Ya ampun~! Telat banget gue apdet fic ini. Gomen minna, lagi banyak tugas and gue lagi kena virus WB tingkat akut.
Jadi bawaannya, maleeeeeees~! *plak*
Okeh, tanpa basa basi lagi, happy reading minna-san and here we go!
Disclaimer:
Mau molto? Minta aja ke Masashi Kishimoto. =.= *Masashi: punya gue itu Naruto tau! Bukan molto! -timpuk author pake ban bekas-*
Warning:
AU, lebayness, gaje, dwwl (dan warning-warning lainnya)
.
Amaranth, Globe
By: Yui Hoshina
Chapter 4: Siapa?
.
"NARUTO-KUUUUUUN~!"
"HINATAAAAAAAA~!" Naruto berusaha menggapai tangan Hinata, Hinata juga melakukannya. Ia mengarahkan tangannya ke arah Naruto. Ia tidak ingin berpisah dengan Naruto.
Sedikit demi sedikit, Naruto hampir mencapai tangan Hinata dan ia pun berhasil. Dengan sigap, ia menarik tangan Hinata ke dalam pelukannya dan memutar tubuhnya untuk melindungi Hinata.
"Tenanglah.. aku tidak akan membiarkanmu mati." Ucap Naruto sambil mempererat pelukannya dan melindungi kepala Hinata agar kepalanya tidak terbentur.
"Ah.." Hinata sedikit terperangah dengan perkataan dan perlakuan Naruto. Wajahnya sedikit merona dan….
BYUUUUUURRR~!
Asap bekas ledakan perlahan-lahan mulai menghilang. Pandangan Neji mulai terang. Ia mulai mencari sosok yang dikenalnya.
"Hinata! Dimana Hinata!" teriak Neji bingung.
"Uhuk! Uhuk! Apa yang terjadi Neji?" tanya Hiashi.
"Ayah! Hinata dan Naruto tidak ada. Jangan-jangan mereka.." Neji mendapat firasat buruk. Ia takut terjadi apa-apa dengan Hinata dan Naruto.
"Apa yang kau ka-.." perkataan Hiashi terpotong ketika Neji langsung mendekati tepi jurang. "Neji, ada apa?"
"Ayah, ayo kita pergi! Kita harus selamatkan Hinata dan Naruto." Kata Neji seraya menarik tangan Hiashi pergi dari tempat mereka.
"Apa maksudmu, Neji? Apa yang terjadi dengan Hinata dan Naruto?" tanya Hiashi bingung karena Neji tiba-tiba saja menariknya.
Neji berhenti sejenak, "Sepertinya.. karena ledakan barusan, Hinata dan Naruto.. jatuh ke jurang." Kata Neji tercekat. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan mereka berdua.
"Apa! Lalu, bagaimana dengan keadaan Hinata? Apa mereka selamat?" tanya Hiashi kalut. Pikirannya mulai berpikiran hal-hal negatif dengan keadaan Hinata.
Neji menggeleng pelan. "Aku tidak tau. Sungai yang ada di bawah jurang itu adalah sungai kematian. Tidak seorang pun bisa selamat dari sungai tersebut." Neji tertunduk lemas.
Hiashi terduduk lemas, tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Hinata sekarang. "Hinata.." ucap Hiashi lirih.
"Tapi.. Ayah tenang saja. Mungkin.. Hinata masih baik-baik saja." hibur Neji tersenyum.
"Apa maksudmu, Neji?" tanya Hiashi bingung.
"Aku percaya Hinata pasti selamat. Karena.. Naruto akan melindungi Hinata." Kata Neji yakin.
Hiashi bernafas lega. "Jika yang kau katakan itu benar, aku percaya. Aku harap.. mereka berdua selamat." Kata Hiashi menerawang.
.
"Ugh.." Naruto berusaha melawan derasnya arus sungai. Ia baru ingat, sungai ini dinamakan sungai kematian karena tidak seorang pun bisa bertahan hidup jika sudah masuk dalam sungai ini.
Tapi, itu tidak berlaku pada dirinya yang seorang siluman. Ia mengeluarkan cakra merah dan mengumpulkannya di satu titik yaitu di kakinya. Ia pun berusaha bangkit dan berdiri di atas air sambil menggendong Hinata yang pingsan ala bridal style.
Yah, jangan heran. Ayahnya dulu seorang ninja yang hebat. Diam-diam, Ayahnya ikut berlatih ninja dengan seorang Uchiha. Hmm.. kalian sudah pasti tau siapa kan? Dan Naruto juga mendapat latihan yang sama dari Ayahnya itu. Jadi, tidak sia-sia ia berlatih sekuat tenaga.
"Aku harus membawa Hinata ke tepi. Kalau dibiarkan lebih lama lagi, penyakitnya akan lebih parah lagi." Gumam Naruto seraya berlari ke tepi dan tentu saja aman.
Naruto mulai meloncati bebatuan sungai itu dengan cepat, sekali-kali ia berjalan di tebing, dan berjalan di atas air. Dia melakukan itu hanya untuk menghindari puing-puing pohon yang besar dan tertabrak bebatuan yang cukup keras.
Setelah beberapa lama, ia akhirnya berhenti di tepian sungai. Di sebelah kirinya terdapat goa yang lumaya besar. Naruto pun langsung membawa Hinata ke goa tersebut.
"Rasanya.. di sini cukup aman." Naruto mulai menurunkan gadis itu perlahan-lahan. "Sebaiknya aku mencari kayu kering untuk membuat api unggun. Sepertinya tidak apa-apa aku meninggalkannya sebentar."
Naruto pun pergi secepat yang ia bisa, pergi mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun untuk menghangatkan mereka berdua.
Tidak berapa lama kemudian, Naruto kembali dengan setumpuk kayu kering dan langsung menyalakan api unggun. Ruangan di sekitar goa itupun menjadi hangat.
"Uhuk! Uhuk!" terdengar suara lembut yang tengah terbatuk. Naruto langsung mengalihkan pandangan kepada orang yang mengeluarkan suara itu tadi.
"Hinata, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto menghampiri Hinata yang mulai tersadar.
Hinata mulai membuka matanya perlahan-lahan, "Na-Naruto-kun.." ucap Hinata memastikan bahwa di depannya adalah Naruto.
"Iya. Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Naruto khawatir sambil memegang bahu Hinata.
"Dingin.. dingin sekali, Naruto-kun." Hinata menggigil kedinginan. Yah, wajar saja. Mereka berdua baru saja terjatuh di sungai kematian. Air sungai tersebut sangat dingin hingga menusuk ke tulang sum-sum.
"Kalau begitu, mendekatlah ke api unggun agar kau merasa hangat." Naruto mencoba membantu Hinata berdiri dan menggiringnya dekat ke api unggun agar tubuh gadis itu sedikit hangat.
Srrk.. srrk..
Suara semak-semak terdengar oleh telinga rubah Naruto.
"Ugh.. kenapa di saat seperti ini ada orang?" gumam Naruto waspada. "Seharusnya tidak ada orang disi-.. eh! Bau ini.." Naruto mencium bau yang sangat familiar.
"Naruto-kun, ada apa?" tanya Hinata lembut.
"Diam disini, Hinata. Aku akan memeriksa keadaan sebentar." Kata Naruto. Hinata mengangguk.
Naruto pun merapat di dinding pintu goa. Ingin melihat siapa yang datang dan memastikan indra penciumannya.
"Ahh! Aku benci semak belukar! Kenapa kita harus lewat jalan ini sih?" terdengar suara perempuan yang sepertinya sedang protes.
"Berisik! Kau mau aku tinggalkan disini sendirian?" kali ini terdengar suara pria.
"Eeeeeeeehh! Aku tidak mau! Aku ingin terus bersamamu, Sasuke-kun!" kata perempuan itu.
"Hee! Sasuke?" batin Naruto sedikit terkejut. "Jangan-jangan.."
"Makanya, jangan banyak protes." Si pria menghela nafas.
"TEME!" Naruto keluar dari persembunyiannya membuat dua orang itu terkejut setengah mati.
"Ha! Dobe?" sahut orang yang di panggil Teme a.k.a Sasuke.
"Naruto! Ternyata kau memang Naruto!" ucap gadis berambut pink itu tidak percaya.
"Sakura-chan, kau masih bersama Sasuke ya?" tanya Naruto senang.
"Tentu saja, baka! Mana mungkin Sasuke-kun meninggalkanku sendirian." ucap Sakura.
"Ternyata sosok yang kemarin itu memang kau. Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke.
"Heh! Bukannya aku yang harus bertanya seperti itu. Kau sedang apa disini, Teme?" tanya Naruto balik.
"Aku mendapat panggilan untuk mengusir siluman di daerah sini. Aku harap itu bukan kau." Kata Sasuke datar.
"Siapa yang memanggilmu?" tanya Naruto penasaran.
"Rahasia klan." Ucap Sasuke stay cool.
Hening sesaat. Tak berapa lama kemudian, tawa mulai membahana.
"Hahaha.. kau sama sekali tidak berubah, Teme. Dan Sakura-chan.." Naruto memandang Sakura jahil.
"Apa?" tanya Sakura merasakan firasat buruk.
Naruto hanya tersenyum jahil. Ia mulai menggerak-gerakkan salah satu ekornya dan mulai memainkan di atas kepala Sakura.
"Miaow! Tuing!" Sakura mencoba menangkap ekor Naruto dan bersamaan dengan itu muncul telinga aneh di kepala Sakura.
"Hahaha.. kau sama sekali tidak berubah Sakura-chan! Gampang sekali terpancing." tawa Naruto terbahak-bahak seraya menarik kembali ekornya.
"Baka! Kenapa kau selalu usil sih jika bertemu denganku! Dasa siluman rubah bodoh!" umpat Sakura kesal.
"Daripada kau. Si-lu-man ku-cing yang manja." Sindir Naruto.
"Sasuke-kun! Aku heran kenapa kau punya teman siluman bodoh seperti ini! Kenapa!" tunjuk Sakura kesal pada Naruto.
"Karena dia bodoh." Ucap Sasuke enteng.
"Dasar Teme sialan." Umpat Naruto.
"Kenapa, Dobe sialan?" sindir Sasuke dingin.
"Haah.. perang dingin dimulai lagi deh." Keluh Sakura pasrah.
Snif.. snif..
Sakura mencium bau seseorang, telinga kucingnya mulai bergerak-gerak. Ya, Sakura adalah siluman kucing. Telinga maupun ekornya berwarna hitam dan daya penciumannya setingkat di bawah Naruto. Walaupun begitu, ia cukup cepat untuk mengetahui keadaan.
"Naruto, apa kau sendirian disini?" tanya Sakura waspada.
"Tidak. Memangnya ke-.. Hah! Aku lupa! Hinata!" Naruto langsung berlari ke dalam goa. Tidak lupa pula Sasuke dan Sakura mengikuti di belakang..
Terlihat sesosok gadis tengah tertidur dekat api unggun. Begitu tenang dan damai.
"Hah.. syukurlah." Naruto merasa lega.
"Siapa dia, Naruto?" tanya Sasuke.
"Ah, dia Hinata. Putri dari klan Hyuuga." Jawab Naruto biasa.
"Hyuuga? Bukankah klan Hyuuga yang memanggil kita, Sasuke-kun?" kata Sakura.
"Hah! Benarkah itu?" tanya Naruto tidak percaya.
"Iya. Mereka memintaku untuk memusnahkan siluman yang ada dirumah mereka. Jangan-jangan.. itu kau ya? Naruto.." ujar Sasuke memandang curiga.
"Mungkin saja. Karena hanya akulah satu-satunya siluman yang pernah mampir ke kediamannya. Lalu, siapa yang meminta kalian?" tanya Naruto.
"Hyuuga Hiashi." Ucap Sakura.
"Apa! Itu Ayahnya Hinata." Ucap Naruto terkejut.
"Jadi menurutmu.. Ayah gadis ini meminta kami untuk membunuhmu?" tanya Sasuke memastikan. "Kalau seperti itu.. lebih baik aku menolaknya."
"Entahlah. Aku tidak percaya bahwa Paman Hiashi akan membunuhku. Apa kalian masih punya surat panggilan dari klan Hyuuga itu?" tanya Naruto lagi.
"Ya. Sakura, tolong perlihatkan." Perintah Sasuke.
"Iya." Sakura mulai merogoh tasnya dan mencari-cari sesuatu. "Ketemu!" Sakura seraya memberikan sebuah gulungan kepada Naruto. Naruto menerimanya dan mulai mencium bau dari kertas tersebut.
"Ini... bukan bau Paman Hiashi. Bau ini terasa asing di indra penciumanku. Akan tetapi, sepertinya bau ini juga sedikit familiar." Kata Naruto.
"Apa itu benar? Lalu.. siapa yang mengirim surat panggilan ini?" Sasuke ikut-ikutan bingung.
"Entahlah. Aku hanya bisa menduga bahwa ada seseorang yang merencanakan sesuatu pada keluarga Hinata. Dan aku merasa.. masalah ini berhubungan erat denganku." Ujar Naruto.
"Apa kau yakin?" tanya Sasuke.
"Yah.. dilihat dari bukti yang kutemukan. Paman Hiashi yang dikendalikan, ledakan-ledakan yang mengarah pada kami dan.. bau surat ini mirip sekali dengan bau yang melempar ledakan kearah kami." Kata Naruto memandang gulungan surat itu.
"Apa kau tidak salah menduga, Naruto? Rasanya tidak mungkin jika klan Hyuuga bisa dikendalikan begitu saja. Apa untungnya orang-orang itu melakukannya?" kata Sasuke.
Naruto mencoba berpikir, ia melihat ekornya dan, "Mungkin saja.. untuk ini." Kata Naruto memegang salah satu ekornya.
"Ekor?" ucap Sasuke heran.
"Kau tau kan legenda siluman rubah ekor sembilan itu? Dimana ekor rubah itu diburu untuk meningkatkan kekuatan, khususnya para siluman. Sedangkan untuk manusia, itu bisa dibuat menjadi obat atau bisa hidup kekal." Ujar Naruto.
"Cih, mitos seperti itu. Memang benar jika siluman yang memakannya bisa meningkatkan kekuatan mereka berkali-kali lipat. Tetapi, untuk manusia itu sangat mustahil. Bukannya sembuh atau hidup kekal, ekor rubah itu bisa menjadi racun yang mematikan dan bisa membunuh orang yang memakannya atau meminumnya. Memangnnya orang bodoh seperti apa yang masih saja mengincar ekormu, Dobe."
"Aku tidak tau. Yang terpenting, kali ini aku hanya ingin melindungi Hinata. Itu saja." Kata Naruto menoleh pada Hinata yang tertidur.
"Kenapa kau begitu perhatian dengannya? Bukankah dia manusia, Dobe? Bukankah kau juga kurang menyukai manusia, yah, selain aku tentunya." Kata Sasuke. Ya, Sasuke berbeda. Diantara Naruto dan Sakura, hanya Sasuke yang manusia biasa.
"Hm.." Naruto tersenyum lembut. Itu membuat Sasuke heran. "Dia berbeda. Dia hanya gadis polos yang menginginkan kebebasan. Dan aku.. mengantarkan kebebasan itu."
Sasuke menyerengit heran, "Dobe, katakan padaku. Apakah kau menyukainya?"
.
.
To be continue
Yui: "Ungg.. pendek banget. Gomen. Inilah hasil peres (?) otak. Mana Naruhinanya dikit banget lagi. Minggu depannya juga mau ujian. Lengkap deh penderitaanku, hiks.. " *lebay*
Sasuke: "Waktunya bales review, author lebay."
Yui: "Iya, iya.. elu emang suka menghina orang ya, SasUke. Review pertama dari Youichi Hikari. Hah! Beneran keren? Thanks dah dipuji. Yak! Ini dah di apdet. Walaupun bukan kilat, cuma bisa apdet kura-kura (?), hehe.."
Naruto: "Kura-kura? Maksudnya?"
Sasuke: "Itu maksudnya apdetnya lambat banget kayak kura-kura."
Naruto: "Ooooohh.."
Sasuke: "Kau terlalu polos, Dobe. Review selanjutnya dari reiky-chan princes h'uyga, tuh bisa diliat kan. Dia baik-baik aja sama Hinata." *bletak*
Yui: "Sasuke bego! Fanfic mana bisa diliat sih? Adanya juga dibaca."
Sasuke: "Author sialan! Elo mau gue chidori, hah!"
Yui: "Ayo kalau bisa? Elo bakalan gue siksa di fic ini, khukhukhu... *devil mode: on* *Sasuke merinding*
Naruto: "Lanjut dah. Dari Areka tsukiyomi. Hoho.. tenang aja. Gue masih hidup kok. Soal happy/sad ending, entahlah. Tergantung mood author. Yup! Ini dah diapdet!"
Yui: "Giliranku! Dari Hyuuga Nii Hime, yak! Ini dah diapdet!"
Sasuke: "Review selanjutnya dari pik-pik, beneran? Kayaknya aku ngerasa nih cerita mengharukan."
Yui: "Sewot aja lu! Yak! Ini dah diapdet. Selanjutnya dari, Magrita loves NaruHina. Ow, sorry ya grita. Reviewmu aku yang baca. Soalnya Hinata lagi tidur, takut ganggu. Selamat atau nggak, udah dibacakan? Untuk MEML, udah apdet 2 chap! Jangan lupa review ya, hehe.."
Naruto: "Dari Crunk Riela-chan. Yak! Ini dah diapdet! Penasaran? Baca aja." *plak*
Sasuke: "Selanjutnya dari, Sq. Yupz! Ini dah diapdet!"
Yui: "Dari Dwi93Jun Takahashi Chan. Ow, sayang banget. Mereka berdua bukan tokoh numpang nongol. Mereka juga punya peran penting dalam fic ini. Yak! Ini dah diapdet!"
Naruto: "PinQ AikA Clover, yup! Ini dah di apdet! Oi, Author. Katanya suruh beritahu dia kalau fic ini dah di apdet."
Yui: "Iya, iya. =.= " *pasang tampang males*
Sasuke: "Dari Nagisa Imanda. Authornya gak bisa apdet kilat. Cuma bisa apdet kura-kura (?).
Yui: "Rese' lu, Sas. Selanjutnya dari The Portal Transmission-19. Ya iyalah mereka jatuh kebawah, masa' ke atas." *plak*
Naruto: "Dari, dari.. Vessalius-sama. Yak! Ini dah di apdet. Penasaran apa yang dilakuin Teme dan Sakura-chan, kayaknya di chapter ini udah kejawab. Mau gue and Hinata bersatu? Yeah! Author, tolong bikinin ya?" *puppy eyes no jutsu*
Yui: "Boleh. Mau mati atau hidup?" *evil smirk*
Sasuke: "Author satu ini emang nyeremin. Selanjutnya dari Kurosaki Yume-chan. Hn.. you will Hinata become Miko? I feel not."
YuiNaru: *cengok*
Yui: "Sas, elo ngomong bahasa planet darimana sih? Kagak ngerti gue."
Sasuke: "Dasar author bego! Itu bahasa inggris tau! Dia nanya, apa elo bisa buat Hinata jadi miko? Jadi Hinata bisa pakai sihir atau semacamnya."
Yui: "Yah maklumlah. Bahasa inggris gue kan pas-pasan. Hohoho.. gomen Yume-chan, aku rasa itu tidak mungkin."
Naruto: "Terakhir dari sylvia, hooo.. bagus ya? Mudahan aja chapter ini juga bagus."
Yui: "Huft.. oke! Saya akan kembali hiatus lagi karena tahun depan saya mau ujian selama 2 minggu!"
Sasuke: "Bukannya ujian elo itu minggu depan?"
Yui: "Sirik aja lo! Tahun depan sama minggu depan sama aja. Karena besok udah tahun 2011, bukan 2010 lagi."
Sasuke: "Pinter banget elo ngeless."
Yui: "Hohoho.. Yui gitu loh! Yak! Terima saran, kritik, maupun pujian (maunya). Ayo semuanya!"
All: "PLEASE REVIEW!"
.
Cute smile
Yui Hoshina ^^v
