Harry Potter belongs to JK. Rowlings
Tengkyu buat Reviewsnya yaah ..
terimakasih untuk masukannya dan maaf jika ada kesalahan ya ..
that's my first fanfic soalnya -_- hehee .. :D
-OoOoO-
E.N.J.O.E.Y
-OoOoO-
Harry mengerjap, matanya tertusuk kilau matahari pagi.
Sejenak ia merasa bermimpi,
Seorang wanita yang menyuapinya makanan, memeluknya seperti seorang ibu dan itu bukan mimpi ..
Harry menatap kamar di hadapannya, persis sama dengan yang dikenalinya tadi malam. Kenyataan bahwa ia tidak bermimpi memberi rasa girang yang luar biasa. Harry bangkit dari tidurnya, menurunkan selimut tebal ke lantai, menyapu seluruh permukaan kasur, merapikan kusutan seprai dan menepuk bantal di atasnya kemudian melipat selimut dengan rapi pada akhir ritual membereskan tempat tidur.
Perlahan anak laki-laki itu berjalan menuju jendela kaca besar di salah satu sisi ruangan kamar tersebut, gorden putih teruntai tinggi menutupinya. Sesaat Harry menyingkap salah satu gorden sehingga pemandangan hijau dan taman bunga aneka warna menyapu matanya. Seulas senyum muncul di wajah polosnya .. Sangat indah.
Daun pintu kamar di putar, Harry menoleh dan mendapati wanita itu tengah tersenyum .. Gaun hitamnya melambai saat ia berjalan perlahan ke dalam kamar. Manik violetnya menyapu setiap sudut kamar dan senyum itu berubah menjadi seringai cantik ..
"Well, harus ku akui jika kamar ini membuatku sedikit iri .. Good job son !" lembut ia menepuk pelan kepala anak berambut hitam itu.
Harry tersenyum malu, mendongak menatap Rynne.
"Hmm .. bagaimana tidurmu ? nyenyak ?" Rynne duduk di tepian ranjang, meninggalkan Harry di tepian jendela.
"Ya ma'am .. Disini sangat nyaman" Harry membalas antusias dengan anggukan halus.
Rynne tertawa lembut menanggapi seraya beranjak turun dari ranjang,
"Kalau begitu segera bersiap, ada sarapan yang harus kau habiskan anak tampan" cubitan halus mendarat di pipi mungil itu
"aku sudah siapkan pakain ganti untukmu .. semoga kau suka warnanya ya" Rynne meninggalkan Harry sambil menunjuk kearah meja kecil di samping ranjang.
Harry tersenyum, sembari berjalan menuju meja itu. Sebuah kemeja biru cerah dengan padanan celana bermuda gelap terlipat rapi disana.
"Untukku ma'am ? i-ini sangat bagus, aku suka .. terimakasih ma'am" Harry menatap Rynne di ambang pintu kamar.
"Ya .. untukmu Harry dan jelas itu ukuranmu. Kurasa 'terimakasih'mu bisa ku terima jika kau sudah menggunakan baju itu" Rynne menggangguk pelan dan pintu itu tertutup.
Harry segera bersiap secepat ia bisa .. Entah apa yang meliputi hatinya tapi yang jelas perasaan ini sangat langka untuk hadir dalam hidupnya.
Sesaat setelah berpakaian Harry melesat menuju cermin di sebuah lemari. Seorang anak laki-laki tampak dengan rambut yang sedikit awut-awutan tapi begitu apik dengan kemeja biru dan celana bermuda gelap itu.
"ini memang untukku dan ukurannya memang untukku" setengah membatin, Harry teringat dengan baju-baju ukuran Dudley yang biasa ia pakai.
Untuk beberapa menit ke depan Harry masih menatapi diri sendiri di depan cermin dan kemudian teringat bahwa ada yang menunggunya. Perasaan yang langka itu seketika meluap dalam diri sang bocah dan ia melangkah keluar dari kamar.
Harry mendapati dirinya berada pada lantai dua rumah tersebut. Bentuk ruangan lantai ini sungguh lingkaran sempurna dengan kayu yang berukir membatasinya. Hanya ada dua sisi ujung, satu yang menuju tangga dan yang lain menuju sebuah balkon luas. Harry mengintip balkon yang jaraknya memang lebih dekat dari tangga.
Perlahan kakinya melangkah pada tujuan mata ..
Harry bergumam tak jelas karena matanya menangkap bahwa balkon itu di penuhi dengan kanvas lukisan berbagai ukuran serta alat lukis yang sangat banyak . Lukisan-lukisan itu menggambarkan berbagai objek.
Ada lukisan sebuah bangunan yang besar dan megah, seperti kastil.
Ada juga gubuk reot yang benar benar rubuh di tanah dan yang paling ujung menggambarkan sebuah pemandangan laut dengan karang karang yang curam.
Tapi mata Harry terpaku pada satu lukisan .. Sebuah lukisan yang menggambarkan seorang wanita dan seorang pria, sebatas leher tetapi saling berlwan arah, bertolak belakang. Persis lukisan pasir yang pernah Harry lihat sebelumnya di rumah itu.
Mendadak merasa terlalu jauh dalam kawasan itu, Harry beranjak menuju tangga sambil menyusuri tepian kayu yang membatasi ruangan tersebut. Sampai pada anak tangga terbawah Harry bisa melihat Rynne yang tengah duduk di sebuah sofa tunggal. Matanya terpejam dan sesaat Harry mengira bahwa wanita itu tengah tidur, tetapi kelopak mata itu terbuka dan meonleh menatap Harry.
"Bagaimana ? Sangat seusai untukmu ? kau suka Harry ?" Rynne bangkit duduk tegak dan melihat pakaian bocah itu.
"Ya ma'am .. ini sangat bagus .. terimakasih" Harry membalas tersenyum malu.
"Naah .. Kalau begitu saatnya sarapan" Rynne berdiri dan melangkah meraih tangan Harry menuju ruang makan yang tampak menyatu dengan dapur. Sebuah meja makan yang cukup besar menanti disana.
Rynne duduk pada salah satu kursi , tapi Harry berdiri mematung di tepian kursi yang lain.
"Kenapa Harry ? Ada yang salah ? Ayo duduk" Rynne menoleh menatap heran bocah itu.
"Aku boleh duduk ma'am ?" Harry menunduk dan memutar ujung kemejanya.
"Tentu Harry .. Bagaimana mungkin kau sarapan sambil berdiri ?" Rynne menanggapinya dengan senyum geli.
"A-aku tidak biasa sarapan, biasanya setelah paman, bibi dan Dudley selesai a-ada sisa untukku" sedikit gemetar Harry berucap lirih.
Rynne menatap Harry kaku, kembali sadar dan berdiri menghampiri bocah itu. Sembari meraih sebelah pipi mungil itu, mempertemukan manik violetnya dengan emerald cerah tersebut.
Ada genangan air yang mengaburkan...
"Satu yang perlu kau ingat Harry, ini bukan rumah Paman dan Bibimu. Jadi lupakan aturan-aturan mereka yang aneh !" Rynne mengusap pelan pipi yang memerah itu dan mendorong Harry pada kursi tepat di sebelahnya.
Harry tersenyum tapi ada linangan air mata yang jatuh, Rynne mengusapnya pelan.
"Oh ayolah Harry ! ini masih terlalu pagi untuk menangis" Pelan Rynne merengkuh punggung Harry dalam pelukannya .
"Ya ma'am .. Maafkan aku" Harry beralih menatap wanita disebelahnya .
Tawa lembut mengalir di ruangan besar itu
"Kau tahu, aku tak begitu ahli memasak .. Semoga bubur ini cukup manis untuk anak seusiamu" Rynne mengangkat bahu sembari menyodorkan semangkuk besar bubur panas pada Harry.
"Aku selalu memasak ma'am. Untuk paman, bibi dan juga Dudley" Harry tersenyum menerima mangkuk buburnya.
"Bibimu sama sekali tak pandai memasak ya ? Kalau begitu bibimu itu lebih payah dibanding aku Harry ! Bahkan untuk suami dan anaknya saja ia tak mampu membuatkan hidangan makanan. Sampaikan padanya, dia harus pensiun menjadi seorang wanita kalau satu masakanpun tak mampu ia hasilkan " Rynne menanggapi seraya menyeduh pelan teh nya .
Harry tertawa, sedikit canggung ..
"Bibi bisa memasak ma'am, tapi paman bilang itu tugasku. Itu bayaran tumpanganku untuk tinggal bersama mereka" Harry berhenti sesaat menyendok buburnya. Matanya menerawang ..
Rynne menepuk pelan kepala bocah itu, membuyarkan lamunan jauhnya tapi menolak menanggapi pernyataan menyayat barusan
"Ayo habiskan Harry. sangat lezat selagi hangat" Rynne mengarahkan matanya pada mangkuk bubur di hadapan Harry. Bocah itu tersenyum simpul.
Sesaat senyap dalam hidangan mereka masing-masing. Rynne menyesap teh perlahan.
"Hey .. beri aku satu suapan" Rynne beralih merangkulkan tangannya pada pundak Harry, sedikit terkesiap Harry membalas dengan senyum. Tangan mungilnya mengarahkan sesendok bubur untuk Rynne yang dilahap dengan sempurna.
"Hmm .. rasanya tidak begitu buruk" tampilan menilai muncul di wajah jelita itu.
Harry tertawa, kali ini lebih lepas..
.
.
Selesai sarapan Rynne meminta Harry menunggunya di ruang depan. Harry menurut tapi tidak segera duduk di ruangan itu, ia memilih berdiri di balik jendela besar memandang kembali tatanan tumbuhan indah di taman rumah yang dilihatnya tadi pagi.
Suara langkah mengayun pelan, Harry menoleh pada sumber suara itu.
"Harry, kau mau foto denganku ?" Rynne menghampiri bocah itu dengan sebuah kamera di genggamannya.
"Foto ? Denganmu ma'am ?" sedikit tersentak Harry berujar.
"Ya .. Bagaimana menurutmu ?" Rynne maju dan sedikit mengacak rambut berantakan bocah itu.
"Yah ma'am, tapi …" Harry menggigit bibir bawahnya
"Tidak masalah kurasa" Rynne meraih pundak bocah itu, merengkuh dalam pelukannya dan sejekap cahaya kamera itu menyilaukan mata Harry. Beberapa gambar mungkin terekam pada alat itu sekarang.
"Ku rasa kau harus latihan untuk banyak senyum Harry" Rynne menepuk pelan pundak bocah di hadapannya. Harry tersenyum sejenak, kemudian bangkit kembali ke jendela menatap pemandangan yang terputus tadi.
Rynne beringsut mendekati bocah yang membelakanginya itu dengan tongkat teracung. Ekspresi wajah itu datar bahkan hampa.
Dan saatnya untuk pergi kini telah tiba ..
-OoOo-
Rumah Mrs. Figg tak pernah berubah, tetap penuh bau kol dan kucing-kucing yang bersiliweran. Harry datang bersama dengan seorang wanita yang mengantarnya. Wanita itu memakai sejenis jubah dengan tudung kepala yang lebar, wajahnya tersembunyi didalam sana.
Mrs. Figg dengan senyum lebar menerima si bocah dan Harry masih memandang wanita yang berbalik menjauh itu.
"Oh .. warna yang bagus Harry" Mrs. Figg menarik sedikit lengan kemeja Harry.
Kemeja biru cerah dengan celana bermuda gelap.
"I-ini bukan punya Dudley" Harry menggosok pelan permukaan kemeja itu.
"Tentu saja Harry. Sepupumu itu bisa merobekkan baju ini kalau ia berani mecoba" Mrs. Figg terkekeh pelan dan menyodorkan sepotong bolu tengik.
"Kau sungguh aneh Harry, Aku hanya memintamu membeli makanan untuk kucingku tapi kau bisa tersasar kemana-mana" Mrs Figg menggelengkan kepalanya, miris.
"Benarkah ?" kening bocah itu berkerut sempurna.
Bel di rumah itu berbunyi nyaring dan Mrs. Figg bangkit tergopoh membuka pitu depan.
"Dia disini Mrs. Dursley .. yaayaa dia baik-baik saja" Mrs. Figg datang dan dibelakangnya tampak Petunia Dursley dengan muka yang tampak seperti kuda.
Ia melempar pandangan jijik pada bocah berambut hitam itu seolah seekor bekicot tengah bertengger manis pada wajahnya.
Harry menunduk, menguatkan hati dan bersiap untuk pergi ..
Wkwkwk .. telat kali Chap ini .. sibuk UTS soalnya .. *_*
tq buat yang RR yaa .. terus kasih masukan agar imajinasi saya yang buntu ini terus berkembang ..
hahahahehe :D
