Finally, apdet juga. Hahhh, tolong jangan makan saia atas kehinaan dan keleletan saia. _
Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto

Dia.. Dia.. Dia Uchiha Itachi!

Buat apa dia ke sini? Bukannya ada tempat yang lebih elit lagi? Dan siapa pula orang di sampingnya itu? Hmm… Mirip orang Eropa.

Matanya kebiru-biruan, rambutnya pirang panjang, poni menutupi mata kirinya, kulitnya putih. Dia… cantik.

Aku agak cemburu. Tunggu. Cemburu? Sejak kapan aku suka padanya? Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh mengkhianati Kakashi. Lagipula, tidak seharusnya api dilawan dengan api, kan?

Aku ditugaskan untuk melayani meja mereka. Terkejut, tentu saja. Aku berusaha menguasai diriku, aku harus tenang. Setelah berhasil menguasai diriku, aku menghampiri meja mereka.

"Selamat siang, tuan. Bolehkah saya mencatat pesanan anda?", kataku, sambil memasang senyum manis yang palsu.

"Ya, somaynya satu. Kau pesan apa Tachi-kun?", sahut si pirang itu.

Apa?! Somay?! Datang ke restoran yang tergolong mewah ini hanya untuk membeli somay? Lagipula, apa maksudnya 'Tachi-kun'?! Aku membatin kesal, walau aku tak tahu kenapa aku begitu kesal. Tapi, aku tak peduli.

"Dei, serius kamu hanya ingin itu?", ucap Uchiha-san.

Hm, sepertinya Dei adalah nama panggilannya.

"Yup, aku cuma mau itu. Kamu mau apa Tachi-kun?"

"Aku rasa aku pesan spaghetti meatballs saja. Kalau minumannya, iced cappuccino du-"

Kalimatnya terpotong saat dia menolehkan wajahnya padaku. Apa dia belum mengenali suaraku tadi?

"Sa - Sakura. Oh, maaf. Maksudku Haruno-san. Anda Haruno-san yang hari itu kan? Maaf, saya tidak mengenali suara anda tadi. Jadi, anda bekerja di sini?", ucapnya canggung. Namun aku yakin matanya sempat berkilat senang atau –untuk sebentar- ehm, tertarik?

"Tidak, tidak apa Uchiha-san. Ya, saya bekerja di sini seperti yang anda lihat. Mampir untuk makan siangkah?"

"Hn. Kebetulan kantor saya dekat dengan restoran ini," ujarnya.

Aku hanya bisa tersenyum membalas perkataannya. Lalu suara Dei menyadarkan kami. Gelagapan, Uchiha-san segera melanjutkan pesanannya, dan setelah kucatat aku pun melengos ke dapur dan memberi daftar pesanan merekan pada Teuchi ji-san.

Tak ada kerjaan, kuperhatikan keadaan restoran ini yang lebih tenang dari saat Uchiha-san dan Deidei –aku memanggilnya begitu karena kesal- datang. Beberapa wanita sedang melirik pada Uchiha-san, bahkan ada pula beberapa lelaki yang 'bengkok' menatap penuh nafsu padanya. Beberapa orang yang menurut asumsiku adalah fujoshi mulai mengambil gambar mereka berdua.

Tunggu. Fujoshi? Dei itu laki-laki?

Berbagai asumsi melayang di benakku. Apa mereka berdua pasangan? Atau hanya teman? Namun aku terlalu takut mengambil kesimpulan. Dan hasilnya, rasa penasaranku tak terpuaskan.

Aku menghabiskan waktu kosongku dengan bersenandung kecil sambil menggambar. Pesanan Uchiha-san? Sudah diantar oleh pelayan yang lain.

Aku menggambar dua sosok. Yang satunya wanita berambut panjang sepinggul, yang satunya lelaki berambut lumayan lebat, dan mencuat melawan hukum bumi. Tangan kanan wanita itu menyentuh pipi kiri pria itu, dan tangan kirinya memegang rambut bagian belakangnya. Sementara tangan kiri si pria melingkari pinggang wanita itu, dan tangan kanannya berada di punggungnya. Mereka berdua berciuman begitu mesra. Namun air mata mengalir di pipi sang wanita.

Hujan mulai turun. Hawa terasa makin dingin. Semakin lama sang hujan turun makin deras, seakan belum puas memukuli sang bumi dengan tetesan air yang dijatuhkannya.

Tes… tes…

Kertas tempat gambarku tertoreh ternoda oleh dua tetes air. Bukan, bukan air hujan, sebab kuyakin atap kami takkan bocor.

Mataku terasa hangat. Refleks tangan kiriku menyentuh pipiku.

Basah.

Apakah aku… menangis?

Tiba-tiba semua yang kualami terputar bagaikan video kehidupanku sendiri. Kutatap nanar gambarku tadi. Airmataku mengalir menganak sungai, jatuhnya makin deras bak hujan yang turun di luar sana. Bahkan sekarang aku mulai terisak.

Kedua tanganku menangkup di wajahku, menutupinya dari dunia luar. Pundakku bergetar hebat menahan isakan yang siap terlontar kapan saja.

Tak seorang pun tahu aku menangis, karena aku sekarang ada di ruang ganti. Oh, biarlah. Aku tak ingin dianggap lemah.

Aku menikmati tangisanku. Ya, mungkin aneh. Namun aku memang menikmatinya. Aku menikmati tiap guncangan di pundakku, aku menikmati tiap isakan lirih yang kutahan, aku menikmati tiap tetes embun bening yang kualirkan dari kedua mataku dan mengalir dari pipiku. Aku menikmatinya, sungguh.

Untuk kesekian kalinya aku mengutuki takdir yang begitu kejam menindasku. Apa aku berbuat dosa yang tak termaafkan di kehidupanku sebelumnya? Mengapa harus aku? Mengapa diantara banyak manusia fana, harus aku yang menanggung beban ini? Aku heran akan cara takdir memilih. Tak tahukah ia melihat manusia mana yang sudah cukup menderita, dan manusia mana yang hidup terlalu enak di sekitar segala kelengkapannya?

Ah, sudahlah. Tak ada gunanya meratapi hidup. Bahkan walaupun aku berteriak pada semua orang tentang deritaku, tak akan ada yang peduli. Paling ada hanya mereka yang peduli untuk menambah bebanku.

Yah, setidaknya aku masih punya Natsu, iya kan? Aku masih punya teman. Setidaknya hal kecil ini membuatku agak lega dan tenang.

Kuusap pipi dan mataku, mencoba menghilangkan jejak air mata yang turun sedari tadi. Ku basuh wajahku, dan mulai 'mengatur' mimik agar tidak ketahuan aku baru menangis.

Aku menghabiskan sisa waktu kerjaku yang hanya tinggal beberapa menit lagi. Sepertinya aku menangis cukup lama. Bahkan Uchiha-san dan Deidei sudah selesai sedari tadi. Yah, aku tahu dari sesama pegawai di sini.

Jam kerjaku sudah selesai. Aku bersiap untuk pulang. Karena rasa haus yang ada, aku mengambil sebuah gelas keramik dan mengisinya. Tiba-tiba..

Pranggg!

Gelas itu terjatuh dan pecah. Perasaanku tidak enak. Segera kurapikan pecahan gelas itu dan melangkah pulang dengan tergesa-gesa.

Akhirnya aku sampai di rumah. Natsu telah menungguku di ruang depan. Wajahnya kaku. Keringat dingin mengalir di pelipisku. Perasaanku tidak enak. Lalu bibir Natsu mulai bergerak.

"Nee-san..."

"Natsu? Apa yang terjadi?"

"Hatake-san... Iie, Kakashi... Dia..."

"Natsu, kenapa dengan Kakashi?"

"Ano..."

Kesabaranku mulai mengering. Tak tahukah adikku ini bagaimana perasaanku terhadap manusia yang satu itu? Maka aku pun membentaknya pelan.

"NATSU! Ada apa dengan dia?!"

"Nee-san, Kakashi... Kakashi kabur dari rumah sakit."

Aku membeku. Apa yang dilakukannya? Bodoh! Tidakkah dia paham perasaan orang-orang yang mengasihinya?

Lalu Natsu kembali membuka mulutnya. "Aku menemukan ini di bawah bantal di ruang inap Kakashi. Kurasa ini untukmu, Nee-san." Diserahkannya selembar tisu kusam dengan bercak darah yang menghiasinya.

Aku membuka lembaran tisu itu perlahan. Aku tertegun akan apa yang kudapati di dalamnya. Rasa khawatirku memuncak, takut, cemas, panik, dan berbagai perasaan lain yang sejenis memenuhi rongga hatiku. Sial! Belum cukupkah kau membuatku takut?

Di dalam lembaran tisu itu kudapati tulisan yang ditulis dengan pena bertinta cair. 'Temui aku di taman tengah kota, di bawah pohon sakura.'

"Ayo, nee-san. Aku meminjam motor temanku. Aku punya firasat nanti motor ini pasti perlu."

Aku tersenyum kecil mendengar perkataannya. Sungguh, bila uangku cukup, nanti aku akan membelikannya sepeda motor.

"Terima kasih, otouto."

Setelah kami naik, Natsu mulai memacu motornya. Angin malam mengelus wajahku lembut , namun dingin. Rambutku mulai memukul kulitku pelan. Kuremas jaket Natsu yang menjadi peganganku. Semua yang telah kulalui dalam waktu singkat ini begitu dahsyat. Dan semua kedahsyatan ini bermula dari dia.

Dia yang memutar-balikkan hidupku, yang mengangkatku dari kubangan yang menyedihkan, yang membuatku tertawa dan menangis, yang memberikan semuanya padaku. Dia melebihi keberadaan malaikat di hatiku.

Ya, aku tahu kalau aku bukan satu-satunya kekasihnya. Tapi, aku terima itu. Sudah terlalu banyak yang diberinya kepadaku. Aku tak boleh serakah. Dia sudah sangat baik mau memperbaiki nasibku.

Walaupun demikian, di saat yang bersamaan sakit hatiku karenanya. Apakah semua penilaianku mengenai dia selama ini salah? Apakah dia itu sosok yang berbeda dengan yang kukenal selama ini? Aku tak tahu. Aku bingung.

Kupejamkan mataku erat, mencoba menghalangi cairan yang hendak tumpah dari dalamnya. Dan semuanya sia-sia. Air mataku tetap jatuh, lalu lepas dari pipiku terbawa angin malam. Cairan itu terus mengalir, namun selalu saja menghilang bersama hembusan angin.

Tiba-tiba, Natsu menghentikan laju motornya.

"Natsu, ada apa?"

"Gomen ne, nee-san. Sepertinya ada parade di depan. Jalanan jadi macet."

Parade? Parade apa lagi? Bodoh!

Segera aku melompat turun dari motor, dan berlari ke seberang jalan. Kalau aku tidak salah, jarak dari tempat aku berada kini dengan taman kota tidak terlalu jauh. Maka aku mulai memacu langkahku. Tak kupedulikan seruan marah dan kesal orang-orang yang kutabrak. Dipikiranku hanya ada dia yang sedang menungguku. Tak ada lagi yang lain.

Setelah beberapa saat aku berlari, akhirnya kutemukan juga taman itu. Sisi taman dengan pohon sakura – satu-satunya di taman itu – langsung dapat terlihat olehku. Ah, tinggal menyebrang dan aku sampai di sana.

Tanpa memperhatikan keadaan jalan di depanku, aku berlari menyebranginya. Tiba-tiba aku mendengar bunyi hantaman yang keras.

BRUAKHH!

Beberapa detik kemudian aku menyadari bahwa aku terkapar di jalanan, dengan tanganku yang mungkin patah dan kepalaku yang terbentur. Tak ada orang saat itu, hanya aku dan si pengemudi mobil sialan. Mungkin ketakutan, pengemudi mobil itu membawa mobilnya lari dari tempat ini tanpa melihat keadaanku. Banyak darahku yang mengalir, seolah kabur dari tubuhku. Pandanganku mulai berkunang, mataku berat. Ah, biarlah demikian. Aku sudah lelah. Aku mau istirahat sejenak.

Namun tiba-tiba, bayangan pria itu yang sedang menungguku muncul dalam benakku. Mataku kembali kubuka, dan aku berusaha untuk bangkit. Sakit, tapi yang lebih sakit telah kualami.

Tertatih aku berjalan ke arah taman itu. Kudapati pria yang menungguku tertidur di balik pohon sakura yang disebutkannya. Nafasnya tersenggal-senggal, pelipisnya penuh keringat. Kuseka dahinya, lalu kuelus pipinya. Kupanggil namanya lembut, dan matanya mulai terbuka.

"Sakura"

Sesaat kulihat dia tersenyum, namun senyum itu seketika menghilang. Mungkin ia menyadari keadaanku sekarang.

"Saku, apa yang terjadi?"

"Tak apa-apa. Semuanya baik-baik saja Kakashi. Semua baik-baik saja.", kataku pelan. Suaraku bergetar, hatiku pilu. Entah mengapa, aku merasa kami akan berpisah. Jauh.

"Saku, ada yang hendak kukatakan padamu. Tolong, dengarkan aku dulu sebelum kau berkomentar."

Lalu Kakashi menceritakan semua. Tentang penyakit kronis yang dideritanya. Tentang usahanya menyembunyikan penyakit itu. Tentang ketidak-sempatannya membanggakan ayahnya. Tentang ibunya. Tentang aku dan Kurenai.

"Aku berhubungan dengannya karena dia mengetahui penyakitku ini. Dia mengancamku bila aku tidak menjadi kekasihnya, dia akan membocorkan berita tentang penyakitku ini. Selain itu, dia juga ingin menjadikanku sebagai alasan untuk menghindar dari Asuma. Maafkan aku, kumohon."

Aku menutup mataku dan menggeleng perlahan. "Buat apa kau minta maaf? Kau tak bersalah apapun terhadapku. Kau hanya terjebak keadaan." Dia tersenyum mendengarnya. "Aku beruntung memilikimu, Saku."

Lalu ia mulai terbatuk-batuk. Kerap kali darah keluar seiring ia terbatuk. Saat kucoba membantunya, pandanganku, kesadaranku mulai goyah. Saat kulihat rumput yang kami duduki, sadarlah aku betapa banyak darah yang keluar dari luka-lukaku. Kuharap gelap malam menyembunyikan genangan darah itu dari Kakashi.

"Aku lelah. Aku ingin tidur.", bisik Kakashi perlahan padaku.

Kutawarkan kakiku kepadanya. Kuletakkan kepalanya di atas pahaku. "Tidurlah.", ucapku lembut. Sembari melawan maut yang kutahu tak lama lagi akan menjemputku, aku bersenandung lembut untuk lelaki tersayang di pangkuanku ini.

"Terimakasih Saku. Jaa, matta ashita."

Selepas berkata demikian, tertutuplah matanya untuk selamanya. Aku tersenyum. Walau aku tahu aku akan berjumpa dengannya lagi, tak lama lagi, mengapa aku menangis? Senandungku tetap kuteruskan hingga akhirnya lagu yang kusenandungkan itu selesai.

Bersama malaikatku aku akan terbang. Aku kini tersenyum. Karena takkan lagi aku berpisah dengannya. Aku tahu itu. Aku kini akan bergabung dengannya.

Dan aku menutup mataku selamanya.

Owari...

Omake (Natsu POV)

Sudah genap sepuluh tahun sejak kepergian Nee-san dan Kakashi. Aku menghela nafas berat mengingat fakta itu. Tepat hari ini mereka pergi. Aku sudah berencana untuk mengunjungi mereka nanti sore.

Setelah kematian mereka, banyak hal yang kuketahui tentang lingkungan mereka. Tentang Uchiha-san yang ternyata menaruh perasaan pada Nee-san. Tentang Deidara. Tentang Yuuhi-san yang bunuh diri setelah mengetahui kematian Kakashi. Tentang Asuma yang pergi ke luar negeri untuk melupakan yang terjadi. Tentang penyesalan Sakumo. Tentang kecemburuan Karin terhadap nasib mujur Nee-san. Dan tentang nasib Nee-san sebelum kehadiran Kakashi serta kebejatan orang-orang yang menyebut diri orangtuaku.

Beberapa hari setelah kepergian Nee-san, aku keluar dari rumah terkutuk itu, dan tinggal di apartemen dekat Hatake Corp. sendirian. Aku akhirnya mengetahui detail kehidupan Nee-san sebelum Kakashi hadir. Karin menceritakannya padaku. Ternyata ia dulu sama seperti Nee-san, seorang pelacur, namun harus menempuh jalan yang lebih sukar untuk bebas.

Uchiha Itachi-san menyerahkan kedudukannya kepada adik bungsunya, Uchiha Sasuke, untuk sementara selagi dia memulihkan diri dari keterkejutannya. Sementara adiknya yang lain, Uchiha Sai, membantunya melupakan yang terjadi.

Deidara yang ternyata merupakan teman baik Itachi-san membantu sahabatnya untuk melewati kesedihannya. Dia kini bekerja sebagai pemahat patung dan pembuat bahan-bahan peledak untuk black market.

Yuuhi Kurenai langsung bunuh diri setelah mengetahui apa yang terjadi dengan Kakashi. Dia ditemukan tergantung di kamar apartemennya dua hari setelah kematian Nee-san dan Kakashi. Aku tak mengerti tentangnya, tapi aku tahu, dia takkan bertemu dengan Nee-san dan Kakashi.

Sarutobi Asuma meninggalkan kota ini tepat seminggu setelah pemakaman Yuuhi-san. Dia mengatakan bahwa dia ingin melepaskan diri dan melupakan yang terjadi untuk sejenak. Kurasa aku paham. Setelah kepergian seorang sahabat dekat dan wanita yang dicintainya dalam jangka waktu pendek, siapa yang tidak depresi? Dia kini bekerja di Jerman pada sebuah perusahaan persenjataan. Kuharap dia tidak melakukan hal bodoh dengan senjata-senjata itu.

Hatake Sakumo-dono sangat terpukul oleh kepergian putra tunggalnya. Dia menyesal karena tidak lebih memperhatikan Kakashi. Tapi menurutku, dia itu ayah yang baik. Mungkin sebagai pelampiasan rasa sayangnya pada putranya, dia kini sangat menyayangi aku. Bahkan dia menawarkan diri untuk mengadopsiku. Tentu aku terima. Kurasa Nee-san dan Kakashi juga setuju, 'kan? Lagipula, nama Hatake Natsu terdengar bagus.

Setelah chichiue (Sakumo-dono) mengadopsiku, aku berusaha meningkatkan peformaku. Dan kini hasilnya, aku menduduki jabatan tertinggi di Hatake Corp. dengan bangga. Chichiue mundur dari dunia bisnis dan kini menikmati hidupnya di Paris sebagai pelukis bebas. Siapa yang menyangka seorang Hatake Sakumo kelak menjadi pelukis bebas? Aku saja tak pernah terpikir.

Aku memacu mobilku – yang baru kubeli dua tahun lalu – ke areal pemakaman. Di tanganku terdapat dua bunga lily putih yang indah. Aku tak tahu kenapa lily, aku hanya merasa bunga ini cocok.

Aku pun sampai di areal pemakaman. Langsung aku menuju dua makam yang bersanding di bawah pohon sakura berkelopak putih. Sudahkah kusebutkan bahwa bunga sakura sedang mekar? Indah sekali.

Kuletakkan satu lily di pusara Nee-san, satu lagi di pusara Kakashi. Dan aku mulai berbicara pada mereka.

"Sudah lama, ne. Sudah sepuluh tahun kalian pergi. Siapa kira aku bisa bertahan selama ini? Hehe. Kalian tahu, belum bisa aku melupakan keadaan kalian malam itu. Bersanding mesra di antara hujan kelopak putih sakura. Aku cemburu melihat kalian. Pasti kalian senang di sana. Aku di sini baik-baik saja. Semua berjalan dengan indah. Hhh.. Kuharap kalian ada di sini untuk melihatku sekarang."

Air mataku menetes. Cih, sepuluh tahun lewat dan masih terus begini. Aku menatap hujan kelopak sakura yang kini mengerumuniku dengan anggun.

"Hahh, seandainya kalian bisa melihat ini. tapi, aku yakin kalian selalu bersama kami. Iya 'kan?"

Aku tersenyum kecil dan terdiam. Lalu terdengar suara tapak langkah lembut.

"Natsu-kun..."

Aku berbalik dan menatap wanita itu. Istriku, Mao Tsukimura. Ia berjalan perlahan sembari menggendong anakku yang hari ini genap satu tahun, Hatake Hikari. Aku memang cepat menikah. Bagaimana lagi? Aku takut kehilangan dia.

"Oh, ya. Kalian sudah mengenal Mao. Kenalkan, si kecil ini Hatake Hikari. Hikari-chan, ini oji-chan dan oba-chan.", kataku sambil memegang tangan Hikari lembut. Hikari menggapai-gapai ke arah pusara mereka, maka aku meletakkannya. Ia merangkak ke pusara Kakashi, dan memeluknya. Begitu pula dilakukannya kepada pusara Nee-san.

Aku tertegun. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku tak paham. Namun ada perasaan yang tak dapat kuterangkan mengenai saat ini. Dan aku pun tersenyum.

Kugendong kembali Hikari dan mengucapkan selamat tinggal pada Nee-san dan Kakashi. Lalu aku membawa keluargaku pulang ke tempat yang kusebut rumah. Sesaat kudengar bisikan dari belakang. 'Aku akan selalu bersamamu, otouto.'

Sontak aku berbalik, dan tidak menemui apa-apa kecuali kelopak putih sakura yang tertiup angin. Istriku menatapku heran. Aku menggelengkan kepalaku lalu merangkulnya dan membawanya pergi.

Ya, aku tahu kalian akan selalu bersamaku.

Owari...

Tamat juga. Maaf kalo kesannya terlalu terburu-buru, karena emang gitu. Saia lagi sibuk sama sekolah saia. Mohon maaf. _

Big gratitudes buat semua yang udah baca dan review fic saia yang sederhana ini. Mohon dukungannya buat fic yang lain. Hontou ni arigatou gozaimashita. ^_^