Disklaimer: Haikyuu! dimiliki seutuhnya oleh Furudate Haruichi. Saya tidak memiliki apa-apa kecuali ide-ide yang saya tuangkan dalam tulisan ini, dan saya tidak mengambil keuntungan atau profit apapun dari tulisan ini.
.
.
Torono, 7 September 2075
Mulut Shouyou menganga lebar saat kantuk kembali menggelayuti matanya. Ia menyandarkan punggung di dinding gedung olahraga, melipat kedua tangan di dada dan memejamkan mata sesaat sebelum Keishin datang dan menempelkan sebotol air mineral dingin ke pipinya. Shouyou terkejut dan nyaris tersandung kakinya sendiri, sejurus kemudian tertunduk malu dan menuturkan apologi lewat anggukan kecil.
Tertangkap basah tidur oleh rekan kerja di saat ia harusnya mengawasi siswa melakukan peregangan sebelum lari adalah hal yang memalukan. Terlebih lagi jika orang itu adalah pelatih volinya dulu.
"Belakangan ini kau kurang tidur ya, Hinata?"
"A-ah? Tidak juga, coach," ia berkelit.
"Tapi kau kurang fokus dan lingkaran hitam di matamu mengerikan, tahu."
"Administrasi kelas membuatku sedikit kelelahan, aduh… tapi salahku juga sih, karena sering menunda pekerjaan jadinya numpuk,"
"Tidak biasanya kau menumpuk pekerjaan?"
"Haha bulan ini hanya pengecualian, coach. Nanti tidak akan terulang kok,"
"Hm ... begini, aku dapat kabar dari temanku yang sekarang ini mengajar di Universitas Tsukuba, katanya dia ingin menawarimu beasiswa program master di sana. Soal jurusannya sih terserah tapi dia merekomendasikan untuk mengambil Kesehatan dan Ilmu olahraga, mengingat dulu kau pernah masuk dalam jajaran pemain voli terbaik Jepang tingkat SMA dan kebetulan sekarang ini jadi guru olahraga. Peluang masuknya besar lho, dengan semua sertifikat dan rekomendasi dari temanku, kurasa kau bisa mendapatkannya."
Pipi Shouyou memerah, senyumnya melebar. "Eh? Coach? Ini serius?"
"Tentu saja, kaupikir aku akan main-main untuk urusan yang seperti ini?"
Mimpi apa dia semalam?
"Anu … tapi coach, kau … serius?"
"Ya ampun," Keishin menepuk keningnya, "Mana sini ponselmu, akan kuberikan nomor temanku padamu. Nanti, kau langsung bicara padanya saja."
Shouyou mengeluarkan ponsel dari dalam saku, menyerahkannya pada Keishin.
"Kau mungkin tidak mengenalnya, tapi dia mengenalmu. Dia bilang—eh ini pinnya berapa?" Keishin menyerahkan ponsel itu pada Shouyou dan memintanya untuk mengetik pin, "Nah jadi—lho? Kau masih sering berhubungan dengan Tsukishima?"
"Hah? Coach! Kau tidak bisa mengintip riwayat telepon orang sembarangan begitu!"
"Kaupikir aku ini tidak tahu tatakrama apa!" satu tempeleng ringan didaratkan di pelipis kiri Shouyou. "Nih! Ada panggilan tak terjawab darinya, 4 biji lagi."
"A-ah … sudahlah, sudah, skip! Skip! Ketik saja nomor temanmu itu, coach."
"Kau ini kenapa sih? Memang apa salahnya kalau masih menjalin kontak dengan teman lama?"
"Skip! Skip!"
Mengorek kuping dengan kelingking kiri, Keishin mencibir. Nomor temannya sudah disalin ke ponsel Shouyou, dinamai 'Hamada Toshiro' dan menyertakan alamat surel di dalam datanya.
"Kau telepon dia setelah pukul enam sore—biasanya dia kosong jam segitu—perkenalkan dirimu dan bilang kalau kau dapat nomornya dariku, dia akan langsung mengenalimu kok. Tenang saja,"
"Terima kasih banyak, coach!"
Torono, 7 September 2075
Gempa kecil menjalari tangan Shouyou ketika ia hendak menghubungi Hamada Toshiro sore itu. Ia menarik napas beberapa kali dan merapal kalimat-kalimat yang nanti akan ia tuturkan, memilih nada 'halo' yang sesuai, dan poin mana yang akan ia bicarakan lebih dulu sehingga pembicaraan mengenai beasiswa itu menjadi lebih lancar. Setelah menyiapkan diri selama satu stengah jam lebih, ia memberanikan diri untuk menghubungin kenalan Keishin itu.
Panggilannya ditangguh ke nada tunggu, jemari Shouyou meremas lipatan seprai. Selang lima detik, sebuah suara dengan nada melengking menyapa telinganya. Menyerukan 'halo' yang kelewat ceria. Shouyou mengusap dada kiri, laki-laki ini membuatnya terkejut.
"Halo, um … Hamada-san?"
"Ah, apa ini … Hinata Shouyou-kun?"
"Be-benar, ini saya …" jawabnya kikuk. "Hamada-san—"
"Jadi, bagaimana Shouyou-kun? Apa kau tertarik untuk mengambil kesempatan beasiswa yang kutawarkan itu?"
"Iya!" seru Shouyou. "M-maaf, saya terlalu bersemangat!"
"Ahaha tidak apa-apa, Shouyou-kun. Semangat itu perlu!" Hamada tertawa nyaring. "Aku senang kau menghubungiku secara langsung, dengan begitu aku bisa tahu jelas seberapa tertariknya kau dengan kesempatan ini."
"Aku sangat tertarik! Ah … tadi ketika coach Ukai mengabariku, saya sangat senang dan tidak sabar untuk menanyakannya langsung pada Anda,"
"Syukurlah, aku sangat yakin kalau kau memang pantas untuk mendapatkan kesempatan ini. Untuk penyaringan mahasiswa baru, biasanya kami mulai di bulan November hingga Desember tetapi pengumpulan data untuk penerima beasiswa dimulai dari sekarang. Mengingat setelah mengikuti uian masuk, kau juga harus mengikuti serangkaian aktifitas bersama penerima beasiswa lainnya—jika kau lolos dalam seleksi—sebelum memulai perkuliahan."
"Um … kira-kira, apa saja yang perlu saya persiapkan?"
"Sebelumnya kami akan mengadakan seleksi berkas, untuk yang ini entah kenapa aku bisa yakin kau akan lulus. Yah, ini adalah yang paling mudah. Nanti jika kau lulus, maka kau akan dipanggil untuk mengikuti tes tertulis dan praktik serta wawancara. Untuk berkas apa saja yang perlu kaukirim, akan kukirim melalui surel. Ah, kau punya alamat surelku, 'kan? Nanti coba kirim satu surel dan aku akan membalasnya dengan dokumen mengenai beasiswa,"
"Apa yang harus saya kirim, Hamada-san?"
"Haha, apa saja Shouyou-kun. Aku hanya perlu mengetahui alamat surelmu, itu saja."
"Baiklah, saya mengerti,"
"Oh, iya. Aku hampir lupa,"
"Eh?"
"Mengingat nanti tesnya akan berlangsung dalam beberapa hari, apa kau butuh bantuan?"
"Eh? Bantuan bagaimana maksudnya?"
"Tempat tinggal. Tes-nya 'kan lumayan lama, tidak mungkin kau bolak-balik dari Miyagi ke sini, iya 'kan?"
"Ah, tidak usah repot-repot, Hamada-san." Shouyou menolak halus. "Saya bisa cari hotel atau menumpang tinggal di rumah kerabat yang kebetulan punya rumah di sana,"
"Oh, aku senang mendengarnya. Kalau begitu, semoga berhasil ya, Shouyou-kun."
"Iya, terima kasih."
Shouyou meninju udara, ia melompat di atas ranjang yang berderak-derak. Tawanya lepas seperti anak-anak yang berhasil memenangkan suatu pertandingan, begitu lantang dan ceria. Buru-buru diketiknya surel pada Hamada melalui ponsel, ia menulis mohon bantuannya sebelum menekan tombol kirim.
Shouyou membuka pintu kamar, berjalan tergesa menuruni tangga, dan memeluk erat Natsu dan Ibunya secara bergantian. Dua wanita di dalam keluarga Hinata tersebut saling pandang, lalu menatap Shouyou dengan ganjil.
"Ada apa, nii-chan? Menang lotre?" tanya Natsu dengan alis mengerut.
"Hush! Aku … dapat … rekomendasi untuk program master!"
"Eeeh?! Keren!" seru Natsu. "Siapa yang merekomendasikanmu?! Apa kau akan pergi ke Tokyo atau semacamnya?!"
"Ah, bukan Tokyo tapi Tsukuba. Seorang kenalan dari coach Ukai yang merekomendasikannya, ya ampun Natsu! Aku senang sekali!"
"Aaaahhh! Keren! Keren!"
"Iya 'kan? Nah, maka dari itu sepertinya aku harus minta bantuan pada bibi Kanako untuk menginap beberapa hari di sana,"
Ibunya menimpali, "Kau harus menginap? Memangnya berapa lama? Dulu waktu kau mengikuti ujian masuk Universitas di Fukuoka cuma berlangsung satu hari 'kan?"
"Tiga hari kok," bantah Shouyou. "Waktu itu aku menginap di hotel, masa Ibu lupa?"
"Aaaah, iya iya …" Ibunya mengangguk-anggukkan kepala, mengambil sebuah jeruk dari dalam keranjang plastik di atas kotatsu. "Yang … membuatku sampai menghabiskan banyak uang untuk itu, ya?"
"Aduh Ibu … perhitungan sekali,"
"Habisnya aku tidak habis pikir kenapa kau pilih Universitas yang jauh dari rumah seperti itu. Sekarang juga, kenapa harus ke Tsukuba?"
Shouyou mengedikkan bahu, bibirnya membentuk senyum tipis. "Ibu 'kan tahu kalau dari dulu aku cuma mengejar beasiswa. Kalau dapatnya ke sana ya … aku akan pergi ke sana. Daripada tidak sama sekali 'kan?" Jelasnya sembari mengambil tempat di sisi sang Ibu. "Lagipula, jarak ke Tsukuba 'kan tidak sejauh Fukuoka, Bu."
"Aku hanya tidak suka kalau kau pergi jauh dari rumah," wanita itu bersandar di bahu Shouyou. Matanya masih terfokus pada televisi sedang kedua tangannya sibuk pada buah jeruk. "Apa kau tidak bisa melanjutkan kuliah di sini saja? Soal biaya, kau tidak usah khawatir. Sebentar lagi juga, Ayahmu dapat promosi dari kantor."
"Ibu …" gumam Shouyou rendah. "Umurku sudah lebih dari dua puluh, aku tidak mau minta uang terus-terusan. Lagipula, sekolah seni untuk Natsu juga tidak makan biaya sedikit, 'kan?"
Wanita itu menatap Shouyou lembut. Kerutan-kerutan di wajahnya menyimpan banyak cerita, masa muda yang dulu penuh warna dan mimpi-mimpi indah, yang kini habis terkikis oleh kelelahan yang terlalu sering bertengger di tubuhnya, menyelimuti eksistensinya. Menyandang titel sebagai Ibu rumah tangga tak lantas menjadikannya wanita yang gemar berleha-leha. Sepanjang yang Shouyou ingat, Ibunya selalu menjadi pekerja keras yang berjuang membesarkan anak-anaknya dengan sangat baik. Kini, sudah saatnya ia mengambil kembali masa-masa istirahat yang dulu Shouyou pinjam ketika si sulung itu masih belum bisa menentukan arah hidupnya sendiri.
Kehidupan mereka tidak kekurangan pun berlebih, semuanya berada dalam kadar dan porsi yang pas. Sejauh ini Shouyou dan keluarganya selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan meskipun perlu waktu untuk mewujudkan segalanya.
"Baiklah. Semoga berhasil," ucap Ibunya dengan nada yang sangat lembut.
"Aaaaahhhh aku sangat sayang pada Ibu," Shouyou memberinya sebuah pelukan erat. "Hanya dua tahun, Bu. Dua tahun akan berlalu secepat kedipan mata."
Shouyou kembali ke kamarnya dengan perasaan lega. Dia menekuri laptop, mencari-cari informasi seputar beasiswa yang akan ia dapatkan. Shouyou mungkin tidak pintar, ia lemah dalam hafalan tetapi prestasinya di dunia voli memang luar biasa. Merasa tidak punya kelebihan selain berolahraga, maka dari itu Shouyou memutuskan untuk melanjutkan studinya di bidang tersebut. Sedang Tobio, sang raja lapangan itu malah mengambil jurusan pendidikan sejarah Jepang karena bidang itu dianggapnya menarik.
Masa depan memang seperti itu, penuh misteri. Shouyou sempat berpikir untuk membuka kedai roti selepas lulus sekolah ketimbang melanjutkan kuliah, tapi siapa sangka kesempatan itu datang tanpa diundang. Kali ini pun sama, ia berencana untuk terus mengajar dengan titel sarjana yang mentok sampai di sana tetapi kesempatan—dan keberuntungan, barangkali—datang lagi.
Masing-masing dari temannya semasa sekolah maupun kuliah memiliki nasib yang tak disangka-sangka, memang. Beberapa bulan yang lalu ia berpapasan dengan Asahi di taman kota, pria itu kini menjadi komandan di Angkatan Laut. Senior yang dikenalnya memiliki hati lembut dan sulit untuk bersikap tegas bahkan pada dirinya sendiri, toh bisa berubah sedrastis itu.
Kei juga—
Sebuah kilat menyambar otaknya, teringat akan panggilan tak terjawab yang diintip Keishin tadi siang. Shouyou memungut ponsel, masuk ke menu registri, dan ada lima panggilan yang tak terjawab. Semuanya dari Kei. Ia ingin membiarkannya, tetapi sedetik kemudian Shouyou malah menemukan dirinya tengah mendengarkan nada tunggu dari nomor Kei. Lagi-lagi tubuh dan logikanya tidak sepikiran.
"Halo," Kei menyapa di seberang telepon.
"Hai," jawab Shouyou pendek. "Um … tadi kau menelepon? Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa,"
"Lalu … kenapa kau menelepon?"
"Kenapa kau menelepon?"
"Karena kau meneleponku duluan, duh!"
"Ya sudah,"
"Ya sudah apa?"
"Ya … selanjutnya terserah, mau ditutup silakan, tidak ditutup juga silakan,"
"Tsukishima—"
"Kau sedang apa?"
Lagi-lagi, mengalihkan topik. "Er … mencari informasi untuk beasiswa,"
"Beasiswa?"
"Iya, untuk program master di Universitas Tsukuba. Aku … dapat rekomendasi beasiswa,"
"Ooh …"
"Hm …"
"Aku tutup ya,"
"Eh? Tunggu, Tsuki—"
Shouyou memandang ponselnya dengan perasaan jengkel. Kenapa pria itu sebenarnya? Barangkali kegiatan di JAXA telah mengubah otaknya menjadi semakin sempit dan aneh. Kei terlalu sering melakukan hal-hal yang mengejutkan, lagi tidak biasa. Memungutnya ke hotel, berdiri di depan pintu kamarnya, menelepon sebanyak lima kali—dan di kali keenam malah membicarakan hal-hal tak penting.
"Setidaknya dia beri komentar soal beasiswa itu atau apa kek,"
