Chapter 4 : Hujan, Sebuah Cerita
Keesokan Harinya
Pagi yang cerah seperti biasanya, dan ini merupakan hari kedua Izuku bersekolah di Yuuei. Melewati halaman depan sekolah sekilas memberikan ingatan mengenai kejadian kemarin. Kejadian yang tak akan terlupakan bagi seorang Izuku. Kejadian yang akan merubah dirinya pada hari yang akan datang.
"Deku-kun!"
Suara itu, ah itu Ochako. Iya, suara yang mengagetkannya tadi itu adalah milik Ochako. Ia berlari mengejar Izuku yang sudah berada beberapa langkah di depannya. Sekarang langkah mereka sudah sama. Ochako tentu saja sangat khawatir dengan Izuku, bagaimana tidak? Melihat Izuku yang seperti kemarin membuat Ochako sangat gelisah sampai-sampai sepulang sekolah kemarin ia terus-terusan terbayang apa yang terjadi dengan Izuku. Bahkan dirinya semalam sampai tidak bisa tidur sama sekali, meski akhirnya pun ia juga tertidur.
"Ah Uraraka-san, Pagi."
Salam 5 jari Izuku hanya dibalas dengan tatapan penuh kekhawatiran yang penuh tanda tanya milik Ochako.
"Pagi juga Deku-kun. Deku-kun, apa yang terjadi denganmu kemarin? Kau harus menjelaskannya padaku."
Sembari melipat kedua tangannya di depan dada serta memasang ekspresi 'harus jawab', Ochako benar-benar ingin tahu.
"Um anoo Uraraka-san, sebenarnya..."
KRIIING... KRIIING... KRIIING.
Sebelum Izuku sempat menceritakan kejadiannya, bel sekolah tanda masuk kelas telah berbunyi. Mau tidak mau, Ochako harus menyimpan dalam dalam rasa keingintahuannya tersebut untuk nanti.
"Yah, sudah waktunya masuk. Kalo begitu nanti saja Deku-kun. Ayo, kita harus bergegas jangan sampai kita terlambat masuk kelas Deku-kun."
"Hem, baik Uraraka-san, ayo. Kita juga belum tau hukuman apa yang akan didapat semisal kita terlambat masuk kelas."
"Nah itu maksudku tadi."
Mereka berdua berlari bergegas menuju ke kelas mereka. Tapi di tengah jalan...
"Ah, itu bukannya Midoriya-san?"
"Midoriya-san? Anak dari pemilik perusahaan itu?"
"Iya kau benar, itu dia. Dia pasti sangat kaya ya?"
"Dia sedang berjalan dengan seorang cewek?"
"Siapa cewek itu? Sepeertinya aku pernah melihatnya, kalau tidak salah dia itu penjual sayuran yang berada di pasar?"
"Bukankah dia cuma cewek miskin? Bisa-bisanya dia masuk kesini."
"Wah, berani sekali ya dia mendekati seseorang seperti Midoriya-san."
"Cewek matre."
Tanpa mereka sadari, muncul perkataan-perkataan yang mengguncang Ochako dan Izuku. Perkataan yang sangat pedas itu terlontar dari mulut mereka dengan mudahnya. Melihat Izuku berjalan berdua dengan Ochako. Perasaan iri, dengki dan tidak suka menyelimuti mereka semua yang mengatakan itu. Raut muka Ochako berubah menjadi sendu. Di dalam hati Ochako, ia sangat teriris mendengar potongan kalimat yang bahkan lebih tajam dari pada bilah pisau yang baru saja diasah. Tapi Ochako menyadari kenyataanya. Ia paham dan mengerti kondisinya melebihi siapapun, tapi apakah fitnah mereka seperti itu tadi perlu? Ochako menyadari tidak ada hubungan apa-apa diantara dirinya dengan Izuku. Mereka hanyalah teman sekelas yang kebetulan pernah bertemu sebelumnya. Apakah itu salah? Namun, Ochako hanya bisa diam mendengarkan celotehan-celotehan tidak berguna dari mereka. Ia hanyamenganggapnya angin lalu, meskipun sakit namun bukankah diam adalan balasan terbaik? Begitu pikir Ochako.
"Uraraka-san.."
Mata mereka bertemu. Tatapan serius Izuku membuat Ochako berpikir bahwa sebaiknya kita terus berjalan, tak ada gunanya meladeni mereka, mereka tidak akan diam. Begitulah artian mata Izuku yang bisa Ochako artikan. Dan mereka pun terus berjala tanpa sedikit pun menghiraukan mereka.
'Terima kasih Deku-kun dan juga maaf.'
Entah apa yang ingin Ochako sampaikan pada Izuku, namun ia lebih memilih menyimpannya dan memberitahukannya disaat yang tepat. Mereka akhirnya sampai di kelas dan pelajaran pun dimulai.
"Kau kelihatan murung Ochako-chan, kau tak apa?" tanya Tsuyu yang duduk di depan Ochako. Terlihat Tsuyu sangat mengkhawatirkan sahabat baiknya satu itu.
"Ah, aku tidak apa-apa Tsuyu-chan. Tentu saja aku baik-baik saja, yosh."
Terlihat sebuah senyum yang seperti dipaksakan, senyum untuk menyamarkan kesedihan yang dialami Ochako. Senyum yang tak seperti biasanya itu terpancar jelas di wajahnya. Bahkan semangat yang ia tunjukkan ketika berkata 'yosh' itu pun terlihat seperti sebuah sandiwara. Tak hanya Tsuyu, Izuku pun mengetahui dengan sangat jelas apa yang Ochako coba sembunyikan.
'Pasti ada sesuatu yang terjadi ya? Ochako-chan.'
Dan pelajaran pun akhirnya dimulai. Meninggalkan tanda tanya besar diantara Tsuyu, Izuku dan Ochako. Apa yang sebenarnya terjadi?
Pada Saat Jam Istirahat
"U-Uraraka-san, mau pergi ke kantin?"
Ajak Izuku yang tengah berdiri dari mejanya dan menghampiri Ochako di mejanya. Namun, jawaban tak terduga dari Ochako membuat Izuku terkejut. Ekspresi Ochako yang tak seperti biasanya itu membuat Izuku hanya bisa diam menunggu jawaban.
"Maaf Deku-kun, hari ini Tsuyu mengajakku ke kantin untuk menemaninya makan siang. Jadi, maaf ya, Deku-kun."
Sambil menggerakkan jemari-jemarinya di depan dada, Ochako mengatakannya dengan nada yang tak biasa. Seperti nada orang putus harapan. Meskipun begitu Ochako masih menyempatkan untuk tersenyum, walaupun tentu saja Izuku tau bahwa senyum itu adalah senyum palsu.
"O-oh begitu ya, tak apa Uraraka-san. Lain kali saja kalo begitu."
'Maaf Deku-kun.'
Sambil menundukkan kepalanya, Ochako berjalan duluan meninggalkan mejanya. Disusul Tsuyu yang sebelum pergi, ia memberikan kode kepada Izuku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Maaf ya Midoriya-chan, ini hanya rencanaku untuk bisa berbicara dengan Ochako-chan."
"Ah kau tidak perlu meminta maaf Asui- eh Tsuyu-chan. Aku mengerti kok."
"Baiklah kalau begitu, aku duluan Midoriya-chan."
Dan akhirnya mereka berdua pergi ke kantin meninggalkan Izuku di tempat duduknya. Izuku masih memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ochako. Ia sudah tau kalau ini semua mengenai perkataan cewek-cewek tadi, namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Izuku. Ekspresi itu, ekspresi yang baru pertama kalinya ia lihat dari seorang Uraraka Ochako. Seperti ada makna lain yang tergambarkan lewat ekspresi wajah itu.
Di sisi lain, Tsuyu mencoba menghibur Ochako dan menanyakan apa kabarnya. Setelah mendengar semua keluh kesah yang Ochako alami. Tsuyu sangat paham dan mengerti dengan apa yang dirasakan sahabatnya ini. Ia mencoba memberikan masukan dan saran kepada Ochako. Ochako sepertinya menerima dengan baik saran dari sahabatnya ini.
'Tenang saja Midoriya-chan. Aku akan membantumu.'
Saat Pulang Sekolah
"Ah, Uraraka-san sudah pulang duluan. Padahal aku belum menanyakan kabar dan perasaannya... Hari ini singkat sekali ya?"
Tepat sebelum pulang sekolah tadi, tiba-tiba Ochako terlihat sudah mengemasi barang-barangnya. Dan saat setelah bel pulang berbunyi, Ochako langsung pulang tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Kata Tsuyu, Ochako harus langsung mengurusi dagangannya, jadi ia pulang duluan. Izuku paham, apa yang Tsuyu katakan. Ochako pasti membutuhkan ketenangan, begitulah artian dari Izuku.
Sekarang Izuku berjalan meninggalkan gerbang Yuuei dan pulang. Dilihatnya ke atas langit, kemudian ia berhenti sejenak.
"Mendung? Apakah hari akan hujan?"
'Ngomong-ngomong Uraraka-san sedang apa ya? Apakah ia sudah baikan?'
Sementara itu, di apartemen Ochako. Sebelumnya, Ochako tinggal di sebuah apartemen sederhana bersama ayah dan ibunya. Namun, dikarenakan ayah dan ibunya sedang bekerja di luar kota karena adanya proyek pekerjaan akhirnya Ochaco sekarang tinggal sendirian.
"Ah, aku cape."
Ochako langsung menaruh tasnya dan masuk menuju ke ranjang miliknya. Sambil menjatuhkan tubuh ke ranjangnya yang empuk, Ochako memikirkan kejadian hari ini.
("Dia sedang berjalan dengan seorang cewek?"/"Siapa cewek itu? Sepeertinya aku pernah melihatnya, kalau tidak salah dia itu penjual sayuran yang berada di pasar?"/"Bukankah dia cuma cewek miskin? Bisa-bisanya dia masuk kesini."/"Wah, berani sekali ya dia mendekati seseorang seperti Midoriya-san."/"Cewek matre.")
Semua perkataan itu masih terbayang di kepala Ochako. Ingin rasanya ia menangis. Meratapi nasibnya yang seperti ini. Sambil memeluk bantal kesayangannya dan mengubah posisi tidurnya menjadi miring, ia pun akhirnya menangis. Air mata yang selama ini ia tahan, ia tutupi dengan senyuman itu pun akhirnya tak dapat ia tahan lagi. Tangisnya pecah, ia tak kuat menahan rasa sakit yang terus ia tahan.
Perkataan mereka tadi membuatnya tersadar akan posisinya sebagai seseorang yang tak punya apa-apa. Seorang penjual sayuran yang berjuang keras untuk menggapai impiannya. Andai saja ia tak mendapatkan beasiswa atas nilainya yang tinggi ataupun kecerdasannya itu, mungkin saat ini masuk sekolah Yuuei hanyalah salah satu dari sekian banyaknya keinginan Ochako yang tak akan terpenuhi.
Andai saja, andai saja ia tak bertemu dengan Izuku mungkin perkataan seperti itu tidak akan terlalu menyakitkan bagi Ochako. Bahkan ia sudah terbiasa dengan cemoohan seperti itu dulu. Namun, yang membuatnya sangat hancur bukanlah perkataan mereka tentang dirinya, melainkan kebenaran tentang posisi dirinya dengan Izuku. Iya benar, dirinya merasa tak pantas jika disandingkan dengan Izuku. Ia hanyalah seorang penjual sayur, sedangkan Izuku? Tentu saja semua orang sudah mengenalinya.
'Bodoh, bodoh, bodoh. Aku memang bodoh. Seharusnya aku sudah tau sejak awal bahwa aku tidak pantas mengenal seseorang sehebat Deku-kun. Bahkan aku tak bisa menyadarinya sejak awal kita bertemu di pasar. Deku-kun, aku tak pantas berada di dekatmu. Padahal kita belum lama mengenal ya? Tetapi mengapa rasanya sesakit ini, Deku-kun? Hiks...'
Air mata terus menerus turun dari kelopak mata Ochako. Apa yang bisa ia lakukan lagi? apakah ia akan selalu menjaga jarak dengan Izuku ketika bertemu? Sampai berapa lama? Selamanya? Ia tak mungkin bisa melakukannya, itu pasti.
Tiba-tiba hujan turun, makin lama makin deras. Ochako yang mendengar suara rintikan tersebut dari dalam kamarnya langsung duduk dan mengangkat wajahnya yang sejak tadi ia bungkam dengan bantal empuknya.
'Ah, hujan ya? Ternyata aku tidak sendiri ya? Hehe.'
Ditaruhnya bantal itu di sampingnya, kemudian ia menuju ke arah jendela kamarnya dan melihat ke luar.
"Hujannya sangat deras."
'Apakah Deku-kun sudah pulang ya?'
Meski pikiran dan egonya menolak dirinya dengan Izuku, namun bagaimanapun ia tetap sangat khawatir dengan Izuku. Menurutnya, Izuku adalah seseorang yang sangat cerah, senyumannya membuat semua orang yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati dengan dirinya. Tapi sekali lagi, apakah dirinya merasa pantas dekat dengannya? Karena ia sadar, ia tak boleh egois. Izuku bukan milik siapa-siapa, ia hanya temannya bukan? Teman sekelas yang pertama ia kenal. Begitulah pendapat Ochako mengenai Izuku.
'Aku khawatir. Aku bahkan belum sempat mendengar cerita yang ingin Deku-kun ceritakan tadi pagi. Ah, situasi menjadi rumit ya? Deku-kun.'
Keesokan Harinya
Pagi kali ini terlihat berbeda dari biasanya. Terlihat sat atau dua awan mendung yang menghiasi langit. Apakah hari ini akan hujan lagi? pikir Izuku meninggalkan rumah untuk segera berangkat ke sekolah. Di tengah jalan ia sempat memikirkan keadaan serta perasaan Ochako.
'Apakah Uraraka-san sudah seperti biasanya ya hari ini?'
Dan seperti biasa, bel pertama tanda masuk telah berbunyi. Namun, Izuku yang sudah duduk di bangkunya belum melihat Ochako yang duduk di sampingnya. Apakah Ochako tidak berangkat? Mungkin ia hanya terlambat. Begitu pikir Izuku.
"Ochako-chan?"
Dan benar, selang beberapa menit setelah bel berbunyi, Ochako terlihat memasuki ruangan kelas. Untung saja saat itu belum ada guru yang masuk. Dan Ochako pun langsung duduk di bangkunya, bahkan tak membalas sapaan Tsuyu. Dengan ekspresi yang kosong, ia duduk dan hanya bersikap diam.
'Ini bahkan lebih buruk dari yang kupikirkan.' Pikir Tsuyu yang merasa Ochako benar-benar berantakan hari ini, bahkan lebih buruk dari kemarin.
"Uraraka-san?"
Izuku menengok ke sebelah kanannya, sambil menatap prihatin Ochako. Namun tetap, Ochako tak bergeming sedikit pun. Apa yang sebenarnya merasuki Ochako? Izuku hanya bisa berharap Ochako segera kembali seperti biasanya. Apakah ini masih karena kejadian kemarin? Tapi tentu saja, ini lebih buruk dari kemarin.
Terdengar suara langkah kaki dari luar kelas. Pak Aizawa datang dan kelas pun dimulai.
Selama pelajaran ataupun waktu istirahat tadi, Ochako sama sekali tak berbicara dengan Izuku. Bahkan ketika Izuku mendekatinya, Ochako seakan langsung pergi menjauh darinya. Apakah Ochako membenci Izuku? Apakah Ochako sudah tak ingin berteman ataupun bertemu dengan Izuku lagi? Apakah itu benar? Tidak, tentu saja itu tidak benar. Bukan itu maksud tindakan yang Ochako lakukan.
Sekarang sudah jam 4, waktunya murid-murid untuk pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba hujan turun dan sebagian murid harus menunggu sampai hujan reda.
"Ah, hujan ya?"
"Hujan lagi, kapan berhentinya?"
"Harus pakai payung deh."
Itu merupakan komentar dari masing-masing murid yang sedang menunggu hujan. Namun, hampir dari semuanya menerobos hujan tersebut menggunakan payung yang mereka bawa. Di sisi lain, Izuku yang sedang berada di toilet karena entah kenapa sakitnya kambuh lagi. Ia baru selesai membasuh mukanya.
"Ah, ini pasti karena tadi aku makan makanan pedas saat sarapan tadi. Hujan lagi ya? Untung aku membawa payung."
Izuku menuju lokernya untuk mengambil payungnya.
'Sudah sepi lagi? Meski hujan-hujan begini namun banyak juga ya yang menerobos. Murid-murid Yuuei memang nekat-nekat ya? Ah, lagi-lagi aku sendiri.'
Sambil membuka payungnya dan berjalan keluar, Izuku sejenak kepikiran dengan Ochako. Apakah ia sudah pulang ya? Mungkin ia bersama Tsuyu lagi. Tetapi, ia tidak melihat Tsuyu bersama dengan Ochako saat pulang tadi. Selama hari ini mereka bahkan tidak berbicara sama sekali. Begitu pula berbicara dengan Izuku, seakan Ochako menutup diri dari semua orang. 2 hari ini, Ochako terasa sangat jauh, pikirnya.
Belum jauh Izuku melangkahkan kaki keluar dari koridor sekolah. Ia sangat terkejut melihat ada seseorang yang sepertinya masih menunggu sampai hujan reda. Ia berteduh di bawah pohon besar yang tak jauh dari depan gerbang Yuuei. Sepertinya dia perempuan, karena Izuku hanya bisa melihat siluetnya dari belakang.
'Ah, dia tidak membawa payung ya? Aku harus mendatanginya.'
Sambil perlahan menghampirinya, Izuku hanya bisa terbayang betapa kasihannya dia. Menunggu hujan yang reda di cuaca yang bisa dibilang dingin itu, seorang diri. Namun, alangkah tidak percayanya Izuku ketika ia sampai depan gerbang dan melihat bahwa orang itu tadi adalah...
"Uraraka-san!"
Mendengar panggilan itu, mendadak membuat orang yang sedang berteduh tersebut memalingkan kepalanya ke arah suara yang ia kenali itu. Iya, itu memang benar Ochako. Alasan ia belum pulang saat ini adalah karena ia tidak membawa payung. Bukannya sengaja tidak membawa, namun sebetulnya Ochako tidak mempunyai payung di rumahnya. Dia terlihat kebasahan, baju yang ia pakai pun sudah basah terkena air hujan. Sudah bisa ditebak kalau saat ini pasti Ochako sangat kedinginan.
"Deku... kun?"
Ochako hanya bisa membalas lemas, ekspresinya masih terlihat sendu dan ia langsung mengubah posisi kepalanya seperti semula. Ia masih tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Uraraka-san!"
Panggil Izuku lagi, ia berlari dengan cepat menghampiri Ochako sambil menutup payungnya.
"Apa yang kau lakukan disini, Uraraka-san? Mengapa kau tak menunggu di koridor sekolah saja? Aku kira kau sudah pulang dengan Asui-san tadi."
Ochako sama sekali tidak menjawab satu pun perkataan Izuku. Dirinya hanya menundukkan kepala. Tak berani ia menatap mata orang yang ada di hadapannya itu. Pandangannya kosong dan ekspresinya masih saja sendu seperti kemarin ataupun hari ini. Dimana senyum manis Ochako yang biasanya?
"Uraraka-san... mengapa kau diam saja? Apa yang sebenarnya terjadi padamu Uraraka-san?"
Ochako hanya bisa diam, di dalam hati ia sungguh tak ingin mengabaikan perkataan orang yang sedang berdiri dihadapannya itu. Ia hanya bisa mencengkeram roknya erat-erat. Ia ingin sekali menangis, menahan rasa sakit seperti ini lama-kelamaan membuatnya tak tahan lagi.
"M-maaf, Deku-kun..."
"Maaf? Mengapa kau meminta maaf Uraraka-san? Aku tidak mengerti. Apa yang membuatmu merasa salah? Kau tidak melakukan sesuatu yang salah sama sekali, Uraraka-san. Aku yang harus disalahkan. Karena diriku lah kau menjadi seperti ini. Jadi akulah yang seharus-"
"Bukan!"
"Ini bukan salahmu Deku-kun. Ini semua adalah salahku. Aku memang tidak pantas, Deku-kun. Aku bukanlah seseorang yang pan-"
"Apa maksudmu dengan 'tidak pantas' Uraraka-san?!"
Tiba-tiba saja nada Izuku berubah menjadi tinggi, Izuku menggertakan giginya. Sontak membuat Ochako membulatkan matanya, terkejut. Seketika membuat Ochako membeku, terdiam, tak sanggup membalas apa-apa. Air mata Ochako tidak sengaja turun dan mengalir di pipinya. Namun, ia juga melihat air mata turun di pipi Izuku.
'Deku-kun?'
"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Uraraka-san. Aku sama sekali tidak paham. Apa maksudmu dengan tidak pantas itu?"
"Apakah kau merasa tidak pantas berteman dengan seseorang yang sakit-sakitan seperti diriku ini, Uraraka-san?!"
"B-bu-bukan begi-"
"Aku mengerti kalau sikapmu akhir-akhir ini berubah, Uraraka-san. Aku tak mau menyalahkan itu. Dan kupikir kemarin atau hari ini, kau masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Itulah alasanku untuk tidak menanyakan masalahmu lebh lanjut Uraraka-san karena aku paham dan mengerti apa yang kau rasakan. Perkataan mereka kemarin itulah penyebabnya bukan?... Tetapi Uraraka-san, meskipun sikapmu begitu berubah di hadapanku ataupun semua orang. Meskipun kau tak menceritakan masalah ini padaku, atau bahkan selalu menghindar dariku. Dan juga meskipun kita belum lama saling mengenal. Namun, aku selalu khawatir dan memikirkanmu Uraraka-san. Aku selalu khawatir apa yang sedang kau lakukan, kau rasakan ataupun perkembangan kabarmu. Aku selalu menantikannya. Jadi, kau mau bilang bahwa seorang perempuan seperti dirimu tak pantas dekat denganku, begitu bukan Uraraka-san?"
"I-iya, itu benar. Aku hanya merasa tidak pantas berteman dekat dengan orang seterkenal dan sehebat dirimu, Deku-kun. Rasanya aku hanya akan mencemarkan nama baikmu di hadapan orang-orang. Perkataan mereka kemarin membuatku tersadar akan posisiku. Aku hanyalah penjual sayur Deku-kun, kau tau itu kan? Aku hanyalah orang miskin yang kurang mampu. Dan bisa masuk ke sekolah ini pun aku sudah sangat bersyukur. Apa yang membuatku pantas unt-"
"Cukup, hentikan itu Uraraka-san! Kau sudah cukup melukai hatimu sendiri dan hatiku juga. Aku tidak peduli dengan siapa atau dari siapa seseorang itu, aku tidak peduli. Apa kau ingat perkataanku saat pertama kali kita bertemu Uraraka-san?"
Ochako kembali teringat perkataan Izuku saat ia pertama kali bertemu di pasar dulu. Ia sekarang mengerti maksud dari apa yang Izuku katakan saat itu. Perkataan seperti...
"Saya cuma penasaran saja karena sangat jarang, ada penjual seumuran dengan anda yang berjualan seperti anda disini. Sejujurnya, baru kali ini saya menjumpainya."
Ochako merasa sangat bodoh, benar-benar merasa sangat bodoh. Bagaimana mungkin ego yang dimilikinya bisa membuatnya menguasai dirinya sendiri. Selama ini ada seseorang yang sangat peduli padanya, yang mau mengkhawatirkan dirinya meskipun sikapnya padanya akhir-akhir ini hanya menjauh darinya.
"Tapi akhir-akhir ini aku hanya memikirkan diriku sendiri, Deku-kun. Aku bersikap sangat egois, aku menjauhi dirimu dan merasa bahwa mungkin dengan itu Deku-kun tidak akan ikut kena perkataan-perkataan orang lain. Namun, sepertinya aku hanya ingin melindungi diriku sendiri, aku seakan hanya mementingkan perasaanku sendiri saja. Aku tidak mempedulikan perasaan Deku-kun seperti apa, semua kekhawatiran yang kau berikan padaku, aku bahkan tidak memikirkannya. Egoku membuang semuanya, menguasai diriku seakan yang harus aku lakukan adalah hal yang paling benar. Namun itu salah. Aku teringat pertaanmu yang dulu kau katakan padaku, Deku-kun. Sekarang, aku paham mengenai itu..."
Tangis Ochako kian deras, membasahi sekujur pipinya. Dengan kedua tangannya yang menutupi wajahnya dan mencoba untuk tidak memperlihatkan wajahnya saat ini. Ia hanya bisa mengeluarkan semuanya. Iya, mengeluarkan apa yang ia coba sembunyikan selama ini. Ia turunkan kedua tangannya yang tadi menutupi wajahnya, kemudian ia cengkeram erat-erat rok yang ia pakai.
"... aku sudah mengecewakanmu Deku-kun. Aku sudah lari dari kenyataan. Seharusnya, aku harus menceritakannya, namun apa yang aku lakukan? Aku hanya lari, menyembunyikan kenyataan dan membiarkan egoku mengendalikannya."
"Uraraka-san..."
Jeda sejenak menghiasi pembicaraan mereka. Menghadiahkan suasana yang lebih tenang dari sebelumnya. Air mata mereka berdua masih saja menetes turun. Ochako yang dari tadi menundukkan kepalanya, kemudian mengangkat kepalanya. Matanya kini menatap Izuku yang terlihat sedang menyeka airmatanya itu. Terlihat keseriusan terpampang di wajahnya yang masih berlinang air mata itu.
"Tapi apakah kau tak keberatan berteman dengan seseorang yang kurang mampu seperti diriku ini, Deku-kun? Apakah kau benar-benar tak apa?"
"Aku tidak peduli, Uraraka-san. Berteman itu tidak memandang status sosialnya, melainkan sebuah ikatan yang terjalin yang saling menghubungkan satu sama lain. Karena sebelumnya aku juga sepertimu Uraraka-san. Aku selalu lari dari masalahku, menyembunyikannya dan hanya menyimpannya untuk diriku sendiri. Aku terlalu takut untuk mengatakannya, namun suatu hari perkataan seseorang membuatku tersadar akan keegoisanku... Benar, dia menyadarkanku atas apa yang telah lakukan. Kata-katanya memang pedas, namun itulah kenyataannya..."
"... Kau masih saja sama seperti 'Deku' yang dulu. Kau hanya menyembunyikannya! Kau bahkan tidak menceritakannya kepada siapapun kan oi? ..."
"... Seseorang yang lari dari kenyataan, bersembunyi, menyembunyikan dirinya sendiri dari luar. Apa itu yang kau sebut melawan?!..."
"Bukankah, seorang teman akan saling membantu satu sama lain, mendukungnya entah apapun itu masalahnya. Mendengarkannya ketika sedang bersedih serta memberikan saran dan masukan ketika sedang kesulitan. Bukankah itu arti teman yang sebenarnya, Uraraka-san?"
Perkataan Izuku tersebut membuat hati Ochako yang sebelumnya dingin akan kesedihan dan perasaan bimbang kini mulai menghangat, melelehkan ego yang sejak kemarin menguasai dirinya itu. Sambil menyeka air matanya. Sekali lagi, ia merasa pertemuannya dengan laki-laki di hapadannya itu bukanlah suatu kebetulan. Apakah ini semua permainan takdir?
'Terima kasih, Deku-kun. Meskipun sikapmu padamu begitu, namun kau tetap mau mempedulikan diriku, menghentikan sikap keras kepalaku dan membuatku kembali tersenyum ikhlas, senyum yang memulai perasaan baru. Ini semua berkat dirimu, Deku-kun.'
"Hihihi..."
Tawa kecil yang belakangan ini hilang itu pun akhirnya terdengar kembali. Suara tawa yang membuat Izuku bisa tersenyum lega di hati. Tawa kecil yang sangat dinantikan selama ini. Iya, tawa kecil seorang Uraraka Ochako.
"E-eh, Uraraka-san, kau tertawa?"
"Ah tidak Deku-kun, aku hanya merasa sangat senang saja. Yeeeay."
"Eh, jangan berlari-larian di tengah jalan seperti itu Uraraka-san. Ini kan masih hujan."
"Ah sudah terang kok Deku-kun. Tak usah khawatir."
"Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu Uraraka-san? Aku tidak mau kau sakit. Pakai payung ini Uraraka-san." Ucap Izuku sambil menodongkan payungnya ke arah Ochako.
"Hihihi, kalau begitu kejar aku, Deku-kun. Kalau tidak maka aku basah dan kau kalah."
"Yosh, aku akan mengejarmu, Uraraka-san. Bersiaplah hahaha."
"Kemarilah Deku-kun."
"Uraraka-san, jangan bermain genangan air nanti bajumu kotor lho."
Sambil melambai-lambaikan tangannya, Ochako mulai berlari di tengah hujan yang perlahan mulai reda tersebut. Izuku menutup payungnya dan berlari mengejarnya. Pada akhirnya mereka berdua sama-sama kebahasan terkena rintikan air hujan. Dan beberapa menit kemudian, sebuah pelangi terlihat di sebelah kanan mereka.
'Ah, indahnya.'
"Pelanginya sangat indah."
Ungkap mereka berdua sambil memandangi pelangi yang terlihat begitu cantik di mata mereka. Senyum keduanya pun terukir di wajah masing-masing. Senyuman yang lama hilang, senyuman yang muncul di akhir sebuah kesedihan. Seperti halnya cerita hujan hari ini yang diakhiri sebuah pelangi, cerita mereka berdua pun diakhiri dengan senyuman. Apa itu benar bahwa hujan selalu membawa sebuah cerita? Kalau benar, maka pasti mereka berdua lah saksinya.
'Ternyata kalian berdua berhasil, kero. Midoriya-chan, Ochako-chan. Selamat ya.'
Tak jauh dari sana, sepertinya Tsuyu sejak tadi mengamati interaksi mereka berdua dari belakang bangunan yang tak jauh dari gerbang Yuuei tersebut. Dan, mungkin ini merupakan saran dan masukan yang Tsuyu berikan kepada Ochaco kemarin.
'Kalian berdua akan sangat cocok suatu hari nanti, kero.'
Next Chapter : Kau adalah Pembangkit Senyumanku
Akhirnya selesai juga chapter 4 ini, awalnya bukan seperti ini loh endingnya. Namun, mau ane buat mereka berdua berjalan satu payung. Tapi kalo dipikir-pikir, terlalu maksa ya. Jadi ini lah yang muncul di pikiran ane pada akhirnya.
Rnr ya, kritik dan saran kalian sangat membantu
