Masa lalu
Kota Testaban – 1840
Seorang pria yang baru saja menginjak umur 23 tahun tepat pukul 12 tengah malam, kini harus rela melihat kejadian yang seharusnya tidak dia lihat dihari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Pria yang bernama Luhan itu kini harus berjuang melawan rasa takut serta amarah yang meluap ketika orang-orang yang dia sayangi telah direngkut oleh makhluk yang selama ini dia benci.
Perasaan emosi yang semakin menjadi membuat Luhan semakin marah kepada mereka. Mereka yang dimaksud adalah kelompok vampire bangsawan yang datang beberapa tahun lalu untuk mendiami kastil besar di dalam hutan.
Selama ini Luhan pikir mereka adalah kelompok vampire yang tidak berbahaya. Sekali waktu beberapa dari golongan mereka pernah datang berkunjung ke Desa Deadwood untuk bertemu dengan para tetua membuat sebuah perjanjian.
Yang Luhan ketahui dari perjanjian antara mereka adalah orang-orang Desa Deadwood tidak boleh masuk ke dalam wilayah kelompok vampire terutama ke dalam hutan yang menjadi tempat persembunyian kawanan mereka, sedangkan untuk kelompok vampire sendiri, mereka tidak boleh menginjakkan kakinya di wilayah perbatasan Desa Deadwood. Jika ada yang melanggar perjanjian tersebut, maka mereka tidak segan-segan untuk melawan bahkan membunuh mereka.
Namun, hari ini tepat pukul 2 malam, beberapa kelompok vampire melanggar perjanjian tersebut. Ada sekitar 5 vampire yang menerobos masuk ke dalam desa. Mereka bahkan membunuh para penjaga perbatasan wilayah desa.
Luhan yang baru saja pulang dari perayaan ulang tahunnya segera bersembunyi dibalik semak-semak ketika dia melihat beberapa vampire dengan jubah panjang mereka sedang berjalan. Salah satu dari mereka menghentikan langkahnya. Dia menoleh kebelakang menatap tempat persembunyian Luhan. Mata tajamnya menangkap sosok Luhan yang sedang siaga memandangnya. Ketika dia akan berjalan mendekati tempat persembunyian Luhan, salah satu vampire menahan tangannya.
"Xiumin, apa yang kau lakukan disini? Kita harus cepat sebelum fajar datang."
Vampire yang bernama Xiumin mengangguk paham kemudian dia kembali berjalan mengikuti teman-temannya. Setelah kepergian Xiumin, Luhan segera keluar dari semak-semak dan memandang kelompok vampire itu dengan tatapan curiga.
"Xiumin.." gumam Luhan lirih. "Apa yang para vampire lakukan disini? Apakah sedang ada pertemuan dengan para tetua?" dia menghela napas panjang. Keningnya mengerut. "Tapi jika ada pertemuan, mengapa harus tengah malam seperti ini?" tiba-tiba sebuah pikiran negative muncul dalam benaknya. Raut wajahnya berubah pucat. "Atau jangan-jangan mereka melanggar perjanjian. Mereka menerobos perbatasan desa." Luhan berdecak geram. Dia segera berlari menuju rumahnya secepat dia bisa.
.
.
Masa Kini
Kota Testaban 2018
Setelah Woojin dan Jihoon sampai di tempat dimana ada beberapa orang berjubah berkumpul, mereka berdua segera menyembunyikan diri dibalik pembatas tangga. Mata Jihoon membulat ketika dia melihat orang yang ada dilukisan yang dia lihat dilantai bawah kini tengah berjalan perlahan menuruni tangga melingkar yang ada di depan mereka.
"Bukankah orang itu yang ada dilukisan?" bisik Jihoon.
"Hu-um..kau benar."
"Tapi bagaimana orang di jaman Victoria masih bisa hidup di jaman sekarang? Bahkan wajahnya tak menua sama sekali. Dia masih tetap tampan." Mata Jihoon berbinar menatap orang tersebut dari kejauhan.
Woojin memutar matanya malas. "Kau jangan tertipu dengan mereka. Tetap fokus dengan pandangan mu dan tetap siaga. Jangan sampai kau lengah atau mereka akan membunuh mu."
Jihoon segera menoleh menatap Woojin dengan wajah terkejut. "Apa maksudmu dengan 'mereka akan membunuh mu'?"
"Duhh..membunuh! kau tahu kan arti dari membunuh?"
Jihoon hanya mengangguk. Wajahnya tiba-tiba memucat ketika orang yang dia lihat telah berbicara dengan seseorang dibawah sana.
"Apa kau yakin Luhan akan membawa dia kemari?" orang yang memiliki kulit seputih susu berjalan mengelilingi ruangan sambil menyalakan semua lilin di ruangan itu.
"Tentu. Sebentar lagi dia akan datang."
"Baguslah. Sebentar lagi kau akan bertemu denganya. Dia akan bangkit kembali dari kematiannya."
"Minhyun hyung, aku senang kau membantu ku melakukan hal itu tapi, bukankah seharusnya kau dan juga mereka yang ada disini membenci kami, kaum campuran."
Orang yang dipanggil Minhyun tersenyum manis. Dia menghampiri Sungwoon. "Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu bahwa aku akan berada dipihak para kaum campuran dan melawan kaum ku sendiri."
Terlihat adanya garis keraguan dimata Sungwoon. Dia menatap Minhyun ragu. Dia menghela napas lalu duduk di tempatnya.
"Apa kau masih meragukan ku sampai sekarang?" tanya Minhyun tenang.
"Tentu saja aku selalu meragukan akan semua ucapan mu. Ahh tidak. Aku ragu dengan semua kaum golongan murni. Kalian semua sama. Para pengkhianat. Apalagi kau sendiri mengkhianati golongan mu sendiri. Dan tentu saja, sekali menjadi pengkhianat akan tetap menjadi pengkhianat. Lalu kau tiba-tiba datang dan mengatakan akan bergabung dengan para kaum campuran. Apakah itu tidak mencurigakan?"
Minhyun tertawa hingga suaranya menggema diseluruh ruangan. Woojin dan Jihoon sampai terkejut mendengar suara tawanya. Jihoon menelan ludah cepat dan menoleh melihat Woojin yang kini sedang mengepalkan tangannya keras.
"Hei ada apa Woojin?"
Deru napas Woojin naik turun dengan cepat. Matanya menunjukan tatapan kemarahan ketika dia melihat Minhyun yang masih terus tertawa.
"Hei Woojin kau kenapa?" Jihoon mengusap tangan Woojin untuk menenangkannya.
Woojin langsung menoleh dan menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa Jihoon."
Woojin kembali melihat kearah Minhyun dan Sungwoon yang masih melanjutkan pembicaraan mereka. Jihoon, tentu saja dia masih menatap Woojin cemas akan keadaannya sekarang. Apa yang terjadi pada Woojin sekarang? Siapa sebenarnya Woojin? Apa yang membuatnya mengajak Jihoon kemari? Pertanyaan seperti itu tiba-tiba terlintas dipikirannya ketika dia melihat mata Woojin berubah menjadi tatapan amarah yang begitu besar.
"Jadi Daniel juga termasuk ke dalam orang pengkhiatan seperti ku, bukan?" mata Sungwoon membulat. Dia menatap Minhyun tajam. "Lalu Xiumin dan juga Sehun. Mereka bertiga begitu menjijikan dimata para golongan murni. Mereka begitu rela melakukan apapun demi untuk melindungi kalian. Mereka bertiga lebih memilih membuang darah murni dan membuat kalian para kaum campuran hidup dari meminum darah kami. Bukankah kalian para kaum –menjijikan- campuran seharusnya lebih banyak berterima kasih kepada kelompok kami? Jasa mereka bertiga telah membuat kalian merasakan bagaimana hidup untuk kedua kalinya."
Sungwoon mengepalkan kedua tangannya. Tatapan kebencian dan amarah mulai muncul. Semua lilin yang ada diruangan itu dengan cepat menyala begitu besar dan itu sukses membuat salah satu dari golongan murni terkejut. Woojin yang sejak tadi geram dengan semua omongan Minhyun, kini mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya.
"Heii Woojin, apa yang akan kau lakukan? Tenangkan dirimu!" Jihoon menahan tangan Woojin sekuat dia bisa, namun Woojin terus mengeluarkan isi ranselnya untuk menemukan sesuatu yang dia butuhkan sekarang.
Jihoon berdecak kesal. Dia segera menampar pipi Woojin keras untuk membuatnya sadar kembali. Woojin menatap Jihoon terkejut. Jihoon menggeleng pelan sambil memasang wajah memelas. "Kumohon jangan seperti ini. Kau membuat ku takut."
Woojin menarik napas panjang. Dia menoleh melihat Minhyun dan Sungwoon yang masih berdebat. Pandangannya kembali menatap kepada Jihoon.
"Kita dengarkan saja dulu apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya mereka juga sedang menunggu seseorang. Jika memang keadaan disini semakin memburuk, kita bisa lari. Jangan melakukan hal apapun yang membuat ku khawatir dan juga takut."
Woojin menghela napas. Dia menyandarkan dirinya dipembatas tangga. Matanya terpejam untuk beberapa detik.
"Maaf Woojin, aku tidak bermaksud untuk menahan mu melakukan apa yang kau mau. Aku tidak tahu ada alasan apa antara kau dengan mereka yang ada dibawah sana sehingga kau begitu marah pada mereka. Aku tidak ingin kau terluka."
"Itu saja?"
Jihoon mengangguk. "Ya itu saja."
Woojin mendekati Jihoon lalu memberikan sebuah kecupan pelan dibibirnya. "Terima kasih telah mengkhawatirkan ku. Maaf sudah membuat mu ketakutan."
Rasa hangat menjalar di seluruh tubuh Jihoon. Wajahnya mulai memerah. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya dan juga dia merasa kini perutnya seperti ada beberapa kupu-kupu terbang didalam sana. Dia memalingkan wajahnya segera untuk menyembunyikan rona merah dipipinya.
"Jangan lakukan hal yang selalu membuat ku terkejut Woojin. Sikap mu seperti itu tidak baik untuk jantung ku sekarang." ucap Jihoon malu.
Woojin tertawa pelan. "Maaf." Pandangannya kini kembali fokus pada pembicaraan Sungwoon dan Minhyun.
"Kau jangan membawa nama Daniel, Xiumin, dan juga Sehun. Mereka bertiga pengecualian. Kau tidak tahu alasan apa dibalik mereka melakukan hal ini kapada kami. Diamlah jika kau hanya bisa membual Hwang Minhyun." Sungwoon menaikan nada suaranya lebih tinggi. Napasnya menderu cepat menatap tajam Minhyun yang masih terlihat tenang.
Minhyun menyeringai. Dia berbalik hingga jubah panjangnya berkibar. "Well..kau membelanya karena kau mencintai Daniel. Sungguh tragis kisah cinta antara manusia dengan para vampire." Minhyun tertawa mengejek. "Daniel...aku masih ingat bagaimana dia membela mu di depan para petinggi di ruang pertemuan. Dia melakukan hal yang sama seperti Xiumin. Mengorbankan harga dirinya sebagai vampire bangsawan dan membuang darah murninya hanya untuk membebaskan dirimu lalu melarikan diri dari kastil. How stupid he is!"
Sungwoon semakin tersulut emosi. Ketika dia hendak menyerang Minhyun, tiba-tiba kedatangan Luhan membuat seluruh para golongan murni berteriak heboh menyambutnya. Sungwoon terdiam sebentar sebelum dia menghampiri Luhan.
"Kau benar-benar membawanya!" mata Sungwoon melirik sekilas melihat wajah Minseok yang pucat. Dia memeriksa leher Minseok. "Apa ini yang kau bilang tidak akan memberikan belas kasih kepadanya?" Luhan hanya menghela napas dan membaringkan tubuh Minseok di lantai.
"Aku hanya memberikan racun dengan dosis yang rendah. Dia akan bangun sebentar lagi jika kita tidak cepat malakukannya."
"Kau yakin akan melakukan hal ini?" tanya Sungwoon ragu.
"Tentu saja! Hanya mereka yang bisa melawan kaum mereka sendiri, bukan kita ataupun para vampire hunter lainnya."
Sungwoon menghela napas panjang. Dia menoleh melihat Minhyun yang berjalan menghampiri mereka.
"Baiklah. Tapi kau harus dengarkan aku sekarang."
"Apa?"
Minhyun mendekat. Sungwoon dan Luhan mulai berdiri. Wajah Minhyun nampak terkejut ketika dia melihat tubuh Minseok dilantai. Kemudian sebuah senyum simpul dia tunjukan lalu memandang Sungwoon dan Luhan bergantian.
"Seorang doppelganger dan mereka sama-sama memiliki darah murni. Apakah ini sebuah kebetulan atau dia adalah reinkarnasi dari Xiumin?"
"Bisakah kita melakukannya dengan cepat? Sebentar lagi dia akan bangun. Jika dia telah bangun semua rencana kita akan kacau."
Minhyun menepuk pundak Luhan pelan. "Kau begitu bersemangat Luhan. Berbeda dengan teman mu." Minhyun melirik Sungwoon yang menatapnya tajam. "Baiklah kita akan lakukan sekarang. Kau bawa tubuh manusia ini ke tempat persembahan lalu aku akan kesana dan memotong kedua pergelangan tangannya agar darahnya mengalir kesemua jalan darah ini." Minhyun tersenyum sebelum dia berbalik dan kembali ke tempat duduknya.
Diatas ruangan, Jihoon terkejut melihat sang kakak kini tengah tergeletak dilantai bawah sana. Wajahnya yang pucat membuat Jihoon semakin khawatir. Dia menggigit kuku ibu jarinya dengan cemas.
"Bagaimana Minseok hyung bisa berada disana? Apakah dia baik-baik saja?" Jihoon menatap Woojin tajam. Meminta jawaban atas pertanyaannya. Woojin hanya diam melihat Luhan yang telah melakukan apa yang Minhyun suruh.
"Hei Park Woojin! Apa kau mendengarku?! Apa yang akan mereka lakukan pada kakak ku? Mereka akan membunuhnya, bukan?" Jihoon menggoyang lengan Woojin kasar.
Woojin menoleh memandang Jihoon dengan tenang.
Jihoon memicingkan matanya. "Kau pasti sudah tahu jika hal ini akan terjadi, bukan? Maka dari itu kau mengatakan kepada ku bahwa ini akan menjadi pertunjukan yang menarik bagi ku." Jihoon mendengus kasar. Dia menatap tajam apa yang mereka lakukan dibawah sana. "Ini bukanlah suatu pertunjukan sirkus yang menarik untuk dilihat." Jihoon melipat tangannya didada sambil menatap tajam kearah Woojin.
"Jika kau tidak menyelamatkan Minseok hyung, aku sendiri yang akan berlari turun kesana dan menyelamatkannya."
Woojin segera menarik tangan Jihoon ketika dia berdiri. Matanya menatap tajam kearah Jihoon. "Dengarkan aku. Kita akan menyelamatkan kakak mu tapi, kau jangan turun kebawah sebelum aku memberikan aba-aba. Aku yang akan turun kesana dan melawan mereka. Jika aku berhasil mengalihkan perhatian mereka, maka kau harus membawa kakak mu dengan cepat keluar dari kastil ini. Kau paham?"
"Tapi bagaimana kau melawan mereka semua, Woojin?" Jihoon melihat kebawah dengan pandangan ngeri.
"Percaya padaku. Aku bisa mengatasi mereka. Perhatian mu cukup kau berikan kepada kakak mu saja."
"Okay. Aku harap kau baik-baik saja. Aku tidak ingin melihat kau terluka. Jangan lakukan hal yang membuat nyawa mu terancam."
Woojin mengangguk. "Aku pergi dulu." dia mencium kening Jihoon sebelum dia bergerak turun dari tangga. Dia telah bersiap dengan senjata ditangannya.
Jihoon menggigit bibir bawahnya melihat keadaan dibawah sana. "Kumohon jangan sampai Woojin dan Minseok hyung terluka." Air mata Jihoon perlahan keluar.
.
.
Lantai ruang tengah yang awalnya bersih kini perlahan muncul sebuah simbol-simbol dari para bangsawan vampire. Setelah semua simbol tersebut nampak jelas, ruang tengah itu terbuka lebar membentuk lubang besar lalu munculah 3 buah peti mati yang perlahan keluar. Para golongan murni mulai meninggalkan tempat singgah mereka dan berdiri mengeliling peti mati tersebut. Luhan dan Sungwoon saling beradu pandang ketika melihat ketiga peti mati itu muncul.
Minhyun mulai bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju tempat dimana Minseok terbaring. Dia mengambil sebuah pisau dibalik jubahnya dan mulai menyayat kedua pergelangan tangan Minseok. Darah pekat keluar dari pergelangan tangan Minseok dan mengalir ke semua aliran jalan darah menuju ketiga peti mati yang berada ditengah ruangan.
Para golongan murni mulai bergandengan satu sama lain dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa mereka. Luhan dan Sungwoon serta Woojin yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa menganga lebar. Untuk beberapa saat Woojin bahkan sampai lupa dengan apa yang akan dia lakukan hingga tepukan pelan dipundaknya membuatnya tersadar. Mata Woojin melebar saat melihat Jihoon sekarang telah berada dibelakangnya.
"Cepat lakukan sesuatu sebelum mereka membunuh Minseok hyung." bisik Jihoon.
"Yes I know! Tapi mengapa kau ada disini? Ini berbahaya."
"Jangan pedulikan aku. Sekarang kita harus segera menyelamatkan Minseok hyung."
Woojin berdecak kesal. "Kau tetap disini. Jangan kemana-mana sebelum aku memberikan aba-aba." Jihoon mengangguk. Woojin segera berjalan pelan sambil bersembunyi dibalik kursi-kursi para golongan murni untuk sampai menuju ke tempat Minseok berada.
Ketika darah Minseok mulai memenuhi semua aliran jalan darah, salah satu peti mulai terbuka. Salah satu vampire mulai bangkit dari dalam peti. Rambut merah maroon yang terlihat mencolok membuat Sungwoon terkejut hingga dia ingin menangis. Luhan menepuk pundak Sungwoon agar dirinya tenang.
"Daniel...dia masih sama seperti ketika aku membunuhnya." ucap Sungwoon dengan suara bergetar.
Luhan hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi dibalik semua itu, dia sama seperti Sungwoon. Dia ingin menangis menanti kebangkitan dari makhluk yang pernah dia cintai.
Peti kedua mulai terbuka. Munculah sosok vampire tinggi kurus dengan wajah yang tak kalah tampan seperti vampire berambut merah maroon. Kulit putihnya yang pucat memantulkan cahaya layaknya berlian ketika cahaya bulan menyinarinya. Minhyun tersenyum lebar. Dia berjalan menghampiri kedua vampire itu.
Luhan menggigit bibir bawahnya. Dia menunggu kemunculan vampire ketiga dengan cemas. Perasaannya terus tak sabar menantikan makhluk itu muncul didepan matanya.
"Mengapa Xiumin tidak bangkit juga? Apa yang membuatnya begitu lama untuk keluar dari petinya?" gumam Luhan.
Sungwoon menunjuk peti mati milik Xiumin dengan dagunya. "Kau tahu sendiri jika dia adalah vampire yang special. Bahkan untuk membuatnya tertidur saja butuh proses yang rumit. Jadi untuk membangkitkan dia juga perlu waktu yang cukup lama. Dia berbeda dengan Daniel dan Sehun."
Luhan menghela napas panjang. Wajahnya nampak sedikit kecewa. "Kau benar. Bahkan dulu aku menunggu prosesnya diluar kastil hingga fajar hampir tiba."
Sungwoon menepuk pundak Luhan sambil meremasnya pelan. "Kau tenang saja. Aku yakin sebentar lagi dia akan bangkit seperti mereka berdua."
...
