based on Yuusei Matsui's Assclass
Snapchat
ditulis oleh rayi cendana
Snapchat selanjutnya datang dalam perjalanan menuju Ikebukuro. Durasi video tersebut lagi-lagi lima detik dengan urutan: lantai keramik putih, rak buku, dan Manami yang sedang memilih buku menyampingi kamera. Tanpa suara, tanpa tulisan apa-apa. Tapi itu bukan masalah.
Itona dan Chiba berhasil membuntuti target menuju lokasi selanjutnya. Sesuai dengan analisis, tujuan mereka adalah Junkudo, toko buku prestisius yang terletak di bagian tenggara stasiun JR. Gedung sepuluh lantai yang dibangun dengan eksterior tinted glass tersebut menawarkan koleksi lengkap dari buku dongeng klasik Jepang hingga majalah fashion luar negeri.
Berdasarkan informasi dari Kanzaki, dalam video tersebut terlihat rak dengan novel-novel karyatama seperti The Great Gatsby dan A Clockwork Orange versi bahasa inggris, yang menandakan mereka berada di lantai paling atas, dimana satu lantai itu dikhususkan untuk buku yang tidak ditranslasi.
Tetapi, dibanding tim itu langsung main serbu dan menyebabkan kerusuhan (ditambah lagi mereka masih pakai seragam yang artinya mereka membawa nama besar sekolah), Karma memerintahkan dua orang untuk masuk ke medan tempur menggantikan Chiba dan Itona (yang terlalu mencolok) dengan tujuan memata-matai aktivitas target dan menjaga agar keberadaan mereka tetap terdeteksi.
Dikirimkanlah Kanzaki dan Isogai (orang-orang yang berpenampilan paling natural untuk masuk ke sebuah toko buku). Selagi keduanya bertugas, anggota tim lain akan mengepung Junkudo, termasuk berjaga di stasiun, demi meminimalisir resiko kehilangan jejak.
"Poor Committee Member melaporkan dari lokasi. Target berhasil dikunci."
"Laporan diterima. Lanjutkan."
"Roger." ucap Isogai sebelum menutup sambungan. Matanya mengintip dari balik rak buku. Gakushuu Asano dan Manami Okuda tengah berbaris di antrian kasir. Mereka tidak sedang mengobrol. Manami nampak sibuk memperhatikan tumpukan buku di pelukannya sementara Gakushuu menjelajahkan pandangannya ke sekeliling.
"Aku ingin bicara pada Okuda-san," Kanzaki ikut melongohkan kepalanya dari atas kepala rekannya. "Bagaimana kita dekati mereka? Ceritanya pura-pura berpapasan?"
"Aku juga ingin begitu. Tapi kita tidak boleh bergerak tanpa perintah, 'kan, Grandmaster Kanzaki?" Isogai mengangkat bahu. Senyuman simpul menghiasi bibirnya.
Ketika kedua target telah sampai di ujung antrian dan sedang melakukan transaksi, Isogai segera melapor ke ketua tim untuk memastikan kesiapan tim lain yang seharusnya sudah stand by di lantai bawah. Tiga menit kemudian pembelian target selesai dan mereka kini berjalan menuju lift.
"Oh gawat! Gawat! Mereka menuju ke arah kita!" Isogai buru-buru ambil langkah mundur.
"K-kita sembunyi dimana?!" ada getaran dalam suara Kanzaki.
"Mundur! Mundur!"
"Huh? I-Isogai-kun? Kanzaki-san?"
Keduanya menutup mata, nafas mereka tertahan, dan jantung mereka berhenti sejenak. Mungkin karena kurang persiapan, mereka salah perhitungan dalam memilih persembunyian. Ditambah lagi posisi mereka yang sangat tidak natural; Kanzaki sedang duduk bersimpuh dan Isogai dalam posisi merangkak. Tamat sudah riwayat mereka oleh sang ketua.
Kanzaki bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di roknya dengan elegan. "Wah, Okuda-san? Kebetulan sekali ya."
"Eh? Asano-kun?" Isogai berusaha membuat nada herannya sealami mungkin. "K-Kalian berdua sedang belanja bersama?"
Gadis berkacamata itu menggigit bibir, merundukkan kepala, mengeratkan pelukan terhadap kantung plastik belanjaan yang baru saja diperolehnya. Tersirat jelas dalam reaksinya, ia tidak mau pertemuan itu terjadi. Sedikit yang ia ketahui, ketiga insan berambut hitam itu mengharapkan hal yang sama.
Baru saja Kanzaki mau membuka mulut, Gakushuu memotong. "Maaf, kami buru-buru," ucapnya sambil menarik lengan Manami dan bersicepat menuju lift, meninggalkan kedua murid teladan kelas E itu dengan mulut ternganga.
"Grandmaster Kanzaki disini! Target masuk ke lift! Diulang, TARGET SUDAH MASUK KE LIFT!"
"ITU SIAPA YANG JAGA DEPAN LIFT?!"
"WOY BANTU COVERIN PINTU MASUK! SI EMO LAGI KE TOILET!"
"Disini Baseball Geek dan Gender! Kami berada di depan lift lantai dasar. Pintu lift sudah terbuka tapi target tidak ditemukan."
"TANGGA DARURAT WOY! ITU MEREKA KELUAR LIFT DI LANTAI DUA TERUS TURUN PAKE TANGGA DARURAT!"
"SIAPA JAGA DEPAN?"
"Disini Gyaru English dalam tahap pengejaran! Target sedang berlari menyusuri trotoar, dipastikan menuju ke stasiun. Forever 0 dan Amazing Monkey harap bersiap!"
"KEJAR TERUS, BULE LOKAL!"
Karma memejamkan mata, berusaha meredam penat dalam kepala dan denging di satu telinga. Demi apapun, apakah anggota tim tersebut tidak tahu kalau menggunakan transceiver itu tidak perlu teriak-teriak? Jika ini adalah latihan assassinasi, Karasuma-sensei pasti sudah memerintahkan mereka untuk piket di gunung sebagai hukuman.
Sebenarnya mendapati target kabur bukan tindakan yang mutlak salah. Karma sendiri tidak berniat untuk melancarkan aksi disini. Junkudo berada di tengah kota Ikebukuro dan rush hour masih belum selesai. Menimbulkan keributan akan mengundang atensi para polisi, yang pastinya berujung pula dengan nama sekolah.
Sekarang, hanya tinggal menunggu info dari Kayano dan Okano yang sudah berjaga di pintu timur stasiun kereta. Tapi penantian itu tidak berlangsung lama. Sekitar lima belas menit kemudian suara mezzo-sopran milik gadis berambut emerald tersebut terdengar di transceiver.
"Disini Forever 0. Target masuk ke platform 4 Yamanote loop line."
Lagi-lagi kereta! "Apa kalian mendapat petunjuk lain?"
"Ya, walau aku tidak yakin ini bisa dibilang petunjuk," Kayano berdeham sebelum melanjutkan. "Kau tau, dari kejauhan kami sempat melihat mereka membeli tiket di mesin penjual sebelum masuk ke gerbang. Intinya, kami rasa Asano-kun tidak suka uang receh. Ia menginggalkan kembaliannya di mesin. Ada Tiga keping 100 yen dan dua keping 20 yen."
"Karma, kau juga pernah meminjamnya kan? Komik Detective Conan volume 18 punya Fuwa?" Okano memotong percakapan mereka. "Kau ingat kasus yang Ai Haibaranya baru muncul? Yang ada anak cowok minta dicariin kakaknya? Pokoknya yang ada Lady in Black sama uang palsunya!"
"Sudah kuduga kau terobsesi dengan Conan ya, Okano-san." Karma tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Ya, aku inga-"
Benar juga. Memperkirakan destinasi target saat ini bukan hal yang tidak mungkin. Layaknya apa yang dilakukan detektif SMA yang mengecil karena APTX itu, mereka bisa mengira-gira stasiun yang dituju target lewat uang kembalian yang Asano tinggalkan!
Oke, tiga keping 100 yen dan dua keping 20 yen. Total 340 yen. Jika kembaliannya 340 yen dan si pirang membayar dengan selembar uang 1000, maka harga tiket mereka 660 yen, perorang 330 yen.
Harga tiket Ikebukuro ke pusat Tokyo hanya makan 200 yen, jadi kemungkinan besar mereka pindah kereta. Tarif terendah tiket kereta JR 140 yen. Jika mereka pindah kereta di stasiun Tokyo, total tiket mereka paling murah 340 yen perorang. Ceritanya akan lain bila mereka turun di Ueno dengan tarif 170 yen. Jika begitu mereka hanya ganti jalur Ginza dengan tujuan paling akhir seharga 160 yen. Jika ditotal . . .
"Asakusa. . . Tujuan mereka selanjutnya ASAKUSA!" si surai merah itu langsung mengumumkan ke seluruh anggota tim. "Forever O dan Amazing Mongkey, kalian kejar mereka! Anggota lain berkumpul di depan stasiun!"
"AYE AYE CAPTAIN!"
Asakusa nampaknya adalah tempat yang sangat pas untuk melancarkan aksi. Berbalik dengan Ikebukuro, begitu malam tiba para turis maupun orang lokal yang mengunjungi distrik keberadaan kuil Sensō-ji tersebut menurun drastis. Jangankan tonjok-tonjokan, mau bikin pertunjukan barongsai juga bisa jadi tidak ada yang sadar. Lagipula kuil dewa Kannon tersebut tutup jam lima. Apa yang mereka lakukan disana?
Ah, sekarang yang terpenting bagaimana mereka bisa meraih Asakusa? Jaraknya cukup jauh, naik kereta saja 30 menit. Parkour juga bisa makan waktu sekitar satu jam. Apa naik kereta selanjutnya adalah keputusan yang tepat?
"Loh? Kalian ngapain masih keluyuran jam segini?!"
Atau meminjam mobil dari seorang wanita pirang keturunan Serbia ini sepertinya bukan ide yang buruk.
rayi's note:
sebenarnya Junkudo bookstore itu kasirnya cuma satu di lantai BF, but for the sake of this fanfic, anggap aja kasirnya ada setiap lantai ya!
dear some guest called amurou: jadi ceritanya draft awal fanfic ini tuh udah kelar cuma komputernya kena virus terus data ilang semua, kaga ada yang mau ngelanjutin. thankfully setelah pencarian lebih lanjut setengah dari file chapter 4 ditemukan. It's dedicated to you!
