Rin Dream from Dream Land!
Veronica disini...XD Maaf, karna aku lupa password aku pake akun collab ma temenku XD
Disini juga ada Rani Konako dan Akaihoho Suiren XD
Yo! Voca! Apa ada yang mau telling disclaimer? XD
...
...
...
Krik krik krik
=="
Oke abaikan saja mereka semuaaaaa!
Disclaimer : Vocaloidmillik Yamaha, ide cerita milik Suiko359
Warning : ide gabungan, abal, gaje, typo mungkin?, aneh, dll.
Happy Reading \(^0^)/
(Normal POV)
Sebuah teriakan kesal seorang gadis manis yang sedang diseret oleh seorang pemuda tampan dan sedikit shota, beruntunglah koridor saat itu sepi, atau pemuda itu akan dihukum karna membolos dari pelajaran, apalagi, dia bisa dibilang seorang pemuda yang masuk dalam daftar pintar. Kenapa koridor ini sepi? Karna koridor ini begitu tidak terawat, bahkan orang-orang enggan untuk melangkah dari ujung sampai kelas ke sini.
"Lennn~~~ Lepaskan aku!" teriakan memohon gadis itu membuat pemuda yang menariknya agak risih dengan gadis itu. "Lennn~~~!" teriakan itu semakin kencang, membuat Len langsung melepas 'kan tangannya dari gadis itu.
"Kau bawel sekali Rin." Gerutu Len dengan dinginnya. "Aku takut ketahuan guru jika kita di UKS terus." Len menarik tangan Rin yang membuat wajah Rin memerah sempurna, tapi Len tidak perduli dan hanya menyuruh Rin mengikutinya. Rin mengembungkan pipinya, dia lalu mengedipkan matanya dan berhenti berjalan, Len yang tahu Rin berhenti karna mereka saling berpegangan tangan lalu menengok ke arah Rin.
"Ada apa?" Tanya Len bingung.
"Itu." Rin menujuk ke arah depan, Len lalu melihat ke arah depan, menemukan sepasang lovebirds yang sedang berjalan ke arah mereka, Len melongo, melihat pemandangan dihadapannya. Sebenarnya, Len hanya melihat pasangan wanitanya, dia sangatlah cantik. Yah, levelnya lumayanlah…
"Yo, Len!" pasangan dari pemuda itu menyapa Len dari kejauhan. Len langsung terkekeh. "Apa?"
"Rin, yang disebelah Gaku itu… Luka?" tanya Len sembari berbisik kepada Rin. Rin langsung mengangguk. "Levelnya tinggi," Rin tak mengerti, dan hanya memiringkan kepalanya.
"Senang rasanya melihat pasangan seperti itu." Len mempererat gandengan tangannya pada Rin, Len menunduk, matanya yang semula terlihat bersinar, kini terlihat agak redup. Dia melihat memori lamanya, betapa bahagianya dia dulu, dia tertawa dengan seorang gadis berambut teal yang diikat dua, tapi…gadis itu menghancurkannya.
"Len?" Rin yang masih bingung lalu memanggil Len dengan pelan sembari menepuk Len dengan tangan satunya.
Len tersadar kembali dari lamunannya, dia lalu menggeleng-geleng 'kan kepalanya dan mendesah pelan. Len mengangkat kepalanya, dan mendapati seseorang yang tinggi berada di depannya, len mengedipkan matanya 3 kali dan mendongakan wajahnya.
"Gaku—ah, hey!" Len menggerutu ketika Gakupo mulai mengacak-acakan rambutnya,
"Len, kita dalam masalah besar loh." Ucap Gakupo dengan nada main-main.
"Hah?" ucap Len bingung.
"Kau bisa turun jabatan, kapten." Timpal Luka.
"Hah?" ucap Rin bingung. "Kapten?"
"Pemimpin kedua L priest tahu, siapa Rin. Maksudku, Kaito-sama."ucap Gakupo yang membuat Len dan Rin diam beberapa saat, seekor burung bahkan terlihat lewat dibelakang mereka.
"APAAA!?" teriak Rin dan Len bersamaan. Rin berusaha mengingat siapa Kaito itu, dan dia langsung teringat dengan klien pertamanya.
"Oh! Maksudnya! Si Gay itu!" ucap Rin. Len, Luka dan Gakupo lalu menatap Rin heran. Masa seseorang yang elit begitu jadi gay? Ga mungkin dalam pikiran mereka. Len, Luka dan Gakupo menggeleng-geleng 'kan kepala.
"Ini tugasmu Rin." Ucap Luka sembari menyerah 'kan 1 buah kertas berisi alamat, foto, dan biodata. "Aku mengantinya dengan yang mudah."
"Kau Gila ya Luka! Dia bisa mati!" ucap Gakupo. Luka hanya menutup matanya pelan, Rin dengan bingung lalu melihat biodata itu, dan melihat fotonya dengan seksama. Awalnya dia tidak percaya, tapi, akhirnya Rin percaya satu hal, itu memang…
"Kagamine… Len? Namamu sebelumnya Len van metherlence?" Rin menoleh pada Len. Mendapati Len terkejut, Len mendecak kesal.
"Kenapa aku Luka?" ucap Len dengan panik. Luka tersenyum.
"Karna… kau itu manusia dari dunia ini, yang kudengar mimpimu sempat hancur. Tapi kau masih mencita-cita 'kan satu hal…" guman Luka sembari menatap Len.
"Bagaimana kau—"
Luka menunjuk Rin sembari tersenyum.
"Seseorang, dia ada dibelakangmu, membuatmu kembali tertarik dengan mimpi lamamu." Kata-kata Luka membuat Len tertegun, Len mengigit bibir bawahnya, hatinya terasa sangat sesak,
"Gaku-senpai! Len-senpai!" teriak seorang gadis dari kejauhan.
Gakupo, Luka dan Len menengok, mereka melihat seseorang yang membawa kapak yang terdapat darah diujungnya. Rin kaget, apa itu salah satu pasukan L priest yang mengejar Rin? Tanpa sadar Rin memegang tangan Len dengan sangat kencang. Yang tanpa sadar membuat Len berwajah semerah tomat sekarang.
Sementara gadis yang terus berlari itu, tanpa sengaja terpeleset oleh sebuah batu kerikil di koridor tak terawat ini.
GUBRAK.
"Sialan." Hanya itu yang dikatakan saat dia terpeleset. Gakupo dan Luka langsung sweat drop mendengarnya.
"Ada apa Mayu?" tanya Len.
"Ada berita buruk… Kaito-sama—hmph! Te-teed!" mulut Mayu terbungkam oleh seorang pemuda berambut mangenta yang diikat ponytail rendah panjang itu tersenyum ramah dan memandangi Luka dengan sedikit dingin. Luka langsung waspada dan menyiapkan tongkat kesayangannya.
"Jadi memang benar disini ada 2 magician, eh?" kata Ted sembari mengambil kapak Mayu memakai tangan kirinya, Mayu menelan ludahnya. Ted, salah satu calon pemimpin ketiga, dihadapkan ke kenyataan bahwa Mayu, sedang bekerja sama dengan mereka. Ted menatap Mayu dengan mata magentanya sinis,
"Ma-maaf…tapi! Kapten cepatlah kabur dari sini!" teriak Mayu,
BRAAAK!
Ted menendang Mayu sampai terpental ke dinding koridor yang dingin, dan juga meninggalkan bekas darah baru dari Mayu.
"Pengkhianat."
Luka lalu membuat sebuah portal,
"Cepat semuanya!" perintah Luka yang masuk pertama. Gakupo dan Len mengangguk, dan Gakupo masuk ke dalam portal itu. Len tersadar ada satu orang yang mereka lupakan…
"Rin! Cepatlah!"
Rin terdiam, Len merasa ada yang aneh, Rin kelihatan begitu berbeda. Entah karna aura, atau apa. Len lalu menarik tangan Rin,
"Lepaskan aku Len." Suara Rin terdengar dingin. Rin lalu menengok, mata Rin yang berwarna azure berubah menjadi berwarna ruby, mata Rin terlihat sangat tajam, ekspresi wajahnya terlihat dingin. "Kau mau tidak menolong pasukanmu?" Rin menunjuk Mayu yang sedang dicekik oleh Ted dengan sangat kuat,
"Incubus Morpheus." Rin mengarahkan tongkatnya yang langsung berubah menjadi sebuah scythe. Gaun Rin berubah menjadi sebuah daster berwarna hitam yang terdapat banyak bercak-bercak darah, Rin tersenyum licik, tawanya yang janggal membuat Len agak menjauh dengannya. "Dreamless." Kilatan-kilatan cahaya seperti petir muncul dari ujung scythe Rin, Rin lalu berlari ke arah Ted dengan zig zag, Ted yang menyadari itu lalu melompat ke belakang sejauh 30 cm, Ted mengedipkan matanya sebentar, entah karna apa, Rin tidak terlihat berlari ke arah Ted, bahkan Ted tak melihat Rin ada disana. Hilang.
"Kau beruntung belum jadi pemimpin. Aku mungkin akan membunuhmu jika kau benar-benar menjadi pemimpin." Ternyata Rin sudah ada dibelakang Ted dan menaruh scythe dileher Ted. Kilatan-kilatan cahaya scythe memasuki tubuh Ted dan langsung membuat Ted pingsan. Mayu yang masih memegang lehernya melihat Rin dengan samar,
"Terimakasih." Ucap Mayu sembari berusaha berdiri walaupun masih limbung. Rin hanya melirik Mayu dan mendekatinya perlahan.
"Kau, Mayu…kemarilah, aku akan mencabut kegelapan itu." Ucap Rin dingin. Rin mengubah sycthenya menjadi tongkatnya seperti semula.
"Ke-kegelapan?" Mayu sedikit takut, Rin bukanlah Rin yang dia lihat tadi. Tapi akhirnya dia mendekati Rin.
"Kegelapan yang akan membuatmu terus menghancurkan mimpi seseorang." Kilat-kilat cahaya berwarna biru terlihat di sekitar bola crystal milik Rin, "Tenang saja, ini hanya akan sakit sedikit."
Mayu menutup matanya, saat Rin mengarahkan bola crystal itu ke atas kepala Mayu, kilat-kilat cahaya itu hilang, tapi Rin tiba-tiba memunculkan senyuman liciknya.
"Kau sudah mau masuk jadi pemimpin ya? Aku tekankan, ini akan sangat sakit."
DREEEET!
Kilatan cahaya muncul dan menyambar Mayu dengan sangat cepat, Mayu mengigit bibir bawahnya, dia merasakan sakit yang bahkan mengenai tulang-tulangnya, kilatan cahaya itu hilang setelah 1 menit berlalu, tetapi Mayu masih merasakan sakitnya, mungkin baginya seperti dicabut nyawa.
Di saat yang bersamaan, Rin tiba-tiba terjatuh, dasternya berubah menjadi gaun hitam ala Victoria.
"Rin!" Len langsung menghampiri Rin dan mengendongnya, "Mayu kau tak apa?" Len menengok ke arah Mayu,
"Tra me." Mayu mengucapkan itu berulang kali, sebuah aura kebingungan menghampirinya. Len menaikan satu alisnya,
"Ada apa Mayu— huh?" ucapan Len terhenti ketika melihat Mayu mengacak rambutnya.
"LENNN! AKU TAK BISA KEMBALI MENJADI SEMULA!" teriak Mayu histeris. Tepat disaat itu Rin mengucek matanya sembari menguap walau langsung ditutup oleh tangannya.
"Len…apa yang terjadi?" tanya Rin seperti habis bangun tidur,
"Harusnya aku yang bertanya kepadamu," ucap Len sambil menunjuk Mayu dengan jari telunjuknya. "Ada apa dengannya?"
"Hah?"
"Ku-kurasa…dia tidak sadar, mungkin itu adalah 'dirinya yang lain'" Mayu yang masih stress, berbicara dengan suara lemah lembut. Sepertinya perasaannya benar-benar berantakan. "Ah…jadi pengen ngebunuh seseorang." Mayu tersenyum janggal, dia terlihat sangat lain.
"Ma-mayu-san…" ucap Rin ketakutan setengah mati.
"Mungkin…aku harus membunuh Ted." Ucap Mayu dengan sebuah tawa jahat, dia lalu mengambil kapaknya, dan perlahan mendekati Ted sembari menyeret kapaknya. "Tedku yang malang~~~"
"Jangan lihat Rin." Len menutup kedua mata Rin dengan kedua tangannya, takut nanti Rin berteriak. Mayu lalu mengangkat kapak itu tinggi-tinggi dan…
"!?" Mayu merasa tangannya tak bisa bergerak, seperti sesuatu telah menahannya. "Tidak mung…kin…" Mayu berusaha sekuat tenaga dan sekarang memakai kedua tangannya untuk menggerakan kapak itu. Tapi tangannya tidak bisa bergerak, Mayu menutup matanya, mungkin saja, sihir Rin membuatnya tak bisa membunuh seseorang?
"Diriku yang lain? Maksudmu…" Rin mengambil foto dari salah satu kantung tersembunyi di gaunnya, "Dia?" Rin menunjuk bayangan yang berada di foto kecil itu pada Mayu dan Len,
Mata magenta,
Rambut honey blond mirip Rin yang panjang,
Dengan daster yang terdapat bercak darah.
Mayu mendekati Rin dan menatap cermin itu lekat,
"Rin, ini…dirimu?" tanya Mayu, Rin menggeleng, dia lalu tersenyum kecil.
"Hehe,siapa ya? rahasia perusahaan~" ucap Rin yang membuat Mayu dan Len sweat drop.
"Nah, sekarang kemana Gakupo dan Luka?" ucap Len bingung, karna portalnya sudah tertutup, mereka tidak tahu kemana Luka dan Gakupo pergi. Rin lalu memikirkan sesuatu, suatu cara agar bisa bisa menghubungi mereka.
"Itu gampang Len! Ada tongkatku!" kata Rin bangga sembari menepuk-nepukan tongkatnya pada tangannya. Rin lalu mengucapkan mantra, karna biasanya para magician yang tidak tahu kemana temannya pergi harus mengucapkan sebuah mantra level rendah, bola crystal ditongkat Rin bersinar keunguan, menandakan bahwa Luka telah ditemukan keberadaannya. Rin meloncat kegirangan, dan dia mulai mengirimkan pesan.
"Lu—"
"Hn…maaf aku telah mengambil tongkat Luka dan pedang Gakupo secara paksa, tapi aku melepaskan mereka."
Suara ini…
"Aku rasa…aku pernah mendengarnya…" guman Len.
"Kaito." Ucap Mayu,
'Kaito? Rasanya aku pernah mendengarnya…Kaito…hem…Oh!" pikir Rin sembari mengepalkan tangan kanannya dan memukulkan dengan pelan ke telapak tangan kirinya yang terbuka.
"Odipaien the pather tcos thedsgre." Tanpa sadar kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Rin. Sebuah portal terbuka, tapi bukannya Rin, Len, dan Mayu yang berjalan ke portal itu, portal itu malah menarik mereka dengan bayangan tangan berwarna hitam yang menakutkan. Jumlahnya juga sangat banyak.
"RIIIN! Kau mau bawa aku ke neraka apa!?" teriak Len tak berdaya karna dia adalah korban pertama yang ditarik, sedangkan yang masih selamat hanya tercengang saja dan tidak berusaha lari. Len mengumpat Rin dalam hatinya, apa Rin tidak menyukainya? Apa Rin membencinya? Dosa apa yang telah Len perbuat?
"Hyaaa!" Len menoleh ketika mendengar teriakan Mayu, ternyata Mayu juga ditarik, tapi dengan posisi kakinya yang ditarik, sementara kapaknya sudah masuk ke dalam portal. Bagaimana dengan Rin?
"Cepatlah kalian masuk." Ucap Rin dengan suara dingin, Len mendongakan wajahnya, mendapati 'diri lain' Rin, Rin lalu melompat ke dalam portal itu sembari menarik Len dan Mayu,
Tap.
"Ruangan apa ini…" guman Rin mengamati sekitar, ruangan yang terlihat memiliki banyak bercak darah.
"Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin hidup." Suara itu gadis kecil itu menggema, membuat Rin sedikit risih mendengarnya. "Maukah kau membantuku? Maukah?" suara itu muncul lagi. "Tolong…tolong…tolong aku…"
"Tch…" Rin mendecak kesal, dan melepaskan Len dan Mayu dengan kasar.
"Awww!" Len dan Mayu mendesah kesakitan karna kepala mereka sampai kepada ubin licin yang lumayan keras. Rin mengamati sekeliling dan mendapati sebuah pedang berada di atas langit-langit. Rin lalu menarik Len dan menunjuk ke arah pedang itu.
"Milik Gakupo?" tanya Rin. Len menggangguk dan melepaskannya dengan kasar.
"Hei, anak kecil. Kamu masih hidup?" tanya Mayu sepertinya dia penasaran karna suara itu mulai terdengar seperti lalat yang mengganggu tidurnya semalaman.
"Tentu saja. Dan dia mengurungku di ruangan ini." Suara anak kecil itu menggema lagi.
"Aku tak melihat apapun…tak ada penjara disini…" guman Mayu sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rin langsung menjitak kepala Mayu secara pelan. Mayu langsung menatap Rin dengan agak kesal. "Apaan!?"
"Gunakan indramu dengan baik. Disini ada sebuah kurungan dan kita juga ikut terkurung disini…" guman Rin, Mayu lalu melihat ke sekeliling, tidak ada jeruju besi, tidak ada tawanan, tidak ada apapun, ini hanya ruang penuh bercak darah yang kosong. Mayu lalu melihat Rin lagi, dan menggelengkan kepalanya,
"Hanya kau yang bisa melihat." Guman Mayu sembari mengangkat bahunya. "Benar 'kan Le—"
Mayu kaget ketika melihat Len dalam posisi duduk tenang melihat sekeliling, dia mengetuk-ngetukan udara "Tuk, tuk" tapi kalau dilihat dari posisinya dia seperti mengetuk-ngetukan meja, tapi tidak ada kursi ataupun meja yang nyata disana, apa itu tersamarkan…? Mayu lalu mengambil pensilnya dan menuliskan sesuatu didinding.
"Gaeisve mae the thonrusxtah," begitulah bunyi tulisannya, Mayu menutup matanya. Ternyata memang benar, disana terdapat kurungan yang terisi oleh seorang gadis kurus yang terus menangis, Mayu menelan ludahnya ketika dia melihat sekelilingnya, banyak sekali tengkorak-tengkorak. Mayu melihat ke arah Len yang mengetuk-ngetukan meja yang terbuat dari tulang belulang, sepertinya Len terlihat penasaran kenapa benda seperti ini ada dan tidak dapat terlihat? Sementara Rin hanya melihat langit-langit yang terdapat will-o'-the-wisp- yang tergantung dan menangis disana, sebenarnya dia melihat itu karna tahu kunci untuk keluar dari sini, adalah…pedang Gakupo.
"Pedang Gakupo…bagaimana caranya kita mengambilnya?" tanya Len karna bosan mendapati Rin yang terus memandang ke atas, Rin menatap Len dengan sedikit…khawatir, "Aku tahu itu sulit, apalagi ada will-o'-the-wisp…er…kita ambil pake tongkatmu saja?"
"Kalau tongkat ini rusak, kita tak akan bisa kembali lagi." Ucap Rin ketus dan dingin.
"Kalau gitu, bisakah kau sihir kapakku? Sihir dia menjadi panjang." Usul Mayu sembari tersenyum licik, Rin agak setuju dengan usulan itu, tapi senyum licik Mayu membuatnya tidak terlalu yakin, "Sebelum itu kita lepas saja dia?" tunjuk Mayu kepada gadis yang berada dikurungan. Rin menggeleng dan langsung terdapat pernyataan kecewa dari Mayu.
"Dia sama seperti mereka, kau mau kita mati karnanya?" guman Rin sembari menatap tajam Mayu dengan mata merahnya. Mayu lalu menatap ke arah lain, alias menatap gadis itu.
"Aku mau ketemu mama…papa… kenapa?! Kenapa!?" perlahan mata gadis itu meleleh, yang membuat Mayu langsung merinding, Rin hanya menghela napas dan mengambil kapak milik Mayu, Rin lalu memajangkan pegangan kapak itu dan mencoba untuk memutuskan tali pada pedang itu.
"Hup!"
CRACK!
"Oh…Riiinn~~~" keluh Len disaat Rin sukses membuat pedang Gakupo terbelah dua yang jatuh ke lantai. Rin hanya memasang wajah tidak bersalah, dan melihat pintu yang terdapat sebuah gembok emas besar, Rin lalu mencoba memakai pedang Gakupo sebagai kunci dari gembok itu dan pas. Rin tersenyum, dan dia memutar-mutar pedang itu, dan pintu itu lalu terbuka.
"Yeah!" Len keluar dari ruangan itu, disusul dengan Rin dan Mayu yang panik dan mengambil kapaknya. Rin lalu mengambil gembok besar itu, dan mengunci pintu itu dari luar.
"Kalau tidak dikunci, mereka akan ikut berkeliaran. Terimakasih." Tiba-tiba seorang wanita tua masuk menembus jeruji itu, diikuti seorang pria tua, mereka lalu mengeluarkan gadis dalam kurungan kecil itu dan memeluknya.
"Mama, papa…" gadis itu tersenyum dan melirik ke arah Mayu, gadis itu tersenyum. "Terimakasih…" guman gadis itu lalu dia hilang bersama kedua orang tuanya yang melambaikan tangan dan tersenyum kepada Rin, Len dan Mayu.
"Satu mimpi menjadi kenyataan. Gadis itu bermimpi keluarganya menyelamatkannya beberapa ratus tahun yang lalu, tapi gadis itu tak cukup umur hingga dia mati kelaparan disana, dan dia terus terkurung diruangan itu. Kalau kau yang melepaskannya, kau akan menjadi anggota keluarganya dan tak pernah aku menipumu, Mayu." Rin tertawa kecil, seperti dia pernah bertemu rintangan kecil ini. Mayu tersenyum jengkel.
"Kau menyebalkan." Ucap Mayu, "Tapi aku senang."
"Nah, sebuah koridor telah menunggu." Ucap Rin sembari menepuk pundak Len dan Mayu, dia lalu mendorong mereka perlahan. Masuk ke dalam koridor gelap, namun terdapat suatu hal dikoridor itu yang membuat Rin mengigit bibir bawahnya.
"Selamat datang kembali Lenka."
Sebuah tulisan besar yang bersinar, yang tidak diperhatikan oleh Len dan Mayu yang terus berjalan. Rin menggeleng-geleng 'kan kepalanya, dan terus berjalan. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah pintu putih.
"Baiklah," guman Len menegak ludahnya sembari membuka pintu itu.
Terlihat ruangan putih, yang terdapat sebuah patung yang terlihat seperti manusia terbaring di sebuah kasur yang tampak empuk. Disana terdapat berbagai macam barang yang indah, dan dilangit-langit terlihat lukisan bintang-bintang yang terlihat nyata. Lantai yang tersusun dari berbagai batu berwarna warni yang disusun sangat rapih. Mayu dan Len sesaat tertegun melihat semuanya, tetapi mereka menyadari keganjalan, untuk apa ruangan sebagus ini ditampilkan kepada mereka? Pasti ada jebakan. Pasti.
"Kalian menyadarinya…kalian menyadarinya…" patung yang tertidur membuka kelopak matanya, patung itu tidak mempunyai bola mata, hanya terdapat serangga menjijikan yang keluar dari matanya. Len dan Mayu ingin cepat-cepat pergi, dan mereka lalu membuka pintu berwarna merah itu, Len lalu menarik Rin lari yang entah kenapa terdiam bisu, sementara Mayu menyusul mereka.
BLAM!
Mayu menutup pintu itu kencang setelah dia berhasil keluar dari ruangan itu. Tapi mungkin dia akan menyesal nantinya…jika dia tahu ruang apa yang dia hadapi selanjutnya…
Ruangan-ruangan yang terdapat banyak TV tua, yang terus mengeluarkan suara bising karna rusak. Rin tidak menutup telinganya seperti Len dan Mayu, dia hanya menekan-nekan salah satu tombol dari TV itu, memindahkan salurannya ke saluran lain.
BZZT!
TV-TV itu menghilang dan berganti menjadi satu layar TV seukuran layar bioskop menampilkan seorang gadis yang besar dan menarik mereka semua ke dalam TV itu.
"U-uwaaa!" teriak Len dan Mayu histeris, saat mereka memasuki TV, mereka seperti ditarik ke bawah,
BRAAK!
Mereka terjatuh dalam sebuah ruangan gelap,
"Dimana Rin?" tanya Len bingung.
"Len…" suara Mayu yang seperti tertidur membuat Len terhenyak, Len melihat ke arah Mayu, dia terkurung dalam suatu jeruji besi yang sudah diberi obat tidur. Len menelan ludahnya, dan mencari jalan keluar, dia menemukan sebuah pintu dan coba mengangkat jeruji besi yang berat itu ke pintu itu, Len membuka pintu itu dan memasukan Mayu ke dalam, Len menghela napas lega.
"Rinto! Coba tangkap bola itu!"
Len menengok, mendapati seorang gadis mirip Rin berumuran 5 tahun sedang tersenyum pada seorang pemuda berambut honey blond yang terdapat jepitan berwarna hitam yang dijepitkan di poni kanan rambutnya yang diketahui Len bernama Rinto. Rinto mencoba menangkap bola itu dengan kedua tangannya sembari melompat dan berhasil,
Mereka berdua tertawa, Rinto dan gadis itu tertawa.
"Rinto! Lenka! Makanan sudah siap!" panggil seorang wanita yang terlihat lebih tua dari mereka, kira-kira 17 tahun lebih tua. Rinto dan Lenka lalu menghampiri wanita itu, dan memeluk wanita yang memanggil mereka.
"Nee…nee…kapan tante Meiko akan menemui om Big Al?" ucap gadis seperti Rin yang bernama Lenka itu sembari melihatnya.
"Errr…?" muka wanita bernama Meiko itu memerah, dia menggaruk pipinya. "Bulan depan…"
"Yeaah!" teriak Rinto dan Lenka bersamaan.
ZZRT!
Ruangan itu kembali menjadi ruangan yang berwarna hitam gelap. Len menutup matanya, dia lalu membuka matanya lagi karna mendengar suara tawa Lenka yang bahagia.
Disana Lenka terduduk disebuah padang rumput hijau dimalam yang ditaburi bintang. Disebelah Lenka terdapat Rinto yang sepertinya selalu menemani Lenka,
"Rinto-kun, apa kau punya cita-cita." Tanya Lenka sembari melihat bintang-bintang.
"Aku mau jadi yang terbaik…" jawab Rinto singkat sembari mengenggam tangan Lenka. Lenka lalu cemberut dan mengembungkan pipinya.
"Tak adakah yang lain?" tanya Lenka lagi.
"Hn? Kalau Lenka apa?" Tanya Rinto sembari mengenggam tangan Lenka.
"Aku akan menjadi magician yang terbaik!" ucap Lenka sembari berdiri di depan Rinto yang tiduran di atas padang rumput. Menutupi bulan di mata Rinto, namun membuat Rinto tersenyum karna Lenka terlihat disinari oleh bulan besar dibelakangnya.
"Kau sama saja denganku…" guman Rinto kecil hingga tak terdengar oleh Lenka.
"Rinto, janji ya…kau harus mewujudkan cita-citamu." Ucap Lenka sambil tersenyum. Dia menyodorkan jarinya sembari tersenyum. Rinto lalu melihat Lenka dan…
"Aku berjanji, akan mewujudkan cita-citaku." Ucap Rinto sembari tersenyum.
ZZZRTTTTT!
Ruangan terganti dengan ruangan yang penuh darah.
Mata Len terbelalak. Disana seorang pemuda berambut biru tua yang memakai syall sedang menusuk-nusukan pisau kepada wanita yang tadi ia lihat…Meiko…
Len menelan ludahnya.
"Ka-Kaito?" ucap Len walau tau Kaito takkan mendengarnya.
"Kau menikahi pria tua Bangka dan memiliki anak! MANA JANJIMU?! Kau itu milikku!" Len merinding, melihat Kaito yang terlihat menakutkan, padahal biasanya Kaito terlihat sebagai pemimpin bodoh, disebelah Kaito terdapat seorang pemuda berambut silver yang mempunyai ahoge berbentuk P, pemuda itu tersenyum.
"Kaito, sekarang kita tentukan siapa pemimpinnya…" ucap pemuda itu. Kaito tersenyum.
"Anak itu saja, kita bawa dia." Ucap Kaito dingin. Dia menunjuk seorang pemuda berumur 10 tahun yang telah mengalami pendarahan dan tak sadarkan diri, dia mengenggam 2 buah jepitan berwarna hitam ditangannya. Setelah Len lihat-lihat, itu Rinto. Mata Rinto yang berwarna azure itu menatap hampa sekeliling,
Kaito lalu mengendongnya, Rinto ingin protes, Rinto masih ingin, Rinto masih ingin bersama mamanya –Meiko—, bersama gadis itu. Tapi apa daya, Rinto tak berdaya, dia terluka, dia tersakiti, dia tak punya kekuatan.
"Maaf. Len…ka…" guman Rinto dengan suara kecil. "Aku tak bisa menemanimu."
ZZRT!
Pemandangan berganti dengan sebuah ruangan sekolah yang kelihatan hanya ada seorang pemuda,
Kreek..
"Kau lagi. Apa tidak ada gadis atau pemuda rank-A lainnya?" ucap seorang guru berambut silver dan mempunyai ahoge. Anak itu mengangkat bahunya,
"Mana kutahu… karna itu aku selalu membuat usulan buatlah kelas baru, tapi usulan pemimpin kalian malah dibantah." Guman pemuda itu yang terdengar seperti gerutu. Guru itu tertawa, "Tuh, kan, kau tertawa lagi, Piko."
"Maaf. Maaf." Ucap Guru yang ternyata bernama Piko itu, "Kau tidak berubah ya Rinto."
"Apanya?" jawab pemuda itu ketus.
"Ingin selalu jadi yang terbaik, lihat sekarang, jumlah L priest milik kita semakin bertambah, dan kita terus menebar mimpi buruk dimana-mana." Guman Piko sembari menepuk-nepuk pundak Rinto.
"Hn…" Rinto hanya memutar bola matanya, "Ini karna janji kecilku pada peri kecilku."
"Apa? Ohohoho…aku baru ingat kau meninggalkannya saat dia hamil?"
Muka Rinto memerah sempurna,
"Kau berisiiik!" Rinto menendang Piko dan tersenyum.
Sraak!
"Pemimpin! Kami akhirnya berhasil membunuh magician! Kudengar dia pemimpin di bumi." Rinto yang mendengar itu hanya memutar bola matanya,
"Trus kalian apakan?" sahut Rinto acuh tak acuh.
"Tentu saja! Kami lecehkan dia! Hahaha!"
"Siapa nama gadis itu?"
"Lenka katanya,"
Rinto tertegun, dia lalu berlari ke arah salah satu pemuda itu dan menarik kerah pemuda itu. Rinto menatap pemuda itu dingin, tatapan ingin membunuhpun membuat pemuda itu takut.
"Dimana dia?" kata Rinto dengan nada serius.
"Dia berada dipenjara, tuan, di-dipenjara…"
"Oh." Rinto lalu membanting pemuda itu kasar. Rinto lalu keluar dari kelas dan masuk ke dalam ruang yang dinamakan penjara,
Setibanya disana, Rinto tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa diam, dan menahan air matanya agar tidak turun, dia menatap seorang gadis berpakaian daster hitam yang dipenuhi bercak-bercak darah, dan sebuah tusukan di bagian dada yang bahkan pisaunya masih menancap. Gadis berambut panjang honey blonde itu memiliki wajah pucat seperti orang mati yang memiliki ekspresi marah dan dendam.
"Len…ka…" Rinto mengatakannya bersamaan dengan air mata yang jatuh kepipinya, "Ini…ini…ini…mimpi…ini hanya mimpi! Lenkaku masih hidup…dia masih hidup!" Teriak Rinto disela tawa hambarnya. "Ini mimpi! Ini mimpi!"
ZRRTTT!
Semuanya menjadi hitam, dan entah kenapa mata Len seperti menutup, dan terdapat rasa kantuk.
BRUUK!
Len terjatuh. Tapi dia tidak bergerak, dia tertidur, benar-benar tertidur.
(Rin POV)
Aku mendesah karna ruangan yang kutempati benar-benar dingin. Suhu tubuhku bahkan mulai mengikuti suhu ruangan ini, aku lelah, dan nafasku sangatlah tak beraturan sekarang. Aku tak berdaya, rantai-rantai berduri yang mengikatku bahkan berhasil merobek kulitku dan mengeluarkan darah segar, sebagian bahkan membeku karna suhu ruangan ini.
"Mama…"
Aku memandang pintu putih itu dengan mata azureku, perlahan…namun pasti…diriku terjebak dalam sebuah nostalgia saat mamaku memasakan sup hangat untukku. Air mataku perlahan mengalir hingga ke daguku, membasahi gaunku, saat melihat wajah mama yang terlihat bahagia denganku.
"Lenka-san…"
Aku tak ingin mati, aku masih ingin hidup. Aku ingin bersama Luka dan yang lainnya. Tertawa bersama dan saling bercanda. Kenapa, kenapa…
BRAAK!
Pintu itu terbuka, menampakan seorang pemuda berambut honey blond yang memakai jepitan diponinya.
"Syukurlah…" dia lalu memelukku, aku hanya melihatnya datar. Aku tak mengenalnya, dia memang mirip Len, tapi aku yakin dia bukanlah Len.
"Kau selamat Rin. Aku bersyukur…" dia lalu melepaskan rantai yang menyiksaku dengan menggunakan pedang berwarna merah darah.
"Kau siapa…?"
Orang itu terdiam dengan sebuah senyuman dibibirnya.
"Aku, aku ayahmu…" ucapnya lalu menggendongku. Menuju sebuah ruangan megah nan indah.
"Ayah?" tanyaku kepadanya, selama ini aku tak pernah bertemu dengannya. Mimpi? Apakah ini hanya tidur panjangku?
"L priest –sama!" panggil seorang pemuda yang pernah kulihat—
"KaitoGay…-sama?" itulah yang terucap dari mulutku. Kaito terdiam dengan sebuah tanda kemarahan, dan melihatku sinis. Dia lalu menunjukku,
"Kenapa kau bawa dia, Rinto L priest-sama…" Kaito membuat sebuah tekukan di wajahnya. Rinto terkekeh sebentar.
"Dia, dia anakku, ada apa?"
"Bah, jadi memang benar kau itu…sudah jadi janda—"
Buak!
"Kutekankan janda itu untuk seorang wanita yang sudah menikah dan ditinggal suaminya. Kau mengerti?" dengan santai, Rinto memukul Kaito dengan sangat keras dan juga suara beratnya yang dingin, mengingatkanku kepada suara dari rekaman video pernikahan mama. Tapi aku tak pernah melihatnya, kata mama itu terlalu dewasa.
"Nah, Rin…wajahmu mirip seperti mamamu." ucap Rinto sembari melihatku. "Aku mencintaimu."
"Jadi Rinto-san…" tiba-tiba seorang pemuda berambut silver sebahu dengan ahoge berbentuk P, melihat kami perlahan. Dia tersenyum, "Ini akan jadi hari terakhirmu." Ucapnya sembari melayangkan 3 buah pisau kepada kami, aku terhenyak dan menutup mataku.
CRAPP!
"Kya!" aku berteriak ketika merasakan sesuatu mengalir, hangat dan kental. Aku membuka mataku perlahan, mendapati seseorang yang mengendongku sudah tak memiliki kepala lagi dan mendapati kepalanya telah berada dilantai itu. Aku menelan ludahku, dan berusaha lepas dari gendongan seseorang tanpa kepala itu. Aku lalu melihat ke arah pemuda itu, yang melihatku dengan tatapan tanpa mengenal perasaan.
"Kau takkan bisa lari." Ucapnya sembari mengangkat pisaunya tinggi-tinggi.
Sraak!
sebuah pisau daging menancap dilengan pemuda berambut silver itu. Pemuda berambut silver itu menggeram, gemeletuk-gemeletuk giginya bahkan bisa terdengar jelas di telingaku. Kaito lalu melihat pemuda itu sembari menunjuk pemuda itu dengan sebuah pisau.
"Apa yang kau lakukan Piko? Mengkhianati L-priest-sama?!" tangan Kaito tak bergetar atau apapun. Mata biru lautnya melihat pemuda yang kuketahui bernama Piko itu dengan tatapan menyesal. Piko terkekeh pelan, melihat Kaito yang mulai terlihat marah.
"Kau memanggilnya dengan sebutan ' L priest-sama' harusnya akulah yang kau panggil seperti itu." Ucap Piko sembari mengeluarkan pisau daging itu, dan menjilat pisau daging yang telah berlumuran darah miliknya sendiri. "Ah, aku menyesal. Mengundangmu ke organisasi gelap karna kemarahanmu." Piko tertawa hambar, dia lalu membentangkan tangannya dan berkata,
"Harusnya aku! Aku yang menjadi pemimpin penghancur mimpi!" Kaito mendecak kesal.
"Kau sakit, kau sakit Piko. Pergilah ke neraka." Suara Kaito yang terdengar penuh dengan kemarahan dan kesedihan, hanya membuat Piko semakin terkekeh dan memunculkan senyuman lebarnya.
"Apa kau bilang?" Piko menjentikan jarinya, dan memunculkan makhluk raksasa tinggi yang memiliki tanduk berwarna hitam, dengan wajah seperti domba gagah dan badan kekar, disekelilingnya terdapat api berwarna orange yang menyala-nyala. "Kau akan menyesal Kaito, telah melukaiku dan telah merobek jas kesayanganku." Piko membersihkan lengan jasnya dengan tangan kanannya, sembari memandang jijik Kaito.
"Cih, beraninya kau memakai sihir…" ucap Kaito.
"Selamat tinggal, Kaito." Guman Piko sembari tersenyum. "Nah, Eirfirta-sama, silahkan~~~"
"Musnahkan sampai tak ada jejak." Eifirta mendekati Kaito, mengambil sesuatu didalam gelang yang melingkari lengan raksasanya, benda berwarna merah menyala seperti bongkahan batu yang terlihat seperti kerikil dari mata Eifirta. Dia melemparkannya pada Kaito dengan 30 kerikil per detik.
"Uwaaaaa!" Kaito berlindung dengan sebuah perisai yang langsung meleleh ketika terkena benda itu. Piko tertawa jahat dan melihat rendah Kaito,
"Kau tahu? Itu adalah batu kerikil neraka yang telah bertahun-tahun disimpan." Guman Piko. "Kau sudah setua ini bahkan tak bisa memanggil servant!? Cukup pantas untuk seseorang yang mendapat rank-E di magician!"
Aku terhenyak. Kaito? Kaito sama sepertiku?
"Diam kau!" jawab Kaito ketus sembari menghindari bongkahan batu besar yang terus diarahkan padanya. Mengambil perisai yang berada diruangan itu agar bisa melindunginya. Piko hanya tersenyum,
"Ah, tampaknya benda diruangan ini mengganggu pertunjukan terakhirmu. Hei, servant…cepat musnahkan semua perisai.
Eifirta hanya mengangguk dan menghancurkan perisai, pedang dan peralatan perang lainnya. Aku hanya bisa melihat mereka, tidak bisa membantu Kaito.
Kaito menunduk, aku hanya bisa melihat liquid berjatuhan ke lantai, dan melihat perisai terakhir miliknya yang masih utuh. Kaito mencoba terus menghindar, walaupun Eifirta berhasil menyerang perisainya ribuan kali hingga meleleh,
"Haha." Kaito tertawa ketika melihat perisainya sudah hampir sepenuhnya meleleh, dia membuang perisainya dan tertawa kecil. "Sepertinya aku harus membuat kebaikan disaat terakhir." Kaito lalu melemparkan tongkat ke arahku sebuah tongkat biru sapphire yang memiliki bola yang tak menempel di tongkatnya, bola berwarna ruby itu terlihat seperti gumpalan darah yang telah membeku dan mengalami kristalisasi. "Cepat panggil semua orang kemari, tekanlah bola itu hingga menempel pada tongkatnya." Disaat Kaito mengatakan itu, sebuah bongkahan batu itu… menabrak dirinya hingga menempel ke dinding. Piko menguap dan melihat ke arahku,
"Membosankan~~~ Benar'kan nona?" ucapnya pelan, mahkluk besar— Eirfirta itu hilang sembari meninggalkan jejak bekas darah yang membeku. Piko melempar-lempar pisau daging dan menangkapnya sembari berjalan ke arahku, "Kau tak perlu mati menyedihkan, kau hanya perlu mati dengan sangat indah."
Piko tertawa, tertawa dengan sangat jahat.
'Tekanlah bola itu hingga menempel pada tongkatnya.' Suara itu mengiang dikepalaku, aku lalu berusaha menekannya, tapi bola itu kembali terangkat ke udara dan terangkat ke udara lagi. Jarak Piko denganku semakin dekat,
"Matilah dengan tenang." Ucap Piko sembari mengarahkan pisau dagingnya ke leherku, aku melihat ke arahnya, dengan tangan yang menekan bola itu dengan sekuat tenaga ke tongkatnya. "Ada permintaan terakhir?"
"A-aku…tidak mau mati…"
SRIIING!
Cahaya yang berasal dari bola itu lalu menyilaukan pandangan Piko dan diriku. Aku menutup mataku karna saking silaunya cahaya itu.
"Ohoho. Ternyata itu dia."
Suara seorang gadis membuat mataku terbuka, aku hanya merasa ruangan megah itu kini berganti dengan nuansa ruangan yang terlihat kosong dan dipenuhi meja murid-murid. Se-sekolahku?
"Lama tak jumpa, Piko." Aku menengok melihat seorang gadis berpakaian serba hitam dengan rambut ungu lembut yang diikat dua kedepan melihat Piko dengan tatapan pembunuh. "Kau sudah senang main-main?"
Aku melihat Piko yang berusaha kabur lewat jendela tetapi…
CRAAP!
"Enak saja kau kabur." Seorang pemuda yang kukenal menusuk dari belakang kepada Piko. Dia tersenyum lembut,
"Doevinta heirao luifuea pefacre." Seorang gadis kecil mengayunkan sebuah tongkat berwarna hitam, membuat sebuah lubang hisap yang tak akan membuat orang yang memasukinya kembali.
"Selamat tinggal…" ucap Luka yang sudah berada dibelakangku. "Dengan ini, semua pasukan L priest akan sadar dan meninggalkan kekuatan ingin menghancurkan mimpi seseorang."
"Rin? Kau…" aku langsung memeluk pemuda yang tadi menikam Piko. "Ri-Rin?"
"Lennn~~~" Aku menutup mataku, dan memeluknya erat. "Len~~~ maukah menikah denganku?"
"…loh? Kau melamarku Rin?" Len membuka mulutnya hingga berbentuk kotak, Rin mengangguk. Luka dan kedua gadis tadi tertawa kencang.
"Rin! Harusnya Len yang melakukannya!" teriak Gakupo yang entah kenapa dia berada dibalik Len, Huh? Perasaanku saja atau Gakupo…tinggi badannya…menyusut?!
"Hehe. Kau terkejut ya aku berwujud seperti ini? Ini permintaan Luka agar bisa—"
BUAK!
"I-itu bukan apa-apa Rin!" sambar Luka sembari menghajar little-Gakupo- hingga membuat wajah Gakupo menyentuh dinding. Aku tertawa pelan dan melihat ke arah Len,
"Rin…" sebuah senyum simpul milik Len terlihat begitu manis dan mempesona. "Maukah kau menikah denganku, madam?"
"Tentu…ahh…" Aku menjawab sembari linglung. Aku menutup mataku, dan terjatuh dalam ayunan buaian yang indah.
-(Normal POV)-
10 tahun kemudian…
Len terdiam disebuah ruangan. Di ruangan berwarna merah muda dengan hiasan-hiasan seperti pesta, Len menunggu dengan malas, menunggu sesuatu…yang akan dia simpan selamanya.
Langit-langit yang tak terlihat namun diyakini terbuat dari batu pualam itu, banyak orang berdatangan dengan jas dan gaun mewah yang sedang menanti seperti Len. Dibarisan depan terduduk Mayu yang tentunya membawa Ted yang sedari tadi bercanda ria sebelum diberikan tatapan sinis Len, Luka dan Gakupo yang membawa seorang anak kecil manis yang terus tersenyum, sementara dibelakangnya terdapat kepala sekolah dan berbagai macam orang yang datang yang pasti itu teman Len dan…Rin.
"Maaf aku terlambat!" teriak seorang gadis berambut honey blond dengan gaun putih mewah. Semua orang bertepuk tangan, orang yang mereka nanti telah datang.
"Huuu~~~ kamu gimana sih Rin! Harusnya Len yang telat, bukan kamu! Ga elit dong kalau cewe yang telat gimana—uuph!" celetukan Mayu yang besar walau berhasil dibungkam oleh Ted membuat muka Rin memerah sempurna. Rin langsung saja berlari menuju Len dan memeluknya, tapi…
"Heeh. Nanti aja setelah proses pernikahan selesai!" ucap seorang pemuda yang langsung menepuk-nepuk bahu Rin dan Len, Rin dan Len langsung tertawa kecil dan…melihat Gakupo yang tadi menepuk bahu mereka.
"Erhem. Baiklah kita mulai~" ucap seseorang.
-Skip-
"Sekarang kalian boleh mencium pasangan kalian." Rin dan Len tersenyum. Len menatap mata Rin dalam. Dia bisa melihat sinar kebahagiaan disana. Perlahan-lahan mereka lalu mempertemukan bibir mereka satu sama lain.
"Aku mencintaimu, Rin."
"Aku juga Len."
-(Kagamine Mansion)-
BYUUR!
"KYAAA!"
"Bangunlah Rin! Kau ini sudah mau tidur sampai jam berapa hah!? Maaf karna membuatmu menunggu lama." ujar seseorang berambut silver dengan ahoge, alias Piko yang menyiramnya dengan ember. Rin langsung ketakutan melihat Piko tetapi dia merasa Piko terlihat begitu berbeda.
"Apa?"
"Jadi tadi hanya mimpi?!" ucap Rin dengan suara kecewa. Mimpi menikahi Len yang sangatlah cakep, itu hanya mimpi!? Rin mengerang kecewa dan mengacak rambutnya hingga kacau.
"Ada apa sih Rin?" kata Piko. Dia terlihat kebingungan.
"Ah, ga! GA ADA PAPA!" ucap Rin yang terlihat sangatlah aneh ditelinga Piko. Rin tak pernah seperti ini.
"Err…ya sudah deh, sekarang kita harus pergi ke rumah Len." Guman Piko dengan membawa sebuah kotak kado besar yang ia bawa dengan ember tadi.
"Huh?" guman Rin bingung.
"Kau payah deh Rin, sekarang 'kan hari ulang tahunmu dan Len." Piko cemberut dan langsung lari dari Rin menuju rumah Len.
Rin membatu,
Apakah mimpi tadi adalah hadiah mimpi untuk dirinya?
Rin menggeleng dan tersenyum.
"Ah…aku takkan pernah lupa mimpi itu." Rin lalu berjalan di tengah jalan yang sepi itu.
Fin.
.
.
.
.
Holaaaaaa terimakasih sudah mau membaca XDb.
All Vocaloid and Utauloid : jangan lupa review, flame, atau apalah itu yaaaaa!.
Rani, Suiren, Veronica : =_="
