.

Suni Present

.

.

© BTS FANFICTION ©

Tittle : Nothing Like Us

Cast :

Kim Taehyung as Himself

Jeon Jungkook as Himself

Kim SeokJin as Himself

Min Yoongi as Himself

Rate : T+

Genre : Romance, Friendship

Length : Chaptered

Pair : Vkook

Warning : Typo, BL (Boy x Boy), OOC.

Disclaimer : cerita adalah milik saya, kecuali semua member adalah milik Tuhan, keluarga dan agensi.

Don't like, Don't Read. Author tidak menjamin jika FF ini memiliki efek mual atau pengen muntah.

PS : Rating dan genre bisa berubah seiring berjalannya cerita. Cast yang ditulis hanya yang muncul dalam cerita. Nama cast lain akan ditulis seiring kemunculannya dalam alur cerita. Pair bisa berubah-ubah kapanpun.

.

.

Summary

Jungkook tidak pernah tau bahwa taruhan itu akan merubah hidupnya dan sahabatnya.

.

.


® Nothing Like Us ®

CHAPTER 4

.

~ Flashback~

.

"aku fikir Hyung sudah lupa dengan taruhan itu" keluh Jungkook sesaat setelah mendudukkan dirinya pada salah satu kursi di Hollys café. Tempat Seokjin dan Yoongi meminta mereka untuk bertemu. Taehyung hanya terkekeh dan ikut mengambil tempat disamping kursi Jungkook.

"aku tidak akan melewatkan secuilpun hukuman untuk dongsaeng kurang ajar seperti kalian" Yoongi tersenyum penuh arti melihat raut Jungkook yang semakin kesal.

"sudahlah" Taehyung mengusap gemas rambut Jungkook yang terlihat terus merenggut. "apa hukumannya Hyung? aku yang akan melakukannya" ucapnya memandang Seokjin dan Yoongi bergantian.

Seokjin menaikkan alisnya bingung "kenapa hanya kau?"

"kami sudah melakukan perjanjian beberapa minggu lalu bahwa aku yang akan melakukannya"

"Kau yakin?" Yoongi bertanya memastikan. Taehyung mengangguk

"apapun hukumannya?" kali ini Seokjin menimpali.

"selama aku tidak membenci hal itu. Aku akan melakukannya" Taehyung berucap yakin.

"baiklah. Kami akan mengatakannya setelah kita memesan makan. Kalian ingin memesan apa?" Yoongi memanggil seorang pelayan dan memesan minuman serta pancake sebagai pendampingnya. Seokjin melakukan hal yang sama.

"aku ingin Ho-tteok, Hyung" celetuk Jungkook semangat.

"ini bukan musim dingin Kook. kenapa kau memesan itu?" Taehyung melirik Jungkook yang memandang gambar pancake dengan isi brown sugar, madu, dan kacang itu dengan mata berbinar.

"aku hanya sedang ingin memakannya"

"terserahlah" Taehyung menggelengkan kepalanya "aku ingin_"

"pesankan yang sama untuknya" Jungkook memotong perkataan Taehyung. Ujung telunjuknya menunjuk ujung hidung mancung Taehyung. Sementara matanya menatap sang pelayan penuh binar.

"apa-apaan kau Kook? kau tau aku tidak_"

"sekali-kali cobalah hyung. pancake ini sangat enak"

"tidak. Kau makanlah jika ingin, aku akan memesan yang lain" Tegas Taehyung, kembali melihat buku menu yang berada ditangannya.

"arasseo" Jungkook menurunkan tangannya dari hidung Taehyung lesu.

"arrggh baiklah" Taehyung berujar pasrah saat melihat Jungkook yang mulai memberenggut disampingnya. "Pesankan yang sama dengannya" ujarnya kemudian kepada sang pelayan Yang langsung dicatat, dan pelayan itu segera berlalu pergi. Jungkook langsung mengadahkan kepalanya dan tersenyum sumringah memamerkan deretan gigi kelincinya yang lucu. Moodnya cepat sekali berubah.

Selang beberapa menit, pesanan mereka datang. Taehyung hanya menatap nanar pancake yang dipesankan Jungkook untuknya. Demi apa, Ia benar-benar membenci makanan jenis kacang. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus memakannya demi roommatenya itu. Ia tidak ingin Jungkook memberenggut kesal. Pasti bocah itu akan mengoceh terus. Sementara Jungkook menerima pancake itu lalu memotongnya menjadi dua bagian dan memakannya penuh semangat.

Minggu sore yang cerah duduk menikmati secangkir minuman hangat didalam sebuah café klasik yang sebagian besar didindingnya hanya berupa kaca besar dengan ornament kayu mendominasi. Mereka berempat duduk disamping pintu masuk yang menghadap langsung jalanan, Membuat mereka dapat melihat daun dari beberapa pohon maple didepan kafe itu yang mulai menguning bahkan beberapa diantaranya mulai berjatuhan yang terlihat sangat indah. Musim gugur sudah memasuki sekitar minggu ketiga.

"jadi apa hukumannya, Hyung?" Jungkook menatap Yoongi sekilas, lalu mengambil piring pancake Taehyung dan memotong pancake itu menjadi dua bagian, seperti miliknya.

"apa kau yakin sanggup melakukannya Tae? Jika tidak, kami akan memberikan hukuman yang lebih berat" Taehyug mengangguk dan mengambil kembali piring pancake miliknya.

Ia kelaparan, tapi kacang merah yang menjadi isi Ho-tteok itu benar-benar mengganggunya. Ia menyodorkan piring itu kembali pada Jungkook, dan pemuda itu menyortir kacang yang ada pada pancake itu lalu memindahkan kepiringnya. Lalu mengembalikkan piring itu pada Taehyung setelah memastikan tidak ada lagi kacang disana.

"baiklah" Yoongi menggesekkan tangannya semangat "aku ingin kau memakai kostum Maid setiap akan berangkat ke kampus selama dua minggu"

"uhuk" Taehyung tersedak.

"dengan bawahan sepuluh centi diatas lutut plus ekor dan telinga kucing. Jika kau ingin menambahkan aksesoris tambahan, boleh juga" tambah Seokjin santai.

Jungkook membelalakkan mata bulatnya kaget. "kalian gila Hyung? kalian ingin mempermalukan Taehyung Hyung?"

"Tidak ada penolakan Kook. kecuali kalian ingin hukuman yang lebih berat" Yoongi melipat tangannya didepan dada. "lagipula Taehyung berkata bisa melakukannya kan?"

"tapi tetap saja ini tidak adil Hyung. kukira hukuman yang kalian inginkan adalah membersihkan toilet, berlari mengelilingi lapangan, push-up atau apapun itu hukuman normal lainnya. Tapi ini berlebihan Hyung" protes Jungkook.

"sudahlah Kook. tidak apa-apa ini sudah konsekuensinyakan?" Taehyung tersenyum

"tidak Hyung! aku tidak akan membiarkan kau mempermalukan dirimu sendiri. Kau sudah kelas tiga. kau ingin mempermalukan dirimu sendiri di akhir tahun sekolah?" Sela Jungkook cepat. "berikan aku hukuman lain Hyung. aku yang akan melakukannya" pandangannya beralih menatap Yoongi dan Seokjin penuh harap. Taehyung hendak protes namun Yoongi bersuara duluan.

"oke. aku mencabut hukuman untuk Taehyung tadi" Ucap Yoongi. jeda sesaat. Seperti sedang berpkir sesuatu mata sipitnya memperhatikan jalanan yang semakin ramai. sampai beberapa menit kemudian menoleh kearah Jungkook dan kembali bersuara.

"baiklah Kook. karena kau yang memaksa, aku ingin kau menggantikan hukuman bagi Taehyung. Dan kali ini aku tidak menerima penolakan" Yoongi berbisik sebentar kepada Seokjin seperti meminta persetujuan. Seokjin sepertinya tidak setuju tapi Yoongi memaksa membuat Seokjin akhirnya mengangguk. Sementara Taehyung dan Jungkook hanya diam memperhatika kedua Hyung mereka itu.

Seokjin berdehem. "baiklah sebagai ganti hukuman untuk Taehyung. Kami ingin kau berpacaran dengan seseorang"

"baiklah itu mudah" jawab jungkook yakin.

"tapi_" Seokjin menggantungkan kalimatnya, membuat Taehyung menaikkan alisnya curiga.

"bukan dengan seorang gadis, melainkan dengan seorang laki-laki" ucap Yoongi

"APA?" Teriakkan Taehyung menggema diseluruh penjuru café.

Pernyataan konyol dari Yoongi jelas diprotes keras oleh Taehyung. Ia tidak ingin Jungkook melakukan hukuman konyol itu. Tapi Jungkook yang keras kepala juga tidak ingin Taehyung mempermalukan dirinya bersikeras untuk mengambil hukuman itu, membuat mereka jadi sedikit berdebat. Dan pada akhirnya Taehyung mengalah lagi, melihat Jungkook yang hampir menangis berdebat dengannya.

.

.

~ Flashback of~

Seokjin dan Yoongi hanya memberikan waktu bagi Jungkook untuk mencari pacar selama dua minggu. Dan jenjang waktu yang mereka berikan akan berakhir dua hari lagi. tidak mudah untuk mencari pacar, mungkin akan mudah jika itu Jeon Jungkook. tapi, kasus kali ini berbeda, Ia harus mencari pacar yang sejenis dengannya. Sangat sulit menemukan orang yang akan mengakui dirinya menyimpang dan tiba-tiba bersedia menjadi kekasihmu.

Memikirkan hal itu membuat Taehyung gelisah. Disisi lain Ia tidak ingin Jungkook melakukan hukuman itu, tapi disisi lain, Ia tidak ingin Yoongi murka dan memberikan mereka hukuman yang lebih tidak masuk akal nantinya.

Taehyung menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, menyandarkan kepalanya pada Pohon Ginkgo yang tumbuh subur dibelakang halaman sekolah mereka, Ia memejamkan matanya dan kedua telinganya disumpal dengan lagu yang didengarkan melalui earphone.

"kau tidak usah khawatir Hyung" Taehyung merasa sebelah aerphonenya ditarik dari telinganya disusul dengan suara Jungkook memenuhi sebelah indera pendengarnya.

"Hyung. aku menemukan orang yang mau membantu kita melewati hukuman itu, dia bersedia berpura-pura jadi kekasihku. Dan tidak akan membocorkannya pada siapapun. Jadi kau tidak perlu khawatir" Taehyung membuka matanya kala mendengar penjelasan Jungkook. matanya langsung menangkap senyuman manis dari Roommate kesayangannya itu.

"berpura-pura?"

Jungkook mengangguk semangat "iya. Dan artinya aku tidak berpacaran sungguhan" tersenyum memakai sebelah earphone Taehyung ditelinga kirinya lalu menyandarkan badannya pada dada Taehyung. Kebiasaannya.

"Jinjjah? Dia mau melakukannya?" Jungkook mengangguk sambil menyamankan posisinya.

"tentu. Aku bertemu dengannya di ekskul dance yang aku ikuti beberapa minggu ini. Aku menceritakan tentang hukuman kita padanya. Dan Ia sangat baik, menawarkan diri untuk membantu kita Hyung"

"baguslah. Kau tau aku tidak suka dengan hal-hal seperti itu, aku tidak bisa membayangkan jika kau benar-benar melakukannya" Taehyung bergumam menyandarkan dagunyanya pada bahu Jungkook yang berada didepannya. Jungkook menolehkan sedikit kepalanyanya untuk mempertemukan hidungnya dengan pipi tirus Taehyung, memberikan kecupan sayang padanya -kebiasaan mereka- lalu kembali menyamankan posisinya. Tangannya meraih kedua lengan Taehyung untuk melingkar diperutnya dan kembali memejamkan mata.

"aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu Hyung" Taehyung mengeratkan rangkulannya pada pinggang Jungkook.

Kemudian Hening cukup lama, hanya ada suara dari lagu yang mereka dengarkan melalui aerphone serta menikmati angin musim gugur yang meniup halus permukaan kulit mereka.

"oh Iya. Siapa nama temanmu itu?"

"sebenarnya dia sunbaeku Hyung. Namanya-"

.

.

To Be Continued

.

.


Cahpter 4 Update.. maaf lama soalnya saya sempat UnMood buat nulis..

Sebenarnya scen pas Vkook di taman itu masih jauh banget dari alur FF ini, saya masih pengen nambah moment Vkook. Tapi karena banyak yang nanyain konfliknya, jadilah scen itu saya majukan dan sepertinya berhasil membuat reader-nim bingung dan saya makin bingung mau lanjutin cerita.

Ada banyak yang bertanya : kenapa Jungkook minta maaf?

Itu akan terjawab dicahpter-chapter selanjutnya..

Dan aku selalu berterima kasih bagi yang sudah mau membaca, mem-follow, mem-favorite, Dan terutama yang me-Review FF ini..

Choco : ini udah dilanjuuut

Nisajohan : saoloh makasih loh atas usahanya. Dan saya akan berusaha membuat konflik yang menyayat(?) hati.

Emma : iniudah dilanjut. Pertanyaannya akan terjawab seiring berjalannya cerita(?)

Vkooksss : semua pertanyaannya akan terjawab di chapter-chapter depan. Gak bisa kujawab dekarang. Ntar kalau dijawab rahasianya bakal terungkap and FFnya gak bakal seru.

Jangan bosan baca yah dan Review Juseyeo..


Errr…. Sedikit Curcol..

Tadi saya keluar buat beli paket internetan,, dan saya harus sedikit jauh berjalan buat nyari angkot... dengan segala kenekatan, saya menembus hujan (itu saya bilang nekat karena saya alergi hujan) tapi karena hujannya semakin deras, saya mampir untuk berteduh disebuah warung kecil.. ternyata eh ternyata ada perang yang terjadi di warung itu.. saya hampir celaka pemirsah dan si ahjussi yang ngamuk itu bener-bener mukulin si ahjumma *nyeremin eeuuyyy* karena panik+takut saya lari deh ninggalin tuh warung.. lalu dengan penuh perjuangan keras *lebay* saya akhirnya sampai ditempat tujuan, beli paket lalu pulang lagi. Setelah turun dari angkot, saya jalan lagi menyusuri(?) lorong.. kaki saya sampai sakit dan tumit saya lecet *lebay lagi* gak mau naik ojek, kan percuma lagi hujan.. dan saat jarak kost saya hanya tinggal beberapa meter,, hujan perlahan meredah pemirsa dan akhirnya berhenti saat saya benar-benar udah dekat dengan kost-kosan saya.. itu kampretkan?

Oke itulah curhatan gak penting saya.. terima kasih bagi yang mau baca..