Chapter 4

POV: Sasuke

Kesan pertamaku tentang Karin, saat kami pertama kali bertemu di pesta ulangtahun Temari yang ke 10 tahun, adalah Karin itu kampungan. Waktu itu rambut merahnya dipotong pendek (sangat pendek hingga banyak yang mengira dia adalah Gaara, adiknya Temari). Di pesta mewah yang dihadiri oleh orang-orang kelas atas seperti itu dia malah hanya mengenakan celana dan kemeja polos. Kulitnya juga gelap. Dan cara bicaranya kasar meski suaranya halus. Dibandingkan dengan Temari, Hinata, dan putri-putri lain, penampilan karin benar-benar kebanting.

Tapi ada sesuatu yang membuat dia berbeda di mataku. Saat gadis itu menatapku, tatapan matanya menyorot tajam sekaligus lembut, seperti tatapan ayahnya yang ternyata lumayan disegani sebagai pengusaha. Dan saat ia berbicara dengan para kage atau pun pemimpin klan, kepercayaan diri serta kesopanannya muncul. Sehingga dalam dua jam, orang-orang mulai membicarakannya dan memutuskan dia paling cocok menikah dengan penerus Uchiha karena sebentar lagi keluarganya akan pindah ke Konoha.

Anehnya, aku merasa pilihan mereka cukup benar. Waktu itu aku sangat jatuh cinta dengan tatapan itu. Tapi tidak dengan Nii-san. Sama dengan kesan pertamaku, Nii-san juga menganggap Karin itu kampungan. Dan kebetulan Nii-san sempat pacaran ala anak-anak dengan Temari. Tentu saja ide menikahkan kami itu (Uchiha dengan Uzumaki, maksudku. Bukan aku dengan kakakku. Itu sih amit-amit!) ditolak mentah-mentah oleh Nii-san.

Naruto ©MasashiKishimoto

Mondai ©VannCafl

Pairing: Sasuke x Karin x Itachi

Genre: Romance

Rate: M

Tapi kini kenyataannya berbeda.

Semalam, ia duduk berdempetan dengan Karin layaknya pasangan baru yang lagi kasmaran. Bayangan itu membuat kepalaku tambah pening pagi ini.

Aku melompat turun dan meraih gelas berisi air di atas meja. Di dekat sana juga ada obat paracetamol serta secarik kertas bertuliskan, "Jika sakit kepalamu sudah mendingan, segera bergabung dengan kami di meja makan. Hinata."

Aku mengerutkan kening. Bayangan aku tidur dengan Hinata melayang-layang di kepalaku. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam setelah aku mabuk dan kepalaku jadi semakin sakit. Bayangan aku menyentuh, ehm, tubuhnya, muncul dan aku nyaris menjatuhkan gelasku.

Cepat-cepat aku meminumnya beserta paracetamol, kemudian berjalan cepat keluar kamar. Hinata sudah berdiri di depan kamarku dengan wajah malu. Aku menelan ludah. Jangan-jangan aku dan dia memang sudah melakukan itu, semalam.

"Hinata, tentang tadi malam.." Aku mencoba mengumpulkan tekad. "Maafkan aku."

"Etto, kurasa tidak terjadi apa-apa, Sasuke-kun," katanya malu-malu. Aku benar-benar tidak tahu cara menghadapinya.

"Hinata, aku bersedia tanggung jaw—bukan," Aku menjilat bibirku yang mendadak kering. "Mau berpacaran denganku, Hinata?"

Hinata menatapku dengan terkejut. Wajahnya memerah, pertanda ia menyukaiku entah sejak kapan. Mungkin kah sejak aku menyentuhnya tadi malam (a/n: sebenarnya sih Hinata sudah lama suka dengan Sasuke, di sini)? Arrrgh. Aku ini bejat sekali.

"Aku..mau, Sasuke-kun," kata Hinata, akhirnya. Ia menunduk malu-malu. "Saatnya sarapan, ayo bantu aku memasak. Atau.. bantu aku dengan membangunkan Itachi dan Karin."

Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. "Jadi kalian belum memulai sarapannya?"

Hinata menggeleng cepat. "Aku tak mungkin sarapan sebelum memastikan kau baik-baik saja, Sasuke-kun," katanya. "Semalam kau mabuk parah."

Mendengar itu darinya membuatku tidak tahan. Bagus, sekarang reputasiku sudah rusak dari Sasuke yang baik menjadi Sasuke pemabuk dan cabul. "Aku akan membangunkan Nii-san," kataku, kemudian berjalan meninggalkannya menuju kamar Nii-san.

Aku mencoba membukanya, tapi ternyata pintu itu terkunci. Aku pun mulai menggedor dengan kencang.

"Ada apa, Sasuke?" teriak Nii-san dari dalam, dengan suara mengantuk.

Gawat. Dia langsung tahu aku yang menggedor pintunya. Kalau dipikir-pikir Hinata dan Karin tak mungkin melakukan hal itu. "Waktunya sarapan. Hinata yang memasak."

Pintu langsung terbuka. Aku langsung disuguhkan pemandangan Itachi yang bertelanjang dada. Jelas bukan pemandangan favoritku. Aku pun mengalihkan pandanganku ke kamarnya. Mataku pun menemukan rambut merah keluar dari celah gundukan selimutnya.

Aku menggigit bibir. Apakah Itachi dan Karin tidur.. ah, tentu saja mereka melakukannya. Aku membuang muka. Nii-san langsung melewatiku. Sambil berlari panik, ia berkata, "Tidak mungkin aku membiarkannya memasak! Dia kan tamu sekarang!"

Untuk sesaat, aku hanya berdiri di ambang pintu, memelototi rambut merah itu. Dan butuh waktu untuk mengumpulkan tekad bicara dengannya. "Oi, Karin! Bangunlah!" kataku keras.

Karin langsung tersentak. Ia menyingkap selimut dan bangkit duduk. Melihat mudahnya ia terbangun, aku menduga ia baru saja tertidur. Dan, apakah itu kissmark? Sebuah titik kemerahan di dadanya itu kissmark, kan?

"Sa-Sasuke?" Ia berseru memanggil namaku dengan gugup. Mungkin karena aku sudah terang-terangan melirik dadanya.

Aku mendengus. "Jadi kau dan Nii-san sudah berhubungan, ya?" tanyaku, sarkastis. "Baguslah. Melihat perasaan kalian yang saling berbalas namun tak kunjung pacaran membuatku muak. Dan sekarang, tak kusangka dia sudah melakukannya. Nii-san benar-benar serius denganmu. Selamat."

Karin mengerjap. Matanya yang pagi ini tidak terlapis kacamata membuatku langsung berhadapan dengan mata itu, yang membuatku jatuh cinta setengah mati.

"Karin, waktunya sarapan. Nii-san dan Hinata sedang memasak." Aku pun berbalik meninggalkannya.

Satu pertanyaan tergantung di benakku. Saat ini Karin tidak terlihat pening atau apa pun yang menunjukkan ia mabuk semalam. Tapi kalau dia memenangkan pertandingan, kenapa dia tidak tidur di kamarku? Ah, aku lambat sekali pagi ini. Sudah jelas jawabannya karena Nii-san mengajaknya tidur bersama. Aku ini konyol sekali karena berharap mereka bukan pasangan.

"Sasuke, tunggu!"

Aku menghentikan langkahku. Lagi-lagi butuh tekad untuk berbicara dengannya. "Karin, kalau kau menanyakan pendapatku, aku setuju," kataku. "Aku senang jika kau dan Nii-san berpacaran."

"Aku memang mau menanyakan hal itu," Kudengar ia bergumam.

Aku tersenyum tipis meski ia tak bisa melihatnya. "Aku dan Hinata juga berpacaran, mulai hari ini," kataku dengan irama senang. "Mana ucapan selamat darimu?"

"Uhm, selamat." Tiba-tiba saja dia berjalan melewatiku. Aku tertegun melihat rambut merahnya yang mengibas udara.

Apakah dia marah?

Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak boleh berharap apa pun lagi darinya.

.

.

.

"Wow, hari ini Itachi agresif sekali," komentar Kiba, saat bel istirahat berbunyi. Ia melirik Nii-san yang baru saja selesai mengajar dan langsung menghampiri Karin.

"Aku jadi kasihan pada Sakura," kata Shikamaru cuek, melirik Sakura yang berjalan keluar kelas.

"Ternyata Itachi itu playboy sekali!" kata Lee sebal. "Aku akan menghibur Sakura nanti."

"Sekalian saja menyatakan perasaanmu, Lee!" usul Naruto. Padahal seingatku dia memiliki ketertarikan pada Sakura.

"Ide bagus," komentarku, tak sengaja berbicara dengan nada lemas.

Semua mata teman-temanku langsung terarah padaku. Mereka seolah disadarkan oleh sesuatu dan memasang wajah bersalah.

"Kau sudah melupakan Karin, ya kan, Sasuke?" tanya Naruto.

Aku mengedikkan bahu. "Aku dan Hinata sudah berpacaran," kataku cuek. "Aku tak punya alasan untuk.. lupakan."

"Wow, kau sudah ganti mode, ya, Sasuke?" kata Kiba.

"Aku lebih suka saat kau menjahili Karin," komentar Shikamaru. "Tapi pendapatku ini tak ada pengaruhnya."

"Aku benci terlihat seperti orang bodoh," kataku jujur. "Aku hampir kehilangan diriku saat bersamanya."

"Itu bukti bahwa kau menyukainya," Shino menyimpulkan dengan sendirinya. Aku meliriknya tajam.

"Dengar ya, kalian semua," kataku tegas. "Aku sudah punya pacar. Aku tak akan memikirkannya lagi."

"Haah?" Naruto berseru heran. "Kalian bicara apa sih? Dari tadi obrolan kalian seperti pembicaraan para mafia saja. Apa maksudnya ganti mode? Kehilangan diri yang sebenarnya? Dan terlihat seperti orang bodoh? Kau mau bilang kalau kau itu palsu, ya, Sasuke?"

"Hanya di depan karin."

Naruto menatapku tajam. "Dengar ya, Sasuke," Ia mulai berbicara dengan nada mengancam. "Kalau kau berbuat jahat pada Karin, aku akan marah."

Aku menaikkan sebelah alis, menantang matanya yang biru.

Shikamaru menghela nafas. "Naruto, Sasuke tidak mungkin berbuat jahat pada Karin," katanya. "Justru dalam mode palsunya Sasuke lebih sering menjahili Karin."

"Itu benar juga sih," kata Naruto. "Kalau begitu berarti sekarang Karin aman."

Aku menatapnya sebal. "Memangnya aku sejahat itu, ya?!"

Semuanya mengangguk.

"Kau sering mengambil makanannya," kata Shikamaru.

"Sering mengatainya laki-laki dan serentetan hinaan lainnya," kata Kiba.

"Kau suka memukulnya, meski nggak keras," kata Neji. Tumben-tumbenan dia berbicara, malah untuk memojokkanku begini.

"Kau sering mengajak duel," kata Lee.

"Dan kau suka bergelayutan di bahunya seperti monyet," timpal Shino.

"Kau tidak harus mengatakannya dengan spesifik begitu, kan?!" protesku. Kiba dan Naruto tergelak.

"Habisnya saat ini ada orang lain yang suka bergelayut di bahunya dengan gaya yang lebih romantis. Entah mengapa mengingatkanku dengan homo sapien," jelas Shino.

Aku mendenguskan tawa. "Jadi menurutmu kakakku itu homo sapien," kataku dengan senyum geli. Shino bergumam mengiyakan.

"Heh, kenapa kau senang begitu Sasuke?" tanya Naruto. "Monyet kan lebih bego dari homo sapien."

Aku tersenyum miring. "Boleh aku memukulmu sampai kau tak bisa bergerak, Naruto?"

"Maaf, aku hanya bercanda."

"Ngomong-ngomong, mau main futsal?" usul Shikamaru.

Aku teringat ajakan Hinata ke rumahnya setelah pulang sekolah. Jadi aku menggeleng. "Maaf, aku tidak bisa. Hari ini aku dan Hinata ada janji."

Kiba cemberut. "Mendengarmu punya pacar, entah mengapa membuatku sebal," katanya. "Sabtu malam kita kencan buta, yuk! Dengan anak SMA kota sebelah."

"Tidak buruk," kata Shikamaru.

To be continued

a/n: Mondai itu dalam bahasa Jepang artinya masalah. Di chap satu, Karin pernah bilang bahwa masalah silih berganti itu tidak ada di dunia nyata. Makanya aku berusaha bikin dia mengalami hal itu dan judulnya pun jadi 'Mondai'.

btw, mulai besok aku harus kembali ke sekolah (*mungutbukuyangudahdibuang), jadi nggak bisa update sesering yang aku inginkan. Aku juga nggak dibolehin bolos lagi sama walas meski kubilang aku sakit parah (*cemberut). Katanya, di semester dua nggak boleh malas-malas, ntar nggak naik kelas. Aku sendiri juga nggak mau stuck di SMA. Capek jadi murid.

Yah, singkat kata, mungkin aku bakal update sesuai tanggal? Atau hari? Aku sendiri nggak yakin ada yang nunggu lanjutan ceritaku. Habisnya ada yang bilang ceritanya OOC abis, gaje, dan semacamnya (*pundung).

Mata ne.