Naruto disclaimer Masashi Kishimoto dan Fate/Stay Night disclaimer Type-Moon
Tapi cerita ini sepenuhnya milik author.
Author hanya meminjam karakter untuk cerita ini dan tidak mengambil keuntungan materi apapun dari cerita yang di-publish.
.
Warning : OC, OOC, AU, AR, AT, Typo (s), miss-Typo, dan banyak kesalahan yang lainnya.
.
.
.
My Library
Drama, Friendship, Romance, Humor, Parody, Family, Suspense, Spiritual, Hurt/Comfort, Poetry
.
.
.
Chapter 4 Sebab-Akibat
.
Jam demi jam berganti, haripun semakin sore. Langit yang berwarna biru mulai tampak kekuning-kuningan, pertanda senja akan segera tiba.
Saat ini, pukul 4 sore waktu Tokyo dan sekitarnya. Para mahasiswa pun terlihat mulai mengosongi seisi kampus.
Lain dengan Arthuria yang masih merapikan meja kerjanya di ruang sekretariat BEM. Tak lama, sosok pemuda berambut nanas hitam datang memasuki ruangan dan menyapa sang ketua BEM yang masih tampak sibuk.
"Boleh aku berbicara sebentar, Arthuria?" tanya Shikamaru sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Ia berdiri di dekat pintu ruangan.
"Tentang apa?" jawab Arthuria singkat sambil mempercepat merapikan dokumen program kerja yang ia pegang.
"Tentang Naruto," sahut Shikamaru kemudian.
Seketika itu juga Arthuria berhenti sejenak dari aktifitasnya, ia menarik napas lalu meletakkan dokumen yang ia pegang pada lemari kecil yang berada di samping meja kerjanya.
"Apa terlalu sulit untuk memaafkan dirinya, Arthuria? Shikamaru bertanya lagi.
Arthuria lekas-lekas menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, ia mengambil tas yang tergeletak di atas kursi kerjanya kemudian segera beranjak meninggalkan Shikamaru.
"Jaga sikapmu, Shikamaru!"
Arthuria berjalan menuju pintu, melewati Shikamaru yang tengah berdiri tak jauh dari pintu ruangan.
"Kalau begitu aku mewakilinya meminta maaf kepadamu."
Shikamaru berbalik menghadap ke arah Arthuria yang sedang membuka pintu dan segera membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf.
Arthuria pun terdiam, ia memutar bola matanya sambil mengembuskan napas pertanda kesal.
"Kau tidak perlu repot-repot meminta maaf atas ulah temanmu sendiri, sedang dia tampak biasa saja."
Arthuria menunduk sambil melirik ke arah kanan, mencoba berbicara kepada Shikamaru yang ada di belakangnya.
"Jangan berusaha menjadi pahlawan sedang kau menghilangkan kepercayaan orang lain terhadapmu, Shikamaru!"
Arthuria beranjak pergi dan menutup pintu ruangan sekretariat BEM setelah sepatah kalimat itu ia lontarkan kepada Shikamaru. Sifat dingin pada diri Arthuria sungguh sangat menjengkelkan bagi seorang Shikamaru yang tidak ingin kerepotan. Tapi demi sang sahabat, Naruto. Shikamaru rela terkena ucapan pedas dari sang ketua BEM.
"Hah, wanita itu memang merepotkan!"
Shikamaru memijat pelipis matanya karena tiba-tiba merasa pusing atas apa yang telah terjadi barusan.
.
.
.
Malam harinya...
Arthuria baru saja keluar dari kantornya, terlihat sosok pemuda berambut merah menyambut kedatangannya sambil tersenyum.
"Maaf, aku telat sepuluh menit," sapa Arthuria kepada seorang pemuda berambut merah berjaket cokelat dan bercelana jeans berwarna biru. Pemuda itu tampak mengenakan sepatu gunung yang berwarna cokelat tua.
"Tak apa, mari."
Sang pemuda mengajak Arthuria berjalan bersama di hari yang sudah semakin larut, sepertinya mereka menuju ke suatu tempat.
Lain Arthuria, lain dengan sang Uzumaki. Malam ini Naruto tampak kebingungan karena batas waktu tiket nonton itu hanya tinggal dua hari lagi.
"Bagaimana ini, ya?"
Ia menggerutu sendiri di dalam kamar berukuran 3x3 meter. Di dalam kamar itu hanya ada kasur lipat, lemari pakaian dan juga meja belajar sang pemuda bergurat tiga. Hidupnya sangat simple dan juga sederhana, tidak banyak peralatan yang berada di dalam kamarnya.
"Sayang tadi aku tidak sempat bertemu dengan Arthuria, harusnya aku memaksakan diri untuk meminta maaf padanya terlebih dulu. Tapi, akupun tidak mungkin membantah ibu. Haaah ..."
Naruto yang mengenakan t-shirt orange dan celana boxer hitam itu terlihat mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia menyesali perbuatannya kepada Arthuria siang tadi.
"Kenapa aku bodoh sekali, ya! Atau aku yang terlalu grogi saat berhadapan dengannya? Astaga ..." Ia memijat-mijat kepalanya sendiri.
"Arthuria, maaf. Aku tidak bermaksud melecehkanmu." Naruto membayangkan wajah Arthuria saat tersenyum padanya malam itu.
"Haruskah aku mendatangi rumahnya malam ini?" Naruto bertanya sendiri, kemudian melihat jam di dinding tapi ditemukan sudah pukul sepuluh malam.
"Oh, ya ampun! Mengapa wajahnya selalu terbayang di pikiranku?!"
Ia mengambil bantal dan segera menutup wajahnya dengan bantal yang diambil. Sepertinya rasa aneh itu mulai mengganggu alam pikirannya saat ini.
Kegelisahan dan perasaan bersalah mulai datang dan mengusik hatinya yang telah lama kosong, hanya karena seorang gadis yang tersenyum kepadanya. Bukan sekedar senyuman tapi keindahan atas maha karya yang telah tercipta.
'Arthuria ... jangan ganggu aku ...'
Batinnya terus bergumam sendiri sambil terlungkup di atas kasur berusaha menghilangkan bayangan yang mengganggunya.
.
.
.
Esok harinya...
Naruto berdiri di depan pagar rumah Shikamaru, ia menunggu izin untuk masuk ke dalam rumah megah sang teman.
"Pasti sesuatu akan terjadi lagi padaku hari ini," gumamnya pelan lalu tak lama pintu gerbang rumah Shikamaru pun terbuka.
"Akhirnya ..."
Setelah mendapat persetujuan dari sang tuan muda, Nara Shikamaru. Naruto akhirnya dapat memasuki halaman rumah Shikamaru yang luas nan panjang. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah itu dan terlihatlah tiga ekor anjing yang memperhatikan setiap gerak-gerik dan langkah kakinya.
'Sepertinya mereka tidak senang akan kedatanganku.'
Naruto perlahan-lahan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah kediaman keluarga Shikamaru yang jaraknya cukup jauh dari tempat di mana dirinya berada. Tapi hatinya begitu gelisah saat mendengar gonggongan ketiga ekor anjing penjaga yang terlihat seolah siap menerkam sang Uzumaki.
'Sial, selalu seperti ini!'
Karena tidak ingin berlama-lama ditatapi ketiga ekor anjing milik Shikamaru yang terus menerus menggonggong, Naruto segera mengambil langkah seribu. Ia berlari terbirit-birit agar lekas sampai di pintu masuk rumah sang teman. Tak ayal ketiga anjing penjaga itu segera mengejarnya, rantai yang mengikat mereka pun terputus dari tempatnya.
"Arthuria! Tolong aku!"
Rasa panik karena dikejar anjing-anjing penjaga membuat Naruto malah mengucapkan sebuah nama tanpa ia sadari. Shikamaru sendiri yang kala ini sedang menandatangani beberapa dokumen segera menghentikan aktifitasnya saat mendengar Naruto berteriak di halaman rumahnya.
"Naruto?!"
Ia berjalan cepat ke arah jendela di dekatnya dan melihat sang teman yang sedang dikejar anjing-anjing penjaga rumahnya.
"Jauhkan ketiga anjing itu dari temanku, cepat!"
Shikamaru yang khawatir segera memerintahkan tangan kanan sang ayah untuk mengurus hal yang terjadi pada Naruto.
"Baik, Tuan Muda."
Pria setengah baya itu membungkukkan badannya ke arah Shikamaru lalu segera keluar dari dalam ruangan untuk menjalankan perintah sang tuan muda untuk menolong Naruto.
Sementara Naruto sendiri...
"Shi-ka-ma-ru!"
Ia terus berlari, menghindari kejaran ketiga ekor anjing penjaga rumah Shikamaru. Keringatpun bercucuran dengan derasnya, tapi saat ini yang ada di pikiran Naruto hanya memikirkan bagaimana cara agar bisa sampai di depan pintu rumah Shikamaru dengan selamat.
Dan akhirnya terdengar bunyi peluit dari seseorang yang membuka pintu rumah Shikamaru, melemparkan beberapa mainan untuk ketiga ekor anjing yang mengejar Naruto. Alhasil, Naruto pun selamat.
.
.
.
Beberapa menit kemudian...
Naruto terlihat mensejajarkan kedua kakinya sambil bersandar di sebuah sofa yang berada di ruang kerja sang teman.
"Aduh, kakiku ..."
Kedua kakinya seakan tidak bisa digerakkan lagi, sementara sang teman tidak habis pikir jika Naruto akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Ini, minumlah ..." Shikamaru memberikan segelas air dingin kepada Naruto.
"Thank you," balas Naruto lalu segera meminum air itu sampai habis.
"Hah, merepotkan!" Shikamaru berkeluh kesah akan ulah temannya. Ia kemudian duduk di sofa yang berada di hadapan Naruto.
Shikamaru mengenakan pakaian formal berupa toxedo hitam. Sedangkan Naruto tampak mengenakan cardigan putih dengan celana dasar hitam panjang.
"Sudah kubilang berulang kali, jangan lari saat ada anjing di dekatmu, Naruto!" Shikamaru memarahi temannya.
"Tap-tapi kan, Shika-"
"Semakin kau lari, anjing-anjing itu akan semakin mengejarmu. Terlebih kau jarang datang kemari, jadi ketiga anjing itu menganggapmu sebagai orang asing!" cetus Shikamaru yang kesal.
"Hah, bagaimana aku mau sering berkunjung ke rumahmu. Setiap aku ke sini saja aku harus beradu lari dengan ketiga anjing penjaga itu. Jika tiap hari aku ke sini, itu sama saja aku membiarkan kedua kakiku terlepas dari tempatnya!"
Naruto tidak mengindahkan saran dari Shikamaru.
"Hm, terserah dirimu saja, Naruto." Shikamaru tampak kesal karena merasa berbicara dengan Naruto saat ini hanya akan membuat tekanan darahnya naik.
Ia kemudian membiarkan Naruto beristirahat sejenak untuk melepas lelah sehabis berlari. Setelah itu keduanya kemudian berenang bersama sambil mengobrol santai di kolam renang yang berada di belakang kediaman Shikamaru dan keluarga.
.
.
.
Di kolam renang...
Shikamaru meluncur dan berenang menggunakan gaya bebas, air di kolam renang yang berukuran 5x10 meter itu mampu meringankan sedikit pusing di kepala Shikamaru akibat ulah sang teman, sementara Naruto sendiri masih tampak sibuk melakukan pemanasan.
"Oiii, Naruto!"
Shikamaru memanggil Naruto dari seberang sisi kolam renang.
"Sampai kapan kau melakukan pemanasan?!" tanya Shikamaru.
"Hah, apa?!" Naruto malah balik bertanya.
'Hah ... sepertinya dia tidak mendengarku,' gumam Shikamaru.
Shikamaru lalu kembali meluncur dan berenang mendekat ke arah Naruto. Kedua sahabat itu kemudian berbincang-bincang sambil menikmati suasana di siang hari.
"Segarnya ..."
Naruto berulang kali mencelupkan dirinya ke dalam kolam renang. Saat itu baik Naruto maupun Shikamaru hanya bermodal celana boxer hitam sepangkal paha untuk berenang. Mereka saat ini tengah berdiri sambil bersandar di dinding kolam dan menahan tangannya di tepian kolam.
"Minumlah, pelayanku sudah menyediakan minuman segar." Shikamaru menawarkan minuman tropis kepada Naruto.
"Sepertinya, aku memang harus menyelesaikan semua ini, Shikamaru." Naruto menoleh ke arah Shikamaru yang berdiri di samping kirinya.
"Menyelesaikan apa?" tanya Shikamaru.
"Dia, siapa lagi?" balas Naruto.
"Apa yang terjadi padamu, Naruto. Apa kau merasa menyesal?" Shikamaru kembali bertanya sambil meneguk minumannya.
"Tidak, lebih dari itu. Aku akan menyatakan cintaku padanya," cetus Naruto.
BURRRR
Sontak saja Shikamaru menyemburkan minuman yang sedang ia minum saat mendengar penuturan Naruto.
"Yang benar saja?!" Shikamaru tak percaya.
"Apa aku terlihat berbohong?" Naruto balik bertanya.
"Ck! Merepotkan!" decih Shikamaru sambil memejamkan kedua matanya.
"Arthuria bukanlah seorang gadis yang mudah jatuh cinta dan percaya begitu saja kepada orang lain, Naruto. Kau harus bekerja keras untuk mendapatkan hatinya." Shikamaru menuturkan apa yang dirinya ketahui tentang Arthuria.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Naruto kembali.
"Minta maaflah kepadanya atas kejadian waktu itu, karena aku sudah berusaha mewakili tapi dia menolaknya dengan ketus!" ujar Shikamaru.
"Be-benarkah?" Naruto tak percaya.
"Sudah kubilang, dia bukan gadis yang mudah mempercayai orang lain. Maka dari itu aku hanya dapat menuruti apa yang dia instruksikan kepadaku walaupun itu merepotkan," ucap Shikamaru.
"Kau tidak menyukai Arthuria?"
"Tidak, bukan dirinya tapi sikapnya yang terlalu tegas dan dingin kepada setiap orang," jawab Shikamaru.
"Bukankah seorang pemimpin harusnya bersikap seperti itu?" Naruto mencoba beradu argumen dengan Shikamaru.
"Ya, itu benar. Pemimpin memang harus bersifat memaksa karena secara manusiawi kesadaran tidak akan ada jika tidak dipaksakan. Dan sifat pemimpin yang baik juga mengarahkan, mengkoordinir serta mengayomi anggotanya.
Tapi Arthuria akan menjadi sangat dingin kepada siapa saja yang tidak disukainya, kau harus tahu itu, Naruto." Shikamaru memaparkan.
"Begitu, ya? Apa ada sesuatu yang membuatnya seperti itu?" tanya Naruto lagi.
"Aku tidak tahu, tapi mungkin hanya kau yang akan mengetahuinya." Shikamaru menoleh ke arah Naruto yang berdiri di samping kanannya.
"Baiklah, akan kucoba," ujar Naruto yang kini diselimuti perasaan yang sulit untuk diucapkan dengan kata-kata.
Naruto pun berpikir ulang atas niatannya untuk segera menyatakan cinta kepada Arthuria.
Secepat itu? Ya, dirinya memutuskan untuk melakukan hal itu karena bayangan Arthuria selalu mengganggu alam pikirannya.
.
.
.
Esok hari, Senin pukul 2 siang waktu setempat.
Naruto berusaha untuk bertemu dengan Arthuria, selain berniat untuk meminta maaf secara langsung , ia ingin mengajak Arthuria nonton bersama. Tapi sayang, sang dewi sedang tidak berada di tempat yang membuat Naruto kebingungan untuk melangkah ke tahap selanjutnya.
"Bagaimana, ya? Tiket ini berlaku terakhir malam ini." Naruto tampak memegangi kedua tiket itu sambil berjalan menuju parkiran kampus.
"Apa aku jual saja ya tiketnya?" tanyanya lagi dengan diri sendiri.
"Hahhhh ... mengapa harus seperti ini?" Keluh dan kesah akhirnya terucap dari bibir sang Uzumaki.
Tanpa sengaja, Naruto melihat seorang teman yang sedang memanaskan mesin skuter matic-nya di tepi parkiran kampus. Dan ide brilian itupun muncul.
"Shino!" teriaknya dari kejauhan lalu segera mendekati teman.
"Naruto?"
"Shino, apa kau mau membeli tiketku?" tanya Naruto kepada pemuda berjaket hijau lumut yang tertutup dan berkacamata itu.
"Tiket?"
"Iya tiket, tiket nonton." Naruto sudah kehabisan akal sehingga ia ingin menjual tiket nontonnya saja.
"Hm, jadi kau mendekati dan menyapaku hanya ingin menawarkan tiket?" tanya Shino mematahkan.
STABB
Mendengar ucapan Shino, Naruto menjadi tidak enak hati sendiri.
"Bu-bukan begitu maksudku, Shino," jawab Naruto.
"Kau datang jika hanya ada perlunya, apakah itu yang dinamakan teman?" Shino bertanya lagi.
Sudah jatuh tertimpah tangga, mungkin itulah pribahasa yang tepat untuk Naruto saat ini. Dirinya sudah diliputi kebimbangan ditambah rentetan pertanyaan dari Shino yang membuat dirinya makin tidak berarah.
'Shino, kau belum berubah juga. Andai dirimu bukan temanku, mungkin sudah kusumpel mulutmu dengan dedaunan,' gumam Naruto di dalam hati.
Shino merupakan pribadi dengan segala sesuatunya yang terlalu memasukkan ke dalam hati (baca: baperan). Sehingga membuat Naruto jarang bertegur sapa karena dia sendiripun enggan mendengarkan penuturan Shino yang selalu salah tanggap akan maksudnya.
Ya, setiap individu beda kepala, beda isi. Tergantung bagaimana cara kita memandangnya.
.
.
.
Setengah jam kemudian...
Rasa lelah dan letih di Naruto rasakan di awal senja. Kini ia tengah duduk di halte bus yang tak jauh dari kampusnya untuk menunggu kedatangan bus selanjutnya.
"Temanku bermacam-macam, tapi hanya Shino seorang yang sulit kupahami."
Naruto merogoh saku celananya, mengambil dua buah tiket nonton yang hampir hangus itu.
"Kasihan sekali kau tiket, malam ini malam terakhir bagimu tapi tidak ada yang ingin memakaimu."
Dipandangi dalam-dalam tiket nonton itu sampai Naruto tidak memperdulikan seorang gadis cantik yang duduk tak jauh dari dirinya. Gadis itu menoleh, melihat kelakuan Naruto yang berbicara sendiri.
'Dia gila?' gumam sang gadis yang risih melihat ulah Naruto.
Naruto tak kunjung berhenti berceloteh hingga menarik simpatik sang gadis untuk mendekat ke arahnya.
"Ma-af ..." Sang gadis menyapa Naruto, memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Naruto lebih jelas.
"Are ...?" Merasa ada yang berbicara kepadanya, Naruto segera berhenti berbicara sendiri.
"Apa kau sakit?" tanya sang gadis.
"Hah?!"
"Sedari tadi kau berbicara sendiri, apa kau butuh minum?" tanya gadis itu lagi.
Gadis itu begitu cantik, rambutnya terkuncir berkepang dua dengan pita hitam yang menghiasi rambutnya. Mengenakan jumptsuit putih dibalut blezer merah dan rok balon mini yang berwarna hitam. Kaki jenjangnya dihiasi dengan leging panjang dan sepatu pantofel yang juga berwarna hitam.
"Ap-apa? Ti-tidak. Aku baik-baik saja," jawab Naruto yang masih bingung.
"Em, baiklah. Aku pikir kau sakit sehingga berbicara sendiri. Boleh kududuk di sini? tanya gadis itu sambil duduk di sebelah kanan Naruto.
"Si-silahkan," Naruto masih terkejut akan rentetan pertanyaan sang gadis.
Entah mengapa walau ada seorang gadis cantik yang mendekatinya, hati Naruto tampak biasa saja. Saat ini dirinya lebih merasa terkejut karena tanpa ia sadari ulahnya menarik perhatian orang lain.
"Sepertinya kau sedang dalam masalah." Gadis itu mengajak Naruto berbicara.
"Masalah?"
"Iya, masalah. Kau mengerti ucapanku?" Sang gadis mulai tampak kesal berbicara dengan sang Uzumaki.
"Eh, tidak. Aku hanya bingung. Yah bingung, itu benar. Hehehe ..." Naruto terkekeh sendiri.
"Bingung, kenapa?" tanya sang gadis itu lagi.
"Itu, kenapa ya?" Naruto berpikir sejenak.
'Aduh, gadis ini banyak bertanya, aku jadi pusing.' Batinnya bergumam sendiri.
Gadis itu terlihat mengeraskan wajahnya dan sontak saja membuat Naruto teringat dengan sang dewi.
"Tu-tunggu. Aku hanya sedang bingung, pacarku tidak ingin kuajak nonton padahal aku sudah membelikannya tiket ini." Naruto memperlihatkan tiket nonton itu kepada sang gadis.
Tak lama gadis itu seperti menahan tawa saat Naruto memberikan penjelasannya.
"Jadi, pacarmu sampai membuat dirimu seperti orang kebingungan?" desak sang gadis.
"Iya, bukan hanya itu. Dia membuatku gila, dia selalu menggangguku tanpa henti. Aku sudah tidak sanggup jika harus berlama-lama seperti ini." Naruto menceritakan apa yang tidak pernah terjadi.
"Kalau begitu, bagaimana jika aku beli saja tiketnya? Lalu kau belikan dia yang lain?" Gadis itu menawarkan bantuan.
"Sungguh?!" Naruto tak percaya.
"Hu-um." Gadis itu tersenyum sambil mengangguk, menanggapi.
'Akhirnya, perjuanganku tidak sia-sia. Aku akan membelikannya bunga saja kalau begitu, sebagai permohonan maafku padanya,' batin Naruto.
"Baiklah, setuju!"
Naruto lalu melakukan tawar-menawar dengan sang gadis dan akhirnya kesepakatan itupun terjadi. Tanpa keduanya sadari jika ada seseorang yang melihat keakraban mereka, melintas mengendarai mobil tepat di hadapan keduanya.
'Rin ... kau ...'
Pemuda berambut merah itu tampak kecewa saat melihat sang gadis tertawa bersama dengan seorang pemuda yang tak dikenalnya.
.
.
.
TBC
