Main Cast
Jeon Won Woo
Kim Min Gyu
Kwon Soon Young
Wen Jun Hui
Genre(s)
Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rated
PG-16
WARNING!
Typo(s), Out Of Character, SVT-AU!, Antagonist and bad personality character for supporting story line!
Disclaimer
Of All this, just the plot and the storyline of mine. I don't take advantage anything from this fanfiction. Criticsm and suggestion I receive, but with polite words.
XX
4. Saudara Kembar
.
.
Awan hitam bergemuruh. Sambaran kilatan petir sesekali terbias melewati jendela. Korden bergerak tak beraturan. Hawa aneh membelenggu. Eomma masih sibuk membenahi makanan dari konter dapur ke meja makan dengan dibantu noona yang mulutnya sibuk mengoceh tentang kejadian di sekolah. Aboeji beberapa kali menyahuti dari ruang tengah dengan jari yang menjentek-jentekan remote televisi karena tak ada satu pun acara malam itu yang menggugah seleranya.
"Kau benar-benar tidak tahu alasan kenapa dia bisa bunuh diri?" suara aboeji kembali terdengar. Dia bertanya hal yang sama untuk ke tiga kalinya.
"Tidak ada, bahkan tidak ada surat terakhir seperti orang bunuh diri pada umumnya. Kasihan sekali Youngji. Dia saking terkejutnya perutnya sampai melilit. Di sekolah benar-benar kacau, belum lagi ditambah dengan para orangtua yang khawatir. Sebab itu, yayasan dengan cepat bergerak menyumpal media. Kalau sampai ini dipublikasikan citra sekolah menjadi buruk. Coba bayangkan saja, ada yang bunuh diri di sekolah?"
"Heee, bagaimana dengan orangtua korban?" Eomma mulai ikut penasaran. Dia yang sedari tadi bungkam akhirnya angkat bicara.
Noona berhenti dengan lap di tangannya. "Itulah, mereka menyalahkan sekolah."
Eomma bergerak, memukul kecil tanganku yang memegang sekeping kripik. Aku mengeryap.
"Apa sudah boleh makan?" tanyaku disusul dengan bunyi gemerucuk dari perut. Eomma mendengus kemudian beralih pada aboeji. Menyuruhnya untuk mendekat.
Ku ambil semangkuk nasi dan mulai menggerakan sumpit guna mengambil lauk pauk yang aku suka. Makanan malam ini seperti biasanya. Kimchi, sup tahu pedas, tumis jamur, telur goreng namun aku suka. Dengan lahap aku memakan makananku dalam diam. Eomma, noona, dan aboeji masih saja membahas hal yang sama.
Beginilah jika kau mempunyai saudara lain yang satu sekolah atau institusi. Pasti kejadian yang rancu akan dibawa pulang dan akan menjadi perbincangan hangat. Padahal aku sudah begitu muak mendengarnya di sekolah—Soonyoung dan Seungkwan tiada hentinya membicarakan hal yang sama. Musti juga aku mendengar versi dari guru-guru? Mungkin bagi Soonyoung, Seungkwan, Minghao, dan Seokmin memiliki koneksi di sekolah seperti halnya guru menjadi menarik. Tapi, tidak denganku.
"Tetapi, yang aku tahu. Gongchan Shik meninggal karena tertekan oleh nilai standar yang orangtuanya berikan. Youngji mencari tahu dari catatan dan teman-teman terdekatnya. Bahkan Gongchan sepertinya pernah melakukan selfharm sebelum akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Karena di tubuhnya ditemukan beberapa sayatan di tempat yang tidak wajar, di paha dan pergelangan atas."
Eomma bergidik ngeri. Beliau mengalihkan pandangannya padaku.
"Nah, kan Wonwoo. Eomma dan aboejimu tidak pernah menuntut nilai tinggi darimu. Bahkan sejak Somin duduk di bangku sekolah, eomma tidak pernah menekannya untuk menjadi juara kelas. Tapi, karena noonamu memang pintar. Jadi, kalau kamu tidak sanggup jangan paksakan diri. Arrachi?"
Dengan mulut penuh aku mengangguk-angguk. Ya, kalau dipikir lagi, memang eomma, aboeji, dan noona tidak pernah menargetkanku untuk mencapai nilai sekian dan sekian. Baru semester lalu noona menempaku dengan keras, tetapi setelah aku demam dia di marahi habis-habisan oleh eomma. Sepertinya teman-temanku juga tidak ada yang dibebankan untuk mendapatkan nilai bagus.
Orangtua Soonyoung pernah berkata 'Tidak apa kau tidak dapat nilai yang cukup bagus di sekolah. Asal tidak melakukan hal onar saja sudah bagus,'. Junhui, dia memang pada dasarnya pintar, karena tidak enak dengan paman dan bibinya jika mendapatkan nilai rendah. Maka, dia berusaha untuk menjadi yang terbaik. Seokmin, ia tidak pernah secara gamblang menceritakan kehidupannya di rumah. Yang aku tahu, Seokmin kadang terlihat kecewa kalau mendapat nilai yang kurang dari harapannya. Terakhir, Minghao. Ah, dia jangan ditanya. Kedua orangtuanya sangat santai mengenai hal itu.
"Ah ya, tadi kamu bicara apa dengan Mingyu?"
"Hah?"
Kelopak mataku mengerjap. Menelan nasi yang sudah dikunyah ke dalam kerongkongan. Aku memandang noona sekilas lalu mengedikan bahu tidak acuh.
"Aku tidak bicara apapun padanya. Baru aku bertanya, tidak lama noona datang."
"Siapa Mingyu?" Aboeji bertanya dengan menatapku penuh.
"Teman sekelasku—"
"—Yang menjadi saksi dari acara bunuh diri itu." Sela noona dengan cepat.
Ku gelengkan kepalaku pelan. Acara? memangnya bunuh diri itu sebuah acara? Noona kalau bicara suka ga difilter gitu pemilihan katanya.
"Tapi, dia tidak memberikan informasi dengan baik. Sepertinya aku harus banyak-banyak mengetahui permasalahan di kelas. Apa dia punya masalah dengan anak-anak Woo?" tanya noona setelah menambahkan ucapannya.
Ku jawab dengan cepat. "Tidak—Mingyu sangat pendiam. Jadi, kurasa tidak ada yang punya masalah dengannya. Kalau noona bertanya apa dia aneh- aku akan menjawab iya. Dia tidak punya teman di kelas."
"Seharusnya kau mendekati orang-orang yang seperti itu." Kata Aboeji yang sudah usai dengan suapan terakhir. Aku mengerling heran.
Dia melanjutkan dengan santai karena wajah keherananku yang terpampang jelas. "Orang-orang seperti itu pasti memiliki alasan khusus kenapa tidak ingin berbaur dengan yang lain. Kepercayaan diri, misalnya."
Dengan sigap noona menambahkan. "Hah! Betul itu aboeji. Kau bisa mendekatinya dan mengetahui kenapa dia bisa begitu."
Tanganku terjulur, mengangkat gelas kemudian menegaknya hingga habis. "Noona menyuruhku untuk meringankan bebanmu konseling murid ya?" ledekku.
Air wajahnya segera berubah. Tangannya bergerak defensif. "Bukan! Bukan! Dasar sok tahu!" sambarnya dengan cepat. Aku dan aboeji terkekeh. Noona kan tidak pandai berbohong.
"Sudah-sudah, Wonwoo tolong eomma menaruh piring di wastafel. Habis itu langsung belajar."
"Nde eomma."
oOo
Hujan mengguyur Seoul. Aroma tanah yang bercampur debu terasa menusuk-nusuk hidung. Aura suram dan tak bergairah lelaki termuda keluarga Kim ikut mendera. Selama waktu makan malam, selama itu juga Mingyu menundukan kepalanya dan bola matanya hanya berpusat pada makanan yang ada di bawah hidungnya.
"Kamu tidak apa Mingyu?"
Kepala Mingyu yang menunduk perlahan terangkat. Wajahnya sedikit pucat dan ekor matanya menangkap mata ibunya yang memicing penuh keingintahuan.
"Ada apa memangnya dengan dia?" Tangan ibunya teracung tinggi, memandang Mingyu dengan tidak suka.
Ayahnya membenarkan tata letak kacamatanya dengan benar di pangkal hidung. Dia melirik Mingyu dan istrinya secara berkala. "Kau tidak tahu?"
"Apanya yang tidak tahu?" kata istrinya dengan cepat.
"A-aku hanya mencantumkan nomor appa di kertas itu." Cicit Mingyu dengan kepala yang masih agak menunduk.
"Apanya yang dicantum-cantumkan?" tanya ibunya dengan tidak sabar.
Tangan Mingyu yang berada di atas meja perlahan turun. Ia menggenggam ujung celananya dengan keras.
"Dia jadi saksi mata untuk orang yang bunuh diri." Sahut ayahnya lebih cepat dibanding suara Mingyu yang masih tertahan dipangkal tenggorokan.
Mata ibunya melotot. Dia memandang Mingyu dengan jengkel.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" bentaknya.
"I-itu…eomma pernah bilang- jangan ganggu dengan masalah se-sekolah." Jawabnya dengan tergagap-gagap.
Tangan ibunya bergerak, memukul meja makan dengan kasar.
"Tapi hal begitu penting Mingyu. Dasar bodoh, kapan kau bisa dewasa, Hah?" sembur ibunya dengan tangan yang terjulur untuk mendorong kepala Mingyu ke belakang. Ayahnya diam saja dan memakan makanannya dengan santai. Seolah hal tersebut adalah hal yang lumrah.
"Maaf e-eomma. Maaf." Lirihnya masih dengan tangan terkepal di bawah meja. Dia menggigit bagian dalam mulutnya dengan kencang.
Napas ibunya memburu. Matanya memandang benci ke arah Mingyu. Seakan Mingyu adalah seonggok daging yang begitu menjijikan baginya. Dengan cepat ibunya berdiri, menarik makanan Mingyu yang bahkan hanya disentuh sedikit.
"Pergi ke kamarmu. Belajar yang benar. Kalau semester ini nilaimu anjlok, kau akan merasakan bagaimana kamu benci untuk dilahirkan di keluarga ini." Tangan ibunya berkibas, mengusir Mingyu dari hadapannya. Ia sudah muak dengan Mingyu.
"Contoh kakak dan adikmu. Dasar bodoh," gumam ibunya.
Kuping Mingyu terasa berdenyut. Ia berdiri, mengucapkan selamat malam kepada kedua orangtuanya dengan rendah. Kedua tungkainya segera bergerak menjauhi meja makan. Perutnya tak pernah lapar di rumah. Dia tidap pernah merasakan kenyamanan di rumahnya sendiri.
"Mingyu—jangan sampai kejadian di sekolahmu bisa mengganggu konsentrasimu. Appa sudah mendaftarkan ke bimbingan belajar yang lebih intensif. Adikmu juga di sana, jadi peringkatmu harus naik."
Kaki Mingyu hanya berhenti seperkian detik sebelum ia beranjak lagi. Tangannya terkepal keras. Matanya berkali-kali mengedip, menahan rasa marah.
Selalu saja dibanding-bandingkan.
Kamar Mingyu terasa pengap. Seolah dirinya tak pernah membiarkan cahaya matahari masuk ke sana. Buku-buku berserakan, kertas-kertas di mana-mana. Tempelan-tempelan notes berisikan rumus dan catatan penting ada di setiap dinding kamar. Mingyu kembali duduk di kursi belajarnya. Lampu neon putih adalah saksi bisu atas dirinya yang selalu berjuang tanpa belas kasihan untuk belajar.
Matanya sedikit berkaca. Tapi Mingyu tahu, jika ia menangis dia tidak akan menyelesaikan masalah ini. Begitu juga dengan caranya sendiri untuk menghilangkan rasa sakit yang dibuat oleh kedua orangtuanya. Tetapi, cara itu membuatnya lega.
oOo
Semalaman aku berpikiran mengenai perkataan Mingyu. Tapi, tak ada hasilnya juga. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan. Apa maksudnya dan aku sama sekali tidak tertarik dengan hal itu lebih lanjut.
Quiz fisika lebih menyabet perhatianku semalam suntuk. Walaupun disela-selanya kadang kala aku berpikiran soal Mingyu.
Pagi ini semua anak lebih memilih untuk diam. Meskipun, beberapanya masih membahas berita kemarin dengan seru. Seungkwan terlihat tenang-tenang saja. Dia masih mengerjakan soal sambil terus menanggapi ucapan Soonyoung. Apa dia itu seorang multitasking?
Junhui sejak datang sampai sekarang sama sekali tidak menengok ke belakang. Dia sibuk berlatih soal-soal. Ini quiz pertama di tahun ajaran baru ini. Dan pasti salah satu yang cukup penting bagi mereka. Aku berlatih sebisaku. Ya, benar-benar sebisaku. Jeonghan sesekali menoleh ke arah Soonyoung dan Seungkwan yang asyik menggosip dengan tambahan beberapa anak gadis yang ikut menimbrung.
Sedang di sebelah kananku. Kim Mingyu tenggelam dalam duniannya.
"Bisakah kalian diam? Dan kau Boo Seungkwan. Kau itu perangkat kelas, bukankah seharusnya menertibkan kelas?" setelah setengah jam sumber suara hanya dari lingkaran Seungkwan dan Soonyoung akhirnya Choi Hansol angkat bicara juga. Dia Nampak jengah lama-lama dengan Seungkwan yang terlihat tidak menjalankan amanatnya dengan baik.
Aku melirik lingkaran itu yang akhirnya terbuka. Beberapa anak-anak kehilangan fokus dan ikut menoleh ke arah mereka semua, ikut memperhatikan.
"Kita tidak berisik." Kata Seungkwan membela diri. Kepala-kepala yang dekat dengannya ikut mengangguk-angguk sebagai pembelaan.
Kim Minkyeong yang duduk di sebelah kiri paling ujung deret ke tiga ikut memutarkan setengah badannya lalu bersuara dengan lantang. "Apanya yang tidak menganggu? Kalian itu berisik semua. Kenapa tidak belajar, sih?"
Beberapa anak berbisik-bisik. Jung Eunwoo—salah satu gadis yang ikut berkumpul dengan Soonyoung dan Seungkwan mencibir. "Ya, kalau begitu belajar saja sana! Jangan urusi urusan orang."
Soonyoung memberikan jempolnya. Minkyeong tampak sebal diberikan perlawanan seperti itu.
"Dasar kumpulan tidak berguna," desis Minkyeong.
Soonyoung menoleh dengan cepat. Aku melepaskan pensil yang ku genggam. Mengamatinya dengan was-was. Ada perasaan tidak nyaman yang sekejap saja terbesit.
"Aku rasa, kalau dari salah satu siswa dari kelas kita ada yang mati bunuh diri seperti Gongchan sunbae, kalian pun tidak akan peduli. Kalian kan hanya mempedulikan nilai-nilai kalian itu. Persis, manusia tidak punya hati." Ujarnya dengan berani. Seungkwan melongo horror. Aku pun ikut terperangah. Junhui bahkan sudah sepenuhnya melihat ke belakang.
Anak-anak sekelas sudah memusatkan pandangan mereka pada Soonyoung dan Minkyeong, termasuk Kim Mingyu.
Minkyeong tertawa sinis. Masih dengan pensilnya yang tersemat di tangan kanannya.
"Ya, bodoh. Itu sama sekali tidak ada hubungannya," timpalnya dengan sebuah seringai cemooh yang jelas.
"Kau yakin, hah? Aku tahu rahasiamu Kim Minkyeong—aku rasa kalian tahu apa julukanku, kan?" Soonyoung berdiri di sebelah Seungkwan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh wajah anak-anak di kelas termasuk diriku. Aku menggeleng pelan, memberikan sinyal bahwa yang dia lakukan hanyalah memperkeruh suasana.
"Kim Minkyeong—peringkat ke tiga di angkatan. Tidak pernah mampu mengalahkan Lee Jihoon ataupun Hong Jisoo. Pernah sekali hampir bunuh diri karena tertekan dengan nilai yang tak pernah naik—stabil di sana. Melakukan apapun hanya untuk mengalahkan Jihoon dan Jisoo, bahkan membeli kunci jawaban olimpiade."
Kini semua mata anak-anak beralih pada Minkyeong yang sudah membatu. Menatap Soonyoung dengan murka.
"Hah? Siapa yang kau bicarakan?" sahut Minkyeong—pura-pura tidak tahu. Tetapi sayangnya wajahnya pucat seketika. Benar-benar tidak pandai berdusta.
Soonyoung tertawa lebar yang tedengar begitu menyebalkan.
"Dasar sampah masyarakat," Soonyoung berkata dengan sorot mata yang tertuju hanya pada Minkyeong dengan nada datar. Aku lantas berdiri, menarik Soonyoung. Minkyeong sekejap saja menjerit, melompat dari kursinya.
"Sialan! Anak miskin sialan!" raungnya. Soonyoung sudah hampir merangsek maju kalau saja Junhui tidak menahan Soonyoung. Beberapa anak perempuan lainnya sudah menahan Minkyeong yang melolong marah.
Ku tatap Soonyoung yang sudah tersulut emosinya.
"Kau tahu Young, kau baru saja—"
"Bunuh diri."
Kami semua menoleh dan mendapati Somin noona sudah berdiri di ambang pintu dengan sudut bibir berkedut. Memegang penggaris. Dia melihat ke arah kami semua lalu menggeleng-menggeleng sengit.
"Kim Minkyeong, Kwon Soonyoung, Jeon Wonwoo, dan Wen Junhui. Ikut aku ke ruang konseling."
"T-tapi tapi Guru Jeon."
"Tidak ada tapi-tapian! Dan kalian lanjutkan pembelajaran kalian masing-masing."
Minkyeong mendorong beberapa anak yang memegangi dirinya yang lalu melintasi kami dengan sengaja menabrakan bahunya. Soonyoung sudah hampir menerjangnya kalau saja dia tidak melihat wajah jengkelku dan Junhui. Soonyoung menatap kami dengan sebal juga.
"Aku tidak meminta kalian untuk terlibat," tuturnya galak.
"Iya—dan membiarkanmu berantem dengan perempuan?" gerutuku.
"Ya, Kim MInkyeong itu bukan perempuan biasa tahu! Dia itu medusa."
Junhui mendesah frustasi. Aku sih tak apa tidak ikut ujian fisika di pagi itu. Mungkin, Soonyoung juga tidak peduli akan kekosongan nilainya. Namun, nampaknya Junhui agak cemas dengan hal yang satu itu. Dia tampak menyesali perbuatannya untuk menolong Soonyoung kalau pada akhirnya begini. Kami melangkah keluar kelas dengan lunglai. Hukuman pertama di ajaran tahun ini, di dapatkan dengan tidak elitnya.
oOo
Hukuman kami adalah membersihkan hall indoor. Soonyoung berkali-kali adu selisih dengan Minkyeong di beberapa kesempatan yang ia bisa. Minkyeong menyalahkan Soonyoung karena dia sama sekali tidak bisa mengikuti ujian fisika.
Soonyoung hanya mencibir Minkyeong dari jauh sambil terus berlari untuk mengepel. Ketika bel memekik nyaring, Kim Minkyeong segera menyelinap keluar Aula. Meninggalkan pel yang tergetelak begitu saja. Junhui yang sudah selesai lantas merapikan pekerjaan yang ditinggal Kim Minkyeong.
"Hah!" aku menaiki panggung dan merebahkan diri di sana. Kaosku yang melingkari bagian leher sudah basah oleh keringat. Rasanya lengket dan aku ingin segera membersihkan ini. Soonyoung menaiki panggung dan ikut merebah, tak lama Junhui mengikuti.
Bising-bising dari luar Aula terdengar sayup-sayup. Pastilah anak-anak sedang menyeruak keluar dari kelas.
"Wen—aku minta maaf karena melibatkanmu. Aku sama sekali tidak bermak—"
"Ya-ya, aku juga sudah tidak memikirkannya. Aku masih bisa mengejar di lain waktu." Potong Junhui tanpa melirik Soonyoung sama sekali. "Tapi, ada baiknya jangan cari gara-gara dengan perempuan. Itu sangat tidak bagus saudara Kwon," imbuhnya.
Kami terkikik geli.
Ku telungkupkan badanku. Mengamati Soonyoung dan Junhui bergantian.
"Ada hal yang ku takuti, Kim Minkyeong mengadu kepada orangtuanya. Kau 'kan tahu bagaimana para orangtua itu." Kataku dengan serius.
Wajah murung Soonyoung nampak kembali. Sepertinya aku malah membuat suasana yang sudah agak mencair kembali runyam. Dia bangkit, lalu terduduk dengan kepala menunduk. Kakinya tergerak-gerak bebas tak beraturan seakan sangat kesal dengan apa yang ia lakukan.
Dia bergumam dengan gelisah. "Sumpah, aku sama sekali tidak berpikiran sampai sana. Aku baru ingat, orangtua Kim Minkyeong itu salah satu anggota komite sekolah."
Gumaman Soonyoung membuatku terbelalak. Aku melompat kemudian menatapnya terkejut. Junhui berseru. "Sungguh?"
"Iya. Aku baru ingat. Di kelas satu kemarin, ada yang membuat ulah dengan Kim Minkyeong dan berakhir diskors. Bagaimana ini? Ah bodoh kau Kwon Soonyoung." Soonyoung merutuki dirinya sendiri dengan tangan yang memukul kepalanya.
Tak ada cara lain. Aku memejamkan mataku sesaat sebelum mengatakannya dengan percaya diri.
"Aku akan bicara dengan Somin noona. Aku yakin, dia tidak akan membiarkanmu diskors. Semua orang tahu, yang memicunya Kim Minkyeong."
Junhui memicing. "Aku tidak tahu, aku rasa tidak semudah itu, Woo." Sahutnya sangsi.
Gigiku bergerak gundah, mengigiti bagian dalam bibirku selagi terus berpikir. Aku tahu, tidak semudah itu. Napas mendesak masuk ke dalam paru-paru, ku ulurkan tanganku untuk menepuk pundak Soonyoung.
"Aku yakin."
.
.
.
Tidak akan semudah itu memang, aku tahu. Setelah upacara kematian Gongchan sunbae, beberapa hari berlalu dengan cepat. Bahkan aku sama sekali tidak memperhatikan Kim Mingyu. Dan hari ini sudah waktunya untuk rotasi tempat duduk lagi.
Seharusnya hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Soonyoung dan Junhui. Akan tetapi, setelah pembagian nilai quiz fisika. Dengan apa yang sudah diduga, kami ber-empat mendapatkan nilai nol. Kim Minkyeong geram sekali sampai-sampai menyumpah serapahi Soonyoung.
Kalau tidak dilerai, pastilah mereka akan bertengkar lagi. Soonyoung adalah jenis lelaki yang akan membela dirinya walaupun yang menghinanya adalah seorang gadis. Namun, Kim Minkyeong juga jenis yang sama. Dia tidak segan beradu fisik dengan seorang laki-laki.
Aku mendapatkan kursi di deret ke tiga, di barisan paling ujung; tempat awal yang kupilih dengan Kim Mingyu yang secara kebetulan duduk di depanku. Soonyoung dapat di baris tengah, deret yang sama denganku sedang Junhui masih dengan sialnya mendapatkan kursi depan. Boo Seungkwan duduk di belakang Junhui dan Yoon Jeonghan tepat di belakangku.
Selama pelajaran berlangsung, Soonyoung terus menunduk. Dia memikirkan kata-kata Somin noona. Kemarin sebelum pulang, Soonyoung dipanggil dan setelahnya aku tahu. Bahwa Soonyoung harus menghadari rapat komite di bulan ini. Dia ketar-ketir. Sepanjang jalan pulang kemarin, Soonyoung sama sekali tidak berceloteh. Dia diam saja.
Meskipun, aku, Junhui, Seungkwan sudah menasehatinya agar tetap tenang. Soonyoung sama sekali tidak merasa tenang. Berkali-kali aku melirik ke arahnya. Dia duduk gelisah.
"Woo, Jeon Wonwoo."
Ku sandarkan punggungku pada kursi dengan kepala yang agak bergerak sedikit ke belakang.
"Kenapa?" bisikku pada Jeonghan.
"Apa rapat komitenya diadakan setelah istirahat pertama?"
Kepalaku mengangguk kaku. "Kata Somin noona begitu." Lirihku.
"Kau yakin, dia tidak bisa mendapatkan pembelaan dari kita?"
Aku menggeleng pelan. "Tidak, aku sudah memohon-mohon kepadanya. Tapi, rapat komite itu sangat ketat."
"Dasar Kim Minkyeong." Desis Jeonghan, yang terdengar di telingaku bagai bisik ular berbisa. Jeonghan terlihat jengkel juga dengan Minkyeong. Sampai-sampai…..
"Yak! Kim Minkyeong, kau membuat orang lain masuk ke dalam rapat komite hanya karena tidak dapat nilai. Itusih salahmu sendiri."
Sekejap, bulu romaku menegang. Ku tolehkan kepalaku pelan-pelan ke belakang. Yoon Jeonghan sedang terduduk miring dengan tegap dan matanya menyipit tajam pada oknum yang baru saja ia teriaki. Astaga, kenapa anak ini malah menambah beban?
Di depan, Guru Shim sudah menghentikan penjabarannya perihal reaksi air dan asam karbonat. Dia menggerakan bola mata dengan berkala pada Jeonghan dan Minkyeong. Gadis itu mendelik bengis, aku sangat yakin ada sebuah seringai licik di bibirnya yang tipis sebelum ia tersenyum manis seperti kelebihan sakarin.
Ia mengangkat tangannya.
Guru Shim menurunkan buku yang ia pegang, mengedikan dagunya agar Minkyeong mengemukan suaranya.
"Apa saya tidak berhak marah jika nilai saya mendapat nol karena hukuman yang saya dapatkan dari kelakukan konyol teman sekelas saya? Satu nilai sangat berati bagi rapor dan catatan saya saya adalah hal yang bernilai. Bukankah sekolah ini mengusung slogan 'Pintar dan Bersih 100% Menjadikan murid-murid kami layaknya cedera mata Korea.' Nah, kalau begitu bukankah orang-orang seperti mereka tidak berhak masuk ke sekolah ini?"
Mata Minkyeong memicing.
"Rangkaian rangking rendah. Memalukan." Ujarnya dengan lugas. Dia menurunkan tangannya dengan puluhan pasang mata menatapnya penuh kebencian. Mataku menyalak besar, pikiranku mendadak kosong. Lamat-lamat ekor mataku bergerak memandangi Jeonghan dan Soonyoung di sebelah sana.
Tangannya sudah terkepal.
"Bukan kau saja yang ingin pintar Kim Minkyeong!" Seungkwan sudah berdiri, hidungnya kembang kempis. Sedang Guru Shim tidak memprediksi bahwa keadaanya akan kacau begini. Ucapan Kim Minkyeong memicu amarah dari beberapa anak-anak.
Kalau begini, rapat komite akan menjadi semakin sulit untuk dihindari. Tubuhku sudah sepenuhnya menengok ke belakang. Ke arah Minkyeong yang tenang dan terlihat licik.
Kepalaku bergerak miring. Ada yang aneh dengan paras itu.
Dia terlihat puas dengan reaksi anak-anak. Minkyeong bersandar di kursinya, bersedekap. "Mati saja seperti Gongchan sunbae, jika kalian tidak tahan dengan tekanan nilai-nilai itu. Toh, kalian juga tidak berusaha 'kan? Sekolah akan lebih baik tanpa anak-anak seperti kalian."
"Y-ya, Kim Minkyeong—kau tidak boleh berbicara seperti itu." Guru Shim berkomentar dengan gelagapan.
'SREK'
"Kurang ajar."
"Sombong sekali dia."
Anak-anak berbisik-bisik dengan marah.
Fokus anak-anak teralihkan pada derit meja yang melencong. Seseorang yang tak pernah bersuara telah berdiri dengan tangan yang terjejal pada saku celananya.
Seungcheol—merangsek maju mendekati kursi Kim Minkyeong, pandangannya sengit dan buas. Dia berdiri di sampingnya. Kim Minkyeong mendongak dengan pandangan yang sama sekali tidak terintimidasi.
Tangan Seungcheol bergerak ke arah mulutnya, mengeluarkan permen karet dari dalam sana dan menempelkannya pada rambut hitam panjang Kim Minkyeong dengan santai.
Minkyeong langsung memekik keras. Mendorong Seungcheol sekuat tenaga.
Aku menahan napasku, kurasa yang lain juga ikut menahan napas.
Aku menganga kemudian mengerjap. Choi Seungcheol? Astaga.
oOo
Sudah hampir setengah jam pintu ruang rapat tertutup. Tapi, tanda-tanda mereka akan keluar tidak ada sama sekali.
Aku, Minghao, Seokmin, dan Junhui sudah berdiri was-was di depan ruang rapat sedari tadi. Bel istirahat akan usai dalam kurun waktu lima menit.
Soonyoung, Seungkwan, Jeonghan, Choi Seungcheol, dan Kim Minkyeong berada di dalam sana. Rapat komite untuk membahas kekacauan Soonyoung dan Minkyeong saja sudah tidak wajar bagiku. Ditambah ribut dikelas tadi. Memang, mereka tidak adu fisik—hanya Minkyeong yang menerjang Seungcheol, tetapi Seungcheol sama sekali tidak membalasnya.
Tapi, perkataan Minkyeong sangat memicu emosi, ditambah dengan tindakan Seungcheol yang di luar dugaan. Dia menyeramkan, tidak pernah berbicara di kelas. Sekalinya bertindak menggila juga.
"Mereka belum keluar juga?" si ketua kelas bertanya setelah setengah berlari menghampiri.
Kami serempak menggeleng. Hansol tampak frutasi dengan kepala yang digeleng-gelengkan.
"Sudah tidak apa, Sol. Sudah kubilang, ini bukan salahmu. Anak-anak itu saja yang kurang kerjaan," ucap seseorang di samping Choi Hansol.
Aku memicing dan dengan datar menyahut. "Siapa yang kurang kerjaan, hah? Buat apa kurang kerjaan untuk mendapatkan skors atau detensi?"
Seokmin memegang bahu kiriku. Memberi tanda agar aku tidak terpancing. Hansol menggaruk rambut belakangnya dan menyengir tidak enak padaku.
Dia menoleh pada temannya dan berujar pelan yang tak dapat ku dengar.
"Maaf-maaf, kadang dia suka ngaco kalau bicara." Katanya seraya menunduk.
"Bagaimana denganmu? Kau sudah menjalankan detensimu?" Junhui bertanya dengan tubuh yang sedikit mencondong.
Hansol mengangguk. "Sudah selesai kok, aku hanya disuruh merapikan buku di perpustakaan. Dan kebetulan aku dibantu Lee Chan." Ia memukul punggung temannya itu.
Mataku menatap mereka sekilas, sebelum kami bicara lebih lanjut bel sudah memekik kencang. Kami saling memandang satu sama lain. Jelas, bahwa aku, Junhui, Minghao, dan Seokmin enggan untuk pergi dari sana.
Tapi, Hansol meyakinkan bahwa mereka tidak akan apa-apa. Dengan lunglai kami berjalan ke kelas. Saat kakiku menapak ke dalam kelas, seisi kelas menatapku, Junhui, dan Hansol.
Aku kembali ke kursiku. Menengok ke arah jendela, awan di langit bewarna kelabu. Rintik-rintik hujan sudah turun setitik demi setitik.
Ku lipat tangaku di atas meja. Menenggelamkan kepalaku di sana. Pikiranku terasa terhimpit. Aku tahu bagaimana keadaan keluarga Soonyoung. Dan, dengan kejadian ini, jika Soonyoung terkena skors karena hanya lawannya seseorang yang berkuasa itu sangatlah tidak adil. Pikiranku terbang, teringat kejadian ketika kami di sekolah menengah pertama.
Ketika itu, Soonyoung juga terkena masalah dan hampir di drop out. Orangtuanya datang lalu berlutut di depan ruang guru. Itu bukan orangtuaku, tetapi aku merasakan hancurnya hati Soonyoung.
Aku dan Soonyoung sudah berteman sejak sekolah dasar. Aku sudah tahu semua rahasianya. Dan amat menjengkelkan mengetahui kisah sedih Kwon Soonyoung. Pasalnya, aku pasti akan ikut bersedih.
"Woo? J-jeon Wonwoo?"
Tanganku ditusuk-tusuk, dengan enggan aku menyembulkan kepalaku, menatap orang yang menusuk lenganku dengan mata yang menatap malas. Kim Mingyu membalikan tubuhnya menatapku dengan ragu.
"Apa?" tanyaku dengan mulut yang masih di tutupi lengan.
"I-itu."
Aku bangun dengan kepala tertopang. "Bicara yang jelas Kim Mingyu," ketusku. Jelas, aku sedang dalam mood yang tidak baik.
"Apa—rapatnya masih belum selesai?"
Ujung bibirku berkedut. Menatap Mingyu dengan heran, buat apa dia bertanya sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan dirinya?
Aku mengeryap dan melihatnya jengkel. "Kalau sudah selesai pasti kau sudah melihat mereka di sini, kan?" jawabku sebal. Habisnya pertanyaannya retorik banget sih. Mingyu mengangguk pelan.
"M-maafkan aku." Lirihnya dan tubuhnya kembali ke depan. Aku mendengus. Dasar si aneh!
Pelajaran bahasa inggris serasa berabad-abad. Entah berapa kali aku menoleh ke arah pintu. Ini sudah dua jam lewat mereka disidang. Dan belum selesai juga? Astaga, memang apa sih kesalahan mereka? Mulut Kim Minkyeong tuh yang harus dicuci sesekali.
Telingaku sudah tidak bisa membedakan mana kata-kata yang salah dan mana kata-kata yang musti ku coret dibuku paket bahasa inggrisku. Rasa khawatirku kepada Soonyoung, Seungkwan, Jeonghan—dan Choi Seungcheol lebih besar ketimbang soal-soal ini.
Pensil mekanikku sudah patah berkali-kali. Bahkan pergerakan gelisahku sudah menganggu Kang Yebin yang menoleh sebal ke arahku.
Benar-benar, persetan dengan ini semua.
Kenapa mulut anak gadis itu menyebalkan?
'DRETT'
Aku menoleh ke belakang kelas dengan cepat. Choi Seungcheol masuk dengan biasa, Seungkwan di belakangnya—dengan wajah kesal, diikuti Jeonghan yang terlihat sama kesalnya. Di mana Soonyoung?
Jeonghan duduk di bangkunya masih dengan aura sebal yang terlihat amat jelas.
"Di mana Soonyoung?" serbuku langsung.
"Dia katanya mau ke kamar mandi dulu."
Aku mengangguk-angguk. Jeonghan mengangkat tangannya, Guru Oh kemudian menatap Jeonghan.
"Maaf Pak, Kim Mingyu dipanggil oleh Guru Jeon."
Alisku terangkat. Guru Oh mengangguk kecil ke arah Jeonghan dan Kim Mingyu. Kim Mingyu segera bangkit dan keluar dari kelas setalah mendapatkan izin.
Aku ikut mengacungkan tanganku.
"Ada apa Jeon Wonwoo? ada yang dipanggil juga?"
Aku menggeleng. "Aku mau izin ke kamar kecil, Pak."
Guru Oh mengibaskan tangannya tidak acuh, menyuruhku pergi. Aku mengangguk dan tersenyum kecil. Aku keluar kelas cepat, menuju kamar mandi. Mencari Soonyoung.
Tapi, punggung lengkung Kim Mingyu dengan seorang wanita, lelaki paruh baya, dan….
…. Kim Minkyeong? Dia sedang apa di sana?
Hasratku untuk bertemu dengan Soonyoung sekejap saja lenyap. Mereka bergerak ke koridor sebelah kanan. Aku lantas berbelok, mengendap, berjalan mengikuti mereka. Langkah mereka sangat cepat dan terkesan terburu-buru.
Mereka menuju tempat parkir. Aku besembunyi di balik dinding bata. Memasang telinga dengan tajam.
"Dasar, anak tidak bisa diandalkan."
'Bruak'
Mataku membelalak sempurna. Terdengar suara rintihan tak jauh dari tempatku berdiri. Aku dengan hati-hati merapat pada dinding, perlahan-lahan mengintip untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Obsidianku menangkap tubuh Kim Mingyu yang tinggi itu sudah tersungkur jatuh di tanah. Tangan kekar pria paruh baya itu terjulur, meraih kerah seragam Kim Mingyu. Memaksanya untuk berdiri. Kepalanya ditarik ke belakang lalu pipinya ditampar berkali-kali. Perutnya dihantam dengan satu pukulan dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Menabrak dinding sekali lagi.
"Kau diam saja begitu? Adikmu sedang dihina dan rambutnya ditempeli permen karet tapi kau hanya diam saja?"
A-adik? Kim Minkyeong adik Kim Mingyu? Ah…pantas saja tadi dia bertanya. Jika Minkyeong adiknya maka itu hal yang wajar. Adik? Wah, mereka sama sekali tidak terlihat seperti adik dan kakak.
Aku semakin menempel pada dinding. Kini tangan lelaki itu meluncur lagi, meraup dagu Kim Mingyu dan memukul pipinya hingga Kim Mingyu terbatuk-batuk.
"A-appa…aku minta maaf." Lirihnya, dan suara Kim Mingyu seperti hampir menangis.
Bibirku ku gigiti, apa yang bisa kulakukan untuk membantunya? Pikir Jeon Wonwoo. Pikir, cepat, sebelum Kim Mingyu mati di tangan ayahnya sendiri.
"Woo? Jeon Wonwoo?"
Hah?
Aku menoleh lalu mendapati Soonyoung berjalan ke arahku. Aku menengok sekali lagi kepada Mingyu dan ayahnya yang melirik ke tempatku. Aku mundur dan langsung berlari ke arah Soonyoung. Menariknya jauh-jauh dengan mulut yang aku tekap. Soonyoung berontak, tapi aku menyeretnya dengan kuat.
"Y-ya! Hmph!"
Soonyoung mendorong tanganku menjauh dari mulutnya. Mengusap bibirnya dengan kesal.
"Kenapa sih? Kau sedang apa di situ?"
Aku melongok ke tempat parkir lagi. Siluet tubuh Kim Mingyu berjalan dengan cepat ke arah kami. Aku menarik Soonyoung untuk bersembunyi, tapi Soonyoung bergeming.
"Ah kau ini! Nanti akan kujelaskan!" sungutku. Aku berbalik dan tubuh seorang lelaki berada tepat di depan kedua indera pengelihatanku.
Kepalaku mendongak perlahan. Kim Mingyu menatapku dengan kecewa. Kerah seragamnya terlihat kusut. Ada bercak merah di sudut bibirnya.
Bibirku terkatup.
"Puas kau?" Ia mendorong tubuhku ke samping. Berjalan dengan langkah besar meninggalkan aku yang mematung.
Aku tertunduk, melihat ujung sepatuku.
"Woo? Dia kenapa?"
Ku gelengkan kepala pada Soonyoung lalu mengajaknya untuk kembali ke kelas.
Hal yang paling menyakitkan di antaranya adalah mengetahui hal yang yang seharusnya tidak diketahui. Menutup mulut dan seolah tidak mengetahui apapun atas rahasia orang lain.
Aku sama sekali tidak pernah menyangka. Jika, Kim Mingyu adalah kakak dari Kim Minkyeong. Mataku terbuka lebar kemudian tubuhku tersentak kaget. Mungkinkah? Perkataannya di jembatan waktu itu adalah karena ini?
Dia—dibenci oleh keluarganya sendiri?
Apa yang harus kulakukan untukmu Kim Mingyu?
Haruskah aku berpura-pura tidak tahu?
Punggung itu sepertinya tambah melengkung.
oOo
