Chapter 3
.
Sebelumnya, Suzy mengucapkan banyak terimakasih kepada reader yang mereviw :*
Happy reading ^_^
Author : SuzyOnix
Title : My Name Just Sasuke!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Supernatural, Hurt/Comfort
Pair : Uzumaki Naruto X Uchiha Sasuke
Rating : M
Warning : YAOI! BL! OOC! MpregFuture! Typo(s), AU! BadLanguage!
Don't like Don't read !
.
.
Chapter 3 : DESTINY
.
.
Dengan tergesa aku melangkahkan kakiku melalui trotoar jalan yang cukup ramai oleh pejalan kaki yang lain. Menyeruak lewat diantara gerombolah ibu-ibu paruh baya yang tengah mengobrol dengan santai, tak mempedulikan bahwa banyak pejalan kaki yang hendak lewat, sama halnya dengan diriku.
Kulirik sebuah jam dinding yang terpasang apik di dinding depan sebuah toko bunga. Pukul 08.45.
Kupercepat langkah dengan sebisaku. Ini gawat! Acara wisuda kelulusan dimulai tepat pukul Sembilan. Dan kini, aku bahkan baru berjalan dari pekarangan mansion sejauh satu kilometer. Masih kurang empat kilometer!
Ha-ah…
Ini semua memang bukan keinginanku untuk datang terlambat menuju sekolah. Salahkan saja ketidaksabaranku untuk melihat terbitnya mentari hingga aku tak bisa tidur semalamam. Pemikiran-pemikiran tentang dimana aku akan menetap setelah keluar dari -ah. Semoga rencanaku ini berjalan lancar. Gara-gara hal tersebut, aku baru bisa memejamkan mata ketika pukul tiga dinihari, dan pada akhirnya, aku bangun kesiangan. Pukul 07.58.
Tiiin!
Suara klakson bus yang tengah berhenti berada di halte tak jauh di depan menyita perhatianku. Orang-orang yang sedari tadi menunggu dengan dalam halte mulai saling mendahului untuk masuk. Dari pandanganku, nampak sekali bahwa mereka tengah terburu-buru –sama sepertiku. Bus dengan jalur 31, ialah bus dengan jalur menuju ke sekolahku. Bus itu sering kulihat berhenti di halte yang berada tepat di depan sekolahku.
Haruskah?
Karena tak ingin terlambat dan membuat kesan buruk disaat wisuda, dengan memantapkan diri, terlebih mentalku, aku melangkah menuju bus dan menaiki tangga untuk memasuki bus ini.
Baru satu langkah aku memijakan kaki di dalam bus, aku merasakan tremor pada kedua kakiku. Tak ingin jatuh terduduk, dengan segera aku berpegangan pada pegangan pipa besi yang berada di atas kepalaku. Tinggi badanku yang hanya seratus enam puluh dua centimeter membuat kakiku yang mengalami tremor mendadak, sedikit menjijit untuk meraih pegangan besi tersebut.
Belum sempat aku bernafas luas karena posisiku yang sedikit berjinjit dengan tubuh kaku, aku dikejutkan oleh bus yang bergerak tiba-tiba.
What a danger take a ride bus!
Inilah penyebab kenapa aku sangat ragu untuk menaiki bus. Jujur, aku memang belum pernah menaiki bus sebelumnya. Jangankan bus, naik motor ataupun mobil aku sama sekali tak pernah.
Peganganku pada pipa besi di atas sana semakin mengerat, takut jika tidak melakukannya maka aku akan terjungkal dari tempatku berdiri. Tidak hanya itu, tremor pada kakiku semakin hebat disaat aku merasakan laju bus yang semakin cepat.
Kami-sama…aku takut.
Aku memejamkan kedua kelopak mataku dengan erat, berusaha untuk menetralisir rasa takut yang semakin besar menggerogotiku.
Tubuhku menegang, tapi kedua kakiku lemas. Aku sungguh tak yakin bisa tetap berdiri tanpa terjatuh dalam waktu empat kilometer perjalanan.
Kami-sama… kuatkan diriku,
.
.
.
.
Aku bukanlah orang yang percaya dengan sebuah kebetulan.
Bullshit for that!
Aku sudah berkali-kali menghadapi yang namanya takdir. Dan_aku percaya bahwa yang kualami saat ini juga merupakan takdir.
Aku melihatnya. Seorang remaja yang telah memergokiku membunuh seorang pengganggu seminggu yang lalu.
Awalnya, setelah aku menghilang selama beberapa menit, aku berniat untuk membunuhnya supaya tidak ada saksi mata yang mungkin akan merepotkan di waktu kedepan. Maka dengan pemikiran itu aku kembali ke tempat semula, menghampiri remaja tersebut. Aku melihat tubuh ringkihnya yang tergolek lemah di atas jalan dengan pakaian yang telah basah seluruhnya.
Aku sudah mengangkatnya tinggi-tinggi pedangku di udara, bersiap menghujam jangtungnya. Namun–
"Kaa-san…"
–gumamannya di waktu itu menghentikan gerakanku. Aku terdiam, tak memperdulikan pakaianku yang telah basah seluruhnya. Suaranya begitu lirih dan…memilukan. Secara tak sadar aku menjatuhkan pedang panjangku di atas jalan. Aku menunduk, memperhatikan wajahnya yang terlihat ketakutan. Dahinya mengerut, dengan bibir pucatnya yang tetap mengeluarkan gumaman, memanggil-manggil kaa-sannya. Tanganku bergerak dengan sendirinya mengelus wajahnya, mengusap titik-titik air hujan yang menggenang di wajahnya. Sungguh, saat itu aku bersumpah merasakan air hangat saat aku mengusap wajahnya.
'Kau menangis, bahkan disaat tak sadarkan diri?' batinku waktu itu. 'Sebenarnya, apa yang terjadi padamu?'
Niat awalku untuk membunuhnya lenyap begitu saja. Akupun lekas membawanya menuju tempatku menginap beberapa hari ini dalam sekejab, tentu saja tak lupa membawa serta pedangku.
Sepanjang malam itu, kugunakan untuk merawatnya. Ia demam. Bibir mungilnya tak berhenti meracau. Tentang tou-san, kaa-san, dan aniki. Raut wajahnya kesakitan, namun selanjutnya digantikan dengan ketakutan. Aku sangat panik ketika tiba-tiba dia tidak bernafas, tepat ketika di waktu pagi_matahari terbit.
Aku masih ingat betapa pendiamnya ia waktu itu ketika sadar. Menolak memakan ramen instan, dan wajah malunya ketika aku menyerahkan pakaian disaat ia akan mandi. Ia sangat –manis.
Entahlah. Aku tak terlalu yakin dengan persaanku. Dia sangat –berbeda. Bukan berbeda dalam artian buruk. Namun, perbedaannya dari orang yang pernah kutemui terletak pada aura tubuhnya. Aku merasa sangat nyaman ketika aku berada dekat dengannya. Hal yang tak pernah kurasakan semenjak aku menjalani kehidupanku saat ini. Dan lagi, sikap manisnya membuatku tak henti mengulum senyum.
Ia hanya mengatakan pamit undur diri setelah mandi selesai. Ia bahkan menolak kuantar pulang dan pemberianku berupa sepasang sandal –menggantikan sepatu basahnya. Ia tak ingin merepotkanku lebih jauh.
'Tak mengucapkan terimakasih, eh?' aku mendengus geli. 'Menarik, dear~' batinku sambil menatap kepergiannya yang menghilang dari balik pintu.
Setelah kepergiannya waktu itu, aku langsung menyambar ponselku yang berada di meja nakas. Aku mengetikkan sebuah pesan lalu mengirinkannya kepada seseorang. Senyumku pun mengembang.
Saat ini, ia berada di depanku, membelakangiku.
Seperti perkataanku, ini memang takdir.
Ia berdiri setengah menjinjit, dengan kedua tangannya yang berpegangan pada pipa besi di atas kepala. Tubuhnya menengang, namun aku memperhatikan jika kedua kakinya seperti bergetar_lemas. Bangku penumpang keseluruhan telah penuh. Itulah penyebab dirinya tak duduk.
Dengan telinga tajamku, bisa kudengar tawa cekikikan dari beberapa penumpang yang melihatnya. Kuyakin mereka mengaggap dia –Sasuke– remaja autis. Tanpa kata aku mengeluarkan aura hitam milikku. Membuat bus yang kutumpangi sunyi seketika. Ketakutan_mungkin.
Hal yang tak berlaku baginya. Ia terlalu sibuk dengan dunia dan pikirannya sendiri.
Aku masih duduk disini, melihat dirinya. Mata biruku memancarkan kekhawatiran. Kedua kakinya seperti bergetar. Aku takut ia akan terjungkal apabila bus ini berhenti secara mendadak. Oke- aku tahu aku terlalu paranoid terhadap hal yang mengenai dirinya. Akan tetapi menaiki bus dengan berdiri menjinjit terlebih dengan tubuh kaku bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Ini buruk.
Dari jendela depan bus yang terbuat dari kaca bening, bisa kulihat ada traffic light yang menunjukkan lampu merah. Jepang adalan negara taat hukum. Aku berani bertaruh jika bus ini pasti berhenti.
Grekk!
Sesuai dugaanku, bus ini memang berhenti. Dan tubuhnya limbung kedepan. Pegangannya pada pipa besi terlepas begitu saja –terkejut.
Tepat sebelum ia terjatuh, secepat laju cahaya aku menghampirinya. Meraih pinggangnya –yang ternyata sangat ramping– dengan sebelah tangan dan mendekapnya dalam sebuah pelukan. Sebelah tanganku meraih pipa besi sebagai pegangan, menjaga agar tubuhku tetap seimbang.
Aku sungguh berharap penumpang lain tak menyadari hal ini. Hey –ini darurat. Aku tak akan membiarkannya terluka sedikitpun.
Bisa kurasakan tubuhnya menegang dalam dekapanku, mungkin terlalu terkejut dengan hal yang ia alami. Semua terlalu cepat.
Beberapa detik kami terdiam, tubuh tegangnya mulai memberontak dalam pelukanku –tepat disaat bus kembali melaju.
"Le-lepas!" suaranya bergetar.
"Sssttt, tenanglah." Aku mendesis dengan suara lirih. Bisa kupastikan hanya dia yang bisa mendengar ucapanku.
"Naru-" Ia mengenaliku, walaupun hanya dengan mendengar suaraku. Senyumku mengembang. "Eh! U-uzumaki-san?" ia mengoreksi ucapannya. Aku yakin ingatannya sangat tajam. Bukti bahwa ia mengenaliku hanya dengan suara, yang didengarnya seminggu lalu. Kepalanya mendongak, menatapku lurus dengan bola mata bulatnya yang nampak berkaca-kaca.
Aku tak berkata, namun perkataannya kutanggapi dengan sebuah senyum. Dan –senyumku makin lebar ketika dia menunduk dengan semburat merah yang menjalari wajahnya. Tubuh tegangnya rilex secara perlahan.
Sungguh –manis.
.
.
.
.
Gedung itu telah penuh dan ramai ketika Sasuke datang. Ia merasa beruntung karena acara wisuda masih pada tahap pembukaan. Tanpa mempedulikan tatapan entah-apa-itu dari teman sekolah beserta walinya, Sasuke segera mengambil tempat duduk yang kosong –bangku paling belakang.
" –mari kita sambut, siswa dengan nilai tertinggi pada ujian tahap akhir. Sasuke!" seorang wanita muda yang menjabat sebagai kepala sekolah Shibuya High School, memberika sambutan penuh rasa suka cita.
Sasuke beranjak dari duduknya dan melangkah perlahan menuju panggung, dimana sang kepala sekolah yang terkenal akan kecantikan dan keramah-tamahannya tengah menunggunya dengan senyum bangga di belakang podium.
Sasuke memang jenius. Maka ia sendiri tak akan heran jika dirinya meraih posisi sebagai juara umum. Namun ia sama sekali tak merasa senang. Alasannya? Ia tidak tahu harus mempersembahkan kejeniusannya kepada siapa.
"Ia pandai dan sangat berbakat," suara bisikan dari seorang gadis terdengar oleh indreranya.
"Benar, dia hebat." Sebuah suara lain milik remaja laki-laki menyahuti. "Tapi –" belum sempat suara bisikan itu selesai diucap, sebuah suara lain menimpali.
"Sayangnya, asal-usulnya tidak jelas! Bahkan ia tak punya nama keluarga!" itu bukan suara bisikan, melainkan sengaja dilakukan dengan suara yang cukup keras. Kekehan kecil didengar olehnya, namun ia tak ambil pusing. Ia masih bersyukur karena mereka hanya menghinanya dibelakang, tidak secara terang-terangan. Atau yang lebih parah lagi dirinya dibully secara fisik, sama seperti apa yang ia lihat di sebuah film dorama beberapa hari yang lalu di tv mansion.
Hal inilah yang membuat Sasuke menyukai sekolah ini. Walaupun ia tidak memiliki teman, hanya dengan ketenangan ia cukup merasa nyaman. Sekolah ini memang berisi pelajar dari kalangan menengah kebawah. Jadi tak akan ada pelajar yang berani berbuat onar. Tak ada yang dibanggakan disini. Kecuali jika kau jenius, maka seburuk apapun dirimu, pasti akan disegani oleh yang lain. Tapi tetap saja, hal tersebut tidak menjamin jika kamu akan dibicarakan dibalik batu.
Ia tak berharap lebih dengan juara umum yang ia dapatkan. Sekolah pasti tidak akan mampu memberikan beasiswa ke jenjang pendidikan selanjutnya. Hanya beberapa dollar-lah yang mungkin akan diberikan kepadanya –sebagai rasa bangga.
.
.
.
.
Sasuke menyernyit heran ketika ia pulang dari acara wisuda kelulusan-pukul 3 siang, ia mendapati nyonya Uchiha tengah menatapnya dengan senyum manis. Senyum yang setia mengembang di bibir bergincu merah miliknya.
"Hay Sasu-sayang, kaa-san rindu padamu…" itulah perkataan yang diucapkan nyonya Uchiha beberapa menit lalu, tepat ketika dirinya melewati ruang tamu mansion.
Sasuke bergeming ditempatnya, tak percaya. Di ruang tamu ini, bola matanya menangkap seorang pria dewasa dengan wajah yang ditumbuhi jenggot lebat.
"Nyonya, ada apa?" ia mengendalikan rasa terkejutnya. Dengan tubuh yang sedikit membungkuk, ia tetap bertanya dengan nada sopan.
"Ara~ kau itu putraku. Jadi jangan memanggil aku nyonya, ne? Panggil saja 'kaa-san'." Ujarnya. Senyumnya makin mengembang. Tanpa izin, ia mengamit lengan Sasuke dan menyeretnya menuju sofa ruang tamu. Nyonya itu mendudukkan Sasuke tepat disebelah pria berjenggot tadi. Setelahnya, Mikoto mengambil tempat tepat disamping suaminya.
"Ini dia, Asuma-san. Namanya Sasuke." Suara tegas Fugaku seakan menggema ditelinga Sasuke.
Sasuke melirik pria berjenggot yang bernama Asuma. Ia bisa melihat tatapan menilai, dan sedetik kemudian berganti dengan tatapan buas dari mata pria itu, membuatnya merinding ngeri.
Ia menggeser duduknya pada sofa panjang yang ia duduki untuk menjauh dari pria tersebut.
"Hmmm," pria itu berguman kecil. "Baik, saya setuju, Fugaku-san dan Mikoto-san." Pandangan mata buasnya tak lepas dari Sasuke.
Sasuke hanya diam. Ia sungguh tak tahu maksut dari pembicaraan ini. Ia lebih memilih untuk mencari-cari alasan mengapa sikap nyonya satu ini begitu jauh berbeda dari terakhir kali bertemu, tepat seminggu yang lalu.
Ia bahkan masih mengingat dengan jelas hinaan yang ia terima dari para Uchiha seminggu yang lalu. Semua itu berputar-putar di memory otaknya bagaikan kaset rusak. Jadi, ada apa sebenarnya? Terlebih kehadiran pria disebelahnya ini terlihat sangat mencurigakan. Sasuke yakin, pasti ada yang tidak beres. Tipu muslihat sedang berjalan. Maka, dengan senang hati Sasuke akan mengikuti alurnya.
Hal yang ia pelajari berkat menonton dorama.
"Kaa-san, ada apa?" Sasuke berkata dengan pandangan lurus menatap Mikoto.
Ditatap sedemikian lurus membuat Mikoto sedikit gugup. Sungguh, sebelumnya Mikoto tak pernah mengalaminya. Tatapan itu begitu tajam dan menusuk. Mikoto tertawa canggung untuk menutupi kegugupannya. 'Jika bukan demi uang, aku bersumpah akan mencongkel matamu saat ini juga, Sasgay!' Mikoto mengumpat dalam hati.
"A-ah, tidak. Kembalilah kekamar, Sasu-chan. Berdandanlah yang rapi. Pukul tujuh malam nanti, kami akan mengajakmu berlibur atas hadiah kelulusanmu. Jangan lupa membawa beberapa baju ganti sekalian. Kita akan menginap." Ujarnya Mikoto.
Sasuke memilih bungkam. Ia tak ingin repot hanya untuk menanggapi suara Mikoto. Kentara sekali jika suara itu dibuat semanis mungkin. Ia beranjak dan pergi meninggalkan ruang tamu tanpa mengucapkan satu patah katapun menuju kamarnya.
.
.
.
.
Sasuke berjalan modar-mandir dikamarnya dengan gusar. Ia berkali-kali melirik jam mungil yang berada di meja kecil disamping ranjang kayunya. Pukul 05.00 pm.
'Bagaimana ini? Aku yakin mereka –Uchiha– pasti punya rencana buruk padaku!' fikirnya. Mengingat tatapan buas dari pria berjenggot lebat bernama Asuma siang tadi membuatnya merinding takut.
Ini buruk, sangat buruk!
Tak ada penundaan lagi. Aku harus pergi dari sini secepatnya, saat ini juga! Putusnya final.
.
.
.
.
Dengan tas ransel hitam berisi uang dan surat berharga yang melekat dipunggungnya, Sasuke mengendap keluar mansion melalui celah samping untuk sampai di pintu depan. Tak ada pintu keluar dari celah belakang. Mansion ini tertutup, jadi jangan heran jika hanya ada pintu depan sebagai jalan keluar-masuk ke mansion ini. Sebuah tas berukuran sedang, yang berisi pakaian miliknya ia jinjing dengan sebelah tangan.
Ia akan keluar dari balik tembok samping dan segera berlari menuju pintu utama, ketika tiga orang bodyguard berbadan kekar hendak lewat, tepat tak jauh darinya. Ia mengelus dadanya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat.
Entah perasaannya saja atau tidak, jika jumlah bodyguard yang telah siaga disegala tempat bertambah banyak. Yang pasti, bodyguard dengan badan kekar berpencar di titik-titik tertentu. Hal tersebut membuat Sasuke lebih berhati-hati dalam mengambil langkah. Satu kali kesalahan fatal, maka rencana yang telah ia buat matang-matang semenjak bertahun-tahun lalu harus gagal total. Ia tak mau itu. Ia ingin sukses dengan misinya, yaitu: keluar dari mansion Uchiha.
Catch!
Seseorang secara tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang, membuatnya panik.
"Tuan, ini saya." Suara itu…
Sasuke mendelik kepada sang pelaku. Ia menyingkirkan tangan putih yang masih mendekap mulutnya. "Jangan berani bilang pada mereka, Kakashi." Peringat Sasuke.
Kakashi tersenyum dibalik maskernya, lalu mengangguk. "Saya dipihak anda, tuan Sasuke. Sudah menjadi tugas saya untuk membantu tuan Sasuke keluar dari mansion ini dengan selamat." Ujarnya.
"Kau –apa?" ingatkan Sasuke jika indera pendengarannya sendiri sangat bagus. Perkataan Kakashi terlalu membuat dirinya terkejut.
Kakashi berada di pihak Sasuke?
Tu –tugas?! Tugas apa? Dari siapa?
"Saya yakin tuan Sasuke mendengarnya," Kakashi memutar bola matanya.
Sasuke membuang muka. Ia berbalik dengan gerakan keras, tak ingin memikirkannya. Ia ingin segera melihat keadaan apakah aman atau tidak. Ia tak sadar jika gerakannya membuat sebuah pot yang berada sejajar dengan siku tangannya tersenggol hingga jatuh kelantai marmer.
PRANKKKK!
"Siapa disana?!" teriak salah satu bodyguard.
Bola mata Sasuke terbelalak kaget. Jangtungnya berpacu jauh lebih cepat.
"Target ingin kabur!" sebuah suara yang berasal dari balik punggung Sasuke dan Kakashi membuat mereka berdua sontak membalikkan badan. Disana, terdapat dua bodyguard yang memasang wajah bengis.
Para bodyguard itu semakin mendekat maju, membuat tubuh keduanya mundur perlahan. Secara otomatis, keduanya kini telah diketahui bodyguard lain yang sedang mengawasi daerah halaman depan.
Dua, tiga, enam, sepuluh, tiga belas –tujuh belas. Eh? Tujuh belas?!
Sasuke nol besar dalam hal bela diri. Ia melihat wajah-wajah bengis yang semakin mendekat padanya. Tubuh kecilnya bergetar karena takut.
Sasuke merasakan pergelangan tangannya yang bebas ditarik kuat dan erat. Ia memandang Kakshi yang berwajah serius. "Kita harus segera pergi, tuan." Ujarnya. Ia menarik tangan Sasuke dan berlari cepat melewati celah yang luput dari para bodyguard.
Bodyguard yang melihat hal tersebut tak tinggal diam. Mereka dengan sigap mengikuti sang target yang tengah berusaha kabur dengan umpatan.
"Jangan kabur, sialan! What the heck! Kalian, jangan biarkan dia kabur." Teriakan seorang bodyguard menggema di halaman depan mansion.
Sasuke berusaha menyamakan langkah kaki jenjangnya mengikuti langkah lebar milik Kakashi. Ia sudah terengah, namun tak membuat lari kakinya semakin pelan. Beberapa langkah lagi maka mereka telah mencapai pintu utama, yang pada saat itu terbuka lebar.
Greb!
"Kena kau, bocah nakal!"
Sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangan Sasuke –yang sedang menjinjing sebuah tas. Orang itu menarik kuat tangan Sasuke, membuat tubuh Sasuke menjadi limbung kebelakang.
Kakashi yang menyadari hal tersebut, tak akan pernah mebiarkan tuannya ditangkap bodyguard sialan itu. Dengan kuat ia kembali menarik tangan Sasuke ke arah depan, kearahnya. Kelengahan pada bodyguard ketika tubuh Sasuke limbung kebelakang, membuat cengkeraman Sasuke terlepas. Tubuh Sasuke sukses menubruk dada bidang Kakashi.
"Cih!" Bodyguard itu mendecih murka. Wajah garangnya menatap Kakashi murka. "Kembalikan bocah itu, pelayan sialan!"
"Tak semudah itu. Langkahi dulu mayatku!" Suara penuh keyakinan milik Kakashi terdengar jelas oleh seluruh bodyguard di mansion.
"Tuan Sasuke, sebaiknya anda pergi dari sini. Biarkan aku yang menghadapi mereka." Kakashi berbisik tak sabaran di telinga Sasuke. Ia melirik para bodyguard yang sudah melangkah maju.
"Ta-tapi –"
"Cepatlah pergi, biarkan aku yang menghadapi mereka!" Tak sabar lagi, suara bisikan Kakashi tergantikan dengan teriakan nyaring. Ia bergerak maju menghadang para bodyguard yang berusaha menggapai tubuh Sasuke.
Tubuh Sasuke mematung ditempat. Ia melihat tubuh Kakashi yang bergerak lincah menghindari pukulan-pukulan ganas.
"Cepat pergi! Jika tuan tertangkap, aku pasti mati!" teriakan Kakashi menyadarkan Sasuke.
Sasuke terkesiap mendengar perkataan Kakashi. Ia menghapus setitik air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Berjanjilah kau akan selamat untukku, Kakashi!" Sasuke balas berteriak. Ia segera membalikan badannya menjauhi mansion dengan berlari cepat, tak lagi menoleh pada Kakashi.
Tepat disaat Sasuke berlari menjauh, sebuah mobil hitam yang berada tak jauh dari mansion mengikutinya dari belakang.
Jalanan besar yang dilalui Sasuke begitu sepi pengendara. Tapi walaupun begitu, Sasuke tetap memilih aman dengan melalui trotoar jalan. Sasuke terengah, dan ia lelah. Ia melirik ke belakang, dimana sebuah mobil hitam mengikutinya di jalan besar. Sasuke sangat kenal mobil hitam tersebut.
Itachi.
Ya, mobil itu mobil pribadi milik Itachi. Sebelumnya, dirinyalah yang selalu mencuci mobil tersebut hingga mengkilap.
Rasa takut menyergapnya. Ia memacu langkahnya semakin cepat, tidak akan pernah mau berhadapan dengan pangeran Uchiha itu. Percayalah, Uchiha Itachi yang bermuka dua itu sangat licik dan kejam!
Mobil hitam tersebut sudah semakin mendekat. Membuatnya harus berfikir agar bisa terlepas dan bebas.
Sebuah gang yang cukup gelap karena hari sudah semakin petang menyita perhatiannya. Sebenarnya ia masih trauma dengan yang namanya gang, apalagi dengan pencahayaan minim. Tapi mengingat jika gang itu terlalu sempit untuk dilalui mobil membuatnya mau tak mau membelokkan larinya.
Didalam mobil hitam itu Itachi berdecak kesal saat melihat Sasuke memasuki gang sempit yang tidak memungkinkan ia menaiki mobilnya. Itachi menghentikan mobilnya dimana Sasuke memasuki gang sempit.
Bibirnya mengumpat. Namun ia tak terburu. Ia masih diam melihat sosok Sasuke yang tengah berlari di gang sempit dengan pencahayaan minim dari jendela mobil. Sedetik kemudian, ia menyunggingkan serigaiannya.
"Ini pasti menarik," ujarnya pada diri sendiri. Ia keluar dari mobilnya dan berlari mengejar Sasuke. Serigaian tak lepas dari bibirnya.
"Haah…haah…haah," nafas Sasuke putus-putus. Ia melirik kebelakang. Kosong. Ia cukup lega karena tak mendapati Itachi dimanapun. Ia kembali menghadap lurus kedepan dengan mengatur pernafasannya.
Tap! Tap! Tap!
Greb!
"Mau kemana, tou-tou-chan~ "
Tubuh Sasuke menegang kala sebuah pelukan erat dan bisikan suara berat meniup inderanya. Tas berukuran sedang yang sedari tadi ia jinjing terlepas dari tangannya.
Sebuah terpaan nafas hangat mampir di ceruk lehernya, membuatnya merinding takut. Sebuah tangan besar mengelus perutnya dari luar kaos denim berwarna hijau yang ia kenakan.
"Ah, aku baru tahu jika kau sangat wangi, Sasu-chan~ " suara itu mengalun ngeri di telinga Sasuke. Ia berontak dari pelukan si pemilik suara –Itachi.
"Lepas, Itachi!" cukup. Sasuke sudah sangat jengah memanggil Uchiha Itachi dengan panggilan 'pangeran' selama ini. Terdengar konyol memang, tapi itu adalah perintah langsung dari Itachi sendiri. Sekarang dirinya tak akan menginjakkan kakinya di mansion Uchiha. Dan ia sudah bebas memanggil Uchiha Itachi dengan panggilan Itachi.
"Oh Sasu-chan. Bahkan kau tak memanggilku seperti biasanya. Kau nakal!" Itachi berkata seraya mencengkeram kuat rahang Sasuke. Posisinya masih berada di belakang Sasuke, dengan tangan sebelahnya yang melingkar erat di pinggang Sasuke. "Kau pantas mendapat hukuman!"
Sasuke tak tinggal diam. Ia menginjak kaki Itachi dengan sepenuh hati, membuat Itachi mengaduh kesakitan dan melepaskan kedua tangannya dari tubuh Sasuke. Itachi mundur selangkah dan mengibas-ngibaskan kakinya, agar rasa sakit di kakinya sedikit mereka.
Tak memperdulikan ringisan sakit Itachi dibelakang, Sasuke kembali melangkahkan kakinya. Bergerak menjauh dan kabur dari Itachi. Ia bahkan tak memperdulikan tas jinjingnya yang tertinggal dibelakang.
Itachi yang menyadari Sasuke berniat kabur, segera mengejarnya –melupakan rasa sakit di kakinya. Langkah lebarnya membuat ia bisa dengan mudah mengejar Sasuke yang notabene memiliki langkah kaki yang pendek-pendek.
Itachi mendorong Sasuke ke dinding dan mengunci tubuh Sasuke diantara tubuhnya dan tembok. "Kau tak akan bisa lari, Sasu-chan~ " suara menjijikan –bagi Sasuke– kembali terdengar di gang sempit itu.
"Kau memang brengsek, Itachi!" teriak Sasuke.
"Heh! Kau baru tahu rupanya. Brengsek adalah nama tengahku." Itachi mencengkeram kedua pergelangan tangan Sasuke di masing-masing sisi kepala Sasuke karena, menahannya agar tidak berontak. "Dan –aku akan dengan senang hati melakukan kebrengsekanku padamu, Sasu-chan." Lanjutnya. Kedua mata Itachi berkilat penuh nafsu.
"Ah` kurasa tubuhmu ini jauh lebih nikmat dari para jalang yang pernah aku coba diluar sana," ia berkata seraya mengendus aroma tubuh Sasuke. "Kau sangat menggairahkan, Sasuke."
"Ti-tidak! Jangan sentuh a-aku! Pergi kau!" teriak Sasuke takut. "Lepaskan aku!" tubuhnya gemetar ketakutan. Sosok Itachi kini telah berubah menjadi iblis sepenuhnya di mata Sasuke.
"Jangan mimpi, jika aku akan melepaskanmu dengan mudah." Ia menatap Sasuke dengan nafsu yang semakin membuncak. Tapi Itachi menahan diri. Ia ingin berbicara terlebih dahulu dengan adik kecilnya sebelum memperkosanya habis-habisan sepanjang malam nanti. "Aku tak rela jika keperaw-keperjakaanmu nanti diambil oleh Asuma sialan itu! Aku akan mendahuluinya, baru setelah itu dia bisa menggagahimu sepuasnya. Menjadikanmu boneka seks miliknya."
"A-asuma?" Sasuke bertanya dengan suara mencicit. Asuma. Ia mengingatnya. Pria dengan jenggot lebat yang ia lihat siang tadi.
"Ya, Sasu-sayang~ Kami menjualmu padanya." Serigaian Itachi bertambah lebar kala ia melihat wajah Sasuke memucat. "Kau kira kami membiarkanmu tinggal di mansion selama ini untuk apa? Ingatlah, kau itu hanya sampah!"
"Inilah alasannya, Sasu-chan. Kau itu begitu mahal jika dijual. Sayang'kan jika dibuang begitu saja?" Itachi tersenyum miring.
"Dan –kau akan dijadikan salah satu mainan seks olehnya, Sasu-sayang. Kau akan digagahi dan disodomi setiap hari oleh pria brengsek macam Asuma sialan itu." Tambah Itachi memprovokasi. "Tapi ssebelum itu, akulah yang akan menggagahimu pertama kali. Menyodomimu hingga kau berdarah dan pingsan!" Itachi tertawa iblis. Tawa yang menggema akibat memantul di dinding-dinding gang.
Sasuke makin pucat. "Tidaaak!" jeritnya histeris.
Dengan hasrat nafsu yang sudah mencapai ubun-ubun, Itachi hendak menunduk untuk meraup bibir mungil Sasuke. Namun, sebelum itu terjadi sebuah pukulan telak mengenai samping kepalanya. Itachi terhuyung ke samping, mebuat kukungannya pada tubuh Sasuke terlepas. Sasuke jatuh terduduk dengan pandangan kosong.
"Cih, brengsek!" Itachi meludah saat dirasa ada darah dimulutnya, akibat pukulan telak seseorang. Itachi memutar tubuhnya, melihat siapa gerangan yang telah berani merusak kegiatannya.
Beberapa langkah didepan Itachi, seorang pemuda berambut pirang menatapnya nyalang. Kedua tangannya terkepal erat, kentara sekali jika pemuda pirang itu sangat marah.
"Apa yang kau lakukan padanya, brengsek!" teriak pemuda pirang tersebut.
Teriakan pemuda tersebut menyadarkan Sasuke akan pikiran kosongnya. Ia memandang kearah seseorang yang berteriak tadi.
Deg!
"Na-naruto?" Sasuke berkata tak percaya. Untuk yang kesekian kalinya, Naruto menyelamatkannya. Dimata Sasuke, Uzumaki Naruto adalah sesosok malaikat putih dengan cahaya yang bersinar.
Naruto menoleh ke arah Sasuke. Hanya sejenak untuk memberikannya senyuman. Tapi sangat cukup bagi Sasuke, karena Sasuke merasa tenang.
"Siapa kau! Ada hubungan apa kau dengan Sasuke?!" Itachi berteriak kalap. Ia memegangi rahangnya yang tersas sakit.
Naruto tersenyum miring, tak menjawab. Dengan cepat ia bergerak maju, lalu meninju ulu hati Itachi.
Gerakan tiba-tiba dari Naruto membuat Itachi tak menyadarinya. Semua terlalu cepat. Yang dirasakannya adalah rasa teramat sakit yang menyerang ulu hatinya, tubuhnya ambruk.
"Gah-ohok!" Itachi terbatuk. Darah segar keluar dari celah bibirnya. "Kau!" seru Itachi dengan tangan menunjuk wajah Naruto.
"Kau membuat Sasuke takut, pria brengsek! Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya seujung kukupu, termasuk dirimu!" Naruto mendesis penuh benci. Ia menginjak tangan Itachi yang teracung ke arahnya dengan kuat.
"GWAAARHHHH-!" Itachi berteriak pilu hingga tak sadarkan diri.
Sasuke melihatnya tanpa berkedip. Ia kemudian memandang Naruto yang menuju kearahnya dengan rasa takjub. Tapi itu tak bertahan lama. Ketika ia mengingat kejadian buruk yang hampir menimpanya beberapa menit yang lalu, kepalanya tertunduk sedih. Ia memeluk dirinya sendiri dengan pandangan nanar kearah kakinya.
"Sasuke," Naruto memanggil lirih. Ia melepas jaket merah yang ia kenakan, dan memakaikannya pada Sasuke. Sosoknya sangat rapuh saat ini.
Sasuke tak menolak, walaupun warna merah pada jaket itu sangat dibencinya. Ingat, Sasuke benci warna merah. "Naruto," lirih Sasuke. Kepalanya mendongak, menatap mata biru Naruto nanar. "Jangan tinggalkan aku. Hiks…hiks-" Lanjut Sasuke. Ia terisak pelan. Entah apa yang ada dipikirannya, Sasuke sendiri tak tahu. Yang ia inginkan hanyalah keberadaan Naruto disisinya. Ia merasa aman jika berada didekat Naruto. Ia kembali menunduk menatap bawah dengan tangis yang semakin keras dan semakin erat memeluk tubuhnya sendiri.
Naruto tersenyum, sebuah senyuman pahit. Sangat miris melihat keadaan Sasuke saat ini. "Ya, Sasuke. Aku ada disini." Naruto memeluk tubuh ringkih Sasuke.
Aroma harum citrus yang menyeruak memenuhi indera Sasuke, membuatnya tenang dari isakannya. Kelopak matanya memberat, dan isakan tangisnya mereda. Ia sungguh lelah dengan kejadian hari ini. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Naruto. Menikmati pelukan hangat Naruto.
Tak lama sebuah nafas teratur didengar oleh indera tajam Naruto.
Ia mengangkat tubuh Sasuke dengan bridal style, lalu berdiri tegak. Ia mengedarkan pandangan, dan netra birunya melihat sebuah tas jinjing yang tergeletak tak jauh darinya, dan ia meyakini bahwa itu milik Sasuke.
Secepat cahaya, Naruto menghampiri tas tersebut. Ia menunduk untuk meraihnya. Tak mengalami kesulitan sedikitpun, walau ada Sasuke di kedua tangannya.
Setelah tas itu berhasil digenggamnya, sosoknya menghilang di kegelapan. Meninggalkan Itachi yang tak sadarkan diri dengan keadaan yang mengerikan.
.
.
TBC!
.
.
Hai minna~
Suzy dah update chapter 3. Maaf Suzy updatenya lama … T_T
.
Untuk curhatan Suzy kemarin, Suzy bener-bener Terimakasih kepada para reviewer yang sudah merespon dengan mensupport Suzy. Suzy terharu banget waktu *Hiks-hiks #ngelap ingus.
Teman yang Suzy maksut itu bukan teman dunia maya(fic) lhoh, melainkan teman di Real world. Teman sekolah aku, SEKELAS pula!
.
Huft-…. teman2 aku di dunia fic semua baik kok, terutama bagi reader mau mereview, mem-foll n mem-fav. Sejauh ini respon dari dunia fic adalah positif. Terlalu baik hingga bikin Suzy trenyuh… Dan aku berharap jika kedepan dan seterusnya tanggapan kalian mengenai FanFic yang aku buat adalah positif :-) :-) :-)
.
Ehm- Arigatou minna~
Kalian benar-benar hebat dalam membaca. Sungguh. Bagi yang menulis hipoteses ttg 'mereka' dan 'nya' itu memang benar kok #Beri hug satu-persatu. Itu emang aja yang masih polos, jadi ngak tahu maksut dari perkataan Kakashi. Etto-saya memang ngak bisa menulis kata-kata yang misterius, jadi Suzy tulis apa adanya. Ngak apa-apa'kan?
.
Soal yang ganjil itu, tebakan reviewer yang menjawab ttg perginya Uchiha memang benar. Mereka emang pergi buat 'Mencari pembeli kaya yang kiranya berminat pada Sasuke dan berani bayar mahal'. Tapi maaf, Suzy ngak menjelaskannya secara detail. Nanti kalau Suzy jabarin, ini chapter bakalan panjang. #nyengir
.
Banyak yang mengira Sasuke akan diperkosa. Well- udah kejawab'kan?
.
Kakashi memanggil Sasuke tuan muda? Mungkin akan terjawab seiring dengan berjalannya alur cerita.
.
Maaf kalo belum ada lemon NaruSasu untuk saat ini. Saya ngak mau membuat lemon yang buru-buru. Jadi saya membuatnya menyesuaikan plot dan alur cerita. Kan ngak asik kalau di awal perjalanan mereka(NaruSasu), Sasu-chan udah berbadan dua. Kasihan Sasu-chan donk. ^_^
Saya harap kalian ngak kecewa dengan plot dan alur yang telah saya buat.
.
Chap depan akan menceritakan kelanjutan dari rencana yang Sasuke buat.
.
Etto –soal pergantian sudut pandang yang gak bilang-bilang, menurut kalian gimana?
Saya bingung. Kalo' saya mencantumkannya, seumpama:(Naruto POV)(Sasuke POV)(Normal POV). Suzy pribadi merasa kurang nyaman.
Maka dari itu, saya meminta pendapat dari para reader. Menurut kalian enaknya gimana?
.
.
Mau dilanjut?
Review pleaseeee …
.
.
.
:SuzyOnix
Rabu, 01 April 2015
