Disclaimer

Boboiboy © Animonsta Studio

IMMORTALS bt thunderpearl

Immortals © Fall Out Boy

.

.

Warning!

Typo, New Author, Bahasa Baku non Baku/?, cerita Tijel, AU, no super power, little bit OOC, Inspirasi dari lagu, Human!Alien, Human!Robot, Jika ada Sho-ai mohon maaf.

If U dont like it, Just dont read it.

.

.

.

IMMORTALS

.

.

.

Sometimes the only payoff for having any faith

Is when it's tested again and again everyday

.

.

.

Kadang untuk mendapatkan suatu hasil untuk memiliki suatu Iman, haruslah diuji lagi dan lagi setiap hari.

.

.

.

"Halintar, Lo di panggil Guru BP tadi." Ucap teman sekelas Halilintar kepadanya. Yang di panggil hanya memutar bola mata dengan malas dan tidak di pedulikan olehnya sama sekali.

"Woi Hal! Sana Lo ke Ruang BP!"

"Iya Hal! Sana Pergi! Keburu Guru BP datang ke sini!"

"Berisik." Ucap Halilintar sinis. Karena Halilintar sudah kesal mendengar teriakkan teman-temannya yang menyuruh dirinya ke Ruang BP, ia segera bangkit dari bangkunya dan berjalan menuju keluar Kelas.

Halilintar tahu pasti Teman sekelasnya menertawakan dan membicarakan dirinya setelah ia keluar dari Kelas, persetan dengan hubungan baik terhadap teman Kelas. Ia tidak peduli sama sekali. Mungkin mereka pikir mereka dapat memanfaatkan kepintarannya dan bersikap baik di depannya, setelah itu mereka mengolok-olok dia ketika tidak ada dirinya.

Sesampai ia di Ruang BP, Ia di sambut oleh tatapan tajam dari Kakak Kelas yang di tanggapi dengan datar oleh Halilintar. Ia pikir untuk apa takut melihat tatapan tajam dari Kakak Kelasnya itu.

"Ah Halilintar, tolong duduk di sini." Ucap salah satu Guru BP kepada Halilintar, Halilintar menggangguk dan segera duduk di kursi yang bersebelahan dengan Kakak Kelas yang masih menatapnya tajam.

"Baik, Kalian semua sudah ada di sini. Bapak ingin memberi tahu alasan mengapa Kalian ada di sin,Oh atau Kalian sudah tahu jawabannya?" Ucap guru yang menyuruh Halilintar duduk.

"Tapi Pak! Saya tidak salah! Dia yang menumpahkan minuman ke baju Saya!" Protes Kakak Kelas yang menatap Halilintar dengan sinis.

"Gue gak sengaja, dan inget ya! Gue sudah minta maaf sama Lo! Lo nya aja yang kurang ajar langsung mukul Gue!" Protes Halilintar tidak terima.

"Itu emang salah Lo! Jalan pake mata! Lo juga gak bilang Permisi waktu lewatin Gue!"

"Sepenting itukah kata Permisi buat Lo? Tch, dasar gila hormat!"

"A—Apa Lo bilang?!"

"CUKUP! KALIAN BERDUA HENTIKAN!"

"Ta—Tapi Pak..."

"EJO JO IBU BILANG CUKUP!"

"Baik Pak." Ucap Ejo jo sambil mendengus kesal.

Setelah Keduanya kembali tenang. Guru BP tersebut akhirnya memilih untuk duduk sambil memberikan hukuman kepada kedua Siswa di hadapannya.

"Kalian berdua, Kali ini Saya tidak akan memberikan Skorsing kepada Kalian. Tetapi, Kalian akan mendapatkan hukuman pengganti yaitu Kalian harus berdiri di tengah Lapangan dan hormat kepada bendera selama 3 Jam! Mulai dari sekarang!" Perintah Guru BP tersebut, Ejo jo dan Halilintar hanya bisa menghela napas dan mulai berjalan keluar dari Ruang BP.

"Hali, sebentar.."

Merasa namanya di panggil oleh Guru BP, ia kemudian berbalik dan menghampiri Guru BP tersebut.

"Ya Pak? Ada apa?" Tanya Halilintar berusaha sesopan mungkin.

"Kenapa akhir-akhir ini Kau bertingkah kasar? Apa ini masalah Orangtua mu?"

'Pertanyaan ini lagi..' Ucap Halilintar dalam hati. Sejujurnya Halilintar sudah jengah dengan perkataan orang-orang terhadap dirinya yang bersangkutan dengan Orangtuanya yang sudah meninggal.

"Tidak Pak, tidak dengan masalah itu. Maaf Saya harus menjalankan hukuman Bapak berikan kepada Saya." Ucap Halilintar.

Halilintar kemudian berjalan keluar Ruangan BP, Guru BP tadi hanya bisa menatap kepergian Halilintar dengan raut wajah khawatir. Ia tahu betapa sakitnya Halilintar mendengar kabar Orangtuanya yang tiada, dan itu merupakan alasan Guru tersebut mengetahui perubahan drastis Halilintar. Halilintar dulu tidak pernah bertindak kasar kepada Orang-orang. Ia termasuk Anak yang pandai dan ramah. 'Kau kenapa berubah nak?'

-oOo-

Bel pulang Sekolah telah berbunyi. Semua Siswa sudah berhamburan menuju Rumahnya masing-masing, begitu pun dengan Halilintar. Tanpa basa-basi ia langsung menyambar tasnya dan jangan lupa map berisi gambar miliknya. Ia tersenyum tipis karena akan menjemput Kedua Adiknya itu, ia juga sudah berjanji kepada Adik-adiknya untuk memberikan gambar pesanan milik mereka. Kalian Tahu? Halilintar mulai menggambar lagi, walaupun ia menggambar hanya untuk Kedua Adiknya saja.

Saat ia menuju gerbang Sekolah, tiba-tiba ada yang menarik dirinya dan menyeretnya ke Gudang Sekolah. Saat sampai di Gudang Sekolah, ia langsung di pukul di perutnya oleh seseorang yang menyeretnya tadi.

BUGH

BRUUK

Halilintar jatuh tersungkur. Ia berusaha mendongakkan kepalanya dan yang di dapati adalah Tom, Petai yang memukulnya, dan Ejo jo yang menyeringai dengan kejam ke arahnya.

"Ma—MAU APA LAGI LO HAH?" Teriak Halilintar tidak terima karena mendapat pukulan di perutnya.

"Well, hanya ingin membalas perbuatan Lo terhadap Gue aja kok. Adek Kelas Kurang Ajar~" Sindir Ejo jo dengan suara di main-mainkan.

"Ejo jo, dia bawa sesuatu!" Ucap Tom kepada Ejo jo.

"Ambil dan bawa barangnya ke Gue." Perintah Ejo jo yang kemudian di angguki oleh Tom yang artinya tanda setuju.

Tom Mengambil paksa map berisi gambar Halilintar, tentu Halilintar berusaha sekuat mungkin untuk menahan mapnya untuk tidak di ambil. Namun sayang, Ia kembali di pukul bertubi-tubi oleh Petai di tempat yang sama.

BUGH

BUGH

DUAGH

"AHHHHHH!" Jerit Halilintar menahan perutnya yang sakit di pukul oleh Petai.

Tom menghampiri Ejo Jo dan memberikan map Halilintar kepadanya. Ejo jo menerima map tersebut dan membuka isi dari map tersebut.

"HAHAHAHAHA, ternyata Adek Kelas Kita yang kurang ajar mempunyai hobi menggambar? Sungguh menarik." Ejo jo tertawa sinis kepada Halilintar.

"Ba—balikiin map Gue.."

"Wahh, sayang sekali Adek Kelas Ku tersayang~ Gue belum lihat semua hasil karya Lo!"

"Brengsek! Mau Lo apakan Gambar-gambar Gue HAH?!"

Ejo jo menyeringai ketika mendengar perkataan Halilintar. Ia pun mulai mendekati Halilintar. Setelah Ia mendekati Halilintar, Ejo jo kemudian menarik kerah baju seragam sambil menyeringai ke arah Halilintar.

"Kau mau tahu? Ok." Ejo jo melepas kerah baju Halilintar dengan kasar. Ia lalu mengambil map Halilintar dan merogoh saku celananya. Halilintar tegang dan matanya mengikuti pergerakan yang Ejo jo lakukan.

"A—Apa yang mau Lo buat?"

"Tunggu saja nanti. Tom tahan dia!" Perintah Ejo jo kepada Tom, Tom menurutinya. Kemudian dia menahan tubuh Halilintar dengan mencengkaram kedua tangannya.

"Woww, gambar yang bagus. Tapi sepertinya ada yang kurang ya?"

Halilintar terlihat panik, Ejo jo mengambil korek api yang ada di kantung celananya. Halilintar bertambah panik. Ia berusaha melepaskan dirinya dari Tom tetapi cengkaraman Tom begitu kuat, Halilintar melihat ke arah Ejo jo dan betapa terkejutnya ia karena Ejo jo sudah menggenggam semua gambar yang ada di mapnya. Halilintar merasakan firasat yang begitu buruk

"Well, Well, Gambar Lo banyak yang kurang! Gue bantu tambahkan apa yang kurang!"

"HEN—HENTIKAN! GUE MOHON JANGAN! JANGAN APA-APAKKAN GAMBAR GUE!"

Terlambat. Ejo Jo sudah meremas gambar-gambar Halilintar menjadi sebuah gumpalan yang sangat kusut, kemudian ia menyalakan korek api yang sudah di genggamnya dari setadi. Ia membakar gumpalan kertas yang tadi ia remas, dan melempar gumpalannya tadi ke arah Halilintar. Halilintar berteriak panik begitu gambar-gambarnya di bakar oleh Ejo jo.

"JANGAN! JANGAN GAMBAR GUE! HENTIKAN!" Jerit Halilintar histeris. Yang membakar gambarnya tidak menggubris sama sekali. Ejo jo hanya tertawa dengan sadis dan menatap Halilintar dengan senyuman remeh.

"Hph, nikmati saja lah Hal... Lo berhutang budi sama Gue! Hahahaha" Ejo jo tertawa sadis.

"JANGAN! GUE MOHON JANGAN! GU—GUE MO—MOHON!"

Halilintar terus berteriak, Ia tidak tahu harus berbuat apa dan terus memohon kepada Ejo jo untuk menghentikan perbuatannya. Halilintar sudah tidak tahan, ia terus berteriak keras dan tanpa ia sadari ia mulai menangis. Gambar-gambarnya yang ia simpan di map sudah mulai berubah menjadi abu.

"Gu—Gue mo—mohonn... hiks, hentikan! Hentikan!"

"Lo telat Hal, lihat! Gambar Lo dah jadi bagus! Hahahaha.. itu akibatnya kalo Lo macam-macam sama Gue! Tom dan Petai, habisi dia!"

"Gue mohon.. hiks.. Ja—Jangan! Le—Lepasin Gue!"

Kemudian Ejo jo meninggalkan Halilintar dengan Tom dan Petai. Setelah Ejo jo pergi, tanpa ba-bi-bu Petai dan Tom menghajar Halilintar habis-habisan. Halilintar tidak bisa berkutik, ia terlalu lelah akibat pertama kali ia menangis sejak kecelakaan Orangtuanya. ia hanya bisa pasrah menerima pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari Petai dan Tom.

"Hahahah! Rasa kan ini! Kau pantas menerimanya!"

"Bedebah sialan! Mati Lo! Ini akibatnya Lo kurang ajar sama Kakak Kelas!"

Setelah puas menghajar Halilintar, Petai dan Tom meninggalkan Halilintar yang sudah terbaring lemah. Halilintar berusaha meraih gambarnya yang sudah menjadi abu dan mengambil sedikit abu dan menggenggamnya, Halilintar mulai menangis lagi.

"Ma—Maaf, Hiks.. Gempa.. Api... y—yang Kalian minta ti-tidak bisa kakak berikan... Hiks.. Maaf.." tangis Halilintar, kepalanya terasa sakit yang begitu hebat. Ia merasa dirinya sebentar lagi tidak sadarkan diri. Sebelum Ia pingsan, Halilintar mendengar suara teriakkan dan derap kaki. Ia melihat Fang dan Taufan berlari ke arahnya, setelah itu semuanya menjadi gelap.

-oOo-

Halilintar mulai mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, Kepalanya masih terasa sakit dan pening. Ia melihat sekelilingnya, ia mendapati dirinya, Fang dan Taufan yang berada di Ruangan yang asing menurutnya. 'Bukannya tadi Aku ada di gudang ya?' pikir Halilintar bingung.

"HALILINTAR! AKHIRNYA SADAR JUGA!" Jerit Taufan senang sambil berusaha memeluk Halilintar, dan tentuya reflek Halilintar menepuk muka Taufan dengan kencang.

"Manjijikan!" ucapnya singkat dan dingin.

"JAHAT! GUE KAN KHAWATIR SAMA LO! GUE PIKIR LO BAKAL GAK BANGUN LAG!"

"Gue dimana?" Tanya Halilintar yang tidak menggubris ungkapan polos nan jujur Taufan. Taufan hanya bisa cemberut dan bersengut-sengut karena tadi mukanya di tepuk dengan kencang oleh Halilintar.

"UHH~ Muka Gue yang tampan nan menggemaskan ini sakit di tepuk Hali~ Kejamnya~"

Halilintar dan Fang menatap datar Taufan. 'Narsis amat' pikir mereka bersamaan. Merasa pertanyaan tidak di jawab, akhirnya Halilintar bertanya kembali kepada Fang.

"Woi Fang! Gue dimana?"

"Oh, Lo di Kamar Gue. Btw, luka Lo sudah di obatin sama Taufan."

"Oh." Ucap Halilintar singkat. Ia mulai berpikir-pikir bagaimana mereka bisa menemukan dirinya yang tadi berada di Gudang Sekolah? Halilintar terus berpikir-pikir. Melihat Halilintar yang termenung, Taufan pun berbicara.

"Lo pasti mikir, gimana caranya bisa nemuin diri Lo kan? Kita tahu dari anak-anak sekitar gudang yang belum balik."

"And well, They still judge you about an accident with senior." Tambah Fang menambahkan perkataan Taufan.

Halilintar hanya bisa terdiam. Ia sudah di labrak oleh Ejo jo, di tambah dengan orang-orang yang masih mengejek dirinya. Tiba-tiba ia merasa pundaknya yang di tepuk oleh seseorang, ia menoleh dan mendapati Fang menepuk pundaknya dan tersenyum lembut kepadanya.

"Tenang, Kita masih ada di sisi Lo kok!" Ucap Fang menenangkan.

"YOP! MASIH ADA KITA HAL~ ANGGAP AJA SEMUA INI COBAAN SUPAYA LO KUAT! YAKIN DEH NANTI LO JADI ORANG HEBAT! PEGANG OMONGAN GUE!" Ucap Taufan mantap.

Halilinta hanya bisa termenung, Ia tidak menyangka Kedua temannya masih mau mendukungnya. Halilintar tersenyum tipis, rasanya dia ingin menangis terharu. Halilintar mengusap matanya yang mulai basah dan menatap Fang juga Taufan.

"Iya.. Hal ini pati bikin Gue lebih hebat lagi dari sekarang." Ucap Halilintar sambil tersenyum.

Fang dan Taufan tersenyum lega, Halilintar sekarang sudah mulai bangkit. Memang masih perlahan-lahan, tapi hal ini merupakan suatu anugerah bagi mereka berdua. Mereka akan tetap menemami Halilintar Bagaimanapun caraya.

.

.

.

.

To Be Contiue

.

.

.

.

A/N:

Lama tidak update ya? Maafkan Saya, beberapa waktu yang lalu Saya ada problem dengan internet dan saya juga sedang stress dengan pesantren kilat dan rapat untuk demo ekskul;-;. Saya mohon maaf apa bila cerita ini jadi pendek, dan mulai aneh. Saya sangat menerima kritikkan dan saran dari pembaca semua~ terima kasih sudah mau membaca cerita saya~

Can U please gimme a some review?