Warning: Author lagi PTSD pasca sidang. Kemungkinan ada detil-detil yang tidak nyambung dengan chapter sebelumnya, karena sejujurnya saya juga lupa sama chapter sebelumnya /oy


.

.

.

.

.

Keluarga Kunihiro

.

.

"Akhirnya kau datang."

Menyeruak dari balik pepohonan, Yamanbagiri Kunihiro tidak berkata apa-apa. Ia menghampiri Mutsunokami dengan langkah pelan, pedang miliknya yang berlapis kain kotor ada di tangan. Ia menatap lama sahabatnya itu—ah tidak, untuk hari ini, orang itu adalah musuhnya. Cie.

Hari ini mereka akan beradu pedang, pertama kali sejak beberapa tahun ini. Terakhir kali mereka berduel adalah seminggu sebelum pendaftaran Turnamen Kendo sewaktu SMA. Saat itu, Mutsunokami kalah telak dengan kejantanan nyaris tersunat. Ia masih jadi laki-laki hingga saat ini karena belas kasih Yamanbagiri saja.

Kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Aura percaya diri yang asing menyala dari dalam diri Mutsunokami. Penampilannya saja sudah siap, pakai kimono merah dengan motif menyolok, armor bahu, sampai kutang hitam, bahkan pergelangan tangannya pakai diperban segala. Berbeda langit dan bumi dengan Yamanbagiri yang memakai baju training merah dan kaus seperti biasa, itupun sepertinya tertukar dengan milik Yamabushi, karena kedodoran beberapa ukuran. Tali celana trainingnya sampai harus ditarik maksimal hingga ujungnya jadi cut bray lambai-lambai.

Jika Mutsu sudah dressed to kill, maka Yamanbagiri sudah dressed to be killed. Culun. Yang penting sudah mandi.

"Siap?"

Yamanbagiri mengangguk, merasakan bobot pedang yang begitu membuat rindu. Ketika dibuka dari sarungnya, ada sepasang mata hijau terpantul di permukaan pedang. Jantungnya kembali berdegup. Mungkin ini rasanya jatuh cinta kembali dengan mantan kekasih. Pedang pernah menjadi tujuan hidupnya—tapi karena seorang laki-laki, cinta Yamanbagiri akan pedang menjadi suatu trauma.

Ah sudahlah, itu masa lalu.

Angin berhembus lebih keras dari biasa ketika keduanya berhadapan dan mengambil ancang-ancang. Yamanbagiri tampk fokus, kedua tangan menggenggam pedang dengan kuda-kuda aliran Kunihiro. Mutsunokami memegang pedang di satu tangan dan pistol yang jadi cirri khasnya di tangan lain. Tentu saja itu pistol mainan, tapi kalau ia terdesak bisa dilempar ke wajah musuh. Kerusakannya lumayan.

Belum ada yang bergerak, masing-masing tampak mengukur jarak, waktu, serta kemampuan lawan. Suara bersin seseorang dari balik semak-semak pun tak terdengar.

.

"Bodoh!" Yagen dan Midare mencubit Atsu kiri-kanan sampai wajahnya melar.

.

Beberapa menit waktu seperti berhenti. Posisi keduanya tetap sama. Sebutir keringat meluncur dari dahi , menyebrangi hidung Mutsunokami yang mancung, eh, mencong.

Dalam waktu bersamaan, ketika keringat itu jatuh dari dagu ke tanah, keduanya bergerak. Dua pedang berkilat-kilat, hampir bertemu—

"TOPAN!"

Yamanbagiri terjungkal ke belakang karena mengerem mendadak. "Ada apa, sih!?" protes si pirang.

Mutsunokami meludahi tangannya lalu merapikan poni. Pantas saja rambutnya bau mulut. "Poniku masuk mata."

"Bodoh." Yamanbagiri menghela napas, konsentrasi sudah buyar seketika. Makanya sedari dulu sudah ia bilang, rambut ijuk begitu dibotaki saja. Dipelihara hanya membuang-buang sampo dan air, padahal di Afrika sedang krisis air bersih.

"Hehehe, maaf." Mutsunokami cengegesan. "Oke, ayo kita mulai.

.

Dari balik semak, kelima anak SD itu masih mengintip. Bakamutsu dan pria berambut pirang yang dekil itu tampak bertarung sangat serius. Pedang beradu, tatapan tajam saling berburu. Awan hitam di langit datang, hujan turun, angin bertiup, dan dalam sekejap terjadi badai Katrina.

"Kenapa mereka malah tawuran di sini?" tanya Midare heran sambil memayungi kedua saudaranya dengan payung lipat Hello Kitty. Agak ke belakang, Aizen dan Hotarumaru romantis di bawah satu jaket (tapi basah).

"Ini illegal street fight." Jawab Atsu, yang akhir-akhir ini keranjingan film action Hollywood. "Pasti ada bandar judi gelap di balik pertarungan ini. Bakamutsu terjerat utang, sehingga ia harus membayar dengan tubuhnya, yaitu menjadi petarung milik yakuza kaya untuk berjudi pedang."

"Bisa jadi." Di kepala Midare, jawaban Atsu memang terdengar logis.

"Hmmm."

"Kenapa, Yagen?".

"Sepertinya kita kenal si pirang itu." Mata Yagen memicing melihat lawan Bakamutsu. Padahal wajahnya biasa saja, tampan juga tidak, tapi ia terlihat begitu tidak asing, Seakan mereka pernah bertemu di tempat umum macam video rental. "Tapi pernah lihat di mana, ya."

"Sebenarnya aku juga merasa begitu. Tapi kalau kita lupa, berarti dia bukan orang penting."

"Benar." Atsu mengiyakan. Ketika ketiganya memandang ke depan lagi, pertarungan sudah selesai. "Ah, cepat juga Bakamutsu kalah."

.

Pertarungan berakhir dengan Mutsunokami Yoshiyuki nungging di tanah, pedang tertancap di batang pohon dan pistolnya terbang ke semak-semak.

Yamanbagiri menyarungkan pedangnya. Badai berlalu, naga-naga pulang ke sarang. "Kuakui kau sudah lebih mahir dibanding dulu."

"Benarkah?" Mutsu terkekeh sambil mengelap wajahnya yang basah dengan punggung tangan, hingga lumpur mencorengi wajah. Meski kalah, ada rasa puas dan nikmat di sana.

Yamanbagiri hampir-hampir mengangkat alis. Bakamutsu tidak berubah. Kalah malah girang. Luka malah senang. Apa dia masokis?

"Kenapa kau selalu tertawa setelah kalah dariku?"

"Tentu aku harusnya kesal karena kalah, tapi kalau denganmu… rasanya berbeda. " Mutsunokami nyengir, masih duduk di tanah." Mungkin karena Yamanbagiri cantik dan kuat sekali."

Yamanbagiri moonwalk ke belakang.

"Bukan dalam artian itu. Maksudku, permainan pedangmu cantik dan kuat sekali." Matanya menerawang, mengingat permainan pedang terakhir dari Yamanbagiri Kunihiro—Final Turnamen Nasional melawan seorang Oodachi yang paling diunggulkan, Jiroutachi. Pertarungan yang sangat sulit dan penuh keajaiban. "Bagiku dari dulu, kau seperti itu."

"…"

"Apa sekarang kau akan bermain pedang lagi?"

Yamanbagiri dan Mutsunokami saling berpandangan.

.

Kelima anak di balik semak berani sumpah, cara mereka berdua berpandangan hampir mesra.

.

"…Tentu saja tidak, aku sudah berhenti." Jawab Yamanbagiri dengan acuh. Tentu saja tidak, karena dia punya lima kerja sambilan setiap minggu dan dua tagihan yang harus dibayar bulan ini. Mana bisa leha-leha main pedang? Memangnya darah dan semangat bushido bisa dimakan pakai nasi?

Tapi…

"Tapi, sesekali bertarung seperti ini menyenangkan. Kalau kau mau bertarung lagi, mungkin aku akan melayanimu."

Mutsunokami tersenyum. Yamanbagiri Kunihiro yang dulu, yang menjadi sahabatnya dulu, telah kembali.

Demi merayakan Persahabatan Lama Bersemi Kembali (PLBK), tadinya Mutsu sudah berniat mengajak Yamanbagiri makan malam di kedai Katsu langganan. Bukankah ada peribahasa bahwa menggaet hati lelaki harus dari perutnya dulu? Tapi belum sempat ia mengucapkan K dari katsu, terdengar suara cempreng seorang anak:

"AAAAAH ULAR ULAR ADA ULAR MASUK CELANAKU!"

"KYAAAA TIDAAAK!"

"AAAAAAH JANGAN LEMPAR ULARNYA KESINI!"

"…"

"… Kau kenal?"

Lima anak yang sangat dikenal Mutsunokami Yoshiyuki berhamburan keluar dari semak-semak.

.

.

.

Selesai dimarahi habis-habisan oleh Mutsunokami karena sudah mengintip tanpa izin, hari sudah menjelang malam, mulai cukup gelap untuk menyalakan lampu-lampu jalan. Empat tantou dan satu oodachi itu berjalan pulang dengan berpasang-pasangan, tapi karena jumlahnya ganjil, Yagen seperti biasa agak terbuang paling belakang. Masing-masing dari mereka membawa bakpau daging yang masih hangat, hasil traktiran (sogokan) dari Mutsunokami, agar kelima anak itu cepat enyah dan mengintil dua orang dewasa makan malam di kedai Katsu.

Di pertigaan jalan, ketiga Toushiro berpisah ke kiri, Aizen dan Hotarumaru ke kanan. Tak lupa mereka bertukar salam jumpa—Hotarumaru melambai, Yagen dan Midare membalas lambaian Hotarumaru, sedangkan Aizen dan Atsu saling melempar upil.

Ketiga Toushiro akhirnya pulang. Bagus.

Aizen melihat jam. Jika dihitung secara kasar, dari posisi saat ini menuju bangunan apartemen mereka memakan waktu sepuluh menit. Kalau bisa berjalan dua kali lebih lambat, maka waktu pulang bisa mencapai dua puluh menit. Dan dalam waktu dua puluh menit, ada banyak hal yang bisa dilakukan sepasang manusia—menpererat hubungan, menalikan jalinan kasih, hingga mencoba 42 pose yoga.

Aizen berjalan sepelan mungkin sambil terus mengajak temannya mengobrol, sehingga yang bersangkutan tidak sadar akal (bulus) Aizen untuk memperlambat waktu. Untungnya Hotarumaru memang tidak awas untuk hal-hal seperti itu.

(atau justru itu kutukan? Karena 90% derita Aizen berasal dari kebolotan Hotarumaru)

Menelusuri jalanan pertokoan, mereka mengobrol macam-macam—tentang kendo, tentang sekolah, tentang Toushiro. Tentang Mutsunokami Yoshiyuki dan temannya yang berambut pirang. Tentang kelaparan di Afrika dan prospek Jepang menjadi negara superpower menggantikan Amerika dari segi makro ekonomi.

Sembari berjalan berduaan, kedua tangan mereka terkadang saling bersentuhan. Sesekali ia curi-curi mengelus punggung tangan Hotarumaru dengan buku-buku jemarinya. Tangannya terasa begitu rindu ingin menyatu dengan tangan Hotarumaru. Biarlah dianggap vulgar.

Di pertengahan jalan, Hotarumaru akhirnya baru menyadari betapa larut hari berlalu. Bintang-bintang mulai berkelip lincah di langit. Ibu dan hamster peliharaannya pasti khawatir jika ia tak cepat pulang. "Kunitoshi, kita harus cepat pulang."

"…"

"Kunitoshi?"

"Aku.. nggak mau pulang ke rumah." Aku mau selalu bersamamu, Hotaru. Aizen tanpa sengaja ngedangdut.

Hotarumaru melihat temannya yang terdiam. Kepala merah itu menunduk, langkahnya terhenti, napasnya putih. "Kenapa?"

"… 'ngin bersamamu OHOK OHOK." Saking malunya Aizen refleks batuk.

Nggak mau pulang? Ingin bersama? Hotarumaru bingung, lalu ia sadar. Kalau akhir-akhir ini temannya itu aneh. Tiba-tiba memberi mamanya Hotarumaru buket bunga. Tiba-tiba segitunya ingin ikut bergabung mini kendo sampai rela gegar otak ringan. Tiba-tiba datang ke sekolah tidak sisiran. Dan sekarang, ia bilang tidak mau pulang. Kalau semuanya dihubungkan, jangan-jangan…

Tiba-tiba Hotarumaru mendekap kepala Aizen ke dadanya. Karena cuaca dingin, kehangatan dua tubuh yang bersatu makin terasa. Jantung Aizen berdegup sangat kencang dan napasnya memburu, hampir asma. Wajahnya sudah lebih merah dari rambutnya.

"… Maaf, aku sudah nggak sadar."

"…!"

"… Padahal kau sudah memberi tanda-tanda. Tapi aku yang nggak ngerti. Maaf kalau aku sudah nggak peka…"

"…

Apakah hari di mana Hotarumaru berhenti menjadi orang bolot telah datang?

"Hotaru…" Aizen bimbang. Kalau tidak menyatakannya sekarang, kejantanannya akan memberontak. Hatinya, maksudnya, bukan yang bergelambir di antara dua kaki.

Bukankah ini momen yang sempurna untuk menyatakan cinta? Walau mulut mereka masih bau bakpau daging babi dan keduanya belum mandi, tetapi mungkin ini bisa jadi romantis. Bisa jadi hanya ada sekali dalam seribu tahun.

"Hotaru, aku—"

"Tidak usah katakan apa-apa, aku mengerti…"

"Hotaru—"

.

"—Orangtuamu mau cerai, kan?"

.

"Hah?"

Aizen melotot. Tadi dia hampir terharu, tapi sekarang tidak jadi.

"Papamu main tangan? Ibumu selingkuh? Kuniyuki menghamili anak orang?" Hotarumaru serius. Ia memeluk sahabat tercintanya makin erat, nadanya bergetar penuh perasaan. "Kamu bisa cerita apapun padaku. Aku sahabat baikmu."

"…"

Jaka Sembung bawa golok, susah punya gebetan goblok.

.

.


.

.

Makan malam di keluarga Kunitoshi pada hari tertentu adalah wajib kare. Biasanya Aizen suka kare, tetapi hatinya sedang bersedih, sehingga mengunyah kentang dan daging terasa bagai palsunya harapan. Basah dan alot. Rasa pahit yang hanya bisa dirasakan kalau di-php orang bolot.

"Aizen, kok makannya nggak semangat? Masakannya nggak enak? Kalau masakan Mama nggak enak, kamu Mama tusuk pakai garpu." Tanya Mamanya khawatir, tapi sudah siap garpu di tangan.

Walaupun sedang sedih, naluri Aizen untuk menghindari bahaya masih jalan. "Enak Ma, enak. Tapi Aizen memang lagi nggak semangat."

"Besok ulangan matematika?"

"Iya, tapi Aizen nggak semangat bukan karena itu." Diingatkan soal ulangan makin membuatnya terpuruk. "Sudah Ma, nggak usah diperpanjang. Aizen cuma lagi bête."

"Oh ya sudah, tapi semangat lagi ya." Kepala anak itu ditepuk-tepuk sayang. "Habis makan langsung masuk kamar dan belajar. Oh ya, jangan lupa nanti cuci piring, terus bawa jas Papa ke binatu."

"…" Mungkin ini sudah nasib Aizen Kunitoshi punya ibu yang memperlakukan anaknya bagai pembantu. Hei, bahkan pembantu saja digaji!

Belum sempat anak itu protes, dari tv terdengar suara music orgel yang familiar. Dalam waktu 0.02 detik ibunya langsung menoleh, menatap layar kaca, hapal dengan jingle musik iklan favoritnya. Ternyata itu iklan Mikazuki's Secret, merk pakaian dalam lelaki yang jadi pembicaraan terhangat di kalangan kaum hawa saat ini, terutama yang sudah berumah tangga. Dalam iklan tersebut, terdapat seorang lelaki tampan berbaring ala Cleopatra di atas tempat tidur berseprai satin merah—warna yang mengundang imajinasi paling liar para ibu-ibu. Latar belakangnya adalah jendela lebar dengan pemandangan malam metropolitan. Tubuh mulus si model iklan hanya memakai fundoshi putih berkualitas tinggi (sutera?) dan kalung tali emas di leher. Ia mengangkat gelas berisi wine merah dan tersenyum pada pemirsa,

"Kaget, kan?"

Lalu terdengar pesan sponsor: "Mikazuki's Secret, sahabat para pria."

(Tersedia dalam tiga varian warna)

"Tsurumaru-san selalu ganteng, ya." puji ibunya penuh khayal, tetap menatap layar kaca dengan mata liar. Beliau hanya bermata seliar itu ketika melihat sabun cuci berhadiah piring atau promo beli dua gratis satu. "Mama sudah ngefans sejak masih gadis."

Masa ibu Aizen Kunitoshi 'masih gadis' itu terjadi ketika ponsel Nokia masih eksis. Usia Tsurumaru Kuninaga, bintang yang sedang melakukan pemunculan kembali setelah pensiun dari dunia akting itu, memang lebih tua dari kelihatannya. Meskipun umurnya tak muda lagi, wajahnya masih setampan dulu. Prestasinya menjadi peringkat dua dari 100 lelaki terindah di Jepang memang tak pernah bohong.

Peringkat pertamanya adalah seorang businessman sukses pemilik Munechika Group, tapi tentu saja businessman multimilyuner kurang merakyat dibanding aktor tampan.

"Yaa, yaa." lontar Aizen sambil mengunyah kare dengan bosan. Tiap kali iklan ini muncul, reaksi mamanya selalu sama. Begitu juga tantenya, wali kelasnya, hingga bibi tetangga yang beranak lima, hampir semua ibu-ibu yang ia kenal tergila-gila dengan Tsurumaru Kuninaga. Sebenarnya ia kurang mengerti bagian mananya yang menarik dari bintang iklan dengan kulit seputih panu, mana ceking pula, tapi siapalah dia untuk mendikte selera orang lain. Dia sendiri naksir Hotarumaru yang—yang begitu.

"Tapi Mama kaget juga melihat iklan ini. Soalnya Tsurumaru-san sempat berhenti dari dunia showbiz." Mamanya lanjut cerita, bernostalgia sendiri. "Tiba-tiba dia berakting lagi tahun ini, di iklan pakaian dalam pula. Bukannya Mama nolak sih."

"Terserah, deh." Aizen ngupil tidak tertarik.

.

.


.

.

Di kediaman Toushiro, jam dinding menunjukan waktu sepuluh malam. Ini adalah waktu anak-anak baik tidur dan anak-anak nakal main PS.

Di kediaman Toushiro, yang masih terjaga hanya si kembar Namazuo dan Honebami. Anak-anak Toushiro yang lain, hampir semuanya masih SD, sudah tidur dengan rapi di kamar masing-masing. Bahkan para tukang langganan begadang , Yagen dan Atsu, malam ini tewas di jam ke delapan. Mereka tidur sangat pulas, sepertinya capek sekali. Suara ngorok Atsu bahkan sanggup mengusir Midare ke kamar Hirano dan Maeda. Siapa yang tahan tidur delapan jam bersama kodok ngorek.

Tentu saja sebelum mengungsi, Midare balas dendam dengan menggambar tinja di wajah Atsu. Biar tahu rasa. Masih untung bukan tinja asli yang ada di jidatnya.

Orang tua mereka sedang bekerja luar kota seperti biasa, dan Ichigo Hitofuri belum pulang. Karena ia tak memberi kabar, otomatis Honebami dan Namazuo harus menunggu kakaknya pulang.

Kegiatan malam ini adalah marathon komik untuk si kembar Toushiro, Zuo membaca Shounen Jump yang baru dibeli dan Bami mendalami Mari-chan untuk kelima belas kali bulan ini. Keduanya berleha-leha di atas sofa ruang tamu yang bermotif bunga, dua badan dilipat sedemikian rupa agar sofa itu cukup menampung sepasang remaja yang sedang tumbuh. Kaki Namazuo hinggap di bahu Honebami , sedangkan pantat Honebami nangkring di atas pinggang Zuo. Kalau saat ini Bami kentut, akibatnya bisa fatal.

Ketika sedang enak-enaknya menjadi sayur, hanya berkutat pada komik dan potato chips, telepon rumah mendadak berdering. Kriing.

Zuo dan Bami bergeming di posisis masing-masing, terlalu lengket dengan sofa. Di dering kedua, barulah mereka saling melirik dari balik komik masing-masing.

"Zuo, angkat teleponnya."

"Bami, angkat teleponnya."

Kriing.

"Telepon itu lebih dekat sepuluh sentimeter dari posisimu."

"Tidak, menurut rumus phytagoras telepon itu justru lebih dekat lima sentimeter dari posisimu." Zuo memang sempat ikut olimpiade matematika waktu SD.

"Lele pemalas."

"Kau lebih malas, Bami. Kau orang yang pipis lewat jendela kalau malas ke toilet."

"Kau lebih malas, Zuo. Sudah jam sepuluh lewat dua puluh dan kau belum bikin PR fisika untuk besok."

Jeda. Butuh waktu bagi Namazuo Toushiro untuk mencerna kaitan dari kata besok dan fisika. Di pikirannya terdengar suara guru Fisika mereka, Kogitsunemaru.

Harap dibayangkan dengan suara Kondo Takeshi : "Kerjakan LKS halaman 45 sampai 70. Kumpulkan besok."

Terdengar sound effect petir di kejauhan. Di sisi kota yang lain memang sedang hujan.

"… Memangnya kau sudah?"

"Sudah, dong."

"Lihat!"

"Angkat teleponnya, Namazuo Toushiro."

Kriing, telepon tidak menyerah walau dicuekin.

"Deal."

Melempar asal majalah komiknya, Zuo menjatuhkan diri dari sofa, lalu merangkak lemah di atas karpet menuju pesawat telepon. Gara-gara baca komik selama dua jam, kakinya malah kesemutan. Bagaimanapun ia hanya manusia biasa.

Zuo mengangkat telepon, "Selamat malam, kediaman Toushiro di sini. Kami sudah langganan koran dan kami immortal, jadi tidak perlu asuransi."

"Selamat malam, ini bukan agen koran atau asuransi. Zuo, ini Kakak."

"Kak Ichi? Kapan pulang! Kami capek nungguin Kakak!" Nada suaranya langsung menuntut. Maklum, Zuo diam-diam paling manja di antara semuanya.

"Tenang, Zuo." Dari pihak seberang, samar-samar ada suara orang bercakap-cakap dalam suatu ruangan. Tidak terlalu jelas, tetapi ia bisa menangkap suara teman kakaknya yang bernama Uguisumaru atau Merpatimaru (Zuo tidak terlalu hapal namanya karena baru bertemu sekali). "Kakak tidak pulang, jadi kalian tidak usah menunggu—"

"HITOFURI SEDANG MENELPON KELUARGA YA YA YAA?" Terdengar suara bandel seseorang dari belakang, cukup keras untuk membuat Zuo meringis. Setelahnya ada desahan panjang yang lebih dibuat-buat dari bintang porno: "OH YESS YESSS!"

"… Zuo, tunggu sebentar…"

"YESS YESS HARDER! FANTASTIC HITOFURI—"

"DIAM, TSURUMARU-SAN!"

"…" Namazuo mendengar suara terbahak-bahak yang berlari menjauh, disusul beling pecah. Sepertinya Ichigo mengusir si jahanam itu dengan lemparan gelas atau vas. Kakaknya memang baik hati, tapi tidak ada maaf untuk becandaan jorok. Maklum, hati kakaknya lebih mirip seorang gadis dari keluarga pingitan daripada pemuda SMA. Terlalu suci untuk menanggapi lelucon duniawi.

Tak lama kemudian, Ichigo kembali mengangkat telepon dan berdehem malu, "Maaf, Zuo. Anggap saja tadi gangguan sinyal. Ah tidak, anggap saja tadi ada kecoak yang harus diusir."

"Iyain aja." Jeda sebentar. "Jadi Kakak tidak pulang malam ini?"

"Iya, kunci saja pintu-pintunya. Walau aku tidak pulang, kau jangan begadang dengan Bami! Besok kalian latihan untuk ujian klub kendo kan? Jangan lupa kau dan Bami buatkan adik-adik sarapan besok."

"Oke, tenang saja. Serahkan padaku."

"Dan ulangi perkataan Kakak, Zuo. Mie instan bukan sarapan."

"Mie instan bukan sarapan." Sial, rencananya untuk memasak sarapan mie instan ketahuan. Insting Ichigo Hitofuri kuat sekali menyangkut kemalasan Zuo.

"Oke, itu saja. Salam untuk yang lain. Kakak sayang kamu, muach."

Zuo menutup telepon, lalu bergerak menuju TV. Ia mengeluarkan boks dvd beserta dvd player. Hal ini tentu saja membuat Bami mengalihkan pandangan dari adegan Mari-chan mencari ibu kandungnya untuk kesekian kali.

"Kenapa?"

"Kak Ichi tidak pulang."

Bami bangkit dari posisinya. "Kak Ichi tidak pulang? Berarti—"

.

.

.

"YAGEN MIDARE ATSU HIRANO MAEDA AKITA GOKOTAI BANGUN KALIAN SEMUA! KITA PARTY!"

.

.


.

.

Pada hari Jum'at sepulang sekolah, Horikawa Kunihiro sedang melamun di taman sekolah nan rindang. Hanya bagian kepalanya saja yang melamun, karena dari leher ke bawah tubuhnya masih bekerja membanting tulang. Tangannya cekatan menjahit boneka-boneka flannel untuk dijual demi menutup biaya pendaftaran klub sekaligus sewa pedang kayu dan bogu. Di antara tumpukan boneka yang sudah jadi ada kelinci memakai rok, beruang dengan topi, sampai singa berkolor bintang-bintang.

Kalau mampir ke toko dan melihat gantungan kunci dengan hiasan boneka flannel murah, sudilah dibeli satu, karena itu hasil keringat dan air mata seorang remaja.

Shokudaikiri Mitsutada, satpam sekolah yang tengah berpatroli di dekat situ, jadi prihatin melihat kondisi Horikawa. Wajah remaja itu sendu tapi tubuhnya otomatis bekerja. Pemisahan sempurna antara hati dan naluri bertahan hidup yang hanya bisa dimiliki kaum papa. Seharusnya anak remaja seperti Horikawa saat ini sedang menikmati masa muda, nongkrong bersama teman atau foto-foto gelas kopi di Starbuck, bukannya membuat boneka flannel untuk dijual. Melihatnya membuat pria itu teringat masa sulitnya sendiri, saat ia tengah miskin-miskinnya setelah kawin (lari), masa di mana satu indomi dibagi empat bersama pasangan dan dua kucing peliharaan.

Shokudaikiri akhirnya menghampiri anak itu dengan nada kebapakan. "Dek Hori, mengapa wajahmu terlihat begitu sedih?"

"Ah, Pak Shokudai, saya tidak apa-apa." Horikawa menggeleng, tangannya mewarnai pipi boneka dengan crayon merah yang sudah tumpul.

Satpam itu pergi beberapa saat, lalu kembali dengan beberapa batang bunga mawar, "Ini untuk Dek Hori agar ceria lagi."

"…Pak, ini namanya selingkuh."

"Tidak mengapa selingkuh yang penting Dek Hori senang."

Horikawa terharu. "Terima kasih, Pak."

"Jadi, ada apa gerangan hingga Dek Hori tampak berkesusahan?"

"Sebenarnya…"

Curahan hati yang sangat panjang Horikawa lontarkan karena sedari kemarin ia butuh tempat berkisah. Tentang kendo, tentang Kane-san. Tentang Shinsengumi dan adegan Kabedon di siang hari. Tentang ujian kendo yang diselenggarakan minggu depan. Tentang Kane-san yang tampan.

Shokudaikiri sudah bosan mendengar nama Izuminokami Kanesada, dan ingin bertanya apa bagusnya pemuda berambut panjang yang pernah menjerit waktu menginjak cacing di kebun sekolah. Hanya saja rasa gatal menyela ini ditahan karena Shokudaikiri menyayangi Horikawa dengan tulus. Mungkin sebagai pelipur lara akan rasa rindunya terhadap Sada-chan, adiknya yang ditinggalkan di rumah setelah pria itu kawin (lari).

Maklum, saat muda dulu ia begitu berapi-api. Cinta menang dibanding keluarga. #LoveWins.

"Saya memang pernah main kendo waktu kecil, sih." Lanjut Horikawa sambil bertopang dagu dengan sedih, membuyarkan wajah lucu Sada-chan dalam pikiran Shokudaikiri. "Tapi ilmu kan, kalau tidak dipakai, akan karatan. Walau bisa masuk klub kendo, saya tak yakin bisa dipilih jadi Shinsengumi."

Mendengar curhatan Hori, Shokudaikiri gatal lagi mulutnya. Ia ingin bertanya apakah Horikawa pernah mendengar dongeng nun jauh di Asia Tenggara mengenai Sangkuriang atau Bandung Bondowoso, di mana cewek ngasih persyaratan berat ke cowok karena enggan dikejar-kejar, tetapi sepertinya itu bukan tindakan bijaksana. Melihat bidadari manis sedang berkesusahan begini, Shokudaikiri jadi tak tega. Tapi bagaimana cara menghiburnya? Kalau memberi mawar lagi, dia bisa digantung jadi orang-orangan sawah oleh tukang kebun. Tukang kebun di sekolah ini lebih galak dari petugas keamanan.

Tring! Bola lampu di kepala Shokudaikiri menyala.

"Bagaimana kalau Bapak saja yang mengajarimu?"

"Hah? Pak, saya mau masuk klub kendo loh?" Saya bukannya mau melamar jadi satpam sekolah loh? Mungkin pria di hadapannya ini punya kredibilitas sebagai satpam, tapi apa ia punya kompetensi untuk mengajar pedang?

"Iya, klub kendo." Pria itu nyengir. Cling. Sosoknya menyilaukan, karena di belakangnya matahari bersinar. " Ingat Turnamen Kendo beberapa tahun lalu? Dulu saya masuk lima besar di situ, loh."

.

.

.


Author's Note:

Dengan adanya Mikazuki's Secret, akhirnya semua orang tahu sudah seberapa jatuh selera humor saya sejak apdet terakhir.

Hakata memang tidak masuk keluarga Toushiro, karena dalam cerita ini Hakata merupakan anak Hasebe. Karena bagi saya Hasebe itu punya aura hot single daddy. Udah sih itu aja.

Mungkin ada yang nanya kenapa Uguisumaru di sini masih SMA dan Tsurumaru sudah 'tua', itu karena pada saat merancang plot KK beberapa bulan lalu, saya nggak tahu kalau Uguisumaru justru paling tua. Sekarang sih udah semacam terlambat untuk dirubah…

Meskipun di sini yang menang adalah Mitsukuri/Kurimitsu, tapi untuk para penggemar Anmitsu tenang saja, karena masih bakal kebagian porsi tampil pada arc ujian masuk klub. Arc ujian masuk soalnya nanti bakal panjang… Dan dari chapter ini sudah ketahuan siapa itu M, plus lawan Horikawa di ujian klub kendo minggu depan, hehehe.

Di profil saya, ada pengumuman terkait spin off dari 'Keluarga Kunihiro', yang menceritakan Keluarga Toushiro.

Review?