Hallo, saya datang kembali! Kali ini tidak selambat dan selelet Chap kemarin kan? Ok, bagaimana di Chap kemarin? Puas atau bagaimana. Hehehe...

Yosh! Sepertinya gak perlu banyak bacot dan bertele-tele lagi. Silahkan menikmati Fict ini dengan tenang (?).

...

Bandara Internasional Konoha terlihat padat akan orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari. Beberapa dari mereka terlihat membawa barang bawaannya yang ekstra besar dan sebagian dari mereka pula juga ada yang duduk diam ditempat tunggu. Namun hal itu tidak untuk seorang wanita yang mencari seseorang yang sepertinya ia lupa akan kedatangannya. Dia seorang wanita yang cantik, seorang wanita yang berparas anggun dengan kaca mata hitam dan sebuah topi yang membingkai indah diatas surai merah maroonnya.

Manik matanya melirik kanan-kiri mencari seseorang yang pasalnya akan menjemputnya saat ini. Sungguh! Ia sudah mulai bosan menunggu kedatangan lelaki berambut merah dan bertato Ai tersebut.

Wanita yang bernama Hakumi Karin tersebut tampak menghela napas berat. Dia mulai kesal dan menghentak-hentakkan kakinya akan keterlambatan pemuda tersebut. Barulah selang sepuluh menit kemudian, ia melihat pemuda berpawakan tinggi tegap dan berpakaian serba hitam itu datang dan menuju kearahnya.

"Kau terlambat, Gaara." desis Karin kesal memandang Gaara.

"Hmm... Selamat datang. Karin"

...

...

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Rated : T+. Bisa berubah sewaktu-waktu

Genre : Romance, Family, Drama

Warning! OOC, OOT, TYPO (s), pengerusakan karakter dan EYD berantakan.

...

Don't like Don't read, and happy reading!

~o000o~

.

Sakura P.O.V

.

Sore yang tenang. Aku duduk berselonjor disofa yang empuk. Senang rasanya bisa melemaskan syaraf-syaraf ototku setelah seharian sibuk dirumah sakit Konoha. Saat ini aku tinggal di apartemen milik Sasuke, meninggalkan rumah kecil kami yang sangat kusukai. Dia bilang, sesekali apartemen miliknya ini harus dihuni agar tidak kotor dan bisa dijadikan tempat peristirahatan jika kedua orang tua kami tiba-tiba datang menganggu. Hampir sebulan lamanya kami menjalin rutinitas sebagai sepasang suami-istri. Sejauh ini sih cukup menyenangkan. Kehidupan kami cukup terkendali dan terbilang aman, yang artinya belum ada ketegangan yang diakibatkan oleh pergesekan antara dua karakter yang berbeda tentu saja. Dalam banyak hal, Sasuke sangat pendiam dan tak terlalu menuntut ini dan itu. Toh kenyataannya aku sudah cukup mengenal laki-laki itu hampir tiga tahun lamanya, sehingga maklum jika aku sedikit bertingkah.

Dan tentu saja aku tahu, bahwa ada begitu banyak wanita yang akan mengucapkan betapa beruntungnya aku menjadi istri dari seorang Uchiha Sasuke yang ketampanan dan karismatiknya tak bisa disangkal begitu saja. Dari pandanganku, Sasuke memang lelaki yang tampan dan mapan. Sikapnya yang tenang dan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar memang sudah menjadi karakternya. Kadang aku heran, kenapa ada begitu banyak wanita yang sangat mendamba, mengaguminya dan ada juga yang tak tanggung-tanggung ingin menjadi kekasihnya. Aku merasa mereka sangat konyol, aku saja yang menjadi istrinya pun tak terlalu mengebu-gebu untuk berdekatan dengan laki-laki mesum macam dirinya, apalagi dia saaaangat menyukai wanita.

Ah~ jika aku mengingat Sasuke, aku sadar jika sudah tiga hari ini dia sudah tak pulang. Alasan yang kuterima hanya satu, "dalam jangka tiga hari aku tidak akan pulang. Aku ada urusan bisnis diluar kota" begitu katanya. Tapi masa bodoh dengan ucapannya itu. Aku sama sekali tak mau ikut campur dan tak ingin tahu tentang kegiatannya diluar sana.

Yaa... memang sulit mempercayainya. Tapi yang jelas, Sasuke memang selalu sering disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk. Tapi hal seperti itu memang bisa kubayangkan sebelumnya. Karena aku pernah melihat dia membawa beberapa dokumen dan file-file yang dikerjakannya dirumah sampai larut malam. Meski dia mesum dan menyukai wanita sexy, namun sepertinya Sasuke akan berubah menjadi laki-laki serius jika sudah berhadapan dengan pekerjaannya itu. Aku tahu, posisi pentingnya diperusahaan mengharuskannya untuk berpergian dan konsentrasinya yang tidak boleh setengah-setengah.

Sedikit dorongan dari diriku, sepertinya ada baiknya juga jika aku menghubunginya dan menanyakan kabarnya. Setidaknya biarkan aku menjadi istri yang perhatian terhadap kondisi suaminya sendiri.

Aku mengambil ponselku yang terletak diatas meja, tanpa membuang waktu lama lagi aku langsung mencari nama Sasuke. Tapi sebelum sempat niatanku itu terlaksana, bel apartemen berbunyi.

Teettt... Teeetttt... Teettttt...

Bel berbunyi? Aku sedikit mengernyitkan alis dalam. Dari siapa? Apa mungkin orang tua Sasuke yang datang kesini. Karena hanya memang mereka yang sering berkunjung keapartemen ini. Tak ada yang lain. Dan sepertinya Sasuke pun tak terbiasa mengundang teman-temannya datang semenjak kami menikah.

Teettt... Teeettt... Teetttt...

Suara itu mengalun lagi. Segera saja kulangkahkan kakiku untuk segera membuka pintu. Dan setelah pintu terbuka, aku terbenggong. Sedikit mengernyitkan alis dalam dan menatap sosok yang tengah berdiri di sana.

"Ya, mencari siapa?" Tanyaku sesopan mungkin.

Sosok wanita yang ada dihadapanku hanya diam. Sepertinya dia juga sama binggungnya denganku. Tapi setelah itu, ia menelitiku dari atas sampai bawah.

.

Normal P.O.V

.

"Siapa kau? Sepupunya Sasuke atau House Keeper-nya? Sasuke jarang mengundang seorang wanita asing datang ke apartemennya"

Sakura terkejut. Bahkan sangat terkejut begitu mendengar perkataan wanita yang ada dihadapannya itu. "Aku yang tanya, kenapa dia balik tanya" dengus Sakura kesal. Dan kata-kata yang dilontarkannya itu sedikit membuat Sakura tersinggung. Dia bilang apa tadi? Sepupu dan House Keeper. Sakura akui jika wanita ini memang cantik. Cantik wajah, cantik penampilan, cantik body dan cantik segalanya. Tapi menurut Sakura, mulut dan sopan santunnya sangan bertolak belakang.

"Dimana Sasuke, apa dia sedang pergi?" tanya wanita itu lagi. Tanpa permisi dari Sakura, wanita berkaca mata tersebut langsung melangkah masuk. Wanita bertubuh semampai itu melenggang santai menuju sofa didepan televisi, dan menghempaskan dirinya disana. Dari kasat mata Sakura, sepertinya wanita itu sering berkunjung ke apartemen Sasuke sebelumnya.

"Sasuke pergi ke Osaka, ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda!?" jawab Sakura sekenanya begitu melihat wanita itu diam menunggu jawaban.

"Osaka? Kenapa dia tidak menghubungiku" gerutunya sambil mengaduk-aduk isi dalam tasnya. Tak lama setelah itu ia mengambil telepon genggamnya dan memencet-mecet tombol handpone-nya.

Tanpa membuat suara Sakura mendekat, duduk disofa yang tak terlalu dekat dengannya. Diam-diam wanita bersurai merah muda itupun menatap wanita itu dengan pandangan penuh tanya. Didalam otaknya begitu banyak pertanyaan akan siapa wanita yang saat ini berada di apartemen milik Sasuke. Meski begitu, bagaimanapun juga dia adalah seorang tamu, dan sebagai tuan rumah, semestinya Sakura memperlakukan wanita itu dengan baik meski pikiran-pikitan aneh mau tak mau mulai berkeliaran dikepala pink miliknya.

"Ah~ anda ingin minum apa. Biar saya buatkan." tanya Sakura sopan dengan senyum tipis menghiasi.

Wanita itu menatap Sakura sekilas dan mendengus pelan, "Tidak perlu, aku kesini hanya ingin bertemu dengan Sasuke. Sebaiknya aku pergi." kemudian wanita itu berdiri, "dan ingat, jangan buat kekasihku meradang" wanita dengan style yang luar biasa itu melenggang gemulai. Tak menoleh lagi setelah mengucapkan kalimat yang membuat Sakura tegang. Sakura mengepalkan tangannya kuat-kuat, sepertinya istri Sasuke tersebut mendadak terkena serangan badai topan.

"Wanita menor itu ternyata kekasih Sasuke!"

~oo888oo~

Uchiha Sasuke memijit-mijit keningnya pelan. Kepalanya tiba-tiba saja berdenyut dan rasa pening menimpanya saat ini. Diatas meja kerjanya masih menumpuk beberapa berkas yang tergeletak rapi disana, menimbulkan pemandangan yang lumayan menyebalkan baginya. Apalagi ditambah dengan seseorang yang baru beberapa menit yang lalu menghubunginya. Seorang wanita yang sangat dikenalnya. Sasuke menggeram kesal dan mendecih pelan, dia sama sekali tak menyangka jika wanita itu akan kembali ke Konoha. Sasuke masih ingat betul, jika wanita itu akan menetap di Osaka karena menurutnya, udara dikota Konoha tidak cocok untuk kulitnya. Lalu sekarang? apa yang dia lakukan di Konoha? Bahkan mencari Sasuke.

"Ada apa tuan?" tanya Kakashi Hatake saat melihat Sasuke yang tidak fokus seperti biasanya. Matanya meneliti raut wajah Sasuke, memastikan keadaan sang tuan dalam keadaan baik-baik saja.

"Hn, kau keluarlah." ujar Sasuke pelan tanpa menjawab pertanyaan dari Kakashi.

"Sialll!" ujar Sasuke kesal.

Sasuke menyadari, jika dia pulang ke Konoha nanti, bisa dipastikan prahara rumah tangga akan dihadapinya. Saat Karin bilang rindu dan ingin menemuinya, itu artinya dia akan benar-benar akan mencari Sasuke. Dibalik wajah cantiknya tersebut, Sasuke tahu jika Karin adalah tipe wanita yang keras kepala dan ambisius seperti dirinya. Dan kenyataan yang sebenarnya adalah; Sudah beberapa minggu yang lalu hubungan mereka telah berakhir saat Karin memutuskan ingin mengembangkan karir Modellingnya di kota Shibuya. Saat itu portofolio miliknya telah berhasil menarik perhatian salah seorang desaigner terkemuka disana. Jika dibilang, hubungan Sasuke dan Karin memang tidak segamblang dan sesederhana itu. Hubungan mereka memang berakhir, tapi baik Sasuke ataupun Karin sendiri, mereka sama-sama tak pernah mengucapkan kalimat putus. Mereka berpisah begitu saja, mengikuti ambisi masing-masing.

Jika mengingat itu, Sasuke sama sekali tak tahu harus bersikap bagaimana. Meski tak bisa dipungkiri jika Sasuke masih merasakan debaran saat mendengar suara Karin barusan. Bahkan otaknya masih terbayang beberapa adegan romantis yang pernah dilakukannya dulu. Ugh~ dan sekarang sebuah hasrat dalam dirinya tiba-tiba bergejolak, meminta-minta untuk dibebaskan. Tapi disaat yang bersamaan pula, bayangan Sakura pun berkelebat. Memperlihatkan sosok keceriaan, kecerewetan, perhatian, dan kasih sayang yang diberikan untuknya. Dan segala sesuatu yang ada pada diri Sakura membuat Sasuke merasa nyaman meski masih belum ada cinta dihati keduanya.

Sasuke memang sudah sangat mengenal Sakura sebelum perjodohan itu dimulai. Sasuke bahkan sudah sangat mengerti dengan perilaku Sakura seperti apa, dan sepertinya begitupun juga sebaliknya. Hubungan pernikahan mereka yang masih seumur jagung tak lantas membuat keduanya kesulitan dalam melakukan aktifitasnya, toh selama mereka mengarungi bahtera rumah tangga dan tidur dalam satu ranjang, mereka masih menjaga jarak privasi mereka masing-masing. Dan perlu dicatat, jika mereka tak pernah sekalipun melakukan aktifitas malam selayaknya pasangan suami-istri pada umumnya.

Yaaa... Kalau dibandingkan dengan Karin, kedua wanita itu, Sakura dan Karin memiliki standar nilai yang jauh berbeda. Sama sekali tidak ada yang sama diantara mereka.

Sasuke tak mungkin bisa tenang saat ini. Jika seandainya Karin dan Sakura bertemu entah apa yang akan terjadi nantinya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila Karin mengetahui status Sasuke yang saat ini telah resmi menyadang sebagai seorang suami dari Haruno Sakura. Sungguh tak bisa dibayangkan, jika teman wanitamu mengetahui fakta yang sebenarnya seperta apa. Apalagi jika kau mengetahi bahwa teman wanitamu tersebut sangat ambisius dengan apa yang diinginkannya. Maka tanpa pikir panjang lagi, Sasuke memutuskan untuk kembali ke Konoha besok pagi dengan pesawat pertama.

...

Kakashi tak percaya dengan tindakan yang dilakukan oleh Sasuke. Lelaki yang selalu menutup sebagian wajahnya dengan masker itu mengernyit heran. Tak biasanya tuannya itu akan meninggalkan bisnisnya begitu saja tanpa ada penjelasan sampai di Konoha dengan penerbangan pertama, Sasuke langsung melesat pergi ke apartemennya. Tak memperdulikan reaksi dari Kakashi yang sejak tadi menatapnya dengan raut keheranan. Lelaki Uchiha itu hanya berharap jika keadaan apartemen dan Sakura baik-baik saja.

Dia bahkan rela kalau seandainya kepulangannya nanti disambut dengan derai air mata dari sang waniya. Sasuke bahkan akan mendengarkan sampai puas segala perkataannya. Menurutnya, itu jauh lebih baik daripada Sakura meminta untuk mendatangi berkas perceraian.

Setelah sampai didepan pintu apartemen miliknya dan menggesek keycard, ia lalu mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum membuka pintu.

Kleekk!

Pintu terbuka. Dan apa yang didapat Sasuke saat melihat isi apartemennya. Satu kata, yaitu...

Kosong!

Sasuke tak melihat ada seorangpun diapartemennya. Bola matanya langsung melesat mencari sosok wanita bersurai merah muda dengan alis mengkerut. Sasuke langsung melemparkan tas dan beberapa dokumen yang sepertinya sangat penting itu diatas meja begitu saja. Yang ada di pikirannya saat ini hanya satu, yaitu mencari keberadaan istrinya. Uchiha Sakura

"Sakura! Kau dimana. Jawab aku!" Ucap Sasuke dengan inotasi yang cukup tinggi.

Sudah hampir sepuluh menit sejak kepulangannya dari Osaka, langkah kaki Sasuke tetap menelusuri setiap inci sudut apartemennya. Namun sampai saat ini, lelaki emo itu tak kunjung menemukan istrinya berada. Sedikit menggerang kesal dan menjabak rambutnya frustasi, akhirnya Sasuke menyerah. Dan sepertinya dia memerlukan sesuatu untuk mendinginkan kepalanya sebelum tingkat emosonalnya semakin meninggi.

Langkah kaki lebarnya akhirnya tetuju pada lemari es disana, sebelum dirinya dikuasai emosi, dia harus segera menyegarkan pikirannya dan berpikir sepositif mungkin. Saat ia sampai didepan lemari es, manik matanya membulat sempurna. Di pintu kulkas tersebut terdapat sebuah kertas dengan magnet tomat diatasnya. Sasuke mengambil memo tersebut kemudian membacanya dengan seksama.

"Aku tahu kalau kau akan pulang sebelum waktunya, ayam! Karena aku tahu alasannya. Ah~ dan jika kau mencariku, saat ini aku sedang tak ada dirumah. Ibumu menyuruh datang kerumahnya, dan aku tak bisa menolak. Jika kau membaca memo ini, segeralah kau menyusulku. Mengerti!"

Sasuke langsung menghempaskan diri dikursi tempat biasanya ia menghabiskan sarapan paginya, sedikit mengambil napas lega karena Sakura tidak kabur darinya atau yang paling buruk, mengadu pada orang tuanya.

~0ooo0~

Sasuke P.O.V

..

Aku mengendarai mobil metalic-ku dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Entah kenapa aku ingin segera tiba dirumah dan bertemu wanita pink itu. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku bisa sepanik ini hanya karena kemunculan Karin. Toh, aku pernah melakukan hal ini pada wanita lainnya jika aku kepergok mempunyai wanita simpanan. Bahkan aku rasa lebih. Ah, dan jangan lupakan kalau aku baru saja kembali dari Osaka, dan sekarang dengan tak wajarnya mengemudi mobil. Kalian tahu, staminaku? Kurasa sudah hampir habis. Aku memberhentikan laju mobil begitu berada digerbang pintu, sedikit membunyikan klakson, seseorang yang telah lama bekerja di kediamanku langsung membukakannya tanpa kusuruh.

Aku langsung masuk kedalam dan mengedarkan pengelihatanku, hingga sampai aku menemukan tiga orang yang saat ini tengah berada diruang keluarga dengan sedikit obrolan disana.

"Ohhh, kau datang Sasuke" sapa ibuku begitu melihat kedatanganku. Aku hanya mengangguk dan bergumam kecil menjawabnya. Kulihat Sakura hanya melihatku sekilas kemudian memalingkan wajahnya. Sepertinya dia sedang marah.

"Bagaimana, apakah pekerjaanmu di Osaka berjalan lancar Sasuke?" tanya ayah begitu aku duduk disamping Sakura.

"Hn... Dua pabrik kertas di Amerika tutup. Aku rasa ini waktunya kita untuk bertindak ayah. Saham yang mereka jual sangat murah. Jika seperti ini, kita bisa menguasai pasar.

"Memang, tapi kita tak boleh kalah power. Kita masih punya sumber yang belum digarap optimal" tanpa sadar aku menggaruk-garuk pelipisku, bertanda jika aku sedang berpikir serius.

"Bagaimanapun juga, kita tak boleh melepaskan kesempatan emas ini ayah. Dari sumber yang kupercaya, mereka mengalami penurunan drastis di bagian produksi. Jika kita bisa memanipulasinya, aku yakin mereka akan menjual saham mereka dengan harga yang murah" ayah mengangguk mengerti. Sepertinya otak bisnisnya mulai bekerja.

"Terserah! Ayah serahkan semua padamu."

Aku tersenyum tipis, pembicaraanku dengan ayah mengenai perusahaan berjalan dengan sangat antusiasme. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena seseorang mengintrupsi pembicaraan kami dengan kesal.

"Sebaiknya kita pergi dari sini Sakura. Mereka terlalu asyik dengan pembicaraan mereka sendiri" ungkap ibu melirik kami tajam. Ayah tersenyum tipis, dia hanya mengatakan kalau ini semua karena ulahku.

"Hahaha... baiklah, kita balik arah tentang ini. Nha Sasuke, apa Sakura sudah hamil?" tanya ayah pelan. Dia menatapku penuh curiga.

Aku tertegun. Aduhh! Kenapa mempertanyakan hal inii? Bagaimana Sakura bisa hamil kalau kami tidak pernah melakukan rutinitas layaknya suami-istri pada umumnya?

"Kenapa ayah tanyakan padaku, ayah bisa menanyakan langsung pada Sakura" aku melirik Sakura sekilas. Terlihat jelas jika dia juga binggung harus menjawab apa atas pertanyaan ayah barusan.

"Sepertinya belum" jelas Sakura menundukkan kepalanya.

Aku tahu pasti dalam hati Sakura mencaci makiku karena dengan sengaja aku melemparkan pertanyaan yang ayah ajukan padaku. Lihat saja, buktinya ia langsung melirikku tajam sesaat menjawab pertanyaan ayah barusan. Aku sedikit menyeringai kecil kearahnya, dan tanpa sengaja tanganku refleks menyentuh surai merah mudahnya. kemudian aku menatap Ayah dan ibu menghela napas, sepertinya mereka tak puas dengan jawaban yang diberikan Sakura. Ibu mendelik menatapku, aku tak mengerti, kenapa ia menatapku seolah-olah ini semua karena kesalahanku.

"Kenapa Ibu menatapku seperti itu?" tanyaku sedikit kesal. Sedikit tak terima atas tatapannya yang seolah-olah mengintimidasiku.

"Sebaiknya kau berhenti bekerja Sasuke. Ibu sangat yakin, jika kau terlalu banyak menghabiskan waktumu untuk masalah perusahaan." Aku meneguk ludah yang rasanya pahit. Sudah kuduga, pertanyaan-pertanyaan seputar kehamilan Sakura akan menjadi teror baru dalam kehidupanku, mulai hari ini.

"Sama sekali tidak ada pengaruhnya, Ibu. Kami baru beberapa bulan menikah..." kilahku membela diri. "lagi pula kami masih ingin menghabiskan waktu hanya berdua lebih dulu. Benarkan, Cherry?" ucapku dengan seringai dan merangkul Sakuta erat. Ayah dan Ibu yang melihatnya terkikik geli dengan reaksiku. Dan aku yakin pasti, jika dalam senyum yang Sakura berikan padaku, pasti tersembunyi sesuatu yang mengerikan disana. Buktinya ia langsung mendelik menatapku.

Ayah menghela napas pelan, "Kalian harus pandai-pandai memilih waktu. Perhatikan siklus subur Sakura. Nha, pada saat itu kalian harus sangat intens mengonsumsi protein sesuai aturan"

Aku terbelalak begitu mendengar penuturan Ayah. Sejak kapan ayah punya waktu untuk mengurusi soal cara membuat bayi? Aku langsung melirik Sakura cepat, nampaknya ia juga terkejutnya dengan perkataan ayah.

"Tak perlu repot-repot. Aku dan Sakura bisa saja membuat bayi tanpa penjelasan dari ayah. Bukankah Sakura seorang dokter. Dia pasti lebih tahu mengenai itu." ujarku berkilah. Toh pada kenyataannya Sakura lebih memahaminya daripada kami yang ada disini.

"Jadi, kapan kalian akan membuatkan kami cucu?" tanya ibu memandang Sakura dengan senyum andalannya.

"I-ibuuu... Se-sebaiknya jangan membahas ini" ucapa Sakura gugup. Tersirat jelas ketika rona merah menghiasi pipi chubby-nya.

"Kami akan memberikan cucu jika sudah waktunya. Bukankah kalian sudah memiliki dua cucu sekaligus?" jawabku sekenanya. Dan memang benar jika ayah dan ibu sudah memiliki cucu. Kembar pula.

Ayah dan Ibu tertawa. Kuperhatikan, bunyi tawanya sangat keras. Aku bahkan tak pernah sekalipun melihat mereka sebahagia ini sebelumnya. Sungguh!

"Sebaiknya kau pikirkan perkataan ibu, Sasuke."

Aku hanya bisa bergumam tak jelas. Pikiranku sudah tak tahu lagi harus merespon permintaan ibu seperti apa lagi. Yang jelas, alasanku datang kesini hanya satu, melihat Sakura dan meneliti bagaimana ia bersikap padaku. Tapi setelah kuperiksa dengan kedua mataku, sepertinya Karin tak menemui Sakura. Mungkin!

~oo000oo~

TBC

.

.

.

Oke, saya benar-benar Update kilat sekarang. Nggak tahu mesti bilang apa lagi untuk chap kemarin. Setelah saya cek kembali! Oh my goooooddddd... ternyata typo bertebaran dimana-mana. Gomenasai _ Tapi kalian gak mempermasalahkannya kaaaaannnnn? #cakar tembok.

Dan, untuk chap kali ini semoga nggak terlalu buruk juga, saya sudah mengeceknya. Semoga saja typo-nya berkurang. Heheheheh...

Untuk yang mereview di chap kemarin, saya ucapkan banyak terima kasih atas dukungannya. Tanpa kalian penulisan saya pasti tidak akan pernah berkembang.

Yosh, sekian dulu cuap-cupa dari saya. Mohon tinggalkan jejak untuk membangkitkan semangat saya ya minnaaaa ^_^

Balas review ^_^

MomoTsubake : Oke, ini sudah dilanjut. Maaf yaaa... gak bisa kilat ^×^.

marukocan : Shiippp! ini sudah saya publish. Dannn, yuuuppp... disini terkena imbas abu vulkanik juga.

hanazono yuri : Wahh! untuk saat ini masih belum ada adegan Sasuke cemburu. Sabarrr, mungkin chap depan #mungkin :p.

sofi asat : Sudah dilanjut. Trims udah direview...

gadisranti3251 : wahhh... makasih sudah menyukai Fict gak jelas ini XD. Iyaaa... SasuSaku masih belum melakukan itu _. dan makasih ya sudah mampir.

: Hahaha... Sasuke-kun manja! cuma sakit kepala samapi segitunya dia. XD

Uchihahidayat15 : Hahaha... iya, maaf sudah membuat menunggu. Ini sudah di update dengan cepat ==". Dan makasih sudah mau mampir kesini padahal Publishnya lelet #plak

Dhezthy UchihAruno : Makasih pujiannya XD. Ini sudah di publish...

: Halo adiiikkk _, ini sudah kakak Publish, jangan teror lagi yaaaaa... hehehe. Dan disini Sakura sudah bertemu karin. :p

Anisha Ryuzaki : Hehehehe... aku jafi tersanjung dengan pujiannya #plak. Ok, chap 4 sudah up. mampir lagi yaaaa.

Chizuru : Karakter karin centillll... Terima kasih dah mampir.

haruchan : Iyaaa, Sasuke modus. Cuma sakit kepala doang manjanya minta ampun_ hehehe...

Himeka Azura : Roger! sudah update nih.

Guest : Ini sudah update super kilat kan? hehehe

Yui Osaki : Oke, Karin datang. Silahkan dibaca dengan puas ^_^

Guest : Beneran baca dari awal? wahhh... gak nyangka ada yang nungguin Fict GJ ini sampai segitunya. Makasihhhhh...

See you...

Lamongan,, 22-02-2014,, jawa timur.

Salam Sayang, UchiHaru Mey.