Bullying? Chapter 4

Disclaimer : Bleach - Tite Kubo

Warning : OOC, pasti ada Typo, dan beberapa kekurangan lainnya.

.

.

.

Hari ini Kurosaki Isshin melakukan kunjungan ke Sekolah anaknya. Rasa penasaran membuatnya tak sabar untuk segera datang ke tempat dimana ia bisa bertemu dengan calon menantu. Laki-laki yang suka bertingkah konyol di depan anak-anaknya itu saat ini sedang melakukan obrolan ringan dengan Unohana Retsu, sembari menunggu guru muda yang berhasil memikat hati anak lelakinya datang ke ruangan dimana ia dan kepala sekolah sedang berbincang-bincang.

Dari sedikit informasi yang diberi Unohana, Isshin mengetahui kalau calon ibu dari cucu-cucunya kelak adalah seorang Kuchiki. Tentu ia mengenal baik keluarga bangsawan tersebut. Selain mereka pemilik tempat pendidikan ini, klan Kuchiki juga salah satu rekan bisnis Kurosaki. Anaknya cukup pintar mencari pendamping, meski ia tak melarang jikapun pilihan anaknya bukan dari keluarga terpandang.

Suara pintu diketuk menginterupsi komunikasi verbal antara Isshin dengan Unohana. Setelah pemilik ruangan memberi ijin orang di balik pintu untuk masuk, perhatian Kurosaki tua terpaku pada gadis yang sedang memberikan salam hormat. Sungguh gadis yang santun. Rasanya ia ingin sekali memeluk gadis mungil itu sambil berteriak,

"OH… PUTRI KETIGAKU…"

Sayang itu hanya sebatas angan-angan, soalnya kalau ia nekat melakukan hal tersebut dipastikan ia akan segera ditendang keluar oleh wanita yang terlihat keibuan tetapi galaknya tak terkira, yah siapa lagi kalau bukan Unohana Retsu.

"Maaf, ada apa Ibu memanggil saya."

Rasa kikuk serta canggung jelas dirasa Rukia. Sedari tadi lelaki hampir tua yang duduk di kursi tamu ruang Kepala Sekolah terus memandang ke arahnya. Tentu tak nyaman jika dipandangai secara intens seperti itu, apalagi Si pemandang terus memberikan senyum sumringahnya kepada Rukia. Tetapi demi menjaga kesopanan, ia tetap menganggukkan kepala memberi hormat pada orang yang jadi tamu bibinya.

"Ah, ya. Aku memanggilmu untuk memperkenalkan Pria Tua ini," sambut Unohana atas rasa penasaran Rukia.

"Dia ini Kurosaki Isshin, ayah dari Kurasaki Ichigo. Dan urusannya datang kemari untuk mengetahui perkembangan putranya," jelasnya lebih lanjut. Tertegun sejenak Rukia saat tahu siapa sebenarnya pria dewasa itu.

"Salam, kenal Kurosaki-san, saya Kuchiki Rukia Wali kelas sekaligus guru yang bertanggung jawab atas Kurosaki Ichigo," salam perkenalan Rukia sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan. Tentunya dengan sukarela Isshin menyambut uluran tangan tersebut. Tak tanggung-tanggung dua telapak tangan besarnya menggenggam erat sembari mengayun-ayunkan jemari lentik Rukia.

"Salam kenal, Nak. Kau tak perlu memanggilku dengan formal. Panggil diriku Otou-san saja ya!" bujukan Isshin jelas mendapat respons bingung serta kikuk dari Rukia dan reaksi yang diberikan oleh Unohana jelas delikan mata tajam bonus jitakan di kepala.

Rukia mengulum senyum melihat tingkah kedua orang dewasa di hadapannya. Awalnya gadis itu memang takut dengan sosok Isshin yang menurutnya berkelakuan sedikit aneh. Tetapi saat melihat ayahnya Ichigo itu mengusap-usap kepalanya sehabis dijitak oleh bibinya, ia menganggap Kurosaki tertua adalah sosok yang menyenangkan. Tak mungkin kan seorang Unohana yang biasanya kaku bisa bersikap kekanakan di depan keponakan dan tamunya.

"Cukup dengan omong kosongmu, Orang tua. Jika bertingkah yang aneh-aneh lagi, kau tak kuberi ijin lagi datang kemari," ancam Ibu Kepala Sekolah sebelum keluar ruangan meninggalkan Isshin dan Rukia di dalamnya. Ya, Unohana harus cepat-cepat pergi sebelum makin dibuat gila oleh kawan lamanya itu.

.

.

.

Dari obrolan yang tidak singkat dengan orang tua tunggal dari murid yang terpikat dengannya, Rukia mendapat banyak informasi mengenai Ichigo. Salah satunya adalah sebab mengapa di umurnya yang sudah berada di angka duapuluh tetapi laki-laki itu masih saja kelas dua SMA. Alasan yang cukup dangkal menurut Rukia. Hanya karena pria itu tidak mau mengurusi bisnis keluarga, Ichigo membuat dirinya sendiri selalu tidak naik kelas hingga tak lulus-lulus agar bisa menghindar dari tugasnya mencari nafkah. Sungguh sikap yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa lelaki yang tidak peduli dengan masa depan seperti itu mengajukan diri jadi kekasihnya. Eh, tapi kenapa tiba-tiba Rukia jadi sewot begini. Gadis itu jadi salah tingkah sendiri dengan pemikirannya barusan.

Segera setelah sadar dari lamunan pendeknya, Rukia kembali memberi atensi atas sosok Isshin yang sedari tadi masih terus saja bercerita panjang lebar. Syukurlah pria itu tidak sadar kalau tadi ia sempat mengalihkan fokusnya.

Isshin masih saja dengan lancar membicarakan tentang hal-hal seputar Kurosaki Ichigo, baik itu kelebihan maupun kekurangan yang dipunyai anaknya. Pria paruh baya itu sungguh berharap dengan ceritanya ini Rukia akan menaruh minat pada anak lelaki kesayangannya. Entah apa yang membuat Isshin sangat yakin. Ia sudah bertekad bahwa gadis manis di hadapannya ini harus jadi menantunya apapun yang terjadi. Dan kalau sampai Ichigo gagal mendapatkan hati gadis itu awas saja.

Awalnya Rukia ingin menjeda narasi Isshin, karena harusnya ia yang bertindak sebagai juru bicara tentang perilaku seorang Kurosaki Ichigo. Soalnya tujuan sahabat bibinya itu datang kemari kan untuk mengetahui perkembangan putranya di Sekolah, tetapi kenapa situasinya jadi terbalik begini. Seolah-olah Rukia lah orang yang patut diberitai mengenai perkembangan Ichigo. Yah, tapi melihat Isshin yang begitu antusias bercerita mengenai kehidupan putra satu-satunya dari lahir hingga sekarang, Rukia mengindahkan keinginannya tersebut. Lagipula tidak buruk juga mengetahui seperti apa karakter Ichigo langsung dari sudut pandang keluarganya.

Obrolan seru mereka terpaksa harus dihentikan karena sebentar lagi Rukia ada jadwal mengajar. Sedikit perasaan tak rela dari Isshin meski total waktu dua jam sudah mereka habiskan untuk bertukar cerita. Pasalnya pria humoris itu belum berhasil mengorek informasi pribadi tentang calon putri ketiganya. Sedari tadi Rukia selalu mengalihkan pembicaraan jika Isshin sudah bertanya seputar kehidupan pribadinya. Mungkin beliau saja yang terlalu terburu-buru, gadis tipikal Rukia tentu tak akan mudah membeberkan kisah hidupnya pada orang yang baru dikenal.

Setelah mengucapkan salam perpisahan dan janji untuk bertemu kembali di lain waktu, mereka segera beranjak pada kesibukan masing-masing. Isshin yang berencana untuk menemui putranya sebentar sebelum kembali ke perusahaan miliknya sedangkan Rukia bergegas pergi menuju kelas yang akan diajarnya.

.

.

.

Sudah dua hari sejak insiden pelabrakan Ichigo terhadap Ulquiorra. Dan sejak hari itu pula Ichigo tak pernah lagi melihat pria yang mirip vampire itu menjemput kekasih hatinya. Meski rasanya tak seru jika pria itu menyerah begitu saja, tapi Ichigo tetap merasa senang. Hatinya tak perlu lagi merasa sakit karena cemburu membayangkan wanita tercinta pergi berdua dengan pria lain.

Walaupun Rukia sudah tak terlihat bersama Ulquiorra lagi, bukan berarti hubungan Ichigo dengan wanita itu bisa dibilang baik. Apalagi Nona Kuchiki belum menyatakan kesediaannya untuk menjalin hubungan yang serius. Dua hari ini pun Ichigo belum juga berkomunikasi secara pribadi dengan kekasih impiannya.

Tapi keturunan Kurosaki itu berusaha maklum dan ia juga sadar diri dengan posisinya. Benar apa yang dibilang Ulquiorra tempo hari, ia yang sekarang ini masih berstatus sebagai seorang pelajar Sekolah Menengah. Jika ia nekat memaksa Rukia untuk menjalin hubungan, pasti tidak semulus yang dikhayalkan. Para keluarga Kuchiki jelas tak akan memberi mereka restu. Lagipula Ichigo juga tidak ingin menimbulkan kontrovesi mengenai hubungan asmara antar guru-murid yang jelas akan berpengaruh besar pada karir keguruan Rukia kelak. Jadi dengan kesabaran tingkat tinggi, Ichigo berhasil meredam keinginannya untuk selalu dekat-dekat dengan Guru muda itu.

Saat sedang asyiknya melamunkan tentang Rukia, tiba-tiba saja Ichigo mendapat pelukan erat dari arah belakang. Dan yang melakukan hal itu tidak lain adalah ayahnya sendiri. Ichigo yang dalam kondisi tidak sigap kali ini tidak bisa mengindari pelukan super sayang milik ayahnya.

"Oh anakku sayang, Ayah sangat merindukanmu…"

"Arghh… menjauhlah dariku, Oyaji!"

Dan seperti biasa adegan tak lazim antara ayah dan anak itupun semakin menjadi-jadi. Untung saja tempat mereka berada sekarang ini sedang sepi, jika tidak mereka pasti akan menjadi bahan tontonan dan tertawaan orang-orang berkat tingkah bodoh yang pasangan ayah-anak itu lakukan.

Setelah menghabiskan sekian menit untuk melakukan ritual pelepasan rindu dengan Sang anak. Akhirnya Isshin mulai kembali dalam mode seriusnya. Lagaknya kali ini benar-benar mencerminkan tokoh seorang bapak pada umumnya. Melihat ayahnya yang seperti itu lantas membuat Ichigo mengernyitkan dahinya bingung. Karena jarang-jarang ayahnya bersikap seperti itu jika tidak ada masalah yang dikategorikan serius. Dengan harap-harap cemas, Ichigo hanya bisa menunggu sampai Kurosaki senior bersuara.

"Nak…"

Ichigo tidak menyahut panggilan ayahnya, tetapi ia menengadahkan kepala agar coklat ambernya bisa menatap Sang ayah yang saat ini berdiri di depannya. Ia memang tidak berniat menyela sampai ayahnya mengijinkannya berbicara nanti. Tak lama kemudian Ichigo berdiri untuk menyamakan posisi mereka.

Setelah sama-sama berdiri pun Ishin masih belum menyampaikan isi hatinya pada Ichigo, ia hanya menepuk-nepuk pelan pundak kiri anaknya. Namun saat menyadari raut wajah putranya yang menengang, duda beranak tiga itu lantas mengulaskan senyum kebapakannya. Dan hal itu ampuh membuat hati Ichigo yang tadinya berdebar-debar cemas menjadi lebih tenang. Jujur saja, meskipun suka bertengkar akibat sifat ajaib dari suami mediang Kurosaki Masaki itu, tetapi Ichigo masih punya rasa takut dan tentunya rasa hormat terhadap orang tua tunggalnya.

"Kau sudah ini sudah dewasa." sambil merangkul pundak anaknya Isshin mengajak Ichigo untuk kembali duduk. Nasihat yang hendak disampaikannya nanti akan memakan waktu lumayan lama. Jadi ada baiknya jika mereka menyamankan posisi sebelum memulai perbincangan.

"Kau juga sudah mengenal apa itu cinta kan." Ishhin tertawa renyah, sedangkan Ichigo hanya melebarkan bola mata sebagai ungkapan rasa terkejutnya.

"Ayah ini bicara apa." meski mengelak semburat merah di wajah Tuan muda Kurosaki membenarkan apa yang dikatakan ayahnya. Secepat mungkin ia memalingkan wajahnya agar tidak semakin ditertawakan.

"Dengar gosip darimana sih," gerutu Ichigo pelan. Ia malu sekali sudah tertangkap basah oleh Sang ayah bahwa dirinya sedang jatuh cinta. Padahal dulu Ia menentang keras permintaan ayahnya untuk segera mencari pendamping. Dan bilang kalau Ia tidak akan jatuh cinta sebelum usianya mencapai 30 tahun.

Tapi kalau dipikir lagi, apa yang dikatakannya dulu sungguh hanya bualan belaka. Apanya yang berumur tigapuluh, bahkan saat usinya tujuhbelas tahun pun Ia sudah mulai mengenal apa itu cinta pandangan pertama saat pipinya dikecup pertama kali oleh Rukia. Ia pun menertawai kebodohannya sendiri. Waktu itu Ichigo sengaja berkata seperti itu agar ayahnya tidak mendesaknya cepat-cepat menikah sebelum Ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya.

Helaian orange jabriknya dibuat berantakan oleh Isshin. Meskipun sedang diperlakukan layaknya seorang bocah, tetapi itu tak menampik perasaan hangat yang muncul di hati Ichigo. Ayahnya kali ini benar-benar bersikap normal. Jadi tidak ada salahnya kalau Ia sedikit berbagi cerita cintanya. Lagipula sudah lama rasanya Ia tidak berbincang dengan orang yang sangat dihormatinya itu. Dan saat ini Ichigo sangat butuh nasihat serta dukungan dari satu-satunya orang tua yang Ia miliki.

Hingga akhirnya sesi 'curahan hati' pun dimulai.

.

.

.

Suasana hati Ichigo sedikit membaik setelah mencurahkan isi hatinya dengan Si ayah. Dan berkat nasihat dari orang tua itu, Ia akan mencoba untuk bersikap lebih baik lagi di Sekolah. Kata ayahnya, Ichigo harus bisa mengambil hati wanita cantik yang jadi target cintanya. Dan salah satu strateginya adalah dengan menjadi murid teladan. Makanya sekarang ini ia sedang berjalan menuju ke kelasnya. Semoga saja usaha kecilnya ini bisa membuat Rukia menaruh simpati padanya.

Saat berjalan di simpangan koridor, tidak sengaja Ichigo bertemu dengan Rukia. Meskipun hendak menuju ke kelas yang berbeda, tetapi destinasi mereka melewati jalan yang sama. Hanya saja saat berbelok Wanita itu belum sadar jika sudah berjalan bersisian dengan Ichigo. Paras cantiknya sedari tadi tertunduk memperhatikan modul pelajaran yang dibawa tangan kirinya sedang tangannya yang lain penuh dengan beberapa buku dan peralatan mengajar.

Dalam hening Ichigo terus saja memperhatikan gerak-gerik Rukia. Dilihat dari segi manapun Wanita itu sungguh menarik. Namanya saja orang sedang jatuh cinta, gadis yang dicintai tentu sangat terlihat sempurna dibanding apapun dan siapapun.

Lama-lama Rukia merasakan juga keberadaan seseorang di sebelahnya, lalu gadis berambut pendek memutuskan untuk melihat siapa orang itu. Dan ia lumayan terkejut saat tahu ternyata Ichigo yang berjalan di sampingnya. Tumben sekali anak itu tidak mencari perhatiannya.

Adegan saling menatap terjadi lagi di antara mereka, hanya saja kali ini pemilik lensa coklat segera memalingkan wajah saat kilau cahaya ungu tersorot padanya. Tak cuma itu, langkahnya pun Ia percepat hingga mereka tak lagi berjalan berdampingan.

Dan entah kenapa melihat sosok Ichigo yang terlihat mengabaikannya membuat Rukia jadi kesal sendiri. Dalam hatinya sudah tercipta beribu kata-kata kenapa? Bukankah kemarin lelaki itu sangat ngotot menjadikannya kekasih, tapi kenapa sekarang sikapnya jadi cuek begitu. Apa pria itu hanya mempermainkan perasaannya? Dan spekulasi lainnya terus bermunculan di benak Rukia. Dan tanpa sadar lukisan ceria di wajahnya ternoda dengan torehan tinta kekesalan.

Dalam radius dua meter yang Ia ciptakan, Ichigo tertawa puas dalam hati saat tak sengaja mendengar dengusan sebal yang keluar dari mulut Rukia. Lelaki itu bisa merasakan aura-aura mendung dari gadis di belakangnya. Ternyata ada bagusnya juga mengikuti tips dari ayahnya, 'Setelah kau kejar sorang wanita setengah mati, lalu bersikaplah seolah tidak peduli padanya'.

Sip… sepertinya satu point untuk mendapatkan hati Rukia sudah dimiliki Ichigo.

Brakkk

Suara benda terjatuh tak menarik juga perhatian Ichigo untuk menengok ke belakang. Dari bunyinya lelaki itu tahu kalau yang barusan terjatuh adalah beberapa buku. Entah sengaja atau tidak sepertinya Rukia menjatuhkan buku-buku yang dibawanya. Lagi-lagi ia tersenyum geli dengan gelagat tak biasa dari Rukia ini. Ichigo sengaja tak menoleh dan tetap meneruskan langkahnya, masih stay cool dan berpura tidak tahu apa-apa. Hingga akhirnya sebuah panggilan ragu membuatnya mengalihkan tujuan.

"Ku-Kurosaki. Bisa bantu aku!"

Dan sebelum berbalik tidak lupa senyum kemenangan bersarang di bibir Ichigo.

Good Job. Dua poin dalam waktu sekian detik.

.

.

.

Tbc