Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kuro Shiina

Kuro Shiina

Proudly

Present.

NOT JUST SIMPLE MARRIED

Warning : SasuSaku

Genre : Romance, Drama, etc.

Rate : T (dapat berubah sewaktu-waktu)

D

L

D

R

.

.

.

.

.

.

Selamat membaca,

"Sudah selesai?" Suara Sasuke yang tiba-tiba, mengagetkan Sakura yang baru saja rehat karena aktivitasnya dengan Sasuke. Bukannya menjawab Sakura malah melayangkan tatapan membunuhnya pada Sasuke. Sasuke yang ditatap seperti itu oleh sang sekertaris hanya mendengus sambil memasang tampang yang super duper menyebalkan menurut Sakura.

Sakura marah pada bosnya ini, menyuruh Sakura untuk pergi keapartemennya hanya untuk menjadi pembantunya saja jauh sekali dari perkiraanya. jika tadi Sakura tahu akan seperti ini akhirnya dia tidak akan sudi diajak kesini. Tunggu, hey nona mang apa perkiraanmu tadi? Kau pikir bosmu akan melakukan apa padamu?

Saat ini mereka tengah berada diapartemen Sasuke tepatnya didalam kamar Uchiha bunsu ini. Tapi kalian jangan berpikir yang iya-iya dulu, karena tidak ada sesuatu yang terjadi antara keduanya. Yeah kalau misalkan sesuatu itu adalah perintah Sasuke pada Sakura untuk menyiapkan keperluannya untuk besok yang akan keluar kota mungkin iya.

"Sudah, Ada lagi yang harus aku kerjakan, tuan?" Tanya Sakura pada Sasuke dengan tidak repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya pada nada bicaranya.

"Hm, entahlah. Tapi sepertinya aku lapar, masakkan aku sesuatu. perintah Sasuke seenaknya.

"Apa? Aku ini sekertarismu tuan, bukan pembantu pribadimu." Jawab Sakura akhirnya karena merasa muak dengan sikap otoriter bosnya.

"Terus apa bedanya?"

"Ya jelas beda dong, seorang sekertaris bekerja untuk membantu bosnya diperusahaan. Bukannya disuruh-suruh seperti yang kau lalukan padaku, tahu." Jawab Sakura dengan ketus dan juga melupakan sopan santunnya untu berbicara dengan sang atasan.

"Jadi kau tidak terima?"

"Ya iyalah. Siapa juga yang mau disuruh-suruh seperti pembantu, hanya orang gila saja yang mau."

"Kalau begitu berhenti saja menjadi sekertarisku."

"Oke, aku akan berhen- E-eh...maksudku tidak." Jawab Sakura dengan cepat. Mana mungkin Sakura menyia-nyiakan kesempatan emas ini, huh kalau saja Sakura tidak sadar dengan jawabannya mungkin dia akan menyesal seumur hidup.

"Kenapa tidak?" Desak Sasuke sambil menatap tepat dibola emerald Sakura yang saat ini tengah menatapnya dengan kaget.

"I-i-tu...ka-karena-"

"Karena apa? karena kau orang gila?" Tanya Sasuke membalikkan pernyataan Sakura tadi.

"E-eh..bu-bukan begitu," sanggah Sakura atas tuduhan Sasuke. Enak saja dia dikatai orang gila, eh tapi bukannya Sakura sendiri yang bilang bahwa orang yang mau disuruh-suruh itu hanya orang gila. Berarti benar dong kata Sasuke, dia gila kan. Wah tidak itu tidak benar.

"Sudah kalau begitu lakukan saja apa perintahku," putus Sasuke pada akhirnya. Sasuke pun pergi meninggalkan Sakura sepertinya dia akan pergi kekamar mandi yang berada disudut kanan apartemenya.

Sakura yang tersadar dari monolognya akhirnya menuruti juga perintah Sasuke. Dia keluar dari kamar Sasuke menuju dapur yang menyatu dengan ruang makan disisi kiri apartemen. Dapur itu bergaya minimalis dengan warna coklat mendominasi ruangan yang disebut-sebut sebagai surganya para wanita itu.

.

.

.

.

.

Aku harus masak apa untuknya? Tanya Sakura pada dirinya sendiri. Sakura membuka kulkas berniat mencari bahan-bahan yang akan dia masak. Sakura sedikit kaget dengan melihat isi kulkas bosnya yang terbilang cukup lengkap, dari mulai sayuran daging bumbu-bumbupun ada disana. Apa bosnya suka memasak ya? Atau jangan-jangan kekasih bosnya yang suka memasakan makanan untuk bosnya.

Sakura merasa kasihan pada wanita yang menjadi kekasih bosnya. Tampan sih kaya juga tapi Sakura tidak mau punya pacar seperti Sasuke. Meskipun dia jomblo tapi dia harus selektif juga kan dalam memilih pasangan.

Nasi goreng sajalah yang simpel, nasi goreng tomat sepertinya tidak buruk. Putus Sakura akhirnya tentang apa yang akan dimasaknya. Sakura mulai memulai ritual memasaknya sebenarnya Sakura bisa memasak hidangan apapun dari hidangan yang sederhana sampai yang paling rumit pun dia bisa tapi dengan catatan masakan itu adalah makanan jepang. Tapi untuk saat ini nasi gorenglah yang cocok.

Setelah beberapa saat kemudian Sakura telah selesai dengan dua piring nasi goreng ditangannya dengan hati-hati ia taruh piring itu diatas meja berplitur. Setelah Sakura menyelesaikan nasi gorengnya dia harus mbersihkan lagi peralatan masak yang tadi telah dia pakai untuk membuat nasi goreng.

"Kau masak apa?" Suara Sasuke yang tiba-tiba membuat Sakura sedikit kaget Sakur heran apa bosnya ini suka sekali membuat orang kaget. Untungnya saat ini Sasuke tidak bicara tepat ditelinga Sakura. Keduanya dipisahkan oleh meja makan yang diatasnya terhidang makanan yang menggugah selera biarpun hanya nasi goreng tapi jika itu hasil tangan Sakura jangan tanya lagi, rasanya pasti seperti nasi goreng.

"Hanya nasi goreng soalnya aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu." Bohong Sakura, padahal alasan dia membuat nasi goreng itu adalah karena dia tidak tahu apa yang harus dia masak.

"Nasi goreng tomat?"

"Eh? Emm..iya. Karena kulihat banyak sekali tomat dikulkas jadi aku tambahkan saja pada nasi gorengnya. Tapi sepertinya terlalu banyak, kau tidak suka?"

"Hn," jawab Sasuke ambigu. Sakura tak mengerti apa yang dimaksud oleh bosnya ini, namun melihat Sasuke yang mulai menyantap makanannya dengan diam Sakura menyimpulkan bahwa bosnya itu tidak masalah dengan nasi goreng tomatnya.

Sebenarnya tadi Sasuke ingin bilang iya dan menyuruh Sakura untuk memasakan lagi makanan untuknya. Namun saat melihat hidangan yang telah tersaji diatas meja yaitu nasi goreng tomat niat itu hilang entah kemana. Kalau boleh buka-bukaan Sasuke itu suka sekali dengan nasi goreng apalagi ditambah buah berwarna merah kesukaannya berkali-kali lipatlah rasa suka Sasuke terhadap nasi goreng ini yang sekarang tinggal setengahnya lagi.

Melihat Sasuke yang sedang menyantap makan malamnya Sakura pun ikut duduk dimeja makan kemudian memakan jatah bagiannya. Mereka makan dengan hening yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

Kalau dipiki-pikir hari ini mereka Kok jadi seperti sepasang kekasih ya? Makan siang bersama di restoran yang dipilihkan oleh sang kekasih pria dan sekarang tengah makan malam dengan makanan yang dimasak oleh sang wanita, romantisnya. Apa yang akan terjadi ya setelah makan malam ini selesai, kalian penasaran? Sama saya juga, kok kaya yang di tv sebelah ya? Ah sudahlah itu tidak penting.

"Bersiaplah untuk besok," suara Sasuke memecahkan suasana henong yang sempat tercipta beberapa saat yang lalu sepertinya sang Uchiha in telah selesai dengan makan malamnya terbukti dengan habisnya makanan diatas piring porselen yang ada dihadapannya.

Sakura yang masih berkutat dengan nasi gorengnya memiringkan kepala merah jambu miliknya pertanda tak mengerti atas ucapan Sasuke. Sasuke hanya menatap sekilas sebelum akhirnya bangkit dari kursi meja makan meninggalkan Sakura yang masih kebingungan.

Persiapan untuk besok, memangnya mau apa? Tanya Sakura dalam hati. Dan apa maksud bosnya juga tidak menjawab pertanyaan Sakura, yah meskipun tidak diucapkan secara lisan tapi masa bosnya tak mengerti. Tapi kenapa juga bosnya harus mengerti emang itu penting? Ah sudahlah mendingan dia habiskan dulu nasi gorengnya baru kemudian meminta penjelasan pada Sasuke.

.

.

.

.

.

"APA? Kenapa harus aku? Dan kenapa mendadak sekali?." Tanya Sakura pada Sasuke yang saat ini tengah menekuni laporan yang telah diberikan oleh bawahannya perihal kondisi perusahaannya.

"Pertama karena kau sekertarisku dan yang kedua karena tidak diberitahukan lebih awal." Jawab Sasuke panjang lebar tapi sepertinya untuk jawaban yang kedua itu tidak usah dijawab saja kalau jawabannya seperti itu. Tapi biarlah sudah terlanjur

"Tapi aku belum ada persiapan," ujar Sakura pada Sasuke.

"Masih ada waktu sampai besok kau bisa mempersiapkan semuanya."

"Aku tahu, tapi tetap saja ini sangat mendadak untukku, sebelumnya aku tidak pernah mendampingi bos untuk dinas keluar." Jawab Sakura dengan jujur.

"Bagus, berarti ini akan menjadi pengalaman pertama untukmu," jawab Sasuke kemudian sepertinya dia tidak mempermasalahkan tentang pengalaman kerja Sakura yang sangat minim itu.

"Berapa hari?" Tanya Sakura pada Sasuke yang dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya pada laporan yang berada ditangannya.

"Tiga hari, paling lama seminggu."

"Terus aku harus membawa persiapan untuk tiga hari atau tujuh hari?"

"..."

"Siapa saja yang akan ikut?"

"Ck, banyak tanya. Sudahlah pulang sana bukankah kau harus mempersiapkan untuk besok." Terang Sasuke pada Sakura, jujur saja Sasuke kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Sakura.

Sakura masih berdiri disana sepertinya tak ada niatan untuk menuruti perkataan Sasuke. Sasuke yang melihat Sakura hanya diam berdiri disana hanya mengangkat alis kirinya pertanda heran. Ada apa lagi? Apa perempuan ini belum jelas dengan semua ini?

"Kau tidak akan mengantarku?"

Tuing.

Perempatan siku-siku muncul di kepala Sasuke.

"Mengantarmu? Memangnya kau siapa?"

"Sekertarismu," jawab Sakura enteng. Dia ingin mengerjai bos tengilnya ini.

"Tidak mau. Pulang saja sendiri." Tolak Sasuke atas pertanyaan konyol sekertarisnya.

"Ini sudah malam, kalau ada sesuatu yang buruk terjadi padaku bagaimana?"

Benar juga kata makhluk pink ini, apalagi kabarnya sekarang ini marak kejahatan yang menimpa para perempuan apalagi saat malam hari. Kalau misal terjadi sesuatu yang buruk pada Sakura Sasuke juga yang repot apalagi Sakura baru pulang dari rumahnya nanti orang-orang akan menuduhnya sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab karena membiarkan perempuan untuk pulang sendiri.

Tunggu kenapa dia malah berpikir yang tidak penting sih, ini gara-gara makhluk pink yang sedang berdiri disampinya.

"Ayolah tuan, memangnya kau tega membiarkan wanita cantik sepertiku pulang sendiri?"

"Cantik? Apa aku tak salah dengar?"

"Tidak. Cepatlah~ aku harus segera pulang untuk mempersiapkan segala keperluanku untuk besok. Bukakah tuan sendiri yang bilang bahwa aku harus segeta pulang, benarkan?" Tantang Sakura pada Sasuke yang sepertinya mulai terpancing akan perkataan Sakura.

"Hey tuan anggap saja ini balas budimu padaku yang telah memasakkan makan malam untukmu." Lanjut Sakura tidak membiarkan Sasuke untuk menyela perkataannya.

"Kau!"

"Aku apa?"

"Menyebalkan."

.

.

.

.

.

Saat ini mereka berdua tengah betada dalam mobil Sasuke situasi ini pernah mereka berdua alami siang tadi. Bedanya jika tadi siang sang wanita yang tidak nyaman dengan suasana didalam mobil berbanding terbalik dengan sekarang, sang pria yang sepertinya tidak nyaman dengan semua ini. Bagaimana tidak, dia yang terbiasa dengan keheningan tak terbiasa dengan suara sumbang sekertarisnya yang sedang bernyanyi mengikuti lagu yang sekarang sedang diputar didalam mobil itu. Demi tuhan suara merdu YUI dirusak dengan suara bak kaleng rombeng milik Sakura. Sasuke tak habis pikir bukankah dirinya yang akan mengerjai Sakura sekarang malah sepertinya dia yang dikerjai.

"Sebenarnya rumahmu dimana? Kita sudah melalui jalan ini sebanyak tiga kali." Tanya Sasuke pada Sakura yang sengaja mengeraskan suaranya saat ditanya oleh Sasuke.

Cukup sudah kesabaran Sasuke, bagaimana tidak? Wanita ini berani mempermainkannya. Apa saja yang telah dilakulan Sakura sehingga membuat Sasuke kesal setengah hidup, mau tahu? Baiklah marilah kita mundur beberapa saat yang lalu.

Few minutes ago

"Rumahmu dimana?" Tanya Sasuke pada Sakura yang sedang mengenakan sabuk pengamannya.

"Tuan tidak perlu tahu dimana rumah saya," jawab Sakura bergurau berniat sedikit mempermainkan Sasuke. Memangnya hanya Sasuke saja yang bisa mengerjainya Sakura pun bisa.

"Kalau begitu mana bisa aku mengantarmu," jawab Sasuke sedikit terpancing akan permainan Sakura.

"Baiklah sekarang jalankan saja mobilnya terlebih dahulu biar aku yang menunjukkan jalan untukmu." Titah Sakura pada Sasuke yang dengan anehnya Sasuke menurutinya.

Sekarang mereka tengah berada di jalanan Konoha yang ramai lancar, Sakura membuka suara.

"Hey tuan, bolehkah aku menyalakan mp3 di mobilmu?"

Sasuke tidak perlu repot untuk menjawabnya karena dengan seenaknya Sakura sudah menyalakan mp3nya dengan volume yang cukup keras. Terdengar suara merdu wanita yang mendayu-dayu ditengah hiruk pikuk suasana Konoha dimalam hari. Namun semua itu sirna saat Sakura ikut bernyanyi menyanyikan lagu yang tidak asing ditelangi Sasuke tapi Sasuke tidak mengenal siapa penyanyinya.

"Sekarang kita kemana?" Tanya Sasuke dengan sedikit menaikkan nada bicaranya karena suara mp3 yang terlampau kerasa.

"Oh, hmm..belok kiri."

"Kau yakin?"

"Yakinlah, aku sudah lima tahu tinggal disana dan aku sudah hafal diluar kepala jalan untuk menuju kesana," aku Sakura dengan bangga.

Sasuke akhirnya mengikuti juga petunjuk Sakura untuk berbelok kiri tapi Sasuke tak yakin karena setahunya daerah itu tak ada apartemen. Apa mungkin apartemen itu baru? Tapi katanya Sakura sudah tinggal disana selama lima tahun apa Sakura tengah mengerjainya?

Dan benar dugaan Sasuke kawasan itu sama sekali tak ada bangunan vertikalnya yang kita sebut saja apartement. Yang ada hanya kawasan proyek yang kalau tidak salah disini akan dibangun rumah-rumah bagi para pegawai Uchiha Corp yang telah mengabdikan dirinya untuk kemajuan perusahaan. Sasuke berdecak dalam hati kenapa dia tidak menyadarinya dari awal.

"Kau tinggal disini?" Tanya Sasuke sarkastik.

"Tidak, hehe sepertinya kita salah jalan. Bukan belok kiri tapi belok kanan. Maafkan aku, aku memang susah membedakan mana kanan atau kiri." Jawab Sakura tanpa merasa bersalah pada setiap kata yang diucapkannya.

Dengan menahan amarah Sasuke kembali memutar balikkan mobilnya. Tahan Sasuke seorang Uchiha tidak akan melawan seorang wanita. Ibumu pernah bilang wanita itu disayang bukan dilawan benarkan?

Sekarang mereka kembali kejalan antar belokan kanan dan belokkan kiri(?).

"Belok kanan?" Tanya Sasuke memastikan.

"Huum." Jawab Sakura sambil menganggukan kepalanya dengan sangat yakin.

Dan sepertinya kali ini Sakura membawa mereka ketempat yang benar dihadapan mereka menjulang bangunan berlantai entah berapa.

"Sudah sampai, cepat turun!" Perintah Sasuke pada Sakura yangenpilkan ekspresi seperti orang yang tengah berpikir serius.

"Sebentar!"

Ada apa lagi? Jangan bilang bahwa ini bukanlah apartemennya? Kalau benar itu terjadi mungkin Sasuke harus segera mandi kembang tujuh rupa untuk membuang sial pada dirinya.

"Hehe, kau tidak akan marahkan?"

Benarkan?

"Hn."

"Aku lupa, hehe. Ini adalah apartemen temanku, dulu aku pernah tinggal disini. Meskipun telah lama berlalu namun aku masih saja menganggap apartemen ini milikku maklum banyak kenangan indah yang telah aku lalui diapartemen ini." Jelas Sakura panjang lebar diakhiri senyuman untuk meyakini Sasuke tentang perkataannya. Namun itu tidak berlaku pada Sasuke.

Tarik-buang-tarik-buang. Hah~

Dengan datar Sasuke melirik Sakura yang tengah memasang wajah bersalah namun dalam pandangan Sasuke wajah itu adalah wajah kemenangan karena telah sukses mengerjainya.

"Sepertinya kita harus kembali ke jalan raya Konoha," ujar Sakura pada Sasuke yang sekarang tengah menyetir. Dalam hati Sakura ingin sekali berteriak menyanyikan lagu kemenangan namun dia tahan. Dengan pura-pura memasang wajah menyesal Sakura kembali buka suara.

"Kalau kau marah, turunkan saja aku disini. Aku akan naik taxi saja." Ujar Sakura pada Sasuke sebenarnya hanya basa-basi sih karena Sakura yakin Sasuke tidak akan tega melakukan itu. Mungkin jika Sasuke mau sudah dari tadi Sasuke menurunkan Sakura tapi ini tidak 'kan?

Sasuke tak menghiraukan perkataan Sakura Sasuke terus saja mengemudilan mobilnya menuju jlalanan Konoha.

Saat ini mereka tengah kembali kejalan Konoha yang masih ramai lancar biarpun hari semakin larut tetap saja kendaraan tidak berhenti melintasi jalanan kota metropolitan itu, malah semakin sebanyak saja kendaraan yang berlalu lalang dijalan.

"Ikuti saja jalan ini," terang Sakura pada Sasuke yang sepertinya tengah sangat sangat gondok dengan ulahnya. Namun Sakura tidak peduli salah apa membuat masalah dengan ular sepertinya. Jika boleh jujur saat di SMAnya dulu Sakura dijuluki sebagai orang terjahil seantero sekolah.

End of flashback

Begitulah saudara-saudara kisah seorang bos malang yang dikerjai sekertaris barunya.

"Aku tanya sekali lagi, dimana rumahmu?" Tanya Sasuke dengan penekanan disetiap kata yang dilontarkannya.

"Kita sudah sampai. Terimakasih tumpangannya," ucap Sakura pada Sasuke yang tengah memperhatika gedung berlantai lima yang bertuliskan Apartement Klorofil dan yang menyebalkan apartement itu tepat berada dipinggir kota yang hanya memerlukan waktu tiga puluh menit dari apartemen Sasuke. Apartemen ini adalah apartemen untuk masyarakat kalangan menengah kisaran para pegawai kantoran berpenghasilan rata-rata. Berbeda dengan apartemen Sasuke yang hanya diisi oleh orang-orang berkantung tebal saja yang sayangnya para kalangan atas jarang sekali untuk menempati apartemen mewahnya itu. Mereka hanya menjadikan apartemen berharga ratusan juta ryo itu hanya tempat persinggahan saja. Sungguh berbanding terbalik bukan?

.Sakura cepat-cepat membuka sabuk pengamannya, setelah tet

rkepas Sakura segera membuka pintu mobil namun pintu mobil itu tak kunjung terbuka. Mala dengan cepat Sakura melirik kearah Sasuke yang saat ini masih diam tak bergerak.

"Disini?" Tanya Sasuke, jujur saja Sakura sedikit takut dengan Sasuke yang sepertinya benar-benar marah padanya.

"I-iya..di-disini. Ki-kita..sudah sampai." Jawab Sakura dengan gugup.

"Bisa kau bukakan pintunya?" Pinta Sakura pada Sasuke yang masih saja memfokuskan pandangannya kearah apartement dimana Sakura tinggal. Namun dengan tiba-tiba Sasuke melepaskan sabuk pengaman miliknya kemudian berbalik mendekati Sakura yang saat ini sedang merasa ketakutan.

"K-ka-kau..mau apa?"

"Menurutmu?" Tanya Sasuke berbahaya dengan terus mendekati Sakura yang terpojok tangan kiri Sasuke mendorong kursi Sakura kebelakang sehingga posisi Sakura terlentang dengan Sasuke yang terus saja mendesaknya.

"Ja-jangan...macam-macam kau! Jika kau berani mendekatiku sedikit lagi, aku akan teriak!" Ancam Sakura yang sudah sangat terdesak oleh tubuh Sasuke sehingga membuat Sakura terus saja mundur yang sialnya malah membuT Sasuke semakin mudah mendekatinya

"Teriak saja saja sesukamu, mobil ini kedap suara tidak akan ada yang mendegarmu walau pita suaramu putus sekalipun." Jawab Sasuke yang saat ini sudah mendorong Sakura kebelakang sehingga saat ini Sasuke telah menindih Sakura jika saja tangan Sakura tidak menahan dada bidang Sasuke tubuh keduanya akan saling bersentuhan.

"Awas kau aku akan melaporkanmu pada polisi atas perbuatanmu padaku," ancamam Sakura lagi. Namun sepertinya itu tidak berpengaruh pada Sasuke buktinya Sasuke terus saja menekan Sakura hingga tubuh keduanya saling bersentuhan. Nafas Sakura terengah-engah sungguh dia takut sekali dia tidak menyangka akan begini akhirnya. Maka saat ini Sakura hanya bisa pasrah dengan semuanya yang bisa dilakukannya hanyalah menutup kedua matanya erat-erat tak ingin melihat apa yang akan Sasuke lakukan padanya.

Eh tapi kok tidak terjadi apa-apa ya? yang dia rasakan hanyalah hembusan nafas Sasuke diatas kepalanya. Maka dengan memberanikan diri Sakura membuka matanya saat itu juga Sasuke bangkit dari tubuhnya sambil membawa benda yang sepertinya adalah pemukul baseball?

Ternyata Sasuke hanya mengamnil pemukul baseball yang berada dikursi penumpang tepat dibelakang kursi Sakura yang mana berada disisi kanan pengemudi.

Sakurapun mulai membenarkan posisi duduknya kembali dia menatap heran Sasuke. Kenapa Sasuke tidak melakukan apa-ap padanya. Sakura kira Sasuke akan eh kenapa jadi berpikir yang tidak-tidak sih. Kenapa kesaanya Sakura kecewa ya dengan ini? Apa dia mengharapkan perlakuan Sasuke tadi? Hehe enak saja Sakura mana mungkin seperti itu hanya saja dia menyayangkan kerja Sasuke yang setengah-setengah.

"Kau pikir aku akan melakukan apa sehinnga kau akan teriak dan melaporkanku pada polisi, hem? Tanya Sasuke pada Sakura yang masih mencerna kalimat Sasuke barusan.

Benar juga, kenapa Sakura akan teriak dan melaporkan Sasuke pada polisi? Orang Sasukr tidak melakukan apapun kok. Apa jangan-jangan?

"A-aku takut kau membunuhku," jawab Sakura pada akhirnya.

"Begitu ya? Maaf aku tidak tertarik,"

"Tapi kenapa kau mengambil tongkat baseball? Bukankah itulah yang akan kau gunakan untuk membunuhku?" Tanya Sakura ragu-ragu.

"Apa tampangku seperti pembunuh?"

"Aa."

"Ck, sudahlah cepat turun bukankah sudah sampai? Tongkat baseball ini bawa bersamamu. Jika nanti kau pulang malam kau tidak perlu diantar jika ada orang yang ingin macam-macam padamu tinggal kau pukul saja dengan itu, jelas?" Terang Sasuke panjang lebar.

Sakura tidak menjawab apa-apalagi dia hanya diam sbil memandangi tongkat baseball itu seakan tongkat itu adalah barang berharga baginya. Pintu mobilpun dibuka otomatis oleh Sasuke dengan hening Sakura keluar dari mobil itu dan kemudian mengucapkan terimakasih lagi pada Sasuke.

"Besok jangan sampai terlambat," tegur Sasuke pada Sakura yang seoertonya mulai sadar komanya.

Tanpa menunggu jawaban dari Sakura mobil itu dengan cepat men

nggalkan kawasan apartemen itu dan bergabung dengan kendaraan lain dijalan ramai Konoha.


TBC

Makasih buat semua yang udah RnR ;)

Semoga kalian suka chap ini..

Spoiler next chap

"Kenapa kau hanya memesan satu kamar?"

"Bukan urusanmu "

"Aku tidur dimana?"

"Bersamaku,"

"Dasar kau makhluk tengil lihat saja pembalasanku."

Mind to review?

.

Sign,

kshiina