CLAIMED

by

Ellden-K

Warning! This is KookV fanfiction with dominant Kook and submissive Tae!

DLDR! Rating Dewasa! Anak kecil mari kita pergi *shy

Kid!Tae! Pencemaran kepolosan! Author mengada-ada! Stupid grammar! Mengotori pikiran & mengandung banyak kalimat tidak sopan!

¤ Jeon Jungkook & Kim Taehyung

Prev : Manik obsidian itu berkilat, "Kau tahu Kim Taehyung? Sepertinya aku tidak akan menunda-nunda waktu lagi. Lepaskan pisang sialan itu dan kita akan langsung kekamarku."

Bab 03 - Punishment for Naughty kid

Taehyung mendengar bunyi klik pintu saat itu dikunci, dan ia berbalik ketika Jungkook menyentuh bahunya untuk mendekat kearah sofa. Pria itu nampak gelap, hanya matanya saja yang berkilauan terkena cahaya dari luar. Suasana kamar sepenuhnya temaram, karena Jungkook mensetelnya sedikit redup.

T-shirt putih Jungkook yang Taehyung kenakan nampak berwarna abu-abu diruangan itu, dan ia mendadak merasa kecil sekali didalam sini. Jungkook sudah bagaikan putra raja saja, semua dekorasi mewah itu nampak semakin berkelas ketika suasana setengah gelap begini. Tapi Jungkook akan segera melakukan sesuatu kepadanya dikamar ini, dan sebagai bonus, diluar sedang hujan deras. Ternyata awan hitam tadi sudah mulai menurunkan muatannya, semoga tidak ada petir, karena Taehyung takut petir ia tidak ingin menghancurkan semuanya.

Jungkook berjalan menuju lemari besar disamping ranjang, dan ia menoleh setelah mendapati Taehyung hanya berdiri memandangi ruangan.

"Pergi ke kamar mandi dan bersihkan dirimu. Apa kau tidak tahu tubuhmu penuh dengan klorin?"

Taehyung menoleh, ya tubuhnya memang sedikit terasa tidak nyaman dan lengket. Jungkook benar, tadi ia mengikutinya untuk berendam dikolam berenang. Meskipun tidak lama.

Anak itu mengangguk, "baik tuan.."

Ia mencari-cari sebuah pintu lalu menemukannya dalam sekejap, itu terletak tepat diseberang ranjang besar Jungkook dan Taehyung mulai melangkahkan kakinya kesana.

Didalam kamar mandi ia tidak bisa berhenti berdecak kagum dan ber 'wah' ria. Sungguh kamar mandi yang mewah dan banyak jet air didalamnya, Taehyung bahkan tidak mengerti bagaimana cara menggunakan benda itu. Ia hanya melihat gagang shower lalu mulai meraih sabun dan sikat gigi baru dari cabinet berukuran sedang diatas meja rias. Kemudian mulai memanjakan tubuhnya dengan air hangat dan sabun mahal.

Taehyung keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri kurang lebih selama sepuluh menit, tubuhnya terbungkus handuk besar yang lembut dan Taehyung melihat Jungkook tengah terduduk diatas sofa sambil memainkan ipad nya dengan memangku kaki. Tepat disisi yang masih luas terdapat beberapa benda aneh yang tidak Taehyung ketahui jenisnya. Tapi ia melihat seperti sebuah tongkat berlapiskan kulit dengan bulu-bulu lembut diujungnya dan sebuah botol kecil berwarna putih.

Setelah Jungkook menyadari siluet Taehyung yang masih mematung didepan pintu kamar mandi, Jungkook segera mematikan ipad ditangannya dan meletakan benda itu sembarangan. Ia mendongkak, kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa, kedua tangannya yang lebar meregang disepanjang bahu sofa dan mengisyaratkan Taehyung agar mendekat.

Merasa sedikit gugup, Taehyung melangkah sambil mengeratkan handuk yang melilit bahu hingga paha nya. Disana Jungkook nampak memperlihatkan aura yang sesungguhnya, bahwa ia adalah seorang yang akan mengambil keuntungan dari Taehyung sekarang dan bodohnya Taehyung, ia pun menginginkan Jungkook merasa senang.

Dia memang brengsek kaya yang tampan, dan Taehyung tidak berdaya dihadapannya.

"Lepaskan handukmu, aku ingin kau membungkuk dipangkuanku."

Taehyung gemetar, ia sama sekali belum pernah bertelanjang dihadapan siapapun. Tanpa busana dan terekspose. Tapi tatapan Jungkook benar-benar tidak terelakkan. Ia menuntut, mengintimidasi dan tak terbantah hanya dengan sorotan obsidian kelam itu.

Akhirnya, Taehyung meloloskan handuk yang menutupi tubuhnya, merosot dan tergeletak diatas pualam berlapis karpet beludru. Sepenuhnya telanjang dihadapan pria itu dan tubuh kecilnya nampak meremang ketika ia melihat air muka Jungkook yang berubah.

Sungguh tubuh mungil yang sangat indah, dipadukan dengan wajah cantik Taehyung yang merona. Sekali lagi ia merasakan denyutan menyiksa dari balik celananya.

Jungkook membenahi posisi ketika Taehyung mendekat lalu berlutut patuh dihadapannya, bagaimana mungkin perut rata dan dada yang tak berlemak itu bisa menyulut gairahnya dengan begitu besar? Taehyung sangat rapuh, tapi Jungkook ingin bercinta dengannya, dengan kasar dan tanpa ampun. Tapi sebelum itu ia akan menghukumnya dahulu.

"Taruh dada dan perutmu dipahaku."

Taehyung mendongkak, kemudian dengan ragu merangkak keatas untuk melakukan perintah Jungkook.

Ia bertelungkup dipangkuan pria itu dengan ujung lutut yang sedikit terangkat. Mungkin karena kaki panjang sang tuan membuatnya agak sedikit tinggi. Bahunya menyentuh perut enam kotak Jungkook yang terhalang kemeja tipis, dan kepalanya meringkuk diselangkangan sebelah kanan, tepatnya didekat pinggul Jungkook.

Astaga, Taehyung benar-benar merasa terekspose. Pantatnya terbuka namun ia segera merapatkan paha agar tidak terlalu nampak demikian. Ia dapat merasakan denyutan liar dari balik celana jeans Jungkook didekat dada nya, benda itu terasa menekan dan keras. Taehyung semakin berdebar dan Jungkook merasakan itu dipahanya.

"Sebelum aku memulai hukumanmu, aku ingin menegaskan sesuatu." Itu suara Jungkook dan Taehyung masih terdiam sambil mengepalkan kedua tangan. Kemudian elusan panas dipunggungnya hampir membuat Taehyung menggeliat. Ia segera menahan lenguhannya.

"Kau tahu mengapa Park Jimin menyuruhmu pergi kemari?"

Taehyung menggeleng.

"Benar-benar tidak tahu?"

Kali ini ia mengangguk.

"Baik, aku akan menjelaskannya agar kau mengerti."

Elusan itu semakin turun kebawah, dan saat ujung jari Jungkook menyentuh tulang ekornya Taehyung bergidik dan melenguh.

"Aku sudah mentrasfer sejumlah uang." Jungkook berbisik dengan nada rendah, "dan itu mungkin sudah sampai di rekening Park Jimin sekarang."

Masih terdiam, Taehyung mencoba mendengarkan dengan seksama. Meski elusan itu benar-benar merangsangnya.

"Dia menjualmu padaku."

Taehyung membuka matanya.

"Setelah ia membelimu dari klub malam yang akan menjadikanmu pelacur dalam jangka waktu yang lama. Entah sampai kapan, mungkin sampai kau tua dan mati."

Anak kecil itu mengangguk mengerti dengan air mata yang hampir jatuh dipermukaan sofa, pernyataan Jungkook sungguh menyakitkan. Meski sebenarnya Jimin menjelaskan dengan maksud yang baik. Tapi sarkasme dan ketidak perduliannya tetap tidak hilang.

"Jadi, aku ingin menegaskan hal ini Kim Taehyung. Bahwa aku telah membelimu dan kini kau adalah milikku. Jangan menganggap aku telah menyelamatkanmu. Aku adalah tuan mu sekarang, dan tidak ada yang boleh menyentuh milikku selain diriku sendiri."

"Maka, jangan biarkan orang lain mendekatimu nantinya. Karena aku memiliki beberapa rencana untuk mu."

Taehyung memang berkaca-kaca, namun ia tidak menangis. Liquid yang tadi terbendung kini mulai surut.

Ia mengangguk patuh, meski bagaimana pun juga Jungkook memerintahnya untuk tidak berpikir bahwa ia menyelamatkan Taehyung. Anak itu tetap mengerti bahwa Jungkook tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan, dan apapun alasan tersebut Taehyung tetap berterima kasih kepadanya. Karena ia telah menjadi bajingan tampan yang menyelamatkan Taehyung dan juga hatinya. Ia tidak perlu menunggu nanti untuk menyadarkan diri siapa dia sebenarnya, dimana ia seharusnya berada dan Taehyung menerima ketika ia harus menekan perasaannya sejak dini.

Oh, Jungkook sangat tampan Ya Tuhan, dan bodohnya Taehyung merasa amat bersyukur meski harus menjadi budak seks miliknya.

Meski ia harus membelenggu perasaannya, dan tunduk dengan apapun yang ia putuskan.

"Jika kau sudah paham, aku akan memulai hukumanmu."

Taehyung terkesiap mendengarnya, ia meneguk ludah lalu berkata, "t-tunggu.. Kenapa.. Hukuman? Aku salah apa?" Well Taehyung sedikit melupakan tentang keranjang buah dan celana yang merosot.

"Untuk berkali-kali menggodaku dan mencuri buah didapur."

"Aku tidak berniat menggoda begitu.."

"Tapi kau tetap memakan buah.."

"Maafkan aku!" Taehyung merengut, matanya terpejam lucu dan ia masih meringkuk dipangkuan Jungkook.

"Tidak ada minta maaf. Kau harus tetap dihukum."

'PLAK'

"Nngg!" Taehyung terlonjak kecil setelah Jungkook menampar pantatnya dan meremas itu kemudian.

Gelenyar aneh tiba-tiba merambat melewati tulang belakangnya, Jungkook sangat mengerti bagaimana cara memperlakukan anak kecil yang nakal -ya, dalam maksud tertentu, pastinya-. Ia hanya alpha male sialan yang suka memerintah dan memberi hukuman dengan begitu seksi, tidak hanya menyalurkan rasa sakit tapi percikan hasrat juga datang dari sana.

Taehyung mulai mengerang dan menggeliat ketika Jungkook menggesek pintu lubangnya dengan ujung jari yang terasa begitu licin akibat sesuatu. Tentu saja bocah itu merasa tidak nyaman pada awalnya, namun Jungkook memegang tongkat berlapis kulit ditangannya yang lain.

"Berhenti menggeliat atau aku akan mulai memukulmu sebelum waktunya?"

Jungkook tidak main-main, ia menggesekan permukaan tongkat dibawah pantat Taehyung. Suaranya dalam, seksi dan terkontrol. Namun Taehyung hampir saja membuatnya terdengar gemetar karena terus bergerak dan tidak bisa diam, mengakibatkan gesekan sensual yang membuatnya menahan ngilu.

Ia meraup cream perangsang sekaligus pelumas lebih banyak diatas jarinya, kemudian menelusupkan satu jari kedalam celah milik Taehyung. Perlahan namun pasti.

Sedangkan bocah lelaki dipangkuannya mati-matian menahan diri, penetrasi ini sungguh tidak nyaman. Tapi ia menyukainya ketika Jungkook meremas pipi pantat kenyalnya setelah meletakan tongkat pemukul untuk sesaat. Itu merupakan stimulan yang sangat cocok, merasakan panas telapak tangan Jungkook dipantatnya yang mulai mengigil. Taehyung malah semakin bergidik dibuatnya, ia seperti demam sekarang.

"Tuan!" Taehyung memekik ketika Jungkook mendorong jarinya masuk kedalam, perih memang ada dan Taehyung hampir menyentak dan mencengkram Jungkook karenanya. Ia melakukan gerakan memutar untuk menginvasi lubang sempit itu, meratakan cream perangsang pada seluruh permukaan dinding rektum Taehyung agar ia tidak terlalu memperdulikan rasa sakitnya nanti.

Jungkook mendengus ketika ia mengeluarkan jarinya lalu mengoleskan sisa cream perangsang pada kejantanan Taehyung yang mulai semi ereksi. Oh, dia tentu tidak sepolos yang Jungkook kira. Taehyung tetap memiliki fantasy seks nya sendiri, meski ia penasaran seperti apakah imajinasinya itu.

"Siap untuk mendapatkan hukuman?" Jungkook kembali berbisik, "Apa yang kau rasakan sekarang?"

Wajah Taehyung kian memerah, ia hanya merengut tidak yakin untuk menatap wajah rupawan Jungkook diatasnya. Kemudian berkata dengan suara yang hampir serak.

"Ugh, terasa panas... Disana." Tanpa sadar ia menaikan pinggul, berniat menggeliat namun sayang itu malah nampak seperti gerakan sensual yang mengundang. "Aku berdenyut-denyut."

Astaga polos sekali.

Jungkook segera menulikan telinganya dari teriakan-teriakan akal cabulnya kemudian.

Lakukan sekarang! Cium dia brengsek! Setubuhi dia! Cepat bajingan!

Tapi ia memilih untuk menukikan senyuman jahat, kemudian balas berbisik kepada Taehyung.

"Itu artinya kau sudah siap.." Ia kembali meraih tongkatnya. "Pukulan pertama akan terasa sakit."

Sebuah usapan pun terasa, kemudian tanpa aba-aba Jungkook mulai mengayunkan pukulannya.

'PLAK'

"Akh!" Tepat mengenai garis pantat Taehyung, dan itu terasa panas dan juga perih disana. Ia sedikit terlonjak untuk yang pertama, memang terasa sakit tapi belum terlalu berlebihan.

"Itu untuk menyentuh tubuhku tanpa izin."

'PLAK'

"Umm!" Kali ini ia mengendalikan suaranya, namun kedua tangan nampak mengepal menahan diri.

Rasanya sakit, tentu saja. Perasaan terbakar dan melepuh juga ada. Tapi yang paling aneh, lubangnya terasa panas dan berdenyut-denyut. Tidak jauh berbeda dengan kondisi ereksinya.

"Itu karena kau membiarkan segala benda sialan tadi merosot dan membuatku sakit kepala."

Taehyung mengerti apa yang Jungkook maksudkan, meski ia hanya tidak paham beberapa hal, namun yang satu ini ia cukup mengerti.

Ia hampir menangis, namun air mata tak kunjung keluar. Karena hasrat menyurutkannya kembali. Ia seperti merasa kosong, Taehyung sudah benar-benar membutuhkan Jungkook sekarang. Ia membutuhkan sesuatu tapi Taehyung tidak tahu apa itu.

Dari bayangan yang ia lihat, Jungkook kembali melayangkan tangannya, kemudian tongkat hitam itu kembali mencium pantat Taehyung. Sial, rasanya panas dan menyiksa. Kali ini bocah itu mengerang lebih keras, ia mendongkakkan kepalanya pertanda tak kuasa. Melihat demikian, Jungkook menggelitiki bekas pukulan dengan bulu-bulu halus pada ujung tongkat. Menetralisir rasa sakit yang mulai berlebihan.

"Sakit?" Jungkook bertanya dengan nada lembut, ia lalu meremas pelan daging kenyal yang mulai kemerahan itu dengan gemas. Tidak secara kasar, tapi itu malah membuat Taehyung melenguh dan mengangguk. "Tenanglah ini sudah selesai."

Jungkook kemudian mengelus belakang kepala Taehyung. "Kau sudah jadi anak baik."

Seketika, ia merasa amat nyaman dari pijitan tengkuk itu. Jungkook sangat ahli dalam menyentuh bagian ternikmat untuk dijamah, dan itu menenangkan Taehyung.

"Sekarang, bawa tubuhmu keatas kasur dan terlentang lah. Kau bisa jalan kan?"

Taehyung kembali gugup, setelah birahi yang belum padam ini nampaknya Jungkook tidak ingin mengulur waktu lebih lama. Ia telah menuntaskan hasratnya untuk menghukum Taehyung dan sekarang ia akan meledakkan pertunjukan utama nya.

Sebuah lengan besar membawa Taehyung untuk bangkit lalu anak kecil itu berdiri diatas kakinya dengan gemetaran.

Jungkook mengikuti gerakan Taehyung, kemudian membungkuk untuk meraih pinggul ramping itu menyatu dengan kehangatan tubuhnya, memerangkap bibir tebal namun mungil milik Taehyung dengan mulut seksi miliknya. Memberikan lumatan singkat lalu ia membiarkan anak kecil cantik ini berjalan menuju ranjang king size ditengah ruangan, sedangkan dirinya meraih sebuah paket foil didalam laci meja setelah Taehyung berbaring dan membuka paha lebar-lebar.

Tubuh mungil yang indah! Sungguh Jungkook hampir merasa pening diseluruh sisi kepalanya saat melihat wajah merona itu menatapnya malu-malu dengan posisi yang mengundang. Tatapan polos namun penuh keinginan justru tidak melesakkan gelenyar geli dimatanya. Jungkook sangat menyukai itu, ia masih berpakaian lengkap, sedangkan Taehyung malah bertelanjang bulat untuknya. Benar-benar tanpa busana.

Jungkook mendekat dengan kejantanan yang sudah sekeras batu. Menonjol menyombongkan diri meski belum sepenuhnya menampakan wujud. Ia menyingkap kemejanya setelah berada dipinggir kasur, tepat dihadapan Taehyung yang mengangkat belakang lututnya dengan kedua tangan. Menatap penuh harap, dengan kepolosan yang ternoda.

"T-tuan..." Taehyung malu ditatapi demikian oleh orang dewasa itu, wajahnya tampan namun penuh intimidasi, dan mengeksploitasi Taehyung.

Tetapi Jungkook hanya meraih ikat pinggangnya dan melepaskan benda itu dengan gerakan santai. Matanya tak pernah lepas dari Taehyung, ia terlalu menarik perhatian dan itu sedikit menyulitkan Jungkook.

"Tetap seperti itu..." Taehyung tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut, ia terus menunggu dengan debaran jantung yang jua tak memelan. Tetapi laju darah yang terpompa malah semakin kencang ketika Jungkook meloloskan kejantanannya tanpa malu, berdiri tegak dengan congkak, seolah itu menakuti Taehyung karena ukurannya yang tidak main-main.

Anak itu gemetar untuk sesaat, aura dominan amat kental terasa ketika Jungkook membiarkannya melihat suatu bagian tubuhnya yang paling jantan. Ia nampak menggulung pengaman pada permukaan ereksinya, hampir membuat Taehyung terpana jika saja ia tak segera tersentak akibat ciuman Jungkook pada bibirnya. Pria itu membayang diatas tubuh Taehyung, menahan gumpalan otot besarnya dengan sikut agar tidak benar-benar menindih tubuh kecil Taehyung dan menghancurkannya.

Sekali lagi, ia merasakan lidah Jungkook membelai seluruh isi mulutnya. Memberikan hisapan sensual pada bibir bawahnya, dan tangan besar itu membelai perut hingga dada Taehyung penuh sensualitas.

"Eumhh!" Taehyung menggeliat, ciuman intens ini terasa menggetarkan seluruh syaraf ditulang belakangnya. Ia segera mengalungkan kedua tangan kecil itu dileher Jungkook, menekan cumbuan nikmat tanpa alasan apapun. Seakan Taehyung sudah sangat mengerti, namun nyatanya ia hanya menyukai ciuman beraroma mint itu, ia menyukai bagaimana Jungkook menginvasi mulutnya tanpa ampun.

Jungkook tidak membiarkan Taehyung kehabisan nafas dengan permainan mulut dan juga cubitan di putingnya. Setelah beberapa saat ia menurunkan kecupan basahnya ke leher, lalu dada dan lidahnya meliuk indah disekeliling puting mungil Taehyung yang telah mengeras.

Ia tersenyum miring dalam hisapannya dan seketika Taehyung melengkung dalam ketidakberdayaan.

Sialan, bagaimana mungkin ia sangat menyukai tubuh kecil itu? Sejenak membuang tindakan brengsek nya karena hendak menyetubuhi anak dibawah umur, Taehyung seperti seorang dewi yang terjebak dalam tubuh bocah kecil cantik ini.

Sekali lagi, penisnya terasa sakit dan itu membuat Jungkook mengernyit.

Jungkook menegakan tubuhnya, ia membenahi posisi dengan pinggul diantara kedua paha Taehyung. Tampak lubang sempit itu berdenyut-denyut dan terlumuri cream perangsang sekaligus pelumas.

"Sudah saatnya sayang, ini akan sedikit sakit. Tapi rasa itu nantinya akan digantikan dengan nikmat tak terhingga."

Setelah mengatakannya, tatapan berkabut lah yang Jungkook lihat. Persetan, anak ini sudah benar-benar terperdaya.

Jungkook menyokong diri ditangannya, lalu Taehyung mendengar gumaman tidak jelas saat pria itu menciumi leher dan belakang telinga nya.

Kemudian ia nampak mengerang sambil meremas sprei ketika Jungkook memulai penetrasi, kepala kejantanannya seakan memaksa masuk. Rasanya seperti teriris sesuatu tapi ini lebih buruk, dan Jungkook sudah menjadi tak sabaran sejak Taehyung menelanjangi diri dihadapannya.

"S-sakit.." Ia hampir menangis, punggungnya melengkung keatas dengan mata terpejam.

"Stay there baby.."

Jungkook menahan pinggul Taehyung agar ia tidak banyak bergerak, jalan menuju kenikmatan itu memang sangat sempit. Tapi ia tidak mungkin berlama-lama hingga akhirnya lepas kontrol, maka dari itu Jungkook mengayunkan pinggulnya lebih dalam dan Taehyung menjerit kesakitan karena nya.

Jungkook mengerang akibat keketatan yang memijat kejantanannya dengan lembut, begitu hangat dan memabukan.

Tanpa menunggu Taehyung agar terbiasa dengan kejantanan besar milik Jungkook, lelaki itu mulai memompa perlahan-lahan. Taehyung menggeliat tidak nyaman, namun setelah Jungkook melumat bibir dan memberikan stimulan dibagian bawah tubuhnya, rengekan itu berubah menjadi desahan manja yang mengejutkan.

Jungkook tidak pernah menyangka jika kepolosan bisa sangat seksi seperti ini.

Ia semakin memagut bibir Taehyung, kembali menelusupkan lidah kedalam dan meliukkannya dengan gerakan keluar masuk seperti saat ia mencium Taehyung di kolam berenang.

Kedua tangannya tak tinggal diam, masing-masing menggoda tubuh Taehyung habis-habisan, sesekali Jungkook mencubit puting kecil itu dengan ujung jarinya namun ia juga meregangkan paha Taehyung agar lebih terbuka.

Sedangkan bibirnya mulai merambat ke daerah rahang dan leher, pria kecil yang tengah meraung pendek itu meremas-remas rambut hitam Jungkook yang nampak semakin berantakan.

Taehyung tidak pernah mengira perasaan terisi seperti ini bisa membakar gairahnya begitu saja, padahal jika dihitung usia nya baru menginjak beberapa belas tahun -setidaknya itu yang Taehyung tahu-, dan Jungkook telah berhasil merenggut pengalaman pertamanya dengan begitu kejam. Namun kejahatan ini terasa sangat menyenangkan dan nikmat, Taehyung bahkan sampai terlonjak-lonjak ditempatnya, tapi ia malah semakin mengerang lebih keras.

Rasa sakit serta perih tergantikan dengan nikmat dan gairah panas yang datang dari denyutan Jungkook, benda itu keluar masuk dengan bola Jungkook menabrak pantat Taehyung. Menghasilkan suara maha erotis bersamaan dengan desahan Taehyung dan dengusan Jungkook yang amat seksi.

Taehyung menjerit saat merasa kepalanya berkunang-kunang dan pandangannya menggelap, ia mengejang untuk sesaat lalu Jungkook mengerang seketika.

Ereksinya terasa diremas dengan kuat, bagaikan terjepit hingga ia merasa hampir berada diujung tebing gairah. Jungkook memandang bocah kecil cantik yang tengah meregang kenikmatan akibat pencapaian pertama nya, ia memberikan tatapan takjup tanpa sadar.

"Oh sial, sayang!" Jungkook kembali mengerang ketika ia semakin memberondong Taehyung dengan kecupan kupu-kupu dan kejantanan yang terus menghentak kesetanan. Merasakan bahwa ejakulasi nya akan segera datang, ia melemparkan kepalanya kebelakang dengan kedua tangan yang masih menahan pinggul sempit Taehyung.

Hingga pada pukulan terakhir Jungkook mengejang tiba-tiba, "AKH! SHIT!" mulutnya terbuka hampir berteriak akibat pencapaian yang begitu luar biasa nikmat.

Sedangkan Taehyung, ia terengah hebat sambil kedua tangannya masih mencengkram sprei.

Luar biasa! Anak kecil cantik ini bahkan mampu membuat Jungkook kehilangan kontrol.

Lelaki bertubuh paling besar pun ambruk diatas tubuh kurus yang ia tunggangi. Nafas putus-putus dan rembesan keringat membaluti kemeja tipis di punggungnya.

Jungkook menciumi leher Taehyung dan menjilat dengan lidah panasnya, kemudian anak itu memeluk punggung lebar Jungkook dengan gerakan lemah.

Masih dengan kedua mata yang sama-sama terpejam, masih dalam keadaan tubuh bertelanjang.

Akhirnya Taehyung terlelap begitu saja. Meninggalkan Jungkook yang masih menciumi belakang telinga nya.

.

.

.

.

Tbc~

Gimana? XD NC nya masih kurang atau malah keterlaluan nih? XD

Jangan lupa RNR~ Jika ada yang masih kurang boleh kasih saran, author gak gigit kok xD

Buat yang belum kenal sama author, panggil saja Ell, Ok? XD

See ya~