The Heirs PureBlood

Chapter 4

Disclaimer J.K. Rowling

Author Kazamuchi

AU

Aku berpikir keras mengenai klan Granger. Apa sekiranya yang cocok menjadi kata sandi dari gerbang ini. Aku terus berpikir hingga..

Aku terpikir sesuatu. "Hermione Jean Granger." Ucapku ragu-ragu. Pintu gerbang itu langsung terbuka dengan sendirinya setelah aku menyebutkan namaku. Aku melangkahkan kakiku untuk masuk lebih dalam ke tempat itu. Di dalam sangat luas. Banyak pohon besar di sekeliling jalan yang kami lewati. Di sepanjang jalan ini, terdapat banyak sekali daun maple padahal ini belum musim gugur. Daun-daun itu menambah kesan misterius tapi indah untuk di pandang mata. Kami terus masuk makin dalam. Tak lama, kami sampai di depan lagi-lagi gerbang tinggi berwarna hitam dengan sulur-sulur yang menghiasinya. Di atas gerbang itu juga terdapat tulisan yaitu 'Granger Manor'. Aku kembali mengucapkan kata sandi seperti waktu kami di gerbang depan. Gerbang itu kembali terbuka, menampilkan bangunan yang megah dan besar. Serta, halaman yang luas. Mungkin sama dengan lapangan Quidditch pikirku. Manor ini sangat indah. Berbeda dengan Malfoy manor yang tampak menyeramkan. Seluruh gedungnya berwarna coklat terang. Dengan atap berwarna biru agak kehitaman. Di halaman nya, terdapat banyak sekali bunga. Mungkin, bisa di bilang kebun bunga yang sangat lengkap.

Manor ini, kelihatan sangat terawat. Tapi siapa yang merawatnya selama ini?.

"Wow. Fantastic. Ini sangat indah Hermione." Ginny tampak sangat takjub melihat Manor ini. Harry dan Ron juga sama dengan Ginny. Memandang takjub.

"Welcome To Granger Manor." Aku melangkah kedepan dan berbalik menghadap mereka sambil merentangkan kedua tangan ku. Kami tertawa bersama, dan melangkah mengikuti jalan yang terhubung dengan pintu masuk Manor. Pada samping kanan dan kiri terdapat bunga mawar merah yang tumbuh di sepanjang jalan.

Jadi, inikah yang namanya Granger manor? Tempat aku di lahirkan? Tempat Mother dan dan Father meninggal?.

Kami sampai di depan pintu manor. Di pintu ini, terdapat banyak lukisan-lukisan rumit yang meperindah tampilan manor itu. Saat aku akan membuka pintu, kami dikejutkan dengan bunyi ledakan keras tepat di samping Ron berdiri. Serentak kami menoleh kearah itu, ternyata, ada seorang 'peri rumah' di sana.

"Siapa kalian? Kenapa kalian bisa masuk ke sini?" peri rumah wanita itu tampak tidak suka dengan kedatangan kami.

Aku melangkah maju mendekati peri rumah itu. "Aku Hermione Jean Granger. Pemilik baru manor ini" kataku. Peri rumah itu tampak kurang percaya dengan ucapan ku. Ia masih memandang sinis pada kami.

"Beri ia perintah Mione. Biasanya, peri rumah akan menuruti peritah tuannya." Harry menyarankan.

Aku megangguk kepada Harry, lalu kembali memandang si peri rumah itu. "Berlutut" aku berseru kepada peri rumah itu. Seakan di hipnotis, peri rumah itu langsung berlutut di hadapan Ku. Harry tersenyum melihat hal itu.

"Mistress?" Peri rumah itu mendongak menatap ku dengan mata besar nya.

"Bangunlah. Siapa namamu?" Aku memperhatikan peri rumah di depan ku ini.

"Nama ku Suze. Mistress, maafkan aku karena telah bersikap lancing dan tidak sopan pada Mistress. Suze tidak tahu bahwa Mistress adalah anak master. Maafkan Suze Mistress.

"Tak apa, kau tidak salah Suze. Nah, sekarang bisakah kami masuk?" Aku tersenyum melihat Suze ketakutan begitu.

"Tentu saja Mistress. Ini adalah Rumahmu." Suze membuka pintu besar itu dan mempersilahkan kami masuk kedalam. Di dalam keadaannya tidak jauh berbeda dengan di luar. Sama-sama menakjubkan dan tentunya sangat indah. "Apakah selama ini kau yang merawat manor ini Suze?" Aku kembali menatap kea rah Suze yang berdiri tidak jauh dari kaki ku.

"Ya, Mistress."

"Hanya kau sendiri?" Tanyaku kembali.

"Tidak Mistress. Ada sepuluh orang peri rumah di sini." Jawab Suze

"Bisakah aku bertemu mereka?"

"Tentu Mistress." Aku mengikuti Suze. Kami pergi ke bagian belakang manor ini. Di sana aku bertemu dengan para peri rumah. mereka menyambut ku dengan senang. Rupanya, ayah dan ibuku dulu sangat baik kepada mereka. Sebagian besar dari mereka telah bekerja sangat lama pada keluargaku. Mereka sangat setia kepada klan Granger. setelah bertemu dengan mereka, kami kembali lagi ke Gedung utama manor. Suze menjelaskan segalanya tentang manor ini, dan kebisaan keluarga kami. Ia menunjukkan kamar ku dan oran tua ku.

Aku masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu sangat besar untuk di sebut sebuah kamar. Terdapat sebuuah ranjang Queen Size, rak buku besar, walk-in closet, kamar mandi,sofa,meja belajar,beberapa tanaman di bagian sudut dan balkon, dan masih banyak lagi barang-barang yang tentunya harganya pasti mahal. Satu kata untuk manor ini, yaitu, Fantastis. aku merebahkan tubuhku di ranjang empuk itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan rambut merah yang muncul dari balik pintu.

End PoV

"Hai, Mione. Boleh aku masuk?"

"Masuk saja Gin. Ada apa?" aku bertanya setelah ia sudah duduk di samping ku.

"Nothing. Kau tau, aku sangat terkejut dengan semua kenyataan ini. Bagaimana dengan mu?" Ginny menelengkan kepala kearah Hermione yang masih berbaring dengan berbantalkan kedua tangannya.

Hermione menolehkan kepalanya kearah Ginny "Kau tau Gin, sejujurnya, sewaktu mom dan dad memberitahuku hal ini, aku sangat shock kau tau. Tapi, aku mencoba menerima semua keadaan ini. Lagi pula ini tidak terlalu buruk. Yaah, kecuali aku sekarang tidak punya orang tua kandung lagi, dan aku juga tidak pernah bertemu mereka. Tapi aku punya mom dan dad yang menyayangi ku dengan sepenuh hati, dan sebagai pelengkapnya, aku punya dua orang adik yang menyebalkan, aku juga punya kakek dan nenek dari pihak ayahku, walaupun aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Dan jangan lupa, aku punya sahabat yang menyayangi dan peduli padaku. Jadi aku harus bersikap dewasa dengan ini semua. Aku bukan lagi anak-anak Gin." Hermione menjelaskan dengan panjang lebar kepada Ginny

Ginny mendekat kearah Hermione. "Kau tau, apapun status dirimu, kami akan tetap di samping mu. Siapapun dirimu, darimana kau berasal, kami akan selalu jadi sahabat yang menyayangi mu Mione. kami semua menyayangi mu Mione." Ginny memeluk Hermione. Hermione membalas pelukan Ginny. Mereka masih berpelukan saat pintu kamar itu kembali terbuka. Harry dan Ron masuk ke kamar itu. Dua orang gadis yang berpelukan itu pun melepaskan pelukan nya.

Harry mendekati Ginny dan Hermione "Kalian menangis?" Harry lalu duduk di sebelah Ginny.

"Kami hanya bercerita masalah wanita Harry." Ginny tersenyum pada Harry.

Harry mengalihkan pandangannya ke Hermione "Jadi Hermione, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Sekarang?. Mungkin aku akan makan siang, lalu tidur siang. Dan setelah itu, aku akan mulai melakukan pencarian di seluruh sudut rumah ini. Mungkin ada satu dua yang terlewatkan olehku."

"Oke.". mereka terdiam. Sibuk dengan isi pikiran masing-masing. "Bagaimana dengan nenek mu, Mione?" Ron tiba-tiba bersuara. Semua mata tertuhu kearahnya.

"Mm, mungkin aku akan menemui mereka lusa. Setelah aku menyelesaikan segala permasalahan disini." Jawab Hermione.

Ron menangkupkan kedua tangannya di depan "Baiklah kalau begitu. Sekarang, lebih baik kita segera makan." Usulnya dengan wajah sumringah.

Ketiga orang yang sedang duduk di kasur itupun menoleh kea rah Ron "RONALD!. Bisa tidak sih kau sekali saja tidak memikirkan makanan?." Semprot mereka

Ron terlonjak kaget karena diteriaki tiba-tiba "Kalian kenapa sih?. Memang aku salah apa?. Aku kan hanya mengingatkan kalian untuk makan malam. Lagi pula para peri rumah sudah menyiapkan makan malam, masa kalian tidak ingin memakannya?" Katanya dengan wajah polos dan cengiran lebar.

"Kami juga tau Ron. Tapi, bisa tidak sih, kau itu tidak memikirkan makanan untuk sehari saja." Ginny menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memijit pelipisnya. "Sudahlah Gin, sebaiknya sekarang kita segera makan malam." Harry menengahi keduanya. Mereka berempat lalu segera keluar dari kamar tersebut dan menuju meja makan. Mereka makan dengan berbagai obrolan tentang dunia sihir dan Quidditch. Selesai makan, mereka kembali kekamar masing-masing karena sudah kelelahan siang tadi. Begitu pula dengan Hermione. Hermione duduk di meja belajarnya. Ia menulis surat untuk seseorang yang sedang berada ribuan mil darinya. Setelah selesai menulis surat, ia menyisipkannya di paruh burung hantu milik keluarga Granger yang berwarna coklat emas. Gadis itu berbaring diranjangnya setelah melihat burung hantu itu melesat pergi meninggalkan manor melalui jendela kamarnya. Tidak lama, ia pun jatuh tertidur.

.

.

Jauh dari Inggris, seorang wanita yang sudah berumur tetapi tetap cantik tengah membuka amplop dengan anggunnya.

Dear,

Jeanitta and Richad.

Perkenalkan, aku Hermione Jean Granger. sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu. Mungkin 15 tahun yang lalu. Bagaimana kabar kalian?. Apakah kalian tetap di Paris?.

Aku hanya memberitahu kalian bahwa aku akan ke Paris lusa. Tentunya untuk menemui kalian.

From

Hermione Jean Granger

Wanita itu menitikkan air mata ketika membaca surat itu. Ia kemudian mengambil selembar parkamen dan pena bulu yang sangat cantik. Ia menulis balasan untuk surat itu. Sesaat kemudian, ia menyisipkan surat itu pada paruh burung hantu yang sebelumnya sudah ia beri biscuit itu. Si burung hantu kembali pergi membawa surat balasan itu.

Hermione bangun dengan kaget karena bunyi 'tar' keras di kamarnya. Gadis itu mengernyitkan keningnya karena terbangun di tempat asing. Setelah ia memandang sekeliling, barulah ia sadar bahwa ia sekarang tidak berada di rumah mom dan dad nya. Ia mengalihkan pandangannya kepada sosok lain yang berada di kamarnya.

"Ada apa Suze?" Ia menutup mulutnya karena menguap.

Suze membungkukkan badannya memberi hormat, kemudian memandang Hermione dengan pandangan berbinar "Sarapan sudah siap Mistress. Yang lain sudah menunggu anda di meja makan." Jelasnya

Hermione kembali menguap. "Baiklah. Tapi, mulai sekarang, jangan membungkukkan badan mu begitu, dan jangan panggil aku Mistress." Seru Hermione

Suze mengerjapkan matanya, "Maaf Mistress, itu adalah cara peri rumah untuk memberi hormat kepada tuannya. Jadi aku tidak bisa berhenti melakukannya." Jelas Suze

Hermione memutar bola matanya. "Baiklah, tapi mulai sekarang, kau jangan panggil aku Mistress lagi. Aku terkesan tua jika kau panggil seperti itu." Perintah Hermione. Suze hendak membuka mulutnya untuk membantah perintah Hermione, tapi Hermione sudah mengangkat tangannya "Dan ini adalah perintah. Oke?" Hermione mengangkat alisnya.

Suze hanya bisa menunduk pasrah. "Baiklah. Jadi aku harus memanggil anda apa sekarang?" katanya lagi

Hermione tersenyum puas. "Mulai sekarang, cukup panggil aku Hermione saja. Dan jangan terlalu formal." Hermione beranjak dari duduknya lalu menepuk pelan pundak Suze yang masih menunduk. Suze mengangkat kepalanya, kemudian mengerjapkan matanya dan ia tersenyum bahagia karena Tuannya sangat baik. Sedangkan Hermione menghilang dari balik kamar mandi. "Suze, bilang pada mereka untuk menunggu ku. Sebentar lagi aku akan turun. Dan berikan mereka beberapa baju" Teriak Hermione dari dalam kamar mandi. "Baiklah" Seru Suze senang.

Suze muncul di samping meja makan yang telah di isi oleh beberapa orang. "Mistress menyuruhku untuk memberikan ini pada kalian." Katanya sambil menyodorkan baju yang masih terlipat dengan mereka masing-masing. Mereka menerima baju itu. "Dan kata Mistress, ia akan turun sebentar lagi" Suze tersenyum pada mereka lalu membungkuk dan hilang dari pandangan dengan diiringi bunyi ledakan keras.

"Sebaiknya, kita ganti baju dulu." Ginny bangun dari duduknya dan menuju kamarnya. Diiringi oleh Harry dan Ron. Tak lama, mereka duduk lagi di meja makan sedangkan orang yang di tunggu belum menampakkan batang hidungnya. Ron mengambil Daily Prophet edisi terbaru yang terletak tak jauh darinya sambil meminum jus labu yang disediakan. Ron menyemburkan jus labu yang baru saja diminumnya. Matanya terbelalak melihat Headline Daily prophet dan gambar bergerak yang di sertakan di situ.

"RONALD"Teriak Ginny "Jangan menyemburkan minuman mu bodoh. Kau jorok sekali sih." Omel Ginny. Ia melambaikan tongkatnya pada baju dan rambutnya yang terkena semprotan jus labu Ron.

"Kau kenapa Ron?" Harry menatap Ron Heran.

Ron balas menatap Harry lalu melihat Ginny. "Maaf Gin. Aku tidak sengaja." Ringisnya. Ginny memandang Ron galak. "Sebaiknya kalian lihat ini." Ron menyodorkan daily prophet yang sesaat lalu di bacanya. Kedua orang yang duduk bersebelahan itupun mengambil daily prophet itu kemudian membacanya.

Ginny mendengus setelah membaca berita itu. "Cepat sekali mereka tahu. Bahkan belum sampai 24 jam kita tahu, mereka sudah tahu dan membuat berita ini. Ya ampun, mereka gesit sekali. Bahkan mereka menyertakan fotonya. Dasar Koran gila." Katanya sambil menggeleng-gelangkan kepalanya. Sedangkan Harry hanya menghela napasnya lalu meletakkan Koran itu kembali. "Kuakui, mereka sangat gesit kali ini. Cerita ini bahkan hanya di ketahui oleh beberapa orang saja, tapi sekarang, seluruh dunia sihir tahu akan cerita ini.".

Sedangkan Hermione, ia telah membuka pintu kamarnya ketika seekor burung hantu mengetuk-ngetuk jendela kamarnya. Ia membuka jendela itu untuk membiarkan burung hantu itu masuk. Ia memberi sebuah biscuit sebelum burung hantu itu terbang keluar kembali kekandangnya. Ia membuka surat dengan emblem G besar di tengahnya itu.

Dear,

Her-My-Oh-Knee.

Benarkah ini kau?. aku tidak sedang bermimpikan?. Sebaiknya tidak.

Kami sangat merindukan mu dan sangat ingin bertemu dengan mu.

Tidak usah datang kesini. Kami yang akan datang kesana. Kami sudah bosan tinggal disini. Kita akan tinggal di manor mulai sekarang. Kami juga merindukan manor. Bagaimana keadaannya?. Apakah Suze menjaga manor dengan baik?.

Kau tau Her-My-Oh-Knee. Aku tidak menyangka bahwa Hermione Granger si pahlawan perang itu adalah kau. Anaknya Willi dan Anna, cucu kami. Aku sangat bangga padamu. Ayah dan ibumu juga pasti bangga padamu di alam sana. Tentu saja mereka banggakan, kau adalah pahlawan perang, satu-satunya wanita di Golden Trio, anak terpintar di angkatan mu, dan juga cantik.

Hermione terus tersenyum sepanjang ia membaca surat itu. Ia sangat bahagia karena kakek dan neneknya sangat sayang padanya. Diakhir surat, neneknya memberitahukan bahwa mereka akan datang siang nanti kemanor. Ia kembali memasukkan surat itu kedalam amplopnya lalu menaruhnya di dalam laci meja. Ia kemudian keluar.

Hermione sampai di meja makan dan duduk di samping Ron menghadap sepasang kekasih yang kini tengah berdiam diri sama dengan orang yang di sampingnya. Hermione mengernyit heran, tak biasanya ketiga orang itu terdiam seperti ini. "Ada apa?. Apakah aku terlalu lama?" Hermione mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa makanan yang terhidang di meja di iringi oleh ketiga orang sahabatnya yang masih betah untuk membisu. Setelah beberapa suapan telah masuk kedalam perut masing-masing, barulah Harry buka suara, "Nanti saja Mione, sebaiknya kita makan dulu."

Hermione hanya menganggukkan kepalanya dengan bingung. Setelah mereka selesai sarapan, meja juga telah di rapikan oleh peri rumah, barulah Harry menyodorkan Koran yang ia baca tadi. Hermione menerima lipatan Koran itu dengan tatapan bingung pada Harry. Sedangkan Harry, hanya tetap memandangnya. Hermione membuka lipatan oran itu lalu membacanya.

THE HEIRS IS BACK

Pada hari sabtu kemarin, seseorang telah membuka brankas keluarga itu sama sekali tidak mengambil sepeserpun galleon dari barankas tersebut. ia hanya melihat saja, lalu menutup kembali pintu brankas yang kita tahu,klan Granger adalah salah satu klan penyihir yang umurnya hampir sama dengan klan mereka memang tidak terlalu di kenal oleh masyarakat sihir. Hanya segelintir orang yang mengenal keluarga ini, mengingat mereka sangat tertutup terhadap dunia walaupun begitu, keluarga mereka sangatlah kaya, kekayaan mereka menyaingi keluarga lebih mengejutkan lagi, si pewaris ini adalah seseorang yang seluruh dunia sihir tahu. Orang tersebut adalah salah satu golden Trio. Ia adalah HERMIONE GRANGER. Sangat mengejutkan bukan, dan kita tidak menyadari bahwa nama belakang Hermione Granger sama dengan salah satu klan pureblood. Berita ini juga sudah di konfirmasi oleh goblin yang melayani Hermione Granger saat itu.

Baca halaman selanjutnya, Kesaksian Alberto

Baca halaman selanjutnya, Ulasan lengkap Klan Granger

Baca halaman selanjutnya, Frofil lengkap Hermione Granger dan Granger lainnya.

Baca halaman selanjutnya, Hasil pertandingan Quidditch terbaru

Hermione mendengus setelah membaca Koran itu, ia melemparkan Koran itu ke samping. "Great, sekarang seluruh Britania Raya tahu akan hal ini. Dasar gila, apa mereka itu sekarang mempunyai mata-mata?. Cepat sekali mereka tahu." Hermione terus menggerutu dengan wajah masam.

"Mione, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya, sekarang kita bersenang-senang saja bagaimana?. Kau tidak sibuk kan hari ini?" Ginny tersenyum semangat. Hermione melirik jam tangannya, "Yaah, pagi ini aku tidak sibuk. Tapi, nanti jam Sembilan aku akan ke rumah mom. Sekarang masih jam setengah delapan, jadi kukira masih sempat." Jelas Hermione

"Jadi, kita main apa?" Ron berdiri dengan semangat. "Bagaimana kalau truth or dare?" Usul Harry. Yang lain mengangguk setuju. Mereka lalu berjalan menuju lantai atas. Mereka akan bermain di balkon manor ini.

.

.

"Jadi mom, dad, dan kalian berdua. Maukah kalian ikut aku ke Manor?. Hari ini, kakek dan nenek akan datang. Dan, aku ingin memperkenalkan kalian pada mereka." Bujuk Hermione.

"Kami sih, mau saja." Kata Alfred

"Tapi, bagaimana dengan mereka?." Sambung Reyna.

"Mereka pasti senang. Lagi pula, kalian kan sudah mengenal mereka. Bagaimana mom?" Hermione kembali membujuk orang tuanya.

"Baiklah. Jam berapa mereka akan datang?."

"Nanti siang mom. Sebaiknya sekarang kalian bersiap-siap. Setelah itu, kita akan langsung ke manor." Seru Hermione.

Mereka langsung bergegas masuk kekamar masing-masing. Selesai bersiap, mereka langsung pergi ke Manor dengan ber-apparate.

.

.

"Kaliankah yang merawat Hermione selama ini?" Jeanitta mendekat pada Monica dan Wendall dengan haru.

"Ya. Mrs. Granger. Willi dan Anna datang kepada kami dan menitipkan Mione." Jelas Monica sambil tersenyum.

Richard mendekati mereka, "Terima kasih Monica, Wendall. Bolehkah kupanggil begitu?"

"Sama-sama Mr. Granger. Kami sangat senang bisa menjaga Mione selama ini. Tentu boleh." Balas Wendall.

"Dan sebaiknya kalian memanggil kami sama seperti Willi dan Anna memanggil kami. Jangan terlalu Formal begitu. Kita keluarga kan?" senyum Jeanitta

"Dan, jika kalian tidak keberatan, sebaiknya mulai sekarang, kalian tinggal di sini bersama kami. Kalian pasti merasa kesepian jika si kembar mulai masuk sekolah lagi. Manor ini terasa sangat sepi jika hanya kami berdua yang tinggal di sini." Sambung Richard.

Wendall dan Monica tersenyum ragu, "Kami merasa tidak enak dad." Ujar Monica

"Kalian anak kami juga. Lagi pula, kita ini masih kerabat." Jeanitta kembali membujuk.

"Kami sudah terlalu lama meninggalkan dunia sihir. Lagi pula, aku takut salah satu Harper menemukan kami dan mencoba merusak keluarga kami." Jelas Wendall, menolak dengan halus tawaran mereka.

"Harper?. Mereka tidak akan berani menampakkan wajah mereka disini. Lagi pula, apa urusan mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka menggangu kalian. Jika mereka sampai melakukan itu, mereka sungguh tidak tahu malu." Ujar Jeanitta dengan berapi-api.

Akhirnya, dengan berbagai bujuk rayuan dari Jeanitta dan Richard di tambah Hermione dan si kembar, Monica dan Wendall dengan berat hati menyetujuinya.

.

.

Tak terasa liburan musim panas telah berakhir Hermione kembali ke Hogwarts. Di stasiun, orang-orang tak berhenti memandangi Hermione. Ia benar-benar kesal dengan hal itu. Saat akan memasuki kereta, seseorang memanggilnya. "Hai 'Pureblood'." Orang itu memberi penekanan di akhir katanya.

Hermione menoleh kekanan dan kekiri, tidak ada satu orang pun di situ. Ia pun menoleh. Orang yang memanggilnya tersenyum mengejek pada Hermione yang kini tidak jadi naik ke kereta.

08 Juli 2016, Sabtu.