pula stasiun kereta terdekat di kota Suna ini berjarak sekitar 5 kilometer dari sini," kata Ezio.

"Kalau begitu kita berpisah di sini. Sebaiknya kita ke bus pilihan kita sekarang sebelum di tinggal, sampai jumpa, Ezio," ucapku.

"Titip salam untuk Hinata," kata Ezio.

"Oke!"

Setelah itu, aku pun berjalan menuju sebuah bus berjurusan Konoha. Aku duduk di bangku paling depan dan setelah penumpang di rasa cukup, akhirnya bus itu pun berangkat menuju Kota Konoha. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu keluargaku. Tapi aku juga benar-benar rindu dengan Himawari. Tapi sayangnya aku di larang bertemu dengan Himawari sekarang karena di takutkan Himawari akan jadi sedih jika kau kembali dan malah nantinya ia tidak bisa fokus dengan ujiannya.

Setelah melalui 4 jam perjalanan, akhirnya bus itu pun bersandar di sebuah terminal yang berjarak 5 kilometer dari rumahku. Aku tidak mungkin akan naik kendaraan umum lagi untuk ke rumah. Aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumahku untuk menghemat uang.

Setibanya di rumah, aku melihat rumah begitu sepi. Awalnya kukira Hinata berjualan tetapi ternyata ada gerobaknya di rumah. Aku pun bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah Hinata sedang sakit, atau ia ada urusan lain? Aku pun mencoba mengetuk pintu dan mendapati pintu rumah terkunci.

Kira-kira Hinata peri ke mana ya. Kira-kira itulah yang kupikirkan saat ini. Aku mengelilingi rumahku sendiri untuk mencari jalan masuk. Pintu belakang pun terkunci, sehingga aku tidak bisa masuk. Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah menunggu kedatangan Hinata. Jadi aku memutuskan untuk menunggunya di teras sambil beristirahat.

Beberapa jam sudah kuhabiskan untuk tidur di teras. Keadaan saat itu sangatlah sepi karena para tetangga sedang sibuk bekerja. Setelah beberapa jam tertidur, aku terbangun dan mendapati istriku sedang berjalan masuk ke halaman rumah dengan Boruto yang berseragam lengkap.

"Naruto!" panggil Hinata lalu menghampiri Naruto dan meninggalkan Boruto di belakangnya.

"A-Ayah!" ucap Boruto dengan nada khawatir.

"Apa kau sudah menunggu dari tadi?" tanyanya.

"Ya. Kau ke mana, Hinata?" tanyaku.

"Itu, umm," Hinata melihat ke arah Boruto yang saat itu sedang menatap kedua orang tuanya dengan perasaan cemas. "Aku ke sekolah Boruto."

Aku melihat kecemasan yang di rasakan Boruto. ada kekhawatiran mendalam yang sedang ia rasakan saat ini. Tentu saja karena aku adalah ayahnya jadi aku bisa merasakannya. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyaku

"I-Ibu," katanya dengan nada memelas. "Kumohon jangan beri tahu ayah, bu!" pinta Boruto.

"Tidak Boruto, ibu tidak berhak menyembunyikan hal ini dari ayahmu. Ayahmu harus tahu. Dan dari pada ibu yang mengatakannya, lebih baik kau sendiri yang mengatakan hal itu," kata Hinata.

Tak ada jawaban dari Boruto sehingga aku pun mendekati putraku ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Nak, katakan. Apa yang telah kau lakukan? Katakan saja, ayah tidak akan marah," kataku.

Namun tetap saja tak ada jawaban dari Boruto. Yang ada hanyalah sebuah gelengan kepala yang menandakan bahwa Boruto tidak ingin menceritakannya. "Matamu lebam, apa kau berkelahi, Boruto?" tanyaku setelah melihat matanya lebam dan dan ada bekas pukulan di bibirnya.

"Tadi pagi aku di telepon guru Boruto. Aku di minta datang oleh pihak sekolah. Katanya Boruto berkelahi dengan seorang gadis yang satu kelas dengannya. Aku dan orang tuanya di panggil untuk menyelesaikan masalah ini. Dan sebagai penyelesaian dan hukuman, Boruto dan gadis itu tidak bisa ikut ulangan 3 hari ke depan," kata Hinata.

"Apa! Ayah sudah menduganya. Kenapa kau berkelahi dengan seorang perempuan. Itu memalukan. Kau tahu ayah akan mendukungmu jika kau berkelahi dengan laki-laki," kataku. Namun tiba-tiba tangan Hinata memukulku.

"Aduh, Hinata! Kenapa?" tanyaku.

"Berkelahi itu tidak baik. Boruto hampir saja di keluarkan dari sekolah jika bukan karena ia punya teman yang merupakan anak kepala sekolah," kata Hinata.

"Baiklah. Kita bicarakan di dalam," kataku lalu menarik Boruto ke dalam rumah.

Begitu telah tiba di dalam rumah. Aku pun duduk di kursi sambil menatap wajah putraku yang nampak ketakutan. Namun di sisi lain kau tidak tega untuk memarahi putraku sendiri.

"Jadi, pertama ceritakan mengenai gadis yang menghajarmu hingga sampai begini," kataku.

Masih belum ada jawaban dari Boruto. "Hufft, Boruto, ceritakan pada ayahmu. Mungkin nanti ayahmu bisa memberimu jalan keluar. Aku akan ke dapur dan memasakan makan siang untuk kita," kata Hinata.

"Ayolah Boruto, ceritakan pada ayah. ayah tidak akan marah," ucapku.

"Gadis itu menyebalkan ayah. Dia anak orang kaya yang sombong dan sering mengejekku. Dari awal aku masuk sampai saat ini ia selalu saja mencoba membuatku kesal. Aku sudah tidak tahan lagi ayah. Jika saja masuk ke sekolah itu gampang, aku pasti saat ini sudah meminta ayah untuk mengeluarkanku dari sana," kata Boruto.

"Oke, jadi dia gadis yang mengganggumu itu ya. Kenapa kau sampai berkelahi dengannya? Bukankah seorang laki-laki yang berkelahi dengan seorang perempuan itu dianggap banci?" tanyaku.

"Ia terus mengejekku seharian ini. Ia bahkan merobek buku pelajaranku. Jadinya aku marah dan mematahkan bolpoin mahalnya. Ia pun menghajarku dan aku yang tidak terima pun ikut memukulnya. Lalu guru fisika datang dan mengeretku ke ruang kepala sekolah," kata Boruto.

"Huh, lain kali jangan berkelahi dengan perempuan. Apa kau tidak malu?" kataku.

"Aku malu ayah. maaf aku sudah mengecewakan ayah. ayah pernah berkata padaku untuk tidak membuat masalah. Tapi maaf karena aku telah membuat masalah di sekolah," kata Boruto.

"Tak apa-apa Boruto. Ayah memaafkanmu. Ayo sekarang kita makan," ujarku.

==\\==\\==

2 hari kemudian, Aku pun harus meninggalkan rumah untuk kembali bekerja. Uang yang aku dapat sebagai upah pun sudah kuberikan pada Hinata. Pagi itu, Tidak seperti biasanya karena pagi itu Boruto turut menyaksikan ke pergianku. Biasanya hanya Hinata karena Boruto harus berangkat ke sekolah. Tapi berhubung ia di skors beberapa hari, aku dapat berpamitan pada putraku juga.

Kali ini aku memutuskan untuk naik kereta api saja karena jarak stasiun lebih dekat dari rumahku ketimbang terminal. Lagi pula aku sudah tahu jadwal kedatangan dan Keberangkatan kereta yang menuju kota Sunagakure.

Beberapa menit aku berjalan menuju stasiun. Aku melewati sekolah Boruto. Kulihat sekolah itu nampak sangat sepi dan hanya ada penjaga sekolah saja yang berkeliling. Murid di sekolah itu memang sangat disiplin. Memang tak salah Boruto bersekolah di sana. Hanya saja status ekonominya membuat putraku pasti sulit berbaur di sana.

Setibanya di stasiun, aku menunggu kereta itu datang. Menurut jadwal sih kereta itu akan datang beberapa menit lagi. Aku membaca majalah yang tersedia di sana. Tak kusangka akan kulihat foto Uchiha Sasuke di majalah itu. Maklumlah, Sasuke adalah orang yang cukup terkenal di Konoha. Ia juga kaya raya sehingga ia sering muncul di majalah dan koran jika itu ada sangkut pautnya dengan Teknologi Komunikasi dan Asset Harta Benda.

"Kau benar-benar terkenal ya," ucapku pelan ketika membaca majalah berjudul "Techconnec, menuju Konoha yang lebih baik" itu. Di majalah itu di jelaskan mengenai sejarah perkembangan kota Konoha berkat adanya Techconnec. Kemudian ada ulasan para tokoh terkenal untuk Techconnec. Dan juga, di majalah itu termuat beberapa foto orang-orang penting di kepengurusan Techconnec.

"Sepertinya bagian ini menarik!" batinku sambil melihat foto-foto orang penting di Techconnec.

Sepertinya di daftar orang penting itu tak ada fotoku sama sekali. Wajar sih, saat aku meninggalkan Techconnec gelarku adalah wakil ketua pengawal Techconnec. Memang aku sama sekali tidak melihat adanya anggota pengawal yang masuk ke dalam daftar orang penting Techconnec itu.

Tiba-tiba perhatianku tertarik kala melihat foto wanita yang sebelumnya pernah kulihat di Sunagakure. "Uchiha Sakura!" kataku sambil melihat foto wanita itu. "Kau memang pintar memilih Istri, Sasuke."

Tak lama kemudian, kereta pun datang. Aku pun meletakan kembali majalah itu dan pergi menuju kereta yang sudah membuka pintunya agar para penumpangnya bisa masuk.

==\\==\\==

Beberapa bulan kemudian, rangka-rangka rumah pun mulai terlihat. Aku satu tim dengan Ezio dan 3 orang lainnya. Kami bekerja sama untuk membuat satu rumah tanpa cacat sedikit pun. Beberapa tim bekerja dengan sangat keras untuk bisa mengerjakan satu rumah. Karena bonus yang akan di terima setiap tim jika 1 rumah yang mereka bangun telah selesai akan sangat besar. Tentu saja semua pekerja sangat bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka.

Siang itu aku sedang berbaring-baring untuk beristirahat. Di temani segelas kopi dan sebuah roti lapis. Sementara Ezio sedang mencampur semen. Anggota yang lain sedang keluar dan membeli makanan.

"Ezio!" teriakku. "Apa kau yakin tidak mau beristirahat?" tanyaku.

"Nanti saja. Aku mau selesaikan ini dulu. Aku istirahat belakangan saja," jawabnya.

Setelah aku menghabiskan roti lapis dan kopiku, aku pun membantu Ezio. Dan setelah semen telah selesai, aku pun membuat tembok rumah sementara Ezio beristirahat. Di kala sedang bekerja, tiba-tiba Ezio mendatangiku.

"Naruto, ada telepon dari Hinata," katanya.

"Benarkah?" aku mengambil ponsel dari tangan Ezio. "Halo, Hinata! Ada apa?" tanyaku.

"Ini mengenai Boruto! Dia bertengkar lagi dengan gadis itu,"

"Apa! Benarkah! Dia menang atau kalah? Eh maksudku apa dia di marahi gurunya?"

"Kali ini tidak di diskors. Tapi hanya di beri peringatan. Jika sampai bertengkar lagi, katanya kau yang harus menghadapi kepala sekolah, Naruto,"

"Berikan ponselmu pada Boruto. aku mau berbicara dengannya,"

"Baik,"

Beberapa detik kemudian.

"Hai ayah!" sapa Boruto.

"Kali ini kenapa lagi?" tanyaku.

"Aku melempar kaca mobilnya dengan batu," kata Boruto santai.

"Kenapa kau lakukan itu!"

"Mau bagaimana lagi ayah. aku kesal. Saat pulang sekolah ia menabrak becek dan membuatku basah karena cipratan air itu mengenaiku. Karena kesal aku mengambil batu dan melempar mobilnya saat ia mencoba kabur."

"Lalu?"

"Keesokan harinya ia melaporkanku pada kepala sekolah. Aku di panggil dan ia juga memanggil ibu. Aku menjelaskan kronologinya dan akhirnya kepala sekolah pun menganggap yang memulai adalah gadis itu sehingga aku tidak diskors."

"Dan gadis itu?"

"Dia di hukum mencuci mobil kepala sekolah. Sementara aku hanya di beri peringatan untuk tidak berkelahi lagi dengan gadis itu. Tapi kepala sekolah memintaku untuk mengganti kaca mobil gadis itu yang telah kurusakkan."

Aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. "Nanti ayah akan kirimkan uang." Aku pun memberi putraku sebuah arahan untuk selalu menghindari segala macam pertikaian.

Setelah menutup telepon dari Hinata, aku pun kembali bekerja. Ezio yang baru saja selesai makan siang pun kembali membantuku. Kami berdua bekerja dengan keras agar bangunan yang kami kerjakan dapat selesai lebih cepat. Namun kami juga memperhatikan kualitas karena itulah moto perusahaan konstruksi tempat kami bekerja.

Waktu terus bergulir. Tak terasa sebulan telah di lewati kembali. Dan lagi-lagi aku mendapat panggilan dari Hinata mengenai Boruto yang berkelahi lagi. Aku dalam lubuk hatiku senang putraku berkelahi untuk membela diri dan itu menandakan ia anak pemberani. Hanya saja yang kukhawatirkan ia berkelahi dengan perempuan yang sama. Aku takut anakku di catat sebagai anak lemah karena beraninya berkelahi dengan seorang perempuan.

Kepala sekolah dan wali kelas mereka pun lepas tangan karena Boruto dan gadis itu sudah sangat sering masuk ke kantor. Dan untuk menyelesaikan masalah ini, kepala sekolah mengundang Boruto dan Gadis itu ke ruangannya sekali lagi dan membiarkan mereka berdua di ruangan sambil menunggu kedatangan ibu mereka. Kepala sekolah yang sudah lepas tangan pun membiarkan kedua keluarga itu berdiskusi untuk menyelesaikan masalah anak mereka sendiri.

Aku sendiri bingung kenapa Boruto dan gadis itu tidak bisa akrab walau hanya setahun. Bersyukurlah aku tidak mengenal orang tua dari gadis itu. Kalau aku kenal pasti sudah kuminta dia menasihati putrinya agar tidak mengganggu putraku yang hanya ingin sekolah di sana.

Begitu aku menutup telepon, Ezio menghampiriku dan menepuk punggungku. "Ya, aku tahu. Punya anak laki-laki itu berat. Apalagi anak laki-laki itu jauh dari bapaknya," kata Ezio.

"Ya, seperti itulah. Seandainya lawan Boruto itu laki-laki, aku tidak terlalu mempersalahkannya. Sayangnya dia adalah perempuan. Kau tahukan, putraku pasti serba salah saat menghadapinya. Bayangkan kau pukul, kau akan di katakan banci. Tapi kalau kau menolak berkelahi, kau akan dikatakan pecundang atau penakut. Yang lebih parah adalah ketika kau kalah," kataku.

"Aku tahu. Aku merasakannya kawan. Syukurnya anakku perempuan," ujar Ezio.

"Hufft! Sepertinya nanti kalau di berikan libur, aku akan pulang lagi," kataku.

"Ya, maka dari itu. Ayo kita selesaikan rumah yang menjadi tugas kita ini!" ajak Ezio.

==\\==\\==

Setengah tahun kemudian, semua pekerja pun di beri libur lagi. Walaupun waktu yang di berikan sangatlah sedikit. Tapi bagi beberapa pekerja itu adalah hal yang perlu di syukuri meskipun waktu libur hanya sedikit. Kami pun sudah menerima bayaran dan juga bonus setelah mengerjakan proyek ini setengah selesai.

Rumah yang menjadi tugas aku dan timku pun sudah selesai dan itu membuat bonusnya semakin besar. Beberapa hari yang lalu kudengar Boruto mendapat peringkat 7 di semester 1.. Jadi kupikir-pikir aku harus membelikannya perlengkapan sekolah yang baru. Jadi sebelum pulang, aku mampir di sebuah mall di Sunagakure untuk berbelanja.

Diam-diam aku menanyakan ukuran baju dan sepatu Boruto pada Hinata. Aku memilih tas model bagus untuk Boruto tanpa memandang harganya. Saat ini aku memegang uang dalam jumlah yang besar jadi aku tidak takut uang ini akan habis. Tak lupa aku juga membeli sepatu. Aku bahkan sampai tidak bisa membayangkan akan seperti apa ekspresi Boruto kala melihatku pulang membawakannya perlengkapan sekolah baru.

Tak lupa juga aku membelikan Himawari tas dan sepatu baru. Aku juga berencana untuk mendatangi ayahku yang sebenarnya ayah dari istriku—Hiashi. Dan setelah berbelanja aku pun pulang.

Setibanya di Konoha, saat itu sudah sore. Dan kemungkinan Hinata dan Boruto berada di rumah. Aku pun mengetuk pintu dan mendapat sambutan hangat dari Hinata.

"Akhirnya kau pulang juga Naruto, aku sudah sangat rindu!" kata Hinata sambil memelukku.

"Hehe, maaf ya. Aku sangat sibuk di sana. Lagi pula sekarang baru di beri waktu untuk istirahat," kataku sambil membalas pelukannya.

"Di mana Boruto?" kataku ketika Hinata melepaskan pelukannya.

"Dia menginap di rumah temannya. Katanya berhubung ini malam Minggu, ia di ajak temannya untuk bermain dirumah temannya," kata Hinata.

"Oh, ini," kataku sambil menyerahkan plastik berisi perlengkapan sekolah Boruto dan juga Himawari. "Aku tadi membelikan Boruto dan Himawari perlengkapan sekolah baru," lanjutku.

"Apa kau dapat bonus besar, Naruto?" tanya Hinata bahagia.

"Ya, begitulah. Andai saja setiap bulan bisa begini, pasti kehidupan kita akan lebih baik," ujarku.

"Jadi besok kau mau ke tempat ayah?" tanya Hinata.

"Kita, kalau bisa Boruto juga. tapi kita harus jalan pagi. Dan...Malam ini aku mau bermalam Minggu denganmu berhubung Boruto tidak di rumah," kataku seraya menyelipkan maksud tertentu.

Hinata terkikih dan Kulihat semburat malu muncul di wajahnya kala itu. "Baiklah Sayang.. Kau mandi dulu. Aku mau membuatkan makan malam untuk kita," kata Hinata.

Pagi harinya, aku dan Hinata pun bersiap-siap untuk pergi menemui kakek Boruto. Berhubung Boruto belum pulang, jadi kupikir aku dan Hinata saja yang pergi. Walaupun nantinya pasti Hiashi dan Himawari akan kecewa

Setibanya di desa, aku dan Hinata pun langsung menuju rumah Hiashi. Entah sudah berapa lama aku tidak ke sini, tapi aku masih mengingat jalannya. Desa itu mengalami banyak perubahan semenjak didirikannya kantor cabang dan laboratorium teknologi Techconnec. Walaupun aku sendiri masih binggung, kenapa Sasuke mendirikan laboratorium di desa yang keamanannya tidak terjamin.

Setibanya di rumah Hiashi, aku begitu kaget. Kupikir kehidupan Hiashi menjadi lebih baik ketika semua utangnya lunas. Rumahnya benar-benar telah berubah. Persawahannya pun terlihat sangat subur. Pantas saja ia tidak keberatan merawat Himawari.

Aku mengetuk pintu, namun tak kunjung mendapat respons dari pemilik rumah. Namun tiba-tiba, seorang anak muncul dari samping rumah dan langsung berlari menghampiri Hinata.

"Ibu!" teriaknya.

"Himawari!" balas Hinata.

Kedua perempuan yang sangat kukenal itu pun saling berpelukan.

"Peluk juga ayahmu, sayang!" kata Hinata.

"Wah, kau sudah besar ya, Himawari. Maaf ayah baru bisa menjengukmu," ucapku ketika Himawari memelukku.

"Tidak masalah ayah. Lagi pula aku tahu ayah sibuk. Tapi mana kakak?" tanya Himawari.

Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya pun membuka pintu rumah. Hinata pun tersenyum. Begitu pula denganku.

"Hai, ayah!" kataku.

"Bagaimana kabarmu ayah?" tanya Hinata lalu menghampiri ayahnya dan memeluknya.

Aku pun mencium tangan Hiashi ketika Hinata selesai memeluk ayahnya.

"Ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam. Hima, tolong buatkan minum untuk orang tuamu," kata Hiashi.

Setelah di dalam, aku sedikit berbincang dengan Hiasi.

"Apa ayah mengurus persawahan ini sendirian?" tanyaku.

"Tidak, ayah punya beberapa karyawan. Setelah kau membayarkan semua utang ayah, penghasilan ayah dari semua sawah itu ternyata sangat besar. sehingga ayah pun mempekerjakan beberapa orang untuk membantu ayah. kau tahukan ayah semakin tua,"

Tak lama kemudian, Himawari datang membawa 4 gelas teh. Ia pun langsung duduk di sebelah ibunya.

"Oh ya, di mana Boruto?" tanya Hiashi.

"Boruto semalam menginap di rumah temannya. Aku tidak tahu di mana rumah temannya itu makanya aku dan Hinata pergi ke sini berdua saja," jawabku.

"Boruto yang malang. Anak itu sendirian di kota karena di tinggal orang tuanya," ujar Hiashi bercanda.

Tapi, aku tiba-tiba menjadi merasa bersalah karena meninggalkan Boruto sendirian di kota tanpa memberitahunya kalau aku dan Hinata hendak pergi.

"Ada tujuan apa kalian datang?" tanya Hiashi.

"Sudah lama sekali aku tidak bertemu ayah dan Himawari. Aku ke sini juga mau memberikan perlengkapan sekolah ini pada Himawari," kataku sambil menyerahkan perlengkapan sekolah Himawari.

"Wah, kebetulan sekali. Aku dan Himawari baru saja mau ke kota untuk membeli perlengkapan sekolah baru Himawari. Kami juga berencana untuk mengunjungi kalian hari ini," kata Hiashi.

"Itu menjelaskan kenapa ayah dan Himawari berpakaian serapi ini," kata Hinata.

"Jadi berapa lama kalian di sini, ayah harap cukup lama untuk menemani ayah di sini," kata Hiashi.

"Kami berencana di sini hingga sore. Kami juga tidak tega berlama-lama meninggalkan Boruto. Tapi syukurnya tadi aku sudah menaruh uang di meja untuk membeli makanan. Selain itu juga ada catatan juga," kataku.

"Naruto, apa kau sedang banyak rezeki?" tanya Hiashi.

"Ya ayah. aku baru saja menerima bonus besar dari perusahaan. Kemarin aku dan timku baru menyelesaikan sebuah rumah. Kemudian kemarin juga bertepatan dengan pembayaran upah kami dan pemberian bonus dari pihak Techconnec. Makanya uangnya aku pakai untuk membeli perlengkapan sekolah Himawari dan Boruto," ucapku.

Setengah jam bercerita dengan mertuaku, aku pun memutuskan untuk melihat-lihat keadaan sawah dan desa. Tak lupa aku juga mengunjungi rumah bekas juragan kaya raya itu. Tapi aku hanya lewat saja, aku tidak berani masuk. Sekarang anaknya lah yang menguasai rumah dan harta ayahnya.

Beberapa jam kami habiskan di desa itu. Aku mengenang saat-saat di mana aku memperjuangkan cintaku dengan Hinata. Benar-benar sudah sangat lama semenjak terakhir kali aku ke sini.

Sore harinya, aku dan Hinata pun pamit untuk pulang. Himawari seperti tak menginginkan kami untuk kembali. Rasanya seperti aku ingin mengajaknya pulang. Tapi kami tak bisa melakukannya. Aku tidak tega membiarkan ayah Hinata hidup seorang diri karena cucu yang sudah ia rawat semenjak lama kami ambil kembali.

==\\==\\==

Keesokan harinya, aku pun kembali ke Suna untuk kembali bekerja. Aku dan timku mendapat tugas untuk membangun sebuah rumah lagi. Saat itu, proyek sudah 45% selesai. Beberapa rumah sudah berdiri dengan kokoh walau dengan presentase selesai baru 90%. Hal itu dikarenakan rumah-rumah itu masihlah belum di cat dan di pasang kaca dan perlengkapan rumah lainnya seperti toilet dan saluran air.

2 bulan kemudian, proyek mengalami sedikit kendala karena cuaca yang buruk dan sulit di tebak. Di bulan itu, di Suna sering terjadi badai pasir. Lokasi yang berada di luar wilayah kota, membuat lokasi konstruksi menjadi tempat yang rawan bila terjadi badai pasir.

Siang itu, aku yang sedang membersihkan pasir-pasir yang tertempel pada tembok rumah akibat badai semalam di datangi mandor.

"Naruto, saya minta tolong. Berhubung kau tidak terlalu sibuk. Aku minta tolong padamu untuk mengambil sebuah dokumen di tenda utama," kata mandor.

"Baik. Tapi siapa yang harus saya temui untuk?" tanyaku karena bingung.

"Penanggung jawab proyek. Dia datang untuk memberi sebuah dokumen padaku. Tapi aku saat ini sedang sibuk mendata rumah-rumah yang di kerjakan tim kita," kata mandor.

"Baik," ucapku lalu pergi ke tenda utama. Tenda utama adalah tenda yang menjadi tempat para mandor berkumpul sekaligus tenda yang menyimpan seluruh data-data proyek.

Di tengah perjalanan, aku pun berpikir.

"Penanggung jawab proyek? Apakah wanita itu. Baiklah, ini tidak masalah. Ia pastinya tidak mengenaliku," batinku seraya berjalan menuju tempat tujuan.

Setibanya di depan tenda utama itu. Berhubung tak ada pintu untuk di ketuk, aku pun hanya berkata "Permisi! Saya di suruh mandor tim 3 untuk mengambil dokumen untuknya!" kataku.

Mataku mendapati sosok laki-laki yang sedang duduk di depan meja. Badannya ia sandarkan ke bangku sementara kakinya ia naikan ke atas meja. Saat itu ia sedang membaca koran yang berisi laporan cuaca. Begitu ia mendengar suaraku, ia berkata "masuklah!" lalu menurunkan kakinya dan melipat koran itu.

Ketika masuk, aku masih belum bisa melihat jelas di dalam ruangan itu. Tapi dari gaya duduk orang itu, aku jadi teringat seseorang. Wajahnya memang belum terlihat, jadi aku masih belum bisa memastikannya. "Kukira penanggung jawabnya wanita! Tapi gaya duduk orang ini, seperti kukenal?" batinku.

"Aku sudah menunggu dari tadi. Tidak bisakan tidak ada orang yang membuatku menunggu. Aku sibuk dengan urusanku di kota Konoha," kata pria itu sambil berdiri dan menaruh koran itu di meja.

"M-maaf. Saya juga baru di beri..." perkataanku terputus setelah kulihat wajah orang itu.

Saat itu, kulihat juga dia terdiam sambil menatapku. "Naruto!" sebutnya.

"Sasuke!" sebutku.

"Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dirimu di sini," katanya.

"Begitu pula aku. Kukira yang akan datang adalah wanita berambut pink itu."

"Sakura? Jadi kau sudah melihat istriku?" tanya Sasuke.

"Tidak begitu dekat. Tapi aku dapat menyimpulkan bahwa wanita yang bernama Uchiha Sakura itu adalah istrimu."

Sasuke mendekat. "Aku tidak menyangka ternyata sekarang kehidupanmu seperti ini," kata Sasuke.

"hufft, padahal aku sangat tidak berharap bertemu denganmu," kataku. "Dengan kondisi seperti ini," sambungku.

"Kau tahu Naruto. Selama ini aku berusaha mencari tahu keberadaanmu," kata Sasuke.

"Sudah kubilang. Tidak usah mencampuri kehidupanku setelah aku keluar dari Techconnec. Kau tidak perlu rindu padaku, karena aku tidak merindukanmu,' kataku.

"Bodoh! Dengarkan! Aku mencari tahu keberadaanmu bukan karena rindu, tapi untuk melindungimu dari Mafia. 3 tahun belakangan, Mafia mengincar orang-orang penting Techconnec yang berpotensi menjadi sandera yang bagus. Keluargaku merupakan target terbaik mereka. Tapi kau, bisa menjadi alternatif. Itu sebabnya aku berusaha mencari keberadaanmu. Dan bahkan jika perlu aku akan memaksamu kembali ke Techconnec demi keamananmu," tegas Sasuke.

"Maaf, tapi aku sama sekali tidak ada niat kembali ke sana. Jika pun mereka menangkapku, aku tidak akan membocorkan apapun. lagi pula kau sudah menyukai kehidupanku ini. Bersama istri dan juga anakku," ucapku.

"Mereka menangkap orang penting bukan untuk menggali informasi. Melainkan menjadi sandera. Apa kau tidak mengerti arti kata 'sandera'. Mereka akan memaksa kami untuk menyerahkan Techconnec agar mereka melepas sandera," ujar Sasuke.

"Jadi mereka masih berencana merebut Techconnec?" tanyaku.

"Ya."

Suasana hening untuk beberapa detik. "Sasuke, aku sedang sibuk. Jadi tolong berikan dokumen yang hendak di berikan pada mandor tim 3," kataku.

"Aku masih belum selesai bicara denganmu. Kita bicara sebentar," kata Sasuke.

"Tapi, aku sibuk. Aku bisa di marah Mandor jika berlama-lama di sini."

Sasuke mengambil ponselnya lalu berkata "Iya... Aku mau berbicara dahulu dengan pekerja bernama Naruto. Jadi aku minta bapak memberinya waktu... Terima kasih," kata Sasuke dengan suara tegas lalu menutup telepon.

"Sekarang kau tidak perlu takut di marahi mandor itu. Aku sudah meneleponnya untuk memberimu waktu istirahat," ujar Sasuke.

"hufft, katakan. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyaku.

Kupikir sebaiknya kita bicara di tempat lain. Kupikir saat jalan ke sini, aku menjumpai warung ramen," ucap Sasuke.

"Aku tadi sudah makan siang. kupikir sebaiknya kita bicara di tempat ini saja," kataku lalu duduk di salah satu bangku yang ada di tenda utama itu.

"Sepertinya kau tidak begitu senang bertemu denganku, ada apa sebenarnya?"

"Aku... Aku belum siap untuk bertemu denganmu. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Aku Cuma buruh yang mendapat gaji yang tidaklah besar. Tapi aku sama sekali tidak pernah menyesali kepergianku. Malahan aku bersyukur karena dengan pergi meninggalkan Techconnec aku bisa menjumpai seorang gadis yang cantik yang sekarang menjadi istriku."

"Sekarang kau tinggal di mana?"

"Kau tidak berhak tahu di mana aku tinggal. Aku tidak mau kau menyusupkan mata-mata untuk memantauku."

"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Lagi pula, privasi di butuhkan semua orang," ucap Sasuke. "Oh, bagaimana dengan perjalananmu setelah kau pergi? Apakah kau sudah membersihkan dirimu dari dosa-dosa selama masa pertikaian kita dengan Mafia?"

"Tidak, sepertinya 20 tahun masihlah belum cukup bagiku untuk melupakan semua kejadian-kejadian itu. Tapi setidaknya aku tidak perlu lagi membunuh, seperti yang sering kita lakukan dahulu saat mencoba melindungi Techconnec."

Sasuke melihat jam, "Sebaiknya aku kembali ke Konoha sekarang. Aku ada rapat penting malam ini. Naruto, jika kau berkunjung kembali ke Konoha, jangan lupa untuk mampir ke rumah. Atau paling tidak kantorku," kata Sasuke lalu ia pun berdiri dan memberikanku dokumen yang seharusnya sudah dari tadi aku mengantar pada mandor.

"Baiklah, jika aku tidak lupa!" kataku lalu pergi sambil membawa dokumen itu.

==\\==\\==

3 hari kemudian, cuaca pun semakin memburuk sulit di tebak. Badai pasir bisa terjadi kapan saja tanpa ada laporan dari pihak pengawas cuaca Suna. Beberapa kasus kecelakaan kerja lebih sering terjadi ketika badai pasir terjadi. Beberapa material ringan berterbangan dan mengenai pekerja hingga terluka. Bukan hanya itu saja, banyak juga yang terkena gangguan tenggorokan akibat tanpa sengaja menghirup pasir ketika terjadi badai.

Untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak lagi, pihak perusahaan Techconnec dan PT. Bangun mandiri pun memutuskan untuk menghentikan kerja sama hingga cuaca bisa di pantau lebih baik dan tidak begitu buruk. Akhirnya kami pun di pulangkan keesokan paginya hingga waktu yang tidak dapat di tentukan.

Saat itu, mandor dari tim kami juga sedang sakit. Jadi sebelum ke rumah, aku bersama 2 teman satu timku membawa sang mandor ke rumah sakit Konoha. Ada alasan mengapa kami membawanya ke sana. Pertama rumahnya adalah di Konoha dan yang kedua asuransi kesehatannya akan berlaku di rumah sakit Konoha.

Setelah mengantar sang mandor ke rumah sakit, aku pun pulang ke rumah. Saat itu rumah sedang di kunci karena Hinata sedang berjualan. Aku pun menaruh barang-barangku di tempat yang aman di halaman rumah lalu pergi mencari istriku yang entah sedang berkeliling di mana.

Namun sebelum aku pergi mencari Hinata, aku amplop yang hanya berisi beberapa lembar uang saja. Sebelum kami meninggalkan Suna, perusahaan memberi upah. Jumlahnya memang tak besar, jika kuperhitungkan hanya cukup untuk seminggu. Yang aku takutkan adalah apabila cuaca di Suna tak cepat kembali stabil, kami terpaksa harus menunggu lama untuk melanjutkan pekerjaan. Yang paling kutakutkan adalah ketika uangku telah habis dan terpaksa menyerahkan semua pada Hinata yang berjualan.

Setelah menghitung uang, aku pun memasukannya ke dompet dan bergegas mencari istriku yang mungkin berjualan tak jauh dari kediaman kami. Aku pun tak lupa untuk bertanya warga sekitar jikalau mereka mengetahui lokasi yang sering di lalui istriku.

15 menit kuhabiskan untuk mencari keberadaan istriku. Tapi setidaknya aku sedikit mendapatkan petunjuk ketika aku bertanya pada seseorang yang membawa bungkusan berisi gado-gado. Setelah bertanya padanya, aku pun berjalan ke arah jalan raya yang.

Aku tiba di depan toko kue, haus sudah melandaku. Aku hampir saja tergoda untuk membeli segelas minuman yang tersedia di toko kue itu jika saja aku tak ingat untuk berhemat. Mataku memandangi objek-objek dari kejauhan namun tak mendapati seorang pun yang sedang mendorong gerobak. Aku mengira mungkin istriku sudah pulang atau berpindah lokasi.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Dengan cepat aku berbalik dan melihat orang itu. Aku pun menjadi kaget ketika melihat wajah orang tersebut. "Sasuke!" sebutku.

"Jadi kau memutuskan untuk mampir ke kota ini?" tanya Sasuke.

"Bukan hanya mampir. Aku sebenarnya tinggal di kota ini sudah sejak lama, sebelum anak pertamaku lahir ke dunia."

"Sebaiknya kita bicara di dalam. aku juga sedang menunggu pesananku di buat. Kelihatannya kau harus, mari kutraktir minuman."

Di dalam, Sasuke memberiku segelas es teh. Tak lupa juga beberapa potong kue basah.

"Kau tak makan, Sasuke?"

"Kau lupa, aku tidak suka makanan manis. Lagi pula semua makanan di sini identik dengan manis."

"Terus kenapa kau ada di toko kue ini?"

"Aku mau membelikan kue untuk istriku yang sedang sakit. Berhubung kue kesukaannya habis, aku menyuruh mereka membuatkannya dengan bayaran 2 kali lipat dari harga aslinya."

"Tak kusangka kau yang sangat sibuk masih punya waktu untuk menunggu kue kesukaan istrimu di buat."

"Terkadang kita harus berkorban segalanya demi orang yang kita sayangi, bukan?"

"Ya, kau benar," tandasku lalu memakan sepotong kue lagi.

"Tadi kau berkata kalau kau sudah tinggal di Konoha semenjak anak pertamamu lahir ke dunia, berarti kau punya berapa anak?" tanya Sasuke.

"2, tapi anak keduaku saat ini di asuh oleh mertuaku di desa."

"Kau tahu, ketika aku mendengar kabar bahwa Mafia memburu orang-orang penting Techconnec, aku berusaha mencari tahu keberadaanmu untuk memastikan dirimu aman dari mereka. Semua kota di Jepang sudah kutelusuri untuk mencari tahu keberadaan dirimu. Tapi aku benar-benar tak menyangka jika kau tinggal di kota ini."

"Sebenarnya aku juga tidak mau tinggal di sini. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah salah satu syarat yang di berikan mertuaku agar aku bisa menikahi putrinya."

"Ada baiknya jika kita kumpulkan kedua keluarga kita agar bisa lebih mengenal. Aku akan tentukan hari dan tempat. Setelah itu akan kukabarkan padamu."

Tak berselang lama, akhirnya seorang pelayan toko datang dan mengatakan kue pesanan Sasuke telah jadi.

"Kita bertemu lagi nanti. Berhubung saat ini kau sedang libur, pastinya kau punya banyak waktu luang."

"Dan itu akan jadi masalah. Entah sampai kapan kami diliburkan, tapi itu akan sangat berpengaruh para perekonomian keluargaku."

"Kau jangan khawatir, besok datang ke Techconnec. Aku akan memberimu pekerjaan paruh waktu. Setidaknya dengan begitu kau tidak perlu khawatir kehabisan uang selama masa cuti ini."

"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain."

Ketika Sasuke membayar pesanan, aku menunggunya di luar. Tiba-tiba ia melihat Boruto yang sedang melihat uang yang ada di tangannya. Aku pun mendekatinya tanpa sepengetahuan dirinya.

Kusentuh pundaknya sambil berkata, "kau jalan kaki Boruto! bukannya ibumu sudah memberikan uang untuk naik angkot?" Dan ternyata hal itu malah mengejutkannya ketika ia melihatku. "Ayah! Kenapa ayah ada di sini? bukannya ayah sedang keluar Kota mengerjakan proyek?" tanya Boruto.

"Ayah baru pulang tadi pagi. Semua pekerja dipulangkan selama beberapa hari akibat cuaca buruk." Jawabku.

Sasuke pun keluar dari toko kue itu dan langsung menghampiriku. "Jadi ini putramu, Naruto?" tanyanya sambil memperhatikan Boruto.

"Ya Sasuke. Namanya Boruto. Dia putra pertamaku," kataku.

Tak lama kemudian, aku pun berkata "Yosh, Sasuke. Aku mau pulang dulu. Semoga istrimu cepat sembuh," kataku lalu menggandeng tangan Boruto pulang.

Dalam perjalanan pulang, Boruto bertanya. "Siapa orang itu, ayah?"

"Namanya Sasuke. Dia pemimpin perusahaan yang menyewa jasa konstruksi perusahaan ayah."

"Oh, jadi dia teman ayah."

"Iya, ayah bertemu dengannya sewaktu mau mengambil dokumen di lokasi konstruksi. Terus tadi lagi bertemu di toko kue itu. Ayah berbicara padanya cukup lama. Teman ayah itu cerita kalau istrinya sakit karena memakan nasi goreng buatan teman ayah, katanya terlalu banyak cabai dan sedikit pahit."

"Cukup! Ayah aku Cuma bertanya satu pertanyaan. Kenapa ayah menyerangku dengan jawaban yang sangat panjang."

==\\==\\==

Malam harinya, aku dan Hinata berada di dapur untuk bersiap makan malam. Sambil menunggu nasi yang sedang di masak oleh Hinata, kami berbicara hal yang sangat serius.

"Jadi itulah mengapa kau di pulangkan hari ini," kataku setelah menceritakan alasan mengapa aku pulang hari ini.

"Syukurnya kau di upah, Naruto. Jika tidak, kita harus memeras pikiran untuk mendapatkan uang selama kau di liburkan. Uang untuk jualan gado-gado juga sudah habis untuk membayar tagihan listrik dan air," kata Hinata dengan nada sedih.

Mendengar perkataan istriku itu, aku pun menjadi sedih. Aku lalu mengeluarkan uang yang kudapatkan sebagai upah dan kuletakkan di meja. "Uang ini hanya cukup untuk 1 minggu. Kau ambil setengah untuk modal dan setengah lainnya untuk kebutuhan yang lain," kataku.

"Semuanya untukku dan Boruto? kau bagaimana, Naruto?" tanya Hinata.

"Tidak usah khawatir, Hinata. Teman lamaku menawariku pekerjaan paruh waktu. Nanti bayarannya akan kuambil setengah dan setengahnya lagi untuk kalian," ucapku.

Hinata pun diam tak bersuara sebab ia menurut.

"Yosh, ayo panggil Boruto, aku sudah lapar!" ucapku bersemangat.

Tiba-tiba, Boruto memasuki dapur.

"Maaf ayah, ibu. aku sudah membuat kalian menunggu," kata Boruto.

"Tak masalah Boruto. Ayo cepat kita makan. ayahmu sudah kelaparan," kata Hinata.

"Kelaparan? Siapa yang kelaparan. Aku masih belum lapar. Kau makan deluan saja, Boruto."

"Ayah dan ibu makan dahulu. Aku masih mau mengecek sesuatu di belakang," kata Boruto.

Namun tiba-tiba, perutku dan perut Boruto berbunyi tanda kelaparan.

"Kalau kalian berdua mau makannya nanti, baiklah. Ibu makan deluan. Kalau perlu ibu habiskan semuanya. Nanti tinggal ibu buatkan lagi," ucap Hinata.

"Kita makan bersama-sama saja sekarang, ayo Boruto!" ajakku.

Setelah makan, Boruto berkata bahwa besok ia mau membawa bekal gado-gado yang banyak untuk dia dan teman-temannya makan. Tentu saja aku tidak boleh mematok harga untuk itu karena teman-teman Boruto sudah setiap hari rela mentraktir anakku ini. Jadi sekali-kali ia juga harus membalas kebaikan teman-temannya.

Berhubung karena bahan-bahannya habis, aku dan Boruto pun di suruh untuk pergi ke minimarket. Jadi setelah bersiap, aku dan Boruto pun pergi ke minimarket yang lokasinya tak jauh dari rumahku.

Namun ketika aku keluar, tiba-tiba aku melihat seseorang yang kukenal mendekatiku. Dia adalah Tenzo, tangan kanan terbaik sang mandor. Dia berkata bahwa sang mandor ingin menemuiku sehingga aku pun terpaksa menyerahkan tugas belanja ini pada Boruto dan pergi ke rumah sakit.

==\\==\\==

:

:

Bersambung

:

:
-

Kali ini author datang membawakan chapter terbaru. Mungkin memang sangat terlambat. Dan author minta di maklumi saja. Saat ini author sedang menghadapi ujian kenaikan kelas berbasis komputer.

Puasa ini memang author punya banyak waktu. Tapi sayangnya haus dan lapar menahan author untuk mengetik. Ide cepat sekali menguap di kala haus apalagi lapar. Tapi author tetap berjuang semampunya untuk menyelesaikan setiap chapter dengan baik.

Saat ini author di landa kebingungan. Ada 2 proyek cerita yang author pikirkan untuk proyek kedepannya. Yang pertama Uzumaki Destiny (karakter Boruto) dan yang kedua Belum ada Judul (Naruto) tapi alurnya udah dapat.

Kira-kira menurut kalian, untuk proyek kedepannya author lebih baik membuat cerita dengan karakter Boruto atau Naruto.

Oke sekian.