Hallo, ketemu lagi sama Aoyama bersama fict Maetantei Naruto. Aoyama sangat berterima kasih atas pemberian saran, kritik atau bahkan flame di Maetantei Naruto 'The Case-Book Of Naruto' ini.

Aoyama peringatkan kepada para pembaca, bahwa fict ini tidak kalah ancur dari yang sebelumnya.

Satu lagi, kasus ini bukan karya asli Aoyama, tapi, kasus ini adalah karya si mbah Arthur Conan Doyle yang Aoyama edit habis-habisan.

suka tidak suka harus baca ya :p

Dan dengan bangga Aoyama persembahkan...

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Naruto:
Masashi Khisimoto

Meitantei Naruto
'The Case-Book Naruto'
(story):
Aoyama Eiichi

Meitantei Naruto
PERTUALANGAN VAMPIR SUSSEX 'Sherlock Holmes':
Sir Arthur Conan Doyle

Warning:
ou, ooc, typos, etc.

Pair:
?

GENRE:
Crime/Friendship

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Meitantei Naruto:
'The Case-Book Of Naruto'

Case 3
Vampir of Sunagakure

Jari jemariku menari diatas sebuah keyboard dan merangkai beberapa kata, ditengah pekerjaanku itu Sakura datang membawa secangkir teh hangat dan sepiring biskuit.

"Ini tehmu, Suamiku," ujarnya dengan menyimpan nampan berisi teh dan biskuit itu di atas meja kerjaku.

"Terimakasih, Isteriku," balasku tulus seraya mengecup pipinya.

"Lihatlah dirimu, pagi-pagi sudah bergelut dengan draft Novelmu itu,"

"Ini kan demi kita juga," kilahku.

Sakura membaca beberapa Novelku yang telah tercetak, "Bukumu ini mengingatkanku kepada Naruto," komentarnya.

"Ya, aku jadi merindukannya, Sakura," kataku.

Pembaca mungkin sudah tahu, setelah aku menikah dengan Sakura, aku jarang sekali menemani sobatku Naruto untuk menyelidiki kasus. Jangankan untuk menemaninya, sekedar menemuinya saja aku jarang sekali ditambah sibuknya aku dengan tulisanku yang selama ini memberi sesuap nasi bagi keluargaku.

"Kenapa kau tidak menemuinya, jangan bilang kau melupakannya,"

"Aku sempat ingin menemuinya, mungkin siang ini aku akan ke rumahnya,"

"Boleh aku ikut?" pinta Sakura. Aku menaikan sebelah alis mataku pertanda aneh dengan perkataannya, "Kenapa? Tidak boleh?"

"Justru aku berniat mengajakmu, kenapa kamu harus meminta izin segala?"

Kami kemudian pergi ke tempat Naruto yang membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke rumah sekaligus kantornya itu.

Sesampainya di kantor si Dobe. Aku bisa menebak bagaimana keadaannya sekarang, dia pasti dalam keadaan kusut karena setahuku di Konoha tidak ada kasus dalam satu bulan ini. Ketika kami memasuki kediamannya itu, ternyata dugaanku salah. Naruto nampak bercahaya dengan mata shapirenya, dan tersenyum penuh teka-teki kepada kami.

"Kalian ternyata masih mengingatku," ujarnya saat melihat kami tengah berada di tempat ini.

"Sepertinya kau mempunyai kasus, Dobe?" komentarku setelah melihat keadaannya.

"Sepertinya sifat mengambil kesimpulan menular kepadamu, Teme," kelakar Naruto. "Sakura, berapa usia kandunganmu? Empat bulan, ya?" Naruto beralih kepada Isteriku.

"Ya, begitulah," jawab Sakura singkat.

"Teme, kau terlihat sering mengetik sekarang?" dia kembali kepadaku.

"Siapa bilang?" tanyaku memancing teorinya.

"Jari dan baju lengan panjangmu di bagian pergelangan. Jari-jemarimu terlihat agak bulat dibagian ujungnya, dan pergelangan tanganmu terlihat kusut. Apalagi kalau bukan mengetik? Kalau bermain piano, rasanya itu tidak mungkin. Selain kau tidak bisa memainkannya, pergelangan tanganmu tidak menunjukan hal itu," tutur Naruto pada akhirnya. Walau pun aku terbilang sering mendengar teori ilmiahnya itu, aku masih selalu tertegun akan teorinya itu.

"Ya, percuma aku membohongimu, Dobe," kataku.

"Kalau aku?" kini Sakura yang mencoba Naruto.

"Ayolah, aku tidak suka diuji cobakan, Sakura," gerutu Naruto, "Tapi, jika kau memang ingin tau kesimpulanku setelah melihatmu. Kau jelas sering bersepeda, jangan tanya aku tahu dari mana! Aku tahu itu dari sepatumu, lihat! Dibagian ujung sepatu bagian dalam terlihat sedikit aus karena sering mengayuh sepeda. dan betismu juga tentunya, tapi sudah dua bulan ini kau tidak lagi bersepeda memakai sepatu itu, mungkin juga sudah tidak sama sekali setelah kau tahu kau hamil, Sakura," terang Naruto.

"Awesome, Naruto," seru Sakura.

"Jadi, apa kasusmu kali ini?" aku mengalihkan kembali kepada bahasan utama.

"Kalian percaya Vampir?"

"Aku rasa itu hanya dongeng buatan Grimm, dan itu hanya tahayul belaka," aku berpendapat.

"Aku setuju dengan Sasuke, Naruto," timpal Sakura.

"Baguslah, karena aku pun tidak mempercayainya," ujarnya tersenyum misterius, "Coba bawa kertas itu! Ya, yang itu. Bawa kemari lalu kau bacakan agar isterimu juga dapat mengetahuinya,"

Aku mengambil kertas yang dimaksud Naruto, kertas itu adalah email dari salah seorang clien-nya yang telah di frint. Isi email yang kubaca adalah:

Dengan datangnya email yang saya kirim ini, saya meminta bantuan anda, Mr. Naruto.

Masalah yang tengah keluarga saya hadapi sangatlah tidak wajar. Anda mungkin tidak akan mempercayai saya sebagaimana yang akan saya ceritakan. Apakah anda percaya eksistensi Vampir? Anda mungkin tidak akan percaya sebelum melihatnya sendiri dengan mata kepala anda.

Masalahnya adalah, Isteri saya yang telah melahirkan dua anak telah menggigit dan menghisap anak saya yang masih bayi. Saya mempunyai dua orang anak, anak pertama saya berusia dua belas tahun. Dia bernama Obito, dan dia adalah pecinta ular. Dan yang kedua lah yang menjadi korban keganasan isteri saya, Sir. Saya belum pernah melihat isteri saya seperti ini sebelumnya. Jangankan untuk menggigit dan menghisap darah bayi kami, sekedar untuk membunuh serangga pun dia tidak berani. Saya akan menceritakan masalah saya selengkapnya bila anda datang kemari.

Rei Sasori

Begitulah isi pesan yang aku baca.

"Bukankah dia pensiunan dari tim sepak bola Endorado?" komentar Sakura setelah mendengar isi surat itu.

"Eldorado, Sakura, Eldorado," sergah Naruto.

"Maksudku itu, Naruto," kilah Sakura.

"Apa keputusanmu, Dobe? Apa kau menerima kasus ini?" tanyaku.

"Jangankan kasus unik seperti ini, mencari kucing pun aku jalani agar otakku ini tidak berkarat," jawab Naruto.

"Kapan kau akan berangkat?"

"Tentunya kita akan berangkat sore ini, Teme,"

"Kita?"

"Tentunya jika kalian mau,"

"Dengan senang hati, Kawan,"

Kami pun mempersiapkan kepergian kami menuju kediaman Klien Naruto. Tiba-tiba Sakura menepuk jidatnya pertanda ia mengingat sesuatu.

"Aku lupa, Sasuke," serunya.

"Apa?"

"Aku harus memperiksakan kondisi kehamilanku,"

"Perlu dua jam menuju rumah kalian, dan aku tidak akan membiarkan kau pulang sendiri, Sakura," ujar Naruto.

"Tak apa, aku bisa pulang sendiri. Lagipula Sasuke sudah lama tidak berpergian bersamamu, Naruto,"

"Tapi... Ya, kalau memang maumu begitu, aku bisa memesan taksi untuk mengantarmu pulang," saran Naruto.

Setelah menunggu hampir sepuluh menit, akhirnya taksi yang dipesan oleh Naruto tiba. Sakura pun pulang dengan taksi tersebut.

Pembaca pasti bertanya-tanya kemana kami akan pergi menjalani tugas. Sejujurnya aku pun tidak tahu hendak kemana kami akan pergi. Saat kutanya Naruto akan pergi kemana kita kali ini? Dia tidak menjawab pertanyaanku sama-sekali, Naruto nampak menghubungi seseorang dan memesan dua buah tiket kereta. Tak lama suruhan Naruto tiba dengan pesanan yang Naruto pinta.

"Siap bersenang senang, Teme?" tanyanya memberikan tiket kereta tersebut.

"Bukankah ini tiket kereta menuju Sunagakure?" komentarku.

"Well, kita akan pergi kesana, Teme,"

"Kenapa tidak?"

Kami pun menuju stasiun Konoha dan memasuki kereta yang berjurus ke Sunagakure.

"Apa kau telah membuat kesimpulan setelah melihat email itu?"

"Buram," jawab Naruto singkat.

Aku melihat Naruto yang tengah memejamkan matanya dan mengetuk-ngetukan jari telunjuk kepada pahanya. Aku tahu, saat ini ia sedang mengambil kesimpulan sementara akan kasus kali ini. Aku tidak berani mengganggunya, karena dia paling tidak suka jika aku mengganggunya disaat seperti ini.

Aku melihat keluar dari jendela dekat aku duduk bersama Naruto. Di luar sana aku bisa melihat hamparan pesawahan yang berpetak-petak dengan beberapa ekor sapi yang membajak sawah tersebut, gunung yang berdiri kokoh seakan menjaga para penduduk sekitar dari teriknya matahari. Beberapa saat kemudian aku bisa melihat pemandangan yang sangat kontras dari pemandangan sebelumnya, kali ini aku melihat hamparan padang pasir yang sangat luas. Bisa pembaca bayangkan adanya rel kereta di tengah padang pasir? Ya, hanya di Sunagakure ini 'lah pemandangan macam itu ada. Hanya ada beberapa pohon kelapa yang berdiri kokoh di negeri pasir ini. Gedung yang tidak kalah kokoh terlihat berdiri angkuh menghadap kepada bangunan lainnya.

Kami telah berada di satasiun kereta Suna. Ketika kami turun dari kereta, kami disambut oleh seorang laki-laki empat puluh tahun yang berambut merah, berwajah ramah namun waspada. Sebatang roko marlboro yang menggelayut di bibirnya.

"Lihatlah, siapa yang datang," seru orang itu kepada kami sambil tangannya menggupaikan tangannya.

Kami pun menghampiri orang itu, Naruto menjabat tangan orang tersebut ramah.

"Senang bertemu dengan anda, Mr. Sasori," ujar Naruto kepada orang yang berambut merah itu.

"Dari mana anda tahu ini saya, sedangkan saya tidak memberi tahu dulu seperti apa saya ini," ujarnya bertanya.

"Ayolah, Sir. Saya yakin sebagaimana anda berubah sedemikian rupa, anda tidak bisa membohoni pandangan saya ini," kata Naruto.

Memang Mr. Sasori sangat berbeda dari Mr. Sasori yang aku tahu lima belas tahun yang lalu saat aku mengetahuinya bermain bola untuk Eldorado. Saat dirinya masih menjadi seorang atlit ternama, kira-kira saat itu aku masih berusia sembilan atau sepuluh tahun.

"Lagi pula, anda tidak akan menyuruh orang lain menjemput saya disini, bukan?" tebak Naruto.

"Bagaimana ada tahu, Mr. Naruto?"

"Sudah jelas sekali, anda tidak ingin hal ini tersebar ke publik kan? Oleh karena itu anda tidak menghubungi pihak kepolisian dan malah menghubungi saya seorang detektif muda yang tidak berpengalaman," ujar Naruto merendah. "Dan tentu untuk menjemput saya, anda harus datang sendiri jika skandal ini tidak ingin diketahui publik. Bukan begitu, Jendral lapangan tengah?"

"Hahaha, anda suka merendah begitu. Tapi, harus saya akui bahwa analisis anda itu seratus persen tepat sasaran. Dan tentang nama 'Jendral Lapangan Tengah', saya jadi merindukan nama itu."

"Oh iya, saya hampir lupa. Kenalkan ini asistant saya," Naruto menunjuk kearah ku.

"Rei Sasori," katanya menjabat tanganku.

"Sasuke, Uciha Sasuke," balasku.

"Well, Sir, apakah kita hanya berdiri saja disini?" sergah Naruto.

"Saya keasyikan, Mari ikut saya,"

Kami pun melaju menuju kediaman Sasori. Kami telah sampai di halaman rumah minimalis bertingkat dua, pohon kelapa yang menghiasi halaman rumah itu. Di belakang rumah itu terdapat pantai yang indah membentang luas. Dari luar saja rumah ini sangat indah dan berbeda dari rumah negeri pasir yang lainnya, namun siapa sangka rumah yang terkesan indah dan damai ini menyimpan sebuah misteri anomali.

Kami dipersilahkan masuk kedalam rumah indah ini, disana kami disambut oleh dua orang pelayang yang terlihat kaku dan penuh rasa hormat. Rumah ini dipenuhi hiasan dinding yang saling bertautan dengan sebuah lampu gantung yang mewah bertengger tepat diatas meja ruang tamu.

"Silahkan duduk, Tuan Tuan," saran Sasori.

"Jadi, bisakan anda menceritakan semua ini dengan jelas, Sir," pinta Naruto.

"Anda tidak ingin beristirahat dulu," saran Sasori.

"Banyak yang membutuhkan bantuan saya, Sir. Jadi, saya tidak mungkin berlama-lama disini," ujar sobatku.

"Well, bila itu mau anda. Ingat, Mr. Naruto, saya tidak mengurangi atau menanbah-nambahkan kebohongan dalam cerita saya.
Saat itu, saya baru pulang kerja dari kantor saya yang saya buat di Suna ini, seperti anda tahu bahwa sebenarnya saya asli orang Konoha yang hizrah kemari. Ok, kembali kecerita, saat itu saya melihat isteri saya menggigit leher bayi kami yang baru berusia tiga bulan, bayi yang malang itu mengeluarkan darah dari lehernya dan isteri saya terlihat serius dengan aksinya itu, untunglah saya datang tepat waktu dan menghentikan aktifitasnya yang baru pertama kali saya lihat. Sejujurnya, Sir, saya sangat tidak percaya dengan apa yang saya lihat, setahu saya bahwa isteri saya sangat penuh kasih sayang dan lembut, jangankan untuk menghisap darah bayi yang tak memiliki dosa, untuk sekedar membunuh serangga pun dia tidak berani, Sir.

Namun, beberapa saat yang lalu dia pernah memukul putra saya Obito anak saya dari isteri saya sebelumnya..."

"Tunggu, anda bilang isteri anda yang sebelumnya? Bukankah isteri anda yang sekarang telah melahirkan dua anak?" sergah Naruto.

"Ya, Obito adalah anak dari mendiang isteri saya yang sebelumnya. Dan dia adalah anak yang patuh dan penyayang, dia juga memelihara beberapa ular peninggalan ibunya, Sir. Dia anak yang patuh dan tidak pernah sekali pun membangkang perintah saya sama sekali," jelas Sasori.

"Lalu anak yang satu lagi?"

"Anak saya dari yang sekarang tidak pernah merasakan kehidupan dunia, saat isteri saya mengandungnya dia sempat keguguran di usia kandungan delapan bulan,"

"Lalu dimana bayi yang digigit itu sekarang?"

"Dia bersama Ozawa, Ozawa adalah pengasuh itu, Sir,"

"Boleh saya melihatnya?" pinta Naruto.

"Ozawa, bawa Arashi kemari!" panggil Sasori.

Wanita pengasuh yang bernama Ozawa pun datang dengan menggendong bayi yang diberi nama Arashi.

"Ini anak saya itu, Sir," Sasori memperlihatkan anak itu. Naruto memandangnya dan tersenyum penuh kasih.

"Anak yang sehat," kata Naruto memain-mainkan jari telunjuknya di leher Arashi. Dan hal itu membuat Arashi tertawa geli.

"Begitulah, Sir," balas Sasori.

Sesaat aku melihat Naruto memandang lurus ke arah jendela, hingga terlihat Naruto seperti melamun.

"Mr. Naruto," sergah Sasori.

"Oh, iya, Maaf, pemandangan diluar sana cukup menarik perhatian saya," ujar Naruto.

"Saya harap anda tidak melupakan tujuan utama anda kemari, Sir,"

"Tidak, tidak, jelas sekali saya tidak akan sampai seperti itu," balas Naruto cepat, "Mari, kita lanjutkan cerita anda tadi. Bukankah Obito pernah di pukul oleh isteri anda?"

"Ya, dua kali. Pertama oleh tangan, dan kedua dengan tongkat hingga terdapat bekasnya di punggung anak saya,"

"Hubungan antara Isteri anda dan anak anda, kurang baik?"

"Begitulah, Sir," jawab Sasori pahit, "Sejak awal hubungan mereka sangat jauh dari kata rukun,"

"Apa dalam waktu bersamaan kejadian antara memukul Obito dan menggigit bayi mungil ini terjadi?"

"Ya, dua kaliannya dalam waktu bersamaan,"

"Apa dua kali jua ana memergokinya?"

"Tidak, Sir, yang kedua saja yang saya lihat. Sedangkan yang pertama, saya mendengar dari Ozawa, Sir," jawab Sasori.

"Bisa anda ceritakan, Mrs. Ozawa!" Naruto berbalik kepada si pengasuh.

"Saat itu, saya sedang memasak untuk makan malam, Sir," Ozawa mulai bercerita, "Saat itu, Sir Sasori sedang di perjalanan pulang. Pada saat saya berniat memanggil Mrs. Sasori. Saya mendapati beliau sedang memeluk Arashi dan menggampar Obito. Beliau terkejut melihat saya, dan beliau memberikan 500ryo kepada saya sebagai uang tutup mulut. Tapi, saya melihat beliau setelah itu menghisap leher Arashi,"

Naruto akhirnya bangkit berdiri sembari menggosok-gosokan tangannya pertanda kasus telah terpecahkan.

"Well, Sir Sasori," kata Naruto akhirnya, "Apakah anda sangat menyayangi Obito?" Kini Naruto kembli kepada Sasori.

"Nyawanya adalah nyawa saya, Sir," balas Sasori mantap.

Naruto menghela Nafas.

"Sepertinya, kasus ini akan sangat menyakitkan untuk anda,"

"Saya tidak mengerti maksud anda?"

"Bisa kita temui Mrs Sasori,"

"Sulit, sangat sulit, Sir," kata Sasori kecewa.

"Kenapa demikian? Ah, ya, pasti dia tidak ingin bertemu dengan anda, bukan?" ujar Naruto, "Apa isteri anda hanya sendiri, di kamarnya?"

"Tidak, dia ditemani oleh pembantu setianya, pembantu itu telah bersama isteri saya sebelum dia menikah dengan saya," tutur Sasori.

"Mungkin dia bisa menerima kita, dengan mantra?" kelakar Naruto.

"Mantera apa, Sir? Apa anda memang mempercayai vampir?"

"Tidak," jawab Naruto singkat. Naruto mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya dan menuliskan beberapa kata. "Teme, mungkin ini akan sedikit menjinakannya," Naruto memberikan lipatan kertas itu kepadaku.

"Apa maksudmu aku harus menemuinya?" kataku sembari mengerutkan alis.

"Tentu saja, Teme," jawabnya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang tanpa berani menentangnya.

"Antar Mr. Sasuke, Ozawa," Sasori memerintahkan pengasuh itu mengantarku menuju kamar isteri Sasori yang terletak di lantai dua.

"Semoga ibu yang penyayang itu tidak menerkam dirimu, Teme," sahut Naruto menahan geli.

"Sialan kau, Dobe," kataku sambil berlalu mengikuti Ozawa.

Aku menaiki anak tangga mengikuti Ozawa.

"Ini kamar Mrs. Sasori, Sir," Ozawa menunjuk pintu itu. Tak berapa lama ia kemudian kembali menuju lantai bawah. Mungkin dia benar-benar takut akan sosok Mrs. Sasori itu. Seberapa menyerakannya dia, hingga Ozawa tak berani menemuinya?

Aku mengetuk pintu itu, dari dalam terdengar sahutan yang bernada membentak.

"Mau apa lagi kau, suamiku?" teriakan dari dalam bernada sendu.

"Saya teman dari suami anda, Madam," balasku. Kemudian pintu itu terbuka yang memperlihatkan sosok seorang wanita tua yang memandangku tajam.

"Ada keperluan apa anda kemari?" tanya wanita tua itu dingin.

"Saya hendak menemui isteri Mr. Sasori," Namun bukan wanita tua itu yang menjawab, melainkan sahutan dari dalam kamar lah yang menyahut permintaanku.

"Biarkan dia masuk, nenek Chiyo," sahut seorang wanita dari dalam kamar.

Nenek Chiyo yang dimaksud pun mengijinkan saya memasuki kamar itu.

Aku melihat seorang wanita cantik yang kutaksir berusia tidak lebih dari tiga puluh lima tahun. Matanya menandakan bahwa dia memiliki siksaan batin yang bergejolak.

"Mau apa anda menemui saya?" tanya wanita itu.

"Saya ingin memberi tahukan bahwa suami anda ingin sekali bertemu dengan anda,"

Mendengar perkataanku, wanita cantik itu mengeluarkan emosinya yang meledak-ledak.

"Apa? Saya begitu mencintainya melebihi saya mencintai diri saya sendiri. Saya tidak ingin menyakiti hati suami saya yang begitu menicintai anak-anak kami," teriak Mrs. Sasori tersendu, "Begitu besar rasa cinta saya terhadapnya. Tapi, kenapa dia membalas kesetiaan saya dengan menyebutkan saya sebagai monster?"

"Dia sangat terpukul hingga tidak dapat memahami kondisi anda, Madam,"

"Tentu dia terpukul dengan perlakuan saya," jawabnya menahan air mata.

"Tak bisa kah anda menemuinya barang sesaat? Hanya sebentar, Madam, sebentar saja," aku mendesaknya.

"Tidak, tidak, saya tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang begitu mengerikan bila melihat saya," Mendengar ucapannya yang penuh pilu itu, aku jadi teringat bahwa tujuanku kemari ingin memberikan pesan yang Naruto tulis.

"Mungkin ini akan menenangkan anda, Madam," aku menyodorkan kertas itu. Hebat! Kertas itu bagaikan sebuah mantra yang bisa membuat emosi orang yang begitu meledak-ledak menjadi berbinar senang.

"Ya, kalian boleh menemuiku," kata Mrs. Sasori sembari menyeka air matanya yang sempat keluar tiada henti.

Tanpa menunggu lama dan takut jikalau Mrs. Sasori berubah pikiran. Aku segera menemui Naruto dan Sasori yang tengah menungguku.

"Bagaimana mantera dariku, Teme," tanya Naruto tersenyum misterius.

"Luar biasa, Dobe, Luar biasa," seruku berulang-ulang.

"Sebenarnya, apa yang anda tulis, Sir?" tanya Sasori.

"Hanya satu kalimat yang terdiri dari empat kata plus nama saya sendiri," jawab sobatku.

"Apa itu, tegakah anda membuat bingung orang yang tengah prustasi, Mr. Naruto?"

"Kalimat itu; Saya sudah tahu semuanya. Dan ditambah nama saya sendiri dibawahnya," jawab Naruto, kemudian ia berbalik kepadaku, "Bagaimana, Teme?"

"Tadi Mrs. Sasori marah-marah dengan emosi yang meluap-luap. Tapi, setelah aku serahkan tulisanmu, Dobe, dia nampak senang dan amarahnya mereda secara tiba-tiba," jawabku cepat, "Dan sebaiknya kita cepat kesana sebelum Mrs. Sasori berubah pikiran," aku berpendapat.

"Tentu, tentu," kata Sasori dengan perasaan senang.

Kami menuju kamar Mrs. Sasori dan di sambut dingin oleh Nenek Chiyo.

"Oh, Tuhan memberkati anda, Mr. Naruto," sambut Mrs. Sasori. Naruto berbungkuk hormat kepadanya.

Mr. Sasori menghapiri Mrs. Sasori dan berusaha memeluknya, namun, sesuai dugaan kami, bahwa Mrs. Sasori tidak bisa diterima dengan mudah olehnya. Dengan berat hati, Mr. Sasori menjaga jarak dengan isterinya yang begitu tersiksa batinnya.

"Mr. Sasori," ujar Naruto mengawali pembicaraan, "Isteri anda sungguh baik hati dan penuh cinta terhadap anda, dan tentu dia tidak seperti apa yang anda bayangkan."

Mr. Sasori sangat senang mendengar perkataan Naruto. "Demi guntur, Mr. Naruto, saya sangat dan sangat lega mendengar hal itu,"

"Dan, mungkin kesimpulan saya akan sangat menyakitkan anda."

"Saya tidak peduli sama sekali. Saat ini, isteri saya adalah segalanya untuk saya," sambar Mr. Sasori.

"Well, jika memang demikian," Naruto mengambil jeda, "Memang benar isteri anda menghisap darah Arasi dari lehernya,"

"Anda bilang..."

"Tenang dulu, Mr. Sasori, dengarkan dulu teori saya," ucap Naruto jengkel. (Seperti pembaca ketahui, bahwa Naruto sangat tidak suka bila perkataanya dipotong oleh siapa pun,) "Apa anda benar-benar mencintai anak anda Obito?"

"Obito dan isteri saya adalah nyawa saya, Sir,"

"Kalau begitu, maafkan saya sebelumnya, karena ini akan sangat menyakitkan untuk anda ketahui, Sir,"

"Apa pun itu, saya akan terima," ujar Mr. Sasori mantap.

"Well, Mrs. Sasori," Naruto berbalik dan duduk dekat si nyonya yang tengah terbaring lemah. "Beri tahu saya bila saya ada kekeliruan," sambungnya.

"Lebih baik, anda cepat katakan apa kesimpulan anda, Mr. Naruto," sergah Mr. Sasori tidak sabar.

Naruto menghela napas panjang, dari raut wajah sobatku ini, aku bisa melihatnya bahwa bukan hal mudah mengutarakan kesimpulannya itu, belum pernah aku melihat wajah Naruto segalau itu.

"Anda memang benar melihat isteri anda menghisap darah dari leher Arashi. Namun hal itu bukanlah untuk melukainya, melainkan hal itu untuk menunjukan betapa sayangnya dia kepada bayi yang hebat itu! Apa anda pernah mendengar tentang Ratu inggris yang menghisap darah dari tubuhnya untuk mengeluarkan racun yang sempat menerjangnya?"

"Racun?"

"Ya, Mr. Sasori. Racun, atau tepatnya bisa ular yang bisa membuat bayi anda kehabisan napas dalam empat jam," tutur Naruto, "Dan kenapa saya menanyakan terjadinya pemukulan terhadap tuan muda Obito dan pengisapan darah itu adalah menginginkan jawaban dari semua ini. Dan jawaban anda itu semakin menguatkan toiri saya, Mr. Sasori. Dan lagi, saya melihat seorang anak yang tengah memegang ular di luar lewat jendela, dan saya yakin dia adalah Obito, dari raut wajahnya saya melihat betapa dia membeci bayi yang tengah anda gendong tadi,"

"Obito?" gumam Mr. Sasori tidak percaya.

"Ya, Sir, Isteri anda melihat Obito menggigitkan ular di leher Arasi, kemudian isteri anda sangat geram karenanya, sehingga membuat isteri anda yang baik dan penuh kasih sayang itu memukul Obito, dan kemudian menghisap leher Arashi yang telah tergigit itu,"

"Obito..." Mr. Sasori mencoba menahan air mata yang hendak berontak dari matanya yang sendu itu.

"Anda harus menerima kenyataan pahit ini, Mr. Sasori. Obito berbuat demikian karena rasa cintanya kepada anda dan mendiang isteri anda yang terdahulu sangat besar. Karena, alamiah sekali, jika manusia memiliki rasa cinta yang berlebih, akan mudah pula dia merasa cemburu," terang Naruto, "Benar begitu kejadiannya, Mrs. Sasori?" Naruto berbalik kepada sang isteri klien kami.

Mrs. Sasori telah tak kuasa menahan air matanya hingga tanpa ia sadari, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga.

"Anda benar sekali, Mr. Naruto. Bagaimana saya bisa menceritakan ini semua kepada suami saya kalau hal itu bisa menyakitinya, lebih baik saya yang tersiksa dari pada hal itu harus terjadi," kata Mrs. Sasori tersendu. dan tak sanggup melanjutkan penuturannya.

"Sebaiknya kita keluar, Teme, biarkan mereka menyelesaikan masalah keluarga mereka sendiri. Kita tidak berhak mencampuri urusan mereka," bisik sobatku Naruto. Kami pun keluar kamar itu tak lupa mengajak Nenek Chiyo juga.

Begitulah Naruto, diatas kemampuannya menganalisis kasus, dia selalu bisa menjaga pripasi orang lain diluar kasusnya.

"Rasa cinta yang berlebihan memang tidak baik ya, Teme," kata Naruto ketika kami telah berada di luar kamar.

Begitulah akhir kisah perjalanan kami di Sunagakure yang melibatkan Naruto pada dilema berat. Nartuto pernah berkata kepadaku.

"SANGAT SULIT BAGIKU MENYAKITI KELUARGA YANG BAIK," x

x

x

VAMPIR OF SUNAGAKURE
END

x

x

A/N: Yosh! Case 3 wis rengse.

Alasan saya kenapa saya mengadopsi kasus ini adalah, menurut saya kasus ini cukup membuat saya berdecak kagum kepada sosok Sherlock Holmes, dengan keseriusannya memecahkan kasus tanpa mencampuri urusan keluarga orang... hehehe

Next Case:

Case 4

Naruto dan Sasuke dihadapkan kepada kasus terbunuhnya aktor ternama yang memiliki kebiasaan mengoleksi barang antik, terutama jam. Bahkan Korban adalah si pencinta kode.

Naruto dipaksa memecahkan kode yang ditinggalkan korban sebelum kematiannya. Bukan hanya satu kode, melainkan empat kode yang merujuk kepada si pelaku. Dari mulai kode buku, hingga kode Jam. Mampukah Naruto dan Sasuke memecahkan kode tersebut hanya dari kantor Naruto?

Jawabannya ada di case 4 'DEATH MESSAGE'

Semakin readers review, semakin cepat saya update... :p

Akhir kata, Review Please...

GAK NGEREVIEW? SATU KATA DARI SAYA.

TERLALU

#NB: Sebenarnya kasus ini mau saya publis pas 'Hari Ibu', tapi, malah baru publis sekarang #hadoh, Btw Happy Newyears :D