"Kau jangan membuat keributan selama di sekolah ya…"
"Memangnya kau fikir aku anak nakal?" Seijuurou mendengus.
"Dari auranya sih demikian." Kagami mengendikkan bahu acuh.
"Kalau begitu kenapa Kepala Sekolah dan murid lainnya sampai memilihku tiga kali dalam pemilihan ketua OSIS, Taga-nii?" Seijuurou tersenyum mengejek.
"Karena wajahmu menyeramkan." Kagami terkekeh.
Seijuurou hanya bisa mendecih.
"Nah, kita sudah sampai…" Kagami kemudian mematikan mesin mobilnya tepat di samping gerbang masuk sekolah.
"Kenapa waktu magangmu sebentar sekali?" Seijuurou menggerutu. Masih diam di kursi samping Kagami.
"Aww, sepertinya adik kecilku akan sangat merindukan kakaknya ini…" Kagami mengacak surai merah cerah itu dengan gemas.
"Apanya yang rindu kalau setiap hari bertemu?" Jawabnya ketus.
"Benarkah begitu? Hm… Mungkin sebaiknya aku segera menjadwalkan perjalanan bisnis lagi agar kau tidak bosan bertemu denganku terus." Mata Kagami mengerling jail.
"Silahkan saja. Aku malah bersyukur kalau rumah sepi." Seijuurou menantang.
"Agar kau bisa memesan diam – diam samurai dari zaman edo di acara lelang kan?" Kagami tertawa.
"Kau! Jangan gunakan kemampuan mengerikanmu itu padaku!" Seijuurou menggembungkan pipinya sebal.
"Uh uh… Sepertinya adik kecilku sedang merajuk. Sayang sekali aku tidak membawa balon dan sekotak cokelat."
"Ughhhh! Berhentilah menggodaku!"
"Baiklah, baiklah… Aku berhenti." Kagami batuk beberapa kali.
"Kau baik- baik saja?" Seijuurou meraba kening Kagami.
"Tenang saja. Aku hanya kelelahan. Tidur beberapa jam juga sudah membuat kondisiku membaik." Kagami tersenyum melihat raut khawatir adiknya.
"Jangan lupa untuk banyak – banyak minum air hangat, Taiga-nii…"
"Sebaiknya kau lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri, Sei…"
"Eh? Kenapa memangnya?" Seijuurou memasang tampang bingung. Pasalnya ia tidak mengerti mengapa sejak tadi kakaknya itu mewanti – wanti tentang keselamatannya. Padahal ia hanya pergi ke sekolah dan tidak ada jadwal rapat ke kantor.
"Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang menanti di depan kita kalau lengah sedetik saja…"
Chapter4: -Kasus Keempat,"Awal Mula"-
© Fujimaki Tadatoshi
-Isi lembaran kedua puluh dua buku harian Kisedai-
Strong Opponents
Seijuurou menggerutu lagi lagi dan lagi untuk… entah keberapa puluh kali hari ini.
Perkataannya tadi pagi hanya candaan! Damnit!
Ia tidak bermaksud menyuruh Taiga melakukan perjalanan bisnis untuk yang ketiga kalinya minggu ini. Ia hanya bercanda saat mengatakan bahwa ia lebih senang rumah sepi. Ia hanya ingin mengetes kakaknya saat ia berkata bahwa ia tidak merindukan Taiga.
Dan kakaknya pun pasti tahu apa isi hati Seijuurou sebenarnya.
Tapi kenapa kakaknya malah tetap mengatur jadwal keberangkatannya ke Hawaii untuk esok hari?!
Belum lagi kondisi kakaknya sedang menurun beberapa hari ini.
Seijuurou menggeram frustasi.
'Tetap tenang, Seijuurou…' Bathinnya.
Perlahan ia mengatur nafas dan memejamkan mata. Mencari kemungkinan alasan di balik kepergian kakaknya yang mendadak tersebut.
'Mengerjainya? Tidak mungkin sejauh itu.'
'Ada jadwal mendadak? Mungkin saja. Tapi pasti akan di batalkan Tatsuya kalau kondisi Taiga sedang tidak prima.'
'Kasus besar….'
Pasti itu! Taiga tidak mungkin akan melewatkan kesempatan barang semenit saja kalau sudah mengenai kasus yang harus di tanganinya.
Seijuurou mendengus ketika mendapat kemungkinan terbesar yang memaksa kakaknya pergi. Kakaknya, bukan kakak kandung tentu saja karena mereka beda marga, selalu reckless kalau sudah tertarik dengan tantangan. Dan pekerjaannya tidak sesimpel pegawai kantoran atau bahkan anak kuliahan pada umumnya itu mengharuskannya agar selalu awas.
Seijuurou tidak mengerti bagaimana bisa kakaknya sesukses itu dengan attitude yang seceroboh dan seakan – akan cuek dengan sekeliling. Bahkan selalu bersikap santai seolah – olah hidupnya tidak dipertaruhkan dalam game hide and seek ala mereka.
Saking asyiknya berkutat dalam lamunan menyebabkannya kurang awas dengan sekeliling dan menabrak sesuatu.
'Bruk'
Dengan keseimbangan yang bagus, Seijuurou berhasil menahan diri pada kedua kakinya. Tapi sepertinya tidak dengan seseorang yang ditabraknya.
"Itte…" Orang yang sekarang terduduk di hadapannya mengadu kesakitan.
Lantas Seijuurou segera menurunkan arah pandangnya dan hal pertama yang di lihatnya adalah biru muda.
'Langit tidak berpindah ke tanah kan?'
Seijuurou segera mengulurkan tangan ke arah anak laki – laki yang dari perawakannya berumur tiga tahun di bawahnya.
"Kau tidak apa, Tetsuya?"
Tanyanya begitu menyadari bahwa yang di tabraknya barusan adalah anak tetangga sebelah rumahnya.
"Tidak apa, Akashi…"
Tangan putihnya menyambut uluran tangan Seijuurou dan berdiri perlahan. Di tepuknya pelan celana seragam sekolahnya yang berwarna hitam untuk menghilangkan debu dari tanah yang tidak sengaja di dudukinya.
Dahi Seijuurou mengkerut samar.
"Kau itu tidak sopan, Tetsuya. Aku ini lebih tua darimu."
"Kau bahkan lebih tidak sopan lagi. Memanggil orang lain dengan nama kecil mereka."
Jawab Aomine Tetsuya, anak laki – laki tetangga sebelahnya itu dengan wajah datar. Well, tidak sedatar itu bagi Seijuurou. Ia bisa melihat matanya yang sedikit menyipit walau cuma beberapa senti dan senyum mengejek di balik wajah datar itu.
"Because I'm Absolute, Tetsuya."
'Absolute? Memangnya ia sedang iklan pembersih apa?' Tetsuya terkekeh geli dalam hati tentu saja.
"Jangan menertawaiku dalam diam, Tetsuya."
"Cih. Kau berlagak seperti Taiga-nii…" Raut wajah Tetsuya berubah masam.
"Ada masalah?" Alis Seijuurou terangkat.
"Yang boleh menjadi seperti Taiga-nii hanya aku." Tetsuya menatap tajam Seijuurou.
"Memangnya kau siapa?"
Baru saja Tetsuya hendak membalas, terdengar suara agar berat di belakang mereka.
"Hoi bocah! Kalian sedang apa di depan rumah sejak tadi?"
Muncul di belakang mereka seorang pria dengan seragam biru tuanya dan beberapa lencana tersemat di kemejanya. Pria itu lebih tua dari Kagami, dan seumuran dengan Himuro Tatsuya. Warna rambutnya lebih gelap dibanding Tetsuya dan warna kulitnya di atas rata – rata kulit orang Jepang pada umumnya sehingga orang selalu akan mengira ia orang luar kalau saja wajah dan aksen Jepangnya tidak lebih mendominasi. Apalagi dengan bahasa asing, ia terdengar buruk dalam pengucapannya dan hanya tahu kata – kata kasar yang di sajikan pertelivisian Jepang.
"Hoi, merah pendek! Aku tahu kau sedang mengejekku dalam fikiranmu kan?!" Muncul perempatan siku – siku di keningnya.
'Huh, kenapa semua orang sekarang berlagak bagai psychist sih?' Seijuurou mendengus.
"Oh,ya… Bakagami kemana? Aku belum melihatnya sejak seminggu lalu."
"Perjalanan bisnis dan sibuk mengurus kuliahnya." Kalau kalian mau tahu, Seijuurou bisa mengenal tetangga rumah Kagami saat beberapa bulan lalu kedua laki – laki di hadapannya ini tanpa sopan – santun memasuki kediaman mereka layaknya rumah pribadi. Hampir saja Seijuurou meng- assassinate mereka dengan pedang dan kunai yang sedang ia bersihkan waktu itu kalau Taiga tidak segera melerai.
"Belum pulang juga?"
"Tadi pagi baru saja pulang."
Dengan acuh Seijuurou melewati keduanya dan berjalan melewati pagar rumah yang terbuka otomatis setiap ia dan orang tertentu yang telah terdaftar dalam memori mesin pemindai tersembunyi tersebut mendekat. Terdengar langkah kaki dan pintu yang membuka – lalu tertutup kembali di belakangnya.
"Kalian ini memangnya sudah izin?" Tanpa menoleh dan tetap melanjutkan langkahnya, ia berbicara dengan orang – orang di belakangnya.
"Aku kangen Taiga-nii."
"Aku ingin berbicara hal penting dengannya."
Jawab keduanya bersamaan.
Dan Seijuurou kembali menggerutu.
000
"Kau itu jangan keras kepala, Bakagami."
"Hn."
"Dengarkan kami, Taiga-nii. Ini untuk kebaikan dirimu juga."
"Ya."
"Jawabnya bisa lebih dari dua huruf tidak?"
Seijuurou hanya bisa menggelengkan kepala sore itu saat melihat interaksi antara Taiga, Daiki dan Tetsuya dari lantai atas. Taiga sedang duduk di lantai marbel yang tertutup oleh karpet jenis wilton dengan posisi bersila sambil menghadap layar laptopnya yang sedang menampilkan film action yang sudah tayang di bioskop lebih dari dua bulan lalu. Seijuurou tak bisa mengejek kakaknya yang baru sempat menonton karena memang ia tidak punya banyak waktu untuk bermalas – malasan bahkan hanya sekedar ke bioskop. Dirinya sendiri pun juga hanya bisa browsing saat sedang senggang. Ia juga malas keluar rumah hanya untuk menonton hal yang bahkan bisa ia download di kantornya.
Sementara itu Aomine Daiki, kakak dari Aomine Tetsuya, sedang berbaring di sofa belakang tempat Taiga duduk seraya menonton dan mengganggu kegiatan Taiga. Seijuurou tidak mengerti kenapa ia tidak keluar rumah dan mencari calon pendamping seperti berkencan atau mungkin hangout dengan teman sejawat lainnya saat senggang seperti ini daripada berkutat dan selalu mengganggu kakaknya. Jangan teruskan. Bahkan Seijuurou tidak mau membayangkan kemungkinan yang ada di balik perilaku polisi dari Tokyo Metropolitan Police Department tersebut.
Tetsuya sendiri saat ini sedang bersandar pada pundak kakaknya yang tertutup dengan selimut tebal sambil merajuk. Sejak tadi ia sudah memaksa Taiga agar mau istirahat karena suaranya yang makin serak. Tapi Taiga tetap bersikukuh ingin menonton film itu hingga selesai. Maka dari itu sejak tadi jawabnya tak lebih dari dua huruf agar tenggorokannya tidak semakin sakit.
"Aku sudah menghubungi Shintarou. Sebentar lagi ia akan sampai membawa obat yang kau minta." Seijuurou membuka suara saat kakinya menyentuh lantai ruang tempat mereka berkumpul.
Taiga hanya mengangguk tanpa matanya beralih dari layar.
Semuanya diam. Tetsuya sudah malas merajuk dan ikut menonton sedangkan Daiki sudah berhenti mengganggu dan ikut larut dalam adegan di film. Seijuurou sendiri hanya duduk di sofa lainnya sambil memilah lembaran dari kantor. Karena hari ini ada ujian yang tidak mungkin di tinggalkannya, ia meminta orang kepercayaan Taiga yang berada di perusahaannya untuk mengambil berkas di kantor. Tentu saja hanya mereka yang tahu. Kakek Seijuurou yang mempekerjakannya sejak awal saja bahkan tidak tahu akan hal itu.
Beep
Beep
Beep
Sebuah suara terdengar dari bawah meja. Dengan cepat Taiga mengambil benda yang mengeluarkan suara nyaring tersebut dan tersenyum kecut memandangi yang lain.
"Kalian bisa berakting?" Taiga menatap kedua remaja di hadapannya yang segera mengangguk.
"Oh ya Aho, hubungi semua petugas. Terutama yang membantu kasus Hawaii ga Shinu."
Dan malam harinya Tokyo di penuhi dengan ledakan dan beberapa tembakan.
000
"Arghhh! Jangan di tekan! Please! That's hurt! Ow!"
"Ini karena kau terlalu gegabah, nanodayo."
"Tapi kalau tidak bertindak cepat Tokyo yang akan menjadi kota berdarah selanjutnya- Shit!"
"Diam, Kagami."
"Tapi Shin~"
"Jangan beri aku tatapan memelas."
Keduanya berada di ruangan dengan dinding berwarna biru laut dan beberapa perabotan berpelitur yang menempel lantai dan dinding. Di sana juga terdapat tempat tidur dengan sprei dan sarung bantal berwarna putih tulang di mana Kagami Taiga tengah berbaring. Sementara Midorima Shintarou berdiri membelakangi kursi di samping kasur. Ia baru saja menjahit luka robek di tangan Kagami dan sekarang tengah membersihkan luka tusuk yang untungnya tidak dalam di pundak Kagami.
"Kau baik – baik saja Bakagami?"
"Yap! Sehat dan Kuat- Ow!"
"Dasar bodoh."
Daiki berdiri di ambang pintu. Baju dinas yang di pakainya saat kejadian itu sedang di rendam karena terkena noda darah dan bau bubuk mesiu sudah berganti dengan celana training dan kaos lengan pendek berwarna abu – abu. Di pipinya terdapat luka gores akibat serpihan kaca yang berterbangan saat bom meledak. Selebihnya seluruh anggota tubuhnya baik – baik saja. Untung saja ia selalu ingat untuk mengenakan rompi anti peluru setiap bertugas, sehingga ia aman dari tembakan yang harusnya tepat mengenai jantungnya.
"Siapa yang kau sebut bodoh!?"
"Kau. Siapa lagi."
"Aku kan hanya menjalankan kewajibanku." Kagami menjawab di sela – sela isakannya melawan sakit.
"Begitu pula aku. Aku ini aparat negara, Baka. Aku bisa menyelamatkan diri."
"Tapi tadi kau bahkan tidak bisa bereaksi saat pisau itu di lempar tepat ke arah wajahmu, Aho."
Wajah Daiki menggelap. Ia memandang Taiga datar.
"Oke. Aku salah." Taiga memalingkan wajah.
"Dengan kondisimu sebelumnya di tambah dengan luka seperti ini sepertinya kau harus bedrest selama tiga hari, Kagami."
"Tapi skripsi-"
"Taiga…" Ujar Shintarou dan Daiki bersamaan.
"Baik Mom, Dad." Taiga hanya bisa menghela nafas. Ia hanya bisa pasrah kalau sampai kedua orang di hadapannya memanggil nama kecilnya.
"Siapa yang kau panggil Mom and Dad?!"
Taiga hanya bisa tertawa pelan.
"Gomen…"
Shintarou hanya bisa memalingkan wajah sementara Daiki terbatuk beberapa kali.
"Jadi kau sudah tahu mereka ada di Jepang?" Daiki menutup pintu dan duduk di kursi yang ada di belakang meja. Jari telunjuknya mengetuk – ngetuk meja sementara kaki kanannya mengetuk lantai. Menciptakan irama yang sinkron.
"Aku bahkan awalnya ingin memancing mereka kembali ke Hawaii lalu men- skakmat mereka di sana. Tapi sepertinya mereka ada urusan lain di Jepang dan malah membuat keributan." Taiga menghela nafas.
"Thanks Shin."
"Hm." Shintarou hanya menggumam sambil membantu Taiga duduk dan bersandar pada bantal yang telah di letakkan di belakang punggung Taiga.
"Sendiri?"
"Dengan beberapa teman lama." Taiga memejamkan mata.
"Lalu apa yang kalian lakukan dengan mereka?"
"Menghukum mati, tentu saja. Dan Seijuurou, Tetsuya… Kalau mau menguping usahakan lebih cerdik lagi dalam bersembunyi."
Terdengar suara mengumpat pelan dari dalam lemari kayu di pojok ruangan.
Sementara Shintarou mengabaikan keduanya dan berjalan ke arah wastafel untuk membersihkan alat – alat yang telah di pakai dan membuang kapas penuh dengan darah ke dalam tempat sampah di bawah wastafel.
"Sebelum Taiga-nii di bawa ke ruangan ini." Jawab Seijuurou
"Good Choice. Tapi menguping itu tidak baik." Keduanya menunduk.
"Kalian memangnya besok tidak sekolah?" Taiga menatap Seijuurou dan Tetsuya bergantian.
"Aku besok harus ke kantor." Seijuurou menatap ujung sandal bulunya.
"…"
"Tetsu?"
"Besok ada ujian bahasa jepang…" Ujarnya malu.
"Kalau begitu cepat tidur atau kalian akan tanggung sendiri resikonya." Kedua segera berjalan cepat menuju pintu dan keluar menuju destinasi masing – masing.
"Anak zaman sekarang selalu ingin ikut campur." Shintarou meletakkan alat – alat itu ke dalam kotak di atas meja.
"Harusnya yang bilang seperti itu si Aho. Kan umurnya jauh lebih tua di antara kita semua." Taiga mendapat pelototan tajam dari balik meja.
"Lihat. Pak tua itu mengamuk karena ucapanmu."
"Kalian berdua hanya beda dua tahun denganku, brengsek!"
Keduanya tertawa melihat Daiki menarik – narik rambutnya karena frustasi.
"Lalu bagaimana dengan organisasi yang sudah lama kau incar itu?" Daiki bersandar pada kursi. Kedua kakinya tetap di letakkan di atas meja walau sudah mendapat tatapan peringatan dari Shintarou.
"Kalian tahu Masaomi?" Taiga turun dari kasur dan membuka jendela.
Keduanya hanya mengangguk walau tahu Taiga tak sedang melihat ke arah mereka.
'DORR'
Sebuah bayangan hitam jatuh dari pepohonan dekat jendela dan terhempas ke tanah di ikuti dengan suara 'BAM'
"Dia kunci satu – satunya agar aku bisa menghancurkan organisasi keparat itu."
