Bitter Winter

Pair :: Han Chul

Rate :: T

Warning :: Genderswitch!


"Hannie… Hannie.." Mata Hankyung perlahan terbuka memandang yeoja setengah baya dihadapannya. Kepalanya pening. Aroma khas menusuk hidungnya

"Umma…" Gumamnya lemah dan pelan.

"Syukurlah kau sadar.." Ujar yeoja itu tersenyum sambil mengelus kepala Hankyung perlahan

"Operasi cangkok ginjal anda sudah berhasil dilakukan. Selamat" Hankyung memutar bola matanya menatap namja berpakaian putih dan sedang tersenyum juga.

"Aku… disini.. berapa lama?" Ujar Hankyung berusaha mengangkat tubuhnya namun terasa lemah.

"Kau jangan banyak bergerak dulu, chagy. Biarkan tubuhmu pulih. Kau tidak sadar 2 hari setelah operasi." Ujar Ummanya sambil menahan Hankyung yang berusaha mendudukkan diri

"Anda harus menjalani perawatan intensif selama 7 hari disini dan anda belum boleh banyak bergerak." Ujar dokter di sebelahnya mengarahkan.

"Ponselku..." Hankyung memutar bola matanya lagi mencari ponselnya.

"Kau ini sakit sakit masih mencari ponsel. Kurasa ponselmu tertinggal di seoul." Ujar Umma Hankyung

"Yak! Aku… Harus menghubungi seseorang." Pikiran Hankyung melayang pada Heechul. Kenapa dia begitu pelupa hingga tak membawa ponsel. Dan apakah yeoja itu akan mencarinya?

"Siapa? " yeoja di sebelahnya itu mengerutkan kening.

"Umma sudah mengenalnya, namanya Heechul." Ujar Hankyung.

"Putri sulung keluarga Kim itu?" Umma Hankyung mendekatkan diri.

"Ne." Jawab Hankyung singkat

"Apa kau punya hubungan khusus dengannya?"

"Ne" Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Hankyung. Dia tak pernah berbohong pada Ummanya

"Umma.." Panggil Hankyung.

"Ne?" Mrs. Tan berjalan mengambilkan segelas air untuk Hankyung

"Tolong.. jangan bilang apapun tentang sakitku pada Heechul." Ujar Hankyung lemah dan mendengus kecil

"Tapi.. Jika dia tidak mengetahuinya, apakah dia tak akan sakit hati?" Yeoja itu menyodorkan segelas air pada Hankyung

"Ne.. aku akan memkirkannya.." Hankyung menerima gelas itu

"Jika dia mengetahui ini di akhir…" Belum sempat Mrs. Tan menyelesaikan omongannya Hankyung telah menyela

"Aku tak mau kehilangan senyumnya." Ujarnya cepat.

0o0o0o0o0o0

7 hari! Ini memasuki hari ke 7 Heechul tak mendapat kabar dari Hankyung. Hatinya gelisah terus menerus. Kenapa namja ini menghilang tanpa kabar. Ada apa dengannya?

Hari ini salju turun tak begitu lebat sehingga langit terlihat indah ketika beberapa butiran salju turun melayang layang. Heechul duduk di depan jendela kamar memandang keluar. Heechul mengetuk ngetukkan jarinya di meja. Tangan kanannya menopang kepalanya yang terasa berat. Pandangannya kosong. Pikirannya tertuju pada Hankyung. Sesekali diliriknya ponsel yang tak bersuara sama sekali. Begitu bisu. Entah berapa kali Heechul mengirimkan pesan singkat ataupun menelepon, ponsel Hankyung selalu tidak aktif dan itu menambah gelisahnya.

"Nuna… kau selalu melamun, sebenarnya ada apa? Dan kenapa kau tidak pergi keluar dengan Hankyung Hyung?" Kyuhyun, Dongsaengnya meluncurkan pertanyaan seenaknya. Memang itu membuat Heechul tambah kepikiran tapi ia tak bisa menyalahkan dongsaengnya itu karena Heechul memang tak memberitahu keluarganya.

"Ani…" Ujarnya singkat tanpa memandang Kyuhyun

"Kau ada masalah.?" Ujar Kyu berjalan mendekati Nuna nya

"Andwae… Kyu-ah.. kau sedang ingin sendiri.." Ujar Heechul lemah menghentikan langkah kaki Kyuhyun yang mendekatinya

"Baik aku keluar.." Ujar Kyuhyun menurut dan keluar dari kamar Heechul.

"Kemana dia aah!" Heechul bergumam kesal. Ia menelungkupkan kepalanya di meja.

TRING! Tiba tiba nada sms masuk di ponselnya terdengar. Heechul dengan cepat mengangkat kepalanya dan mengambil ponselnya. Dilihatnya ada nama Hankyung tertera pada layar ponselnya

"Annyeong! ^^"

Tanpa disadari dirinya sendiri, senyum lebar menghiasi wajahnya. Kekawatiran dan ketakutannya berkurang. Sekarang ganti rasa kesal ingin memarahi namja yang baru saja mengirimkan sms itu karena pergi tanpa mengabari

"Dimana kau?" Ketik Heechul cepat mengirimkannya

"Aku di depan rumahmu." Membaca balasan dari Hankyung, bola mata Heechul membulat. Benarkah? Tanya nya dalam hati. Heechul melongok melihat keluar dari jendela kamarnya. Dia bisa melihat seorang namja menggunakan jaket bulu tebal berdiri agak jauh pagar rumahnya. Hatinya bersorak melihat namja itu. Dengan berlari cepat , Heechul menuruni anak anak tangga dan bergegas keluar.

Hankyung memperhatikan ponselnya dengan tersenyum. KRIEK! Telinganya mendengar suara pintu pagar dibuka. Dilihatnya yeoja manis berdiri di pagar rumah besar itu. Dia terengah engah namun dapat terlihat senyum di kedua bola matanya yang hitam itu.

"Heechul.." Gumam Hankyung sambil tersenyum. Yeoja itu berlari dengan cepat dan menubruk Hankyung. Heechul memeluk Hankyung erat seperti mereka sudah bertahun tahun tak bertemu. Hankyung agak terkejut namun membalas pelukan Heechul.

"Kau ini… benar benar rindu padaku ya?" Ujar Hankyung sambil terkekeh geli

Heechul melepaskan pelukannya. "Aku tidak rindu padamu. Tapi kawatir."

"Wae? Nae Gwaechana.." Ujar Hankyung menunjukan dirinya yang baik baik saja.

"Kau ini! Kau pergi selama 1 minggu tanpa mengabari! Kau tahu, aku benar benar kawatir!" Ujar Heechul dengan nada kesal

"Aku hanya pulang ke rumah orang tuaku sebentar, ada yang harus diselesaikan, sedangkan ponselku tertinggal di seoul."Hankyung menjelaskan pelan.

"Tapi… Kau tak apa kan? Aku… takut kalau kau sakit" Ujar Heechul pelan dan menundukan kepalanya

Hankyung tersenyum tipis memandang Heechul. Yeoja ini… bagaimana kalau dia tahu semuanya? Akankah dia kehilangan senyumnya? Senyum dan tawa Heechul seperti obat candu bagi Hankyung. Dia menyukai senyum yeoja di depannya ini. Apalagi jika ia tertawa dan memperlihatkan barisan gigi rapinya. Itu manis. Dia tak mau menghilangkan senyumnya. Tapi Hankyung tahu, bagaimana jika Heechul tahu semuanya di akhir? Itu lebih menyakitkan.

"Oppa? Kau melamun? Ada masalah?" Heechul mengangkat kepalanya melirik Hankyung yang terdiam

Tangan Hankyung tiba tiba refleks merangkul Heechul. Hankyung mendekapnya erat. "Nae Gwaecahana" ujarnya pelan

Heechul sebenarnya masih penasaraan apa yang dipikirkan Hankyung. Namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya saat Hankyung beranjak memeluknya. Senyuman terlukis di bibirnya. Dia membiarkan Hankyung mendekapnya. Karena Heechul suka saat hankyung memeluknya dan membuatnya hangat

Hankyung perlahan melepaskan pelukannya. "Kau tak marah kan?" Ujarnya memandang Heechul

"Andwae. Bagaimana kalau kita jalan jalan?" Ujar Heechul menatap Hankyung. Hankyung terlihat berpikir dan belum menjawab.

"Kita lupakan semua masalah dan pergi refreshing." Ujar Heechul riang

"Baiklah.." Hankyung tersenyum dan menyetujui permintaan Heechul.

Mereka menuju ke mobil Hankyung. Heechul tak sengaja menyentuh tangan Hankyung membuat namja tampan itu sedikit terkejut karena tangan Heechul begitu dingin.

"Tanganmu dingin sekali." Ujar Hankyung yang saat ini memegng tangan Heechul

"Gwaechana... aku tak apa.. ini sudah biasa." Heechul tersenyum

Hankyung menggenggam erat tangan Heechul membuat tangan yeoja itu lebih hangat. Heechul hanya tersenyum dan balas menggenggam tangan Hankyung.

"Kau tahu.." Ujar Hankyung sambil terus berjalan pelan. "Kenapa sepasang kekasih suka bergandengan?" Ia mengalihkan pandangannya ke Heechul

Heechul menatapnya bingung dan menggeleng

"Karena saat bergandengan tangan, tangan kita berdua menjadi hangat." Ujar Hankyung menjelaskan. "Ada cinta."

Heechul mengerutkan keningnya namun tak berbicara apa apa membiarkan Hankyung menjelaskan

"Saat seorang namja menggenggam tangan yeoja dan memberikan rasa hangat itu artinya dia mengatakan 'saranghae'" Hankyung tersenyum.

"Lalu?" Heechul ingin Hankyung melanjutkan.

"Yeoja harus membalasnya." Hankyung mengehentikan langkah kakinya dan menatap Heechul.

Heechul tersenyum lalu mempererat genggamannya.

"Apa yang terjadi ketika salah satu dari mereka melepaskan genggaman? Cinta berakhir?" Ujar Heechul.

"Mereka tak mungkin kan bergandengan terus?" Hankyung terkekeh geli. "Artinya.. mereka mempercayakan cinta mereka pada pasangannya." Hankyung perlahan melepas genggamannnya "Dan saat aku melepas genggaman ini. Kau harus tersenyum."

"Arraseo.." Heechul tertawa kecil.

0o0o0o0o0o0

"Masih jam 8.." Gumam Hankyung sambil melirik jam tangannya. Hari ini dia mulai masuk kuliah lagi. Sambil menunggu jam masuk kelas, Hankyung duduk di kursi taman kampus. Dia membawa buku, namun tidak benar benar dibacanya. Ingatannya melayang pada hari kemarin ketika dia dan Heechul bersenang senang keliling kota Seoul. Mereka pergi bermain ice skating, ke tempat permandian air panas, sauna, mengunjungi beberapa mall, jalan jalan di taman dan di pasar, membeli ice krim dan aksesori, dan bermain lempar lemparan salju. Tanpa sadar ada seulas senyum dibibir Hankyung saat mengingat semuanya. Dia bisa melupakan sakitnya.

"Yak! Kenapa kau melamun disini?" Suara seseorang terdengar dari telingan Hankyung dan menepuk bahunya

"Kangin-ssi.." Hankyung mendongakkan kepalanya melihat sosok yang menepuknya

"Ada sesuatu yang bagus?" Kangin mendudukan diri disamping Hankyung

"Molla.." Ujar Hankyung sambil tersenyum tipis

"Kau sudah dengar?" Kangin kembali bertanya

"Dengar apa?" Hankyung menoleh dengan tatapan bingung

"Kekasih Victoria Nuna meninggal." Ujarnya pelan tanpa menatap Hankyung

"Mwo? Nickhun Hyung?" Ujar Hankyung tak percaya

"Ne.." Kangin mengangguk kecil

"Bagaimana bisa? " Bola mata Hankyung membulat

"Dia sebenarnya telah lama terkena TBC.. dan itu akut. Dia tak pernah bilang pada Victoria." Ujar Kangin "Dan Victoria Nuna sangat syok. Tentu saja. Ia mengetahui semuanya ketika keadaan paling buruk."

"Jadi… bagaimana keadaannya…? Victoria Nuna?" Hankyung terbata

"Dia benar benar stres sekarang. Kemarinnya saja mereka pergi berdua. Esoknya dia kehilangan Nickhun Hyung." Kangin menatap Hankyung "Nickhun Hyung harusnya tidak begitu."

"Lalu… bagaimana jika kau berada di posisi Nickhun.?" Hankyung menanti jawaban Kangin yang terlihat berpikir

"Aku akan memberitahunya secara langsung, supaya tidak separah ini jadinya, Maksutku… mereka semua akan siap." Ujar kangin

Hankyung terdiam menatap kosong dan terlihat memikirkan sesuatu.

"Atau, aku akan membuatnya melupakanku, meski itu berat bagi kami tapi itu akan menjadi baik bagi dia." Kangin melanjutkan

Hankyung memandang Kangin sebentar. Dia mendengus pelan. Bola matanya berputar menatap sisi sisi taman namun apa yang ditangkap oleh matanya tidak terekam di otak karena ia sibuk memikirkan sesuatu.

"Hankyung-ssi, ayo kita masuk kelas saja." Kangin beranjak berdiri, Hankyung tersadar dari pikirannya dan mengikuti Kangin masuk.

0o0o0o0o0o0o

"Aku akan memberitahunya secara langsung, atau aku akan membuatnya melupakanku."

Kata kata Kangin terngiang di memory otak Hankyung. Seakan suatu sugesti baginya. Hankyung menyadari dirinya seperti diposisi Nichkun, tidak bisa memilih. Tapi bagaimana kalau tiba tiba dia pergi? Dokter memvonisnya tidak lebih dari satu tahun. Dia benci akan segala penyakitnya, meskipun tak ada orang yang tahu selain keluarganya dan dia terlihat sangat sehat, Tubuhnya telah begitu lemah. Entah benar atau tidak kata dokter itu, hankyung hanya berjuang untuk hidup. Satu hal yang menjadin pengganjal pikirannya. Heechul. Yeoja yang telah 1 bulan menjadi kekasihnya itu, apa yang harus dia katakan? Meskipun baru 1 bulan, Hankyung sadar mereka telah saling mencintai cukup lama setelah perkenalan mereka dan tentu saja mereka begitu dekat. Hankyung tak ingin memberitahukan penyakitnya karena dia yakin itu menambah beban pikiran Heechul. Tapi, melihat kondisi Victoria yang baru saja diceritakan Kangin membuatnya takut itu akan terjadi pada Heechul.

Mengatakan yang sebenarnya?

Atau membuatnya membenci dan melupakan ku?

Pertanyaan itu terus terulang di pikiran Hankyung,

Jika aku mengatakannya, aku yakin itu akan menjadi beban untuk Heechul, Tapi jika aku membuatnya melupakanku, apa aku bisa?

Tapi, membuatnya membenci dan melupakan ku itu sepertinya akan lebih mudah baginya, karena ketika aku tak ada lagi, dia tak perlu susah susah melupakanku lagi.

Hankyung memejamkan matanya. Dia tak yakin bisa melakukannya. Namun itu harus. Tekad di hatinya telah bulat. Dia tak mau Heechul menderita nantinya hanya karena dirinya.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o

Tawa tawa riang terdengar di ruang tengah. Kedua kakak beradik itu menonton film humor rupanya. Tiba tiba ponsel Heechul berbunyi nyaring tanda sms masuk.

"Chakambat. Aku akan kembali." Ujarnya pada dongsaengnya sambil beranjak dari sofa.

"Ada yang mau kubicarakan denganmu, aku di depan rumah." Sms dari Hankyung langsung membuat Heechul tersenyum lebar .

"Umma! Aku keluar sebentar" Teriak Heechul sembari mengambil mantel bulunya yang tergantung dekat pintu.

"Nuna-ah! Kau ini! Katanya mau kembali! Kenapa meninggalkanku!" Kyu menggerutu melihat Nuna nya beranjak pergi.

"mianhae saenggi… kapan kapan ku temani.." Heechul tertawa kecil lalu berlari keluar.

Didapatinya namja yang sedang berdiri di depan pagar rumah dengan wajah yang muram. Heechul memandanginya sambil tersenyum dan berjalan ke arahnya.

"Oppa.." Panggil Heechul dengan nada sedikit manja

"Oh.. Kau sudah disini.." Ujar Hankyung pelan. Pandangan matanya tak benar benar melihat Heechul.

"Ada apa?" Ujar Heechul.

"Ada, yang mau kubicarakan. Ayo kita cari tempat yang lebih baik." Hankyung berjalan cepat tak seperti biasanya. Sebenarnya dia ingin sekali menggandeng tangan Heechul dan membuat kedua tangan mereka hangat tapi ditahan keinginan itu

Heechul kebingungan karena sikap Hankyung yang berubah, namun dia berjalan mengikuti langkah kaki Hankyung sampai ke taman dekat rumah mereka berdua.

"Apa?" Ujar Heechul lugu

"Aku…." Hankyung berusaha membuka mulutnya 'Sial! Aku tak bisa!' umpatnya dalam hati

"Wae? Ada yang salah denganmu oppa?" Ujar Heechul dengan tatapan penuh kehangatan dan perhatian

"Kau sama sekali tak tersenyum seperti biasanya?" Heechul melanjutkan, kali ini senyum tersungging dibibir Heechul, Senyum yang di sukai Hankyung

Senyum itu membuatnya sulit untuk mengatakan apa maksutnya membawa Heechul kesini. Dia mengambil nafas dalam dalam. Dan berusaha tidak melihat senyum Heechul.

"Aku… ingin mengakhiri hubungan kita." Ujar Hankyung dengan terbata bata

Senyum Heechul pudar seketika. Matanya membulat menatap Hankyung tak percaya

"Mwo? Jangan bercanda oppa.." Heechul tertawa remeh.

"Aku serius." Ujar Hankyung dengan nada tegas.

"Apa maksutmu?" Heechul menatap Hankyung dengan pandangan aneh

"Aku ingin mengakhiri hubungan kita sampai disini, jadi… kita tak usah bertemu lagi." Hankyung mengucapkan kata kata itu seperti ada pisau yang menggurat hatinya. Ia menunduk.

Mata Heechul terbelalak semakin lebar. Dia menelan ludah. "Apa alasannya?"

"Intinya aku ingin mengakhiri hubungan kita." Hankyung mempertegas suaranya. Ia mendongakkan kepala tapi tak memandang Heechul. Dia tak akan kuat memandang Heechul. Dia tak bisa melihat yeoja ini sedih.

"Aku mau tahu apa alasannya?" Heechul juga mempertegas suaranya meskipun mulai parau

"Kau ini… aku hanya.." Belum selesai Hankyung berbicara Heechul menyela

"Aku ingin tahu apa alasannya!" Gertak Heechul. "Jika hanya sebuah masalah mari kita selesaikan bersama." Suaranya lemah dan serak

"Ada yeoja lain." Kata kata yang meluncur di bibir Hankyung membuat tenggorokan Heechul tercekat

"Mwo?" Heechul memandang tak yakin

"Ada yeoja lain yang kusukai. Dan itu bukan kau." Ujar Hankyung cepat.

"Hah… Kau mencampakanku.. Aku tak percaya alasanmu, kau bahkan tak berani menatapku." Mata Heechul mulai berkaca kaca dia menahan air matanya.

Hankyung hanya diam. Dia merasakan sakit hatinya yang begitu dalam. Jika ini luka fisik pasti sudah infeksi. Dia membuat yeoja yang dicintainya ini menjadi sedih. Bahkan senyum yang ia sukai telah pudar karena perbuatannya sendiri. 'Namja macam apa aku?' Hankyung mengutuki dirinya sendiri.

"Tatap aku kalau berani dan katakan kau tak mencintaiku lagi dan memiliki yeoja lain!" Tantang Heechul.

'Aku tak bisa… tapi…' Hankyung menegarkan hatinya sendiri. 'demi Heechul'

Hankyung mendongakkan kepalanya, menahan segala rasa sakit hati dan air matanya. Ia mentapa mata Heechul yang penuh dengan air mata. Hatinya semakin tersayat. Dia menarik nafas panjang.

"Aku mau kita putus. Aku tak mencintaimu. Lupakan aku." Hankyung menegarkan dirinya untuk tetap menahan air mata. Menahan kakinya agar tidak jatuh. Menahan luka di hatinya. Hankyung kembali menundukkan kepala dan memutar tubuhnya melangkah meninggalkan Heechul yang mematung.

Air mata Heechul mengalir. Dia tak kuasa menahan air matanya. "Kau bahkan berkata padaku untuk selalu tersenyum, tapi kenapa kau sendiri yang menghilangkan senyumku?" Kata kata Heechul menahan langkah kaki Hankyung yang meninggalkannya.

'Mianhae.. Jeongmal mianhae…' Hankyung tak bisa lagi menahan air matanya. Air matanya enetes. Heechul tak boleh melihatnya menangis. Hankyung melanjutkan langkah kakinya dengan berat meninggalkan Heechul.

Heechul memandangi namja itu semakin menjauh. Isakannya pecah. Ia membenamkan wajahnya pada kedua tangannya. Dia duduk di kursi taman. Beberapa saat tangisnya mulai reda namun sakit di hatinya tidak bisa. Ini seperti luka permanen. Dilangkahkan kakinya dengan berat menuju ke rumah. Tangannya memegang dadanya yang terasa.. sakit… begitu sakit.. Tangan lainnya menggantung dan berayun. Tangisnya masih saja ada. Namun air matanya tidak diusap. Dibiarkan mengalir melalui pipi hingga dagu. Tiba tiba tangannya merasakan sesuatu yang dingin. Dilihatnya apa yang dipegangnya. Kalung dengan liontin hati. Teringat saat namja yang sukses membuat hatinya hancur berjuta juta keping ini memberika kalung itu padanya. Ketika mereka berdua tersenyum. Ketika mereka saling mencintai. Dengan kasar kedua tangannya melepas kalung itu. Hatinya sakit melihat kalung ditangannya itu. Ingin dibuangnya kalung itu. Tapi, tangannya menolak. Hatinya berkehendak lain. Otaknya menghentikan gerakan tangannya. Didekapnya kalung itu dan kembali mucul isakan.

Entah… sampai kapan sakit ini akan hilang…. Tapi kurasa.. cinta ini tak bisa hilang…


Jeongmal Mianhae ... ada bagian yang kurang...

jadi saya ganti

Updatenya lama yah? Mian lagi...

Jika berkenan mohon reviews nya ya ^^

Kalo ga ada reviewsnya males update saya... -_-