""

[ —please remember that every storms will end up with sunshines.]

Eyeshield 21 belongs to R. Inagaki and Y. Murata. I only own this story.

Warning

OoC detected

Alternate Universe

1st Point of View (Kakei's PoV)

Typo(s) may be found

And others

SPECIAL WARNING lagi: BACANYA BENERAN HATI-HATI YAHHHH ^_^

.

.


.

.

Sudah memasuki hari keempat liburanku bersama Yamato di vilanya. Yamato mengajakku mengunjungi tempat wisata yang ada di Hokkaido, hampir seluruhnya. Selama berlibur ini aku bisa tahu bahwa Takeru Yamato adalah seseorang dengan jiwa petualang yang tinggi yang sangat suka berkelana ke tempat baru.

Hari keempat ini jatuh pada tanggal 31. Tidak terasa sudah di penghujung tahun. Hari ini, kami tidak punya rencana untuk pergi kemana-mana. Mungkin nanti malam kami akan ke luar sebentar untuk makan di luar sambil menikmati new year vibes kemudian kembali lagi dan menghabiskan malam tahun baru di vila.

Setelah kami menyantap makan siang di vila, Yamato menarik tanganku untuk mengikutinya ke ruang baca yang berada di lantai dua. Pada ruangan ini terdapat rak buku yang cukup besar berikut dengan koleksi bukunya yang juga lengkap. Terdapat pula sofa dan karpet yang disediakan untuk tempat membaca. Setelah kami menjejakkan kaki di ruangan ini, Yamato langsung mengubek-ubek bagian rak yang menyimpan beberapa album foto. Ditariknya salah satu album foto berwarna biru tua dan ia mengajakku untuk di sofa.

"Aku ingin memperlihatkanmu foto-foto kenangan bersama mantan tunanganku yang kuceritakan itu," ujar Yamato sambil tertawa geli. Tidak tampak kesedihan yang biasa dirasakan orang patah hati. Menurut asumsiku, lelaki ini sudah sukses melupakan dan merelakan masa lalunya dengan gadis beruntung yang hampir menikah dengannya itu.

Aku membenarkan posisi dudukku senyaman mungkin. Yamato mulai membuka album tersebut, menampilkan halaman pertamanya. Terpasang foto dua bocah kecil, laki-laki dan perempuan, mungkin usianya masih usia anak sekolah dasar.

"Ini foto pertama kami waktu SD. Kalau nggak salah ini diambil ketika kenaikan kelas 6."

Aku tersenyum geli melihat foto Yamato masa SD. Rambut liar khasnya tidak berubah sampai sekarang. Mukanya pun hampir tidak ada bedanya. Hanya badannya yang kecil—karena sekarang sudah tinggi dan kekar, bahkan tinggi badannya kalah oleh anak perempuan berambut pirang sebahu di foto itu.

"Oh, ya. Aku sampai lupa memperkenalkan namanya," sambungnya lagi. "Namanya Karin. Karin Koizumi. Benar kan, kataku. Kami sudah bersama sejak kecil dimana badanku kalah tinggi dengannya yang puber duluan."

Aku tertawa kecil, lebih seperti tertawa mengejek. Mungkin jika aku sudah mengenalnya sejak SD, aku tidak akan mengira dia bisa tumbuh tinggi dan kekar seperti sekarang. Pandanganku terfokus pada foto gadis kecil bernama Karin itu. Kuakui, gadis ini memang manis.

Yamato kemudian membuka halaman selanjutnya. Masih foto zaman SD. Sampai akhirnya tiba di halaman di mana penampakan dua orang itu sudah berubah.

Takeru Yamato pada masa SMP mulai tumbuh menjadi tipikal remaja yang diidolakan murid perempuan di sekolahnya. Sudah bertambah tinggi, lebih tinggi dari Karin. Karin pun sudah sukses dengan pubertasnya. Foto zaman SMP ini lebih banyak. Ada foto ketika mereka kencan ke taman bermain, di pantai, bahkan foto candid Karin sendirian dalam berbagai pose, sudut, dan latar berbeda yang diambil oleh Yamato.

Mataku terpaku pada salah satu foto dimana Yamato berdiri sambil merangkul Karin yang memegang sebuket bunga dan keduanya tersenyum menatap kamera memakai seragam SMP yang sama. Di foto itu, rambut Karin sudah panjang dan dikepang.

"Itu foto saat kelulusan SMP," ujarnya sambil menunjuk foto yang sedari tadi kulihat. "Dan itu termasuk beberapa foto terakhir yang diambil sebelum Karin pindah."

Album foto ini sudah bergulir ke halaman terakhir. Di halaman terakhir hanya tersisa satu foto. Foto keduanya berpelukan di bandara. Ini pasti ketika Yamato mengantar Karin sekeluarga yang akan terbang ke Perth.

"Ini foto terakhir kami. Aku ingat H-1 keberangkatan Karin, kami berdua menangis karena pada hari itu, hubungan kami resmi berakhir." Tawa Yamato terdengar lagi. Aku masih sibuk menatap foto terakhir itu sambil membayangkan berpisah dengan orang tersayang hanya karena jarak. Ya, tidak jauh beda seperti aku berpisah dengan kedua orang tuaku. Kita semua memang punya pilihan untuk pergi dan meninggalkan, bukan?

Tiba-tiba, aku teringat dengan cerita tentang mantan Yamato saat SMA dan kuliah. Aku pun langsung menatapnya lagi. "Bagaimana dengan anak laki-laki yang kauceritakan itu? Kau punya albumnya juga?"

Yamato tidak langsung menjawab. Ada jeda yang cukup lama dan membuatku tidak sabar. Ia tampak terlihat berpikir meskipun perubahan ekspresi itu tidak kentara, tapi aku melihatnya dengan jelas. Aku menelengkan kepalaku ke samping, meminta jawabannya yang tak kunjung kudapat.

Dia malah memutus kontak mata dan menggeleng kepalanya. "Lupa kusimpan dimana."

Aku mengangkat sebelah alis. Reaksi yang mencurigakan. Aku tahu dia pasti menyembunyikan sesuatu. Baru saja aku akan membuka mulut untuk protes, Yamato menutup albumnya dan beranjak dari sofa. "Ayo ke kamar, Shun! Aku ingin ke kasur."

Aku hanya menatap punggung Yamato yang kini tengah berjalan menyimpan kembali album itu di tempatnya. Kesempatan bagiku untuk menandai tempat dimana dia menyimpan album. Setelah itu, aku mengikutinya dalam diam menuju kamar. Tentunya dengan rasa curiga dan penasaranku yang mendorong niatku untuk mencari sendiri album fotonya bersama mantan SMA-nya. Persetan dengan lancang, dia sendiri berani membuka rapotku. Huh.

Yamato membiarkanku berjalan duluan ke kasur. Kudengar suara pintu yang dikunci dan aku langsung tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku mendudukkan diriku di atas kasur, menatap anak laki-laki personifikasi musim gugur itu yang menghampiriku. Dia mulai naik ke kasur, memagut dagu, dan langsung melumat bibirku. Aku pun merengkuh lehernya, menariknya ke ciuman yang lebih dalam.

Tangan Yamato mulai menjelajah tubuhku. Aku bisa merasakan tangan kekarnya mengangkat tubuhku dan mendudukkan diriku di atas pangkuannya. Aku mengapit pinggangnya menggunakan kedua kakiku. Kami masih bercumbu sampai Yamato berpindah menciumi rahangku dan turun ke leherku.

"We have a deal, remember?" ujar Yamato dengan suara rendah. Suara yang keluar jika dia mengatakan sesuatu kepadaku ketika kami sedang melakukannya. And of course the dirty talks. Ciuman dan gigitan lembut yang ia tinggalkan di rahang, leher, bahu, dan dadaku, lengkap dengan suara husky-nya ini sukses membuatku semakin terangsang.

"Y-yes, Daddy—aahh!"

Aku sedikit memekik dan menengadahkan kepalaku akibat perbuatan tangan dan lidah Yamato yang sudah bermain-main di dada dan selangkanganku. Shit, he is doing so great.

Siang ini, aku pun tenggelam dalam permainan Yamato. Dan permainan ini sangat berbeda dari yang sebelum-sebelumnya kami lakukan. Bisa kukatakan ini kali pertamaku turn on sampai segila ini. Sampai akhirnya, kami pun jatuh tertidur bersamaan, lagi-lagi tanpa busana di bawah selimut yang tebal ini.


.

.

Pukul empat sore, aku terbangun. Yamato masih tertidur pulas saat aku membalikkan badan. Rasanya, aku lebih sering bangun lebih dahulu darinya setiap kami selesai berhubungan.

Seketika, aku teringat akan rencanaku tadi sebelum aku memasuki kamar. Aku pun duduk dengan sangat hati-hati, takut pergerakanku membangunkan laki-laki berambut liar ini. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk mengendap-endap mencari album foto bersama mantan kekasihnya dulu.

Setelah memakai kembali pakaianku, memastikan bahwa Yamato masih sibuk di alam mimpinya, aku membuka kunci pintu sepelan mungkin, menutupnya kembali, dan beranjak menuju ruang baca. Aku langsung mengubek-ubek kembali tempat album foto itu disimpan. Terpaksa aku harus membuka satu-satu. Album fotonya saat masih bayi dan balita, album foto keluarga, foto masa SMA dan kuliah bersama teman-temannya, lalu…

Got you!

Aku pun menarik album yang kucurigai khusus berisi foto Yamato bersama mantan kekasihnya sejak SMA sampai kuliah itu. Aku benar-benar ingin tahu siapa sosok paling beruntung sekaligus sial itu. Beruntung karena pernah memiliki Takeru Yamato sejak SMA sampai lulus kuliah dan sial karena merelakan waktu sepanjang itu untuk menjalin hubungan dengan seseorang namun berujung kegagalan.

Setelah kubuka album yang dirahasiakan Yamato itu, jantungku berhenti berdetak.

Melihat orang yang ada di foto itu membuatku lupa bernapas. Aku mengucek mataku, takut aku yang salah melihat. Namun, sosok itu tidak berubah. Aku membolak-balikkan halaman, berharap bahwa album ini bukan yang kucari. Tapi album ini pun tidak salah. Album ini adalah album foto Yamato dengan mantan kekasihnya di masa SMA dan kuliah.

Aku langsung kembali kepada kesadaranku setelah mendengar knop pintu kamar yang dibuka. Aku buru-buru menyimpan album itu pada tempatnya dan mengambil buku di rak itu secara asal, berpura-pura jika sejak tadi aku sedang membaca buku. Aku mengatur napasku, berusaha menetralkannya karena sejak aku membuka album itu aku tidak sadar menahan napas.

"Sekarang aku yang nggak dibangunkan," sapa Yamato, berjalan menghampiriku sambil mengacak rambutnya sendiri. Ia sama sepertiku, sudah mengenakan pakaian lengkap seperti semula. Aku hanya mengedikkan bahu.

"Salah sendiri tidak membangunkanku waktu kemarin-kemarin."

"Dasar pendendam," ejeknya, lalu mengecup pipiku. "Baca apa?"

Aku memperlihatkan buku yang tadi kuambil asal, dengan halaman yang terbuka asal pula. "Ini. Aku bosan jadi aku ambil buku saja."

"Tumben kau bosan berdiam diri di rumah." Yamato mencubit hidungku pelan, membuatku mengerang sebal. "Nanti malam kita jadi makan di luar, ya."

Aku hanya mengangguk.

Aku mengikuti Yamato yang berjalan masuk kamar kembali. Mandi adalah tujuanku selanjutnya, sementara si beruang ini akan menunggu gilirannya mandi sambil melanjutkan tidurnya. Kenapa tidak mandi berdua? Karena kami menghindari hal yang di luar kendali. Lebih tepatnya sih, Yamato yang selalu di luar kendali.

Selama aku melakukan rutinitas membersihkan diri, bayang-bayang sosok laki-laki di album foto itu menghantuiku. Meskipun aku menyiram kepalaku sendiri dengan air hangat yang cukup panas untuk mendinginkan kepalaku, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku butuh waktu lama untuk mencerna semuanya. Bahkan, mungkin aku butuh penjelasan dari Yamato.

Atau mungkin tidak butuh sama sekali.


.

.

Liburan akhir tahun sudah berakhir. Itu artinya, saatnya bagiku untuk kembali ke realita. Liburan berdua dengan Yamato terasa seperti mimpi bagiku. Meninggalkan liburanku selama lima hari di vila milik Yamato dan kembali ke rutinitas normal; belajar dan bekerja. Kembali mencicipi kehidupan nyata. Dan lebih fokus belajar karena aku akan menghadapi ujian kelulusan dalam waktu dekat.

Hari ini adalah hari pertamaku pergi ke sekolah sekaligus bekerja. Tidak ada yang spesial di sekolah, sungguh. Kalau bisa, aku ingin mempercepat waktu agar cepat ujian dan lulus lalu kuliah.

Pulang sekolah, aku menyempatkan untuk mengerjakan satu tugas yang diberi guru bahasa Inggris tadi sebelum berangkat ke Egao. Aku memilih untuk mengerjakannya duluan karena mudah. Hei, aku sudah pernah tinggal di Amerika kurang lebih sembilan tahun! Akan sangat memalukan jika aku malah tidak mengerjakan tugas ini.

Setelah semua urusan sekolahku beres, aku pun menaiki bus untuk pergi ke Egao. Baru saja aku duduk di kursi, handphone-ku bergetar. Aku sudah bisa menebak itu adalah notifikasi chat dari seorang Takeru Yamato. Benar saja, dialah pelakunya. Di dalam pesannya, ia berkata bahwa ia akan mampir ke Egao nanti malam sekalian menjemputku. Aku tidak bisa mengelak dari rasa senangku di dalam hati. Sekian lama tidak mampir, akhirnya nanti dia akan datang lagi.

Kuharap, aku sudah siap membiarkan semua crew Egao mengetahui bahwa aku tengah menjalin hubungan khusus dengan salah satu pelanggan kami.

Mengenai seseorang di album foto itu, aku memutuskan untuk melupakannya saja. Mungkin Yamato benar-benar tidak ingin mengingatnya lagi seperti ia mengingat Karin. Mungkin memori tentang orang itu adalah memori yang ingin dikuburnya dalam-dalam. Meskipun agak mengganjal, sih. Jika Yamato benar-benar ingin lupa, kenapa album itu masih disimpannya?

Aku hanya akan menunggunya sampai berkeinginan untuk jujur kepadaku. Kalau tidak, biar aku saja yang bertanya. Suatu hari nanti.

Setelah turun dari bus, kakiku melangkah ringan menuju tempat Egao berada. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Riku. Anak itu tumben sekali datang tepat waktu.

"Kakei!" sapanya riang sambil melambaikan tangannya. Ia menghampiriku dan kami berjalan berdampingan.

"Tumben kau tepat waktu, Riku." Aku mengutarakan isi pikiranku sebelum Riku menyapaku, membuat anak laki-laki itu cengegesan.

"Bagaimana liburanmu? Senang dengan pacar baru?" Riku tidak menyerah dan balas meledekku, membuatku langsung menjitak kepalanya pelan tanpa pikir panjang. "Aduh!"

"Berisik!"

"Galaknya. Hebat sekali pacarmu bisa tahan jadi pawang bulldog."

Belum sempat aku membalas cercaannya, Riku sudah berlari dengan kecepatan cahaya masuk ke café. Ini hari pertamaku masuk kerja dan bahkan belum sempat aku menginjakkan kaki di café, aku sudah ditindas dengan memalukannya hanya karena pacar baru. Sebelum aku benar-benar menapakkan kaki di Egao, aku menghela napas untuk membangun benteng pertahanan agar aku tidak salah tingkah. Ada apa dengan 'pacaran' sampai makhluk-makhluk macam Riku dan Sakuraba—dan antek-anteknya Ikkyu juga Heracles, sangat bersemangat untuk mem-bully-ku, sih? Memang sudah gila.

"Selamat datang kembali di kehidupan nyata!"

Ketika aku masuk, Heracles menjadi orang pertama yang menyapaku dengan riang. Kalimat sapaannya agak sarkastik, tapi seratus persen benar. Aku pun menyapanya balik. Saat aku baru mengambil seragam kerjaku, Sakuraba datang menghampiri dan menepuk punggungku. Raut wajahnya yang berseri-seri itu tidak membuatku merasa senang, justru malah merasa terancam.

"Kakei-kun! Jadi, bagaimana liburanmu dengan si CEO muda itu?"

Benar, kan, firasatku. Hanya dalam hitungan menit, aku kembali mendapat pertanyaan laknat seperti ini.

"Apaan, sih." Ya, teman-teman. Meskipun sekarang sudah memasuki tahun baru, Shun Kakei masih tetap mempertahankan kepayahannya dalam mengelak.

Sakuraba tertawa mendengar balasanku. Tentu saja, dia menertawakan cara mengelakku yang tidak kunjung naik level. Ia mencubit pipiku, membuatnya semakin merah. "Sudahlah, Kakei-kun. Apa sulitnya mengaku kalau kau memang berpacaran dengan Yamato itu. Malu, eh?"

Aku memutar bola mataku. "Never in million years."

Aku bersyukur kepada pengunjung yang menghampiri meja kasir sehingga membuat Sakuraba kembali ke tempatnya, tidak lagi menginterogasiku untuk bahan gosipnya. Tak kusia-siakan kesempatan emas ini untuk kabur sekalian mengganti bajuku. Setelah itu, aku bisa langsung melaksanakan pekerjaanku menjadi seorang waiter tanpa gangguan dari sang ibu.

Hari pertamaku kembali bekerja berjalan mulus. Seperti biasa, café ini ramai. Dan keramaian itu sempat berganti menjadi kericuhan begitu seorang tamu berperawakan sangar, berambut dread, dan memakai kacamata ungu datang berkunjung. Meskipun ia datang bersama beberapa temannya, bahkan ada seseorang botak plontos yang jika kuperhatikan mukanya mirip dengan si dread gila itu selalu terlihat seperti pawangnya, kericuhan kecil itu tetap terjadi. Dan ternyata, rombongan ini adalah teman Ikkyu di masa SMA. Ribut kecil itu berhasil teratasi ketika Ikkyu kembali dari kamar mandi dan segera mendistraksi si preman yang—kalau aku tak salah dengar—bernama Agon. Riku menambahkan informasi ketika kami para waiter berkumpul saat kedatangan teman-teman SMA Ikkyu bahwa si botak yang seperti menjadi pawang itu adalah saudara kembarnya Agon, Unsui namanya. And I'm being judgemental, bagaimana bisa sepasang anak kembar terlihat sangat tidak mirip baik dari fisik dan juga kepribadiannya. Seperti surga dan neraka.

Terlihat dari jendela bahwa hari sudah gelap. Aku melirik arlojiku, tepat pukul setengah sembilan malam. Kira-kira sejam yang lalu, Yamato kembali mengirim pesan untuk memberitahuku bahwa ia akan datang sekitar jam setengah delapan untuk makan dan sekalian menjemputku. Mungkin sekarang si beruang itu masih di jalan.

Sambil menunggu Yamato, aku merapikan meja-meja yang sudah kosong untuk kemudian diisi lagi oleh pengunjung yang masih setia datang di malam hari. Sekitar delapan puluh persen pengunjung yang datang pada jam ini sebenarnya ingin menyaksikan live music Akaba. Sejak pukul tujuh, Akaba sudah berganti posisi dan naik ke panggung sambil memainkan gitar akustiknya. Meskipun dia se-freak itu, aku mengakui bahwa permainan gitarnya memang hebat. Tidak jarang ketika aku sedang bebas tugas, aku menemukan diriku sendiri tenggelam menonton dan mendengarkannya tampil bermain gitar.

"Shun!" suara familiar yang kutunggu itu pun akhirnya muncul memanggilku. Aku baru saja selesai membereskan meja terakhir saat Yamato menghampiriku. As expected, dia langsung melancarkan aksinya yang merupakan hobi barunya akhir-akhir ini; mengacak rambutku. Sial, kami bisa jadi tontonan banyak orang. "Hei. Menunggu lama? Sudah makan malam, kan?"

Aku menggeleng. "No. Kalau makan, sudah." lalu menariknya ke meja terdekat untuk menghindari segala bentuk PDA yang sangat senang dilakukannya. "Ayo duduk."

"Kenapa? Malu, ya?" pertanyaan Yamato memang ambigu, tapi aku sudah tahu apa yang ia maksud. Aku langsung memberinya death glare. Ia tertawa sambil mengangguk. "Iya, maaf maaf."

"Cepat pesan makananmu. Sekalian aku ke belakang. Ganti baju," ujarku sambil menyerahkan buku menu yang sebenarnya tidak dibutuhkan itu. Aku sudah hafal pesanan yang biasa dibelinya. Aku hanya—terpaksa—menjalankan prosedur melayani pengunjung.

"Kau sudah tahu apa yang biasa kupesan, Shun. Nggak perlu repot-repot ikut SOP." Alih-alih menuruti perintahku, Yamato malah menertawakanku lagi dan mencubit pipiku. Aku mendengus kesal, buru-buru melepas tangannya dari pipiku sebelum ada orang lain yang memperhatikan kami. Kalau bukan di tempat umum, mungkin aku sudah menghajarnya.

Tapi tidak juga, sih. Yang ada malah aku yang dibanting. Jangan lupa bahwa yang beruang raksasa itu dia, bukan aku.

Aku pun—sambil menahan rasa gondokku—melangkah ke dapur untuk menempelkan sticky notes berupa pesanan Yamato tadi. Setelah itu, aku mengambil kembali baju seragam sekolahku dan beranjak ke toilet khusus karyawan untuk berganti baju.

"Taka niisan, tolong handle pesanannya, ya! Aku ganti baju dulu. Kalau nggak ada waiter yang stand by kau saja sendiri yang antar ke depan. Niisan kan jarang sekali ke depan. Arigatou!"

Jarak toilet dan dapur tidak begitu jauh dan aku bisa mendengar Riku yang mau menyusulku ganti baju dan meminta Taka untuk mengambil alih sementara pekerjaannya. It's our privilige as the youngest worker to go home sooner than the others since we are still going to high school. Selesai aku berganti baju dan membuka pintu toilet, Riku sudah berdiri di depan. Kami pun bertukar tempat. Ketika pintu baru saja ditutup, Takami tiba-tiba muncul dan memintaku untuk membantunya menghitung persediaan di gudang.

'Kamu itu yang paling pintar di antara yang lain, Kakei. Makanya aku sering meminta bantuan soal hitung-menghitung karena kamu sangat fokus.'

Itulah jawaban Takami ketika suatu saat aku pernah iseng bertanya kenapa aku sering diminta bantuan untuk pergi ke gudang mengecek dan menghitung stok. Entah jujur atau akal-akalannya untuk memotivasiku, aku tidak terlalu peduli.

Aku pun dibagi tugas untuk menghitung sebagian kecil saja. You know what? Alasannya konyol dan membuatku ingin menyembunyikan mukaku entah dimana.

"Yamato sudah menunggumu di depan, ya?" Pembukaan topik oleh Takami menjadi awal yang buruk untukku melanjutkan pembicaraan. "Tenang saja, Kakei. Aku hanya meminjammu sebentar saja dan bagianmu nggak akan banyak-banyak. Aku sudah minta izin ke Yamato, kok."

"Buat apaaa?" tanyaku dengan nada yang terdengar desperate. Ya meskipun pekerjaan tambahanku diringankan, namun tak kusangka Takami diracuni oleh jiwa penggosip Sakuraba, sesukses ini. I've had enough with my coworkers and even my boss now, for God's sake!

Dan akhirnya, pekerjaan tambahanku sudah beres dan Takami menyuruhku untuk langsung ke depan menemani Yamato yang sudah kutinggal hampir lima belas menit itu. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku dengan senang hati melangkah ke ruang depan, ke dalam café dimana Yamato pasti sedang menikmati makan malamnya.

Terlihat suasana café tidak sepadat sebelumnya. Sudah dekat pukul sembilan. Anak-anak muda yang tujuan utamanya hanya ingin melihat si Laba-Laba Merah main gitar itu pasti sudah pulang. Sekarang, isinya adalah orang-orang yang baru pulang kerja dan mampir untuk makan malam, seperti Yamato contohnya.

Baru beberapa langkah aku masuk, kakiku refleks berhenti. Mataku menangkap sebuah pemandangan yang tak pernah kuduga. Dan, pemandangan ini yang begitu mengusik pikiranku sejak membuka album foto Yamato dengan mantan kekasih masa SMA-nya.

Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri, sampai saking tidak percayanya aku berani mengucek mataku. Namun, pemandangan itu nyata adanya.

Yamato tengah memeluk Taka.

Ya, Taka Honjo. Taka si koki andalan Egao. Taka yang selama ini sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri.

Dialah orang yang ada di dalam album foto kenangan milik Yamato.

Ah, aku cukup tahu. Kenapa Yamato menyembunyikan album itu dariku. Kenapa Yamato tidak pernah membahas mantan masa SMA-nya yang satu ini sedetail ia menceritakan tentang Karin. Kenapa Yamato membohongiku. Jawabannya ada di depan mataku sendiri.

Sadar tak sadar, bisa kurasakan jemariku mengepal sangat kuat dan rahangku mengeras.

Lalu, Yamato menyadari kehadiranku. Posisinya menghadap ke arahku. Namun karena asyik memeluk orang tercintanya, butuh beberapa detik baginya untuk melihat ke arahku. Tentu saja, ekspresinya terkejut bukan main.

"Shun," panggilnya seraya melepas pelukannya terhadap Taka. Fokus mataku hanya kepada Yamato, namun aku bisa melihat Taka yang membalikkan badannya dan ikut menatapku. Yamato tampak begitu panik, terlihat jelas dari sorot matanya. Tch, namun aku tidak peduli.

Sebelum Yamato sempat menahan tanganku untuk pergi, aku berbalik dan segera pergi menjauh dari café. Tidak sia-sia aku mengambil tas sebelum ke dalam, karena aku bisa pergi lebih cepat tanpa repot harus kembali.

"Shun! Shun Kakei!"

Aku mempercepat langkah kakiku dengan berlari. Aku tahu Yamato tengah mengejarku dan aku tidak akan pernah membiarkan diriku terjerat perangkapnya lagi. Dia tidak bisa menahanku lagi.

Tapi, di luar perkiraanku, Yamato berlari lebih kencang. Yang kutahu, aku merasa tanganku ditarik dan ia menahan badanku agar berhenti berlari. Sialan!

"Shun! Dengarkan aku dulu! I can explain. Don't go…. Please, listen to me!"

Aku menghela napas, berusaha menetralkan dadaku yang sesak. Tiba-tiba, sudah ada bendungan air mata berkumpul di pelupuk mataku. Aku pun berbalik, lalu menatap matanya tajam. "Apa? Apa yang harus kudengar? Your bullshits?"

Yamato menggelengkan kepalanya. Terpampang dengan jelas bahwa ia frustasi. "No. Aku nggak bohong—"

"Kau bohong!" aku hampir tidak pernah memotong kalimat seseorang dalam hidupku, dan ini adalah kali pertamanya. "You. Lie. To me! Kau membohongiku tentang album foto. Aku melihatnya meskipun kau menyembunyikannya dariku! I thought you already moved on. Aku hanya berniat menunggumu untuk jujur. Tapi aku salah mempercayaimu. Benar-benar salah! I thought you were different!"

Perkataanku sukses membuat Yamato terdiam. Memang aku salah sudah mengganggu privasinya, namun apa bedanya dengan dia yang membohongiku? Semua akan sama saja. Ujungnya pun aku akan tahu apa yang disembunyikannya.

Terlebih orang yang disembunyikannya selama ini adalah kakakku sendiri.

"Shun…" panggil Yamato lirih. "I… I'm sorry…."

Mata kami kembali beradu. Aku bisa melihat pancaran ketakutan dari matanya. Ada kilatan di mata nilakandi itu. Satu sisi dalam diriku ingin memaafkan dan mendengarkannya, tapi sisi yang mengatakan aku harus pergi dan melupakannya jauh lebih mendominasi.

Aku menggelengkan kepala. "I've had enough." Aku tidak tahu kemana rasa cinta yang membuatku hangat dan bergairah itu pergi. Yang ada hanyalah rasa marah, sedih, dan tentunya kecewa yang parah. "Let's just break up."

"NO!"

Aku langsung membalikkan badan, berusaha kabur tanpa melihat mata Yamato sebelumnya. Berusaha pergi tanpa ingin ditahan. Aku hanya akan luluh jika aku membiarkannya mendekatiku.

Belum ada tiga langkah kakiku bergerak, Yamato kembali menahan lenganku. Sebelum aku bisa menghentakkan tangannya, ia membalikkan badanku secara paksa, mencengkram bahuku, lalu mencium bibirku.

Selanjutnya, aku tidak bisa mempercayai tanganku sendiri yang langsung menampar pipinya.

Tamparan itu tidak keras sama sekali, namun berhasil membuat Yamato melepas ciumannya dan menatap mataku dengan tatapan tidak percaya.

Seiring dengan bertemunya kedua mata kami, bendungan air mataku pun bobol dan menetes satu per satu ke pipiku.

Hal terakhir yang bisa kulakukan adalah kembali berbalik arah dan berlari meninggalkan Yamato. Kini, dia tidak mengejarku lagi. Yamato tetap diam di tempatnya.

Entah yang mana yang lebih kurasakan sekarang, lega karena Yamato berhenti atau kecewa karena tidak dikejar lagi.


.

.

Aku menghabiskan malamku dengan sangat tidak berguna. Setelah akhirnya mencapai apartmen, aku langsung mandi untuk menenangkan jiwaku yang sedang kacau. Namun ternyata, mandi pun masih tidak bisa menghilangkan badai yang sedang terjadi dalam pikiran dan hatiku. Seberapa kasar aku mengusak rambutku, berharap aku tiba-tiba amnesia, beban itu tidak kunjung luntur.

Aku berakhir di atas kasur, memeluk bantal, dan membenamkan wajahku di sana. Sudah lelah mataku mengeluarkan air mata selama perjalananku pulang. Berkali-kali kuhapus, air mata sialan itu tetap mengalir. Aku belum pernah merasa sangat cengeng seperti ini selama hidupku. Aku benar-benar membenci diriku sendiri sekarang.

Tapi aku jauh lebih membenci Takeru Yamato sekarang.

Tiba-tiba, ponselku yang kusimpan di meja nakas berdering. Aku menoleh malas, membaca nama orang yang sejak tadi kupikirkan tertera di sana. Aku menghela napas, lalu kembali membenamkan wajahku ke bantal. Sungguh, aku benar-benar tidak punya keinginan lagi untuk berbicara dengannya. Aku tidak mau mendengar apa-apa.

Aku mendiamkan ponselku sampai berhenti berdering. Alih-alih berhenti, benda elektronik itu kembali berbunyi.

"Arrgh!"

Aku menggeram kesal sambil menutup telingaku menggunakan bantal. Ponselku terus berbunyi tanpa henti. Yamato benar-benar keras kepala. Harusnya aku tahu itu.

Menyerah mendiamkan HP-ku, aku pun meraih dan menonaktifkannya. Aku pun melempar benda itu sembarang arah. Tidak terlalu keras dan memuaskanku yang tiba-tiba emosi dengan kehadiran benda elektronik itu. Aku yakin tidak akan sampai pecah.

Aku memejamkan mataku, merasakan lagi air mata itu menetes. Aku mengatur napas, mencoba untuk tidak terisak. Dadaku tidak kunjung sembuh dari kesesakan yang menghimpit sejak tadi.

Tidak ada pikiran jernih lain yang bisa menyingkirkan pikiranku tentang Yamato. Yang jelas, aku benar-benar membencinya sekarang. Rasanya sakit sekali terbangun di realita. Liburan kemarin, waktuku bersamanya kemarin, semuanya memang benar-benar mimpi. Mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Karena ketika aku kembali ke dunia nyata, segalanya menjadi mengecewakan dan menyakitkan.

Aku sangat marah karena hubunganku dengan Yamato selesai secepat ini, hanya dalam hitungan hari. Dan aku lebih marah kepada Yamato yang membuat semuanya hancur lebur seperti sekarang.

Kudengar bel apartmenku berbunyi. Aku hampir terlonjak kaget. Sudah bisa kutebak siapa yang berani membunyikan bel dan mengunjungiku selarut ini. Mengetahuinya tidak membuatku merasa lebih baik.

"Shun. Shun Kakei. Karena kamu nggak menjawab pesan dan mengangkat teleponku sama sekali, aku benar-benar datang ke sini."

Sialan! Kenapa aku masih bisa mendengar suaranya dari luar? Kenapa ruangan ini tidak dibuat sekalian kedap suara saja, sih?

Bodohnya, aku malah melangkah mendekat ke arah pintu, berdiri seperti orang tolol.

"Semuanya nggak seperti di pikiranmu, Shun. Kamu salah paham." Suara Yamato yang teredam pintu dan tembok terdengar lagi. "Makanya, please, dengarkan aku. Aku mohon. Aku ingin bicara."

Aku menatap pintu itu nanar, lalu memalingkan muka. Aku berbalik dan mencoba melangkah menjauh. There is no way I could open the door for him now. Not anymore.

Setelah ada jeda yang cukup lama, aku bisa mendengar Yamato berbicara lagi dengan nada suara yang sudah putus asa.

"Fine. Aku mengerti kamu nggak mau berbicara denganku. Okay, then, I won't bother you now. I will wait. Sampai kapan pun. Sampai kamu mau berbicara dan mendengarku."

Sunyi, lagi. Kali ini, Yamato sudah pergi.

Entah apa yang merusak kendali otakku, aku langsung membuka pintu. Aku melongokkan kepala, menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong apartmenku sudah kosong dan sepi. Tidak ada tanda kehadiran seorang pun.

Yamato benar-benar sudah pergi.

.

Goodbye my almost lover

Goodbye my hopeless dream

I'm trying not to think about you

Why can't you just let me be?

So long, my luckless romance

My back is turned on you

Should've known you'd bring me heartache

Almost lovers always do

A Fine Frenzy – Almost Lover

.

.

to be continued—

.

.


.

a/n

HAIIIIIII

Yes aku update sebelum rehat beberapa hari karena hari selasa nanti aku pengumuman sbmptn. Kaya pengumuman penentuan hidup dan mati. Doakan aku ya kawan-kawan :"(

DAN TERUNGKAP SUDAH SIAPA SAJA BARISAN PARA MANTAN YAMATO HUAHAHAHAHHA

Baiklah saatnya masuk ke sesi bales review. TERIMAKASIH SAMPAI DETIK INI MAU NGEREVIEW HUHUHU TERHARU BANGEEEEEETTT! :"""))))

Untuk Lala-chan ssu

Yes indeed he is a bucin now : )

Sekali lagi pemirsa, our almighty yamato akan selalu gaspol dan masalah perduitan tinggal bersin demi yayangnya HAHA

Manis? Kaya aku? Baguslah, kali-kali kan disuguhin yang cwit cwit macem gini utututu kasian di jaman dahulu mereka aku siksa terus (?).

WKWKKWK TENTU SAJA FOKUSNYA DI BAGIAN AKHIR YEEE HAHAHAHAHA MARI SESAT BARENG2 LA .GAK

Apakah chapter ini masih manis?

.

Untuk Meongaum

Sejauh ini terpantau aman ripiew di app syap komandan! ! !

APAAN SUMPAH SUMPAH HEEEEY /BEKEP/

Yama gak alay kok, dia cuma kelewat cheesy dan tukang gombal WKWKWK YA TAHANLAH MASA GAMAU SAMA YANG BERDUIT KAK?! GAGAH LAGI GANTENG LAGI WOWKWKOWKWOWWKW ini udah dikasih secuil adegan panas karena sesuai perjanjian nanti bakal dibikin terpisah agar demi biar supaya rating ff ini tetap aman dan tentunye lebih puas : )))) mereka saling beruntung memiliki satu sama lain, yama dapet yang unyu tsun masih virgin dan polos, kakei dapet om om tajir ganteng gagah daddyable pula HUHUHU

Reviewmu bikin aq ingin segera membuat yang panas panas kak aw aw

.

Baiklah, semoga chapter ini tidak mengecewakan. Yep, another drama from meh HEHE

Keep reading Ya! Reviewnya ditunggu beb! See youuuuu!