Are you Real
.
.
.
Main Cast:
-Byun Baekhyun
-Park Chanyeol
-Kim Yejin
.
.
.
THIS IS MY FIRST FANFICTION
PLEASE RnR
JEBALLL T-T
.
.
.
.
.
Summary:
Tidak ada yang lebih parah selain dibully oleh seluruh siswa setiap hari tanpa alasan yang jelas. Dan baekhyun mengalaminya. Tapi ada yang lebih buruk selain kejadian itu. Ini bahkan lebih menyakitkan dan menyiksa batinnya secara perlahan dan membuatnya nyaris gila.
.
.
.
Chapter 3
Manik mata itu menatap sosok dihadapannya dengan pandangan bingung sekaligus khawatir. Sosok yang tidak asing dimatanya, dia seperti sosok pemuda yang ditolongnya tadi pagi.
"Kau…?"
Pemuda dengan sosok yang lebih mungil darinya mengangkat alisnya bingung. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya dingin. Chanyeol melongo tidak percaya dan mulai berpikir ada benarnya juga karena sosok dihadapannya jatuh pingsan, dan saat dia sadarpun dirinya juga tidak ada disana. Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Mengumpat kecil karena sikap sosok dihadapannya-tanpa disadari Baekhyun-yang sangat menyebalkan.
Pemuda bertubuh mungil yang menyebalkan dan dingin. Seharusnya membuat dirinya membenci sosok dihadapannya sekarang. Tapi entah mengapa memikirkan sosok itu yang diperlakukan tidak adil oleh para siswa yang membullynya seperti tadi pagi membuat rasa kesal itu menghilang dan tergantikan oleh rasa simpati dan kasihan. Apalagi melihatnya sekarang yang ketakutan seperti ini, membuat kadar kekhawatirannya naik dua kali lipat.
Baekhyun memandang pemuda jangkung dihadapannya dengan alis terangkat satu, dia bingung karena pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya. Orang itu hanya diam sedari tadi dan menundukkan kepalanya. Seperti ada yang disembunyikan.
Baekhyun baru saja akan menutup pintu yang menjadi penghalang antara dirinya dan sosok dihadapannya sekarang, tapi dengan cekatan pemuda yang lebih tinggi mengangkat wajahnya dan lari maju beberapa centi dari tempatnya tadi, membuat tubuhnya menghalangi pintu tersebut.
"Chanyeol. Namaku Park Chanyeol"
"A-Aku orang yang menolongmu tadi, sekaligus membawamu ke UKS. Kau tak ingat?" lanjutnya ragu-ragu. Baekhyun menantapnya bingung dan memutar otaknya pada kejadian tadi pagi. dia tau jelas bahwa ada orang yang menolongnya tadi dan membawanya ke UKS. Tapi dia tidak tau sama sekali kalau yang menolongnya-sekaligus mahasiwa baru-itu adalah sosok dihadapannya sekarang.
Baekhyun terdiam sejenak. Chanyeol masih saja menunggu reaksi apa yang akan dia berikan padanya. Tapi dia dikejutkan saat pintu itu tergerak sekali lagi-dan ingin menabrak punggungnya-. Chanyeol segera menahannya-sekali lagi-tapi kali ini dengan tangannya. Baekhyun tertegun sesaat. Pasalnya tubuh Chanyeol sedikit maju dan jarak diantara mereka menjadi lebih dekat. Bahkan dia bisa mencium Bau Parfum yang dipakai Chanyeol.
Chanyeol menatapnya intens membuat Baekhyun gugup. "Apa ini tanggapanmu pada orang yang sudah menolongmu dua kali?"
Baekhyun menelan ludahnya kasar dan berusaha memasang wajah sedater-datarnya pada pemuda dihadapannya sekarang. Dia mulai membuka mulutnya. "Terima kasih karena sudah menolongku. Sekarang pergilah"ujarnya pelan sedangkan Chanyeol masih saja mempertahankan posisinya tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya, membuat Baekhyun berdecih pelan.
"YA! Kau tak mendengar apa kataku? Apa perlu aku katakana sekali lagi?" Omelnya sedikit membentak karena pemuda dihadapannya tidak menanggapi ucapannya. Baekhyun naik darah karena dia masih saja tak menanggapi ucapannya. Baru saja dia akan mengomel lagi pada sosok jagkung dihadapannya sekali lagi, tapi pemuda itu sudah memotong ucapannya.
"Tidak!"
Baekhyun membulatkan matanya. Apa katanya tadi?
"Apa?!"
"tidak, aku tidak mau. Kau tidak lihat wajahku sudah babak belur seperti ini karena menghajar mereka tadi? Dan apa tadi, Kau malah mengusirku? Big NO!" Baekhyun mengempalkan tangannya dan bersiap-siap ingin menghajarnya jika saja dia tidak mengingat perlakuan apa yang telah dilakukannya pada dirinya. Baekhyun menarik nafasnya sejenak dan membuangnya kasar. Baekhyun memang sudah sempat melihat wajah Chanyeol yang memerah seperti dipukuli. Walaupun tidak terlihat jelas. "Lalu apa maumu sekarang?"
Chanyeol mengembangkan senyumannya. "Biarkan aku masuk kerumahmu, sebentar saja" ujarnya mantap. Chanyeol apa kau pikirkan sekarang? Tak taukah Baekhyun sudah berapi-api sekarang dank au semakin membuatnya berapi-api. Kau dalam masalah Park Chanyeol.
"Apa katamu? Tidak!" tentu saja Baekhyun menolaknya. Bagaimana bisa orang itu berkata seperti itu? Bahkan mereka baru mengenal 1 menit yang lalu, dan dia sudah ingin masuk ke rumahnya. Apa dia sudah tidak waras?
Chanyeol masih bersikukuh dengan pendiriannya. Sebenarnya dia hanya penasaran dengan sosok dihadapannya yang terkesan misterius baginya. Dia hanya penasaran dengan sosok dihadapannya saja sekarang. Walau sekarang dia tidak begitu yakin setelah berhadapan langsung dengan pemuda mungil ini.
"Oh ayolah, Kumohon… Ya?" rajuknya seperti anak kecil. Sangat menggemaskan. Mengundang siapa saja untuk mencubit pipinya gemas. Tapi walaupun begitu, tak berefek sama sekali di mata Baekhyun. Dia menggelengkan kepalanya, Membuat Chanyeol mencibir lucu. Dia Sebenarnya sedikit kasihan dengan keadaan Chanyeol sekarang. Baekhyun menghela nafasnya, Akhirnya dia mengalah dan mengizinkannya masuk.
.
.
.
Saat keduanya memasukki ruang yang sangat kecil-menurut Chanyeol-tak ada satupun yang memulai percakapan. Keduanya saling berdiam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri. Selang beberapa menit akhirnya Chanyeol yang tidak suka dengan kesunyian mengalah dan membuka mulutnya terlebih dahulu.
"Enghh-"
"-Baekhyun" Baekhyun memotong ucapan Chanyeol saat dia merasa kalau Chanyeol bingung harus memanggilnya apa. Sedangkan Chanyeol hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya? Oh maksudku hm Baekhyun-ssi, Bisa kau ambilkan kotak P3K? Wajahku masih nyeri dan sangat Sakit" Baekhyun mencibir Kesal. Apa-apaan ini, kau kira aku pembantumu? Ucapnya dalam hati. Tapi akhirnya dia mengalah-lagi- dan mengambilnya juga karena tak mau berdebat dengannya sekarang.
Baekhyun menaruh kotak itu di atas meja dan membuka isinya. Dia mengambil beberapa kapas dan menaruhnya dengan Alkohol. Chanyeol membulatkan matanya.
"Apa? Alkohol?!"
"Sudah diam saja dan jangan bergerak"
"Tunggu, Ap-Arghh" CHanyeol menjerit keras saat Alkohol itu menyentuh permukaan kulitnya. Itu sakit sekali. Baekhyun menyeringai puas saat melihat Chanyeol kesakitan. Sedangkan Chanyeol memandangnya kesal.
"Arghh, Pelan-pela-ahh" Baekhyun melakukannya dengan kasar membuat Chanyeol menjerit kesakitan. Chanyeol segera menangkap pergelangan Baekhyun saat dirinya sudah tidak tahan dengan sakitnya, Membuat Baekhyun sedikit memajukan tubuhnya dan hasilnya wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Baekhyun membulatkan matanya terkejut. Gurat kemerahan muncul diwajahnya membuatnya tampak semakin menggemaskan. Sedangkan Chanyeol tak bisa berkata apa-apa karena gugup akan perlakuannya sendiri. Tadinya dia hanya ingin menghentikannya saja, Sungguh.
Saat tersadar akan posisi mereka sekarang, mereka segera menjauhkan tubuhnya masing-masing. Chanyeol mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sedangkan Baekhyun menunduk dan berdehem singkat. Lalu mengambil kotak P3K nya kembali lalu pergi meninggalkan Chanyeol yang masih berusaha keras mengatur detak jantungnya yang menggila sedari tadi.
Baekhyun kembali dengan membawa sekantong buah keranjang yang diambilnya tadi dan memberikannya pada Chanyeol. "Ini"
Chanyeol mengangkat aslinya. Bingung dan masih tidak mengerti apa maksud dari pemuda ini. "Apa ini?" jelas dia tau ini adalah buah keranjang. Hanya saja dia bingung untuk apa Baekhyun memberikan ini untuknya. Baekhyun mengambil salah satu tangannya membuat Chanyeol terkejut dan memberikan keranjang itu pada tangan Chanyeol. "Ini untukmu, Anggap saja balas budi karena telah menolongku. Sekarang kau bisa pergi" Baekhyun memandangnya dengan senyuman kecil yang membuat jantung Chanyeol berhenti berdetak. Secara reflek Chanyeol membalas senyumannya dan mengambil keranjang yang diberikan Baekhyun tadi.
Chanyeol Akhirnya pergi tanpa berdebat lebih panjang dengan Baekhyun lagi seperti tadi, Karena dia cukup sadar kalau ini sudah cukup. Ya, Sedikit.
.
.
.
CHanyeol memasukki kamarnya dengan langkah gontai dan menutup pintunya segera. Dia lelah dan kepalanya terasa pusing.
Dia segera membaringkan tubuhnya sambil memejamkan matanya sejenak. Tak bisa dipukiri jantungnya masih berdebar-debar sedari tadi. Senyuman itu masih terus terbayang-bayang diotaknya. Walau hanya senyuman kecil tapi dia sudah nyaris gila dengan jantungnya yang berdegup kencang.
"Aku bisa gila!" teriaknya frustasi.
Sejenak dia terdiam beberapa saat. Dia merasa seperti melupakan sesuatu dan saat itulah matanya melebar. Dia merogok saku ponselnya dan menemukan beberapa missed call dari kekasihnya. Dia mengumpat kesal.
"Sial! Aku Lupa"
.
.
.
Tak terasa hari sudah malam. Jaruk pendek sudah mengarah pada angka tujuh dan itu mengharuskan seluruh manusia untuk member asupan pada perutnya.
Dentingan piring yang mengadu dengan sendok memecah keheningan di ruangan makan tersebut. terlihat empat makhluk hidup itu tengah duduk manis disana selagi memakan-makanannya dengan cepat, sebelum makanannya mendingin.
Tak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu. Suasana terasa sangat cangguh. Akhirnya pria berusia setengah abad itu lebih dulu membuka mulut untuk sekedar berbasa-basi. Sebenarnya ada yang ingin dia katakan, hanya saja dia sedikit ragu. Tapi dia sudah membulatkan tekadnya. Dia harus mengatakkannya. Apapun itu resikonya.
"Hm, Chanyeol" Chanyeol mengangkat kepalanya dan memandang wajahnya bingung. "Ada apa Appa?" balasnya. Pria itu menarik nafasnya sejenak lalu memandang istri-nya yang berada disebelahnya. Istrinya juga berbuat demikian dan mereka bertatapan penuh arti. Chanyeol yang masih bingung menerka-nerka dalam hati. Apa arti tatapan itu?
"hm begini, bisnis Appa diluar Negeri sedang mengalami masalah yang cukup serius. Bisnis Appa memerlukan Appa untuk mengadakan rapat, secepatnya. Setidakny paling telat sebulan untuk menyelesaikan masalah sebelum masalahnya semakin besar dan mengalami…kebangkrutan" Pria itu sedikit tercekat saat mengucapkan kata-kata terakhir. Sedangkan Chanyeol sibuk menerka setiap kata-kata yang dikeluarkan Appa-nya tadi. Orang itu menghela nafasnya nafasnya berat. Dia tau anaknya akan menolak keinginannya tapi dia tidak punya pilihan terakhir, hanya ini jalan satu-satunya.
"Langsung intinya saja, Appa" Chanyeol tau perkataanya terkesan tidak sopan. Tapi dia tidak suka bertele-tele. Itu hanya akan membuatnya semakin pusing.
"Appa tidak bisa menghadiri acara Rapat itu, Appa mempunyai acara Lain diwaktu yang sama. Jadi… Appa ingin kau menggantikan posisi Appa disana" Chanyeol terdiam sejenak. Dia berusaha mengelak apa yang didengarnya tadi.
"Tapi Appa a-aku…" Chanyeol merasa tenggorokannya tercekat. Appanya hanya memejamkan matanya. "Appa tidak akan memaksamu, Tapi Appa berharap banyak padamu" setelah selesai mengucapkan kalimat tadi, Pria itu langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruang makan yang tampak menjadi lebih tegang. Yura-Kakak Chanyeol- memandang Chanyeol prihatin dan kemudian menatap Eommanya seakan meminta penjelasan lebih. Tapi Eommanya hanya bisa menunduk tanpa bisa membuka mulutnya.
.
.
.
Baekhyun membuka matanya pelan saat merasakan sinar matahari menerpa tubuhnya lewat kaca jendela yang tak tertutup oleh sekain gorden atau apapun. Ini menganggunya, tapi uangnya yang pas-pas an membuatnya terpaksa harus menjalani reunitas ini setiap hari.
Pintu yang tergeser membuat Baekhyun tersentak dan mengalihkan pandangannya kearah pintu. Dilihatnya, Hyung yang berjalan pelan kearahnya. Setelahnya, Orang itu segera mendorong Baekhyun untuk segera mandi tanpa basa-basi, Karena mereka sudah telat bangun dari jadwal yang diharuskannya.
"Cepatlah! Kita sudah telat 15 menit kau tau?!" omel Luhan keras yang sangat memekakan di telinga Baekhyun. Hei, ini masih sangat pagi dan Hyungnya sudah membuatnya jengkel pagi buta begini.
"Baiklah Hyung, sebaiknya kau juga bersiap-siap dan jangan terlalu mengkhawatirkanku!"
Luhan terkekeh pelan dan mengangguk, lalu segera melesat pergi meninggalkannya yang terkekeh geli melihat kelakuan Hyungnya.
.
.
.
Baekhyun berjalan memasukki gedung yang sudah ditempatinya selama 6 bulan untuk bersekolah. Walau memang tak bisa dikatakan sekolah juga karena pembullyan yang sering terjadi padanya. Tapi dia akan berjuang untuk bertahan disini. Ya, dia sudah membulatkan tekadnya.
Saat dirinya sedang berjalan menuju tempat kelasnya berada. Dia dikejutkan dengan sekumpulan orang pemuda yang memandangnya remeh dan senyuman mengejek yang tentu diberikan padanya lalu berhenti dihadapannya. Berniat menghalanginya. Baekhyun berdecak sebal dan baru saja akan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, Tapi dia tidak berhasil. Pergelagan tangannya ditahan oleh mereka membuatnya terhenti.
"Hei jangan pergi dulu dong, Manis" dengan iseng salah satu dari mereka mencolek dagu Baekhyun, dengan cekatan Baekhyun langsung menepisnya dan memasang wajah jijik pada mereka. Tapi mereka tidak bereaksi apa-apa dan hanya menertawakan dirinya. Jika saja Baekhyun tidak ingat posisinya sekarang, sudah pasti dia akan menghajar mereka sekarang.
"Kasar sekali kau, Kami merindukanmu Byun Baekhyun" Rasanya Baekhyun ingin muntah mendengarnya. Cih! Lihatlah, gelak tawa yang merusak indra pendengaran Baekhyun. Dia tau jelas apa yang ada dipikiran mereka.
"Jangan bertele-tele dan langsung katakan apa yang kalian inginkan"
Gelak tawa itu masih terdengar ditelingannya, bahkan lebih besar dari sebelumnya membuat telinganya sakit. "Kau tau saja apa yang kami inginkan, Baek"
"Baiklah langsung intinya saja, Kami ingin kau-" salah satu dari mereka memajukan wajahnya membuat baekhyun terjungkal kaget. "-Melayani kami"
Baekhyun melebarkan matanya. "Apa?!" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak!"
"Kau tidak mau? Baiklah jika kau ingin tindakan kasar, Baek" orang itu menyeret Baekhyun dengan kasar dibantu oleh yang lainnya. Sedangkan Baekhyun berusaha meronta sekuat-kuatnya. Bahkan sudut matanya sudah mengeluarkan setitik air mata. Tidak, Dia tak mau melakukannya. Dia mungkin akan melakukan hal yang lain, Tapi tidak dengan melayani mereka.
Baekhyun masih meronta sekuat tenaga sampai dia mendengar suara berat yang tiba-tiba masuk ke indra pendengarannya.
"Lepaskan dia"
Orang-orang itu berhenti membuat Baekhyun ikut berhenti karena tangan mereka yang sudah tak menariknya lagi. Dia merasakan keringat dingin mulai berjatuhan dari dahi mereka. Baekhyun mengerutkan dahinya bingung.
"Kalian tidak ingin melepaskannya?"
Baekhyun bisa merasakan tangannya sudah tak disentuh lagi oleh tangan kotor mereka. Baekhyun bernafas lega dan membalikan tubuhnya untuk sekedar mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah menolongnya sekarang. Tapi saat dia berbalik dia nyaris menjatuhkan rahangnya.
Dia-
"pergi kalian"
-Park Chanyeol.
.
.
.
Sekumpulan orang-orang tadi sudah pergi. Menyisakan dua sosok manusia yang duduk manis di salah satu meja kantin yang masih sepi karena jam pelajaran yang masih berjalan hingga detik ini.
Pemuda yang lebih tinggi menyodorkan segelas kaleng cappuccino pada pemuda yang lebih kecil beberapa senti darinya. Dengan senang hati dia menerimanya dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada yang lebih tinggi darinya.
"Kau tak apa?"
Baekhyun menoleh dan mendapati Chanyeol yang memandangnya dengan khawatir. Baekhyun hanya mengangguk singkat sebagai jawaban atas pertanyaan Chanyeol tadi.
"Hm terima kasih"
Kini gantian Chanyeol yang menoleh dan memandang Baekhyun Bingung. Sedangkan Baekhyun memegang kaleng minumannya kuat sebagai pelampiasan rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya. "terima kasih telah menolongku tiga kali. Aku tidak tau bagaimana jadinya jika kau tidak menolongku tadi, Chanyeol-ssi" lanjutnya sambil tersenyum simpul dan Chanyeol merasakannya lagi.
Chanyeol berdehem dan membalas tersenyum kecil. Tak bisa dipukiri jantungnya sudah berdetak tak karuan sedari tadi. Apalagi setelah melihat Baekhyun yang tersenyum seperti tadi, dia merasa sebentar lagi dirinya akan gila.
"Baek"
Baekhyun menoleh. "Ada apa Chanyeol-"
"-jangan memanggilku dengan embel-embel "–ssi" lagi" potong Chanyeol cepat. Baekhyun megerutkan dahinya, semtara Chanyeol tersenyum arti padanya. Baekhyun merasa jantungnya berdetak tak karuan.
"Karena-" Chanyeol berhenti sejenak. Dia sebenarnya sedikit ragu mengatakannya. Tapi ini finalnya, dan dia tak bisa menahannya lebih lama lagi.
"-Aku ingin kau menjadi kekasihku, Baek"
Chanyeol bernafas lega karena sudah mengatakan hal yang sedari tadi ingin dikatakannya. Dia tidak peduli dengan orang yang akan mengatakannya Gay. Dia juga tidak akan peduli jika dirinya dikatakan monster sekalipun. Dia tidak peduli, itu bisa membuatnya bersama pemuda mungil ini. Hubungannya dengan Yejin akan dia selesaikan secepatnya pikirnya.
Baekhyun melebarkan matanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Saat kata-kata itu masuk ke indra pendengarannya. Jika ini adalah mimpi, dia memilih untuk berharap dirinya tidak dibangunkan selamanya.
"Apa ma-mphh"
Baekhyun baru saja hendak protes, saat dirinya merasakan bibirnya dibungkam oleh Chanyeol. Matanya semakin melebar. Dia bisa merasakan manisnya bibir pemuda itu saat bibir itu mulai bergerak dan melumat pelan bibirnya pelan. Ini sangat Memabukkan. Baekhyun akhirnya luluh dan memejamkan matanya lalu mulai membalas ciumannya.
Chanyeol tersenyum disela-sela ciuman mereka.
"Aku Mencintaimu, Baekhyun"
.
.
.
.
.
TBC
Wohoo~ gimana chapter ini? Apa mengecewakan? Semoga enggak yaa, saya udah bikin chapter ini chanbaeknya jadian nihh #terus
Saya sengaja bikin chapter awal manis manis dulu gitu biar adem(?) ntar sesek-sesekannya tunggu waktu aj (itupun kalo sesek-_-)
Buat chapter kemaren, duhh itu chapter emg mengecewakan saya tau.. ._.
Maap kalo ffnya pendek, saya gk berbakat bikin panjang._.
Buat yang nanya chanyeol itu sifatnya gimana.. hmm baik/? Pokoknya baik/? Tapii… /sensor/
Saya gak bisa banyak bacot lagi/? Karena gk tau mau ngomong apa #plak, jadi langsung review yaa…
Review itu bener-bener membangkitkan saya/? Jadi saya mohon yang sider tobatlahh.-.
Saya gak tau bakal fast update kayak sekarang atau enggak. Karena jadwal yang mulai sibuk am aide yang buntu.-. Jadi ya gitu/?
Tapi saya usahain update cepet kalo respon kalian banyak..
Jadi tergantung respon kalian juga. Kalo respon kalian kurang bagus saya postnya lama, tapi kalo respon kalian bagus saya usahain update secepat-cepatnya(?)
Buat yang udah review/fav/follow makasih banyak yaa #kecup atu-atu(?)
Terakhir..
Review yaaa... T-T
Salam lopek dari saya :*
