The Liar

.

..

"Kalian benar-benar akan pulang?" Tanya Kris kepada dua orang yang tengah memasukkan baju mereka ke dalam koper.

"Ya, maaf kalau kami tidak bisa berlama-lama di sini. Lagipula aku dan Amber ke sini hanya untuk melihat keadaan mu di sini." Henry mulai menutup kopernya dan bersiap untuk di bawa keluar.

"Jika kalian jauh-jauh datang ke mari hanya untuk melihat keadaan ku. Kalian juga tak perlu repot-repot datang ke mari. Aku akan baik-baik saja. Seharusnya kalian tinggal lebih lama di sini. Asal kalian tahu saja, kalau aku bosan sendiri di sini."

"Sorry kris, aku mengejar deadline, aku harus menyiapkan tugas-tugas ku." Kris sedikit memajukkan bibirnya setelah mendengarkan ucapan Henry.

"Aku juga sibuk Kris, aku akan masuk universitas di sini." Ujar Amber.

"Wah! Benarkah? Kau akan masuk universitas di Kanada?" Amber menganggukkan kepalanya.

"Ya~ Begitulah. Aku akan masuk ke universitas yang sama dengan Henry." Amber juga akan bersiap membawa kopernya.

"Kau beruntung sekali bisa kuliah di sini."

"Hah? Kau tidak melanjutkan kuliah mu di sini?" Kris menggelengkan kepalanya.

"Mama memaksaku untuk kuliah di Seoul. Padahal aku sudah menolaknya."

"Haha! Jalani saja anak kesayangan 'Nyonya Wu'" Ejek Henry.

"Ya!"

"Hahaha! Panggilan itu memang sangat cocok untuk mu!"

"Kau ingin main-main dengan ku!"

"Wow! I'm so scared Kris Wu!"

"Hei hei! Sudahlah! Kalian tidak pernah berhenti bertengkar." Amber melerai ke dua pemuda tampan itu.

"Baiklah anak mama, aku dan Amber pergi dulu. Kau harus jaga dirimu baik-baik. Kau tidak mau kan mama mu mengkhawatirkan anak kesayangannya?" Kris mendecih pelan, sebal dengan Henry.

Henry berjalan keluar dari apartemen milik Kris sambil membawa kopernya setelah memeluk Kris. Sementara Amber masih di dalam sedang memegang kopernya.

"Oh iya Kris." Amber menghadapkan dirinya kepada Kris

"Ada apa? Ada yang ketinggalan?"

"Ah, tidak. Aku hanya ingin memintamu untuk mengingat permintaan ku yang tadi. Kau… Bisakan?" Amber menatap ragu kearah Kris.

"Akan ku usahakan."

"Thank you Kris. Aku memintanya karena aku sangat menyanginya. Aku juga berharap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian. Walaupun aku tidak tahu apa permasalahan kalian yang sebenarnya." Amber memeluk Kris yang kini tatapan matanya sulit di artikan.

"Amber! Cepatlah!" Teriak Henry.

"Ya ya! Tunggu sebentar. Semoga kita bisa berjumpa lagi. Aku akan merindukanmu. Bye Kris!"

"Bye…" Amber pun ikut keluar dari apartemen Kris. Henry dan Amber sudah menghilang dari kediaman Kris. Dan meninggalkan Kris yang tengah berkecamuk dengan pikirannya.

.

'Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?'

.

.

.

"AAAA! KRIS!

"Come on Kris! You can do it!"

"Kris! You're the Winner!"

"AAAA Kris! We Love You!"

Teriak dari para cheerleaders centil yang tak berhenti berteriak heboh mendukung pujaan hati mereka, Kris. Saat ini Kris berada di klub basket tempatnya melatih para calon pemain basket. Setelah Kris dan Amber pergi dari apartemennya, Kris langsung pergi ke klub basket.

Tapi saat ini Kris tengah menunjukkan skill nya memantulkan bola jingga itu untuk memasukkannya kedalam ring lawan. Dan seperti biasanya, Kris dan teamnya hampir selalu menang dalam pertandingan ini. Teriak para fangirls nya semakin membara mengucapkan beribu pujian dan kata-kata cinta(?) mereka untuk Kris dan teamnya.

Setelah pertandingan itu usai. Kris bersama teamnya merayakan keberhasilan mereka dengan makan bersama di sebuah restoran yang cukup besar. Kris yang tengah bersenang-senang dengan teman se teamnya itu tidak tahu jika ada seseorang yang sebentar lagi akan mengganggu kehidupannya.

.

.

"Ah~ A fun day!" Kris berjalan dengan riang menuju apartemen nya. Setelah sampai di depan pintu apartemennya, Kris memasukkan digit nomor password apartemennya. Setelah membuka pintu dan masuk ke apartemennya. Kris terkejut saat melihat sepasang sepatu high heels berwarna merah yang tergeletak di depan pintu.

'Siapa lagi yang datang? Mereka tak mungkin kembali lagi kan? Mereka juga tak mungkin memakai high heels. Apalagi Amber.' Kris tertawa kecil dengan pikirannya itu.

"Kenapa kau tertawa sendiri di situ?"

.

DEG!

.

"Mama?!"

.

Saat ini seorang anak dan seorang ibu duduk di sofa yang berbeda, kini posisi mereka saling berhadapan. Kris yang sedari tadi menunduk dengan wajah yang kesal dan ibu nya yang sedari tadi melotot ke arahnya. Murka dengan sikap cuek anak yang tidak tahu diri itu.

"Angkat kepala mu! Dan jangan pasang muka seperti itu padaku!" Sang ibu telah meledak. Tetapi anak tampannya masih dengan sikapnya.

"Kau berani melawan mama mu hah?!" Ibu Kris bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Kris.

'Tuk! Tuk! Tuk!'

"Ya! Mama! Jangan memukul kepalaku!" Kris mencoba menahan tangan ibunya yang tengah bernafsu untuk menghajar kepala Kris.

"Dasar anak kurang ajar! Sudah Mama bilang untuk cepat pulang ke rumah kita! Dan kau masih bersantai-santai di sini! Heuh! Rasakan ini!" Bahkan tangan ganas ibu Kris telah menjambak rambut pirang milik Kris dengan sangat kuat.

"AAAA! Mama! Stop It! Ini sakit!" Teriak Kris sambil menahan sakit di kepalanya.

"Biarkan Saja! Kau memang anak yang tak tau di untung!"

"Mama! Hentikan!" Kris berhasil mengambil kedua tangan ibunya dan menghempaskan tangan ibunya dari kepalanya. Sekarang ibu Kris sudah sedikit tenang.

"Mama tahu dari mana jika aku tinggal di sini?"

"Kau tak perlu tahu! Yang penting aku bisa menemukanmu dan menyeret mu untuk pulang ke rumah kita!"

"Ya! Mama! Aku bertanya dengan baik-baik. Siapa yang memberitahu mama jika aku tinggal di sini?"

"Henry dan Amber."

"W-What?! Ba-bagaimana bisa?!" Kris terkejut setelah tahu siapa orangnya. Padahal sejak awal kepindahan Kris di sini. Henry sudah berjanji untuk tidak mengatakan keberadaannya kepada orang tuanya. Bahkan tak lama ini Kris juga meminta kepada Amber untuk tidak mengatakan keberadaannya kepada orang tuanya.

Dan Kris sekarang tidak menyangka jika kedua orang terdekatnya itu telah mengkhianatinya.

"Tentu saja bisa! Tak lama ini tadi mama menjumpai mereka. Awalnya mereka tak mau mengatakannya. Tapi mama tahu jika mereka adalah orang yang mudah terpengaruh."

.

Sebelumnya~

"Haah! Akhirnya sampai juga!" Ibu Kris telah sampai di bandara sambil membawa koper besarnya. Saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu di mana alamat Kris, anaknya yang selalu di cap sebagai 'anak kurang ajar' oleh dirinya sendiri.

"Haish! Anak itu benar-benar ingin menghindar dariku!" Ibu Kris menatap kesal pada ponselnya. Dia yakin jika anaknya telah mengganti nomor ponselnya.

Ibu Kris yang berparas cantik itu sedari tadi melihat orang yang berlalu lalang di bandara. Mencari orang yang mungkin dia kenal.

"Bukankah itu… Henry dan… Amber!" Gumam ibu Kris.

Dengan cepat ibu Kris berlari ke arah mereka.

"Henry! Amber!"

Dua orang yang dipanggil oleh ibu Kris itu langsung menoleh ke arahnya.

"Nyonya Wu?" Kaget mereka berdua.

"Haah! Haah! Akhirnya aku bertemu dengan kalian!" Dengan cepat nyonya Wu memeluk mereka berdua.

"Aku sangat merindukan kalian~! Sudah lama kita tidak berjumpa." Kedua orang yang masih dipeluk oleh ibu Kris itu masih sedikit kaget dengan kehadiran Ibu Kris yang tiba-tiba.

"Amber, kau di sini ternyata!"

"Hehehe, iya. Aku sudah tinggal di sini." Jawab Amber sedikit menggaruk belakang kepalanya.

" Wah~ Baguslah. By the way…Kalian mau kemana?"

"Ah… Kami mau pulang." Jawab Henry.

"Lalu… Kalian dari mana?"

DEG!

Henry menatap Amber dengan tatapan 'Apa yang harus kita katakan?' Seolah tahu maksud tatapan Henry, Amber hanya menggeleng pelan.

" Ah, I-itu, kami tadi… Berjalan-jalan. Ya! Kami jalan-jalan di sini." Bohong Henry.

Ibu Kris memicingkan matanya, kemudian dia menyerigai.

"Aku tahu kau sedang berbohong Henry~" Henry hanya menundukkan kepalanya, malu.

"Amber, tadi kalian dari mana?" Amber terbelalak mendengar pertanyaan nya.

"Hah? Oh, kami pergi ke sini hanya untuk jalan-jalan saja. Kebetulan kami mempunyai waktu libur. Hehehe." Ibu Kris kembali menyerigai setelah mendengar ucapan Amber.

"Hah~ Baiklah jika kalian benar-benar tidak mau mengatakannya." Ibu Kris mencari sesuatu di tas sandangnya. Setelah di temukan, Ibu Kris menunjukkan dua tiket di hadapan mereka berdua

Henry dan Amber yang telah melihat kedua tiket itu hanya menganga lebar.

"Ini adalah tiket untuk bisa melihat pertandingan NBA. Kalian mau?" Henry dan Amber otomatis menganggukkan kepala mereka.

"Dan syarat untuk mendapatkan tiket ini adalah… Beritahu aku di mana sekarang Kris tinggal."

.

"Setelah itu mereka memberikan alamat apartemen mu kepada mama." Jawab Ibu Kris setelah menceritakan cerita itu kepada Kris.

'Aarrgghh! Mereka itu..!' Geram Kris dalam hati.

"Sudahlah itu tidak penting lagi, bagi Mama, dalam waktu dekat, kita harus pergi ke Cina, ambil barang-barang mu di sana. Setelah itu kita pergi ke Seoul."

"Mama~!"

"Besok mama akan urus semua kepindahan mu dari sini. Kau juga harus menngucapkan selamat tinggal kepada teman-teman mu di klub basket itu."

"Mama! Aku tidak mau! Sudah ku bilang aku sama sekali tidak tertarik dengan bisnis papa!" Teriak Kris. Teriakan Kris membuat ibunya naik pitam dan kembali menjambak rambut pirang anaknya.

"Apa kau bilang?!" Dengan ganas ibu Kris menjambak rambut anaknya sambil mengayun-ayunkan kepala Kris maju dan mundur.

" AKH! MAMA INI SAKIT!"

" BIARKAN! KAU MEMANG ANAK KURANG AJAR! APA KAU TIDAK TAHU JIKA PAPA MU ITU SUDAH BERUBAN DAN BERKERIPUT HA?! Hiks!... DIA SUDAH BANYAK BERKORBAN UNTUK MU DAN KAU MASIH BERSANTAI SAJA DI SINI! Hiks!...Kau… Hiks! Kau benar-benar tidak tahu cara berterimakasih! Hiks…" Akhirnya ibu Kris tak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya lagi. Ibunya sudah melepaskan tangannya dari kepala Kris, kini dia menangis tersedu-sedu di lantai.

"Ma-mama?" Kris langsung turun kebawah mencoba menenangkan ibunya. Kris bersumpah! Selama ini dia tidak pernah melihat ibunya seperti ini.

"Hiks! Dia sudah sakit-sakitan sekarang! Hiks! Mama sudah memintanya untuk beristirahat saja, tapi dia tidak mau! Hiks. Mama sudah bilang kalau kau harus menggantikan posisinya. Tapi dia selalu bilang jika dia tidak mau membebani mu! Hiks! Mama hanya tak ingin papa mu semakin sakit… Sungguh mama tidak mau…" Ibu Kris sudah berlinang air mata. Dia tidak bisa menahan kesedihannya.

Kris sedari tadi mengelus punggung ibunya dan mencoba memeluk ibu nya. Ada rasa penyesalan di hati kecil Kris. Seharusnya dia tidak boleh bersantai-santai lagi. Dia harus menyelamatkan perusahaan ayahnya.

Ibu Kris tidak berhenti menangis, walaupun Kris sudah berkali-kali meminta ibunya untuk berhenti. Kris harus membuat keputusan.

"Baiklah…" Ibu Kris mendongakkan kepalanya dan melihat raut wajah anaknya yang serius.

"Aku akan ke Seoul…"

.

.

-Klub Basket-

"I'm sorry guys! Aku harus mengundurkan diri sebagai pelatih di sini. Aku berharap kalian bisa menerima keputusanku." Dapat dilihat dari raut wajah Kris yang sangat tak rela meninggalkan klub basket yang penuh kenangan ini.

"Kau benar-benar akan pergi ke Seoul?" Tanya teman seteam Kris.

"Yes."

"Lalu, bagaimana dengan kami?" Kris sedikit terdiam mendengar pertanyaan dari anak-anak calon pemain basket yang sering dilatihnya.

"Kalian akan mendapatkan pelatih yang lebih baik dari ku."

"Really? I think it's not possible." Putus asa mereka.

"No! don't think like that! Aku yakin kalian akan mendapatkan pelatih yang lebih bagus!"

Beberapa dari mereka hanya terdiam, tak rela jika Kris pergi. Bahkan para calon pemain basket perempuan dan para cheerleaders ada yang menangis setelah mendengar Kris yang akan mengundurkan diri dari klub basket ini.

"Kris… I hope you like it." Salah satu cheerleader cantik berbadan tinggi dan langsing berambut pirang memberikan sebuket bunga yang berisi beberapa surat kecil di dalamnya kepada Kris.

"Thank you Jane…" Kris tersenyum kecil setelah menerima buket itu.

"You will come here again, is'nt it?"

"Of course."

Lalu perempuan bernama Jane itu memeluk Kris dan diikuti oleh beberapa orang yang berada di klub tersebut. Setelah cukup lama, mereka melepaskan pelukan teletubbies(?) mereka.

"We will miss you, Kris."

"Me too."

Setelah itu, Kris benar-benar pergi dari klub itu. Meninggalkan temannya yang masih tak rela dengan kepergiannya.

.

.

"Sudah siap?"

"Ya, aku sudah siap." Kris dan ibunya masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Selama perjalanan Kris tak berhenti menatap pemandangan kota British Colombia yang cukup ramai dengan orang-orang yang mulai sibuk bekerja.

"Berhentilah memasang wajah sedih seperti itu." Ibu Kris sedari tadi tidak berhenti menatap wajah anaknya yang sepertinya tidak rela meninggalkan kota ini.

"Mama tahu jika kau masih belum bisa menerima pekerjaan berat ini. Tapi mama yakin kau pasti bisa." Kris hanya tersenyum kecil kepada ibunya.

.

'Goodbye Canada…'

.

.

-Sementara itu…-

"Heechul-ah.. Hiks! Bagaimana ini Heechul-ah bagaimana… Hiks!"

"Ziya, ku mohon jangan menangis lagi. Kita pasti menemukan jalan keluarnya."

"Tapi aku benar-benar tidak sanggup lagi Heechul-ah… Aku tak sanggup lagi.. Hiks."

"Ziya, tenanglah!"

"Aku tahu ini semua salahku hingga dia seperti ini .. Hiks! A-aku bukan ibu yang baik untuknya."

"Hei, jangan bicara seperti itu."

"Aku mohon Heechul-ah, tolong aku… Tolong jaga dia. Tolong berikan yang terbaik untuknya. Aku benar-benar tidak bisa lagi Heechul-ah. Aku mohon, hiks!"

"Tapi…"

"Aku mohon Heechul-ah, kali ini saja hiks!"

"Haah… Baiklah aku akan menjaga nya."

"Te-terimakasih Heecul-ah hiks! Kalau tak ada dirimu aku tidak tahu bagaimana dengannya nanti."

"Sama-sama Ziya, aku akan menjaganya, seperti yang kau pinta."

"Sekali lagi terimakasih heechul-ah. Aku akan membujuknya untuk bisa tinggal bersama mu di sana."

"Baiklah Ziya. Aku akan menunggu."

"Terimakasih heechul-ah, aku harus menjumpainya."

"Ya, jumpailah dia."

"Bye Heechul."

"Bye Ziya." Pria itu menutup ponselnya dan memandang geram ke arah foto itu. Kemudian dia menyerigai dengan sangat mengerikan

.

.

"Huang Zi Tao… Welcome to hell…"

.

.

TOBECONTINUE….

.

.

Review pliss Miau~`~`~`~