Luhan ingin menangis, dia benar-benar merasa dipermainkan. Cukup. Luhan lelah.
"Hiks..."akhirnya Luhan menangis, hatinya rasanya remuk. Sebenarnya apa yang direncanakan tuhan, Luhan tidak tau, tapi apapun yang ia rencanakan, tolong hentikan.
"K-kalian jahat." Luhan tidak akan mau masuk kedalam boneka cacing itu! Perasaan Luhan tersakiti! Katakan saja Luhan cengeng! Mendengar tawa Sehun dan Jongdae yang membuncah merusak gendang telinga bagai pisau bagi hati Luhan.
"Aku mau pergi." Tiga kata yang membuat semuanya diam seperti patung.
Luhan keluar dari rumah Sehun, niatnya hanya ingin menyendiri di depan air mancur. Tapi kakinya membawa dia keluar gerbang rumah Sehun. Berbalik kearah awal ia datang. Entah ingin kemana. Menyendiri, sendirian, meratapi nasib, ditengah jalan. Walau otak dan logikanya menyuruhnya berbalik masuk kedalam rumah Oh Sehun, tapi kakinya tetap bergerak keluar.
"Eh?" Jongdae membuyarkan semuanya.
"Luhan?" Oh Sehun baru menyadari bahwa Luhan sudah keluar.
"Luhan!" Sehun segera keluar rumah.
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
"Aish! Sial!" Luhan berteriak dalam hati. Sekarang, mau kemana dia? Malam hari tanpa tujuan, good, Luhan ingin berbalik kerumah Sehun tapi ia terkalahkan oleh gengsi. Makan tuh gengsi!
"Dingin." Luhan berucap lirih sambil menatap kaki-kakinya yang entah mau membawa dia kemana.
"bugh...!"
"Maaf, maaf, maaf." Luhan membungkuk-bungkuk kan badannya, ia baru saja menabrak seseorang.
"Ah, aniyo. Aku yang seharusnya minta maaf." Orang itu ikut membungkuk.
"Tidak, tidak, tidak. Aku yang salah. Maaf." Luhan menggaruk tengkuknya.
Luhan mendongak, untuk melihat wajah orang yang telah ia tabrak. Tinggi, kuping lebar, senyum bodoh yang sialnya tampan.
"Ah, aku Park Chanyeol." Orang itu mengulurkan tangannya bersamaan dengan senyum bodohnya yang makin melebar.
"Xi Luhan." Luhan menyambut uluran tangannya. Seperti ada yang aneh, namun Luhan tidak peduli. Luhan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya.
"Malam-malam begini, kau ingin kemana? Sekarang dingin sekali, lho." Orang itu melepas genggaman tangannya, lalu memasukan tangannya ke dalam kantung hoodie hitamnya.
"Aku ingin menjauh dari Oh Sehun dan Kim Jongdae yang amat sangat menyebalkan! Kemanapun itu! Aku ingin menjauh!" Luhan berteriak dalam hati, tidak mungkin ia menjawab seperti itu. Merasa bingung ingin menjawab apa, Luhan mencoba mencari alasan. Ah! Mini market yang tak jauh didepannya!
"Ah, aku hanya ingin membeli sesuatu di mini market itu." Luhan menunjuk mini market di belakang Chanyeol.
"kalau begitu hati-hati, Lu." Chanyeol mengulurkan tangannya kearah surai coklat madu milik Luhan, lalu mengacaknya pelan. Dan ada sesuatu yang sepertinya telah Luhan lupakan, namun sekali lagi Luhan tidak peduli.
"Ah, ne. Terima kasih Chanyeol-ah." Luhan sedikit membungkuk lagi, lalu tersenyum kecil.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Lalu berjalan meninggalkan Chanyeol yang hanya menatap punggung kecilnya yang terus berlalu.
"Baunya seperti..." Chanyeol tidak melanjutkan omongannya, ia malah terkekeh pelan dan tersenyum seribu arti yang susah tuk dijelaskan.
Luhan terus berjalan tanpa menengok kebelakang. Terus berlalu bahkan tidak berhenti saat sampai didepan mini market. Toh dia tidak mungkin bisa menyentuh barang-barang didalam mini market itu, Luhan tembus semua benda, ingat.
Chanyeol yang masih terdiam menatap Luhan tersenyum makin lebar.
"Membohongi ku, eoh?" Chanyeol bertanya pada dirinya sendiri saat melihat Luhan yang tak berbelok kearah mini market yang katanya ia tuju.
"puff!" Lalu menghilang seperti debu.
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
"Luhan!" Sehun sibuk berteriak di halaman rumahnya. Entah kenapa, rasa cemas membludak luar biasa, padalah disini yang membutuhkan bantuan kan Luhan, Bukan dia.
"Lu!" Jongdae ikut berteriak, merasa bersalah karena tadi ia paling keras tertawa.
"A-aku akan ketempatku, aku akan melacak Luhan lewat bola cermin. Sehun, carilah keluar rumah, dia pasti tidak jauh. Chen, terbang menggunakan alat-alat mu itu, cari dia." Minseok sudah merubah diri menjadi seekor merpati, lalu mengepak kan sayapnya menuju bulan.
Jongdae mengambil kotak kecil yang ada disaku celananya, lalu menekan-nekan tombol yang ada disana.
"puff!"
Muncul sepasang sayap putih panjang nan lebar dibalik punggung Jongdae. Dia tersenyum puas melihat penemuan terbarunya yang memuaskan.
"Penemuan baru, hyung?" Sehun bertanya antusias, wow, lihat sayapnya, itu keren, Sehun ingin yang warna hitam. Sedangkan Jongdae hanya mengangguk, membetulkan pertanyaan Sehun. Lalu mulai mengepak-ngepak kan sayapnya. Perlahan tubuh Jongdae terangkat, lalu mencoba menyesuaikan diri. Ini kedua kalinya ia memakai penemuan 'Wings'-nya, pertama saat percobaan, kedua saat sekarang.
"Nah, Sehun, aku akan mencari Luhan dari ketinggian. Bahaya jika ada manusia lain yang melihat penemuan baru ku ini." Sejenak Jongdae berheti bicara, lalu melanjutkan, "huft, ini merepotkan. Okey, aku pergi dulu, Hun. Cepat cari Luhan, ada banyak setan haus nyawa yang berkeliaran." Jongdae mengepak kan sayapnya tinggi-tinggi hingga ia tidak terlihat.
"Benar. Ini merepotkan." Sehun bergumam kecil, Luhan adalah satu-satunya yang telah membuat Sehun sepanik ini, kalau dipikir-pikir lagi, Sehun tidak seharusnya panik. Toh Luhan hanya salah satu nyawa yang ia temui dari ribuan nyawa lainnya.
"Persetan. Aku akan mencarinya."
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
Pemuda manis ber-eyeliner yang sedang duduk dipojok kafe itu menggerutu. dua puluh menit ia menunggu kekasihnya di dalam kafe ini. Dia bahkan sudah memesan minuman berupa milk tea, yang seharusnya ia minum bersama orang yang sedang ia tunggu. Kalau saja dia memang tidak cinta, ia bisa saja keluar dari kafe itu lalu pergi dan tak pernah menghubunginya lagi. Namun apa daya, cinta membuatnya bertahan. Sekiranya ia masih sanggup, ia akan memperjuangkan. Pemuda manis itu kini menyedot minumannya melalui sedotan, air minum itu mengalir perlahan melewati tenggorokan, dahaga yang tadi menyergap sudah hilang.
"Lama sekali." Suaranya lirih, menyiratkan kekecewaan.
Sejujurnya, Baekhyun, nama pemuda manis tadi, dia memang sering menunggu, bahkan dia terlalu sering, hingga itu bisa disebut jadi rutinitas. Saat sebelum ia pacaran, ia digantung bak jemuran, lama sekali. Tapi karena cinta, ia tetap menunggu, sampai akhirnya ia mengangkat dirinya, lalu membawanya masuk kedalam rumah, menyetrikanya, melipatnya, lalu memasukan kedalam lemari, harus menunggu lagi untuk giliran dipakai, namun ia tak kunjung dipakai, entah alasannya apa, mungkin karena ia tidak menarik. Saat akhirnya kekasihnya sadar bahwa sedang ditunggu, ia akhirnya memakai baju itu. Ia memakai Baekhyun, entah karena cinta atau alasan apapun. Perduli setan, Baekhyun hanya ingin mendampinginya. Baekhyun kadang merasa bahwa dirinya bodoh, oh, dia memang bodoh, menunggu terlalu lama padahal pada akhirnya mungkin saja dia digantikan. Sebagai baju, tak selamanya ia bersih. Ia akan kembali ke mesin cuci, dijemur lagi, lalu disetrika lagi, memasukannya kedalam lemari lagi, lalu baju itu akan menunggu lagi. Dan itu yang Baekhyun takutkan, ia takut kehilangan. Kehilangan kekasihnya. Dia juga takut digantikan. Diganti dengan baju lain.
"Tidak. Itu tidak akan terjadi."
Pada saat pacaran pun, ia tetap sering menunggu. Kekasihnya selalu datang terlambat, penuh alasan-alasan yang akhirnya Baekhyun terpaksa percaya untuk tak memperpanjang masalah. Kekasihnya itu juga sedikit kasar, tapi dia terkadang baik, namun kadang juga terlihat jahat, dalam artian dia tidak menyayangi Baekhyun lagi. Ngomong-ngomong soal kisah percintaan Baekhyun, itu tak seburuk yang kalian kira. Baekhyun bahagia walau hanya didekat kekasihnya itu. Namun, mungkin tidak dengan kekasihnya. Ia mungkin tidak bahagia jika berdekatan dengan Baekhyun.
Pukul sepuluh malam lewat dua puluh. Tiga puluh menit sudah ia menunggu di dalam kafe yang mulai sepi. Bahkan minumannya sudah habis. Baekhyun perlu memikirkan untuk berhenti menunggu, ia harus pulang. Mungkin saja kekasihnya sedang sibuk hingga akhirnya ia melupakan janji. Rasanya sakit campur kecewa. Walau sudah terbiasa, tetap saja ini menyakitkan.
"Aku akan pulang jika kau tidak datang setelah lima belas menit mendatang. Ini terlalu larut. Aku harus pulang." Akhirnya Baekhyun memutuskan.
Nasib Baekhyun tidak seburuk yang kalian kira, ia mempunyai sahabat yang siap menampung ceritanya. Sahabatnya Luhan, namja dengan surai coklat madu yang selalu membuat Bakhyun tertawa bahagia. Siap menampung keluhan-keluhan, menampung segudang cerita, dan tak henti-hentinya ia selalu menasehati Baekhyun untuk bersabar. Sejujurnya Baekhyun rindu Luhan, namun akhir-akhir ini ia sulit dihubungi, ah lebih tepatnya ia tidak bisa dihubungi. Baekhyun khawatir, sangat khawatir, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Namja itu hilang begitu saja tanpa jejak, seperti di telan bumi. Muncul pertanyaan dibenak Baekhyun, seperti,
'sedang apa Luhan?'
'Apa dia baik-baik saja?'
'Kenapa sulit sekali menghubunginya?'
'Aku butuh dirinya. Aku rindu dia.'
Baekhyun menghela napas, memikirkan Luhan membuat waktu berjalan cepat, empat puluh menit sudah ia menunggu. Jika dalan lima menit kekasihnya tidak datang. Ia akan pulang.
Menurut Baekhyun, kekasihnya chanyeol, dia adalah awal Baekhyun bahagia, juga awal ia bersedih. Kadang, Baekhyun berpikir untuk mengakhiri semuanya, namun ia sadar. Chanyeol adalah bahagianya. Dan juga sedihnya.
Empat puluh lima menit ia menunggu. Chanyeol tak kunjung datang. Para pengunjung mulai sepi. Kafe ini akan tutup tepat pukul sebelas malam. Baekhyun memantapkan diri untuk pergi. Kekasihnya yang membuat janji, dia pula yang mengingkari. Dan selalu seperti itu.
"Kau terlalu lama. Aku pulang." Kalimat yang seharusnya ia lontarkan pada kekasihnya itu terurai bersama angin, tak ada yang mendengar kecuali Baekhyun.
Setelah membayar minuman dan berterimakasih pada pelayan kafe, ia berjalan kearah luar, mencari taksi kosong siap ditumpangi.
'Tring!'
Notif Satu pesan masuk berbunyi. Terpampang nama Chanyeol disana. Ia membuka chatnya.
Chanyeol: baek, kita batalkan janji tadi siang. Aku ada urusan mendadak. Pulanglah.
Baekhyun menghela napas berat. Lalu menjawab,
Baekhyun: tanpa kau suruh aku akan pulang. Sial.
Sebelum Baekhyun menekan tombol 'send' ia berpikir seribu kali. Menjawab pesan kekasihnya dengan kata-kata seperti itu adalah pilihan yang buruk. Akhirnya ia menghapus teks pesannya, lalu mengirim dengan kalimat yang berbeda.
Baekhyun: ya, cepat selesaikan urusannya. Nanti kita bertemu
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
Menurut Luhan, ada yang tidak beres. Seperti ada yang mengikutinya. Tapi beberapa kali pun Luhan mengecek, tak ada orang dibelakangnya, kosong, sepi, gelap. Luhan sebenarnya penakut, tapi kaki-kaki sialannya terus membawa ia berjalan menyusuri jalan. Dalam kesendirian Luhan, muncul beberapa pertanyaaan,
'Sudah berapa lama aku berjalan?'
'Ini dimana?'
'Sehun, Jongdae, Minseok, kemana mereka?'
'Aku ingin kemana?'
'Baekhyun, apa dia mencemaskan ku?'
Ngomong-ngomong soal Baekhyun, dia adalah sahabat Luhan, tempat berbagi cerita. Sehari sudah ia menjadi arwah, Luhan ingin bercerita semuanya pada Baekhyun, walau tidak masuk akal tapi Baekhyun akan percaya, tentang tabrak lari, Oh Sehun, Wu Yi Fan, Minseok dan Jongdae, ia ingin bercerita, lalu meminta pendapat. Rasa-rasanya Luhan rindu Baekhyun, akhir-akhir ini Luhan dan Baekhyun saling sulit dihubungi. Mereka mempunyai hidup sendiri. Baekhyun yang sibuk mengerjakan skripsi dan Luhan yang sibuk mencari kerja.
Berbicara tentang Baekhyun selalu membuat Luhan lupa waktu, sekarang Luhan sedang terdiam didepan rumah kecil tua tak layak pakai, ada dua orang anak kecil di depan rumahnya, mereka sedang saling bercanda.
"Kook, kau tau apa yang akan membuat mu berhenti bersedih?" Anak dengan senyum kotak bertanya pada temannya.
"Aku tidak tau, Tae. Apa memangnya?" Anak dengan gigi kelinci imut terlihat antusias menunggu jawaban.
"Rembulan."
"Rembulan? Ada apa dengan rembulan?"
"Yang aku tau, kalau aku menatap rembulan, sedih yang ku pendam akan hilang." Senyum kotaknya sudah luntur, tergantikan dengan raut sedih. Ia memainkan kaki-kakinya yang menggantung di atas kursi kayu sederhana yang cukup untuk lima orang, seperti kursi taman.
"Tapi, rembulan tidak selalu muncul. Kadang ia tak terlihat. Tertutup awan."
"Dan aku merasa, didalam rembulan ada seseorang yang sedang memberi ku semangat."
"Rembulan juga indah, Itu yang ku suka darinya." Mereka berdua menatap lekat-lekat rembulan, sambil tersenyum tipis. Itu bukan senyum bahagia, itu senyum kecemasan. Ada sesuatu yang mengganjal di benak Luhan. Namun, sekali lagi Luhan tidak peduli.
"Taehyung," Anak dengan gigi kelinci dan senyum imut bergumam memanggil temannya tadi. Satu informasi yang Luhan dapat, nama anak dengan senyum kotak adalah Taehyung.
"Kenapa?" Beberapa detik Taehyung tak menjawab, masih betah memandangi rembulan.
"Aku takut." Cicit kecil dari anak dengan gigi kelinci. Dia memeluk badan mungilnya dengan tangannya. Matanya memanas, siap menumpahkan cairan bening. Ia terisak, air matanya turun deras. Ada rasa sesak yang Luhan rasakan, melihat anak kecil menangis. Dadanya seperti ditikam Luhan tak tega, sedih rasanya.
"Jungkook," terdiam beberapa detik. Taehyung membuang wajah cemas-nya lalu menggantikannya dengan wajah menenangkan. Lalu melanjutkan, "tak ada yang perlu kau takutkan." Dengan suara lirih nyaris tak Luhan dengar. Dan satu lagi informasi, anak dengan gigi kelinci tadi bernama Jungkook.
"Tapi—" belum sempat Jungkook menyelesaikan omongannya, Taehyung segera merengkuh tubuhnya, berusaha menenangkan dengan usapan-usapan lembut di punggungnya. Lalu berbisik, "aku tau. Sekarang, tatap rembulan." Dengan suara pelan. Namun cukup untuk Luhan dengar.
Jungkook dan Taehyung menatap rembulan yang bersinar terang di langit. Perlahan, isak tangis Jungkook mereda. Dan tergantikan dengan senyum manis. Begitupun Taehyung.
Luhan tertegun, melihat dari tempat tinggal mereka berdua, mereka adalah pemulung, anak jalan, yang tidak mampu. Tapi lihatlah senyumnya, senyum kuat yang berharap sejuta harapan. Hatinya mencelos, Luhan adalah anak manja saat kecil, walau saat sudah besar Luhan tak manja lagi, ia merasa kalah dari Taehyung dan Jungkook.
Luhan ikut memandang rembulan, masih di luar pagar. Jika Luhan kesana, Luhan takut mereka melihat keberadaan Luhan. Benar. Rembulan membawa ketenangan, dan entah mengapa, Luhan rasa ada yang menyemangati-nya. Senyum indah merekah di bibir ranum milik Luhan. Tiba-tiba saja ia teringat kebaikan mama dan papah. Kedua orangtuanya yang telah membuat dia sebesar ini, dan Luhan belum memberi balas budi apapun. Mencari kerja saja Luhan tak becus. Senyum Luhan menghilang. Digantikan dengan air mata. Lagi-lagi Luhan menangis. Luhan rasa, Luhan tak berguna, sekarang saja, orang tua Luhan pasti sedang mencemaskan tubuhnya yang koma. Rasa sesal muncul begitu besar, rasanya Luhan ingin kembali memutar waktu. Tapi ingat, sesal memang muncul di akhir.
Teringat bayang Sehun, dan entah kenapa rasa bersalah menyelimuti tubuhnya, sekarang pasti mereka sedang cemas mencari keberadaan Luhan. Luhan merepotkan banyak orang. Dan katakan Luhan gila karena sekarang ia mendengar teriakan Sehun.
"S-sehun, maaf." Lirih Luhan.
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
Baekhyun masuk kedalam kamar asrama kampusnya. Lelah yang ia rasa. Dua puluh menit perjalanan berangkat, empat puluh lima menit ia menunggu, dan dua puluh lima menit perjalanan pulang, tidak menghasilkan apa-apa, semua sia-sia. Mata Baekhyun memanas, ingin rasanya ia bertemu Luhan, menceritakan semuanya. Namun, Luhan benar-benar tidak bisa dihubungi. Muncul prasangka buruk, namun segera Baekhyun tepis. Mata Baekhyun bertambah perih, sekuat tenaga Baekhyun mencoba tidak menjatuhkan bulir air mata. Namun detik selanjutnya Baekhyun menangis.
"Sakit." Dadanya sakit. Namun ia tak bisa melakukan apapun.
Isakan terus mengalun dalam kamar asrama. Baekhyun tidak punya teman kamar, dan kamar Baekhyun kedap suara. Baekhyun mau menangis kek, mau teriak kek, itu tak akan menggangu yang lain.
Isak demi isak terus keluar, matanya sembab basah, Baekhyun hanya butuh istirahat. Tapi satu notif pesan dari Chayeol berbunyi,
Chanyeol: maaf.
Baekhyun menggerenyit saat membaca pesan singkat dari Chanyeol.
Baekhyun: untuk apa? Kau tak punya salah.
Chanyeol: semua. Maaf.
Baekhyun: aku tidak mengerti.
Chanyeol: maaf, aku menyesal.
Baekhyun: chan, aku tidak mengerti.
Chanyeol: Baek, maaf. Maaf. Maaf.
Baekhyun: baiklah aku maafkan. Selamat malam
Chanyeol: tidak. Jangan maafkan aku.
Baekhyun: aku sungguh tidak mengerti.
Chanyeol: apa yang bisa membuat mu memaafkan aku?
Baekhyun: aku sudah memaafkan mu.
Chanyeol: minta lah satu permintaan.
Baekhyun: aku tidak menginginkan apa-apa. Selamat malam
Chanyeol: aku depan kamar mu.
Baekhyun makin menggerenyit tidak mengerti. Depan kamarnya? Ah masa, itu tidak mungkin.
Baekhyun: jangan bercanda.
Chanyeol: buka pintunya.
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
"Luhan!" Sehun berteriak tanpa memperdulikan orang lain. Terus berlari menyusuri jalan, mencari Luhan. Tadinya ia ingin menaiki motornya, namun ia pikir itu akan semakin menambah lama, jadi ia berakhir berlari.
"Luhan! Kau diamana?! Jawab aku!" Sehun berteriak terus menerus. Kaki jenjang panjangnya enggan berhenti. Napas Sehun tersenggal. Mencoba mangatur napas, menarik dan mengeluarkan secara perlahan. Sekarang Sehun sudah melihat, Luhan sedang menangis sambil menatap rembulan. Matanya sudah sembab, isak kecil keluar dari bibir ranumnya. Awalnya Sehun ingin menghampiri Luhan lalu mengomel, namun mendengar suara bisik lirih Luhan membuat dia terdiam,
"S-sehun, maaf." Suaranya cukup untuk terdengar oleh Sehun. Tersenyum kecil, lalu berjalan perlahan mendekati Luhan. Lalu merengkuhnya dari belakang, hanya pura-pura, Luhan tembus, ingat.
"Kau keterlaluan." Bisik Sehun tepat ditelinga Luhan.
Luhan reflek membalikan tubuhnya kearah belakang, lalu terlonjat kaget saat melihat tampang tampan Sehun. Luhan menelan ludahnya susah payah. Lalu menubrukan tubuhnya dengan tubuh Sehun. Untung saja Sehun tidak terjatuh karena harus menahan berat badan dirinya dan Luhan.
"Maaf. Maaf. Maaf." Luhan bergumam di pelukan Sehun, dengan isak kecil dan air mata yang membasahi tubuhnya.
Sehun membelalakan matanya. Ini aneh, sangat aneh. Luhan dapat disentuh. Dia tidak tembus. Sehun membalas pelukan Luhan dengan pelan-pelan, lalu mengusap punggungnya.
"Luhan!" Jongdae datang dengan sayapnya lalu mendarat dihadapan mereka, Luhan hanya melirik sekilas tanpa memperdulikan sayap putih yang ada di balik punggung Jondae, ia memeluk kembali tubuh Sehun dengan erat.
"Maaf. Maaf. Maaf." Luhan kembali melanjutkan gumamnya.
Sehun menggeleng kecil, lalu mengusap kembali tubuh ringkih Luhan.
"Tidak, aku yang minta maaf, Lu." Sehun terus mengusap-usap lengannya di punggung Luhan. Aneh memang, ia dapat menyentuh arwah, itu hal ganjil.
"Luhan!" Suara teriakan Minseok tidak membuat Luhan menoleh.
"Hei, Lu." Sehun mencoba melepaskan pelukan, namun malah membuat Luhan semakin mengeratkan pelukan.
"Hai hyung. Ada yang bisa kami bantu?" Suara Taehyung yang ikut mecoba menghentikan tangis Luhan terdengar.
Luhan melepas pelukan, lalu sedikit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Taehyung. Luhan tersenyum, sehari ia menjadi arwah. Banyak pelajar yang ia dapat. Salah satunya dari anak ini. Luhan menepuk-nepuk pelan kepala Taehyung lalu mengusap surai hitamnya.
"Kau benar, rembulan memiliki banyak arti." Luhan tersenyum lalu memeluk Taehyung. Didalam hatinya ia berniat akan mencari orang yang ingin mengadopsi mereka, atau mungkin Luhan sendiri yang akan mengadopsi.
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
"Dokter! Dokter! Tolong dok!" Mama Luhan berteriak histeris mencoba memanggil dokter. Tubuh Luhan tadi sempat kejang-kejang, lalu detak jantung lemahnya semakin melemah. Setumpuk rasa khawatir dan takut melingkupi tubuhnya. Air matanya sudah menghiasi pipinya sedari pagi. Menyesal saat ia telah menyuruh Luhan mencari kerja, jika tau begini, Luhan lebih baik diam di rumah saja.
Dokter datang tergopoh-gopoh lalu segera memeriksa Luhan. Suster menyuruh mama Luhan menunggu sebentar di Luar kamar, awalnya mamanya enggan, namun suster tetep menyuruh, akhirnya ia menunggu didepan kamar bersama suaminya. Menangis tersedu-sedu dipelukan suaminya. Merasa gagal jadi seorang Orang Tua.
"Hiks, aku yang salah." Mama Luhan berucap lirih didalam pelukan. Suaminya hanya menggeleng, lalu mengusap surai coklat madunya.
"Aku yang salah." Mamanya terus mengucapkan kata-kata itu.
Tak lama dokter keluar, senyum menghiasi wajahnya. Dan itu membuat sedikit prasangka buruk suami istri disana agak mereda.
"Luhan, baik-baik saja?" Ayah Luhan bertanya cemas. Takut jawabannya sang dokter tak memuaskan.
"Ya, baik,"
Mendengar jawabannya, senyum kedua orang tuanya mengembang, lalu mereka berpelukan lagi dan mengguman kata-kata terimakasih.
"Tapi Luhan belum sadar, kodisi-nya makin melemah. Do'a kalian adalah obat yang terbaik."
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
"hyung, duduk disini." Jungkook menepuk-nepuk bagian kosong disampingnya, mempersilahkan Minseok dan Jongdae duduk.
Setelah kejadian tadi, mereka berkenalan. Lalu mengobrol dan akhirnya mereka memutuskan untuk duduk didalam halaman rumah untuk menatap rembulan yang bersinar cerah.
Minseok dan Jongdae duduk dengan senang hati di bengku itu. Sedangkan Luhan, dia mengambil tiga kardus untuk alas duduk di tanah bersama Sehun. Luhan takut bangkunya akan roboh jika semua duduk disitu. Sehun meluruskan kakinya, lalu menumpu badannya denga tangannya. Luhan memeluk kedua kakinya, sambil menatap rembulan.
Pukul tepat dua belas malam, Taehyung dan Jungkook tertidur dipangkuan Minseok dan Jongdae. Luhan mengajak Sehun, Minseok dan Jongdae pulang. Jungkook dan Taehyung ikut bersama mereka, Jungkook yang digendong Minseok serta Taehyung yang digendong Jongdae. Mereka berjalan, menuju rumah Sehun. Semuanya sama-sama lelah.
Saat sampai pagar, Luhan berhenti karena melihat sesosok dengan pakaian serba hitam. Minseok dan jongdae sudah masuk duluan, Sehun ikut berhenti.
"Kau dapat melihat ku?" Orang dengan wajah tegas, namun agak sedikit tonggos dan baju serba hitam itu bertanya pada Luhan. Luhan hanya mengangguk. Sehun mengerenyit, Sehun tidak tau kenapa Luhan mengangguk seperti itu. Sedikit aneh.
"Wow, serius? aku ini Wu Yi Fan." Luhan menvoba mencerna apa yang sedang ia alami.
"Wu Yi Fan?" Luhan bertanya lali dijawab dengan anggukan
"Hei, Lu. Sedang berbicara dengan siapa?" Sehun menghalangi pandang Luhan.
"Wu Yi Fan." Jawab Luhan apa adanya.
"Hell! Wu Yi Fan itu kaka tiriku yang sudah meninggal dua tahun lalu." Ucap Sehun, agak sedikit terkejut mendengar jawaban Luhan. Kalau pun Luhan bisa melihat Wu Yi Fan harusnya ia juga bisa melihatnya.
Alis Luhan mengkerut, lalu mencoba menatap Wu Yi Fan yang terhalang tubuh Sehun.
"Yah, Sehun adikku saat aku masih manusia." Ucapnya kelewat santai. Luhan mengangguk mengerti.
"Kau tau arti jika kau bisa melihat ku?" Wu Yi Fan, masih dibelakang Sehun, tersenyum miris kearah Luhan. Sedangkan Luhan mencoba mencerna dan mengingat jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Wu Yi Fan.
"Aku malaikat maut. Jika kau dapat melihat ku, itu artinya kau akan..."
"...segera mati."
.
.
.
Pappero pororo
.
.
.
Hai! Sorry telat update. Sorry kemarin memang kependekan, sekarang udh agak panjang nih ("-")/
Happy 520 day! (Kemarin sih)
.
Next or delete?
Review?
Roro.
