Chapter 4 : Langkah pertama : Berteman


"Aku—"

Ya, apa-apaan dia! Rutuk Naruto dalam hatinya.

Jarak Sasuke yang begitu dekat membuat Naruto dapat mendengarkan tarikan napas Sasuke, naik dan turun secara teratur dan itu membuat jantung Naruto berdebar lebih cepat dari biasanya. Menyusahkan saja, lagi-lagi Naruto menggerutu dalam hatinya.

"Ya, jauh-jauh dariku." Naruto mendorong Sasuke agar menjauh darinya, jarak yang terlalu dekat antara dirinya dan Sasuke membuat perut Naruto bergejolak—mual lebih tepatnya. "Jika kau ingin berbicara maka wajahmu tak perlu dekat-dekat denganku. Itu menggelikan." Naruto mengalihkan pandangannya, berusaha mengatur detak jantungnya yang kini berdebar sangat kencang ketika Sasuke mencoba mendekati dirinya lagi. Selain itu, perutnya terasa mual.

"Hn." Hanya itu yang dikatakan Sasuke yang membuat Naruto ingin menendangnya jauh-jauh.

"Jika kau tak serius ingin berbicara denganku, lebih baik kau pergi dari sini. Teman-teman sempurnamu pasti sedang menunggumu." Naruto mendorong tubuh Sasuke sekali lagi, tetapi tubuh Sasuke tak bergeming.

"Aku di sini bukan karena aku ingin menghinamu. Aku ingin mengatakan sesuatu kalau aku—"ucapan Sasuke terpotong ketika Shikamaru yang merupakan teman sekelasnya memanggil Sasuke untuk segera masuk kelas.

Naruto dapat bernapas lega. Shikamaru telah menyelamatkan dirinya dari Sasuke yang sedari mengusiknya.

"Sudah sana pergi, kau menyusahkanku saja." Naruto mengusir Sasuke dengan mendorong tubuhnya.

Naruto terhenyak ketika mendengar Sasuke menghela napas.

"Bisa kita bertemu nanti?" Sasuke bertanya pada Naruto, membuat Naruto kebingungan. "Aku ingin membicarakan sesuatu yang tak sempat aku katakan saat ini." Lanjut Sasuke.

"Tergantung. Jika kau ingin menghinaku, aku tak mau. Lagi pula, kau aneh sekali hari ini." Jawab Naruto yang ditanggapi senyuman kecil dari Sasuke. "Sudah sana pergi, aku bosan melihatmu. Dasar ayam tiren." Ucap Naruto yang diakhiri dengan ejekan.

Sasuke tak membalasnya. Setelah itu, Sasuke pergi dari sana, meninggalkan Naruto sendirian di taman belakang sekolah. Kini giliran Naruto yang menghela napas, merebahkan dirinya direrumputan seraya memandangi awan di langit sana. Beberapa menit kemudian Naruto sudah melayang ke alam mimpi, melupakan masalahnya sejak tanpa menyadari ada seseorang yang sedang mengintai dan menatapnya dengan tatapan menusuk dan penuh dendam.

.

.

"Kau menyukainya?" tanya Shikamaru ketika Sasuke sudah duduk di bangkunya.

Sasuke hanya terdiam, mengambil buku, membukanya sembarang, dan pura-pura membacanya.

"Kalau kau menyukai, kau jangan pernah mempermainkannya." Shikamaru kembali berucap tanpa peduli Sasuke akan mendengarkannya atau tidak sama sekali. "Jika kau ingin mainan baru, kau bisa mencari yang lain. Jangan dia! Atau kau akan menyesal nantinya." Terdengar ucapan Shikamaru tak main-main.

Sasuke menoleh ke arah Sasuke, mengernyitkan dahinya. "Maksudmu?" kini Sasuke tertarik dengan perkataan Shikamaru.

Shikamaru menghela napas. "Aku tidak mau dia terluka, sudah sering dia terluka karena cinta. Cinta sudah membuatnya kehilangan segalanya. Naruto yang sekarang kau lihat, itu bukan Naruto. Dia berbeda." Shikamaru memberi tahu tanpa ditanya. "Aku peringatkan dirimu sekali lagi. Jika kau hanya mempermainkannya maka kau akan berurusan denganku." Dibalik suaranya yang pelan, ada ancaman di sana. Shikamaru tak pernah main-main dengan ucapannya. Sasuke tahu akan hal itu.

"Kenapa kau peduli dengannya?" Sasuke begitu penasaran karena Shikamaru begitu melindungi monyet pirang—Naruto.

"Karena dia sepupuku, Sasuke." Jawab Shikamaru yang membuat Sasuke terkejut.

"Kau sepupunya?" tanya Sasuke mengerutkan keningnya. Sasuke tidak tahu bahwa Shikamaru adalah sepupu Naruto.

"Hn." Jawab Shikamaru seadanya. "Karena aku sepupunya maka kau tak boleh mempermainkannya. Jika kau ingin berhenti ini saatnya. Aku tahu kau menyukainya. Bukan begitu, Sasuke?"

Sasuke tidak menjawabnya karena Asuma Sensei telah tiba di kelas. Shikamaru segera mengalihkan pandangannya ke papan tulis.

Mendadak, Sasuke menyadari kalau dia sudah jatuh cinta dengan monyet kuning yang dia temui beberapa hari yang lalu. Jujur Sasuke akui, Naruto sudah menggetarkan hatinya yang keras seperti batu. Bahkan Sakura yang merupakan mantan tunangannya tak mampu melakukan yang seperti Naruto lakukan. Tetapi Sasuke terlalu malu untuk mengakui karena dia tidak percaya dengan cinta pandangan pertama. Lagi pula mereka sama-sama berkelamin sejenis. Sasuke terus menyangkalnya tetapi tetap saja, bayangan Naruto selalu hadir di setiap malam.

Ketika Sasuke melihat Naruto terjatuh dari atas pohon, Sasuke merasa dia melihat malaikat yang jatuh dari kayangan. Wajah yang manis dengan rambut berwarna terang seolah-olah sedang menyinari Sasuke. Alih-alih ingin memuja keindahan di depannya. Sasuke malah mengeluarkan kata-kata sarkasme yang membuat dirinya mengutuki diri sendiri setelah itu tetapi dengan cara seperti itu Sasuke bisa berdekatan dengan Naruto.

Sasuke akui dia sangat marah ketika Suigetsu menghina Naruto. Sasuke ingin membantu Naruto tetapi dia justru menyeringai pada pemuda itu. Sungguh memalukan ketika Sasuke menyadari bahwa dia sudah jatuh pada pelukan Naruto walaupun dia belum mengungkapkan isi hatinya pada Naruto. Sasuke ingin mengatakannya tetapi dia takut malah kata-kata sarkasme yang keluar dari mulutnya dan membuat Naruto semakin membencinya.

Sasuke berharap tadi berhasil mengatakan bahwa dia ingin berteman dengan Naruto tetapi Shikamaru datang dan mengagalkan semuanya. Sasuke mengutuk kedatangan Shikamaru di dalam hati tetapi ketika dia tahu bahwa Shikamaru adalah sepupu Naruto, hal itu semakin rumit.

Pikiran Sasuke tidak dapat fokus pada pelajaran. Hanya Naruto yang berada dalam pikirannya. Naruto sudah menjadi candu baginya. Ya, Sasuke harus mengatakannya walaupun dia tahu Naruto pasti akan memakinya. Biarlah yang penting dia bisa berteman terlebih dahulu dengan Naruto sebelum dia mengambil hatinya. Sasuke berjanji di dalam hati dia tidak akan menyakiti Naruto seperti orang-orang yang menyakiti Naruto. kalau perlu, dia akan membalas dendam jika Sasuke tahu orangnya. Mungkin Sasuke terlalu jauh memikirkannya tetapi jika dia sudah mencintai seseorang, dia akan selalu melindungi orang itu dan membalas siapa pun yang berani menyakiti orang yang dia cintai.

Tanpa terasa, bel pulang berbunyi, Sasuke segera membereskan bukunya dan bergegas menuju kelas Naruto. Tingkah Sasuke membuat seisi kelas terheran-heran. Tidak seperti biasanya, Sasuke terburu-buru seperti dikejar anjing. Hanya Shikamaru yang mengetahui sebab Sasuke seperti itu.

Sasuke segera mendatangi kelas Naruto dan menanyakan keberadaan pemuda itu tetapi semuanya menjawab bahwa Naruto telah pulang. Sebagian wanita di kelas Naruto berteriak senang ketika Sasuke datang ke kelas mereka. Bahkan mereka berebutan menjawab pertanyaan Sasuke. Mendapati Naruto telah pulang, Sasuke memutuskan untuk menyusul Naruto karena kemungkinan besar Naruto belum terlalu jauh dari sekolah.

Tebakan Sasuke tepat sasaran. Dari tepatnya berdiri Sasuke melihat Naruto berjalan melewati gerbang sekolah. Dalam diam, Sasuke mengikuti Naruto dengan jarak yang lumayan jauh. Sasuke tidak ingin Naruto tahu bahwa dia sedang diikuti tetapi Sasuke merasa ada yang aneh ketika dia melihat dua orang yang mengikuti Naruto dengan jarak yang begitu dekat.

Sasuke terus memusatkan pandangannya pada Naruto dan dua pemuda yang berada di belakangnya. Ketika jalan tampak sepi, dua pemuda itu membekap Naruto dari belakang dan menyeret Naruto ke dalam sebuah van hitam.

"Sial!" umpat Sasuke, mengenggam tangannya. Segera dia berlari untuk mengejar van itu tetapi jika dia berlari seperti ini maka Sasuke akan kehilangan Naruto.

Sasuke segera menghentikan taksi dengan paksa, kemudian dia menyuruh sopir untuk mengikuti van yang berada tak jauh dari mereka.

Van yang diikuti Sasuke berhenti di sebuah bangunan yang tak berpenghuni. Sasuke menyuruh sopir taksi berhenti dan tetap menunggunya. Sasuke segera menyusul ke dalam bangunan itu. Sasuke bergerak dengan hati-hati. dia tidak ingin pergerakannya ketahuan. Sasuke bertekad untuk menyelamatkan Naruto walaupun dia harus mempertaruhkan nyawanya.

Sasuke bersembunyi. Dia tidak ingin bertindak gegabah yang akan membahayakan Naruto. Sasuke terus memerhatikan apa yang akan dilakukan empat pemuda itu pada Naruto. Sasuke tidak melepaskan pandangannya dari Naruto.

Satu pukulan menghantam wajah Naruto dan yang terjadi Naruto malah meludah pada mereka. Sasuke tersenyum, itu adalah Naruto yang dia kenal. Tidak pernah takut dengan apa pun.

"Pukulanmu lemah sekali. Jangan-jangan kau ini perempuan." Naruto tersenyum mengejek.

Sasuke memang tidak salah memilih pujaan hati.

"Sial!" Satu pukulan lagi menghantam pipi Naruto. "Kurang ajar! Seharusnya kau takut pada kami." Ancam pemuda itu.

Dari tempatnya bersembunyi, Sasuke menggengam tangannya dengan kesal. Ini saatnya dia muncul dihadapan mereka tetapi Sasuke segera mengurungkan niatnya ketika melihat seseorang yang begitu dia kenal menghampiri Naruto, bergabung dengan empat pemuda yang menyiksa Naruto.

"Neji!" Seru Naruto tak percaya. "Kau sudah gila? Apa yang kau lakukan?" Naruto terlihat geram ketika melihat Neji tertawa padanya.

"Aku sudah memperingatimu untuk menjauh dari Gaara. Bukankah aku sudah memperingatimu." Neji mencengkram wajah Naruto.

Naruto berusaha melepaskan cengkraman Neji dari wajahnya.

"Aku dan Gaara hanya bersahabat dan untuk apa kau peduli jika aku dekat dengann Gaara. Bukan kah kau tidak berhubungan dengan Gaara?" Naruto membalasnya dengan seringai yang membuat Neji melayangkan pukulan pada Naruto.

"Kau menjijikan Naruto. Pantas saja kau selalu menderita. Menyedihkan."

Neji memberikan perintah pada anak buahnya untuk menghajar Naruto. Pukulan yang Naruto terima membuat Naruto terbatuk-batuk, mengeluarkan darah. Melihat keadaan sudah semakin parah, Sasuke segera keluar dengan santai dan tersenyum. Semua yang berada di sana terkejut, termasuk Naruto yang menoleh ke arah Sasuke.

"Sasuke." Dengan lirih Naruto mengatakannya. Napasnya terasa habis.

Sasuke terlihat tenang di tempatnya. Sasuke bersandar di dinding dan tersenyum pada mereka semua.

"Aku tidak menyangka kalau Neji yang dikenal sebagai orang yang baik justru melakukan sesuatu yang membuat nama keluarganya akan hancur. Hm mungkin ini akan semakin menarik." Sasuke dengan santai, mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menggoyangkan-goyangkannya.

"Aku sudah merekam semuanya di sini. Bagaimana kalau aku menyerahkan ini pada kepala sekolah dan orang tuamu? Bukankah kau harus takut, Neji?" Sasuke menyeringai.

Neji terlihat tak bergerak dari tempatnya. Kedua orang yang memegang tangan Naruto segera menerjang ke arah Sasuke tetapi dengan cepat Sasuke menghindar.

"Jika kalian menerjangku seperti tadi maka batu ini akan melukai kalian. Bukannya aku sombong tapi tikus-tikus seperti kalian tidak pantas untuk berhadapan denganku. Atau kalau kalian ingin memaksa, aku bisa mengirimkan semua kejadian ini pada semua anak di sekolah. Aku hanya perlu menekan tombol kirim di ponselku." Sasuke menunjukkan ponselnya.

"Sial!" Neji mengumpat kesal. "Cepat kita pergi." Neji menyuruh anak buahnya untuk pergi, meninggalkan Naruto dengan Sasuke.

Setelah kepergian Neji dan anak buahnya. Sasuke menghampiri Naruto.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke pada Naruto yang kini menyandar pada dinding di belakangnya.

"Menurutmu?" Naruto balik bertanya seraya menyentuh lukanya. "Aw!" Naruto meringis kesakitan.

"Kita harus ke rumah sakit." Saran Sasuke.

"Tidak usah. Biarkan saja nanti sembuh sendiri." Naruto menghela napas. "Sas,"

"Hn." Jawab Sasuke yang kini duduk di samping Naruto.

"Terima kasih." Ketika mengatakannya, Naruto mengalihkan mukanya dari Sasuke.

"Untuk apa?" Sasuke terlihat bingung.

"Kau jangan pura-pura tidak tahu." Naruto menggeram kesal.

"Aku memang tidak tahu kau berterima kasih untuk apa."

Naruto mengepalkan tangannya karena dia tahu Sasuke pura-pura bodoh.

"Baik, aku berterima kasih karena kau menolongku dari Neji."

Sasuke tersenyum membuat wajah Naruto memerah. Jarang sekali Naruto melihat Sasuke tersneyum dan ketika Sasuke tersenyum, itu membuat Naruto merasakan sesuatu yang aneh.

"Hentikan senyum bodohmu itu." Ucap Naruto dengan kesal. "Kau tidak cocok dengan semua itu."

"Baik, aku akan melakukannya." Sasuke berhenti tersenyum, dan kembali dengan muka tanpa ekspresinya.

"Tapi darimana kau tahu aku ada di sini? Jangan-jangan kau mengikutiku?" Tanya Naruto dengan penasaran.

"Kalau aku mengikutimu, kau mau apa?" Sasuke balik bertanya. "Karena kalau aku tidak mengikutimu maka kau tidak mungkin selamat dari itu semua. Kau akan berakhir di sini tanpa ada yang menyelamatkanmu."

Jawaban Sasuke yang terbuka membuat Naruto tersenyum tipis dan bergumam. "Bodoh."

"Ha? Apa yang kau katakan?" Sasuke bertanya tetapi Naruto menggelengkan kepalanya.

"Bukan apa-apa. Sudah lebih baik kita pergi dari sini."

"Ya. Kita harus pergi dari sana." Sasuke membantu Naruto berdiri dan berjalan.

"Sas," dengan nada yang pelan, Naruto memanggil Sasuke.

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Naruto penasaran. "Yang ingin kau katakan saat kita di taman tadi." Naruto menegaskan lagi pertanyaannya.

Sasuke membuka mulutnya tetapi menutupnya kembali.

"Sudah kau tidak perlu ragu-ragu mengatakannya." Ucap Naruto memastikan Sasuke untuk mengatakannya.

"Ah, itu. Apa ini saat yang tepat untuk mengatakannya?"

"Ya." Jawab Naruto. "Ini waktu yang tepat."

"Teman." Ucap Sasuke singkat.

"Apa?" ucapan Sasuke membuat Naruto kebingungan.

"Aku hanya ingin berteman denganmu."

"Kenapa?" Naruto tambah tidak mengerti.

"Karena kau berbeda dengan orang lain."

Tiba-tiba wajah Naruto memerah.

"Kau tidak memandangku seperti orang kebanyakan. Bahkan kau orang yang sangat membenciku. Di saat orang lain memujaku kau malah menunjukkan sikap yang lain karena itu aku ingin berteman denganmu. Kau berbeda."

"Aku tidak berbeda Sas. Kita ini sama-sama menghirup udara yang sama." Naruto mencoba tersenyum tetapi rasa sakit menjalar di kedua pipinya. "Jadi mulai saat ini, kau jangan memanggilku monyet."

"Hn, itu akan kupikirkan. Tergantung bagaimana sikapmu nanti."

"Jawabanmu membuatku semakin membencimu."

"Tidak apa-apa. Aku malah menyukainya."

"Kalau kau masih memanggilku monyet maka aku akan selalu memanggilmu ayam."

"Tidak apa-apa. Itu membuktikan bahwa kita adalah teman. Anggap saja itu panggilan sayang bagi kita berdua."

"Kau gila."

"Aku tahu."

Kemudian mereka tertawa bersama-sama, melupakan segela perdebatan yang selama ini terjadi. Sasuke merasa beruntung dia dapat sedekat ini dengan Naruto walaupun dengan cara yang terbilang tidak biasa. Tetapi jika caranya seperti ini, maka Sasuke sangat berterima kasih pada

Mulai dari berteman maka langkah pertama sudah sukses Sasuke lancarkan. Tinggal langkah selanjutnya yang akan dia laksanakan. Sasuke sudah tidak sabar menantikannya hingga saat Naruto menjadi kekasihnya.

TBC


Kembali hadir setelah lama bertapa~

Terima kasih atas review dan fav/follow cerita ini~