A/N: Halo... saya kembali bawa chapter 4 :D
Maaf saya lama update gara-gara gak enak badan :'v dan maaf karena chapter ini terlalu pendek #digebukreaders
Oh iya, ini jawaban review yg gak pake akun...
Guest: Yosh, ini sudah lanjut, terima kasih sudah review ^_^
KS: Vampire Knight, saya lupa judulnya T_T#dihajar. Terima kasih sudah mengingatkan :D saya memang ambil referensi dari situ, sisanya dari kisah cinta(?) teman author yang masih labil (?!), season 3 KnB, dan Last Game ^_^
Oke, segitu aja dulu... Selamat membaca ^_^ *jangan lupa review :D
.
.
.
Disclaimer:
Kuroko no Basuke-Tadatoshi Fujimaki
Beberapa adegan Vampire Knight-Matsuri Hino
Warning:
AU, OOC, typo, gaje, sho-ai, dll yang gak bakal habis kalau disebutkan satu persatu #ditendang
Pemuda bersurai abu tersentak ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Mantan pemain bayangan tim basket SMP Rakuzan itu menoleh dan mendapati rekannya yang bermata sipit tersenyum misterius padanya. "Kau pasti memikirkan 'itu', ya?" katanya. "Mayuzumi..." pemuda bersurai abu itu menatap pemuda lain yang muncul dihadapan ketiga vampire yang menunggu. "Akhirnya kau membawa adikmu kembali ke dunia vampire, Nash." Mayuzumi menatap sosok pirang lain yang digendong Nash.
"Cepat atau lambat, aku harus membuatnya kembali. Ryouta harus mengetahui bahwa dirinya bukan terlahir sebagai manusia, tetapi sebagai vampire." Mayuzumi menatap sebentar sosok yang memejamkan matanya digendongan Nash. "Kurasa ia sudah mengetahuinya. Tentang aku, Aomine, dan 'dia'..." manik kelabu miliknya menatap keatas langit. "Sepertinya ada hunter liar didekat sini..."
"Mayuzumi, aku butuh kemampuanmu dalam mengendalikan keberadaan. Buatlah perisai yang melindungi rumah ini agar tidak terlihat oleh orang lain." pemuda pirang itu menatap Mayuzumi. Yang ditatap hanya mengangguk dan memberi isyarat agar semuanya masuk kedalam rumah. Manik kelabu miliknya berubah menjadi merah darah, perlahan ia menyentuh tanah dengan telapak tangannya sambil memejamkan mata. Ia merapalkan mantra-mantra sulit dan tak lama sebuah cahaya biru muda menyelimuti tubuhnya. Mayuzumi membuka matanya yang sudah kembali menjadi abu-abu, cahaya yang menyelimuti tubuhnya menghilang seketika dan berubah menjadi pelindung berbentuk setengah lingkaran yang melindungi rumah itu. Tentu saja hanya dirinya sendiri yang dapat melihatnya. Merasa tidak ada lagi hal yang harus dilakukan, pemuda itu segera memasuki rumah.
.
.
.
.
.
Kise POV
Terbakar. Membeku. Terbakar. Membeku. Hanya kedua hal itu yang aku rasakan hingga mataku terbuka, kilasan masa lalu berputar cepat, dan aku mengingat semuanya. Sekarang aku ingat, tempat ini adalak kamar okaa-sama dan otou-sama dulu. Sekarang aku terbaring diatas kasur arang tuaku, dan aku diselimuti oleh sebuah kain tipis. Aku melihat onii-sama berdiri disamping tempatku berbaring, aku menyibakkan selimutku perlahan dan mulai duduk. "Kau haus 'kan?" tanyanya, aku mengangguk karena rasanya aku masih lemas dan kerongkonganku sangat kering. Ia menunjuk sebuah gelas yang berisi cairan merah di meja samping tempat tidur.
Aku menatapnya bingung, namun tanpa ambil pusing segera mengambil gelas tersebut dan meminum isinya. Rasanya minuman ini sangat manis, sama seperti yang aku tumpahkan dihadapan Murasakibaracchi itu. Anehnya, aku langsung pulih seperti tak terjadi apa-apa. "Minuman ini namanya apa? Onii-sama beli dimana-ssu?" tanyaku langsung. "Ternyata kau belum sadar juga? Itu darah, aku beli di rumah sakit. Jika kau tanya apa alasan yang kubuat untuk bisa mendapatkannya-" "Hentikan, kau pasti membuat alasan yang tidak masuk akal."
Ucapan itu langsung kupotong. "Tumben kau jenius. Darimana kau tahu?" yah, dugaanku benar, onii-sama memang mudah ditebak. "Eh, tadi kau panggil aku apa?" aku juga baru menyadari bahwa aku menyadari sebutan saat aku memanggilnya... "Onii-sama..." sungguh, aku merasa sudah lama tidak memanggilnya kakak secara terang-terangan begini.
"Coba kau ulangi."
"Onii-sama."
"Apa?"
"Onii-sama!"
"Aku tidak dengar."
"ONII-SAMA!"
"HAHAHA..." aku cukup jarang melihatnya tertawa lepas begini. Aku benar-benar merasa bahagia karena walaupun okaa-sama dan otou-sama sudah pergi jauh, aku masih punya seorang kakak yang sangat menyayangiku, seperti kata Aominecchi- TUNGGU DULU! Bagaimana dengannya? Aku bahkan hanya ingat saat tadi aku bangun di kuil putih, sabit perak, Kurokocchi, dan Aominecchi... MENCIUMKU?!
BLUSH!
"Ryouta, kenapa mukamu merah begitu?" sekali ini saja, aku ingin menghilang untuk sementara. Aku sangat malu! "Apa kau teringat dengan ciuman dari Aomine?" sekarang aku mati kutu. "S-sudahlah! Ja-jangan bahas itu-ssu! Kudengar nanti akan ada perlombaan untuk memperingati ulang tahun sekolah, dan aku dengar salah satunya perlombaan basket, 'kan? Kelas satu melawan kelas dua, lalu yang menang akan melawan kelas tiga." aku tidak ingin terjebak percakapan soal 'itu', jadi langsung saja aku ganti topik.
"Mengalihkan pembicaraan karena malu? Dasar anak baru puber..." apa katanya? Aku baru puber?! "Nanti untuk perwakilan kelas satu adalah Generation of Miracles. Kau, Midorima, Aomine, Murasakibara, Kagami, Kuroko, dan Akashi. Tapi mungkin Takao dan Haizaki juga akan ikut." GoM kan tim yang kuat, aku yakin kita bisa mengalahkan kelas dua dengan mudah. "Perwakilan kelas dua adalah Uncrowned Kings. Hanamiya, Kiyoshi, Mibuchi, Nebuya, dan Kotarou. Tambahannya adalah Nijimura, Hyuuga, dan Himuro." Mati. Aku lupa dengan tim kelas dua yang belum pernah dikalahkan. Bagaimana lagi kelas tiga?! Aku merinding, tim kelas tiga kan...
"Perwakilan kelas tiga adalah Jabberwock. Mayuzumi, Imayoshi, Kasamatsu, dan Silver. Tambahannya mungkin Miyaji." Jabberwock, nama sebuah naga, wajar saja karena semua pemainnya hebat. Tapi aku sedikit kecewa, melihat one-on-one onii-sama saat melawan Kagamicchi, aku jadi ingin mencobanya juga. Tapi kenapa dia malah tidak ikut? "Kukira kau ikut pertandingan itu-ssu. Kasamatsu-senpai pernah bercerita tentang pass tanpa gerakan awal atau apalah itu. Aku penasaran!"
TOK... TOK... TOK... seseorang mengetuk pintu, tapi anehnya aku bisa mencium bau darah yang cukup membuatku bisa menebak orang itu. "Mayuzumi... -senpai?" tanyaku memastikan. "Ha'i, Ryouta-kun. Ini aku, bolehkah aku masuk?" baru saja aku akan menjawabnya, onii-sama berdiri dan berjalan menuju pintu. "Kau penasaran dengan pass yang itu? Nanti akan aku ajarkan caranya padamu. Kau tetaplah disini, aku akan pergi untuk dua jam kedepan. Mungkin..." ia membuka pintu dan tampak sosok pemuda bersurai abu yang sudah menunggu. "Tolong temani Ryouta. Aku harus kembali ke asrama dan mengurus beberapa hal."
Mayuzumi-senpai melotot horor. "Aku mengerti, tapi kenapa harus malam-malam begini sih?!" sepertinya ia lupa, kebanyakan siswa belum tidur hanya untuk melihat Blood Moon, terutama tim basket. "Kagetora-sensei memanggil kapten tim basket tiap angkatan." Aku terheran, bukankah ia sudah tidak ikut klub basket lagi? "Imayoshi sudah menjadi kapten tim yang baik, tapi kita sudah mendiskusikan satu hal..." ada jeda sebentar, sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Aku kembali ke klub basket, dan kembali menjadi kapten Jabberwock."
Kise POV end
.
.
.
.
.
.
Aomine merasa kesepian, tidak ada suara berisik dari pemuda pirang yang selalu bersamanya. "Ahomine, jangan melamun." "HUWAAA! BAKAGAMI?!" pemuda bersurai biru gelap itu terlonjak kaget. "Sendirian saja kau dekat taman begini, mana Kuroko?" tanya pemuda bersurai merah gradasi hitam. "Tetsu? Perasaan tadi-" "Aku dibelakangmu, Kagami-kun." "KUROKO! Sudah kubilang jangan mengejutkanku!" kini giliran Kagami yang terkejut.
"Sumimasen, Kagami-kun. Aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk mengumpulkan para hunter sekarang." Kuroko menatap Kagami datar tanpa ekspresi. "Ada informasi yang harus aku sampaikan." Aomine juga ikut menatap Kagami. Yang ditatap jadi keheranan, Kuroko dan Aomine terlihat serius. "Ada informasi apa sih?" tanyanya. "Nanti kau akan mengetahuinya dengan yang lain." duo biru itu berkata bersamaan.
Kagami mengambil ponsel dari saku jaketnya dan mengirim pesam pada para hunter untuk segera berkumpul di taman belakang. Kagami sangat penasaran dengan informasi apa yang akan disampaikan sang bayangan. "Beritahu aku, Kuroko!" ucapnya. "Nanti saja." Kuroko menjawab. "Ahomine ini saja sudah mengetahuinya!" pemuda alis cabang itu menunjuk Aomine. "OI! Aku dan Tetsu ada ditempat yang sama saat itu, BA-KA-GA-MI!" si surai navy blue membela diri.
"AHOMINE!"
"BAKAGAMI!"
"AHO!"
"BAKA!"
"AHO!"
"BAKA!"
"AHO!"
"BAKA!"
"Ignite pass... KAI!"
"GYAAA!" "Kagami, ada apa kau memanggil-" BRUK! "Sumimasen, Midorima-kun." "APA-APAAN KALIAN INI-NANODAYO?!" teriak Midorima yang baru saja datang. "Kagami-kun dan Aomine-kun sangat berisik, jadi aku tidak tahan dan menggunakan ignite pass pada mereka. Tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk pass mereka padamu." Aomine dan Kagami melotot horor dan berteriak bersamaan. "KAU JUGA MENGGUNAKAN KAI!" mantan ace dari SMP Seirin dan Touou itu terus berdebat dengan si pemuda tanpa ekspresi, mengabaikan seseorang bersurai hijau yang tertindih oleh mereka.
.
.
.
.
.
.
Mayuzumi duduk disamping tempat tidur, mata kelabu miliknya menatap pemuda pirang yang terbaring itu. "Aomine membenci vampire." Kise hanya tersenyum sedih, dari saat Aomine membentak Kuroko karena menyangka si surai baby blue adalah vampire sudah memperlihatkan kebenciannya terhadap vampire. "Sebagai keturunan hunter biru, aku bisa merasakan dua vampire disini. Tetsu! Kau mengubah Kise-"
"Senpai benar, Aominecchi pasti sangat membenci vampire-ssu..." ucapnya. "Tapi dulu aku lebih parah lagi. Aku tidak percaya adanya vampire, sampai aku sendiri diubah menjadi vampire." Mayuzumi mengatakan hal itu dengan senyum tipis, hampir tak bisa dilihat. "Kaa-san bilang bahwa sebenarnya aku adalah seorang keturunan hunter, namun keturunanku tidak begitu mencolok seperti keturunan tou-san. Tapi kata kaa-san, keturunannya juga telah membuat sejarah besar. Alasan aku bisa berubah menjadi seperti sekarang adalah saat aku akan berkunjung ke rumah sepupuku."
Flashback
Seorang anak berumur tujuh tahun tengah menunggu dalam sebuah mobil. Mata kelabu anak itu menatap bosan keluar jendela. 'Hah... Kalau begini, aku tidak akan bisa bertemu dengan otouto lagi...' pikirnya sedih. Tak lama, datanglah seorang wanita yang merupakan ibunya masuk kedalam mobil. "Maaf membuatmu menunggu, Chihiro." Mayuzumi Chihiro, nama anak itu. "Daijoubu, kaa-san."
Mobil mulai melaju, meninggalkan sebuah gedung yang entah apa namanya. Chihiro hanya memandang langit senja yang sedikit mendung, lalu pandangannya teralih pada sebuah bola yang sewarna dengan sinar matahari tenggelam disampingnya. "Bola basket? Sejak kapan ada disini?" gumamnya heran. Padahal tidak ada bola itu sebelumnya, tapi ia tak terlalu memusingkan hal itu.
"Kaa-san, kenapa kau meninggalkan otouto dan berpisah dengan tou-san?" "Kita akan berkunjung ke rumah sepupumu." pertanyaan itu hanya dianggap angin lalu oleh sang ibu. "Kaa-san..." kali ini, wanita itu menoleh sebentar lalu kembali fokus ke jalan. "Tou-san dan kaa-san adalah keturunan hunter. Banyak hunter yang baik dan terikat aturan, sedangkan beberapa lagi adalah sebaliknya. Kau akan mengerti suatu hari nanti."
Hunter, vampire, dan semua yang berkaitan dengan itu membuat seorang Mayuzumi Chihiro merasa muak. "Kalian berpisah hanya karena legenda bodoh soal penghisap darah berwujud manusia dan pemburu makhluk dongeng itu?! Sampai kapan kalian akan percaya takhyul kuno mistis yang tidak masuk akal?!" manik kelabu miliknya berkilat tajam. "Jaga ucapanmu, Chihiro! Kau tidak mengerti kutukan apa jika-" "KAA-SAN! JANGAN LEPAS STIRNYA!"
Anak itu sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir kedua orang tuanya. Tapi yang pasti ia ingat adalah saat mobilnya menabrak pembatas jalan dan meluncur ke jurang yang dalam disertai suara benturan keras juga sebuah ledakan, lalu hanya kegelapan yang ia lihat.
.
.
.
.
.
.
'Panas sekali, apakah ini api dari mobil? Ah, tidak. Sekarang malah dingin, apa ini salju yang mulai turun? Eh, tapi kan ini bukan... Sial, mataku tidak mau terbuka!' perlahan, kelopak mata Mayuzumi terbuka dan menampilkan manik kelabu miliknya. 'Ini dimana?' pertanyaan itu terlintas begitu saja hingga sebuah suara muncul tiba-tiba. "Mayuzumi Chihiro..."
Matanya mencari sumber suara, namun nihil. Hanya kegelapan yang ia lihat. "Tunjukkan dirimu!" serunya tanpa gemetar. Sesosok anak kecil yang lebih muda darinya muncul, manik heterochrome anak bersurai merah itu menatap Mayuzumi. "Hidupmu sebagai manusia telah berakhir." "Jadi aku sudah mati?" kali ini si surai abu tidak bisa menyembunyikan nada bicaranya yang gemetar. "Iya, kau sudah mati. Tapi aku ingin menyelamatkanmu." Mayuzumi menatap anak itu heran. "Kau bahkan lebih muda dariku."
Anak bersurai merah itu menyeringai. "Aku memang lebih muda darimu jika kau melihat usia tubuh. Tapi usiaku yang asli bahkan sudah lebih dari lima ratus tahun." Mayuzumi melebarkan matanya tak percaya. "Sudahlah, namaku Akashi Seijuurou. Aku adalah keturunan vampire darah murni keluarga Akashi. Sekarang, bangunlah karena perintahku ABSOLUT."
Seberkas cahaya muncul, lalu lenyap. Mayuzumi mendapati dirinya tertidur dekat danau perumahan sepupunya, padahal ia masih ingat tentang ibunya dan kecelakaan itu. "Sudah tak ada lagi gunanya menyesal. Mobilmu dan isinya sudah hangus terbakar, dan aku hanya sempat menyelamatkan tubuhmu dan bola itu." suara Akashi muncul tiba-tiba. Mayuzumi mengambil posisi duduk, hendak mengambil bola basket disebelahnya saat ia menyadari sesuatu.
Si surai abu menyentuh sudut bibirnya. 'Darah? Ta-tapi ini b-bukan darahku!' pikirnya. Ia merasa gigi taringnya menjadi lebih runcing. Saat itu juga, Mayuzumi mengambil bola basket itu dan memeluknya, lalu berlari ke rumah sang sepupu. "Arigatou, kau telah menyelamatkanku dari kematian. Tapi aku tidak mau berhutang budi padamu, akan lebih baik jika aku mati daripada aku berubah menjadi makhluk dongeng!" gumamnya berkali-kali bagai mengucap mantra. Air mata turun perlahan, masih tidak mempercayai dirinya sendiri sebagai makhluk immortal.
Tak butuh waktu lama bagi si surai abu untuk sampai ke rumah sepupunya. Ia hendak mengetuk pintu, namun beberapa sosok bayangan yang masuk lewat jendela. Teriakan terdengar tak lama setelahnya. "Ji-san! Ba-san! Apa yang terjadi?!" manik kelabu Mayuzumi mencoba untuk melihat apa yang terjadi, tapi jendela itu terlalu tinggi untuk ukuran tubuhnya. Namun ia tak menyerah, ia memutuskan untuk menggedor-gedor pintu rumah. "Ji-san! Ba-san! Buka pintunya!" kali ini disertai seruan yang keras. "TIDAAAK! TOU-SAN! KAA-SAN!" Mayuzumi benar-benar panik, sekarang ia mencium bau darah yang sangat menyengat. "Dai-kun! Apa yang terjadi?! Buka pintunya!" "CHIHI-NII! TOLONG AKU!"
Baru saja bocah bersurai abu itu akan mendobrak, dua sosok bersurai pirang datang menghampirinya. "Kau siapa? Apa yang terjadi di dalam?" tanya sosok yang terlihat seumuran Mayuzumi. "Aku tidak tahu, tapi tadi aku mendengar teriakan sepupuku!" wajah datar yang biasa ia tampilkan sudah lenyap entah kemana, saat ini ia sangat khawatir.
Si pirang langsung melompat masuk lewat jendela yang terbuka, lalu membuka pintu yang terkunci dari dalam. "Kurasa mereka dekat dapur..." baru saja akan menuju tempat yang dimaksud, dua sosok berjubah hitam dan bermata merah darah menghalangi mereka. "Ryouta, kau cepat ke dapur!" sosok pirang yang lebih muda hanya menurut dan berlari menuju tempat yang dimaksud.
Setelah sosok yang dipanggil 'Ryouta' pergi, Mayuzumi melihat warna mata anak disampingnya itu berubah juga menjadi merah darah. "Pergi atau mati." Mayuzumi saja ngeri mendengar suara datar nan dingin anak itu. "Heh, memangnya apa yang akan kau lakukan? Dasar bocah!" kata salah satu dari mereka. "Kalian bahkan tak lebih baik dari seekor monyet. Kalian sudah menolak pilihan pertama yang aku tawarkan, maka hanya ada pilihan kedua."
Hawa sekitar jadi mencekam, Mayuzumi mundur dua langkah. "Kalian dan teman-teman kalian... PERGILAH KE NERAKA!" api merah muncul tiba-tiba dan membakar dua sosok tadi. Mayuzumi juga mendengar suara rendah si surai pirang. "Itulah akibatnya jika menentang keturunan vampire darah murni."
Kedua sosok itu hilang bersama api, manik kelabu Mayuzumi menatap tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. "Hehe... Kau tidak perlu takut begitu. Aku Kise Nash, yang tadi itu Kise Ryouta adikku. Kau siapa?" si pirang mengulurkan tangannya, berkenalan dengan Mayuzumi. "Um... Aku Mayuzumi Chihiro."
.
.
.
Seorang anak kecil bersurai navy blue meringkuk ketakutan di pojok dapur. "Tou-san... Kaa-san..." gumaman itu terus meluncur tanpa henti. Sosok pirang yang seumuran dengannya hanya mengelus surai biru itu perlahan.
Isakan kecil terdengar, si pirang berusaha untuk menghibur. "Tenanglah, um..." "Aomine Daiki." Manik keduanya bertemu. "Tenanglah, Aomine-kun... Aku disini, jangan sedih ya..." Aomine menatap dua sosok yang baru saja memasuki dapur.
"Chihi-nii!" Mayuzumi yang mendapat pelukan mendadak hampir terjatuh. "Aku benci vampire..." satu kalimat yang membuat manik kelabu miliknya terbuka lebar, ia takut Aomine akan membenci dirinya "Kenapa kau dingin seperti mereka? Tatapanmu seperti mereka, dan aku merasakan kau adalah..." hening, lalu sebuah bentakan terdengar. "Aku benci Chihi-nii!"
Mayuzumi mematung ditempatnya, lantas ia harus bagaimana? Tiba-tiba Nash mengelus surai navy milik Aomine. "Tenangkan dirimu..." dan tak lama, Aomine tertidur. "Ryouta, pergilah cari bantuan. Bilang saja disini baru terjadi pembunuhan."
Mata kelabu Mayuzumi menatap sekitar, ia melihat banyak genangan merah di dekat meja makan. "Mayuzumi, bantu aku membawa dia ke sofa."
.
.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan pada Dai-kun?" tanya si surai abu. Ryouta belum kembali dan mencari bantuan, wajar saja karena sekarang adalah malam hari. Sedangkan sang sepupu masih belum membuka matanya. "Aku menyembunyikan ingatannya tentangmu." Nash menatap Mayuzumi. "Dia adalah hunter yang bisa mendeteksi keberadaan 'kita'. Aku juga merasakan kebenciannya terhadap 'kita'. Sebagai darah murni, aku bisa saja mengganti aura vampire dengan manusia walau hanya sementara. Tapi apa kau bisa melakukannya juga?"
Mayuzumi terdiam, ia harus bagaimana lagi? "Kau baru saja diubah oleh Akashi, dan artinya aura vampire milikmu sangat kuat. Akan sangat berbahaya jika ia memberitahu pada hunter lain, jadi aku menyembunyikan selruh ingatannya tentangmu. Dan untuk sekarang, ia tak mengenal seseorang bernama Mayuzumi Chihiro dalam hidupnya."
Flashback end
Mayuzumi menatap Kise yang masih terkejut atas masa lalu dirinya. "Walaupun kebenciannya begitur besar, tapi aku tidak yakin kalau Dai-kun akan membencimu, Ryouta-kun..."
.
.
.
TBC/Disc
