Heloooo, Chimi is back. Hmm, ada yang request untuk update Call My Name, Babe. Sesuai janji, aku akan update. Thanks yang sudah menyemangatiku. Iya, Chimi tahu, chap kemarin terkesan tak adil buat Hinata. Maafkan saya, itu adalah salah satu untuk melancarkan fic ini. Dan untuk Genre, Chimi bingung harus apa?#plak(banyak omong banget nih Chimi)
Hahaha, maaf ke'gaje'an saya yang suka kumat sendiri. Yosshh silahkan baca.
Chapter 4
Naruto dkk milik Masashi Kishimoto.
Rate: T semi M
Warning: Ooc, Typo bertebaran, EYD ancur dan lainnya.
Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali. Hal pertama yang ia tangkap oleh retinanya hanya kegelapan. Berkali-kali ia mengucek matanya untuk membenarkan apa yang ia lihat? Namun tetap saja, hanya kegelapan yang ia lihat.
Naruto bangkit dari posisi tidurnya. Ia menoleh kanan-kiri, namun yang ia temui hanya kegelapan dan kesepian. Ia mulai berjalan dengan tangan yang seolah meraba sesuatu yang dapat ia sentuh. Hanya udaralah yang bisa ia tangkap.
"Helooo, apakah ada orang?" tanyanya entah pada siapa.
"Tolong hidupkan lampunya, aku tak bisa melihat," ucapnya kembali.
Hening
Hanya keheningan yang menjawab ucapannya.
Ia terus berjalan tertatih-tatih. Berusaha menemukan sebuah titik sinar.
Entah sudah berapa lama ia berjalan. Namun cahaya itu tak jua ia temui. Rasa lelah mulai menyelimuti dirinya. Ingin sekali ia menyerah, namun kakinya terus saja bergerak maju. Bergerak untuk memperoleh sinarnya.
Tak lama, Naruto melihat setitik cahaya. Ia mengembangkan senyumnya. Akhirnya, usahanya tak sia-sia. Sekian lama berjalan, ia bisa menemukan sinar itu.
Dengan langkah terseret-seret, ia mulai mempercepat langkahnya. Semakin lama cahaya itu semakin dekat, semakin besar dan semakin menerpa dirinya.
.
.
Naruto memandang segala penjuru. Yang terlihat olehnya hanya padang rumput nan hijau dan pepohonan yang rimbun. Tempat yang baru ia tapaki begitu tenang dan damai.
Ia mulai menghirup udara sebanyak-banyaknya, seolah tak rela bila ia menghirup hanya sedikit. Mata shappire'nya terpejam menikmati hembusan angin yang bertiup pelan. Merasakan kenyaman yang baru saja ia dapatkan. Ia tidak tahu, dimana ini? Yang ia tahu, ia sangat nyaman berada di sini. Ingin rasanya ia bisa menikmati keindahan ini untuk selamanya. Ia tak perlu lagi mengurusi kehidupannya yang penuh masalah itu. Ia ingin terbebas. Rasanya ia telah menemukan tempatnya. Ya, di sini lah tempatnya.
Ia mulai bergerak maju menuju sebuah pohon besar nan rindang. Ia menyendarkan tubuhnya di batang pohon itu. Menyamankan diri untuk tidur sejenak. Ia mulai memejamkan matanya. Menyembunyikan shappirenya dari dunia untuk pergi ke dunia mimpi.
"Mau berbagi cerita,"
Deg
Naruto tersentak kaget. Matanya yang baru ia pejamkan segera ia buka kembali. Ia sangat familiar dengan suara ini. Suara yang begitu berarti dalam hidupnya. Suara yang sangat ia rindukan. Suara itu...
Demi menjawab rasa penasaranya, Naruto menoleh ke arah belakang pohon tempatnya bersandar. Matanya seketika membulat, melihat seseorang yang sangat ia kenali.
"Ka...ka...kau...".
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
.
.
Hinata menatap dalam ke arah Naruto yang masih terlelap. Menatap dengan sendu. Apa jadinya bila ia tak mendapatkan uang untuk operasi pemuda di hadapannya ini? Mungkin Hinata akan merasa tak berguna seumur hidup. Beruntung ia ingat, saat pergi dari mansionnya, ia membawa serta kalung berlian khas klan Hyuuga. Kalung yang hanya di miliki oleh keturunan keluarga inti Hyuuga. Kalung yang seharga 1 unit mobil mewah.
Hinata menjual kalungnya itu. Ia tidak peduli lagi dengan Hyuuga. Toh, ia sudah dicoret dari silsilah keluarga konglomerat itu kan?
Uang yang ia dapatkan dari hasil penjualan kalung miliknya itu, lebih dari cukup. Dengan segera ia meluncur ke rumah sakit. Untungnya perjalannya lancar tanpa hambatan.
Sesampainya di rumah sakit, Hinata segera melunasi semuanya. Dan pada akhirnya operasi pun bisa segera dilakukan.
Hinata tersenyum mengingat perjuangannya. Tak sia-sia penjuangannya bila yang ia dapatkan keselamatan pemuda ini. Operasi yang dilakukan oleh dokter berhasil, hanya tinggal menunggu pemuda itu sadar.
Hinata menggenggam erat tangan Naruto. Seolah memberi isyarat untuk sadar.
"Lekaslah bangun, aku ingin mendengar suara cemprengmu," lirih Hinata tersenyum tipis.
.
.
Angin bertiup perlahan menggoyangkan surai pirang Naruto yang tengah bersandar pada batang pohon. Di sebelahnya, duduk seorang kakek berambut putih panjang yang tengah menorehkan tinta pada sebuah kertas.
"Jadi, kau meninggalkan rumah karan tak mau menerima perjodohan dari ayahmu?" tanya kakek barambut putih bernama Jiraiya. Kakek Naruto yang telah meninggal.
Naruto menghela nafas. Ia telah menceritakan semua yang menimpa dirinya. Dari masalah dengan keluarganya hingga bagaimana ia bisa sampai di tempat ini.
"Yah, begitulah," ucap Naruto malas.
"Bagaimanapun mereka orang tuamu, mereka hanya menginginkan yang terbaik untukmu," kata Jiraiya, tangannya masih sibuk menulis sesuatu.
"Tapi aku tak mencintai Sakura,Kek," Naruto merengut sebal.
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, kau telah menjadi laki-laki dewasa, sudah saatnya kau membuang egomu dan menyelesaikan semua ini," ucap Jiraiya.
"Hah, aku tahu itu,kek. Tapi aku telah memiliki wanita yang ku cintai," Naruto tersenyum sembari membayangkan wajah Shion, kekasihnya.
"Wanita yang kau cintai? Siapa dia!" Jiraiya mengernyit bingung.
"Yah, namanya Shion, dia gadis yang sangat cantik dan baik. Dia seorang artis," jawab Naruto dengan bangga.
"Kau yakin padanya? Kau yakin dia gadis baik untukmu?"
"Tentu saja aku yakin," ucap Naruto mantap.
Jiraiya hanya menghela nafas.
"Naruto, suatu saat kau akan dihadapkan dua pilihan sulit tentang cinta,".
Naruto menatap kakeknya serius.
"Bila saat itu tiba, siapa yang kau pilih? Orang yang kau cintai atau orang yang mengorbankan segalanya untukmu," sambung Jiraiya.
"Apa maksud kakek," Naruto tak mengerti dengan ucapan kakeknya.
"Kau akan mengerti, lihatlah ke sana," Jiraiya menunjuk 2 sosok perempuan yang berdiri membelakangi.
Naruto mengikuti arah yang ditunjuk kakeknya. Ia melihat 2 orang perempuan yang membelakanginya. Dari belakang Naruto yakin bila itu Shion, lalu satunya lagi siapa. siapa gadis berambut gelap itu? setahunya, ia tak memiliki teman perempuan berambut gelap.
"Siapa dia?" tanya Naruto.
"Kau kan menemukan jawabnya nanti,". setelah berkata seperti itu, Jiraiya menghilang menjadi pendar-pendar cahaya.
.
.
"Shi-Shion,"
Hinata hanya memutar bola matanya. Sedari tadi pemuda di hadapannya ini selalu menggumamkan nama Shion. Menggumam dengan mata yang masih terpejam. Shion, siapa dia? Kenal pun tidak.
Entah kenapa ia menjadi sedikit sebal bila mendapati Naruto yang terus menggumamkan nama itu. Walaupun tidak terpungkiri ia merasa senang mendapatkan peningkatan kondisi pemuda itu. Tapi, kenapa harus dengan menggumam? Itu membuatnya sebal.
Hinata melihat jemari pemuda itu mulai bergerak perlahan. Hinata tersenyum dan menantikan pemuda itu membuka iris matanya.
Naruto mulai mengerjapkan matanya perlahan. Berkali-kali ia mengerjap, mencoba menyesuaikan cahaya yang akan masuk retina matanya.
Perlahan shappire itu terbuka. Putih, warna yang pertama ia lihat. Langit-langit yang begitu asing di matanya.
Ia mulai menoleh ke arah samping. Ia melihat seorang gadis tengah duduk di sampingnya. Ia mengernyitkan keningnya. Ia kenal dengan gadis ini. Bukankah dia gadis yang seminggu lalu berada di apartementnya? Naruto takan lupa dengan wajah itu.
Naruto berusaha untuk duduk, namun gadis itu menahannya dan tak memperbolehkannya duduk.
"Kau haus," tanya gadis itu. Naruto hanya mengangguk. Kebetulan sekali, ia juga merasa sedikit haus. Gadis itu menyodorkan segelas air putih dengan sebuah sedotan putih. Naruto mulai menyeruput air putih itu, dirasa tlah cukup, ia melepaskan sedotan yang ia gigit.
"Aku ada dimana?" lirih Naruto.
"Kau berada di rumah sakit," jawab Hinata.
"Rumah sakit," beo Naruto.
"Yah, kau mengalami kecelakaan dan dirawat di sini," jelas Hinata menjawab kebingungan Naruto.
"Apa Shion tahu?" tanya Naruto.
Dengan sekejap senyum Hinata menghilang, tergantikan raut sebal.
"Hai, ada apa denganmu? Aku hanya bertanya," ucap Naruto.
"Kau bertanya tentang hal yang tak ku mengerti. Dan Shion, siapa dia? Kau tak membawa apapun saat kecelakaan. Bagaimana aku bisa menghubungi kerabatmu, bodoh!" omel Hinata.
"Aku kan hanya bertanya, kau tak perlu marah," gerutu Naruto sebal. Sedangkan Hinata hanya mendengus.
.
.
.
Chimi Wila Chan
.
.
Seorang gadis berjalan mondar-mandir. Sesekali maniknya menatap ke arah ponsel yang tengah digengganmnya.
Sedangkan seorang pemuda yang memandang jengah ke arah wanitanya. Sedari tadi wanitanya ini hanya mondar mandir di dekat ranjangnya. Jengah melihat hal itu, pemuda itu bangkit dari tempat tidurnya. Dada bidang terekspose indah setiap ia melangkah. Ia memeluk wanitanya dari belakang. Melingkarkan tangan ke pinggang wanitanya.
"Apa yang kau cemaskan,Shion," tanya pemuda itu sembari mencium tengkuk wanita bernama Shion itu.
Shion hanya memutar bola matanya menghadapi kekasih gelapnya yang tengah asyik menciumi lehernya.
"Tidak ada kabar dari Naruto, bagaimana aku tak khawatir?" ucap Shion.
"Tsch" decak pemuda itu, ia melepaskan pelukannya. "Sampai kapan kau mau bergantung padanya, Shion?" pemuda itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanitanya ini. Mengapa Shion masih saja enggan melepaskan kekasihnya yang super bodoh itu? Bukankah ia telah sudah pantas bersanding dengannya.
"Kau tak mengerti," lirih Shion. "Naruto itu bagaikan tambang emas buat kita," jawab Shion.
"Heh, bagaimana denganku? Apa aku tidak cukup pantas untukmu?"
Shion berbalik, menatap wajah teduh kekasih gelapnya. Mengusap dengan lembut wajah yang mirip seperti anak umur 7 tahun.
"Bersabarlah sayang, kau tak perlu marah. Bukankah aku tlah memberikan segala yang ada pada diriku untukmu," ucap Shion, ia mengecup bibir kekasihnya dengan lembut. "Sampai tiba waktunya, tolong singkirkan rasa cemburumu itu, sayang," lanjut Shion.
Pemuda itu tersenyum tipis. Ditangkupnya wajah kekasihnya itu. "Kau berjanji akan selalu menjadi milikku, tanpa membiarkan seseorang menyentuhmu selain aku," kata pemuda itu.
"Ya, aku janji, Sasori-kun," jawab Shion mantap.
Kemudian keduanya menyatukan bibir mereka. Saling melumat dan menghisap. Mereka memulai pergumulan untuk kesekian kalinya yang dilakukan pada hari ini.
.
.
.
"Ayo buka mulutmu kuning," ucap Hinata menyodorkan sesendok bubur pada Naruto.
"Hei, namaku Na-Ru-To, bukan kuning. So, please call my name babe," ucap Naruto merengut sebal.
Hinata memutar bola matanya. Pemuda ini sungguh sangat suka mengalihkan perhatian. Sudah 10 menit Hinata menyuapinya tapi tak satu pun suapan yang masuk ke dalam mulut pemuda itu. Sedari tadi pemuda itu hanya berceloteh tak jelas.
"Terserah, mau namamu Naruto ke, Narumi kek, aku tak peduli. Cepat makan!" gertak Hinata, ia menaruh mangkuk buburnya di pangkuan Naruto. Ia sudah sangat jengah dengan sikap Naruto yang menyebalkan.
"Aku tidak mau," Naruto melipat kedua tangannya di dadanya. Kepalanya ia tolehkan ke arah dinding. Sikap Naruto saat ini persis sekali dengan anak kecil yang tengah merajuk.
"Lalu, apa maumu agar mau makan hm?".
"Suapi aku,".
"Aiiisshh, kau ini benar-benar menyebalkan. Tadi ku suapi, kau malah mengoceh tak jelas," sungut Hinata, ia kembali mengambil mangkuk buburnya.
"Ayo buka mulutmu," perintah Hinata menyodorkan sendok yang berisi bubur.
"Apa tidak bisa diganti dengan ramen saja," tawar Naruto.
"Tidak! Cepat makan atau ku tinggalkan!" ancam Hinata.
Naruto hanya merengut sebal dan membuka mulutnya dengan enggan. Gadis di depannya ini, sungguh mirip ibunya saat tengah marah.
"Bagus," puji Hinata sambil tersenyum tipis, ia menyendok buburnya kembali, kali ini lebih banyak dari yang tadi.
"Kau mau membunuhku? Mulutku tak muat menampung sebanyak itu," gerutu Naruto.
"Sudah makan saja, jangan banyak protes," ucap Hinata tanpa merasa salah.
Naruto akhirnya membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung suapan Hinata. Mulutnya mengembung penuh. Matanya sesekali terpejam berusaha menelan semua bubur di mulutnya.
Hinata terkikik geli melihat keadan Naruto tersebut.
Begitulah acara makan Naruto yang dihiasi omelan Hinata dan gerutuan Naruto yang mewarnai. Mereka berkomunikasi layaknya seseorang yang sudah mengenal lama. Mereka begitu akrab, sesekali saling melempar ejekan. Tawa di antara mereka menambah seru perdebatan tak penting mereka.
.
.
.
"Kau yakin, Naruto dirawat di sini, Gaara?" tanya Kushina kepada pemuda berambut merah.
"Yah baa-san, kemarin saya tlah menanyakan pada warga sekitar tentang kecelakaan itu," jawab Gaara singkat.
Saat ini Kushina, Minato dan Gaara tengah berjalan di koridor rumah sakit. Menurut informasi dari Gaara, bahwa Naruto kecelakaan dan dirawat di rumah sakit ini. Maka mereka segera meluncur ke rumah sakit untuk memastikan bahwa benar itu Naruto.
Mereka berjalan menyusuri bansal-bansal rumah sakit. Menurut suster, ruang Naruto berada di bangsal paling belakang.
Mereka mempercepat langkahnya untuk segera sampai.
Di satu sisi, Hinata yang habis dari toilet itu sukses terbelalak matanya melihat pemuda seram yang pernah ia temui di pasar 3 hari yang lalu. Ia melihat pemuda itu berjalan bersama dua orang yang tak ia kenali. Yang wanita berambut merah, sedangkan yang satunya berambut kuning.
Hinata segera berlari ke ruang Naruto sebelum pemuda itu melihatnya.
Brak
Hinata menutup pintu ruangan Naruto dengan kasar. Ia mengatur nafasnya sehabis berlari tadi.
"Ada apa denganmu?" tanya Naruto heran, mendapati tingkah Hinata yang tak biasanya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Hinata mencoba meyakinkan. Lalu ia mengintip dari jendela, ia melihat pemuda itu semakin mendekat ke arah ruangannya. Hinata semakin gelisah, ia menggigiti buku jarinya. Jantungnya berdebar-debar.
"Hei, kau sebenarnya kenapa?" tanya ulang Naruto.
"Tidak apa-apa," jawab Hinata.
"Kau yakin di sini ruangannya, Gaara,".
Deg
Naruto tercekat, ia sangat mengenal suara itu. Itu suara ibunya. Yah, suara ibunya, ia tak mungkin salah dengar. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Ia memandang Hinata yang juga memandangnya.
Sedangkan di depan, Gaara tengah bersiap membuka knop pintu sebuah ruangan. Dengan perlahan, ia mulai memutar knop pintu itu.
Deg...
Deg...
Deg...
.
.
To be continued...
.
.
Yeyy, chapter 4 sudah selesai. Hm, apakah mereka akan bertemu? Tunggu chapter selanjutnya ya. Maaf banget bila chap ini terlalu pendek dan tambah gaje. Terima kasih atas kritik dan sarannya. Maaf juga belum punya banyak waktu untuk membalas review kalian satu per satu, karna waktu yang begitu mepet.
See you next chap…
