preview
"Luhan" Luhan mengulurkan tangannya, Minseok membalas uluran tangan luhan dengan malas "Minseok" jawabnya.
Luhan pun duduk di sebelah Minseok. Kyungsoo dan Baekhyun melihat kecocokan dari mereka berdua pun terkekeh.
Saat istirahat pertama Luhan langsung mengajak Minseok mengobrol, yang di ajak mengobrol hanya membalas menggumam tidak jelas. Topik yang Luhan lontarkan seakan tidak ada habisnya. Bagaimana tidak, Minseok sekarang kualahan dengan sikap Luhan yang cerewet itu.
"Luhan kau bisa diam tidak?! Kau tidak lihat aku sedang menulis eoh?! Lebih baik kau mencari orang lain. Lagipula aku perempuan kenapa kau mau duduk denganku?!" tanya Minseok kesal.
Luhan hanya tersenyum. "Aku baru tau kalau nona Minseok yang cerewet menjadi pendiam seperti saat ini. Kau ada masalah? Kau bisa bercerita kepadaku Seokkie. Dan mengapa aku duduk disini, hanya ada satu alasan. Tempat yang kosong hanya ada di bangkumu nona Minseok" Luhan mengangkat kedua alisnya.
Minseok hanya melongo mendengar Luhan memanggilnya nona, dan lagi kenapa dia bisa tau kalau dirinya dulu cerewet?!
"Darimana kau tahu eoh? Uruslah hidup mu sendiri Luhan-ssi jangan ganggu hidupku." desis Minseok
"Apa kau sedang puber?" Luhan mengangkat kedua alisnya. Kyungsoo dan Baekhyun mendengar kata puber langsung bertukar pandang.
"Mungkin yang dikatakan Luhan ada benarnya Kyungie, Seokkie mungkin sedang puber" bisik Baekhyun yang langsung disambut anggukkan semangat dari Kyungsoo.
"Diam kau!"
"Aku benar kan?"
"AKU BILANG DIAM"
Luhan mendengar Minseok berteriak akhirnya memilih diam. Minseok memilih keluar kelas menuju tempat yang menurutnya membuat tenang, atap sekolah. Minseok pilih untuk menenangkan pikirannya.
"Eomma, Appa bogoshipeo" Lirih Minseok.
Air matanya jatuh begitu saja. Minseok
menangis dalam diam.
Niat Luhan yang tadinya akan menghampiri Minseok, namun Luhan urungkan karena melihat Minseok begitu rapuh.
Luhan berjalan pelan dan duduk di sebelah Minseok. Luhan membereskan tatanan rambut Minseok yang berantakan. Awalnya Minseok akan menepis tangan Luhan yang seenaknya menyentuh rambut Minseok. Tapi karena Luhan berlaku lembut jadi Minseok biarkan.
"Jangan menangis Minseok. Aku mengerti bagaimana rasanya di tinggal orangtua" Luhan tersenyum sambil menatap Minseok.
"Kau tidak mengerti Lu, a.. aku hanya benar -benar dekat dengan mereka. Tapi kali ini mereka hiks.. mereka hiks.. tidak menghubungiku sama sekali hiks.." suara tertahan Minseok akhirnya luntur menjadi tangisan.
"Keluarkanlah, aku disini" Luhan menenangkan Minseok dengan memeluk gadis itu, sesekali dia mengusap rambut dan punggung Minseok.
Setelah beberapa menit Minseok menangis, akhirnya dia berhenti karena lelah. Bisa dilihat dari wajahnya yang sembab dan terlihat mengantuk.
Luhan menyandarkan kepala Minseok pada bahunya. Dia mengerti apa yang Minseok rasakan. Jadi sekarang dia tidak banyak bicara. Luhan sesekali melihat wajah Minseok yang sedang tidur.
"Jangan menangis lagi Seokkie, itu membuat wajahmu terlihat tidak bercahaya" Luhan menggumam sambil mengusap wajah Minseok lembut.
"Yaa, Kyungie. Kau lihat Seokkie?"
"Molla, mungkin dengan Luhan hihi" kekeh Kyungsoo.
"Hmm, aneh.. Biasanya Seokkie tidak mau diikuti siapapun selain kita. Apa mungkin yang di katakan Luhan itu benar?"
"Yang mana?" Kyungsoo menoleh bingung.
"Luhan bilang kalau Minseok itu sedang puber makanya sikap Minseok akhir-akhir ini aneh" kata Baekhyun sambil menaruh kepalanya diatas meja.
"Hmm mungkin, karena dari kita bertiga hanya Seokkie yang belum mengalami perubahan" Kyungsoo dan Baekhyun hanya mengangkat kedua bahu mereka.
"Eunghhh.." Minseok membuka matanya. Lehernya sakit karena tidur dengan posisi duduk dan leher yang menyandar pada bahu seseorang.
Tunggu.. Bahu seseorang? Minseok langsung membuka matanya yang sembab. Dia kaget saat melihat Luhan tidur menyandar pada dinding di sebelahnya.
Minseok membangunkan Luhan.
"Wae?" ucap Luhan sambil membuka matanya.
"Apa sebaiknya kita ke kelas?" tanya Minseok.
"Hmm.. aku tidak yakin jika kita kembali ke kelas sekarang kita akan langsung di suruh masuk, karena sekarang pelajaran Kang-ssaem benar?" ucap Luhan santai.
Minseok hanya diam. Dia masih mengingat kejadian waktu dia menangis tadi. Luhan menyadari Minseok diam.
"Yaa, kau tidak apa-apa?" Luhan menggoyangkan tangannya di depan muka Minseok.
"Eoh? Iya aku tidak apa-apa" Entah mengapa muka Minseok memanas.
'Manis' Luhan mengulum senyumnya.
tbc
ini chapter ke 4. maaf banget kalo ff ini ngecewain kalian huhuㅠㅠ
sama ceritanya ngebosenin, maklum author baru haha..
yang udah vomment makasih :))
stay tune yaa *
balasan review:
chapter 3
xiuxiulala: makasih:)))
Emvy551: ada ga yaa, haha
