Kaget juga aku...
Nee, ternyata dirimu juga memiliki sisi manis, ya...u
Kenapa tidak kau tunjukkan padaku...?
Kenapa tidak kau keluarkan logat bicaramu itu dihadapanku?
.
.
.
"Yakk, sipp! begitu terus, Kise! Sebentar lagi..."
Ckrik Ckrik Ckrik!
"Oke, ganti posisiii! Yak, begitu!"
Begitulah, yang terjadi sekarang... Bagaimana denganmu...?
...Aku boleh melirik sedikit saja... Kan?
"Shiina-chan, kyaaaaaaaah! Hontou ni kawaiiiii desu ne!~~ yay, bertahanlah pada posisi itu~~"
Owwwwww, Kamisama... ingiiiin sekali rasanya sekarang juga aku pingsan.
Kau sedang mengenakan tank top bermotif polkadot berwarna merah, lalu memakai jaket kebesaran berwarna putih kemerahan bertelinga kucing, lalu kau mengenakan hot pants jeans yang menambah kesan imut.
Posemu, kau berlutut, kepalamu dimiringkan, matamu melebar dan berkaca-kaca, mulutmu terbuka sedikit, pipimu berwarna kemerahan dan tanganmu membentuk posisi neko yang sangaaaaaaaaaat imuuuuuuut! Oooooooooowwww, bolehkah, aku memakanmu sekaraaaaang jugaaaa?
"KISE SADARRRRRR!"
Plaaaaaak!
"WAAH! Ittai -ssu yoo! hidoi -ssu!" teriakku sambil memegangi kepalaku. Uuuuugh, dasar manajer galak! Tidak bisakah sebentar saja aku melanjutkan lamunank-
Ups.
Kau melihat kesini... Gawat, apakah kamu sadar kalau sedaritadi aku memperhatikanmu terus..?
"Kamu ini melamun apaaa! Perhatikan kerjaanmu dong!"
"Iyayayaa, maaf cece manajeeerrr!"
"Ayo lanjut."
"H-hai."
.
.
"Otsukaresama deshita!"
Akkhhh, akhirnya selesai juga. Capek sekaliiiii... Are, kau juga sudah selesai. Ingin rasanya mengobrol bersama, tapi nanti takutnya jadi pusat perhatian... Tapi, aku mau mengobrol denganmu...
"Osh, para model bisa berganti baju segera!"
...Para model, eh..?
Kami pun memasuki ruangan ganti kami masing-masing. Hmmm, cuci muka dulu ah.
...Segaaaaaar! Uuuh, sumuk sekali nih... Sudah berapa jam nih, pemotretannya? Yang pasti sekarang sudah gelap. Akan susah untuk berjalan pulang saat ini. Aku pun melepas bajuku dan memperlihatkan otot-otot hasil latihan basketku selama ini. Tapi, eh? Kemana kancing bajunya? Copot, hilang! duh, sebaiknya kucari nanti. Lalu, beralih ke celana. Harus segera kule-
Cklek
Are? W-WUAAAAAAH! Siapa yang masuk, aku sudah melepas celanakuuuuuuu!
"Sumimasen, Kise-san, apakah ini milikm- ah." kau berada dibibir pintu berwajah sedikit terkejut sambil memegang... sesuatu, kancingku?
Tapi-tatatata-tappp-i-tap-
"GYAAAAAAAAHHHHHHH!" Gilaaaaa! Ini pemandangan yang sangat tidak layak! Seorang model topless dan memakai celana dalam didepan seorang wanita! TIDAK HARGA DIRIKUUUUUUUU! Aku pun langsung mencari penutup untuk menutupi celana dalamku. aku menutupinya dengan bajuku tadi.
Lalu aku menoleh kearahmu, kulihat...
Wajahmu, tampak... Sedikit, kagum?
Tetapi, ekspresi itu tidak bertahan lama seiringnya waktu berjalan. Kau mengubah wajahmu menjadi tampak cemberut, tampak semburat merah-merah dipipimu -oh, ngeblush rupanya- dan kau bersembunyi dibalik pintu sambil berkata...
"Kise-san, Ecchi."
MANIS SEKALI.
"Kutunggu diluar. segera ambil kancingmu." Katamu tenang tetapi masih ngeblush lalu menutup pintu pelan.
"Mattaku, kenapa dia bisa setenang itu...?" gumamku sambil menepuk jidat dan menghela nafas, tapi tak lama kemudian aku memakai seragam sekolahku kembali. Banyak sekali yang terjadi hari ini, aku lelah. Jadi aku memakai seragamku agak lama.
Cklek
"Eeen, ano, kanci-"
Pletak!
"WADAWWW! K-kenapa kau menyentil kancingnya kedahiku? Ittai -ssu yooo!"
"Mbikin nunggu lama aja. Ngapain hah lama gitu, tinggal pake baju apa susahnya."
H-heee, bahasanya nggak formal banget.
Aku pun mengambil kancingnya yang tergeletak dilantai. "Terimakasih sudah menemukan kancingnya... Aku harus segera memberikan ini pada staff -ssu."
"Ya, sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu."
Ehhhh? "Tunggu sebentar -ssu! aku ingin pulang bersamamu!"
Kau agak terkejut, setelah itu kau memalingkan wajahmu dan berkata "nggapapa, aku bisa pulang sendiri."
"Tapi aku mau mengantarmu -ssu!"
"Aku tidak suka merepotkan orang lain."
"Sebagai ucapan terima kasihku -ssu!"
"Tidak perlu."
"Aku memaksamu -ssu!"
Kau keras kepala sekali. Duh, rempong amat sih. Akhirnya setelah otot-ototan denganmu kau mempersilahkanku mengantar pulang
.
.
"Aku mau langsung pulang." wah, kau langsung pulang?
"Ehhh, Kasako-san mau langsung pulang?"
"Iya... ada yang harus kukerjakan dirumah."
"Baiklah... jaa, hati-hati dijalan!"
"Hai. Arigatou gozaimasu."
Ehhh... baiklah aku ikut.
"Manager! Aku pulang -ssu!"
"Ehh, tumben sekali, Kise. Ya sudah sana pulang!"
"Hidoiii -ssuuu!"
Aku pun lansung berlari keluar menyusulmu. "Oiiii, chotto matte yooooo!"
"Hm."
Aku mendapatimu sedang mengepang rambutmu, dengan bantuan kaca gedung yang memantulkan bayangan. Lalu kau memakai kacamatamu kembali. Gila, ngepangnya cepet banget.
Aku pun segera jalan bersebelahan dengannya. Lalu selama beberapa menit ke depan, kami berdua terdiam terus. Angin malam berhembus menyapa indera kami, memecahkan kesunyian diantara kami berdua.
"Jangan kau bocorkan."
Eh?
"Kini kau sudah mendapati 3, tidak, 4 rahasiaku. Pertama, kau tau aku suka menikmati angin sambil melepas penyamaranku di atap. Kedua, kau tahu bahwa aku adalah Kasako Shiina, tapi itu nama samaranku. Ketiga, kau tau aku memiliki sisi lain yang gila dan over. Keempat, kau tahu kalai aku memiliki tiga orang teman. Jangan kau bocorkan sedikitpun atau kau akan menerima hukumannya."
"T-tentu saja -ssu! Memang apa untungnya kalau aku membocorkannya -ssu?"
"Yah, siapa tahu saja."
Sunyi lagi. Yah, aku berniat menanyakan tentang semua rahasiamu, tapi takutnya nanti.. Kau... Menendangku. Aku mau bertanyaaa... Penasaran banget, penasarannnnn!
"Ingin menanyakan tentang rahasiaku? Hmmm... Silahkan saja."
Apa?! Kau membaca pikiranku?! KOWAIII!
"Aku nggak membaca pikiranmu, aku hanya menebak, dan aura disekitarmu menunjukannya."
"Eh? Auraku -ssu?"
"Aku bisa membaca, melihat, dan merasakan aura dengan ahli, kau tau. Misalnya, lihat. Auramu memancarkan aura orang yang selalu penuh semangat. Apakah aku benar?"
Waaaahhhhhhh... menarik sekali kau ini...
"Ya, benar -ssu. Kau seperti paranormal, luar biasa -ssu!"
"Nggak juga..."
"Iya, hebat beneran -ssu, seperti Akashicchi!"
"Eh, Akashicchi, siapa itu?"
"Akashi Seijuurou, aku terbiasa menambahkan kata -cchi di belakang nama orang yang kusukai atau kuanggap hebat. Akashi Seijuurou itu Kapten tim kami dulu, anggota Kiseki no Sedai."
Kau mengernyitkan alismu, nampak berpikir.
"Orang ini luar biasa. Namanya saja memiliki aura. Kurasakan dia adalah orang yang berwibawa dan berkuasa, kan? Dan... juga.. sok absolut?"
Luar biasa... tebakanmu sangat tepat.
.
Sementara di kediaman Akashi...
"TSSHYIHH!"
"Seijuurou, jangan makan sambil bersin."
"Maaf, ayah."
'kenapa rasanya aku sangat ingin menggembleng Ryouta, ya?'
.
"Sugoiii! Tepat sekali, tepat sekalii -ssu! Coba lagii! Coba tebak sifat nama ini, Kuroko Tetsuya!"
Kau nampak berpikir lagi. "Uhhh... sepertinya, dia orang yang cool? Dan perkataannya tajam?"
.
Di MajiBaga...
"Tcyih!"
"Kuroko, daijobu?"
"Daijobu desu, Kagami-kun. Tetapi entah mengapa rasanya aku ingin meng -pass Kise-kun dengan sangat keras."
Sementara Kagami hanya bisa jawdrop karena jawaban aneh bayangannya itu.
.
"Sugoi sugoii! Kalau Aomine Daiki?"
"Sepertinya... dia orang yang hebat, tetapi sombong."
.
Di kediaman bang dekil berkutu...
"UATSYUUUHHHH! WUAH, MAI-CHAN KENA INGUSKU!"
Aomine pun langsung mengambil tisu untuk mengelap majalahnya.
Jorok.
"Kok rasanya ingin sekali aku meng- formless shoot Kise, ya?"
.
"Tepat sekali -ssu! Kalau Midorima Shintarou?"
"Errr.. orangnya... agak aneh?"
"Betul -ssu! Tetapi, bukan agak aneh, tapi sangat aneh -ssu!"
.
Di gym indoor sekolah Shuutoku...
"Huuuchihhh!"
Bola yang ditembakan Midorima pun meleset.
"Shin-chan, apakah kau sakit?" Tanya Takao khawatir sambil mendatangi Shin-chan nya.
"Ie, Takao. Daijobu. Tapi ingin sekali rasanya sekarang aku menembak Kise dengan 3 pointer ku."
Takao hanya bisa sweatdropped mendengar jawaban absurd partnernya itu.
.
"Ini terakhir -ssu. Kalau Murasakibara Atsushi?"
"Eehhh... orangnya... besar, dan, malas?"
"Betuuuuul! Tetapi bukan hanya besar, tetapi besaaaar sekaliii! Seperti titan! Tingginya 208 meter, kau tau! Melihatnya sama seperti melihat titan -ssu!"
"Apa?! Anak SMA 2 meter?!"
.
Di kediaman Murasakibara...
"Uuuchhhi!"
Murasakibara pun kecewa melihat chips nya jatuh karena dia bersin.
"Kise-chin, ingin rasanya aku menghancurkanmu entah kenapa."
.
"Sugooiii, kau hebat -ssu!"
"Nama setiap orang yang kausebut mengandung aura dan makna yang kuat, jadi aku bisa mengerti."
Gadis ini... menarik sekali!
"Oh yaaa, tentang rahasiamu tadi... boleh kan aku bertanya -ssu?"
"Ngg, ya, silahkan."
"K-kenapa, kau bersikap dingin dihadapan semua orang, kecuali ketiga sahabatmu?"
Kau terdiam sejenak sambil menunduk. Tentu saja aku otomatis juga ikut terdiam. Apakah aku menanyakan sesuatu yang salah, ya?
Ah, kau mendongak ke atas. Membiarkan angin semilir menerbangkan poni-ponimu. Aku bisa melihat wajahmu yang nampak..
Entah, kesepian?
"Jujur saja... aku tidak suka sembarang orang melihat kepribadianku yang satu lagi, sebelum aku mengenal mereka semua dengan benar-benar baik.
Tidak ada yang bisa mengerti aku selain mereka bertiga. Mereka benar-benar sahabatku yang mengerti aku dan mau menerima aku apa adanya. Mereka bertiga yang sudah menembus tembok penghalang beton yang kubuat untuk menutup diri."
Oohhhh... jadi, begitukah alasannya...?
Aku... aku...!
"Kalau begitu, ijinkan aku juga mencoba menembus tembok penghalang beton yang sudah kau buat!"
Aku memegang kedua tanganmu dengan erat. Menatap kedua matamu dalam-dalam. Berharap kau menerima niatku ini.
"Y-yah, kalau kau bisa, coba saja."
Ya. Lihat saja. Akan kubuat kau mengeluarkan logat, kepribadian, dan wajah itu didepanku!
"Ah, dan satu pertanyaan lagi. Mengapa kau menyembunyikan identitas aslimu -ssu?"
"...Kau taulah, tidak mudah menjadi model itu. Kesana sini diiringin fans, minta tanda tanganlah apalah, mendokusai."
Ettoooo... Tidakkah menyembunyikam identitas itu juga terlalu berlebihan?
"Kise-san, mungkin kau bisa menjadi temanku juga."
"Eeeeeh?"
Sugoi, aku bisa menjadi temannya? Apa yang baru saja dia katakan?
"Karena... Auramu. Kau mengeluarkan aura yang memiliki potensi untuk menjadi temanku."
"Eh? Emangnya auraku kenapa -ssu?"
Alisnya mengernyit. Dia melihatku dengan sedikit tajam, lalu berbalik dan berkata, "entahlah. Sepertinya... Berwarna kuning? Di mataku sedikit sekali ada orang yang ber aura kuning. Dirimu memiliki aura itu. Mungkin akan sedikit mudah untukmu untuk mendekatiku."
Eeeeeeeeeeh!
"Aku sangat senang -ssuuuuu! Sankyuuu!~~" ujarku ceria sambil memelukmu. Sungguh aku tidak menyangka, aku termasuk orang yang bisa dekat denganmu! Wee, seharian ini banyak sekali yang terjadi.
"Huk- Kise-san -l-e-pass..." eh?
"Huwaaa gomene aku memelukmu terlalu keras -ssu?"
Aku langsung melepaskan pelukanku dan memperhatikan kalau kau baik-baik saja atau tidak. Kau terbatuk sedikit, lalu mendesah.
"Jangan begitu lagi, Kise-san."
"Panggil saja tanpa embel-embel -san! Aku tidak suka dengan keformalan -ssu."
"Nggggh, baiklah. Kise...kun?"
"Nahhh, terdengar lebih baik -ssu!~"
Kami pun berjalan terus sambil mengobrol ringan. Waaah, rasanya seperti mimpi bisa mengobrol dengan orang sepertimu! Aku sungguh senang, senang!
"Kise-s -eh -kun, itu rumahku. Sudah ya."
"Eh? Ah- eh- i-iya -ssu!"
Aku melihat rumahmu.
Satu kata.
BESAAAAAAAAAAAAAARRR!
"Ah, t-tunggu... sebelum kau masuk rumah, bolehkah aku...
Meminta nomormu?"
Kau terpaku, oh sialan. Baru saja kenal, sudah meminta nomor telepon. Seperti orang apa saja.
"L-lupakan, kalau kau tidak mau aku juga tak ap-"
"Boleh kok."
AWWW YEAHHH!
ROCK IT, BABY! ROCK IT!
Kamipun bertukar nomor telpon kami. Aku sangat senang! Apa aku menelponnya ya? Tapi takut nya nanti mengganggu?
"Boleh telpon kapan saja kok."
"Hontouuu? ARIGATOUUUU!~~~"
Kaupun berlari ke depan pagar rumahmu.
"Ja nee!~ mata ashitaa~~"
Saat kau berlari menuju ke depan rumahmu, tepat sebelum kau memasuki rumahmu...
Kau berbalik, berwajah ceria tetapi tetap cool, dan melambaikan tanganmu dengan antusias kearahku.
"Mata ashita, Kise-kun!~"
Aku mematung di tempat. Kau masuk ke dalam rumahmu, disambut oleh seorang yang mungkin maidmu.
Tunggu, apa yang barusan terjadi tadi?
Aku, kamu, pintu rumah, melambai.
Kau melambai padaku.
Dengan antusias. Wow.
Emang kenapa?
YA ADA KENAPA KENAPA LAHHHH!
"UWOOOOOOOOOOOOHHHHHHHH!"
.
.
"WOOOOOWWW YEAYYYYY! UWOOOWWWW!"
"RYOUTA, BERISIK! TIDAK DIAM, KAU AKAN KUJADIKAN DODOL GORENG!"
"Ya ya ya gomen Okaasan!"
Habis gimana lagi, aku terlalu senang!
Manalagi pulang bersama, tukeran nomor telepon, dan salam perpisahannya-
WOWOW BANGETTTT!
("Kise sudah mulai OOC." Ujar Author.
"Urusai -ssu, Author-chan.")
Aku tidak bisa menahan kegembiraanku. Aku mengambil bantal didekatku, aku memeluk bantalku, berguling-guling dikasur layaknya cewe kejeleb panah asmara super gede.
Tunggu.
Bagaimana kalau aku menelponnya sekarang?
Apakah akan mengganggu? Kau sedang apa sekarang?
Tapi... Katamu boleh kan aku menelpon sesukaku?
Aku kangen suaramu juga.
Tuuut
Tuuut
Tuuut
Tuuut
Tuuut
Tuuututuututuuttuututututututtt kentut pret tut pret kentut tut!
("mohon maaf para pemirsa ada kesalahan teknis." Ujar Author santai.
"Weee santet kambing, loe pikir ini acara wawancara dialog interaktif tugas BI kampret?!" Teriak para pemirsa tidak terima.)
Kenapa belum di jawab...?
Klek
Ah! Dijawab!
"Halo, halo? Ini aku-ssu!"
"I-iya... halo, K-Kise-kun?"
Heh?
"Eh? Ada apa denganmu?"
"Nggh- ti-tidak apa apa-hh! Ahh!"
APA-APAAN INI?!
Suaramu- aku akui, sangat menaikkan libido! Sangat menggoda!
Tahan diri.
Kise Ryouta, tahan godaan yang datang.
Tahan.
Kau ngapain?!
"Kau sedang apa -ssu? Kok begitu suaran-"
"Nggh, ya- di-disitu, terus... GAH! Sakit! B-bukan- ahh! Payah, biar aku saja- ahh- HOII! Ahhh!"
Pip
?oke?
-pa...
Apa yang sudah terjadi di dunia ini...
DESAHMUUUUUU!
Apakah kau melakukan yang iya-iya? Apakah kau meng - anu - dengan seseorang? Tapi masak kau gitu! Ah, terus desah apa tadi itu? Duh!
A-A-aku akan menanyakannya padamu besok!
.
.
~TBC~
Yoooooo... berjumpa kembali di chapter depan yaa..
Maafkan kesalahan pengetikan karena ngetiknya di hp... belum bisa ngetik dilaptop sih...
Ini fic kurobas ke 2 after all.
Untuk update kilat,
RnR pleaseeeee? *puppy eyes* arigato gozaimasuuu!~~
