A BTS Fanfiction.
Pair : Hybrid!Taehyung x GS! Yoongi (Taegi)
Rated : T (bisa berubah sewaktu-waktu)
Warn : paku-paku typo seringkali dijumpai.
Already published in WATTPAD.
Have a nice read!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat pagi Yoonji!"
Senyum seterang mentari pagi hari ini adalah hal yang kali pertama Yoonji dapatkan ketika kakinya baru melewati pagar sekolah. Namanya adalah Jung Hoseok. Laki-laki yang lebih dari sepuluh kali menyatakan perasaannya dan lebih dari dua puluh kali Yoonji menolak pernyataan suka Jung Hoseok-bahkan sebelum menyatakannya saja ia sudah banyak menolak. Helaan napas berat lolos dari bibir mungilnya. Ia merotasikan matanya malas dan lanjut jalan mengabaikan sapaan hangat dari Jung Hoseok.
Hoseok sudah terbiasa dengan kebiasaan Yoonji yang tak pernah menotis dirinya. Ia hanya akan berjalan menyamai langkah gadis Min itu dengan senyum cerah yang masih mengukir tampan di wajahnya.
Sebab Hoseok tahu.
Meski Yoonji bersikap kelewat cuek, menganggap eksistensinya di dunia tidak pernah ada, tapi gadis Min itu selalu mendengarkan apa yang Hoseok katakan. Memang tidak pernah diutarakan secara lisan, namun dari bahasa tubuhnya Hoseok cukup tahu kalau Yoonji tidak benar-benar mengabaikannya.
Karena itulah Hoseok tidak pernah menyerah mendekati gadis berperilaku dingin seperti Min Yoonji. Gadis itu mempunyai caranya sendiri untuk membuat orang disekitarnya merasa nyaman, seperti Hoseok yang terlanjur nyaman dekat dengan gadis itu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Yoonji membalas perasaannya suatu saat nanti-meski Hoseok tak yakin kapan tepatnya Yoonji akan membalas perasaannya, tapi ia akan tetap berjuang memenangkan hati beku milik Yoonji.
"Hari ini ada tugas matematika dari Park-ssaem. Aku tidak sempat mengerjakannya karena aku baru pulang dari Gwangju menjenguk Nenekku di sana. Haahh..." Mendengar pemuda Jung itu mulai bercerita, Yoonji hanya meresponnya dengan diam. Meskipun ia ingin acuh dengan semua omongan Hoseok, nyatanya Yoonji akan selalu mendengarkan apapun yang Hoseok katakan. Ia sempat mencuri lirikan ke pemuda Jung itu sekedar ingin mengetahui ekspresi apa yang Hoseok buat. Ketika melihat ada guratan kesedihan di wajahnya, otaknya mengambil kesimpulan pasti terjadi sesuatu pada Neneknya di Gwangju. Ia kembali menatap lurus ke depan dan mendengarkan apa yang Hoseok katakan selanjutnya.
"Nenekku sudah tua. Dia sering sakit akhir-akhir ini. Aku sangat khawatir dan akhirnya kami pergi membesuk Nenek. Kondisi Nenek benar-benar memprihatinkan. Aku bahkan hampir tidak mau masuk sekolah hari ini, tapi Ayah memaksaku. Jadi, apa boleh buat," kembali-Hoseok menghela napas berat. Sungguh, pikirannya lebih banyak didominasi memikirkan keadaan Neneknya. Setiap hari ia tidak lupa berdoa meminta kesehatan Neneknya agar umurnya dipanjangkan. Rasanya Hoseok tidak siap kehilangan wanita yang begitu ia cintai setelah Ibunya.
"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keadaan Nenekku..." Ada jeda lumayan panjang di antara mereka. Jika suasananya sudah begini, Yoonji tahu bahwa Hoseok benar-benar sedih. Karena Hoseok bukanlah tipe orang yang suka mengumbar kesedihan dan ia selalu bersikap berisik terhadapnya. Membicarakan hal tidak bermutu seperti; mengeluh tentang anjing peliharaannya yang suka mengencingi tasnya, mengadu kesal sebab lupa membawa bekal, atau hal-hal terjadi di rumahnya-yang sebenarnya Yoonji tak perlu tahu. Hoseok itu cerewet luar biasa. Sebab itu bila menemukan Hoseok yang lebih sering diam dan berceloteh seadanya, Yoonji sudah tahu pasti Hoseok sedang merasa sedih.
"Yoonji-ya, doakan untuk Nenekku juga ya? Semakin banyak yang berdoa untuk kesembuhan Nenek-aku yakin kondisi Nenek akan membaik karena banyak yang mendoakannya," Hoseok menoleh ke samping, menatap gadis Min itu dengan senyuman tipis. Yoonji menoleh dan menatap Hoseok sebentar kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
Bibirnya memang tidak mengatakan iya dengan lantang agar Hoseok mendengar, tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, diam-diam Yoonji merapalkan kalimat doa untuk kesembuhan Nenek Hoseok.
"Tuhan... Aku mohon angkatlah penyakit yang menimpa Nenek pemuda berisik ini-ma, maksudku Hoseok,"
"Terima kasih... Yoonji-ya..." Lirih Hoseok pelan. Yoonji yang mendengar ungkapan tersebut tersenyum tipis.
Walaupun Yoonji tidak mengucapkannya secara langsung padanya, Hoseok tahu-Yoonji pasti akan mendoakan Neneknya. Tidak perlu mengucapkannya secara lantang agar Hoseok mendengar doa Yoonji, sebab ketika Yoonji menolehkan kepalanya dan memandangnya sebentar tepat di bola matanya, Hoseok seolah paham makna dari tatapan Yoonji.
Seolah berkata, "Aku akan mendoakannya." Meski itu sama sekali tak terucap.
Selanjutnya tidak ada percakapan. Hoseok sibuk dengan pikiran mengenai keadaan Neneknya dan Yoonji hanya diam tak memikirkan apapun. Ketika Yoonji sudah dekat dengan kelasnya, Hoseok langsung berseru ceria padanya, "Aku tunggu di kantin nanti ya! Byebye!" Kemudian Hoseok berlari menuju kelasnya yang berbeda dengan Yoonji.
.
.
.
.
.
.
.
Suara keras televisi yang sedang menyiarkan acara I Can See Your Voice di saluran tvN menjadi penghilang penat Nyonya Min setelah selesai menuntaskan pekerjaannya sebagai Ibu rumah tangga. Kedua kakinya asik berselonjoran di atas meja ditemani satu gelas besar cokelat dingin dan satu toples kue kering yang berada di dekapannya. Acara kali ini menghadirkan bintang tamu dari girlgroup didikan SM Town, yaitu Red Velvet.
"Ah, menurutku nomer dua itu buta nada. Pilih nomer dua saja! Nomer dua itu buta nada!"
"Aish! Kenapa milih nomer enam? Kalian ini sok tahu sekali. Yang benar itu nomer dua!"
"Tuh kaaan! Nomer enam ternyata bisa menyanyi. Sudah kubilang pilih nomer dua saja, tapi kalian keras kepala."
Harimau kecil yang sedari tadi duduk di samping Ibu Tuannya hanya memandang Nyonya Min dengan pandangan heran. Berkali-kali kepalanya menoleh ke Ibu Tuannya itu-memandangnya sebentar kemudian beralih memandang televisi berukuran besar yang menampilkan manusia-manusia cantik berceloteh entah apa, kemudian kembali memandang ke Ibu Tuannya dan beralih lagi ke televisi, terus seperti itu sampai akhirnya ia hanya memandang Ibu Tuannya dengan pandangan bertanya.
"Ibu kenapa? Kenapa omongan Ibu tidak mereka sahut? Mereka tuli?"
"Kenapa Ibu selalu menyuruh memilih nomer dua?"
"Memangnya ada apa dengan nomer dua?"
"Ibu, kenapa mereka tidak mendengarkan Ibu? Mereka jadi salah!"
"Ibu sebenarnya melihat apa sih?"
Nyonya Min yang kesal mengambil remot televisi yang ada di sampingnya. Tak sengaja tangannya bersinggungan dengan sesuatu yang berbulu.
"Astaga! Astaga! Ya! Ternyata kau, Manis. Ibu kira apa," Kemudian jemarinya memencet tombol untuk memindahkan saluran. Harimau kecil tersebut hanya memperhatikan. Ia melihat Ibu Tuannya itu sudah tidak menonton acara yang ada manusia-manusia cantik dan memindahkan saluran mencari acara lain.
Ketika tak sengaja mata cokelat jernihnya melihat gambar seekor macan tutul sedang bergerak mengincar seekor rusa, harimau kecil tersebut langsung meloncat ke meja dan berdiri tegak dengan dua kaki belakang. Mata bulatnya memandang seekor macan tutul itu dengan pandangan tertarik, namun ketika tiba-tiba gambar yang ia lihat menghilang digantikan acara mencincang daging, seketika harimau kecil itu menoleh ke belakang dan mengeong protes pada Ibu Tuannya.
"Meoow! Meooow!"
Ia melompat ke pangkuan sang Ibu dan mencakar-cakar kecil tangan Ibu Tuannya yang memegang remot. Nyonya Min agak terkejut ketika harimau kecil itu melompat ke pangkuannya dan mencakar tangannya yang sedang memegang remot.
"Ada apa, Manis? Kau mau kue?"
"Meow! Meow!" Kucing itu menggeleng. Sebelah kaki depannya menepuk-nepuk remot kontrol kemudian meloncat ke meja dan berdiri tegak memperhatikan televisi. Ia ingin memberitahu pada Ibu Tuannya itu untuk tidak mengganti saluran yang ia tonton. Lalu ia kembali melompat lagi ke pangkuan Ibu Tuannya dan menepuk-nepuk remot kontrol tersebut.
"Eh? Ada apa? Mau menonton apa, manis?"
Nyonya Min tertawa geli melihat kelakuan lucu si harimau kecil yang seolah ingin memberitahu sesuatu.
"Mau nonton acara tadi?"
"Meow!" Sang harimau kecil mengong keras. Nyonya Min menganggap itu sebagai tanda iya, maka Nyonya Min segera mengganti ke channel yang ia tonton tadi, yaitu tvN.
Melihat itu, harimau kecil kembali mengeong keras dan melompat kepangkuan Nyonya Min lalu menepuk-nepuk remot kontrol di tangannya Nyonya Min-memberi isyarat agar menukar kembali salurannya dan seolah mengatakan bukan yang itu acara yang ia mau.
"Eoh? Tukar? Oke, oke. Yang mana?" Nyonya Min benar-benar tak bisa menyembunyikan kekehan gelinya melihat tingkah menggemaskan harimau kecil yang ingin menonton juga. Rasanya ingin ia angkat dan dekap lalu memberikan kecupan kupu-kupu di seluruh wajah si harimau kecil. Harimau kecil itu terlihat begitu serius saat memintanya untuk mengganti saluran televisi. Akhirnya Nyonya Min mengganti saluran tersebut dengan pelan.
"Yang ini?"
"Meow!"
"Yang ini?"
"Meow!"
"Yang ini?"
"Meow!"
Setiap kali Nyonya Min mengganti salurannya, ia akan bertanya pada si harimau kecil dan setiap kali ia salah harimau itu akan menepuk tangannya sambil matanya tak lepas menatap televisi.
"Aduh, Manis. Yang mana, sih? Yang ini?"
"Meow!"
"Lalu yang mana? Ini?"
"Meow! Meow!"
Saat sudah mendapatkan acara yang ia mau, harimau tersebut langsung melompat ke meja dan berpose seperti kali pertama ia melihat seekor macan tutul yang hendak memangsa rusa.
Nyonya Min tertawa melihat pose yang dilakukan si harimau kecil. Ternyata saluran yang diinginkan harimau kecil tersebut adalah Nat Geo. Pantas saja ia tidak tahu. Astaga!
"Astagaaa! Mengapa kau menggemaskan sekali sih Manis? Ayo sini. Nonton bersama!" Nyonya Min baru saja menggendong si harimau yang fokus menonton, tapi dengan segera harimau itu mengamuk dan mendorong tangan Ibu Tuannya yang melingkar di perutnya.
"Meow! Meow!"
"Aduh, Manis. Dipangku saja biar nyaman nontonnya. Sambil makan kue ya?"
"Meow! Meow!"
Harimau itu tetap berontak. Nyonya Min tertawa sambil memajukan kepalanya dan memberikan kecupan di wajah si harimau kecil. Satu tamparan ia dapatkan ketika harimau itu merasa Ibu Tuannya sangat mengganggu konsentrasinya.
Tapi Nyonya Min tidak menyerah, ia kembali menggendong harimau kecil kesayangannya meskipun harimau itu sudah berontak tidak mau. Lalu Nyonya Min memberikan sedikit kue di depan mulut si harimau kecil.
"Begini saja nontonnya. Ini makan kuenya. Aaaa..."
Harimau kecil itu mengendus beberapakali sebelum akhirnya membuka mulutnya dan memakan kue yang diberikan Ibu Tuannya. Nyonya Min terkekeh kecil. Ia mencuri satu kecupan di pucuk kepala si harimau hingga erangan protes dari empunya terdengar.
Lalu mereka berdua nonton dengan tenang sambil tangan Ibu Tuannya tak lupa memberikan kue kering ke mulutnya.
.
.
.
.
.
.
.
A/n : Butuh asupan banyak Taehyung x Yoonji! Please gimme your response about this fic :(
