Disclaimer : Kishimoto-Shi pemilik Naruto.
Pairing: SasuNaru.
Warning: Shonen-Ai. Boy Love. Displeasent? Click back. Pleaseant? Please welcome RnR ^^
Summary: tolong baca chapter sebelumnya.
A/N: Utakata adalah character Jinchuuriki ekor enam. Jika tidak tahu silakan cari di google Dozo. Beri tahu jika ada typos. Dan baca author A/N di paling bawah. Read and Enjoy.
.
.
.
The Memory I've Forgot
Chapter Four : Bitter
Uchiha Sasuke tertegun. Lorong sekolah yang terbuka , disudut sudutnya tertumpuk beberapa helai daun momiji yang sudah berwarna merah hampir sama menyamai merah darah bunga krisan tersisip dipinggiran sisi sekolah. Tetapi entah kenapa untuk Sasuke yang terlihat dipenglihatannya hanya sekedar warna dasar hitam, terlalu kejut . pemuda pirang ini sudah memenuhi penglihatannya. Satu persatu ingatan tentang sosok teman kecilnya terpanggil, mulai mengabsen kesamaan yang ada pada sosok pemuda pirang didepannya. Mata biru yang warnanya terlihat lebih dalam masih terlihat polos, yang berbeda hanya kacamata yang terpasang membingkainya dengan alami, tetapi orang bodoh pun tahu kacamata murahan itu adalah palsu tetapi kenapa, kenapa harus segan dan menyembunyikan bola mata seindah itu.
"Uchiha-san." Lamunan Sasukei berhenti ketika nama belakangnya dipanggil oleh Utakata sensei.
"Uchiha-san ?" sensei muda ini terlihat heran melihat Uchiha muda melewatkan pidato di aula pagi ini, " sebuah kebetulan yang jarang untuk melihat ketua OSIS seperti anda absen tidak melakukan briefing …pagi?" setelah itu Utakata melemparkan pandangannya ke pemuda pirang yang sedang berhadap-hadapan dengan Uchiha muda, tatapan yang sangat intens agaknya membuat pemuda pirang didepannya ini sedikit bersemu merah.
Tidak tahu harus berbuat apa, dengan singkat Naruto membungkuk sedikit, kacamatanya sedikit turun dari batang hidungnya. Sasuke menyipitkan mata hitamnya ketika sadar bahwa sensei muda ini sedang memperhatikan Naruto. sedikit berdehem untuk menarik perhatian Utakata sensei dari pemuda pirang didepannya.
"Hn..Selamat pagi Utakata sensei," Sasuke sedikit membungkukkan tubuhnya, " mengenai keabsenan saya, itu hanya kali ini adalah tugas Gaara." suaranya pelan dan juga tegas, kata apa pun yang di lontarkan dari bibir Sasuke sudah seperti kepastian yang akan dipercaya oleh orang, jadi mudah saja untuk berbohong sedikit. Sedangkan Naruto sedikit risih saat nama Gaara disebut, tidak ingin Gaara terkena masalah atau semacamnya. Sedangkan Utakata yang memang tahu jawaban itu bohong, sudah biasa dengan ego, membiarkan begitu saja dan mengangguk sedikit, sebelum pandangannya bertemu mata dengan si pirang.
"Apakah anda Uzumaki-san? Kakashi-shi telah memberi tahu ku sebelumnya tentang Uzumaki-san, dan sepertinya tidaklah sulit untuk menemukan anda Uzumaki-san" mengingat penampilan Naruto yang sedikit berbeda ,tapi bukan itu yang membuat Utakata jauh jauh menyusul anak baru ini sampai kesini, salahkan Wakil kepala sekolah Hatake yang membuatnya harus melakukan ini dan lagi, Uzumaki akan menjadi anak didiknya mengingat dirinya adalah walikelas dari Naruto.
"H-hai Sensei," sedikit terkejut tetapi Naruto sedikit membungkuk sedikit , tidak ingin memberikan kesan yang buruk untuk hari pertamanya. Sedangkan Sasuke menyipitkan mata hitamnya ke arah pemuda pirang didepannya mendengar kata 'Uzumaki' karena Sasuke yakin bahwa pemuda pirang ini adalah Namikaze Naruto. "Uzumaki. Naruto Uzumaki desu." Ucap Naruto dengan suara yang rendah sangat rendah tapi cukup untuk didengar oleh pemuda raven dan guru berkacamata didepannya. Apakah orang didepan ini Naruto yang sama? Mengingat nama belakangnya berbeda
Dan lagi sikap Naruto yang menatap seolah tidak kenal, membungkuk memperkenalkan diri seolah orang asing dan yang terakhir tidak meyapa, selayaknya sahabat lama, rasanya memang didepannya ini bukanlah Naruto yang sama. Entah kenapa rasanya sakit, sakit dikepalanya mulai terasa lagi, angin musim gugur rasanya bertiup seperti angin musim dingin, tanpa sadar tangan yang ada disaku celananya menggenggam erat ponsel oranye yang dirinya yakin adalah milik Dobe nya, dengan erat. Tapi disisi lain, ada perasaan kesal, yang Sasuke tahu Naruto bukanlah orang yang gampang membuang temanya sendiri, tapi entah kenapa Sasuke merasa tertampar ketika nama 'Uzumaki' yang keluar bukan melainkan 'Namikaze', entah kenapa Sasuke jadi merasa jauh dengan orang dihadapannya ini. Entah kenapa rasa hangat yang sebelumnya Sasuke rasakan mendadak berubah transparan menjadi dingin. Perasaan menyesal bertubi-tubi memukul Sasuke. Apalagi yang Sasuke harapkan dari pertemuan kecil ini. Apa lagi yang masih Sasuke harapkan dari pemuda pirang Naruto Uzumaki? ada sedikit pecahan ingatannya berkata, bahwa dirinya sendirilah yang sudah membuang teman pertamanya.
"Uzumaki-san ini adalah Sasuke Uchiha, seperti yang kau lihat bet yang ada dilenganya menandakan bahwa Sasuke adalah ketua dari Organisasi siswa disini, dan aku sendiri Utakata. Utakata sensei .Wali kelasmu mulai dari sekarang, selamat datang di Konoha Gakuen Uzumaki-san."
Mungkin saja, dengan mendengar namanya disebut, Naruto akan ingat kembali. Mengingat setidaknya penampilan Sasuke yang memang sedikit berbeda, dengan begitu Sasuke memperhatikan ekspresi Naruto ketika namanya deperkenalkan oleh Utakata sensei.
Wajah Naruto sedikit bersemu merah, pada hari pertamanya sudah bertemu dengan wali kelas dan orang yang penting di Konoha Gakuen… dilorong sekolah, tapi Naruto hanya melempar senyum kecil yang kosong. Lagi-lagi sikap Naruto yang tidak menunjukan dirinya kenal dengan Sasuke.
Suara tepung tangan yang terdengar semu, membuat Utakata membawa pandangannya ke pintu double door Aula, sedangkan Sasuke hanya masih menatap Naruto tidak percaya sesaat pandanganya bertemu dengan mata biru Naruto, sedangkan Naruto tidak bisa mengartikan tatapan dari senpai barunya.
" Uzumaki-san seperti yang anda lihat, anda melewatkan briefing minggu ini, lebih baik anda menuju ke kelas anda."
"H-hai Sensei, Arigatou." Utakata hanya mengangguk sedikit.
"Sasuke-san, tolong antar Uzumaki-san. Aku harus kembali ke ruang guru sebentar." Dengan begitu Utakata meninggalkan mereka berdua, Sasuke masih menatap orang didepannya ini dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca dan dengan Naruto yang berkali-kali mengerjapkan matanya dan pada saat itu juga pintu kayu ruang Aula terbuka.
Chapter Four : Bitter
Entah kenapa, memandang punggung Uchiha didepannya ini, Naruto merasa bahwa orang ini sangat kesepian. Walaupun semua perhatian dengan mudah Uchiha muda ini bisa dapatkan, tetap saja hanya kesendirian yang bisa di liat dari bahu pemuda senpai Uchiha. Mengingat kejadian sebelumnya saat pintu aula terbuka beberapa siswi menatap Sasuke dengan intens dan terkadang tertawa tinggi. Setelah melewati deru bisikan yang menggema disetiap lorong, karena ketua tercinta Konoha Gakuen yang terkenal dengan sorot mata dinginnya dan juga kepribadian yang tidak bersahabat itu, dengan cueknya berlengga untuk mengantarkan Naruto dengan topeng emotionless nya. Mereka hanya berjalan dalam bungkam. Semata-mata hanya tindak ingin bisikkan para penghuni sekolah ini tidak membludak lebih dari yang sekarang.
Melihat langkah Sasuke berhenti , Naruto mengalihkan perhatiannya dari bahu Sasuke untuk melihat pintu geser kelas yang akan ditempatinya. Tanpa Naruto ketahui, bahwa Sasuke berkali-kali berpikir.
Sasuke hanya memperhatikan Naruto, yang dengan polos menatap pintu geser kelasnya. Apakah mungkin, Naruto memutuskan untuk tidak mengingat lagi, dan berpura-pura tidak mengenal Sasuke?
"Arigatou, Uchiha-senpai. Maaf sudah merepotkan Uchiha-senpai. " Entah kenapa Sasuke sangat tidak suka dengan saat kata senpai keluar dari bibirnya.
" Apakah, tidak ada yang ingin kau tanyakan…lagi?"
'Banyak sekali.' Tapi bukan waktu yang tepat. Jadi Naruto hanya bergeleng lemah.
"Tidak senpai." Kesal, itulah yang dirasakan Sasuke, sebelum Sasuke sempat berkata," …tetapi, entah kenapa tempat ini sangat familiar."tambah Naruto dengan bisikan yang tidak didengar oleh Sasuke, dengan begitu Naruto meletakan telapak tanganya di atas daun pintu geser, dan mata birunya mulai menerawang jauh, tetapi tetap tidak ada satu pun yang teringat. Sasuke hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, entah kesal karena apa. Apakah memang Naruto ingin menghukumnya, ataukah orang ini sungguh bukan Naruto, melainkan orang yang berbeda hanya saja dengan nama depan dan paras yang sama.
Apakah setelah Uzumaki, setelah malangkah masuk ke kelas itu dan berkata terima kasih, semuanya akan selesai, dengan keadaan stasusnya yang seperti orang asing. Dan lagi…
"Temui…" suara rendah yang keluar dari tenggorokan Sasuke, membuat Naruto harus memperhatikan senpainya, wajah monotone Sasuke tertutup oleh beberapa helai poni hitamnya. "Temui aku diruang Osis saat istirahat siang." Bukan sebuah pernyataan, tapi terdengar seperti perintah. Dengan begitu Sasuke meniggalkan Naruto yang berdiri mematung dengan tatapan bingung.
'Karena ada sesuatu yang ingin kupastikan… Dobe' tangan disakunya menggenggam erat ponsel oranye yang tidak terlihat dibalik saku itu.
.
.
.
'Srak..' pintu geser di ruang kelas X-F terbuka seketika suara risuh yang menggema berhenti. Setelah itu yang terdengar hanyalah suara pintu yang tertutup lagi. Dan seisi ruang kelas menatap sosok yang ada didepan kelas.
Untuk beberapa saat , entah kenapa ada dulu sekali pernah seperti ini ya dulu sekali.
Ruang kelas, yang terlihat sederhana tapi siapapun tahu bahwa lantai kayu yang dari kejauhan itu sudah terlihat berkilau itu pastilah terbuat dari kayu yang tidak murah. Deretan kaca transparan segiempat yang berurutan mendatar juga sebuah papn tulis putih yang terlihat seperti baru. Deretan bangku dan meja yang tersusun dengan rapi dan yang terakhir adalah penghuni kelas yang terduduk di rangkai kursi siswa tersebut.
Semua murid menatap pemuda pirang didepan kelas, menunggu untuk sosok ini memperkenalkan dirinya. Beberapa murid melemparkan senyum dengan cuma-cuma untuk menyambut pemuda pirang ini. Sampai-sampai Naruto tidak sadar akan kehadiran Utakata sensei.
" Kelas, selamat pagi, seperti yang kalian Uzumaki-san akan menjadi murid baru dikelas ini, tolong bersikap baik dengannya.
.
.
.
" The number you are calling is switch off please try again latter." Suara khas wanita terdengar dari seluler berwarna merah milik Kyuubi. Ponsel Naruto sama sekali tidak bisa dihubungi, padahal Kyuubi sendri sudah diberi tahu oleh Iruka bahwa ponselnya hilang, hanya saja sekarang Kyuubi terlalu panic dan terlalu sibuk untuk mengingat perkataan Iruka.
"Kuso."
Berkali-kali pemuda berambut merah ini, mengumpat sambil monda-mandir di bangku duduk bandara Incheon. Beberapa orang yang melihat kelakuan Kyuuubi terkadang melemparkan pandangan aneh. Tetapi untuk semua wanita yang melihat ini, adalah tontonan menarik. Berdiri disana Kyuubi Namikaze-Uzumaki, rambut merahnya yang yang menyentuh sampai telinga, dengan model acak poni yang menutupi keningnya , telingganya kirinya dengan beberapa piercing, tubuhnya yang tinggi, dengan bahu bidang, sweater hitam polos dengan model lengan panjang terlihat mahal melekat ditubuhnya, syal wol merah yang tebal dan fluf melingkar dilehernya dan hampir menutupi dagunya, celana jeans hitam longgar sampai kepinggulnya, juga sepatu converst merah menyalak. Semua yang melekat hanya motif polos, tetapi memberikan kesan tidak polos. Sedangkan, polisi berkebangsaan jepang bernama Anko hanya duduk tenang sambil menghadap Kyuubi Uzumaki, dengan melipatkan kaki dan tangannya.
Kyuubi Uzumaki sangat khawatir saat ini, baru saja Kyuubi mendapatkan kesempatan besar untuk meningkatkan karir nya di bidang modeling yang ditawarkan okeh Agency yang ada di Korea. Dengan berharap, secepatnya untuk pindah dari Negara jepang bersama dengan adik kesayangannya, ingin mengkunci rapat-rapat semua memori menyakitkan tenatang orangtuanya yang selalu menghantui adiknya. Dengan bersuasah payah menganti nama belangnya menjadi nama belakang ibunya hanya untuk melindungi Naruto .
Dua bulan disini, bahkan Kyuubi sudah bisa membeli sebuah aprtement kecil dan nyaman juga sebuah mobil, hanya tinggal selangkah lagi untuk membawa adiknya pergi dari ingatan yang tidak perlu diingat lagi. Tetapi kenapa? Kasus yang memilukan itu sudah ditutup dengan masalah yang tidak terpecahkan. Meniggalkan Kyuubi yang mati-mati harus menjaga satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
"Kuso!" Kyuubi menendang kesembarang, dengan mengeraskan rahangnya, matanya merahnya menatap tajam lantai tidak berdosa, tajam sangat tajam, sampai orang disekitarnya bergidik. Mengirim adiknya kembali ke kota Konoha, untuk mengembalikan ingatannya, semata-mata hanya karena kasus beberapa tahun yang lalu, tentang kematian orang tuanya Namikaze Minato, dan Kushina Uzumaki, bukankah mereka berdua sudah tenang di alam sana? untuk apa harus mengukap-ungkap masalah ini lagi. Kyuubi hanya membawa tangan kirinya untuk menyembunyikan matanya yang terasa panas, hanya untuk Naruto air matanya mengalir.
Yamato yang hanya sedari tadi memperhatikan Kyuubi dari ekor matanya berjalan pelan kearahnya, lalu meletakan tangannya ke bahu pemuda berambut merah ini, mencoba meringankan. Karena Yamato juga tidak habis pikir apakah yang ada di benak atasannya Ketua Sarutobi. Dengan berat Yamato hanya bisa menceritakan rencana yang sudah berjalan kepada Kyuubi Uzumaki, mengenai kepindahan adiknya ke Konoha atas perintah Sarutobi.
Karena bagaimana pun juga sosok Minato Namikaze dan Khusina Uzumaki, tidak pantas menerima kematian yang seperti itu. Terlalu getir untuk menyadang hal itu, mungkin Sarutobi hanya ingin memberikan penghormatan terakhir yang layak, untuk kedua orang itu.
.
.
.
TBC
Chit-chat dua Author.
Haru: -sedang mengetik bahan dengan suara serius-
Binhyul: ngapain har?
Haru: HOEEEE, astajim ngagetin kau!
Binhyul: lebay, apaan tuh? Naruto menatap kosong— *ngelirik monitor*
Haru: HOEE! COWOK GA BOLEH LIAT!
Binhyul: lebay bgt bih cwe =3= , gue mw liat tuh kan ada Narutonya?
Haru: WHOOT? O-O *oh iya lupa ini fanfic naru* tetep kaga boleh binhyul! Ini yaoi! O_o
Binhyul: apaan dah Yaoi? Resek lo kaya gue ga pernah liat ketikan lo! Lagian pagi2 gni *ngelirik jam , jam1 pagi * ngapain ngetik? Hm? *ngemplang haru*
Haru: Asem lo Hyul! –gasp- * asem dia baca! O_o *
Binhyul: ….
Haru: h-yul? O_o?
BinHyul: ….ketikan lo…. Kok….banyak typos nya! Wkwkwkwk.
Haru: O_O *WTH*
BinHyul: wkwkwk, kk gue maenan kya gini juga dol! Sini gua betulin typos-san lo!
Haru: huh? *cengok dipojokan warnet*
BinHyul: untuk sementara haru out of order XD, jadi readers sy yg ambil ahli wkwkwk! Terima kasih untuk review sebelunya!, review akan dibalas di chap selanjutnya! *binhyul ga ngerti balesnya =3=* CLICK! REVIEW! PLEASE ^_^
Regard BINHYUL
