Glass.
Chapter 4.
.
.
.
Author Pov.
Tatapan mata mereka masih bertabrakkan mencari sebuah kepastian dari empat onyx yang saling tersambung itu. Rasa sakit yang mendera directumnya berusaha ia tahan saat Donghae terus saja menggenjot tubuhnya dengan kasar.
Darah sedikit demi sedikit mulai mengalir membasahi sprei berwarna putih pucat yang menjadi alas kasur mereka. Rintihan itu tidak keluar lagi saat mulut Hyuk Jae sudah terasa kelu. Deru nafas semakin memburu bercampur rasa sakit serta nikmat manusiawi yang menjadi refleksi kegiatan ini.
"Hentikan ini." Ucap Hyuk Jae sinis saat Donghae masih sibuk menggenjot tubuhnya. Tangan dan tubuhnya terkunci oleh tindihan dari tubuh kekar Donghae yang memang lebih kuat darinya. Seakan menuli Donghae terdiam tak membalas ucapan orang yang dicintainya.
Tatapan sinis itu ia balas dengan tatapan yang tak kalah sinis.
"Kubilang hentikan ini!" Hyuk Jae kini berteriak. Semua aktivitas terjeda sesaat akibat teriakkan frustasi itu. Bahkan hiruk pikuk dunia luar seakan ikut membisu merespon hal tersebut. Donghae tertawa sinis saat kesadarannya kembali datang.
Ia kembali melanjutkan aktivitasnya menampik segala hal yang terus saja digerutukan oleh Hyuk Jae. Air mata yang beberapa jam lalu telah mengering kembali membasah saat bulir-bulir baru kembali berdatangan membasahi wajah Hyuk Jae.
Ia berusaha dengan sekuat tenaga membangunkan tubuh kurusnya namun siku Donghae menahan lehernya. Mencekiknya keras saat ia mencoba menghirup udara yang berjalan bebas diruangan kamar ini.
"Le…lepas!" Sesak Hyuk Jae. Donghae tidak menjawab. Ia memagut bibir kissable itu kasar. Membawa bibir itu kedalam ciuman panas penuh irama yang sering kali mereka rasakan.
.
.
.
Dentingan dari alat makan diruangan bernuansa mewah itu kini begitu mendominasi perjamuan makan keluarga Choi. Ketenangan yang terjadi segera tertampikkan saat kita melihat sekeliling dengan lebih teliti. Acara makan keluarga ini begitu panas, mata elang Siwon menghadiahkan sebuah kilatan sinis untuk sesosok manis yang duduk diantara mereka.
Yah! Dengan sangat bodohnya Kim Kibum mengundang Henry keacara makan pagi mereka. Mengusik ketenangan pagi yang biasanya akan menyambut Choi Siwon untuk menyapa sang surya angkuh diluar sana. Dengan jentikan jarinya, Kibum dengan sangat mudah bisa mengubah pola pikir idealis Choi Siwon.
"Sudah lama kita tidak bertemu Henryssi." Ungkap Siwon dengan nada yang amat sarkastik. Henry hanya tersenyum singkat menanggapi.
"Daging? Kau suka dagingkan?" Kibum memecah keheningan. Kembali Henry tersenyum menanggapi.
Siwon mengekerutkan dahinya saat jemari lentik itu beralih mengambilkan sepotong daging sapi untuk Henry, meletakkannya dimangkuk nasi Henry lalu tersenyum amat manis. Siwon meletakkan alat makannya dengan keras.
Menimbulkan dentingan kencang yang membuat kedua insan didepannya harus menghentikan aksi bermesraan ria dipagi hari itu. Siwon menatap lekat manik Kibum sebelum memberi penjelasan atas aksi tidak sopan yang dilakukannya.
"Sepertinya aku sudah kenyang, aku permisi terlebih dahulu." Ucap Siwon lalu berlalu pergi.
Kibum menatap kepergian suaminya nanar. Perasaannya begitu kalut. Ia merasa bersalah tapi logikanya menentang hal tersebut. Ia terjebak kedalam sebuah palung dalam yang tidak jelas seberapa dalam jaraknya. Menghembuskan nafas berkali-kali hanya semakin membuat hatinya terasa amat terluka. Ia terluka karena namja tadi, namja tampan yang selalu menggumamkan kata 'cinta' untuknya.
"Bisakah kau berhenti memperhatikannya? Aku yang berada disini dan kau masih mengacuhkanku. Lalu bagaimana dengan dia yang berada diposisinya itu?" Sebuah suara lirih mengintrupsi Kibum dari lamunannya. Ia segera memalingkan wajahnya dan menatap Henry dengan ekspresi datarnya.
"Aku tidak mengacuhkanmu."
"Itu yang kau lakukan hyung…" Henry menjeda ucapannya. Ia meletakkan sendok dan garpu yang digenggamnya keatas meja.
"Jika saja kau berkata bahwa dirimu lelah sejak dulu, maka mungkin aku akan menyerah dengan mudah. Tapi jawaban ambigumu selalu memaksaku untuk memantapkan hatiku." Kembali Henry berujar dengan lirih. Mata sipit miliknya memandang Kibum dengan intens.
"Sepertinya ini sudah waktunya, kita pergi sekarang." Kibum berdiri dari tempat duduknya. Sangat terlihat bahwa sekarang namja dingin ini mencoba mengalihkan pembicaraan.
Belum sempat Kibum melangkahkan kakinya pergi, sepasang tangan putih menghentikan aksinya. Henry menggenggam pergelangan tangan Kibum dengan kuat.
"Ceraikan dia."
Kibum tersentak mendengar ucapan Henry. Namun ia kembali mencoba mengatur emosinya. Menyembunyikan segala perasaan aneh yang meminta dirinya untuk menolak semua ucapan Henry.
"Sudah kukatakan untuk berhenti memintaku melakukan sesuatu yang beresiko besar nantinya. Shindong memerlukan seorang ayah." Jawab Kibum dingin.
Henry kembali tersenyum lirih. Ia membangunkan dirinya lalu beranjak tepat kearah Kibum. Memandang namja cantik itu dengan sangat dalam.
"Aku bisa menjadi ayah anak itu." Ucapnya. Tangan putihnya terulur menyentuh pipi bulat Kibum. Mengelusnya pelan, membiarkan jemari lentiknya memberikan sebuah kehangatan yang selalu diinginkan namja berwajah datar ini.
"Aku tidak yakin itu akan berjalan lancar." Tutur Kibum. Henry menggeleng tak percaya.
Kenapa meyakinkan namja berjulukkan salju ini begitu sulit? Begitulah yang Henry pikirkan. Berhadapan dengan Kibum membuat hatinya sesekali terasa berat. Ingin sekali ia pergi meninggalkan Kibum, tapi hasilnya? Ia tidak bisa…, mungkin untuk saat ini ia masih belum bisa.
"Tidak bisakah kau mempercayaiku?" Henry mengusap pipi Kibum dengan lembut. Mendekatkan wajahnya kearah wajah Kibum dengan perlahan.
"Mianhae…" Tangisan itu lolos begitu saja setelah Kibum mengucapkan sebaris kata-kata tersebut. Henry menggeleng lalu mengecup lembut bibir merekah yang dimilikinya. Setelah beberapa lama, ia menghentikan tautan bibir mereka dan menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Kibum.
"Jangan menangis lagi, aku mengerti." Henry melepaskan jarinya dari pipi putih Kibum. Berjalan pergi meninggalkan Kibum yang terisak pelan memandang kepergian kedua orang yang telah disakitinya. Topeng yang digunakannya sudah hancur, dan iapun juga mulai larut kedalamnya. Kebohongannya terlalu menyakitkan.
Tanpa Kibum sadari, bukan hanya ia yang kini terisak pelan. Siwon membekap mulutnya kuat menahan isakan keras yang akan dikeluarkannya jika ia tidak mengantisipasi tindakannya dengan lebih lanjut. Ia melihat semuanya. Semua yang dilakukan Kibum tadi. Tubuhnya lemas begitu saja dan dengan bodohnya kini ia menjatuhkan dirinya kelantai.
Semakin membekap mulutnya saat kehancuran cintanya sudah berada didepan mata. Nyata dan kini menjadi sebuah fakta baru, bahwa perasaan yang selama ini dibanggakannya hanya menjadi sebuah kesia-siaan…
.
.
.
Hyuk Jae menyeret kakinya susah payah saat bagian bawahnya masih terasa panas. Menyeret kaki dengan jarak satu cmpun sangat sulit dilakukannya. Ia menghela nafas dalam menatap makanan yang tersedia dimeja makan apartement 'mereka'. Makanan sederhana yang sangat sering dibuatnya untuk Donghae.
Ia memalingkan wajahnya saat tatapan sendu itu kembali menunjukkan keberadaannya. Rasa sakit itu masih memenuhi relung hatinya sampai detik ini.
"Kau makan saja sendiri. Aku ada urusan pagi ini." Ucapnya santai sambil membenarkan kancing kemeja yang belum terkancing rapi. Hyuk Jae terdiam tak membalas. Ia langsung mendudukkan dirinya dikursi meja makan sebelum mendapat tanggapan keras dari Donghae.
"Jawab aku! Jangan mendiamiku terus!" Teriak Donghae berhasil membuat tubuh kurus itu tersentak. Tubuh Hyuk Jae membeku sejenak dan lagi-lagi tangisan itu menjadi penyambut hari baru baginya. Nafas Donghae tersengal mencoba membiasakan diri.
"Jangan membuatku bertindak kasar lagi." Ucapnya dingin. Tangannya terkepal menahan amarah. Hyuk Jae menundukkan wajahnya.
"Apa aku? Apa aku yang bersalah?" Suara lirih itu mulai terdengar mencari sebuah kepastian yang pastinya tak pernah ia dapatkan. Donghae terdiam tak menjawab gumaman kekasihnya. Ia beranjak dari tempatnya dan langsung pergi meninggalkan Hyuk Jae setelah semua persiapannya terselesaikan.
.
.
.
"Apa yang mau kau bicarakan denganku? Terlebih ditempat seramai ini." Tanya seorang namja dengan rambut brunettenya ketus. Wanita yang sejak tadi menunggunya dicafe yang cukup berkelas ini mendecih pelan mendapat respon dari calon suaminya.
"Apa seperti ini caramu menyambut wanita yang akan menjadi ayah anakmu dan wanita yang sudah kau nodai dulu?" Jawabnya sinis. Laki-laki bersurai brunette yang masih berada diambang pintu ruangan café itu mendecih pelan lalu menutup pintu kasar.
Ia langsung mendudukkan dirinya saat tatapan tajam terus saja dilontarkan yeoja manis didepannya. Suasana sesaat menjadi hening saat tak ada satupun kata yang dilontarkan kedua insan ini. Sampai sebuah helaan nafas mulai terdengar dan menjadi irama menyedihkan ruangan berdisain klasik itu.
Tak mau membuat laki-laki didepannya menunggu lama, dengan cepat ia mengambil sebuah kertas yang diketahui sebagai undangan pernikahan lalu meletakkannya kemeja. Donghae, namja brunette itu mengerenyitkan dahinya bingung.
"Undangan pernikahan kita? Untuk apa?" Tanyanya langsung. Yeoja manis bernama Lee Sungmin itu tersenyum sinis lalu kembali memfokuskan matanya kepada iris hazel didepannya.
"Untuk apa? Berikan itu padanya." Balasnya dengan nada merendahkan. Donghae terdiam sejenak. Lalu kembali lengkungan bibir penuh kesinisan ditampilkan wajah tampannya. Ia melempar kertas undangan itu kewajah Sungmin.
"Tidak perlu! Dia sudah tahu!" Jelasnya. Sungmin masih terdiam kaku akibat perlakuan Donghae. Bulir bening itu kembali menetes membasahi wajah putihnya. Langkah kaki Donghae semakin terdengar menjauhi dirinya namun sebelum Donghae sempat menyentuh knop pintu, suara lembut itu lagi-lagi menginstrupsi kegiatannya.
"Bukankah aku yang tersakiti disini?! Kenapa oppa selalu menyalahkanku?!" Akhirnya teriakkan itu pecah. Teriakkan penuh kesedihan yang sering kali dialami wanita cantik ini. Konsep cinta sejati yang ia inginkan hilang sudah sejak beberapa bulan lalu. Sejak orang 'itu' dan kejadian penuh kenangan buruk itu mulai menorehkan sebuah masa lalu buruk tak terlupakan diotaknya.
Donghae terdiam tak menjawab ucapan Sungmin. Ini juga selalu membingungkannya. Ia tidak benar-benar ingin Sungmin berada diposisi ini, hanya saja jika ia masih ingin Hyuk Jae berada disisinya, hal seperti inilah yang harus dilakukannya. Membuat Sungmin menjadi pihak yang disalahkan.
Sungmin tersenyum sinis tak mendapat respon yang berarti dari Donghae.
"Baiklah, jangan salahkan aku jika laki-laki itu berada diposisi yang sulit saat ini." Ancamnya. Donghae membalikkan wajahnya menatap Sungmin geram. Dengan langkah bimbang ia berjalan mendekati Sungmin, menarik tengkuk yeoja itu dan memagut bibirnya kasar.
.
.
.
Hyuk Jae memandang pemandangan Seoul dengan kosong. Orang-orang yang berlalu lalang didepannya seperti sebuah boneka yang tidak akan pernah memperhatikan dirinya walau hanya sedetikpun. Ia terbuai dengan kesibukkan semua orang.
Membiarkan dirinya terbuai itu mungkin lebih tepat. Seperti patung yang bahkan tidak mengenal apa itu 'malu' dan berjalan terus menerus tanpa menatap pandangan kelak orang-orang nantinya. Tersiksa? Lebih dari itu, ia dipenjarakan dalam sebuah ketersiksaan.
'Kemana angin membawaku?' Ia memulai percakapan didalam hatinya. Meminta sebuah jawaban pada hati nuraninya.
'Seberapa lama mereka mengacuhkanku?' Kembali ia bertanya. Bertanya pada Tuhan yang mungkin masih enggan untuk mendengar segalanya.
'Sampai kapan ini akan terus berlanjut?' Kata-kata ini ditunjukkan untuk dirinya.
'Dan kapan kalian akan menghentikannya?' Kaliamat penutup itu ditunjukkannya untuk langit. Langit yang masih tersenyum sinis menjawab segala pertanyaan yang dilontarkannya.
'Kalian pikir aku akan menyerah?!' Satu kristal lolos dari kedua pelupuk matanya. Ia menyerah untuk menahan hal ini dan ia juga menyerah saat satupun pertanyaan darinya tidak pernah terjawabkan.
'Cih! Aku tidak akan kalah! Bahkan jika kalian masih mengutukku! Aku tidak akan kalah!' Ia menundukkaan wajahnya. Menghapus air mata yang terus jatuh seperti orang bodoh. Untuk apa menghapusnya, toh dirinya akan kembali menangis? Bukankah itu sia-sia?.
.
.
.
Siwon terdiam menatap pemandangan luar dari balik kaca mobilnya. Pikirannya melayang entah kemana mengingat kejadian tadi. Dadanya serasa sesak dan kenyataan bahwa Kibum benar-benar tak mencintainya terus saja menghantuinya.
Tetesan bening itu lagi-lagi menyeruak keluar membasahi pipi tirusnya. Harusnya ia tahu bahwa rasa cinta itu tak seharusnya ia lontarkan. Terlebih pada namja yang kini membencinya. Ia mengusap kasar wajahnya. Mencoba mengusir segala beban yang menjadi topik utama pikirannya.
"Hiks…" Namun tangisan itu makin terdengar memenuhi ruang mobil yang sempit. Dengan langkah gontai ia coba membangunkan tubuh tingginya dan beranjak keluar. Matanya sontak melebar menatap namja yang berada tidak jauh dari posisinya.
"Hyuk Jae…?" Gumamnya membuat namja yang dipanggil Hyuk Jae itu menoleh menatapnya. Sesaat semua terasa terfokus pada kedua namja ini. Semua terpouse dengan sendirinya…
"Hyung…?" Dan saat sebuah jawaban keluar dari namja manis bersuarai dark brown ini, semua kembali dimulai dengan tempo yang semakin cepat.
.
.
.
"Lama sekali tidak melihatmu…" Sebuah suara kembali meramaikan suasana hening mereka. Taman yang sepi menjadi satu-satunya tempat bagi kedua orang ini melepas rindu. Namja yang diajaknya bicara mengangguk mengiyakan.
"Sudah hampir tiga tahun tidak pernah melihatmu hyung…" Ucapnya lagi. Yang dipanggil hyung menganggukkan kepalanya. Sorot matanya langsung tertuju pada beberapa bekas lebam yang masih setia terpatri diwajah Hyuk Jae sampai beberapa hari kedepan.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanyanya dengan mimik khawatir. Ia menangkup kedua tangan besarnya pada wajah manis Hyuk Jae. Hyuk Jae menggeleng pelan, lalu melepaskan tangan putih itu dari wajahnya.
"Dulu, aku mencarimu di klub itu, tapi mereka bilang kau sudah berhenti dan pergi dengan seorang laki-laki. Siapa? Kekasihmu?" Lanjutnya. Raut wajah Hyuk Jae kembali berubah. Mengingat Donghae membuat perasaannya kembali kalut.
Tak ingin membuat Siwon menunggu lama jawaban dari pertanyaannya, Hyuk Jae mengangguk membenarkan.
"Kau sudah punya kekasih? Siapa?" Kembali Siwon melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk Hyuk Jae jawab. Hyuk Jae terdiam, ia masih mencoba menimbang segalanya.
"Dia seorang bintang besar, dia…, yang pasti dia orang yang sangat kaya." Jawab Hyuk Jae lemah. Siwon mengangguk paham. Ia menunjuk sebuah bangunan café yang berada tak jauh dari posisi mereka sekarang.
"Café itu, dia yang memberikannya padamu?" Siwon kembali bertanya. Hyuk Jae mengangguk mantap. Berulang kali ia mencoba menghilangkan rasa malu dengan menghela nafas yang terasa semakin berat. Dalam hatinya, ia merutukki dirinya karena begitu terlihat seperti seorang pelacur.
"Bagaimana hubunganmu dengan istrimu? Semakin membaik?" Kali ini Hyuk Jae yang melontarkan sebuah pertanyaan pada namja yang pernah dan kembali ia temui ini.
"…" Siwon terdiam. Tak ada jawaban yang terasa cocok pada pertanyaan yang Hyuk Jae lontarkan. Apakah memburuk? Atau membaik? Ia tidak bisa menilainya hanya dari satu sudut pandang.
"Maaf jika aku_"
"Tidak, ini semakin memburuk." Ucapan Hyuk Jae terpotong ketika suara baritone itu menjawab pertanyaannya. Hyuk Jae terdiam menatap wajah Siwon yang semakin menyendu. Tangan putihnya terulur mengelus surai lembut kehitaman itu.
Butiran bening itu kembali membasahi wajah tampannya. Isakkannya juga makin terdengar memenuhi ruang luas taman sepi itu. Siwon mendongak menatap wajah Hyuk Jae yang beberapa kali sempat ia rindukan, ia menatap wajah penuh kesedihan itu nanar.
Jemari lentiknya terulur meraih jemari kurus Hyuk Jae, menggenggamnya erat saat tangannya berhasil dengan mudah meraup tangan yang jauh lebih kecil dari ukuran tangannya. Ia mengecup punggung tangan itu sekilas lalu kembali menatap wajah sendu Hyuk Jae.
"Apa aku masih punya kesempatan?" Perkataan ambigu itu sukses membuat tubuh Hyuk Jae kaku.
.
.
.
Hyuk Jae berjalan lesu masuk kedalam café miliknya. Baru hendak ia melangkah masuk kedalam ruangan pribadinya, sebuah tangan lain menginstrupsi langkah kaki Hyuk Jae. Seseorang berwajah tampan yang kini memberikan sebuah senyuman mematikan pada Hyuk Jae.
"Ada apa? Kau membuat moodku buruk dengan senyuman anehmu itu Changmin!" Bentak Hyuk Jae pada seseorang yang telah menginstrupsi langkahnya.
Seseorang bernama Changmin, atau lebih tepatnya Shim Changmin (Sahabat dekat Hyuk Jae, yang bekerja sebagai pelayan dicafé miliknya) itu mendecih menerima respon Hyuk Jae.
"Seseorang mencarimu Hyuk." Jawabnya ketus lalu meninggalkan Hyuk Jae yang terlihat tengah berpikir. Mencoba menebak siapa yang kini menganggu waktu berpikirnya.
Langkah kakinya berbalik menuju tempat para pelanggan berada. Sesosok yeoja manis terduduk disudut ruangan café dengan 2 kopi panas yang sudah dipesan sebelumnya, jemarinya saling bertautan menghalau ketegangan serta emosi yang melanda yeoja cantik tersebut.
Tanpa harus bertanya, Hyuk Jae melanjutkan langkahnya. Berjalan menuju wanita yang sepertinya juga tengah menunggu kebaradaan Hyuk Jae. Tanpa meminta sebuah izin, Hyuk Jae langsung mendudukkan dirinya tepat dihadapan wanita itu, Sungmin lebih tepatnya.
"Mencariku?" Pertanyaan Hyuk Jae sontak membuat Sungmin sadar dari lamunannya. Ia terdiam sejenak membiarkan dirinya mengatur nafas.
Sungmin tidak menjawab. Jemarinya meraih kembali kertas perak yang sebenarnya sudah didapatkannya dari pihak lain, tapi mungkin karena ketidak tahuan yeoja manis ini. Kertas itu harus kembali berada ditangan Hyuk Jae.
"Undangan pernikahan?" Tanya Hyuk Jae, atau mencoba memastikan. Sungmin tetap tidak menjawab. Enggan rasanya ia merespon namja yang selama ini menjadi objek utama kegagalan cintanya.
"Aku sudah mendapatkannya, tapi terimakasih karena memberikannya lagi." Ujarnya enteng. Sungmin tersenyum sinis membalas respon yang dikeluarkan Hyuk Jae.
"Ternyata kau masih punya muka untuk menerima undangan ini." Cerca Sungmin. Hyuk Jae menggeleng lalu tertawa ringan mendengar apa yang Sungmin katakan pada dirinya.
"Dan ternyata kau masih tidak punya otak untuk memberikan surat ini padaku." Balas Hyuk Jae tak kalah sinis. Sungmin terdiam sejenak mencoba mengatur emosinya.
"Yang pasti aku akan menjadi pengantin yang cantik dihari pernikahanku nanti." Sungmin mengalihkan pembicaraan. Seringainya terlihat tak pas dengan wajah manisnya.
"Ya, tentu kau harus melakukkannya. Itu yang harus kau lakukkan, Donghae akan senang melihatmu menjadi sangat cantik." Jawab Hyuk Jae masih dengan ekspresi meremehkan khas miliknya.
"Dan kuharap pernikahan kalian bisa bertahan lama." Lanjutnya.
Brush!
2 kopi panas itu tepat mengenai wajah putih Hyuk Jae. Cairan pekat itu benar-benar masih panas dan hal tersebut membuat Hyuk Jae memekik kesakitan menahan rasa panas yang mendera kulit wajahnya. Bercak kemerahan juga terlihat mulai menghiasi wajah manis nan polos itu.
Sungmin sang pelaku utama penyiraman itu langsung melesat pergi keluar café, meninggalkan Hyuk Jae yang masih sibuk menahan rasa panas itu.
Hyuk Jae dengan tergesa-gesa meraih tisu yang berada disudut meja. Tangisan juga meleleh melewati pipi putihnya. Wajah Hyuk Jae yang sudah dipenuhi luka lebam kini harus kembali ternodai oleh bercak merah melepuh akibat cairan panas itu.
Ia menungkupakan wajahnya menahan sakit, tak jarang telapak tangannya mengibas mencoba meminimalisir rasa panas yang mendera wajahnya. Rasa sakit diwajah juga dihatinya datang secara bersamaan.
"Eom… eomm..eomma…hikss." Hyuk Jae menangis dengan isakkan kecilnya. Ia berlalu pergi menuju toilet untuk membasuh wajahnya yang melepuh dan kotor karena cairan pekat mengandung caffeine itu.
.
.
.
Hyuk Jae membasuh wajahnya dengan kasar, air dingin yang mengalir dari keran tidak mampu sepenuhnya menghilangkan efek panas akibat kopi tadi. Ia memandang sendu refleksi wajahnya yang terpantul dari cermin didepannya.
Suara decitan pintu menyadarkan kembali kesadarannya. Spontan ia mendongak, menoleh pada orang yang telah menginstrupsi kegiatannya.
"Oh?!" Changmin menunjuk kejut melihat wajah Hyuk Jae yang memerah. Tak ada respon yang Hyuk Jae berikan pada keterkejutan Changmin.
"Wanita itu menyirammu? Dengan kopi yang dipesannya?" Changmin mulai membrondong Hyuk Jae dengan berbagai pertannyaan, tidak ada jawaban lagi. Hyuk Jae hanya memejamkan matanya mencoba melupakan kejadian buruk tadi.
"Changmin-ah…" Suara lemah itu seperti menghentikan waktu yang berputar. Ia membuka matanya lalu menatap Changmin dalam dari cermin toilet didepannya.
"Aku minta barang yang pernah dulu kau berikan padaku."
.
.
.
Donghae memasuki apartement itu dengan langkah lemasnya, matanya tertuju pada seseorang yang kini tengah menangis dalam kegelapan yang menguasai ruangan itu. Langkah kakinya semakin melambat saat suara isakkan itu terdengar semakin mengeras.
Ia membuka knop pintu kamar dengan hati-hati, tak berniat mengusik seseorang yang kini tengah menangisi takdirnya. Mata teduhnya membulat sempurna saat penerangan sederhana yang dihasilkan lampu meja memantulkan sebuah cahaya yang membuatnya dapat melihat kesakitan objek indah didepannya.
Bekas kemerahan pada wajah Hyuk Jae nampak jelas menodai kulit putihnya. Saat menyadari kedatangan Donghae, Hyuk Jae segera menghapus air matanya. Menatap tajam namja didepannya. Setidaknya sekarang ia ingin mengatakan pada dunia, bahwa ia sedang berada dalam batas kemarahannya. Walaupun dunia tak akan pernah ingin tahu juga tak akan pernah paham…
"Ada apa dengan wajahmu?" Sebuah kalimat mulai meluncur bebas dari bibir tipis namja bermata teduh itu. Hyuk Jae terdiam tidak menjawab, matanya menatap kosong kedua manik kelam yang masih setia menatapnya.
"Kau tidak mau menjawabku, heum?" Kini suara itu terdengar makin melembut. Ia ikut mendudukkan dirinya dipinggir ranjang berdampingan dengan namja kurus disampingnya. Tangannya terulur menyentuh pipi yang kini sudah dinodai dengan banyak bercak merah serta luka lebam.
"Apa kau terluka saat menyeduh kopi?" Kalimat itu sukses membuat sebuah tawa sinis keluar dari bibir kissable milik Hyuk Jae.
"Aku bukan orang bodoh yang terluka begitu parah hanya karena hal sepele seperti itu!" Sinis Hyuk Jae masih setia menatap manik kelam itu. Donghae tersentak mendengar penuturan sinis sang kekasih, ia menggenggam jemari Hyuk Jae dengan lembut.
"Hei, ada apa denganmu? Ada masalah? Katakan padaku…" Tanyanya masih dengan suara lembutnya. Hyuk Jae belum berniat menjawab, ia menghela nafas sejenak. Tangan putihnya menepis tangan Donghae yang masih sibuk memberikan kehangatan pada jari-jari kurusnya.
"Jawabannya ada pada Lee Sungmin!" Jawabnya sinis, matanya mulai mencoba menahan bulir-bulir bening yang kembali datang. Mata laki-laki berwajah tampan didepannya sontak melebar. Rasa tak percaya juga rasa iba bercampur menjadi satu didalam hatinya.
Pandangan yang sempat teralihkan akibat perkataan namja didepannya, kini kembali terfokuskan menatap siluet indah didepannya. Namun lagi-lagi tatapan tulus itu harus kembali tertepiskan akibat rasa kesal dari Hyuk Jae.
"Maafkan aku…" Gumamnya lirih. Hyuk Jae tersenyum sinis menerima permintaan maaf yang tak seharusnya ditunjukkan padanya dan tak seharusnya diucapkan Donghae. Ia menyalahkan langit karena langit kembali memposisikannya ditempat yang tak ia inginkan.
Panggung opera dalam hidupnya membuatnya menjadi tokoh utama dan tokoh antagonis secara bersamaan.
"Kenapa harus kau yang minta maaf?! Kenapa bukan wanita itu?!" Teriak Hyuk Jae dengan isakkan lirihnya. Donghae terdiam. Isakkan yang ia keluarkan seakan membalas teriakkan Hyuk Jae. Dua isakkan kesedihan kini bercampur menjadi satu memenuhi kamar dengan segala batasnya.
Hyuk Jae beranjak dari ranjang, berjalan cepat menuju meja nakas yang berada tak jauh dari posisi Donghae. Mengambil kartu keperakkan itu lalu merobeknya menjadi beberapa bagian dan membuang bagian-bagian yang tersisa tepat kewajah teduh namja yang sejak dulu diinginkannya.
Isakkan Donghae yang semakin mengeras seakan menjadi jawaban atas perlakuan Hyuk Jae. Hyuk Jae mengatur nafasnya mencoba menstabilkan emosinya. Ia menjatuhkan dirinya kelantai, udara hangat yang dihasilkan penghangat ruangan tak mampu menstabilkan hatinya yang dingin.
Ia menjatuhkan dirinya kelantai kamar mereka, belum ada isakkan yang dikeluarkannya. Donghae beranjak dari posisinya, berjongkok dihadapan Hyuk Jae. Memaksa namja berwajah cantik itu mendongak menatap matanya.
"Jika aku bisa, aku akan berusaha membuatnya meminta maaf padamu." Sebuah kalimat penuh rasa sakit yang dilontarkan Donghae sukses membuat linangan air mata jatuh tak terhankan lagi.
"Hiks…hiks…hiks…" Isakkan itu terdengar terlalu lirih, disaat yang bersamaan Donghae memeluk tubuh kurus itu. Memberikan sebuah kehangatan yang jarang ia dapatkan.
.
.
.
Pelukan mereka semakin mengerat memberi kehangatan satu sama lain pada tubuh yang tak terbalut sehelai benangpun. Tatapan kosong dari kedua manusia yang tengah sibuk bergumul dibalik selimut menjadi penanda bahwa mereka tidak benar-benar menikmati kegiatannya tadi.
"Aku menonton konfrensi persmu kemarin…" Sebuah ucapan dengan topik absurd menginstrupsi suasana hening mereka.
"Semua rakyat Korea dan fansmu menangis mendengar pangeran mereka akan menikah." Lanjutnya lagi. Tak ada jawaban dari ucapan namja manis itu. Donghae masih sibuk memejamkan matanya, dagunya ia topang tepat dipucuk kepala Hyuk Jae.
"Banyak fans-fansmu yang memberimu selamat, dan lebih banyak lagi yang menghina Lee Sungmin." Ucapnya lagi walau tak ada satupun jawaban yang dilontarkan Donghae pada setiap perkataannya.
Suasana kembali hening, Hyuk Jae menyerah untuk bicara. Baru saja Donghae akan menyapa bunga tidur yang sudah lama diimpikannya, suara manis itu kini lagi-lagi memecah keheningan.
"Aku ingin melihatmu mengenakan tuxedo pernikahanmu, hanya untukku. Hanya untuk kita berdua…" Ucapan lirih Hyuk Jae sukses membuat Donghae membelalakkan matanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya saat merasa bahwa detak jantung namja disampingnya semakin cepat.
Mencium beberapa kali pucuk kepala Hyuk Jae, isakkan itu kembali keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau senang sekali menyakiti dirimu sendiri Lee Hyuk Jae…" Ucap namja tampan itu ditengah isakkannya. Hyuk Jae menggeleng tak setuju.
"Tidak, aku bahagia melihatmu mengenakan tuxedo itu untukku, setidaknya untuk malam ini." Ucapnya lirih. Donghae mengangguk paham lalu kembali mencium pucuk kepala itu.
.
.
.
Namja bermata teduh itu berjalan keluar kamar dengan tuxedo indah yang pas dengan wajah tampannya. Namun tak ada senyuman, senyuman khas yang sudah beberapa bulan lalu susah Hyuk Jae dapatkan darinya.
"Tampan…" Gumam Hyuk Jae ditengah aksinya yang sibuk memandangi setiap inchi wajah Donghae. "Tapi kau akan terlihat lebih tampan jika tersenyum…" Lanjutnya dengan suara yang semakin melirih. Donghae membuang muka mencoba menahan segala emosi yang kini bergelut dalam hatinya.
"Tapi bukan kau yang menjadi pengantinku." Jawabnya telak. Hyuk Jae mengangguk membenarkan.
"Aku bisa saja menjadi pengantinmu jika kau mencobanya." Jawab Hyuk Jae lagi.
"Tapi aku tidak bisa melakukannya." Balas Donghae. Hyuk Jae lagi-lagi mengangguk mengerti. Benar, ia mencoba memahami takdir. Kehidupannya bukan sebuah drama simple penuh cinta sejati yang sering ditayangkan didrama televisi. Ia harus mengorbankan perasannya untuk mendapat hal yang lebih besar dari ini semua untuk bahagia.
"Kau tidak perlu datang, itu akan membuatmu tersakiti." Ucapan Donghae mendapat gelengan mutlak dari Hyuk Jae. Ia menatap manik kelam itu dalam sebelum memberi penjelasan atas tindakkannya.
"Dia mengundangku, dan aku harus datang. Kita lihat siapa yang bisa bertahan sampai akhir." Jawab Hyuk Jae tegas. Donghae lagi-lagi tak bisa menahan isakkannya. Ia berjalan cepat menuju tempat duduk Hyuk Jae dan memeluk erat tubuh kurus itu. Membagi semua hal yang ada didalam tubuhnya pada namja yang sangat ia cintai.
.
.
.
Hyuk Jae menatap bangunan mewah didepannya dengan tatapan sendu. Rumah besar itu kini dipenuhi dengan tamu-tamu dan juga banyak wartawan yang mengerubunginya. Kaki Hyuk Jae melemah untuk melangkah, tapi pikirannnya berhenti ketika sekelebat keputusan untuk kembali menghantuinya. Tidak mudah untuk masuk baginya, tapi dengan segala kekuasan Donghae sekarang faktanya ia tengah berdiri memandang objek mewah itu dengan Takdir yang juga berhadapan dengan Hyuk Jae.
Ia memejamkan matanya sejenak sebelum ia kembali melangkah lagi untuk memasuki istana mewah keluarga Tan. Merapikan kembali kondisi jas yang awalnya sempat berantakan akibat angin yang terus saja menerpa tubuh kusursnya.
Langkah demi langkah diputusnya, dan air mata itu jatuh ketika tubuhnya berhasil memasuki tempat yang kini berdekorasikan warna putih itu. Pandangan matanya langsung tertuju pada seseorang yang tengah terdiam ditengah-tengah acara dengan raut wajah datarnya.
Pandangan mata mereka bertemu, memulai sebuah kontak mata dengan ilusi cinta didalamnya. Donghae tersenyum manis membalas tatapan Hyuk Jae. Wajah datarnya kini dipenuhi dengan satu senyuman yang juga hanya ditunjukkan pada namja manis yang kini berada cukup jauh darinya.
"Saranghae…"
Gumaman tanpa suara itu kembali diucapkan oleh namja brunette ini. Hyuk Jae tidak mendengarnya, Hyuk Jae tidak mampu merasakannya, tapi ia yakin suatu saat pengorbanannya ini akan menghasilkan kebahagian yang ia cari selama ini…
.
.
.
TBC.
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
Author Note:
Ah…akhirnya updet lagi. Entah chapt ini bisa bikin kalian menangis atau tidak yang pasti kami mewek dengan segala keterbatasan yang ada. Maaf jika masih banyak typo, alur yang berantakkan, dan kata-kata yang tidak berkenan dihati para readers. Maaf juga jika kami belum bisa membalas review kalian. Terimakasih banyak atas responnya :)
Jadi apakah ff ini masih layak untuk dilanjutkan?
