A/N: Moving On chapter 4 is here! In front of you guys! Oh, no one asked…I see…well…sorry for the lack of updated. I got stuck on my own head because I got too carried away when I wrote TBOVP chapter 6. I needed some break and I have life to live. Nah, this chapter updated suddenly! It's important for me, at least. Aaaand thank you very much for reading and reviewing the last chapter! I love you guys! You are all awesome!
Happy reading and enjoy!
Disclaimer: Ran Ishibazaki doesn't own Gakuen Alice, nor does she own its characters, especially Natsume and Mikan. Gakuen Alice is belong to Tachibana Higuchi-sensei.
Summary: Dua tahun lalu, dia telah kehilangan orang yang penting dalam hidupnya. Laki-laki yang pernah dicintainya telah pergi untuk selamanya. Sekarang, Sakura Mikan, Mahasiswi di Universitas Alice, dapat kesempatan untuk bertemu orang itu lagi. Atau begitulah pikirnya…
Two Years Earlier.
Mikan mendengar suara berisik di dekatnya. Namun dirinya tak ingin terganggu untuk membuka mata sekarang. Ia sangat lelah. Namun saat suara itu semakin keras mengelilingi dirinya, ia merasakan tubuhnya seperti diguncang-guncang oleh seseorang. Membuatnya mau tak mau harus membuka mata kantuk hazel-nya hanya untuk bertatapan dengan kepanikan di raut wajah ibunya, Sakura Yuka.
Mikan mengusap-usap matanya, dalam rasa kantuknya terdapat kebingunagn saat melihat ibunya mengambil sebuah jacket kulit dari dalam lemari pakaiannya dan memakaikannya untuk dirinya dengan cepat. "Ada apa…?" tanyanya yang masih sedikit mengantuk.
"Tak ada waktu untuk ini! Kita harus cepat!" kata Yuka dengan nada serak sambil berusaha memasukkan lengan Mikan dalam jacket yang dipegangnya.
Mikan mengenyit. "Tapi ada apa?"
"Kami bohong padamu," kata Yuka lagi dengan cepat. Ia menarik bahu Mikan untuk menghadapnya saat mata Mikan menatapnya bingung. Disingkirkannya cepat helaian rambut brunette anaknya itu agar pandangannya tak terhambat. Ia menggeleng dengan raut wajah yang masih panic sekaligus sedih. "Kami bohong," ulangnya, tersedak oleh kata-katanya. "Ryu tak baik-baik saja. Kanker. Ryu sudah lama mengidap kanker. Sekarang di rumah sakit Ryu sedang berusaha melawan masa kritisnya. Kita harus cepat—Tak ada waktu untuk berargumen—kita harus ke rumah sakit sekarang! Tsubasa menunggu!"
Tanpa aba-aba Yuka langsung menarik tangan Mikan, berlari sambil menuntun Mikan menuruni tangga ke ruang tamu kemuadian keluar rumah menuju mobil Tsubasa yang telah siap di pinggiran jalan depan gerbang.
Ia sama sekali tak memberi Mikan waktu untuk mencerna apa yang barusan dikatakannya.
"Kalian lama sekali!" sergah Tsubasa yang sama paniknya dengan Yuka saat mereka berdua—ia dan Mikan masuk dalam kursi penumpang di belakang. Namun Yuka tak memberi soal, hanya menyuruh Tsubasa untuk menyalakan mesin dengan cepat.
Dalam perjalanan, Mikan yang tangannya digenggam Yuka merenung, pandangannya kosong ke depan. Ia sedang mencoba untuk mencerna semua informasi yang diberikan oleh ibunya.
Ryu sudah lama mengidap kanker dan sudah jelas ia tak baik-baik saja.
Tapi bagaimana…?
Terakhir ia perikasa kemarin Ryu baik-baik saja.
Tak lama setelah memikirkan itu, ia merasakan Tsubasa menghentikan mesin mobilnya. Mereka sudah sampai di rumah sakit yang buka duapuluh empat jam.
Dan dalam rumah sakit sudah tentu Ryu sedang tak baik-baik saja.
Mikan menggelengkan kepala saat kenyataan menghampirinya. Matanya berkunang dan kepalanya terasa berputar. Tubuhnya yang langsung keluar dari dalam mobil menuju pintu depan rumah sakit seperti berada dalam intuisinya sendiri. Ia terus berlari, meninggalkan Tsubasa dan ibunya yang berusaha untuk menyamai kecepatannya di belakang.
Ia membuka mulutnya. Tetapi tak ada satu pun suara yang keluar, yang terdengar hanyalah suara getaran nafasnya yang keluar-masuk melalui mulutnya. Kedua alis matanya berkerut dan matanya nanar, dirinya dapat merasakan itu. Rasa kantuk beberapa saat yang lalu telah menghilang dan kemudian digantikan dengan perasaan takutnya sendiri.
Ia terus berlari, menyusuri koridor dan melewati setiap kamar di dalam rumah sakit tersebut. Berlari cepat dan berbelok ke kiri, ia menemukan sosok wanita sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya di dinding dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
"BIBI!"
Suara tinggi Mikan mengalihkan perhatian wanita tersebut dengan cepat. Ditolehkannya kepalanya pada Mikan yang berlari ke arahnya dan dengan cepat ia menabrakkan dirinya, merangkul Mikan erat dan menumpahkan air matanya di bahunya.
Mikan menatap pintu ruangan Ryu yang tertutup lewat bahu Kaoru yang bergetar. Alis matanya masih berkerut dalam ketegangan dan nafasnya masih sedikit tersengal-sengal.
Di dalam sana ada Ryu, sedang bergulat dengan masa-masa kritisnya.
Mikan menutup kelopak matanya dan tangannya mengusap-usap punggung Kaoru lembut, berusaha memberikan ketenangan pada orang-yang-telah-ia-anggap-ibu itu bersamaan memberikan ketenangan yang sama pada dirnya sendiri setelah ketegangan itu mulai merangkak di kulitnya. "Ryu…"
"Di-di dalam…"
Bukan itu yang ia maksud, Mikan ingin mengatakannya, Mikan ingin meneriakinya. Namun ia tak mampu menemukan suaranya. Hanya membiarkan perasaan terkoyak itu menyelubungi hatinya.
Mereka menunggu dalam diam dan ketegangan rasa sambil terus berpelukan, tak lama setelahnya Ruka dan Hotaru datang beberapa menit setelah Yuka dan Tsubasa berhasil sampai pada Mikan dan Kaoru.
Tak ada yang mengutarakan kata-kata dalam situasi tegang itu, hingga akhirnya sang dokter yang memakai masker putih keluar dari ruangan orang yang mereka tunggui.
Hati Mikan seolah baru saja ditusuk oleh pisau yang tajam begitu ia melihat wanita—dokter tersebut membuka maskernya dan menggelengkan wajahnya pelan dengan wajah yang menanggung kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Darahnya terasa membeku di dalam setiap nadinya, seolah berhenti mengalir. Ia melangkahkan kakinya yang terasa berat, berjalan mendekati dokter tersebut tanpa memperdulikan tatapan darinya.
"Nona Sakura Mikan—ah…Igarashi-san sudah menunggu…" ujar sang dokter, memperhatikan gadis dengan rambut panjang brunette melewati dirinya dan masuk dalam ruangan tanpa menoleh ke belakang atau membalas tatapannya.
Saat melirik ke arah orang-orang di depannya, ia menemukan mereka semua membeku sambil terus memandangi dirinya, membuat perasaan sesal yang sudah dalam itu semakin terasa sesak dalam dirinya. "Igarashi-sama…" panggilnya pada Kaoru. "Igarashi-san bilang "I love you…"," lanjutnya sambil tersenyum pahit begitu Yuka memeluk Kaoru yang tubuhnya sudah melemas. "Saya permisi dan akan kembali bila dibutuhkan," lanjutnya lagi sambil menundukkan kepalanya sekali pada keluarga pasiennya, meninggalkan perawat sekaligus sekretarisnya untuk melakukan pekerjaan sisanya.
Saat melirik untuk yang terakhir kalinya, ia melihat beberapa anak muda itu menundukkan kepala mereka, menyembunyikan rasa sedih mereka. Ia menutup matanya perlahan.
Betapa ia sangat tak suka melihat airmata itu saat ia tak mampu menyelamatkan satu nyawa.
Tapi itu lah kehidupan, tebaknya. Ia tak mampu mengubah apa yang telah menjadi kehendak Tuhan.
Kami-sama…berikan mereka semua kekuatan dan ketabahan.
Terutama untuk sang brunette yang tadi sempat ia lihat rasa shock dan bingung dalam tatapan kosongnya.
Moving On
By
Ran Ishibazaki
Chapter 04
Present Time.
Holy. Bloody. Shit.
Dirinya sama sekali tak bermaksud dengan semua ini. Tak pernah berpikiran untuk bertabrakan dengan sang brunette seperti ini. Tapi semua ini berada di luar kendalinya! Sesungguhnya ia tak ingin bertemu dengan brunette dengan cara seperti ini! Ia hanya ingin menjadi seorang yang mengamati perkembangan sambil memastikan bahwa sang brunette pulang dengan selamat dan ia akan mengembalikan tas kulit—yang ia yakini adalah milik sang brunette—yang tadi ia temukan di lantai makam pada Ruka dengan tenang.
Ia menolak jika ia disebut sebagai seorang stalker.
Live with that.
Tapi tidaaaaak, tidak. Sang brunette telah merusak rencananya dengan memutar balik tubuhnya hingga ia yang sedang berbicara di ponselnya—yang selama itu terus memperhatikannya, mengekor dengan dekat namun tak begitu dekat di belakangnya—akhirnya bertabrakan dengan tubuh mungilnya dan ia tersungkur dengan pantatnya terlebih dahulu menyentuh tanah.
Ponselnya tak sengaja terselip dari tangannya dan ikut terjatuh di tanah bersama sang brunette dengan keras karena ia begitu terkejut.
Shock.
Ia benar-benar tak merencanakan semua jatuh-menjatuh ini dalam tujuannya.
Tak pernah sekali pun.
Sesaat sebelum ingin meninggalkan makam, matanya menangkap sebuah tas putih yang tergeletak di lantai makam dan ia mengambilnya. Entah kenapa, hati kecilnya mengatakan tas tersebut adalah milik sang brunette. Ia pun berencana mengembalikan tas tersebut pada Ruka. Sambil membawa tas ransel miliknyanya dan tas kulit yang ia temukan, ia keluar dari kompleks pemakaman dan mulai melacak keberadaan sang brunette. Tak butuh waktu yang lama untuknya menemukan target yang sedang berjalan di pinggiran jalan trotoar di antara banyaknya pejalan kaki.
Dan ia pun mengikutinya tak begitu jauh di belakang.
Di tengah jalan ponselnya bergetar dalam sakunya. Sambil terus memperhatikan sang bunette dan meneruskan jalannya, ia merogoh sakunya untuk mengambil benda yang bergetar tersebut kemudian melirik nama dari orang yang meghubunginya.
"Ru—"
"NATSUME—"
Natsume tak melanjutkan kata-katanya dan sedikit menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya begitu suara tinggi yang lantang di seberang hampir menghancurkan gendang telinganya. Ia menatap ponsel tersebut sejenak dengan pandangan aneh—sambil terus melangkahkan kakinya—kemudian mendekatkan lagi benda tersebut ke telinganya.
"—NUNGGUMU DARI TADI DI TEMPAT INI—HOTARU! TENANGLAH!—" Natsume mendengar sesuatu yang hanya dapat ia simpulkan sebagai suara ledakan di seberang. "—GAH! NATSUME! DI MANA KAMU! KAU DENGAR AKU? KAMI SUDAH MENUNGGUMU DARI TADI DI BANDARA INI TAPI KAU—KAU—"
"Ruka."
"—KAU MENGHILANG? KAU PERGI TANPA MEMBERITAHKU? KAU BENAR-BENAR TAK BISA DIPERCAYA—"
"…Ruka. Tenanglah. Bernafaslah."
"TENANGLAH! TENANGLAH KATAMU! HOTARU HAMPIR SAJA MEMBUNUHKU GARA-GARA KELAKUANMU YANG GEGABAH! SUDAH KUBILANG 'KAN, TUNGGU AKU!"
…kelihatannya sahabatnya itu tak ingin mendengarkan apapun yang dikatakannya saat ini. Ia lebih terpaku oleh kepanikannya sendiri.
Tapi telinganya saat ini sudah sangat sakit.
Ia mendongakkan wajahnya ke atas, dan dilihatnya dengan jelas setitik air jatuh di hidungnya.
"—SEKARANG KAU DI MANA!"
"Sudah?"
Ada jeda waktu sejenak sebelum jawaban datang dari seberang, "…Sudah…" dan helaan nafas pelan terdengar. "Di mana kamu sekarang?—AH! HOTARU—"
"Hyuuga…" Natsume manaikkan salah satu alisnya begitu suara dingin dari seorang perempuan datang dari seberang ponsel.
"Apa?" jawab Natsume, tak tergoyahkan.
"Aku akan membunuhmu." Natsume hampir dapat mendengar seringai yang dingin menghiasi ancaman itu.
Natsume mendengus. "Lalu?"
"…akan kubuat caramu mati dengan sangat menyakitkan."
"Go on then," ujar Natsume yang sama sekali tak berusaha untuk menyembunyikan nada sarkastik di suaranya, sekali lagi tak tergoyahkan. "We'll see what will happen next."
"Begitu bertemu denganmu aku benar-benar akan membunuhmu." Suara itu masih tetap tenang, hingga yang mendengar itu dapat merasakan aura membunuh yang dapat meremukkan tulang. Namun, sekali lagi, tak tergoyahkan. Dirinya tak takut sama sekali.
Natsume memutar matanya. "Told you, go on, Imai. As if you have the courage to do so."
"Of course I do, Hyuuga. Don't temp me."
"Dare you."
"Tunggu! Tunggu!" suara dingin itu kini berganti dengan suara panik seorang lelaki. "Kalian nggak bisa dengan mudahnya mendeklarasikan perang lewat telepon!"
Natsume terus berjalan, membiarkan pandangannya terus melekat pada punggung sang brunette yang berjalan dengan santainya di depan.
Seakan-akan ia tahu, bahwa dunia tak akan menghukumnya lebih dari yang telah ia terima. Seakan-akan ia tahu bahwa dunia tak akan menyakitinya. Dunia akan melindunginya.
Lewat bahu sang brunette ia mendapati dirinya memandangi sebuah taman bermain yang besar. Dan sementara ia mengamati sekelilingnya, gerimis yang perlahan datang tak luput dari perhatiannya.
"Aku nggak akan membiarkan kalian saling menyakiti!" ia mendengar suara Ruka yang masih diisi kepanikan
Sekali lagi, Natsume memutar matanya. Another dumb person appears, pikirnya sambil tersenyum kecil.
Apa orang itu benar-benar berpikiran bahwa dirinya dan pacarnya itu akan benar-benar saling membunuh?
Iris mata crimson-nya melembut sejenak. Dirinya sangat merindukan situasi ini. Meskipun ia tak akan mengakuinya keras-keras pada seluruh dunia.
Meskipun ia tak begitu mengerti kenapa sahabatnya memilih Imai sebagai pasangannya, namun ia bersyukur jika Imai bisa memberi warna dalam hidup sahabatnya itu. Mereka bagaikan makhluk yang datang dari dunia yang berbeda yang kemudian memutuskan untuk bersama, mengisi kekosongan satu sama lain.
"Ruka."
"Ya? Aku masih di sini."
"Central Town. Kau tahu di mana itu," kata Natsume lagi yang sudah jelas lebih mendekati pernyataan dibandingkan pertanyaan.
Ruka yang berada di seberang terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ah, Iya. Tentu saja. Memangnya kenapa? Dari mana kau—"
Lagi-lagi Natsume memotong perkataan Ruka. "Lima menit lagi kita bertemu di sana. Aku sudah hampir dekat. Aku akan menunggumu di stand roller coaster."
"Oh, oka—"
Dan tubuh mungil itu menabraknya, tanpa pernah ia perkirakan. Ia tak menyadari bahwa jarak yang ia ambil ternyata semakin sedikit dari sang brunette. Ia tak begitu peduli dengan ponselnya yang jatuh. Ia hanya membiarkan sang brunette tersungkur sambil memekik kaget, sama sekali tak berpikiran untuk menangkapnya sebelum jatuh ke tanah karena ia terlalu terkejut. Tas ransel dan tas kulit yang ia pegang dengan satu tangan itu hampir saja ikut terjatuh, namun cepat-cepat ia menangkap benda-benda tersebut.
Matanya sedikit melebar sebelum ia mengatur dirinya untuk tenang. Namun jantungnya—lebih dari yang ia inginkan—berdetak begitu kencang di dadanya.
Tali strap polkadot yang mencuat dari collar dress yang dipakai sang brunette menarik perhatiannya dan ia menaikkan satu alis pendeknya. Gerimis mulai jatuh dari langit, namun hal itu tak lagi dipedulikannya.
Ia lebih tertarik dengan tali bra yang dipakai sang brunette.
"Lihat-lihat ke mana kau akan berjalan, Polkadot," katanya mengejek sebelum dapat berpikir untuk yang kedua kalinya. Ia mengutuk dirinya dalam hati.
Ia melihat sang brunette dengan cepat mengambil ponselnya yang terjatuh dan mengulurkan tangan yang memegang ponsel tersebut pada dirinya. "Maaf, aku…" saat ia mendongakkan wajahnya, ia menemukan dirinya sedang menatap lekat iris mata hazel yang dihiasi oleh rasa kaget. Ada sesuatu yang melesak dari dalam dirinya. Ia dapat merasakan itu. Rasanya sesuatu telah menyengatkan dirinya dengan suatu aliran listrik.
Namun ia tetap memastikan bahwa topeng yang ia pakai tak ikut terjatuh.
"Ry-Ryu…?"
Dan ia tak suka saat seseorang mengira dirinya sebagai orang lain, bersamaan dengan dirinya yang tak suka basah itu dihujani oleh gerimis yang mulai jatuh dengan derasnya.
Ia mengulurkan tangan kanannya kemudian menggenggam tangan kanan sang brunette yang masih terjulur pada dirinya. Dengan tangan yang menggenggam ponselnya, ia menarik sang brunette hingga ia berdiri di atas kakinya, bersamaan dengan itu mengambil ponselnya dari genggaman sang brunette.
Saat menyentuh tangan itu, entah kenapa, darahnya mengalir cepat di pembuluh nadinya sedangkan jantungnya berdetak lebih kencang dari yang sudah-sudah.
Ia tak akan mengakui perasaan aneh itu, tentunya.
Gadis itu masih menatapnya seakan-akan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya dengan kedua mata besar hazel-nya. Mata crimson-nya hanya balik menatap hazel itu dengan bosan—meski hatinya tak berlaku demikian.
Natsume mengangkat tas kulit putih yang ia pegang di tangan kanannya, bermaksud memberikannya pada gadis di depannya. "Punyamu, 'kan? Aku melihatmu menjatuhkan ini dan aku bermaksud mengembalikannya langsung padamu," katanya santai. Namun sang brunette tak memperhatikan kata-katanya. Sebaliknya, ia malah tetap menatap dirinya. Ia menaikkan salah satu alisnya. "Maaf mengganggu kesenanganmu yang menelanjangiku dengan matamu, nona—" As if, tambah Natsume dalam hati, mengejek dirinya yang berkata bodoh itu karena sudah jelas sang bunette tak melakukan apa yang barusan dikatakannya. Ia hanya ingin menggodanya. "Aku hanya ingin mengembalikan ini padamu," lanjutnya dengan angkuhnya sambil menarik tangan kanan gadis tersebut dengan tangan kirinya dan membuatnya memegang tas kulit putih yang memang adalah miliknya.
Tanpa aba-aba, Natsume berbalik, bermaksud meninggalkan sang brunette.
Ia tak ingin berurusan dengannya saat ini.
"A-ah! Tunggu!" dan tidak, tidak. Sekali lagi ia menemukan sang brunette merusak rencananya dengan menggenggam erat lengan atas tangan kanannya. Ia berbalik menghadap sang gadis. Di dalam matanya, catatnya, terdapat berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. "Ah…A-anu…ma-maaf. Aku—"
Namun sang raven tak memberinya waktu untuk melanjutkan kata-katanya. "Aku sama sekali nggak melakukan apapun pada isi tasmu. Kau boleh memeriksanya—" namun kali ini kata-katanya sendiri yang dipotong oleh sang brunette dengan menggelengkan kepalanya cepat. Matanya nanar, membuatnya yakin airmata sedang mengancam ingin keluar.
"Bu-bukan! Maafkan aku kalau aku lancang. Aku…aku hanya—"
"Nona, aku tak tertarik dengan tawaranmu."
Dammit, Natsume! Stop it! Don't tease her!
Diperhatikannya sang brunette—atau ia bisa belajar memanggilnya dengan Mikan atau Polka, mungkin Polka lebih baik?—menggertakkan gigi-giginya. Nampaknya ia mulai menyadari apa yang barusan yang ia maksud.
Maaf saja. Ia hanya ingin memperingatkan bahwa dirinya bukanlah orang yang diharapkannya.
"Bukan itu!" matanya kini membendung kekecewaan. Dari hujan deras yang menyelimuti mereka, ia dapat merasakan mata hazei itu tak henti-hentinya menatap iris mata crimson-nya dengan tatapan nanar. "Bukan itu! Aku hanya—aku hanya…"
Dan ia tak melanjutkan kata-katanya, ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena Natsume tahu, akhirnya airmata keluar dari mata hazel-nya, becampur dengan air hujan yang turut menangis untuknya.
Natsume menghela nafas pelan dan memalingkan wajahnya. Ia pun, tak mampu melihat keadaannya yang seperti ini. Menangis.
Dan itu menyedihkan.
Hujan semakin deras membasahi bumi. Membasahi mereka. Diliriknya di sekitar jalan dan ia baru menyadari bahwa hanya mereka berdua yang berdiri di tengah-tengah keramaian hujan.
Dengan hati-hati ia melepaskan cengkeraman erat gadis tersebut pada lengan atas tangan kanannya. Kemudian saat ia berhasil melepaskannya, tangan kanannya menepuk lembut kepala gadis tersebut dan tangan itu tetap ia tempelkan di atas kepalanya. "Kau bisa sakit kalau kau terus berada di tengah-tengah hujan ini, nona! Kau harus segera pulang! Aku juga sedang ingin menyelesaikan urusanku!" katanya dengan keras lewat derasnya suara hujan. Sambil memberi pandangan terakhir, ia melepaskan tangan yang berada di atas kepala brunette. "Hati-hati di jalan!" katanya lagi sambil berbalik arah dan berjalan dengan cepat, tak lupa untuk menggenggam erat barang-barangnya yang kini basah digenggamannya.
Ia benar-benar tak sanggup untuk menatap matanya yang menangis itu.
Karena itu menyedihkan. Terlalu menyedihkan.
Namun saat ia berbelok ke kanan di persimpangan yang dibatasi tembok besar, ia tak lagi melanjutkan perjalanannya. Hanya berhenti dan menyenderkan punggungnya pada tembok putih di belakangnya.
Ia mengutuk dirinya di bawah air hujan. Marah pada dirinya yang tak mampu menghilangkan luka orang yang seharusnya menjadi tanggungg jawabnya.
Setidaknya, hanya untuk sekarang ia membiarkan sang brunette.
Namun di lain waktu, ia akan terus di sana untuk menenangkan perasaannya.
Karena itu tujuannya.
Itu lah janjinya.
"Natsume!"
Natsume menolehkan kepalanya pada Ruka yang berlari kecil ke arahnya. Rambut Ruka sedikit kelihatan basah. Kemungkinan juga terjebak dalam hujan. Dibelakangnya, berjalan dengan santai seorang gadis dengan rambut raven sebahu sedang memegang sesuatu yang terlihat familiar untuknya.
Baka-gun. Heh.
Setelah dirinya telah lama berdiri di bawah hujan dekat tembok tempatnya bersandar, ia berjalan pada persimpangan tempatnya lewat untuk memeriksa keberadaan sang brunette.
Namun tak ada lagi tanda-tanda keberadaan gadis tersebut. Gadis yang tadinya ia tahu sempat menangis.
Tampaknya ia sudah pulang.
Dan sekarang ia di sini, berteduh di bawah stand permainan kosong di daerah tempat yang ia tahu merupakan Central Town.
Ruka langsung menyambut Natsume dengan pelukan persahabatan. Ia begitu merindukan sahabatnya itu. "Long time no see. I miss you," katanya sambil menyeringai kecil begitu ia mengambil satu langkah ke belakang.
"Hn."
Ruka memutar bola mata aqua-nya begitu trademark itu datang dari sahabatnya yang telah lama tak ia temui itu. Namun di balik satu kata itu ia telah mempelajari beribu makna.
Tak dikatakan secara verbal maupun nonverbal ia tahu, Natsume juga merasakan perasaan yang sama.
Sorot mata crimson Natsume bergerak pada mata amethyst dingin milik Hotaru. Hotaru mengangkat Baka-gunnya, bersiap-siap ingin melakukan aksi sementara Natsume hanya memandanginya dengan tenang.
"Er…guys…" Ruka menengahi keduanya sebelum perang benar-benar terjadi.
"Membuat kami menunggu, sementara kau berkeliaran semaumu. Sudah berapa kali kami mengirimu pesan dan menghubungimu, tapi kau sama sekali tak menjawab pesan maupun panggilan kami. Ke mana saja kau?"
"Aku tak harus menjelaskannya padamu, 'kan?"
Sekali lagi, Hotaru mengangkat senjata andalannya. Ruka melirik ke arah Natsume, memohon dengan wajah memelasnya agar Natsume tak melanjutkan permainannya.
"Kalau kau terus-terusan melindunginya, benda ini yang akan memberimu pelajaran, Nogi."
Ruka tertawa dengan nervous. "Kita ke sini bukan untuk berperang, iya 'kan? Ayolah, hentikan permainan ini."
Aliran listrik seakan-akan keluar dari mata Hotaru dan Natsume yang saling adu pandang.
Ruka menghela nafasnya. Ia sebenarnya tak begitu tahu bagaimana sebenarnya hubungan kedua orang yang saling membunuh dengan pandangan dingin itu. Yang ia tahu, Hotaru yang terlebih dahulu mengenal Natsume dibandingkan dirinya telah melalui hubungan pertemanan yang aneh dengan Natsume, kalau bisa ia tambah.
"Natsume," panggil Ruka lelah, memecahkan pertandingan tatapan membunuh itu. Natsume menoleh. "Setelah ini, apa rencanamu?"
Natsume mengangkat bahunya. "Mungkin aku bisa memulainya dengan mencari apartement."
Ruka menggeleng. "Tidak. Kupikir itu bukan ide bagus. Bibi saat ini menunggu kepulanganmu."
Natsume diam sejenak, terlihat sedang mempertimbangkan pilihannya. "Apa tempatnya masih sama? Maksudku lokasi," gumamnya.
"Masih sama seperti yang dulu," ujar Hotaru menggantikan Ruka. Pandangannya tak lagi pada Natsume.
Natsume melirik Ruka dan mengangguk sekali.
Untuk kali ini, ia tak dapat menyembunyikan rasa rindunya pada sang ibu di hadapan Ruka. Sudah lama sekali ia tak bertemu pandang dengan ibunya. Sudah lama sekali ia tak mendengar suara manis dan suara berisik ibunya.
Ia merindukan ibunya.
Ia mendambakan sentuhan ibunya.
Dan ia tak takut jika hal itu ia akui hanya pada Ruka.
Dengan satu tarikan nafas, Natsume berkata, "Okay. Kalau begitu kita pergi sekarang."
"Oh iya, ngomong-ngomong…kau basah."
"Hn. Kau dan pacarmu juga."
"Tapi kami tak separah dirimu," tawa Ruka, bermaksud untuk mencerahkan suasana.
"Ya…hujan di musim semi," gumam Natsume.
"Tak ada yang bisa memperkirakannya, Natsume."
Saat ia kembali pulang ke rumahnya, ia sama sekali tak menemukan siapapun. Ia berpikir, nampaknya ibunya masih bersama bibi Kaoru. Mikan melangkahkan kakinya pada anak tangga menuju kamarnya. Lantai yang ia pijak turut menjadi basah karena jeans dan dress yang dipakainya basah karena tadi ia terjebak oleh hujan.
Terjebak bersama orang yang terlihat sangat mirip dengan orang yang dirindukannya.
Kamarnya bersih dengan dinding berwarna biru dan ranjang dan cover ukuran single warna biru di tengah-tengah ruangan. Di seberang ranjang terdapat meja belajar dengan sebuah laptop merah dan beberapa buku tersusun rapi di atasnya. Kamarnya tak begitu luas, juga tak begitu sempit. Sebuah jendela yang cukup besar menempel di antara dinding di belakang ranjang, tepatnya di atas headboard ranjang. Pintu menuju teras luar pun terhubung di seberang pintu masuk.
Tak menghabiskan waktu yang lama, Mikan dengan cepat melangkah menuju pintu kamar mandinya. Di depan kaca di kamar mandi, ia memperhatikan replikanya. Mata hazel itu terlihat sedikit merah, menunjukkan betapa jelasnya mata itu baru saja menghentikan tangisnya. Wajah putih itu lusuh, karena pikirannya selalu melayang pada lelaki yang tadi ditemuinya di tengah jalan dan di tengah gemuruh hujan.
Pikirannya masih dengan jelas dihiasi oleh wajah yang tak memegang ekspresi itu. Wajah tenang dengan mata crimson yang dingin.
Mata itu sangat menarik perhatiannya.
Karena mata itu lah yang pertama kali dilihatnya setelah sekian lamanya.
Ia masih ingat betul bagaimana wajah itu dibasahi air hujan dan dilapisi helaian rambut raven—yang ia pun sangat merindukannya.
Yang sangat dikenalinya.
Kata-kata yang diucapkannya itu pada awalnya tak terlalu diperhatikan oleh dirinya. Yang ia lakukan hanya memperhatikan lelaki tersebut dengan terbuka, dengan pandangan shock dan rasa senang. Ia tak mampu berkata apapun waktu itu. ia tak mampu untuk berpikir tentang sesuatu yang harus dilakukannya waktu itu.
Namun begitu tangan itu menyentuh tangan miliknya, ia seperti merasakan dua kali lipat rasa shock menyelimuti dirinya, bagaikan sengatan listrik yang berusaha untuk mengingatkannya agar ia segera terbangun dari keadaannya. Saat tangan kanan itu menepuk lembut kepalanya…ia merasakan akan adanya kerinduan yang mulai kembali melesak keluar dari alam sadarnya.
Dan yang ia lakukan hanyalah menatap mata crimson yang ia yakini sangat ia rindukan itu dalam tangis yang tak terselubungi oleh suara.
Saat menatap punggung itu, dalam dirinya yang hanya mematung itu berteriak; untuk tak meninggalkannya, untuk tak membiarkannya sendirian.
Ia hanya diam sambil menangis begitu melihat punggung itu menjauh dari dirinya.
Perlahan Mikan membuka jeans-nya yang basah dan menaruhnya ke samping. Kemuadian dress basah itu pun ikut dilepaskannya. Dan yang tertinggal pada dirinya yang sedang memperhatikan replikanya di depan kaca seukuran dirinya itu adalah dirinya dengan celana dalam pink beserta bra polkadot kesukaannya.
"Lihat-lihat ke mana kau akan berjalan, Polkadot."
Mikan tersenyum kecil. Oh, jadi yang dimaksud "Polakadot" itu adalah ini?
Ia menempelkan dahinya pada kaca, hingga replica di depannya juga otomatis melakukan hal yang sama. Wajahnya tak terlihat oleh poni brunette yang menutupinya. Basah. Rambut dan seluruh tubuhnya basah karena air hujan.
Namun wajan itu kini bukannya basah karena air hujan. Melainkan karena airmata yang tak sanggup ia tahan.
Mikan menangis sejadi-jadinya di depan kaca, membiarkan rasa tegang dan sesak di dadanya merangkak di hatinya dan menembus kulitnya.
Ia menangis bukan karena seseorang telah melihat bra-nya. Ia menangis juga bukan karena seseorang telah mengejeknya "Polkadot".
Namun ia menangis karena kerinduan itu kembali merasuki dirnya. Kerinduan itu kembali menghancurkan dirinya.
Dirinya ingin bertemu…sangat ingin sekali untuk bertemu…
A/N: Awalnya Ran ingin menghentikan bagian Two Years Earlier di chapter ini. Tapi kelihatannya Ran punya rencana lain -grins-
Tapi bagian itu pun nggak akan lama lagi akan diakhiri dan akan diteruskan oleh cerita inti.
Bagaimana menurut kalian chapter ini? Please review agar Ran tahu apa yang kalian pikirkan tentang chapter 4 ini :)
P.S. Maaf English Ran abal. Katakan saja pada Ran bagian-bagian yang menurut kalian salah dengan terbuka, okay?
Love,
Ran Ishibazaki.
