Nara
Temari & Shikamaru N.
T
Romance/family
© Sheny Alviany, 2013
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Cerita ini hanya fiksi, mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, watak, alur, dll merupakan sebuah ketidak sengajaan. Hanya untuk profesionalitas dan hiburan semata. Dan juga berbagai Typo yang tidak disengaja.
Summary : Shikamaru dan Temari menikah atas dasar perjodohan. Yoshino tak menyukai Temari sebagai menantunya. Ia pun nekat tinggal bersama Shikamaru dan Temari. Bagaimanakah kisah kehidupan mereka?
Hai minna^^ akhirnya bisa update fic ini, maaf ya lama, banyak banget rintangannya(?) lagi persiapan perpindahan sih, mau hiatus ;A; huaaa pasti kangen banget deh. Semoga aja sebelum hiatus aku udah nyelesain update fic Nara sama yg lainnya. Mohon bantuannya(?) ;;)
Happy Reading
'ceklek' Yoshino menatap pintu kamarnya yang terbuka walaupun dengan setengah sadar. Tiba-tiba gelap! Ia hanya bisa mendengar teriakan seseorang yang barusan membuka pintu kamarnya.
"ibu!" Temari yang saat itu mau mengantarkan makanan siang pada mertuanya langsung kaget dan menjatuhakn nampannya. Yoshino pingsan di bawah kasur. Shikamaru baru saja pergi ke kantor. Apa yang harus ia lakukan?
Kalau dia menghubungi shikamaru, suaminya itu pasti sudah di jalan. Bagaimana ini? Ah! Hanya ada satu cara. Ya, satu cara.
Dia pun mengambil handphonenya.
"Halo? Kiba? Kau di rumah?"
"iya, kenapa?"
"Bisa kau datang ke rumahku? Aku membutuhkan bantuanmu!" ucapnya panic
"Loh? Ada apa Temari? Ya, aku segera kesana. Tunggu" ini bahaya, tapi lebih bahaya jika mertuanya kenapa-napa. Dengan cepat ia memapah tubuh yoshino hingga sofa.
Butuh waktu untuk menunggu kiba. Rumah mereka tak terlalu jauh.
Kiba memasuki appartement Temari.
"Tema—lho? Siapa tante ini?" Tanya kiba bingung melihat Yoshino yang berada di dekapan Temari. Yang kiba tahu, bibi karura mempunyai rambut blonde, bukan hitam pekat.
"Bukan saatnya sesi pertanyaan. Kau bawa mobilkan? Antarkan ibu ke rumah sakit. Ayo cepat!" teriak temari. Kiba mengangguk lalu menggendong Yoshino menuju mobilnya.
Mereka melaju menuju rumah sakit. Kiba menyetir panic saat melihat Temari menangis.
"adu..duh, sabar Temari.."
"kami-sama… selamatkan ibu.." gumam temari berdoa. Matanya terpejam erat, matanya basah. Kiba melihat itu. Ibu? Jadi itu benar bibi karura? Tapi..rambutnya beda. Matanya juga beda.
"Temari, apa bibi karura ganti model rambut?" Tanya Kiba. Temari harus jujur mulai dari sekarang. Dia aka menceritakan semuanya.
"Dia mertuaku." Ucap Temari yakin
"apa?!" kiba sontak kaget. Kapan Temari menikah? Yang ia tahu temari berpacaran dengan pria berkucir yang beberapa hari lalu bertemu dengannya di café.
"k—kapan kau menikah?" Tanya kiba bingung. Temari bingung harus mulai dari mana.
"Ceritanya…panjang." Ucap Temari lirih
Dan Temari memulai menceritakan awal mula perjodohan gila ini pada kiba, sahabatnya setelah sakura. Temari merasa menyesal tak memberi tahu kiba saat itu. Dia takut kiba menjauhinya karena menikah duluan. Konyol memang, tapi kiba yang bilang.
"kau kalah, temari!" ucap kiba tiba-tiba membuat Temari menoleh.
"eh?"
"Kita pernah taruhan, kan waktu itu. Siapa diantara kita bertiga yang menikah duluan, harus mengajak kita berdua berlibur. Ahhaha" ujar kiba. Temari mnegernyitkan dahinya. Pria aneh.
"Kau ini! Disaat seperti ini kau masih memikirkan hal konyol itu? Awas saja nanti! Aku hanya akan mengajak sakura dibandingkan kau!" Teriak Temari kesal.
"go—gomen Temari, aku bercanda" kiba merinding melihat aura pembunuh dari seorang Temari. Cantik tapi galak, itulah sebutan buat Temari.
"huh!" Temari mendengus kesal.
"Keluarga Nara?" Tanya seorang dokter. Temari langsung berdiri dan mendekati sang dokter, diikuti kiba di sampingnya.
"Bagaimana ibu saya dok?" Tanya temari. Dokter itu menghela napas berat.
"Untunglah dia selamat, kalau tidak nyawanya tak bisa ditolong. Ibu anda terkena serangan jantung. Sepertinya ibu anda terkena VSD" ucap dokter itu. Temari mengernyitkan dahinya bingung
"Maksud dokter?" Tanya temari sedikit tak mengerti
"Ventrical Septal Defect. Ibu anda mengalami kelainan pada jantungnya. Detak jantungnya tak berdetak dengan normal. kalau bisa kita lakukan operasi secepatnya pada pasien."
"Saya akan memberitahu suami saya, terima kasih dok"
"Iya, sama-sama"
Dokter itu pergi meninggalkan temari dan kiba.
"Peyakit mengerikan.." gumam kiba. Temari masih diam.
"Cepat hubungi suamimu, kau mau ibu mertuamu di operasikan?" Tanya kiba. Temari dengan cepat mengambil handphonenya dan menelpon shikamaru.
Temari mendengar nada shikamaru yang amat sangat khawatir atas kepergian ibu tercinta ke rumah sakit.
Butuh beberapa menit untuk menunggu shikamaru tiba. Temari dan kiba sudah masuk ke ruangan yoshino sejak tadi. Temari menggenggam pergelangan dingin yoshino. Sedangkan kiba sudah molor di sofa samping ranjang.
"Ibu, cepat sembuh.." lirih temari. Keadaan temari juga masih lemas, dia masih sangat shock atas perkataan dokter tadi, juga ditambah alergi nya yang belum sembuh.
"Temari!" Shikamaru telah tiba. Dia berlari dengan sekuat tenaga menuju ibunya.
"Ibu? Kau dengar aku?" Tanya Shikamaru panic.
"Ibu sedang tidur, shika" jawab Temari. Temari tahu shikamaru panic, terlihat dari matanya.
"Syukurlah. Dokter bilang apa?"
"Dia bilang, kita harus segera melaksanakan operasi pada jantung ibu."
"Baik, aku akan mengurusnya. Lalu, siapa pria itu?"
"Itu kiba. Sahabatku."
"Ohh aku mengingatnya. Tidurnya..terlihat lelap" ucap shikamaru saat melihat kiba yang tidur dengan lelap disertai korok dan iler.
Operasi Yoshino berjalan lancar. 3 hari dia di rawat di rumah sakit. Selama itu pula Temari mengurusnya dan membantunya beraktifitas seperti makan, mandi, dan lainnya. Sedangkan Shikamaru, dikarenakan pekerjaannya yang tak bisa di tinggalkan, dia pun hanya bisa menjenguk ibunya pada malam hari.
Temari sangat menyayanginya. Namun sayang, yoshino tak begitu memperhatikan. Terlalu merepotkan, pikirnya.
Hari ini adalah hari kepulangan Yoshino ke rumah. Mereka bertiga sangat senang. Shikamaru dan Temari ingin mengadakan syukuran kecil atas kesembuhan Yoshino.
Mereka pun tiba di appartement.
"Bagus,ya. Rumah sangat berantakan selama aku tak ada. Harusnya kau membereskannya, Temari!" bentak Yoshino. Baru saja mood nya bagus dan sekarang sudah pecah lagi.
"Maaf, bu. Selama itu aku tinggal di rumah sakit" jawab Temari
"tapi kan sesekali kau pulang, sebegitu tak ada waktunya kah kau mengurus rumahmu?" Nada Yoshino tetap tinggi. Membuat temari merasa lebih bersalah.
"Maaf, bu. Lain kali aku tak akan lupa untuk membereskan rumah," sesal Temari. Yoshino mendecih.
"Cih, bisanya Cuma ngomong. Makanya jangan hanya bisa memamerkan perut dan paha saja! Menyesal aku menyetujui perjodohan kalian!" kata-kata Yoshino membuat Temari terbelalak. Sebegitu bencikah dia pada menantunya? Shikamaru yang kebetulan baru masuk langsung aneh melihat Temari berlari keluar dengan menutup mulutnya.
Shikamaru sudah menduga, pasti ibunya sudah menyakiti temari lagi. Tapi Shikamaru harus sabar, tak mungkin ia mendatangi ibunya, keadaan Yoshino sedang tidak mendukung.
Dia pun memilih mengejar Temari. Dilihatnya wanita itu sudah tak ada di depan pintu appartement. Shikamaru pun mengambil handphonenya dan menghubungi Temari.
Kriiinggg….Kriiingggg
Dan sialannya, handphone Temari tergeletak di sofa. Wanita itu tak membawa ponselnya.
"Dia kemana?" Shikamaru masih mondar mandir.
"Aku tak mengenal teman-temannya," lanjut Shikamaru. Otak cerdasnya pun menyuruhnya untuk membuka handphone temari dan menelpon contact yang berada di 'panggilan masuk'
Itachi Uchiha. Shikamaru terdiam memandangi nama itu. Itu adalah pria yang beberapa waktu lalu bertemu dengan Temari di bioskop. Shikamaru masih mengingat senyum beda Temari pada pria itu. Pria bernama itachi itu menelpon Temari. Sial!
Perempuan bersurai blonde itu berlari dengan kencang. Menaiki sebuah bus dan pergi tak tahu mau kemana.
Temari terisak. Ucapan pedas Yoshino masih terngiang di telinganya, membuatnya terlihat seperti orang aneh yang menangis dalam bus.
Masih jam Sembilan, tapi hati temari terasa panas seperti jam 12. Dia merasa hari ini akan berjalan tidak lancar. Dia lupa membawa handphone dan dompet! Oh sial!
"Pa, aku berhenti di sini saja, aku….lupa bawa dompet" lirih Temari, sang supir langsung mendorongnya keluar. Ini sudah lumayan jauh dari appartement. Benar-benar tak berjalan lancar.
"Kalau tak punya uang, jangan naik transportasi umum, non!" jawab si supir dengan kasarnya. Temari malu sekali, orang dalam bus menatapnya aneh.
"menyebalkan sekali!" gerutunya. Dia pun berjalan lurus. Tak tahu mau kemana.
"Lebih baik aku ke taman saja. Untung taman tak terlalu jauh dari sini, lagian di taman juga gratis" Temari menghela.
"huapaaa?" Tanya Kiba kaget saat mendengar penjelasan Temari bahwa Temari kabur dari rumah. Sakura sempat melemparnya dengan snack.
"Berisik, kiba!" bentak Sakura. Temari masih cemberut. Ya, dia kabur dari rumah. Karena yoshino. Bukan! Terlalu kejam kalau menuduh mertua sendiri. Mungkin karena dia yang terlalu sensitive.
"Hah~ aku merasa bersalah pada ibu," ucap Temari. Sakura menatapnya nanar.
"Ibu mertuamu itu terlalu keras, Temari. Wajar jika kau bersikap seperti ini," hibur sakura, agar Temari tak merasa bersalah lagi. Kasihan Temari, dia sampai tidak mau pulang ke rumahnya. Suaminya pasti sangat khawatir.
"Semoga mertuaku tak begitu nanti," gumam kiba. Membuat Sakura memberikan death glare terinadahnya.
"Kau mau menikah dengan siapa? Dasar anjing buduk." Kesal sakura. Kiba benar-benar tak tahu caranya menghibur hati wanita, pantas saja tak ada satupun wanita yang nyantol padanya. Bersikap layaknya pria sejati kepada wanita pun susah.
"kau ini, jahat sekali. Mentang-mentang mau menikah," gerutu kiba. Temari menatap Sakura penuh harap. Sakura membalas tatapan temari malu.
"Kau mau menikah?" Tanya Temari. Sakura hanya mampu mengangguk malu. Kiba sudah menepuk pundaknya dan di jawab jitakan super nikmat oleh Sakura.
"Waaahh senangnya, dengan siapa?" Tanya Temari lagi.
"Sasuke." Ucap Kiba jutek.
"Temari bertanya padaku, bodoh!" teriak sakura.
"aku hanya mewakilinya," jawab kiba tak mau kalah.
"Sudah-sudah. Kapan pestanya di adakan, sakura?" Tanya Temari lagi. Temari sedikit kepo saat itu.
"Satu bulan lagi, kau dan suamimu harus datang ya" Sakura sudah blushing membayangkan pesta pernikahannya bersama sang pujaan hati
"Pasti. Waahh tinggal kau nih kiba yang masih jomblo. Haha" canda temari membuat Kiba memutar bola matanya malas.
"Diam, aku pasti menikah secepatnya, iyakan akamaru?" ucap kiba dan hanya di jawab 'kyuuung' oleh anjing nya tercinta itu.
Hari sudah malam, tak terasa mereka bertiga tertidur di balkon kamar kiba.
Sehabis dari taman, temari langsung menghubungi kedua sahabatnya itu melalui telephone umum. Untung ada orang yang berbaik hati memberikannya beberapa koin. Dan berakhirlah mereka di balkon kamar Kiba.
"sudah jam 9 malam, bagaimana ini?" Temari panic sambil menatap nanar jam di dinding. Dia benar-benar takut untuk pulang. Bagaimana kalau Yoshino tak membukakan pintu? Shikamaru tak membiarkannya masuk ke kamar dan.. dan.. dan berbagai macam pemikiran negative berkelibat di benknya.
"Temari, sepertinya aku tak bisa pulang bersama denganmu, sasuke-kun akan menjemputku dan pergi ke rumahnya, gomen," sakura merasa sangat menyesal karena telah menuruti permintaan sasuke. Sahabatnya sedang kesusahan, mana mungkin dia bersenang-senang sendiri. Temari menghela napas.
"Mobilku sedang di service," lanjut Kiba sambil memeluk Akamaru. Temari merasa benar-benar sial untuk hari ini. Kenapa ini harus terjadi kepadanya?
"bagaimana ini.." lirih Temari.
"Aku akan meminjamkanmu uang, kau pulanglah naik bis. Suamimu pasti khawatir," ucap Kiba sambil memberikan Temari beberapa lembar uang. Ya ampun, kiba baik sekali, temari langsung mendoakan untuk cepat dipertemukan dengan jodohnya.
"Kiba~ kau baik sekali, terimakasih yaa" Temari menghambur ke pelukan kiba.
"iya, cepat sana pergi"
"Baiklah, Sakura, Kiba, aku duluan ya~" Temari pun berlari keluar. Untunglah sahabatnya masih peduli, kalau tidak dia bisa-bisa gempor berjalan dari rumah kiba ke appartement nya. Mengingat jarak rumahnya yang sangat lama jika di tempuh dengan dua kaki.
Temari kini sedang menunggu di halte. Bus malam lama sekali datang, biasanya ada 3-4 bus yang datang setiap 30 menit sekali. Tapi Temari sudah menunggu hampir satu jam dan tak ada satupun bis yang singgah di depan matanya. How resentful she is.
Temari benar-benar kesal, jalanan pun mulai sepi. Dia takut ada orang jahat. Pikiran buruknya semakin meluas seberhentinya sebuah honda city berwarna hitam pekat di depannya. Temari menahan napas saat melihat pintunya terbuka. Jangan sampai itu orang jahat, pikirnya.
Temari meremas ujung bajunya. Si pengendara sudah keluar dari mobil. Temari tak bisa melihat jelas wajahnya karena lampu jalan yang tak secerah dahi sakura.
"S—senpai?" Tanya Temari saat melihat orang yang baru saja keluar dari mobil mewah itu. Itachi uchiha, seniornya dulu yang sekarang kembali tiba di kehidupannya.
"Dugaanku benar, ternyata ini kau. Dari jauh aku melihat seorang wanita duduk di halte, aku mengenali warna rambutmu, jadi aku berhenti. Butuh tumpangan?" seketika itu juga Temari merasa hari ini sedikit lancar. Tuhan memang adil.
"a—ah? Kalau senpai tidak keberatan" ucap Temari sambil tersenyum gugup. Itachi pun membuka kan pintu sebelah kanan dan Temari masuk ke dalamnya.
"Kau tinggal dimana sekarang?" itachi mulai basa-basi. Setelah mobilnya melaju.
"di appartement baruku, dari lampu merah ke empat belok kiri, disitu gedungnya" ucap Temari. Itachi hanya menjawabnya dengan gumaman 'ohh'
Mereka pun terlihat sangat menikmati perbincangan hangat mereka selama perjalanan menuju appartment temari. Itachi lebih sering menceritakan tentang kenangan saat Temari mengejarnya dulu, membuat Temari sangat malu mengingat kekonyolan yang ia lakukan dulu.
"Sudah sampai, mau aku antar sampai pintu?" ucap Itachi saat mereka sampai di depan gedung. Temari menggeleng cepat. "Tidak usah, senpai, sampai sini saja" Temari membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
"Terima kasih atas tumpangannya, senpai" Ucapan temari disertai senyum kakunya. Itachi tersenyum sambil menganggukan kepalanya lalu melambaikan tangannya tanda perpisahan.
Mobil itachi kini telah melaju keluar gedung. Temari masih diam melihat kepergian senpai-nya itu. Dia pun menghela napas dan membalikkan tubuhnya.
Deg.
"Shi—shikamaru?" Tanya Temari. Wanita itu sangat terkejut atas kehadiran shikamaru yang tepat berada 3 meter di belakangannya. Apa dia tadi melihat itachi? Pikir Temari.
"K—kau sejak kapan disitu?" Tanya Temari sembari mendekati suaminya itu. "belum lama," jawab Shikamaru.
"Ayo masuk, diluar sangat dingin" Tanpa di duga, shikamaru merangkul bahu kecil temari menuju ke dalam. Temari tahu shikamaru melihat semuanya. Dilihatnya shikamaru mengepalkan tangannya.
Mereka pun memasuki appartement. Gelap. Sepertinya Yoshino sudah tidur. Shikamaru masih tetap merangkul Temari sampai kamar mereka.
Temari duduk di tepi ranjang. Sedangkan shikamaru berdiri membelakanginya.
"Gomen, Shika" lirih Temari. Shikamaru tahu apa maksud Temari. Dia memilih untuk diam. Terlalu merepotkan memikirkan masalah itu, pikir Shikamaru.
"Untuk apa?" Tanya Shikamaru, sedikit berbohong. Temari kini sepenuhnya menatap punggung Shikamaru. Dia berdiri dan langsung memeluk suaminya itu dari belakang.
"Kau melihat semuanya," ucap Temari sedikit bergetar. "Aku bisa jelaskan semuanya, shika," lanjut Temari. Pelukannya tak mendapat jawaban. Membuat ia sakit hati. Sebegitu marahkah suaminya?
"Maaf~" lirih Temari. "Semua berawal dari—" Kata-kata temari tak terselesaikan akibat shikamaru membalikkan tubuh nya dan langsung memeluknya erat. Menyesap aroma tubuh sang istri yang sangat ia rindukan. Perlahan bibir shikamaru mulai menjalar ke bibir Temari. Temari yang hanya bisa memejamkan mata pun mulai terdorong ke ranjang.
Dan malam itupun menjadi malam terindah bagi mereka.
Pagi yang hangat. Sangat cerah dan segar. Burung-burungpun mulai berkicau. Embun mulai bertetesan. Beberapa toko pun sudah mulai buka. Beberapa penduduk kota pun mulai bangun.
Lain hal nya dengan pasangan suami-istri yang satu ini.
Temari mengerjapkan matanya. Silau. Dilihatnya tirainya sudah terbuka. Siapa yang membukanya? Oh iya dia lupa menutupnya semalam. Temari blushing saat mengingat kejadian semalam. Dia pun menoleh ke sebelah kiri, terdapat suaminya yang doyan tidur itu masih tertidur dengan polosnya. Tangannya melingkari pinggang ramping Temari.
Temari melepaskan pelukan suaminya itu dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Hari ini hari rabu, temari ada jadwal pemotretan bersama sakura jam 11 nanti. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Setelah selesai dari kamar mandi, temari yang saat itu tidak memakai sehelai benang pun langsung memakai gaun tidurnya yang berbalut kimono.
"Temari!" samar-sama terdengar teriakan dari luar. Ibu mertuanya mulai beraksi, rupanya. Temari mendekati shikamaru dan mengecup dahinya lembut lalu tersenyum.
"Iya bu, sebentar" jawab Temari saat membuka pintu.
"Kau telat 10 menit! Ayo cepat bersihkan rumah. Aku akan pulang untuk sementara," ucap Yoshino masih dengan nada juteknya.
"Hah? Ibu mau pulang? Kenapa? Ibu kan masih sakit.." Temari memandang sayu mertuanya itu. Yoshino menatap aneh temari.
"Malahan kalau aku disini aku tambah sakit!" jawab Yoshino sambil meletakkan gelas yang berisi air putih yang tadi ia minum.
"Apanya yang tambah sakit, bu?" Tanya temari polos. Membuat Yoshino geram.
"Bukan urusanmu, ayo cepat membuat sarapan!" Yoshino beranjak ke dapur. Diikuti temari di belakangnya. "iya, bu" ucap Temari.
Sedari tadi, yoshino melihat ekspresi senang dari menantunya ini. Entahlah, yoshino jarang memperhatikan ekspresi temari sehari-hari. Apa mungkin Temari senang dia akan pulang karena bisa leluasa pergi malam, pamer perut dan paha juga bermesraan bersama Shikamaru? Hah entahlah. Yoshino terlalu pening untuk memikirkan masalah itu.
Saat membuat pancake, yoshino tak sengaja melihat belahan dada Temari. Dia terbelalak. Apa mungkin Temari tak memakai pakaian dalam? Tak biasanya juga dia memakai gaun tidurnya yang sedikit tipis itu.
"Temari? Kau tidak memakai pakaian dalam?" Selidik Yoshino. Temari kaget dan langsung menutupi dadanya. "Ibu melihatnya?" Tanya Temari panic. Yoshino mengangguk.
"Aaaaaa! Aku ke kamar dulu bu!" teriak temari malu, dia pun langsung berlari menuju kamar. Yoshino masih terdiam, bingung dengan keadaan yang barusan.
"Apa mungkin karena aku memberi temari nanas, temari jadi keguguran, dan mereka membuat yang baru?" tanyanya pada diri sendiri. Yoshino ternyata polos.
Siang pun menjelang. Temari sudah memakai pakaian biasa. Dia malu sekali ketika mertuanya memergokinya lupa memakai pakaian dalam. Shikamaru sampai tertawa terbahak-bahak saat temari menceritakannya tadi, temari sangat malu.
"Aku akan pulang selama 2 minggu." Ucap Yoshino
"Temari, jangan lupa, kau harus mengurus keluargamu! Kau juga shika, jangan selalu memanjakannya. Perbatasilah kegiatannya. Dia sekarang seorang ibu rumah tangga!" Pepatah Yoshino sebelum dia berangkat. Koper besar telah tersedia di sampingnya.
"Baik, bu" ucap Temari dan Shikamaru kompak.
"Apa ibu mau kami antarkan sampai rumah?" Tanya temari. "Tak usah, lebih baik aku menumpang dengan inoichi." Jawab Yoshino jutek. Temari sabar. Shikamaru menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan.
"Yasudah kalau begitu, ibu hati-hati ya," ucap Shikamaru. Mereka berdua pun mencium tangan Yoshino sebelum Yoshino benar-benar pulang ke rumahnya.
"hah~ rasanya tak ada ibu jadi membosankan," gumam Temari sesaat setelah beberapa menit yoshino pergi. Shikamaru yang berada di sampingnya tersenyum sambil membelai rambut temari lembut.
"Kalau ada, saja, terus diomeli. Kau mau?" Tanya Shikamaru. Temari buru-buru menggeleng. "Yah, walaupun terus diomeli ibu, dia kan tetap ibuku, ibu kita, maksudku." Jawab Temari sambil tersenyum. Temari melingkarkan tangannya pada pinggang shikamaru.
"Aku menyayangi ibu, shika" lanjut Temari.
"Ayo buat ibu menyayangi kita," jawab Shikamaru. Temari menatapnya ragu. Lalu mendengus kesal. "ibu itu sangat sayang kepadamu sampai tak mau menikahkanmu dengan wanita yang salah seperti aku," gerutu Temari sambil cemberut.
"Kau ini bicara apa sih? Yang menikah kan aku, bukan ibu." Jawab Shikamaru sambil mencubit hidung temari. "Sakit, bodoh!"
"Makanya, ayo kita buat ibu percaya pada kita. dengan cara memberinya…cucu" goda shikamaru. Temari mengernyitkan alis. Penyakit mesum suaminya mulai kambuh. Kau harus hati-hati temari!
"Hentai!" Temari menimpuk suaminya itu dengan bantal. Salah shikamaru, menggoda temari sehingga membuatnya blushing.
"haha iya iya aku bercanda, lagian semalam kan.. kita.." ucap Shikamaru malu. Temari sudah merona hebat.
"Ahh sudahlah. Kau tidak ke kantor?" Tanya Temari mengalihkan Topik. Temari maish malu. Dia bertanya tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya karena takut ketahuan blushing. Padahal dua-duanya sudah sangat merah.
"Aku libur, Neji menggantikanku. Kau sendiri?" Tanya Shikamaru yang mulai lupa topic sebelumnya. Dia mengambil cangkir kopi yang berada di meja.
"Jam 11 aku ada pemotretan bersama sakura," jawab Temari. Shikamaru masih terdiam. Inilah saatnya untuk mempublikasikan hubungan mereka. Si jenius ini punya ide.
"Aku boleh ikut, kan?"
TBC
Aku rasa fic ini makin hari makin gaje maaf ya kalo gak memuaskan, Cuma segini kapasitas kemampuanku membuat fic T-T aku juga gatau nih fic masih di tunggu atau nggak. Kayaknya udah pada bosen deh maaf ya, yang terakhir, review~
