Disclaimer: seluruh karakter Naruto adalah milik Masashi Kishimoto seorang.
Chara : Shikamaru N & Ino Y
Warning : OOC, typo, dan lainnya.
Seperti biasa, ruinitas yang mustahil dihilangkan dari daftar list seorang Yamanaka Ino adalah selalu lelet dalam melakukan segala hal. Aku kembali menilik jam ditangan kiriku, delapan kurang tujuh belas menit. Mampus, hari ini ada operasi jam setengah sembilan.
Tanganku terhenti sejenak sebelum aku berlanjut memutar kenop pintu, "bim salla bim, abbra kadabra" aku melafalkan mantraku, "saat aku membuka pintu, tidak ada yang akan mengungkit lagi masalah tadi malam." Aku mengucapkan permohonanku.
Sumpah disaat saat genting seperti ini, aku masih saja melakukan hal-hal tidak penting.
Aku menarik, dengan sedikit berlari aku menuruni tangga menuju ruang makan. Telah terduduk manis disana, orang tuaku beserta sahabatku yang merangkap jadi anak kesayangan orang tuaku.
"Pagi." Sapaku.
"Pagi." balas ketiga manusia didepanku hampir bersamaan.
Bak mimpi yang tak pernah kusangka, tak satu pun dari ketiga kepala dihadapanku ini mengeluarkan tanda-tanda akan mengintrogasiku. Sihir yang tak pernah kupelajari pun nyatanya berhasil membuat mereka bungkam. Memang, seharusnya aku beralih profesi saja dari dokter menjadi paranormal atau sebangsanya.
Mari kita ambil hikmahnya. Tapi anehnya, perasaanku malah jadi tidak enak.
Aku melahap sarapanku yang berwujud roti dengan potongan besar-besar. Menenggak satu gelas susu dengan cepat, hampir kurang dari sepuluh detik. Aku menilik arloji ditanganku yang sudah menunjukan kalau aku pasti akan terlambat beberapa menit.
"Aku pergi." Tancap gas dengan cepat, aku tak ingin lagi diusik oleh tatapan tak bermutu dari ketiga kepala didepanku.
Kunyalakan mesin mobil dengan satu putaran kunci. Si gadis pink yang dari tadi belum menampakkan batang hidungnya nyatanya sudah berada disamping kursi kemudi tanpa kusadari. Cengiran di wajahnya menambah kecurigaan di kepalaku saja.
"Ngapain masih disini?" tanyaku, setelah beberapa saat mesin mati. Ini sudah didepan rumah sakit.
Gadis merah muda itu tampak kembali mengeluarkan senyum jailnya. Kemudian, tiba-tiba memelukku erat, "akhirnya... selamat." Bisiknya. Lalu, Sakura meninggalkanku dengan secepat kilat meninggalkanku beserta mimik wajah tololku yang dipenuhi seribu pertanyaan.
Siang ini masih ada satu meeting yang seharusnya tidak kudatang. Rapat kali ini membahas pemindahan beberapa bangsal, karena bangsal-bangsal yang sebelumnya harus direnovasi. Tiga bangsal diantaranya adalah bangsal yang ditangani oleh Sakura. Nah itu sebabnya aku berada disini, Sakura memaksaku untuk mengikuti rapat ini.
Diruang meeting sudah ada beberapa dokter yang siap mendengarkan ceramah panjang, beberapa diantaranya akrab denganku, dan beberapa diantaranya aku hanya mengetahui nama dan jabatannya, sedikit diantaranya malah tidak kukenal sama sekali. Nah itu dia, pimpinan rapat kali ini, Orocimaru sang direktur rumah sakit. Orocimaru-sama nampak sudah siap dengan ceramah panjangnya yang siap membuat poli THT penuh.
"Bakal membosankan nih." Aku berbisik ditelinga Sakura.
"Pasti." Timpalnya.
Dan sekarang dimulailah ceramah panjang. Baru beberapa patah kata saja aku sudah bosan, secara materi yang dibicarakan tidak ada hubungannya denganku, lagi pula aku juga seharusnya tidak ada disini.
Aku mengeluarkan ponselku dan memainkannya dibawah meja. Sementara yang lain serius memperhatikan apa yang disampaikan, aku mulai mengaktifkan ponselku. Mesin pencari google ku sudah siap untuk mencari apa saja.
Aku iseng mengetikkan kata facebook dimesin pencarinya, aku memilih satu judul agar menampilkan laman login. Setelah halaman untuk login muncul aku memasukkan e-mail dan password ku, dan laman berandaku akhirnya masuk juga. Ada lebih dari dua puluh notifikasi di akun ku. Seperti biasa hanya beberapa pemberitahuan siapa saja yang memberi tanda like untuk status yang kubuat beberapa waktu lalu, pemberitahuan lainnya tentang group, yang lainnya lagi pemberitahuan tentang teman yang melewati tanggal lahirnya, dan pengguna akun lain yang menandai foto pada akunku.
Aku membuka foto yang menandaiku. Nafasku tertahan sesaat "what?" teriakku kaget ditengah tengah ruang meeting, saat ini semua mata tertuju padaku. Hening, mampus, aku lupa tempat.
"Ya, ada yang ingin kau tanyakan nona Yamanaka." Ujar Orochimaru-sama.
"Maaf sensei tolong ulang pembagian shif nya," kataku segera menguasai diri. Hufttt, untung saja Orochimaru-sama tidak curiga bahwa aku sebenarnya penyusup dan orang paling tidak fokus di ruangan ini.
Aku memperhatikan penjelasannya sebentar tapi hanya bab yang kutanyakan, sebagai formalitas. Agar terkesan menghargai. Oh kembali ke masalah awal, aku kembali menatap foto paling absurd yang pernah masuk ke profilku. Mataku sepertinya bisa lepas karena mempelototi foto gila itu.
Awas saja itu orang, aku akan membuat perhitungan padanya.
Bernafas. Aku butuh oksigen. Oh, ya ampun, pantas semua orang memberi selamat yang salah alamat, ternyata ini sebabnya. Darahku kok rasanya berdesir tiba-tiba ya? Ampun deh perasaanku jadi aneh.
Aku beralih melihat komentar-komentar yang sudah nangkring dibawahnya. Ih... sumpah ini komentar kok pada tega begitu? Dan kebanyakan bersyukur diatas penderitaanku. Tanpa sadar sudut bibirku terangkat sebelah, ini apa apan lagi ini? ingat, ini zona penderitaan, bukan zona pameran foto kemesraan dihadapan publik.
"Rapat hari ini kita cukupkan sekian..." sebelum rapat selesai, dengan cepat kutekan tombol home lalu menempelkan ponselku ditelinga kiri, yep aku menghubungi langsung si pembuat masalah dalam hidupku akhir-akhir ini.
"Kita perlu ketemu, sore ini di cafe kopi dekat rumah sakit tempatku bekerja jam empat jangan terlambat," kataku sebelum suara diseberang berbicara meski hanya satu kata "awas kalo sampai terlambat walau Cuma setengah detik." Nadaku agak meninggi, untung saja ruang rapat agak kosong.
"Siapa?" Sakura menatapku bingung.
"Urusan penting," jawabku sarkastik "giliran kamu yang nemenin aku ya?" ujarku sambil tersenyum, meski dengan nada memerintah.
Dimana sih pemuda nanas itu, aku celingukan mencari kepala nanasnya. Awas saja dia sampai terlambat apalagi tidak datang. Peduli amat jika saat dia dia sedang ada urusan sekalipun. Yang penting aku bisa segera mencekiknya saat ini juga.
Oh itu dia, dia sedang duduk didepan laptopnya dan secangkir minuman didepannya. Aku menarik lengan Sakura, untuk mendekat pada pemuda tersebut. Oh, bagus dia sepertinya tenang-tenang saja jika aku akan memuntahkan segala amarahku padanya.
"Aku perlu bicara," kataku ketus, Ya Tuhan... dia apa-apaan, memasang tampang polos seperti itu hah, "apa maksudnya ini?" tanyaku menampilkan foto nista yang jadi duduk permasalahan.
Aku dan Sakura mengambil tempat duduk dihadapannya. Laptop yang tadi menjadi kesibukannya, sekarang sudah sedikit ditekuk, tapi tidak sampai menutup. Kini pandangannya beralih pada foto dan sesekali menatapku dengan heran.
"Maaf, ini pasti ulah keponakanku." Wah...wah...wah... tapi ini kan tetap jadi tanggung jawabnya sebagai paman, "aku tidak tahu dia senekat ini." ucapnya tenang, "nanti akan ku tegur, sekali lagi maaf." Ucapnya.
"A..."
"Aaa, tidak apa-apa," serobot Sakura, aku hanya diam sambil mengeluarkan tatapan membunuh, "oh, ya kita belum kenaan secara resmi, Haruno Sakura." Sial nampaknya Sakura sengaja tak menghiraukanku.
"Nara Shikamaru." Balasnya.
"Oh ya, teman Naruto-kun kan? Kau pengacara juga seperti Naruto?" ihh Sakura apa-apaan memanggil Naruto dengan embel-embel 'kun'? Biasanya juga baka.
"Kami mengambil jurusan berbeda saat masuk kuliah." Oh ya kok aku perasaanku jadi tidak enak sih.
Sial, Sakura kenapa mengeluarkan senyum seperti itu? dia membuat perasaanku jadi tidak enak saja. Awas, saja jika dia berbuat yang macam-macam apalagi mempermalukanku.
"Oh ya? Kau mengambil jurusan apa?" Tanyanya antusias.
"Arsitek." Bagus, kenapa Sakura mau meladeni omongannya Shikamaru yang sangat irit kata-kata itu? dengan antusias pula.
"Wow, kamu kerja dimana?" Sakura tambah antusias dan aku tambah heran.
Upss, jeda sebentar. Pelayan datang, untuk menawarkan menu andalannya. Satu cangkir cappucino dan sepotong cake cokelat menjadi pilihanku. Waduh, gara-gara pelayan tadi sepertinya aku melewatkan satu jawaban Shikamaru, dimana dia bekerja tadi? aku benar-benar tidak mendengarnya.
"Aku tahu perusahaan itu, itu sangat terkenal. Oh ya, kau tinggal dimana?" lho kok ini malah jadi semacam interview sih. Apa coba maksudnya mewawancarai dia?
Dan selanjutnya, aku hanya menjadi pendengar dan pengingat jika Sakura bertanya. Sedangkan si objek wawancara juga sepertinya tidak keberatan dengan pertanyaan yang diajukan padanya. Cuma yang aku heran, kenapa interview ini kok seperti seorang ayah yang sedang mewawancarai calon mantunya ya? Hanya yang berbeda, lebih dikemas secara ringan dan lebih samar. Tapi jika diperhatikan secara seksama, pertanyaan-pertanyaan intinya adalah sangat mirip.
"Aku ke toilet sebentar." Kataku tiba-tiba. Membuat dua orang penduduk lain meja ini memandang ke arahku.
Buru-buru aku membasuh wajahku dengan air. Kemudian aku memandang pantulan diriku dicermin. Tetesan air yang belum kuseka terlihat menuruni wajahku. Aku memandang diriku heran, kenapa aku seperti benci saat Sakura terlihat akrab dengan Shikamaru ya? Eh tidak... tidak... tidak... ini bukan bukan perasaan cemburu seorang wanita ke seorang pria kan? Ini cemburu seorang teman yang lebih memperhatikan teman lainnya kan?
Ugg sial, sepertinya fikiranku perlu dicuci. Aku segera menghapus tetesan air diwajahku dengan tisu yang ada ditoilet. Aku menggeleng lagi menepis fikiran soal cemburu, dan menegaskan kalau itu mustahil. Lebih baik sekarang aku keluar dan menemui mereka. Tapi entah kenapa aku sepertinya ingin kabur saja tanpa menemui mereka.
Lho, Sakura kok sendiri? Mana laki-laki yang tadi bersamanya? Sepertinya tadi saat aku tinggal mereka masih asyik melakukan wawancara, kok sekarang salah satu dari mereka sudah tidak ada sih.
"Shikamaru mana?" tanyaku celingukan mencari lelaki itu.
"Oh, dia ada urusan mendadak jadi dia pulang duluan," ohh, bagus, dia bahkan tidak pamitan padaku, "aku menyuruh dia pulang duluan, soalnya aku pikir kau pasti lama di toilet." Entah mengapa kok rasanya aku ingin marah kepada Sakura ya?
"Oh, pulang yuk." Kataku masih mengontrol emosiku.
Ya ampun... aku ini kenapa sih? Cemburu tidak jelas eh? Dia bahkan bukan siapa-siapamu kecuali kenalan Ino. Bahkan, teman juga bukan. Apalagi pacar, jadi aku tidak berhak cemburu kan?
Perasaanku yang kacau balau membuat mood ku jadi rusak. Tapi untungnya para keluargaku juga sepertinya adem ayem saja melihat tingkahku yang berubah menyebalkan. Bahkan mereka seakan tak peduli. Oke, harusnya aku tahu kalau mereka lebih mementingkan anak mereka si rambut pink itu ketimbang aku yang dianggapnya sebagai anak pungut.
Setelah makan malam yang sama sekali tidak memuatku nyaman tersebut aku langsung mengurung diri dikamar. Langit-langit kamar yang sama sekali bukan objek menarik, nyatanya malah enak untuk kupandangi.
Dan lagi-lagi aku kembali teringat pria sialan itu. Ya ampun... kenapa seorang wanita dengan sangat mudah jatuh cinta? Dan seorang pria bisa dengan mudah memberi harapan kepada wanita? Atau, memang aku saja yang terlalu berlebihan menghadapi sikapnya? Atau bagaimana sih? Ah... sekarang aku harus dipermainkan lagi oleh takdir.
Ya Tuhan tolong... jangan biarkan malam ini aku bermimpi tentang laki-laki itu. Aku takut aku akan semakin menyukainya dan akan semakin sulit pula untuk mengingkari perasaan ini. Ya Tuhan, bantu aku untuk menghindari dari kisah rumit ini. Bantu aku untuk tidak berurusan lagi dengannya, dengan begitu aku bisa menganggap semuanya tidak pernah terjadi.
"Pig, bangun." Selimutku ditarik paksa oleh sang pelaku peneriakan yang tak berperasaan.
"Ugghh." Kataku menarik selimut tanpa membuka mata sedikit pun.
"Kau sudah telat pig, cepat bangun." Sakura menarik lagi selimutku, kali ini dengan tambahan menarik lenganku dengan kasar. Hari ini aku ada jadwal malam jadi tidak perlu repot-repot bangun pagi, lagi pula gara-gara pria sialan itu, aku jadi tidak bisa tidur sampai subuh tadi.
"Emm, Sakura jadwalku malam," kataku kembali tidur, "biarkan aku tidur." Kataku malas.
"Bangun... atau kugeret kau ke kamar mandi saat ini juga." Bentaknya kasar.
"Coba saja kalau berani." Tantangku tanpa ada niat sedikit pun untuk pergi dari mimpiku.
Sakura benar-benar gila. Dia sampai mengundang ayah untuk datang menggendongku menuju kamar mandi. Ehh... tunggu dulu, kok parfum ayah baunya berbeda ya. Ini seperti bau parfumnya... Shikamaru. Salahkan otakku yang bisa dengan mudah menyimpan memori tentang bau-bauan.
"Aaaaa," aku berteriak keras, saat membuka mataku. Bagaimana bisa, laki-laki itu datang kekamar seorang wanita dipagi-pagi buta seperti ini. Sumpah... aku jadi malu setengah mati. Kenapa dia pake acara menggendongku? Apa sih niatnya? Mau bikin aku kena serangan jantung hah?
"Turunkan aku sekarang juga." Aku kembali berteriak. Tanganku berusaha menjauhkan tubuhku darinya, sedangkan kakiku bergerak secara brutal agar bisa menjauh darinya secepatnya.
"Ckk, kau bisa membuat orang tuli mendadak Nona Yamanaka." Katanya santai. Aku langsung diturunkan di bathtup olehnya.
"Apa yang kau lakukan disini hah?" kataku setengah berteriak. Entah inisiatif atau apa, tanganku reflek menutupi dadaku yang setengah terbuka, karena memang gaun yang kupakai saat ini adalah model gaun tidur yang agak terbuka dibagian dada. Oke ini sangat tidak elit, kenapa aku malu sekali karena terlihat olehnya dalam keadaan bangun tidur yang pasti terlihat amat berantakan.
"Oh, Sakura menelfonku, katanya ponselku ada padamu." Oh jadi begitu? Dia memanggil Sakura dengan Sakura bukan Haruno, sedangkan memanggilku dengan nama Yamanaka bukan Ino. Jadi sudah seakrab itu hubungan mereka berdua? Dan apa-apaan itu? mereka sudah bertukar nomor? Ah, aku sepertinya cemburu lagi. Ya Tuhan... tolong enyahkan fikiran saya ini.
"Mana ada, aku tidak mengerti maksudmu." Kataku ketus.
"Hoi... kalian sedang apa didalam." Teriak Sakura.
Sepertinya Sakura benar-benar tidak mengizinkanku dekat dengan laki-laki ini. Walau pun saat ini Sakura sudah mempunyai kekasih, tapi kenapa itu masih saja membuatku merasa... ah tidak tidak tidak. Perasaan ini salah. Harusnya aku tidak mudah jatuh hati pada laki-laki.
"Pergi sana," kataku kasar, "temui aku lima belas menit lagi." Shikamaru beranjak dari acara jongkoknya. Dia pergi keluar dari kamar mandiku. Harusnya, dia jangan menemuiku lagi.
Aku benar-benar sudah gila, harusnya sejak dulu aku dikirim orang tuaku kerumah sakit jiwa. Dari dulu, aku merasa kalau aku terlihat sangat normal diantara keluargaku. Tapi sepertinya aku salah, sepertinya aku tidak hanya abnormal, tetapi sudah tidak waras.
to be continue
Huaaa akhirnya ini chapter selesai juga keknya chap ini pendek banget. Selain lama apdet pendek pula... pundung didepan tv *lho.
Oke... maafkan saya yang telah menunggu keapdetan fic saya ini *nggak ada yang nunggu woi* maafkan kemalasan saya yang tidak berujung ini *males kok bangga
Sedikit bocoran, fic ini sebenarnya sangat melenceng sekali dari rencana awal, makanya judul dan isinya sangat tidak sinkron sekali, jadi maafkan keplinplan nan saya ini. dan saya mohon maklum karena saya berubah ide ditengah tengah pembuatan fic ini. saya berfikiran mau mengganti judul, tapi setelah saya fikir-fikir tidak apa-apalah seperti ini sudah terlanjurkan? *woii bilang aja lu payah kalo bikin judul.
Sekali lagi, terima kasih karena menyempatkan untuk mampir ke fic saya yang lagi-lagi bisa ngebuat orang pergi bolak balik ke toilet ini, dan sekali lagi maafkan keterlambatan pengapdetan fic ini.
Side story
Baru saja Shikamaru mendapat telefon dari kantor tempatnya bekerja, atau lebih tepatnya kantor yang dipimpin oleh ayahnya sendiri kalau dia harus menghadiri rapat mendadak dari kantornya. Yah... mau bagaimana lagi mau tidak mau dia harus pergi .
"Maaf Sakura, sepertinya aku harus pergi sekarang," katanya, "apa aku harus menyusul Ino dari toilet? Aku tidak enak kalau pergi begitu saja." Ujarnya dengan sangat menyesal.
"Ah, tidak perlu kau pergi sekarang saja, nanti aku sampaikan permintaan maafmu pada Ino."
"Kalau begitu terimakasih."
Tepat saat Shikamaru membereskan laptop beserta flasdisk dan mouse, Sakura dengan cekatan mengambil ponsel Shikamaru dan meletakannya kedalam tas Ino yang dengan sangat kebetulan sekali ditinggalkannya dikursi. Bahkan Sakura bisa lebih licik dari para pencopet, perambok, bahkan bandit-bandit profesional. Dan parahnya, Shikamaru yang disibukkan dengan segala tetek bengek laptop dan teman-temannya tidak sadar kalau kejadian ini disengaja.
"Sampai jumpa Sakura." Shikamaru meninggalkan Sakura. Dan Shikamaru memang melupakan ponselnya.
Mati-matian Sakura menahan tawa karena rencananya berhasil. Sepertinya dia harus mengadakan pesta keberhasilannya, dan membuat para pencopet, perampok, dan bandit-bandit profesional itu bangga padanya.
"Shikamaru mana?" dengan cepat Sakura berpura-pura sebiasa mungkin. Dia tak ingin Ino merusak rencana yang sedang dia buat. Sakura yakin Shikamaru bisa menjadi pendamping Ino yang baik. Ya iyalah, dia matian-matian berpura-pura sok akrab agar Shikamaru mau menjawab semua pertanyaan konyolnya yang biasa menjadi tugas para ayah kepada calon menantunya.
"Oh, dia ada urusan mendadak jadi dia pulang duluan, aku yang menyuruh, soalnya aku pikir kau pasti lama di toilet." Jawab Sakura enteng.
"Oh, pulang yuk." Sakura tersenyum sekilas. Tampaknya Sakura mengambil langkah yang benar, dia yakin sahabatnya menyukai Shikamaru.
00oo00
Sakura sengaja akan menguhubungi Shikamaru tengah malam agar dia mengambil ponselnya dihari berikutnya. Dengan berbekalkan ponsel ditangannya Sakura memasuki kamar Ino. Seperti biasa Sakura masuk ke kamar Ino tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Belum tidur pig?" Sakura mulai melancarkan aksinya. Ino yang sedari tadi berbaring kini sedikit menegakkan tubuhnya.
"Hmm. Ngapain tengah malam ke kamarku?" Ino sedikit menyipitkan matanya, cahaya lampu yang baru saja dinyalakan Sakura membuat matanya silau.
"Cargerku ketinggalan dirumah, aku pinjam punyamu pig." Harus diakui, apa pun yang berhubungan dengan Ino sudah sangat Sakura kenali, termasuk carger yang selalu ada didalam tasnya.
"Cari sendiri ditas." Nah, nampaknya Ino masih kesal dengan Sakura. Ino pergi ke kmar mandi, bagus dia bisa melaksanakan misinya dengan mudah. Buru-buru dia menghidupkan ponsel Shikamaru dan mencari nomor telefon rumahnya, lalu Sakura menyimpannya di ponselnya sendiri dan terakhir yang penting, dia harus mematikan ponsel Shikamaru.
"Aku pinjam dulu." Ujar Sakura, menunjukan carger pada Ino.
Misi siap untuk dilaksanakan. Untuk kemungkinan-kemungkinan Shikamaru sudah tidur sudah dipersiapkan sejak awal, makanya untuk antisipasi Sakura menyuruh Naruto untuk membantu mempermulus rencananya. Sakura menyuruh Naruto mencegah Shikamaru apa pun caranya agar dia tidak tidur, jadi dia tidak harus memikirkan kemungkinan tidak diangkat telfon darinya.
"Halo, benar ini nomor keluarga Nara?" Sakura pura-pura memastikan, oh ayolah dia sudah mencari dari sumbernya.
"Halo, ini siapa?" bagus, Sakura tepat sasaran dia sendiri yang mengangkat telefonnya. Tapi difikir-fikir kerajinan juga Shikamaru mau mengangkat telefon tengah malam begini.
"Oh, syukurlah," Sakura lagi-lagi berpura-pura lega, "kau mencari ponselmu? Tadi tertinggal di cafe, dan saat ini ponselmu ada di Ino." Bohong. Kebohongan besar kalau ponselnya tertinggal, jelas-jelas Sakura endiri yang mencurinya dan meletakkannya di tas Ino.
"Terima kasih kuambil besok pagi, tadinya kukira benda itu hilang." Dan ajaibnya, harusnya Shikamaru curiga dong, tapi Sakura tak mau ambil pusing.
"Baiklah, maaf mengganggu tengah malam begini, tadinya Ino menyuruhku untuk memberi tahumu tadi sore tapi aku lupa." Nah ganjilkan? Harusnya kalau ponsel itu ada di Ino kan Ino yang berkewajiban memberitahunya. Ah abaikan Shikamaru, biar di mengira kalau Ino masih marah padanya.
"Tak apa sekali lagi terima kasih."
00oo00
Pagi-pagi sekali pintu keluarga Yamanaka sudah dikejutkan dengan adanya tamu yang diundang Sakura. Saking paginya, bahkan ada beberapa orang dirumah itu yang belum bangun, eh ralat bukan beberapa tapi, hanya satu orang dan tak lain dan tak bukan orang itu adalah Yamanaka Ino.
"Ya, sebentar." Kata Sakura. Dia sudah memperkirakan kalau Shikamaru akan datang pagi-pagi.
"Oh kau? Masuk." Dan tebakan Sakura seratus persen tidak meleset, "yah, ini teman Ino." Sakura mengedipkan sebelah matanya. Inoichi yang sedari tadi membaca koran paginya sepertinya lebih tertarik pada berita hot yang disampaikan Sakura ketimbang berita dikoran.
"Nara Shikamaru paman." Kata Shikamaru singkat.
"Yamanaka Inoichi, ayah Ino." Istri Inoichi tampaknya sudah mengetahui siapa orang yang bertamu kekediamannya sepagi ini, dia akhirnya keluar dari dapur untuk bergabung melihat si tamu.
"Wah...wah...wah... jemput Ino ya?" Nyonya Yamanaka keluar dari dapur dengan membawa nampan, lengkap dengan kopi dan pendamping khusus untuk suaminya.
"Langsung ke kemar Ino saja yuk." Sakura dengan seenaknya menggeret Shikamaru ke kamar Ino.
Disanalah terbaring gadis cantik yang sedang menikmati tidurnya yang baru berlangsung beberapa jam yang lalu, sebab dia memang baru bisa tidur beberapa jam yang lalu.
"Pig, bangun." Sakura langsung menarik selimut tak berdosa itu dengan brutal. Shikamaru yang melihat kejadian tersebut hanya memperhatikan dan tersenyum samar.
"Ugghh." Ino hanya mengerang, dia kembali menarik selimutnya.
"Kau sudah telat pig, cepat bangun." Sakura kembali menarik selimut yang digunakan Ino, kali ini lebih brutal, Sakura tak tanggung-tanggung menarik tangan Ino. Tapi sepertinya itu pun juga tak berpengaruh sama sekali pada Ino, dia kembal menarik selimutnya.
"Emm, Sakura jadwalku malam biarkan aku tidur." Ino tetap tak mau beranjak dari alam mimpinya.
"Bangun... atau kugeret kau ke kamar mandi saat ini juga." Sakura tersenyum tipis.
Shikamaru langsung merasa ada yang tidak beres. Perasaannya mendadak tidak enak. Apalagi setelah Sakura membisikkan rencana gilanya. Shikamaru bahkan berfikir ini ide gila Sakura akan membawa bencana baginya.
"Coba saja kalau berani." Tepat. Kalau saja Ino tahu rencana Sakura yang sebenarnya dia tak akan berani mengeluarkan tantangannya.
Bukan Sakura kalau tidak gila. Shikamaru menggelengkan kepalanya, dia tidak menyetujui ide gila Sakura. Tapi bukan Sakura kalau dia tidak berhasil mewujudkan keinginannya. Sakura sedikit mendorong Shikamaru untuk mendekat pada objek rencana gilanya.
Shikamaru tahu ini ide yang buruk, tetapi kenapa dia melakukannya juga? Shikamaru bahkan tersenyum tipis saat melakukan ide gila Sakura. Andai Sakura tahu, dia pasti langsung mengubah total strategi untuk mendekatkan mereka berdua.
tepat beberapa detik setelah Shikamaru mengangkat Ino menuju kamar mandi Shikamaru, Ino membuka mata, "aaaaa." Ino menjerit keras. Kalau saja salah satu tangan Shikamaru bebas, dia pasti sudah menutup telinganya rapat-rapat.
Shikamaru, harusnya kau sadar kalau kekasih teman baikmu itu sengaja membuat masalah padamu agar kau selalu berurusan dengan si Yamanaka. Dan harusnya sang Nona Yamanaka sadar kalau sahabatnya sendirilah yang sengaja membuatnya terus berurusan dengan Tuan Nara ini. Jadi Nona Yamanaka, bukannya Tuhan tidak mau mengabulkan do'amu, tapi sahabatmu sendirilah yang usahanya terlalu sayang kalau Tuhan tidak membantunya.
