#03

.

.

.

"Mereka dibunuh oleh Port Mafia."

.

DLDR and RnR!


.

Boleh dikatakan, bagian tubuh Dazai yang biasanya ditutupi oleh perban itu sangat indah begitu dibuka. Senyuman bangun tidur yang diterima Atsushi itu juga tak kalah indahnya. Menurut Atsushi—mungkin—pagi ini dia telah melihat pemandangan terindah yang pernah diciptakan.

Dazai beranjak dari ranjangnya. Wajahnya yang setengah terbangun-setengah tertidur itu langsung dihadapkan dengan cermin. "Taihen chatta!" Dazai menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

"Nani ga, Dazai-san?" tidak salah bagi Atsushi untuk cemas, namun dia baru saja tenggelam dalam permainan Dazai.

Dazai menyeringai aneh, "Wajahku yang buruk ini dilihat oleh Atsushi-kun." Pemuda itu bertingkah seolah-olah itu hal yang gawat, dan tak seharusnya ada.

"Sore wa ii desu yo."

Dup

Dup

Dup

Tangan yang menutupi wajahnya itu jatuh ke bawah. Jantungnya berpacu dengan cepat seperti kuda pacuan. Ramai di dalam rongga dadanya. Belum pernah Dazai merasa seheboh itu di dalam dirinya.

"Saa, asa gohan taberuyo." Dazai mengalihkan pembicaraan mereka. Atau lebih tepatnya, menutupi perasaan aneh yang melilit dirinya dalam sebuah dilema.

Di meja makan itu keduanya diam. Tidak tahu apa yang harus dibicarakan, dan mereka memang tidak tahu satu sama lain. Seperti, keluarga masing-masing, pekerjaan, sekolah, dan hal-hal yang sebenarnya ringan namun begitu penting bagi pasangan.

Hanya mata Dazai yang sibuk menatap Atsushi yang sudah lengkap dibalut seragam sekolah, dan Atsushi sendiri sibuk menunduk untuk menghindari tatapan mata Dazai.

"Atsushi-kun, bukankah kita tidak tahu satu sama lain?" Dazai menaruh sumpitnya. Tangannya bertautan dan ditaruh tepat di bawah dagu, tersenyum dengan misterius.

Lagi, Atsushi bingung akan ke arah yang mana pembicaraan mereka berjalan. Dazai punya topik yang tak terduga, dan tidak Atsushi pahami—atau mungkin, Atsushi saja yang kurang pengetahuan. Secara kasar, pengetahuannya dangkal.

"Aku mulai dari diriku."

Benar, Atsushi gagal paham maksud Dazai.

"Aku Dazai Osamu. Pekerjaanku rahasia, tapi kau akan kuberi hadiah jika berhasil menebaknya, hehe. Hobiku adalah bunuh diri, dan keinginanku adalah mati. Tapi, sayangnya, sampai sekarang aku masih hidup."

He? Sepasang alis milik Atsushi bertemu di tengah. Matanya memicing dan bibir bawahnya maju beberapa milimeter. Aneh, Atsushi sama sekali tidak paham.

"Giliranmu, Atsushi-kun."

"Giliran apa?"

"Menceritakan tentang dirimu."

Atsushi memutar otaknya begitu mendengar kalimat terakhir. Pemuda 18 tahun itu mengais memori yang semakin lama semakin pudar, tak pernah dikenang sama sekali. "Aku …," dia menggantungkan kalimatnya, "yatim piatu sejak entahlah beberapa tahun lalu. Hidup sendiri di apartemen yang disewa orang tuaku tadinya. Hidup sendiri itu sangat susah, apalagi aku masih pelajar."

"Orang tuamu, bagaimana?"

"Menurut Edogawa Ranpo-san, detektif yang menangani kasus orang tuaku, mereka dibunuh oleh Port Mafia. Itu jelas. Namun, bahkan polisi tidak dapat bertindak macam-macam dengan Port Mafia. Jadi, aku harus mengikhlaskannya begitu saja."

DUP

DAG

DAG

Detak jantung Dazai memberontak. Jantungnya seperti memukul-mukul tulang rusuk karena dadanya yang nyeri, dan jantungnya sepertinya berusaha menekan paru-paru sekuat tenaga karena napasnya mendadak sesak.

Sulit rasanya untuk mengendalikan perasaan yang tiba-tiba membuncah dengan anehnya. Dazai menarik napas dalam-dalam. "Lalu, apa kau membenci Port Mafia, Atsushi-kun?" Dazai merasa itu pertanyaan terbodoh yang pernah dilontarkannya. Sangat retorik.

"Entahlah," Atsushi mendongak, menatap plafon dengan mata yang berkaca-kaca.

Sekali lagi, Dazai melontarkan pertanyaan bodohnya, "Apa kau membenciku, Atsushi-kun? Katakan saja. Semuanya." Dazai membuat kalimat, sebuah kode yang sangat jelas di depan mata, tapi Atsushi sama sekali tak melihatnya.

"Puh," pemuda itu sontak terkikik geli mendengar pertanyaan Dazai, "tentu tidak. Kenapa aku harus membencimu, Dazai-san? Dalam sejarah hidupku, kau adalah orang yang sangat baik. Aku menyukaimu, Dazai-san." Atsushi tetap tersenyum, tak sadar akan akhir dari dialognya. Tak tahu kalau seluruh tubuh Dazai merinding dibuatnya.

Kosong.

Sunyi.

Senyap.

Hanya untuk beberapa saat.

"Dazai-san, aku berangkat dulu." Atsushi berpamitan, dengan segera mengenakan sepatunya dan berlari melalui pintu apartemen. "Ittekimasu!" pemuda itu berteriak dengan keras. Sudah lama tak diteriakkan, rasanya ada sedikit rindu terselip dalam kata itu.

.

.

.

Mereka dibunuh oleh Port Mafia.

.

.

.

Aku menyukaimu, Dazai-san.

.

.

.

"Yang mana Atsushi-kun? Membenciku atau menyukaiku?"

.

.

.

.

.

to be continued


Author's note:

COMEBACK DESU YO '-')/ btw btw btw, apakah hanya aku yang senang dengan episode terbarunya? Atau lebih tepatnya dua episode terakhir yang rilis? Demi apa itu kayak surga Dazatsu banget gasssiiiiii tapi kenapa Kyouka dateng? KENAPA? Bukan maksudnya aku benci Kyouka sih, tapi aku tetep lebih suka Atsushi sama Dazai gitu :" KENAPA GAK DAZAI YANG DATENG? KENAPAA?

Tapi, momen Atsushi ditampar itu di luar dugaanku. Kalo aku di sana, I'd like to nabok kepala mereka dari belakang and then they're just kissed /g. Sayangnya gamungkin kan aku jadi tokoh Bungou Stray Dogs :'v eh btw sebenernya aku nulis ini udah sampe chapter 7 dan Kunikida udah muncul. Tungguin yaa^^


Pojok balasan!

Aku gak akan bahas yang follow dan favorite ya, banyak :") ngetiknya kan capek. Tapi untuk yang review, dengan senang hati aku bales. Yosh!

Yui: Aduh makasih ya udah suka sama FF ini /.\ ini akibat jiwa Dazatsu yang tak tersalurkan. Aku cuma nemu satu yang bahasa Indonesia, doujin juga gaada jadi ya aku bikin ini sebagai pelampiasan deh

Nozuki0107: Sebenernya Jepang tuh ngelegalin nikah sesama jenis gak sih? Kalo iya nanti aku buatin scene-nya :'v kalo gak, Atsushi kudu crossdress :'v aku pengen banget tapi tapi tapi genderlah penghalangnya /mukul-mukul /g.

Avartion: Ok, pertama, jangan panggil aku 'senpai' apalagi 'shenpai', agak kimochi warui gitu(?) /g. Namaku Han dan panggil gitu aja. Jangan terlalu kebawa suasana, nanti kalo mereka gak jadian bapernya gak ketulungan (ini bukan spoiler) lho.

midonanodayo: Here you are new chapter!

.

.

.

.

.

Ok its over guys! Wait for the new chapter and dont forget to leave a feedback after read.