Warning : AU, OOC, semi PoV (huruf italic, tiap Pov kadang berbeda orang tiap chapter-nya, jadi jeli-jelilah menduga saat itu PoV milik siapa), kayak sinetron Indonesia (mungkin), kalo kagak malah kayak shoujo manga... - -;;

Disclaimer : Ampe kemarin saia minta hak ciptanya, gak dikasih-kasih. Kata Hongo-sensei, takut ntar tokoh-tokohnya diapa-apain saia, padahal saia cuman mo ngubah plot-nya, Yamato mati gantung diri. *disembur Gabumon*

Fiction Rated: T, no-lemon… saia gak mau meracuni anak Indonesia dengan M-rated, tapi BL-an aja deh… *ditenggelamin di Segitiga Bermuda*

Genre : Romance/Friendship/Drama/Hurt/Comfort/Humor? Ada kali, gak tau, nih...

Chara : Ayo, ngintip TaiSora di love Hotel! *dijatuhkan ke jurang*


xoxoxox

"Ohayou, minna!"

Serempak makhluk dalam kelas menoleh ke arah asal sapaan. Laki-laki yang seringnya menjadi trouble-maker di kelas itu menyengir ceria. Beberapa membalas salam dan lainnya meneruskan aktivitasnya. Ia berjalan menuju kursinya di pojok ruangan dekat dengan jendela. Lalu, mempersilahkan pantatnya duduk seusai meletakkan tas di atas meja. Tubuh pemuda itu tak tergerak untuk melanglang buana seperti biasa. Kejadian kemarin menurunkan staminanya.

"Hei, Taichi."

Suara yang melintasi barusan dikenal Taichi, itu wujud nyata dari harapannya.

"Ada apa?"

Senyum tipis terpampang pada paras gadis berambut jingga itu, "Hari Minggu ada acara?"

-

Ada hawa apaan, nih Sora nanya itu segala? Ngajak kencan? Mana mungkin kalo Sora. Palingan disuruh kerja rodi...

-

"Nggak, sih... Klub sepakbola besok Minggu lagi gak ada latih tanding."

"Sungguh?" Wajah Sora tampak berbinar, "Aku punya tiket ke Odaiba Land, bonus langganan koran. Mau nemenin gak? Soalnya Mikki dan Hinacchi lagi ada acara Minggu ini..."

Taichi terkesiap. Tak biasa untuk gadis macam Sora yang dalam pikirannya hanyalah kesenangan terhadap tenis. Tanpa perlu berpikir banyak, ia langsung menyetujuinya, tak peduli jika itu sebuah kebohongan belaka.

"Oke," jawab Taichi mantap, dalam benak ia menari senang. Perasaan gembiranya melupa-luap. "Baiklah kalau begitu, jam sepuluh di depan Odaiba Land. Ingat, minggu ini." Sorapun pergi kembali ke tempat sahabatnya setelah mendapat persetujuan dari pemuda itu. Taichi melirik ke arah bangku teman-teman Sora. Jari yang membentuk tanda peace dan sengiran diperlihatkan kedua rekan gadis tadi. Pemuda itu kemudian membalas hal serupa.

-

-

-

/third/

Ame ga Furu

.avaritia.

-

-

-

Jalanan kota setiap waktunya selalu disibukkan oleh lalu lalang para pejalan kaki maupun pengguna motor. Bangunan berlantai tinggi saling berjejer hampir tanpa celah. Di perempatan jalan, garis hitam putih membentuk segi-empat dengan tanda silang di dalamnya. Semua tertata rapi, penuh namun lancar, hambatan selalu dipastikan tidak terjadi. Seorang lelaki berambut coklat tua mengenakan kaos sederhana, dibumui rompi berkerudung dan jeans biru –– tengah melesat. Sesekali arloji yang melingkar di lengan kanan diliriknya. Kakinya terus dipacu agar waktu dapat diraih.

-

Kencan, ini kencan. Aku telat, yeah. Kupikir Sora akan misuh-misuh seperti biasa kalau aku telat. Tak masalah. Toh, aku bakal pergi main ama dia.

Yeah!

-

Di lokasi persetujuan, laki-laki itu mencari sosok yang dicarinya, gadis remaja seusia dengannya. Pupilnya menggelinding dan konsentrasi menangkap wujud yang dicarinya diantara gerombolan manusia.

"Yoo, Sora––"

Gadis yang telah ditemukan itu menoleh. Ia melambaikan tangannya––mengisyaratkan untuk mendekat. Pemuda yang masih shock itu melangkah menghampiri Sora tapi air mukanya cepat-cepat kembali pada ekspresi kesehariannya.

"Kau terlambat, Taichi. Kubilang jam sepuluh 'kan? Hampir saja kami lelah menunggu."

Kebahagiaan pemuda itu pupus sudah. Ia hanya nyengir santai.

"Gomen, tadi malam nonton bola. Dan..." Taichi memutar bola matanya, "Kau tidak bilang bakal pergi sama dia."

"Yamato?" Si empunya nama diam, tak berniat mengeluarkan hujatan serapah.

"Siapa lagi?"

Sora menghela nafas, "Memangnya kau pikir tiketnya cuman dua? Kemarin kan aku cuman bilang Mikki dan Hinacchi gak bisa nemenin, bukan berarti tiketnya cuman ada dua 'kan? Daripada tiga tiket ini sia-sia mending kita pergi bareng. Toh, sudah lama gak pergi sama-sama 'kan?" jelas Sora sambil tersenyum polos, tak memikirkan perasaan dua jejaka di depannya. Lebih tepatnya, tidak peka. Walaupun begitu, mereka harus menerima alasan yang dimuntahkan gadis tersebut. Tak satupun di antara mereka menginginkan kekhawatiran gadis tercintanya.

"Kalau begitu, ayo! Aku ingin cepat main!" ajak sang gadis dengan mendorong punggung laki-laki sahabatnya.

-

Sudah kuduga... Menerima ajakan Sora artinya bukan kencan.

-

Setelah menukar tiket dengan cap-awet sebagai bayaran menumpangi wahana dalam Odaiba Land, tiga orang itu memulai petualangannya. Tentu si pengajak menjadi orang paling bersemangat untuk mencoba setiap atraksi di sana. Kedua adalah kali-laki terlambat dan yang terakhir, Yamato. Hanya diam menggelengkan kepala melihat tingkah dua manusia itu yang berkelakuan persis anak-anak. Ia mengikuti saran mereka, juga memutuskan melupakan kegalauan hatinya. Menikmati apa yang ada dalam taman rekreasi itu.

-

-

-

"Hahaha... menyenangkan! Bagaimana menurut kalian?"

Di sekeliling gadis itu––yang menunjukkan senyum kepuasan, warna suram terlukis di balik kedua laki-laki tersebut. Memang keduanya memberi segaris lengkung, namun pucat muak ditampakan begitu jelas pada paras mereka.

"Yeah, tadi itu menyenagkan. Tapi..."

"Kita perlu istirahat," lanjut pemuda dengan warna pirang melunturi helaian rambutnya.

"Umm... oke. Aku juga mau beli hamburger di sana, tunggu ya?" Gadis itu berlari meninggalkan mereka. Keheningan terjadi. Baru dimulai babak awal sebagai pembuka, Taichi.

"Ternyata Sora masih tetap seperti dulu, senang kalau pergi ke taman bermain."

Yamato mengalihkan penglihatannya pada sang gadis, "Otaknya juga, atak pernah memikirkan perasaan kita."

"Namanya juga Sora..."

"Kurasa ini masalah kepekaan."

"Benar. Tapi, itu menyusahkan. Lebih baik dia sadar sendiri, deh. Dia ntar nangis kalo kita paksa jawab siapa yang disukainya. Dari dulu 'kan dia cengeng––"

"Apa maksudmu, Taichi?" Panjang umur. Orang yang digosipkan muncul di depan kedua jejaka tersebut. Satu tangan berkacak pinggang dan sebelahnya menenteng tas plastik. Taichi menyeringai. Lalu, Sora mengambil satu hamburger dan cola yang terbungkus kantong itu dan diserahkan kepada Yamato. Laki-laki di sebelahnya mengerjap, dapat diartikan milikku-mana-?.

"Kau tak dapat bagian, barusan kau bilang aku cengeng," ujar Sora bersikeras.

"Ayolah... aku bisa mati kalo gak dapat asuman gizi..." pinta Taichi.

"Uso!"

Perkelahian mulut berupa celaan dan pinta memelas berlangsung pada babak kedua dari pementasan gratis. Penontonnya adalah hiruk pikuk lalu lalang pengunjung yang peduli pada kepuasan hati saja. Yamato, beralih menjadi pemain tambahan, merasakan perih membuncah dalam dirinya.

-

-

-

Pertarungan dimenangkan Taichi dan memperoleh hadiah hamburger komplit dengan cola––yang telah tercerna di lambungnya. Mereka siap memulai perjalanan lagi setelah makan siang mereka selesai dan Yamato kembali dari kenikmatan di toilet.

Warna jingga kemerahan melunturi langit. Gumpalan permen kapas tampak menipis di angkasa. Cahaya senja menghujani penduduk bumi.

"Sudah sore, gimana? Mau lanjutin?"

"Aku belum puas. Masih mau main la–– Ah! Parade! Ayo, ke sana!" teriak Sora mendadak sembari menarik lengan Taichi. Ia melupakan seseorang. Parade yang setiap hari Minggu dilaksanakan sudah dipenuhi rombongan dari penjuru arah. Sora dan Taichi terpaksa menyusup masuk setiap ada celah untuk didesak, hingga mereka akhirnya dapat menempati area depan.

"Mana, nih mereka?"

-

-

-

-

Bagus. Dengan ini, aku dan Sora hanya berdua. Bisa dibilang ini gak sengaja, tak masalah. Setidaknya dia bersamaku, tak bersama Yamato. Kalau seandainya saja bisa, Sora menjadi milikku… seorang. Tak ada orang lain yang boleh memilikinya, seorang pun. Terutama Yamato.

Tapi, bagaimana mungkin?

Sora bukan orang yang peka terhadap perasaan khusus seperti ini.

Aku,

Hanya berharap,

Semoga aku bisa bersamanya selalu.

-

"Yamato mana, sih? Kok ngilang tiba-tiba..."

-

Kamu yang ninggalin dia, Sora.

-

Parade telah usai. Bola membara di angkasa menunjukkan dirinya mulai mengantuk. Waktu tidurnya sebentar lagi tiba. Dua orang yang nampak seperti sepsang kekasih itu kehilangan seorang rekannya. Yang perempuan kebingungan seakan menghilangkan barang pinjaman sedangkan yang laki-laki menganggap itu menyenangkan.

"Mungkin sudah pulang waktu kita liat parade."

"Tapi...."

"Dia 'kan udah dewasa, gak bakal tersesat. Tenang saja. Mau naik lagi?"

"Umm... tapi, habis itu kita pulang dan memastikan kalo Yamato sudah balik."

Taichi mengangguk pelan. Meski sebentar, hal itu bisa menutup hasratnya.

Merekapun menghabiskan waktunya di atraksi terakhir. Wahana yang disukai oleh hampir semua kalangan wanita, Bianglala. Keduanya memasuki silindris yang cukup bermuatan hingga 4 orang. Wajah sumringah terlihat di wajah sang gadis. Menikmati senja di atas permukaan tanah.

"Keren…" komentar Sora mengenai semesta alam di luar kaca transparan wahana yang ditumpanginya. Ia terkagum-kagum dengan lukisan Tuhan yang telah tergores milyaran tahun lamanya.

"Kalau seandainya, kau Cuma punya dua tiket, siapa yang kau ajak?" tanya Taichi perlahan, nyaris tak terdengar. Juga mendadak.

"Ya? Barusan kau bilang apa?"

"Emm… tidak. Bukan apa-apa."

-

Biarlah.

Biarkanlah tetap seperti ini. Memang ini belum saatnya. Meski begitu, ingin rasanya waktu terhenti pada momen ini.

-

Pemuda itu menampakkan senyumnya. Bahagia.

Siulan burung mengantar pulang sebelum gelap menyeret keluar. Sinar mentari senja membasuh diri dengan kehangatan yang begitu nyaman.

Hari ini, langit bahagia. Tak ada setitikpun tangisan angkasa.

-

-

-

/third - end/

/next chapter - fourth sin: superbia/

xoxoxox


Ancur!! *njedutin kepala ke kasur* Alurnya kecepatan, dengan terpaksa harus dipotong. Kalo gak, bakal berchapter-chapter cerita di Odaiba Land-nya (namanya ngaco banget…). Pasti, gak kerasa lagi 'kan? Malah kebalikannya greed, deh… *nyiapin api buat bakar-bakaran* *digantung*.

Gomengomengomen~! Entar kalo dah rampung SDS-nya, saia berniat bikin satu scene di taman ria khusus TaiSora! Kalo jadi…

Ah! Silahkan kalo mo nunggu chapter selanjutnya.

*frustasi, main rebana*

Zerou

.39.