Chapter 4
.
.
Cast : Lee Sungmin (y),
Cho Kyuhyun,
Henry lau
Lee donghae
Lee Hyuk jae (y)
Choi Siwon,
Kim Kibum/Lee Kibum (y)
Yunjae
And other cast.
Rate : k-t
Genre : family,drama,romance/hurt
Warning !
Gs, gs, gs,
Author hanya meminjam nama mereka tanpa maksud apapun
Disini Sungmin di ceritakan sebagai seorang gadis yang memiliki keterbelakangan mental
(just in story)
No bash.
.
.
Selamat membaca
They are my true love
Chapter empat
Alunan musik biola itu terdengar diseluruh pejuru rumah mewah itu, rumah milik keluarga besar Lee.
"Oppa, bagaimana kau bisa sehebat ini memainkan biola ?, isssh...aku jadi iri padamu." gerutu yeoja cantik itu, Taemin. Sementara sang kakak hanya tersenyum saja menanggapi ucapan sang adik perempuannya itu
"Bukankah sedari tadi kau juga memegang biola milikmu, kenapa tidak dimainkan hm ?" ucapnya. Ya, mereka memang sedang latihan dirumah tepatnya di balkon rumah.
"Bagaimana aku bisa memainkannya, kalau sejak tadi aku hanya memperhatikanmu. Oppa, jangan-jangan appa kandungmu juga violinist handal!" jawab Taemin, ucapannya membuat hati Henry sedikit mentohok 'appa kandungku ?' benaknya. Taemin sendiri pun terkejut dengan ucapannya sendiri, dia memaki dirinya karena tak bisa menahan bibirnya bicara tentang hal yang sangat sensitif untuk Henry.
"O-oppa miane.. Aku tak bermaksud.." Taemin segera meminta maaf. "ne, gwenchana.." ucap Henry tetap dengan senyum manisnya.
"Latihannya selesai saja ya.. Oppa ngantuk, mau tidur siang" ucapnya lagi lalu berjalan menuju kamar tidurnya.
.
.
"Oppa, apa jangan-jangan appa kandungmu juga violinist handal.." potongan kalimat Taemin tadi sedikit membuat perasaanku tidak enak. 'Appa kandung' adalah kalimat yang sangat peka ditelingaku. Tapi, akupun sebenarnya sangat ingin tau siapa sosok appa kandungku selama seperti apa dia ? Kenapa dia meninggalkan eomma saat masih mengandungku dulu ? Jahatkah sosok itu ? Jika dia mencintai eomma, kenapa dia tidak pernah sama sekali mencari eomma dan aku ?...masih hidup atau telah meninggal kah dia ?... Berbagai pertanyaan semakin menumpuk di benakku tentang seseorang yang menjadi 'appa kandungku' itu.
Tok..tok...
"Henry-ah.."
"Ne, eomma..?"
"Chagi... Ada telpon dari eomma-mu dari jepang" seru Hyukie eomma dari luar. Mendengar ada telepon dari Minnie eomma aku langsung turun dari tempat tidur.
"Yeobseo..?"
"Mocci-ah..eomma rindu mocci..."
"Ne, aku juga rindu dengan eomma..bagaimana liburannya hm..?"
"Saaangaaat menyenangkan!, tapi..."
"Tapi kenapa eomma chagi..?"
"Tapi disini tidak ada kalian, eommakan ingin jalan-jalan bersamamu dan juga Taemin"
"Itukan karena aku harus sekolah eomma..., liburan selanjutnya kita akan sama-sama lagi."
"Janji..?"
"Ne, janji"
"Teleponnya eomma tutup ne, es krim eomma sudah dataaang..."
"Ne, saranghae eomma..."
Pip.
Lama juga rasanya tidak mendengar suara eommaku, Lee Sungmin.
.
.
Saat ini Taemin mengetuk pintu kamar ibunya dan membuka pintu.
"Eomma... Boleh aku masuk ?" ucap Taemin didepan pintu kamar eommanya
"Ne...masuklah chagi " seru Hyuk jae dari dalam.
"Ada apa eoh..? Sini duduk dekat eomma." ucap Hyuk Jae lagi saat Taemin sudah masuk kamarnya. Taemin menuju ibunya dengan ekspresi tak bisa di jelaskan.
"Eomma..., aku baru saja membuat oppa sedih" lirih Taemin lalu memeluk ibunya, Hyuk Jae mengerutkan dahinya.
"Maksudmu ?"
"Aku salah bicara eomma, tak seharusnya aku membahas tentang appa kandungnya..miane.."
Hyuk Jae diam kemudian tersenyum melihat putrinya, di usapnya rambut puterinya itu
"Eomma mengerti...tapi kau harus tetap minta maaf pada oppamu..ne"
"Hmm.." Taemin mengangguk kecil
"Eomma, apa eomma kenal siapa appa kandung oppa ?"
"Ani, eomma tidak kenal... Mungkin halmonie-mu yang lebih tahu, tapi beliau tidak ingin membahasnya." jawab Hyuk Jae masih mengusap rambut putrinya.
"Tapi kenapa halmonie tidak mau menceritakannya, oppa kan berhak tau akan appa kandungnya"
"Sssttt...kecilkan suaramu, nanti oppamu dengar." peringat Hyuk Jae pada anaknya yang suaranya tiba-tiba meninggi itu.
"Ne, arraseo.." ucapnya lalu diam, menurut eommanya.
…
Malam ini cuacanya cukup dingin, Hyuk Jae yang sedari tadi duduk di balkon kamarnya sesekali menggosok tangannya memberi kehangatan pada tubuhnya.
"Chagi...ayo masuk, udara sudah sangat dingin tidak baik untuk kesehatanmu." seru sang suami, Lee donghae, padanya. Iapun menurut perintah suaminya itu, lalu menutup pintu balkon kamar mereka.
"Yeobo...apa kau mengetahui sosok yang bernama 'Cho Kyuhyun' itu ?" tanya Hyuk Jae pada suaminya, dia memang sebatas mengetahui nama dari seorang Cho Kyuhyun.
"Memangnya ada apa ? Kenapa kau menanyakan hal ini ?" Donghae memicingkan matanya menatap istrinya
"Ani, hanya saja...hanya saja aku merasa jika sudah saatnya Henry tahu tentang ayah kandungnya."
"Ayah kandung apa ? Aku ini adalah ayahnya, aku tidak akan pernah membuatnya berpisah dari kita." ucap Donghae sedikit emosi, dia sangat tidak suka jika ada yang mempermasalahkan status Henry, termasuk istrinya.
"Mi-miane..." melihat reaksi suaminya, Hyuk Jae menunduk dalam. Diraih Donghae tubuh sang istri, tahu jika ucapannya sedikit membuat Hyuk jae terkejut.
"Aku yang harus minta maaf...maafkan aku, tadi aku hanya terbawa emosi saja.."
"Hmm,"
"Jangan pernah bahas ini lagi ne, ayo kita tidur" ucapnya setelah mengecup kening Hyuk Jae.
"Ne, araseo.."
…
Pagi harinya, keluarga Lee kembali ceria seperti biasanya, begitu juga dengan Henry. Namja tampan ini tampak sangat ceria di pagi ini.
"Eomma, appa dan Sungmin, mereka akan pulang hari ini" ucap Lee donghae saat sarapan pagi.
"Mwo ?, bukankah mereka akan pulang tiga hari lagi ?." tanya Taemin
"Halmonie-mu sedikit tidak sehat, jadi mereka harus segera pulang." jelas donghae lagi
"Harabojikan dokter, beliau bisa kan merawat halmonie." ucap Taemin lagi
"Aissh..kau ini, cepat makan saja sarapanmu." tegur Hyuk Jae pada putrinya yang dari tadi tak berhenti bicara
"Ne, eomma.."
Setelah sarapan pagi, Donghae dan kedua anaknya berangkat.
…
Siang ini, setelah dari bandara Incheon international airport. Mereka, Lee Yunho, istrinya Lee Jaejoong dan juga Lee Sungmin segera pulang menuju Mokpo, mengingat keadaan Jaejoong sedang tidak sehat. Dan sorenya mereka sudah sampai di Mokpo, di sana Donghae sudah siap menjemput mereka.
.
.
"Kami pulang..." ucap Sungmin semangat,
" Minnie eommaaa..." seru Taemin saat mendengar suara Sungmin.
"Taemiiin-aaah..."
Keduanya langsung berpelukan ria. Kembali, rumah ini akan kembali ramai akan suara dua yeoja beda usia ini.
"Mocciiii...eomma rindu padamu" ucapnya saat melihat Henry turun dari tangga
"Nee...aku juga eomma" ujar Henry lalu memeluk eommanya tercinta
Chup, chup, chup...
Sungmin tak henti-henti mencium wajah putranya itu. Henry hanya menerima perlakuan eommanya, eommanya memang selalu seperti ini tiap menciumnya, tidak pernah menciumnya hanya sekali pasti berkali-kali.
.
.
Malam harinya...
"Halmonie sudah merasa baikkan ?" tanya Henry pada Jaejoong. Kini Henry ada dikamar neneknya, melihat keadaan neneknya
"Ne, halmonie sudah merasa baikkan.." jawab Jaejoong sambil tersenyum.
"Syukurlah...halmonie mau makan sesuatu ? Biar Henry ambilkan." tawar Henry pada neneknya lagi.
"Tidak usah, Henry-ah...ada sesuatu yang ingin halmonie ceritakan padamu. Entahlah, halmonie hanya merasa sudah saatnya kau tau semuanya." ucap jaejoong.
"Apa itu halmonie..?" tanya Henry
"Appa kandungmu, dia...masih hidup" lirih Jaejoong.
Henry terkejut mendengar ucapan halmonienya.
"Ne, appa-mu masih hidup, tapi dia tidak ada disini...setahu ku dia sekarang ada di Amerika" ucap Jaejoong lagi. Henry hanya diam.
"Yeobo...kenapa belum tidur ? Kau kan masih sakit." Yunho datang tiba-tiba memecah keheningan.
"Lain kali halmonie akan menceritakan semuanya padamu ne.." bisik Jaejoong pada Henry, lalu meremas tangan cucunya.
"Ne, halmonie sekarang tidur ne...selamat malam" ucap Henry lalu pamit keluar kamar.
"Kau menceritakan tentang appa kandungnya padanya...?" tanya Yunho
"Ne, aku rasa ini sudah saatnya. Aku tidak ingin Sungmin dan Henry menderita lebih lama..."
"Jae..."
"Aku hanya melakukan hal yang benar... Kau pikir anak dari keluarga Cho itu tidak menderita berpisah dengan Sungmin ? kau salah!" gertaknya pada suaminya
"ara,...tapi tak seharusnya-"
"Seharusnya apa,huh? Justru seharusnya aku mengatakannya dari dulu pada mereka.."
"Sudahlah...cukup perhatikan kondisimu sekarang.." Yunho mengalah, tak ingin semakin memancing emosi pasangan hidupnya itu.
.
.
…
Cklek,
"Eomma..." ucap Henry saat memasuki kamar eomma manisnya Lee Sungmin,
"Mocchi..? Waeyo ?" tanya Sungmin polos pada anaknya.
"Aissh...eomma kenapa bertanya sih ? Tentu saja aku masih rindu pada eomma " Henry merajuk akan sikap eommanya.
"Ooooh...sini, eomma peluk Mocchi supaya rindunya hilang " ucap Sungmin menyuruh Henry mendekat keranjang miliknya. Henry menurut, segera dia merebahkan kepalanya di paha Sungmin. Secara perlahan Sungmin mengusap rambut coklat putranya itu.
"Bagaimana, apa rindunya sudah hilang ?" tanya Sungmin dengan wajah innocentnya, Henry menggeleng.
Chup...chup
Di ciumnya kening Henry dua kali,
"Sudah hilang ?"
Henry mengangguk,
"Eomma, wajah appa seperti apa ?" tanya Henry Sungmin. Sungmin terdiam lama. Tiba -tiba wajah itu datang dalam benaknya , di pegangnya dadanya..
"Kyu..." lirihnya, nama yang selama ini sudah lama tak disebutnya. Henry terkejut melihat reaksi eommanya 'apa dia salah bicara ?' benaknya
"Eomma, kau baik-baik saja..?"
"Kyuuu...eodiga..?" lirih Sungmin lagi, Henry semakin bingung
"Eomma..."
"Hiks..Kyuuu...hiks..." Sungmin tiba- tiba menangis tanpa sebab yang Henry tahu. Segera dipeluknya sang eomma, dia tak sanggup melihat eommanya menangis
"Eomma...uljima ne..."
"Kyuuu..." racau Sungmin
"Eommaaa...tenang ada aku disini, aku selalu dengan eomma..uljima.." Henry semakin memeluk eommanya. Setelah dirasakan eommanya tenang, dia membaringkan eomma untuk tidur.
"Eomma sekarang tidur ne, " ucap Henry setelah mencium kening eommanya.
"Mocchi...tidur disini saja sama eomma, eomma takut..."
"Ne, aku akan disini bersama eomma" jawabnya lalu membaringkan tubuhnya disamping eommanya.
"Kyu ?" ucap Henry dalam hati, dipandangnya wajah cantik sang eomma yang sudah terlelap. Nampak bekas air mata diwajah cantik itu
"Apakah dia appaku ? Kenapa eomma menangis ? Kenapa banyak tanda tanya besar dalam hidupku dan eomma..?" tanyanya dalam hati, Henry kini sedang dalam pikiran yang berkecamuk.
"Aku harus tau yang sebenarnya.." tekatnya
'Appa, haruskah aku mencarimu ?'
Dipejamkannya matanya, semoga ia mendapat titik terang akan kehidupannya besok.
.
.
.
Tbc
