Chapter 4: Here is The Problem
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rating: T
Warning: TYPO(S), Abal, AU, OOC, Boys Love, freak, and so on.
DON'T LIKE DON'T READ~
A/N: nyaa~ gomen buat adegan SasuNaru terselubung nyahahah. Disini ada adegan SasuNaru kok. Balasan Review dibawah ya! So, this is it!
Naruto Namikaze 13 tahun
Kyuubi Namikaze 16 tahun
Sasuke Uchiha 18 tahun
Itachi Uchiha 21 tahun
Perasaan seseorang memang paling sulit untuk ditebak. Tatapan sendu berarti iba. Tatapan tajam tanda tak suka. Tatapan lembut sebagai bukti perhatian. Tatapan datar sebagai usaha untuk menyembunyikan perasaan. Lalu … bagaimana dengan tatapan orang itu. Orang yang selalu menyebut bocah itu dengan kata-kata 'Dobe' dan selalu menganggapnya tak berguna. Di satu sisi, tatapan itu tampak lebih lembut. Namun di sisi lain, terkadang tatapan itu begitu mengintimidasi dan sangat tajam. Bocah itu polos dan manis, namun dia masih sedikit mengerti tentang apa itu rasa 'cinta'. Mungkin ini belum waktunya untuk mengerti keadaan. Tapi … orang itu selalu membuatnya tersenyum dan mengingatkannya akan kasih sayang orang tua dan kakaknya.
.
.
I Can't Take It Anymore
.
.
Suara derap langkah menghiasi sebuah rumah besar dengan dekorasi ala Eropa. Aura-aura yang mengintimidasi memenuhi rumah besar itu. Suhu ruangan yang awalnya tampak hangat kini mulai mendingin seakan-akan bumi di bagian ini sedang mengidap musim dingin. Tatapan-tatapan mematikan saling beradu satu sama lain. Pria dengan rambut hitam panjang dikuncir ke belakang tampak menghela napas lelah. Wajahnya yang lelah menambahkan kesan keriput di wajahnya. Seperti pria dewasa sedia kalanya, pria itu mencoba untuk bersabar menghadapi dua orang bocah di hadapannya.
"Aku akan menghukum kalian seperti yang aku katakan di sekolah tadi. Jadi … tak ada bantahan atau … kalian tidak akan pernah melihat buah merah kebanggaan kalian itu lagi …" Itachi tampak memandang ke lain arah sebelum melanjutkan omongannya, "… dan aku memberikan pengecualian terhadap penggunaan sampo. Terserah kalian mau memakai sampo aroma apa aku tidak peduli, atau mungkin kalian tidak ingin memakai-sampo-sepertiku." Sambung Itachi dengan penekanan pada kata-kata terakhirnya.
'Dia masih mengingatnya dengan jelas.' Batin Kyuubi dan Sasuke bersamaan.
Kedua bocah itu hanya sweat dropped mendengar omongan Itachi. Di satu sisi mereka merasakan adanya penyiksaan karena tak diperbolehkan menyentuh buah kesayangan mereka selama sebulan penuh. Untung saja Itachi tidak jadi memberikan hukuman setahun. Setidaknya itu membuat mereka bernapas sedikit lega. "Hn." Jawab mereka berdua secara bersamaan. Mereka saling melempar tatapan tajam satu sama lain. Membuat Itachi kembali memijat keningnya.
"Kyuu, kau ikut aku. Ada yang ingin kubicarakan … sekaligus merawat lukamu." Ucap Itachi sembari bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Kyuubi hanya mengikuti langkah Itachi dari belakang tanpa protesan sedikitpun. Mungkin dia sudah lelah untuk memberontak … mungkin saja.
"Lalu, aku bagaimana?" tanya Sasuke heran sembari menatap kakaknya yang sudah menapaki tangga. Rasanya dia merasa tidak diheranin sama sekali. Lihat saja, yang terluka disini bukan hanya Kyuubi, tapi dia juga sedang terluka. Siapa yang akan mengobatinya dan seorang Sasuke paling anti soal beginian.
"Kau sudah besar Sasuke. Obati sendiri. Kau manja sekali." Jawab Itachi santai. Tak sadar api hitam sudah menguar dari tubuh Sasuke. Itachi yang merasakan aura-aura tak enak hanya menarik tangan Kyuubi agar melangkah lebih cepat, sebelum ditelan api hitam yang tak pernah padam.
Sasuke mendengus kesal sembari melangkah menuju kamarnya sendiri. Sasuke berjanji pada dirinya kalau dia akan membuat Itachi menyesal telah mengabaikannya seperti ini. Entah kenapa, mungkin Sasuke ingin dimanja oleh seseorang. Ya, cobalah untuk masuk ke kamarmu dulu Sasuke.
-VargaS. Oyabun-
Sasuke membuka pintu kamarnya secara perlahan. Matanya menatap malas menerawang ke penjuru kamarnya. Namun, mata itu tiba-tiba menampilkan sedikit keterkejutan dalam dirinya. Disana, seorang bocah dengan surai pirang dan mata biru cerahnya sedang tersenyum lebar ke arahnya. Tampak sebuah kotak obat di hadapan bocah pirang itu. "Kau lama, Teme." Ucapnya girang sembari terus tersenyum lebar. Sasuke hanya mengernyitkan alisnya merasa heran.
"Untuk apa kau menungguku? Kau tidak memiliki kegiatan lain?" tanya Sasuke ketus sembari meletakkan tasnya di atas sofa. Sasuke meringis saat merasakan tali tas itu menyentuh luka di lengan kirinya. Berkelahi dengan Kyuubi tadi membuat tubuhnya sedikit remuk dan penuh goresan. Seperti berkelahi dengan seekor rubah liar saja.
"Dasar! Aku kan hanya ingin membantumu mengobati lukamu. Hem … maaf tadi aku menarik rambutmu. Aku sedikit emosi melihat Kyuu-nii seperti itu lagi." Warna perasaan Naruto seketika itu juga berubah menjadi sedikit sedih. Seperti ada perasaan terluka yang menyelimuti dirinya. Namun sedetik kemudian, rasa itu tiba-tiba hilang tergantikan oleh keterkejutan. Sasuke … Sasuke mengacak rambutnya dengan pelan. Mulut Naruto terbuka hendak mengucap sesuatu namun tak ada sepatah katapun yang keluar.
"Hn, tak usah kau pikirkan." Ucap Sasuke sembari mendudukkan diri di sebelah Naruto. Sasuke sedikit menyeringai melihat raut wajah Naruto yang tampak terkejut dan sedikit … merona. Sasuke menurunkan tangannya secara perlahan dan mengibas-ngibaskannya di hadapan Naruto, "Oi, Dobe! Kau melamun?"
"E-eh? Ah, ti-tidak. Aku hanya sedikit terkejut." Naruto mengutuk otaknya yang terlalu bodoh itu. Bibirnya menyunggingkan senyuman canggung sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Sasuke hanya mendengus dan menaruh lengan kirinya di atas pangkuan Naruto. "Te-teme, kau sedang apa?"
"Bukannya kau ingin mengobati lukaku." Jawabnya singkat sembari membaringkan badannya—masih dengan tangan kirinya di pangkuan Naruto. Sasuke meletakkan tangan kanannya untuk menutupi matanya. Entah kenapa dia merasa sangat lelah dan sedikit tidak enak badan.
Naruto hanya tersenyum dan mulai membuka kotak obat yang ada di hadapannya. Tangannya mulai mengambil sejumput kapas dan meneteskan alkohol pada kapas itu. Tangan itu dengan lihainya membersihkan luka di tangan kiri Sasuke. Dengan perlahan dan sangat cekatan. Naruto sudah seperti orang yang sangat sering mengobati orang luka. Sasuke sedikit meringis saat merasakan perihnya luka yang diberi alkohol tersebut.
Manik onyx miliknya memperhatikan cara kerja Naruto yang begitu … baik dan rapi. Sasuke sedikit mengernyitkan alisnya saat melihat hal tersebut. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh. Tiba-tiba dia mengingat omongan Naruto yang tadi, "Kau tadi mengatakan kalau kau sedikit emosi melihat Kyuubi seperti itu 'lagi'. Maksudmu dengan itu apa, Dobe?"
Naruto tersenyum tipis sembari mulai memperban tangan Sasuke. Matanya memancarkan luka mendalam, "Kyuu-nii sangat sering terluka. Pada waktu Kyuu-nii masih di bangku sekolah menengah awal, Kyuu-nii selalu pulang dengan luka di tubuhnya. Setiap hari dia pulang membawa luka baru. Orang tuaku selalu bertanya apa yang terjadi padanya. Namun Kyuu-nii selalu bungkam dan tidak mau siapapun mencampuri urusannya. Akulah yang selalu mengobati lukanya. Dia tak pernah mau orang lain merawat lukanya. Sampai sekarangpun dia tak pernah cerita soal luka-luka itu terhadapku." Mata Naruto tampak berkaca-kaca. Tubuh itu bergetar dengan pelan. Sasuke dapat mendengar isakan pelan dari mulut Naruto. Pantas saja Naruto sangat cekatan dalam mengobatinya.
-VargaS. Oyabun-
Sasuke tersenyum tipis. Dengan menggunakan tangannya yang tak terluka, Sasuke berusaha menopang tubuhnya untuk bangkit dari tidurannya. Dengan lembut tangan itu menarik Naruto ke dalam pelukannya. Sasuke mengelus kepala Naruto dengan lembut menggunakan tangannya yang tak terluka. Sasuke dapat merasakan isakan Naruto menjadi lebih nyaring. Tubuh itu bergetar hebat. Naruto mencurahkan semua perasaannya melalui tangisan itu. Sasuke terus mengelus kepala itu, mencoba menenangkannya. Mencoba memberitahukannya bahwa dia ada untuknya.
Setelah Naruto sudah lumayan tenang. Sasuke melepaskan pelukannya pada Naruto dan menatap wajah bocah itu. Wajah itu begitu damai dan tentram. Sasuke dapat merasakan dengkuran halus dan deru napas yang teratur pada dada bidangnya. Ternyata Naruto tertidur di pelukan Sasuke. Dengan perlahan Sasuke membaringkan tubuh Naruto di atas ranjang itu. Sasuke tetap membelai surai pirang itu dengan penuh perhatian, "Kau membuatku ingin memilikimu dan melindungimu." Bisik Sasuke di telinga Naruto sembari mencium kening Naruto dengan lembut.
.
.
Sementara itu, Kyuubi dan Itachi sedang sibuk membicarakan sesuatu di dalam kamar. Entah apa yang dibicarakannya, yang jelas hal itu sangat membuat Kyuubi marah. Terbukti dengan melayangnya sebuah pisau ke arah Itachi. Asal kalian tahu, Kyuubi selalu membawa pisau lipat berukuran kecil kemanapun dia pergi. "Apa yang kau katakan, sialan! Jaga ucapanmu itu!" ucap Kyuubi geram. Entah apa yang sebenarnya membuat Kyuubi sampai semarah itu.
"Kyuu … aku tahu tentang masa lalumu. Aku tahu kau adalah orang yang selalu dian—"
"Hentikan, keriput! Kau tidak tahu apa-apa tentangku! Kau hanya orang baru dalam hidupku! Kau tidak tahu apa-apa dan aku tak pernah mengenalmu!" Kyuubi menatap Itachi dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Mata merah itu terlihat dipenuhi oleh amarah.
"Itu bukan salahmu! Semua yang terjadi bukan salahmu! Behentilah menyalahkan dirimu Kyuu! Jangan seperti anak kecil!" bentak Itachi terhadap Kyuubi. Entah kenapa, hati Itachi terasa sangat sakit melihat Kyuubi yang seperti ini. Selalu merasa semua yang terjadi pada masa lalu adalah kesalahannya. Merasa hebat dapat menyelesaikan semua masalah yang ada. Merasa semua masalah haruslah dia yang menyelesaikannya.
"Tapi pada kenyataannya itulah yang terjadi! Aku yang membuatnya menjadi seperti itu … a-aku yang sudah menyakitinya." Mata Kyuubi terasa sangat panas, antara marah dan ingin menangis. Kenapa … kenapa di saat seperti ini Itachi mengungkit masalah yang selalu dia coba untuk hindari. Kyuubi selalu mencoba untuk menghindarinya, namun apa yang dia dapatkan hanyalah ketakutan yang semakin menebal. Kyuubi takut semuanya akan terulang kembali … dia takut.
"Kalau kau seperti ini terus … semuanya dapat terulang kembali. Lihat … apa dengan kau berusaha menyelesaikannya sendiri hal ini dapat selesai? Tidak, bukan? Lalu apa rencanamu? Lari dari masalah? Mengorbankan dirimu untuk dianiaya setiap hari seperti waktu itu. Apa rencanamu, Kyuu? Aku bisa membantumu … aku ada untukkmu." Itachi menatap Kyuubi dengan tatapan prihatin. Dia tahu semua masalah yang ada pada Kyuubi. Dia selalu menyelidiki semua yang bersangkutan dengan Kyuubi. Dia selalu mencoba untuk mengerti Kyuubi. Dia selalu mencoba untuk membantu Kyuubi. Namun kehidupan Kyuubi begitu sulit untuk diganggu. Begitu tinggi tembok pembatas yang dibangun oleh Kyuubi.
Kyuubi hanya terdiam, pikirannya kini hanya tertuju pada Naruto. Naruto dan hanya Naruto yang ada di otaknya. Rasa bersalah yang begitu besar membuatnya selalu terpuruk dalam lubang masa lalu ini. Tapi dia harus bertanggung jawab atas semuanya. Dia harus menyelesaikan masalah ini. Namun, dia tak punya kekuatan apa-apa. Orang itu selalu mengancamnya melalui Naruto. Jika dia lengah, maka Naruto akan celaka lagi. Dia tidak mau itu terjadi … tidak akan pernah terjadi lagi, sampai kapanpun.
Kyuubi meninggalkan Itachi yang sedang berada dalam ruangan itu. Kyuubi butuh ketenangan, dia tidak peduli dengan semua luka yang didapatnya saat berkelahi dengan Sasuke. Dengan tertatih-tatih dia meninggalkan ruangan itu. Tak memperdulikan teriakan Itachi yang menyuruhnya untuk kembali. Tak memperdulikan langit yang sudah mulai gelap dengan gumpalan awan abu-abu yang sudah menebal. Kaki jenjangnya terus melangkah hingga meninggalkan rumah besar itu. Air mata Kyuubi menetes secara perlahan, namun dengan cepat Kyuubi menghapusnya. Berharap dengan itu perasaanya sedikit tenang. Seandainya menghapus masalah ini dapat dihilangkan semudah menghapus air matanya.
-VargaS. Oyabun-
Itachi terus melajukan mobilnya membelah dinginnya malam yang menusuk sampai ke tulang. Tangan itu terkepal erat dan terus-terusan memukul kemudi di hadapannya. Itachi mengutuk dirinya yang terlalu cepat membicarakan masalah ini dengan Kyuubi. Seharusnya dia tahu bahwa Kyuubi belumlah cukup kuat untuk mengingat masalah ini. Mata itu terpejam sejenak mencoba menenangkan pikirannya. Itachi tak tahu harus mencari Kyuubi kemana. Raut kekhawatiran semakin jelas terpampang di wajah itu saat matanya menangkap rintik-rintik air pada kaca depan mobilnya. "Ck! Kenapa harus hujan disaat seperti ini." Ucapnya sembari menambah kecepatan mobilnya. Dia harus segera menemukan Kyuubi dan membawanya pulang.
.
.
Kyuubi menadahkan tangannya untuk membendung tetesan air hujan yang semakin deras. Matanya terlihat sembab dan tangan pucat itu tampak bergetar. Luka disekujur tubuhnya terasa sangat perih saat terkena air hujan. Kakinya melangkah dengan pelan ke arah taman di hadapannya. Tangannya mengepal erat saat menatap taman di hadapannya. Sepertinya … sudah lebih dari dua tahun dia tak menginjak taman ini. Taman yang menjadi saksi kejadian itu. Kejadian yang terjadi akibat kebodohannya. Seharusnya yang terluka saat itu adalah dia, bukan Naruto. Kyuubi menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon besar yang ada di taman itu. Tubuhnya merosot ke bawah menyentuh tanah. Air hujan membasahi sekujur tubuhnya, tak ada yang terlewatkan sedikitpun.
Kyuubi memeluk lututnya dengan erat. Matanya terpejam, mencoba merasakan tetesan air hujan yang seakan-akan ikut menangis bersamanya. Kyuubi kembali terisak saat mengingat perkataan Itachi tadi. Entah kenapa, sepertinya kata-kata tersebut semakin membuatnya merasa bersalah. Seandainya saja nyawanya bisa membuat semuanya kembali seperti sedia kala, maka dengan senang hati dia akan memberikan nyawanya. Tapi, siapa yang mau mengambil nyawa orang yang sudah merusak masa depan adiknya sendiri.
Kyuubi merasakan pening di kepalanya semakin menyakitkan. Tapi dia tahu, sakit yang dirasakan Naruto tak sebanding dengan yang dirasakannya. Perlahan-lahan, tubuh itu mulai kehilangan kesadarannya. Mulai kehilangan tenaganya. Kyuubi berharap, saat ini dia dapat menghilang dari kehidupan ini. Tapi, dia tak mau lari dari kesalahannya. Dia ingin menghadapinya dangan kedua matanya. Namun, seorang Kyuubi merasa tidak sanggup dengan ini semua. Apakah Kyuubi dapat mempercayakannya kepada Itachi? Entahlah, Kyuubi tak akan pernah tahu jawabannya.
.
.
Itachi keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Dinginnya tetesan hujan tak diindahkannya. Yang ada di otaknya hanyalah membawa pulang bocah yang sedang tergeletak tak berdaya di bawah pohon sana. Ya, Itachi datang ke taman ini saat mengingat bahwa hanyalah taman ini yang mampu membuat Kyuubi kembali merenungkan masalahnya. Dengan cepat Itachi menggendong tubuh Kyuubi dan memasukkannya ke dalam mobil. Itachi mengambil jas cadangan yang selalu tersedia di mobilnya. Dipakaikannya jas itu untuk menyelimuti Kyuubi. Barharap dengan itu, akan mengurangi rasa kedinginan Kyuubi. Tanpa pikir panjang, Itachi mulai melajukan mobilnya kembali ke kediamannya.
-VargaS. Oyabun-
Sasuke menatap dua orang di hadapannya dengan heran sebelum mempersilahkannya masuk. Kedua orang itu basah kuyup, satu diantaranya sedang dalam keadaan pingsan. Sasuke yakin orang itu adalah Kyuubi. Namun, yang membuat Sasuke bingung adalah kenapa bisa Kyuubi dan Itachi pulang dengan keadaan seperti itu. Seingatnya, Kyuubi dan Itachi sedang berbicara di kamar Itachi saat Naruto mengobatinya. "Ada apa?" tanya Sasuke seadanya saat Itachi merebahkan tubuh Kyuubi di sofa.
"Ceritanya panjang. Tolong ambilkan air hangat dan selimut. Dia bisa terkena radang dingin jika dibiarkan." Ucap Itachi balik memerintah Sasuke. Sasuke hanya mendengus sebelum beranjak untuk mengambil barang-barang yang diminta Itachi. "Oh ya, tolong hal ini jangan sampai … Naruto tahu." Ucap Itachi menambahi tanpa memandang Sasuke. Sasuke yang belum melangkah jauh hanya terdiam sebentar dan kembali berjalan.
"Ini," Ucap Sasuke sembari menyerahkan sebaskom air hangat beserta handuk kecil dan sebuah selimut putih tebal kepada Itachi. "Setelah semua teratasi, bicarakan padaku." Ucap Sasuke menambahi saat Itachi menatapnya secara langsung. Itachi hanya mengangguk dan mulai membuka pakaian Kyuubi satu persatu—menggantinya dengan selimut yang diberikan Sasuke.
Itachi mengompres dahi Kyuubi dengan penuh perhatian dan sangat hati-hati. Setelah semua selesai, Itachi menyuruh salah satu pelayannya untuk menelpon dokter pribadi milik Uchiha. Suhu tubuh Kyuubi semakin meningkat dan hal itu membuat Itachi sedikit gelisah.
Tak lama kemudian, seorang dokter yang memakai kacamta bulat yang besar memasuki ruang tamu. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Rambut peraknya sedikit basah terkena air hujan. Dokter yang ternyata bernama Kabuto itu mulai memeriksa keadaan Kyuubi. Dokter itu lagi-lagi tersenyum dan mulai berbicara, "Dia hanya demam. Istirahat selama seharian penuh akan sangat membantunya untuk sembuh." Dokter itu membereskan barang-barangnya dan pamit kepada Itachi dan Sasuke. Itachi sempat mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut sebelum menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan dokter itu keluar.
"Syukurlah dia baik-baik saja. Oh ya, Sasuke?" ucap Itachi sembari menatap Sasuke yang sedang asik memakan sebuah tomat.
"Hn." Jawab Sasuke singkat sembari tetap menikmati tomat kesayangannya. Itachi memandang Sasuke yang menatapnya sembari menggigit buah merah berair itu.
Pandang.
Pandang.
Pand—
"Hei! Aku kan sudah bilang tidak ada tomat selama sebulan. Ka-kau! Sasuke! Buang tomat itu sekarang juga!" teriak Itachi sembari mencoba mengambil tomat yang ada di tangan Sasuke. Itachi dan Sasuke malah ribut saling berebut tomat yang dimakan Sasuke tadi. Namun, gerakan mereka terhenti saat mendengar suara Kyuubi yang terdengar serak.
"Enggh …."
Sasuke memandang Kyuubi cukup lama. Mereka berdua saling pandang sebelum Sasuke mulai berbicara, "Apa? Kau mau marah padaku? Dia yang ribut bukan aku." Jawab Sasuke sembari menunjuk-nunjuk Itachi yang hanya bercengo ria. "Apa? Kenapa kau masih menatapku? Aku ganteng, kan?" ucap Sasuke terlalu percaya diri. Itachi sweat dropped mendengar kata-kata tabu itu keluar dari mulut Sasuke.
"A-ayam! Ada ayam! Ayaaaam!" Kyuubi berteriak sembari bangkit dari tidurnya dengan ekspresi kaget yang berlebihan. Kyuubi tiba-tiba berdiri dan … menyebabkan selimut yang dipakaikan Itachi untuk menutupi tubuhnya terjatuh ke lantai dengan sangat anggun. Itachi diam dan Sasuke menjatuhkan tomatnya ke lantai dengan jatuh yang tak kalah anggun dari selimut Kyuubi. Kyuubi menatap keduanya dengan heran sebelum merasakan terpaan angin AC pada tubuhnya. Kyuubi menatap tubuhnya …
Diam.
Diam.
Dia—
"Aaaaaaaaa, apa yang kalian lakukan terhadapku! Dasar mesum! Toloooong! Tolooong!" teriak Kyuubi gila sembari mengambil selimut yang sempat terjatuh tadi dengan kasar. Kyuubi menutupi seluruh tubuhnya dengan cepat sembari melempari Itachi dan Sasuke dengan bantal yang ada di belakangnya. "Pergi kau maling! Pergi dari rumahku!" teriak Kyuubi sembari terus melempari kedua orang di hadapannya dengan brutal.
"Woi Kyuu! Ini rumaku dan aku bukan maling!" ucap Itachi di tengah hujan bantal tersebut. Itachi mencoba menangkapi bantal-bantal tersebut. Sementara Sasuke hanya terdiam. Itachi menatap Sasuke dengan bingung sembari terus melindungi diri dari lemparan Kyuubi. "Sa-sasuke, kau kenapa?"
Sasuke memandang Kyuubi dengan mata yang berkilat marah. Mata Sasuke menatap tajam Kyuubi setajam-tajamnya silet. Mata Sasuke seakan-akan ingin keluar saat itu juga, "Ka-kau! Kau melempar tomatku dengan bantal!" teriak Sasuke tidak jelas sembari mencoba mengambil tomatnya yang entah sudah berada dimana. Itachi dan Kyuubi memandang Sasuke dengan cengo. Ya, tuhan Sasuke. Ternyata dia diam karena memperhatikan gerak-gerik tomatnya yang sudah pergi kemana-mana.
-VargaS. Oyabun-
Naruto yang mendengar ribut-ribut dari lantai satu menjadi penasaran. Dengan terburu-buru dia bangkit dari tidurnya dan berlari menuju lantai bawah. Naruto memandang keributan di bawah sana. Matanya membulat sempurna melihat makhluk putih yang sedang melompat kesana-kemari—Kyuubi yang mencoba kabur dari tangkapan Sasuke. "Po-pocoooong. Teme! Awas ada pocong! Cepat lari, Teme! Itachi-nii, kau juga lari!" teriaknya dari balik pilar yang ada di lantai dua. Naruto sedang bersembunyi dari sosok Kyuubi yang dianggapnya pocong. "K-kyuu-nii! Aku harus menyelamatkan Kyuu-nii." Tekad Naruto sembari mencoba berpikir untuk mencari kakaknya. Naruto tak tahu jika yang ada dibalik selimut putih itu adalah Kyuubi.
Sasuke memandang Naruto yang sedang bersembunyi dibalik pilar, "Do-dobe, pocong itu adanya di Indonesia. Di jepang tidak ada pocong." Ucapnya mengalihkan pandangannya dari Kyuubi ke Naruto yang tampak sedang keringat dingin memandangi Kyuubi dalam rupa pocong. Itachi hanya menganggukkan kepalanya menyetujui omongan Sasuke.
"Ada! Pa-pasti dia transmigrasi. I-itu ada! Masa kalian tidak lihat di hadapan kalian." Ucap Naruto masih sembil celingukan dari balik pilar. Tangannya terlihat sedang menunjuk-nunjuk sosok Kyuubi dari balik pilar. Sasuke dan Itachi hanya mampu bercengo ria. Sedangkan Kyuubi malah melambaikan tangan ke arah Naruto. Rambut dan mata Kyuubi tertutupi selimut, jadi yang terlihat hanyalah senyuman Kyuubi. Naruto yang sempat melihatnya menjadi kaget dan berteriak, "Aaaaaaa, po-pocongnya senyum kepadaku, Teme!" Naruto semakin merinding saat melihat sosok yang dikiranya pocong itu tersenyum kepadanya.
"Hmpft … hahahahaha." Kyuubi tertawa saat melihat tampang Naruto. Entah kenapa, tampang adiknya begitu lucu saat ketakutan seperti -tiba muncul ide jahil di otak Kyuubi. "Ehem, bocah pirang. Sepertinya kau enak jika dimakan." Ucap Kyuubi dibuat-buat menyeramkan, sehingga Naruto yang mendengarnya hanya menelan ludah.
"Ja-jangan. Dangingku tidak enak. Ma-makan si Teme saja. Dia lebih e-enak." Jawab Naruto dengan bodohnya menanggapi omongan si pocong. Kyuubi bersusah payah untuk tidak tertawa. Itachi dan Sasuke jadi ikut-ikutan merasa menyenangkan jika mengganggu Naruto saat ini. Kyuubi mengedipkan mata ke Sasuke. Sasuke hanya mengangguk sembari berpura-pura ketakutan.
"Ka-kau gila, Dobe! Ka-kau te-tega seka—"
Ucapan Sasuke terhenti saat Kyuubi tiba-tiba berpura-pura memakan Sasuke. Naruto menutup matanya sembari sesekali mengintip Sasuke yang seakan-akan tak berdaya dimakan si pocong. Itachi menepuk dahinya, kepalanya semakin pusing melihat kelakuan dua bocah di hadapannya. Hujan deras membuat kepalanya pusing, namun pada saat melihat dua bocah ini, kepalanya seperti dihantam oleh badai. Dengan cepat Itachi menuju Sasuke dan Kyuubi, "Hentikan! Jangan memakan adikku! Dasar pocong gila!" bentak Itachi yang ternyata malah ikut meramaikan adegan SasuKyuu yang benar-benar gila.
"Hiaaaaaaat." Naruto berlari dari atas menuju tempat adegan ItaSasuKyuu. Ditangannya terdapat sebuah tongkat golf. Mata mereka bertiga membulat sempurna saat Naruto melayangkan tongkat tersebut dan …
"Berhentiiiii!" teriak Kyuubi dan Itachi bersamaan. Kyuubi membuka selimutnya yang menutupi kepalanya, "Na-naru. Ini aku, Kyuu-nii. Main golf-nya besok saja, ya?" ucap Kyuubi cepat. Takut-takut Naruto langsung memukulnya dengan tongkat golf. Naruto terdiam, matanya berkedip sampai beberapa kali …
Kedip.
Kedip.
Kedip.
'DUAG' 'DUAG' 'DUAG'
-VargaS. Oyabun-
Naruto menatap ketiga orang di hadapannya yang sedang meringis memegangi kepala masing-masing. Naruto mendengus sembari membuka kotak obat di hadapannya. "Gomen, Naru kira kalian orang yang menyamar. Gomen, ya?" ucap Naruto sembari membuka tutup botol obat merah yang ada di tangannya. Ya, ternyata tadi Naruto mengira mereka bertiga adalah orang yang menyamar untuk merampok rumah ini. Dasar Naruto, pikirannya jadi aneh-aneh kalau sudah seperti ini. Ketiga orang yang duduk di hadapannya hanya mengengguk lemah. "Sini, Kyuu-nii!" ucap Naruto sembari mengobati luka di pelipis Kyuubi. Kyuubi hanya mendekat dan meringis saat obat itu menyentuh lukanya.
Naruto dengan cekatan mengobati luka Kyuubi. Setelah dirasanya cukup, Naruto menyuruh Kyuubi gantian dengan Sasuke. Sekarang Sasuke yang berada di hadapan Naruto. Sebelum Naruto mengobatinya, mereka berdua saling pandang …
Pandang.
Pandang.
Pan—
"Auw!" pekik Sasuke saat Naruto menekan lukanya dengan kuat. Sasuke menatap Naruto dengan kesal, "Kau kenapa? Tidak niat? Tidak usah!" ucap Sasuke kesal sembari mencoba menjauhkan diri dari Naruto. Namun kegiatannya terhenti saat Naruto menarik pergelangan tangannya dan menyuruhnya untuk duduk kembali, "Apa lagi?"
"Duduk, Teme! Aku belum selesai. Mukamu terlalu tegang, jadi aku mencoba untuk merilekskanmu." Jawab Naruto dengan tenang sembari mengobati luka Sasuke—kali ini dengan lembut dan penuh perasaan. Naruto terus mengobati luka Sasuke sampai benar-benar dirasanya sudah bersih.
'Gila, cara merilekskan orangnya seperti itu. Itu namanya penyiksaan.' Batin ketiga orang di hadapan Naruto. Ketiga orang itu menatap Naruto dengan horror. Sementara yang ditatap hanya menggumamkan sebuah lagu dengan pelan. 'Sosok iblis dalam tubuh malaikat.' Batin Sasuke sedikit bergidik ngeri.
"Nah, Itachi-nii, ayo sini. Sasuke sudah selesai." Ucap Naruto saat sehabis memperban luka Sasuke. Itachi tersentak kaget saat dipanggil oleh Naruto. Entah kenapa, Itachi merasa itu merupakan panggilan Yang Maha Kuasa untuknya. Ternyata Itachi bisa merinding juga.
"Na-naruto, aku tidak tegang. Aku biasa saja." Jawab Itachi saat mendudukkan diri di samping Naruto. Naruto hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Itachi. Dalam hati, Itachi mengelus dada lega. Sepertinya nyawanya belum saatnya untuk diambil.
Setelah semuanya selesai, mereka berempat kembali ke kamar masing-masing untuk tidur. Mereka menapaki tangga secara bersamaan. Namun, pada saat di depan kamar Itachi, Sasuke dan Kyuubi saling pandang. Itachi menatap keduanya dengan heran begitu juga Naruto yang tampak mengernyitkan kening heran.
Tatap.
Tatap.
Tat—
"Aw!" pekik Sasuke saat Kyuubi mencolek luka di kepalanya dengan kuat. Sepertinya tak pantas dibilang di colek, pantasnya dijitak. Setelah melakukan tindak kejahatan itu, Kyuubi lngsung ngacir kedalam kamar tanpa memperdulikan protesan Sasuke yang mencoba untuk menyusul. Sasuke mencoba untuk masuk, namun Itachi menghalang-halanginya. Hal itu membuat Sasuke jadi kesal, "Haissh! Awas kau rubah jelek!"
"Tahan dia, Put! Jangan biarkan masuk!" teriak Kyuubi dari dalam kamar, Itachi mengernyitkan dahi bingung saat mendengar panggilan sayang Kyuubi terhadapnya. Sasuke yang mencoba menerobos kini terdiam. Sasuke berbalik dalam diam dan menarik tangan Naruto untuk mengikutinya.
Sasuke berbalik menatap Itachi yang tampak bingung. Sasuke menyeringai ke arah Itachi sembari barkata. "Put, Putu labu." Ucap Sasuke sembarangan sembari tersenyum mengejek ke arah Itachi. Sedetik kemudian terdengarlah suara kuda yang sedang mangaum. Sasuke hanya tersenyum mengejek sembari menutup pintu di belakangnya dengan cepat. Naruto memandang Sasuke dengan bingung.
"Putu labu? Itu apa, Teme?" tanya Naruto saat dia dan Sasuke sudah berbaring di ranjang dan saling menatap satu sama lain. Naruto sedikit penasaran dengan ucapan Sasuke diluar tadi. Entah kenapa, dia merasa tidak asing dengan kata-kata putu labu tersebut.
Sasuke tersenyum sembari menempelkan dahinya ke dahi Naruto. Sasuke sedikit menangkap goresan merah tupis pada pipi Naruto saat dia melakukan hal itu. "Putu labu itu artinya tidur, jadi … tidurlah. Kau pasti lelah." Ucapnya sembari mengacak rambut Naruto pelan. Naruto hanya mengangguk mengerti dan mulai memejamkan matanya. Sasuke tersenyum tipis dan mulai ikut memjamkan matanya. Membawa jiwa mereka untuk istirahat dalam mimpi. "Oyasumi, Dobe."
-VargaS. Oyabun-
Pagi sudah mulai menyapa bioritmik yang tampak masih sepi. Hanya hembusan angin dan kicauan burung penyambut pagi yang terdengar riuh dan menenangkan. Sisa-sisa aroma malam masih tampak terasa menyengat. Mentari masih malu-malu untuk keluar dari tempat peristirahatannya. Namun, di sebuah rumah bergaya ala Eropa tampak sudah mulai melakukan kegiatan paginya. Sepertinya ada yang sedang mereka bicarakan. Tampak seorang bocah pirang sedang mengaduk-ngaduk susunya sembari sesekali menguap. Mata biru cerahnya tampak mengeluarkan setitik air mata saat dia menguap.
Sasuke dan Kyuubi yang tak bisa memakan buah andalannya hanya menatap Itachi dengan kesal. "Jangan menatapku seperti itu. Tadi pagi bibi Kushina menelponku. Katanya saudara sepupu kalian akan ikut menginap disini selama sebulan. Kalau tidak salah namanya … hm, Dei … Deidara. Ya, itu namanya. Kalian mengenalnya?" tanya Itachi sembari menatap ke arah Kyuubi dan Naruto secara bergantian. Naruto hanya mengangguk, lain halnya dengan Kyuubi yang menyeringai tipis. Itachi yang melihat seringaian Kyuubi tampak mengernyit heran, 'Ada yang direncanakannya.' Batin Itachi sedikit mengerti dengan gelagat Kyuubi.
"Tambah orang lagi?" tanya Sasuke memecah keheningan. Matanya menatap bosan ke arah Itachi yang hanya mengangguk pelan. "Ck! Aku berangkat." Ucap sasuke sembari mendorong kursinya kebelakang dan pergi dari ruangan itu. Itachi mengernyit heran melihat gelagat Sasuke.
"Loh, Teme? Kau kan belum ada makan?" ucap Naruto sembari membalikkan badannya menatap Sasuke yang sudah jauh. Sasuke hanya mengibaskan tangannya tanpa berbalik sedikitpun. Naruto hanya mengendikkan bahu dan kembali memakan rotinya. Persediaan ramennya habis, rasanya dia ingin menangis jika mengingat hal itu.
"Aku juga pergi. Naru, kalau sudah selesai, cepatlah menyusul." Ucap Kyuubi sembari tersenyum ke arah Naruto dan menatap Itachi dengan tatapan mengejeknya. Naruto hanya mengangguk pelan. Senyuman di bibir Kyuubi semakin lebar saat keluar dari dapur dan tiba-tiba Kyuubi tertawa setan. Itachi yang mendengarnya hanya bergidik ngeri.
"Kenapa dengannya?" tanya Itachi pada Naruto yang sedang mencoba menegak habis susunya. Itachi tersenyum tipis memperhatikan tingkah Naruto yang tampak sangat lucu dan manis. 'Seandainya saja Sasuke seperti ini.' Batinnya sembari menatap lekat Naruto. Itachi, kau akan gila jika kau berharap seperti itu.
"Dei-nii dan Kyuu-nii adalah orang yang sangat dekat saat masih kecil. Dan Itachi-nii tahu julukan apa yang diberikan kepada mereka dari orang-orang di sekitarnya?" Itachi tampak menggelengkan kepalanya dengan pelan dan memasang tampang penasarannya. " … duo devil." Lanjut Naruto sembari beranjak dari duduknya—menyusul Kyuubi dan Sasuke.
Itachi menatap kepergian Naruto dengan horror. Entah kenapa, dia merasa badai sebelum kiamat telah menantinya. Sepertinya Itachi harus berhati-hati dengan orang yang bernama Deidara ini. Ya, kau harus hati-hati Itachi, kematianmu tinggal beberapa jam lagi.
-VargaS. Oyabun-
Naruto menatap malas ke arah gedung di hadapannya. Ya, gedung sekolah tak tercintanya. Dengan langkah malas dia menuju gedung yang terlalu besar itu. Tangannya sempat melambai ke arah Kyuubi dan Sasuke. Naruto sempat melihat Kyuubi menyodok perut Sasuke dari kejauhan—Naruto hanya mengernyitkan dahi. Sebenarnya Kyuubi marah karena Sasuke ikut melambaikan tanganya ke arah Naruto. Setelah itu, Naruto segera menuju lokernya, loker bernomor 404 yang selalu menyambutnya setiap pagi.
Naruto tersenyum lebar saat matanya menangkap sosok berambut merah dengan tato 'Ai' di dahinya, Sabaku no Gaara. Dengan sedikit berlari kecil Naruto menghampiri Gaara yang sedang bicara dengan Neji. "Gaara! Neji! Ohayou!" sapanya riang sembari menatap keduanya dengan senyuman lebarnya. Gaara yang sempat terpesona dengan Naruto hanya diam memandang wujud malaikat pagi itu. Neji yang melihat hal itu langsung menyenggol tangan Gaara.
"A-ah ehem … ohayou, Naru." Ucapnya saat sadar dari lamunan pagi harinya. Naruto hanya tersenyum dan menarik lengan Gaara untuk berjalan bersamanya. Gaara hanya tersenyum mengejek ke arah Neji dan mensejajarkan langkahnya dengan Naruto. Neji yang melihat senyuman Gaara menjadi berkukus seperti putu labu. Entah kenapa, dari sekian banyak uke, Gaara malah memilih Naruto yang notabene juga sangat … manis dimata Neji. Neji menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikiran gilanya tentang Naruto.
.
.
Suasana kelas Kyuubi begitu tenang dan damai. Namun, ada tiga orang bocah yang malah sibuk bermain gombal-gombalan. Yaitu, Kyuubi, Pein, dan Nagato yang duduk di pojok belakang.
"Kyuubi, ayah kamu penjual kulkas, ya?" tanya Nagato sembari mengedip-ngedipkan matanya genit ke arah Kyuubi. Bocah berambut merah ini tamak sangat mendalami perannya.
"Tau darimana?" jawab Kyuubi sembari membalas senyuman Nagato dengan tak kalah genitnya.
"Karena kau telah membekukan hatiku." Jawab Nagato sinting sembari tertawa tidak jelas.
Pein yang dari tadi sibuk mikir kini angkat bicara. "Nagato … ayah kamu suka makan buah apel, ya?"
"Iya, tau dari mana, Pein?" jawab Nagato tidak jelas sembari memajukan mukanya hampir bersentuhan dengan Pein.
"Habisnya, aku tidak pernah bosan untuk apel ke rumahmu." Jawab Pein sembari menjedukkan kepalanya ke Nagato. Nagato hanya memekik sakit sembari menoyor kepala Pein.
Kyuubi yang mendengar gombalan tadi terdiam. Matanya menatap lekat dua orang di hadapannya. Nagato dan Pein memandang Kyuubi dengan heran, "Kenapa, Kyuu?" tanya Pein sembari menatap balik Kyuubi.
Kyuubi terdiam sejenak, "Tadi kamu bilang ayahnya Nagato suka makan apel, kan?" Pein hanya menganggukkan kepalanya, "Berarti, ayahnya aku dong. Kan aku suka makan apel." Jawab Kyuubi tidak jelas, sehingga membuat kedua temannya tertawa terpingkal-pingkal. Guru yang sedang mengajar saat itu hanya mencoba bersabar menghadapi kegiatan ketiga bocah tersebut.
"Oi, Pein. Ayah kamu suka nonton Dora, ya?" tanya Kyuubi mengalihkan pembicaraan. Nagato dan Pein yang tadi tertawa kini terdiam.
"Iya, kok tahu sih?" jawab Pein sok dibuat imut. Membuat Kyuubi yang melihatnya hampir terjungkal ke belakang.
"Pantesan kamu banyak nanya." Jawab Kyuubi tidak tahu diri. Pein hanya memanyunkan bibirnya tanda sedang ngambek. Nagato dan Kyuubi hanya tertawa melihat wajah Pein yang seperti itu. Tak sadar tatapan-tatapan mematikan sedang tertuju kepada mereka.
Guru yang sedang mengajar di depan kelas hanya menatap adegan gombal-menggombal tersebut dengan geram. Guru yang selalu merokok dimanapun dan kapanpun itu hanya berteriak dari depan kelas—kesabarannya sudah habis kali ini. "Hei kalian bertiga yang di belakang!"
"Iya." Jawab Kyuubi, Nagato, dan Pein serempak. Matanya teralihkan ke depan kelas.
"Ayah kalian tukang jualan kaleng bekas ya?" tanya Asume-sensei sembari menatap tajam ketiga bocah itu.
'Buset, miskin amat.' Batin mereka bertiga sweat dropped. Namun, mereka hanya menjawab dengan kata-kata, "Kok tahu sih?" Asuma-sensei tampak menarik napas panjang dan …
"SOALNYA KALIAN BERISIK KAYAK KALENG BEKAS! SEKARANG KELUAR DARI KELASKU!" teriaknya marah sembari menatap ketiga bocah itu dengan geram.
"Bertiga?"' tanya Pein bodoh. Kyuubi dan Nagato hanya menepuk dahi mereka melihat temannya yang satu ini.
"IYAAAAA!"
Dan seiringnya dengan teriakan itu, keluarlah mereka bertiga bersama penghapus dan kapur-kapur yang bertebaran kemana-mana. Ya tuhan, di sekolah malah main gombal-gombalan.
-VargaS. Oyabun-
Naruto tertawa terpingkal-pingkal mendengar ocehan Kyuubi di dalam mobil. Kyuubi menceritakan semua kejadian di dalam kelas tadi. Saat ini mereka sedang berada di mobilnya Itachi. Mereka hendak menjemput Deidara di bandara. "Kyuu-nii, gombalin Naru juga." Ucapnya sembari menatap Kyuubi dengan mata kucing yang tertukar miliknya. Kyuubi hanya mengangguk dan tersenyum.
"Naru, ayah kamu jualan ayam, ya?" tanya Kyuubi berharap respon Naruto sangat baik dan nyambung. Namun, memang dasarnya Naruto itu polos dan tak bisa diajak serius. Ya, hanyalah harapan semata untuk Kyuubi.
"Eh? Daddy? Memangnya Daddy jualan ayam, ya? Naru baru tahu."
Ya tuhan, Kyuubi menepuk dahinya dengan keras. Entah kenapa, Kyuubi ingin sekali menyeruduk otak Naruto saat itu juga. Sasuke dan Itachi yang duduk di depan hanya mampu menahan tawanya. Itachi berdehem dan angkat bicara, "Naruto, seharusnya kan jawab, 'Eh, kok tahu sih?' seperti itu Naruto. Bukannya malah bertanya balik. Kau ini, menghancurkan angan-angan Kyuubi saja." Ucap Itachi sembari tetap fokus pada jalanan di depan.
Kyuubi yang mendengar omongan Itachi hanya mampu pundung di pinggir jendela mobil. Naruto hanya tertawa dan mengucapkan maaf kepada Kyuubi yang sedang pundung. Sasuke hanya mendengus dan berkata, "Bodoh." Kyuubi yang mendengarnya menjadi kesal. Dengan kasar Kyuubi bangkit dari pundungnya dan mencoba untuk tegar.
"Naru, dia ini yang jualan ayam. Daddy tidak pernah jualan ayam. Tapi, dia ini yang jualan. Nih orangnya nih!" ucap Kyuubi sembari menoel-noel kepala Sasuke yang diperban. Sasuke hanya mampu meringis menghindari toelan Kyuubi. Naruto hanya mangut-mangut tanda mengerti.
"Sudah! Sudah! Ini sudah sampai, ayo cepat turun!" perintah Itachi sembari mematikan mesin mobilnya. Itachi membuka pintu mobilnya dengan anggun. Kakinya melangkah menuju pintu bandara sembari melihat jam tangannya, "Jam 10 tepat. Sepertinya kita tidak telat." Ucapnya sembari menengok kebelakang dan melihat Kyuubi dan Sasuke masih beradu tatap. Itachi hanya tersenyum melihat keakraban Sasuke dengan Kyuubi.
"Teme! Ayo kesana! Aku ingin melihat atraksi badut itu." ucap Naruto sembari menarik lengan Sasuke. Sasuke hanya mengangguk dan menuju tempat yang ditunjuk Naruto tadi.
.
.
Itachi dan Kyuubi sedang mencari-cari sosok pria dengan rambut pirang panjang dan bermata biru indah. Senyuman Kyuubi tak pernah hilang dari bibirnya saat mengingat bahwa Deidara akan tinggal bersamanya selama sebulan penuh. Itachi hanya berpura-pura tak melihat senyuman Kyuubi. Entah kenapa, melihat senyuman itu seakan-akan neraka sedang menarik-nariknya untuk masuk ke dalam. Tak berapa lama muncul orang yang dari tadi ditunggu-tunggu. "Kyuu!" teriaknya sembari melambaikan tangan kepada Kyuubi. Senyuman Kyuubi semakin lebar saat melihat Deidara di depan matanya.
"Hoi! Blonde Devil!" teriak Kyuubi sembari membalas lambaian tangan Deidara. Itachi mengernyit heran mendengar panggilan Kyuubi untuk Deidara.
"Yo! Red Devil! Kau sudah lama menunggu … ah kau pasti Itachi, kan? Senang bertemu denganmu." Ucap Deidara sembari mengulurkan tangannya kepada Itachi. Deidara tersenyum manis. Itachi menjabat tangan Deidara sembari balas tersenyum. Entah kenapa, saat bersalaman dengan Deidara, Itachi merasakan aura-aura pembunuh bayaran profesional. Itachi sedikit merinding saat melihat senyuman Deidara yang notabene mempunyai maksud terselubung.
"Sebaiknya kita segera pulang. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Naruto dan Sasuke sudah ada di mobil." Ucap Itachi sembari tersenyum ke arah Deidara. Deidara balas tersenyum dan merangkul Kyuubi. "Laksanakan." Ucap Kyuubi sembari berjalan mensejajarkan diri dengan Itachi. Itachi dapat mendengar bisik-bisik antara Deidara dan Kyuubi.
"Dia orangnya, Kyuu?"
"Iya, Dei. Dia orangnya."
"Kau mau setengah matang atau sangat matang?"
"Setengah matang saja, biar lebih terasa."
"Ok."
Itachi hanya mencoba tetap berjalan dengan benar. Otak Itachi semakin dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang diluar dari daya hayalnya. Sabarlah tachi, pertunjukkan Duo Devil baru saja dimulai.
-VargaS. Oyabun-
Deidara menatap rumah besar di hadapannya dengan seringaian lebar. Mata birunya menatap rumah yang dipikirnya jika dijual akan menghasilkan banyak uang. Ya, sodara-sodara, ternyata Deidara adalah manusia yang cinta akan uang. Cita-citanya adalah membuat bom yang dapat terbang mengejar mangsanya sendiri. Oleh sebab itu, dia butuh uang yang banyak sekali. Deidara hanya nyengir-nyengir tidak jelas, sementara Kyuubi mulai tertawa setan. Semoga saja mereka berdua tak berencana menjual rumah Uchiha.
Mereka memasuki rumah besar itu dengan perlahan. Naruto yang sibuk bercengkrama dengan Deidara, Sasuke yang sibuk mencari minuman, Itachi yang sibuk mengatur ketakutannya, dan Kyuubi yang tak henti-hentinya nyengir tidak jelas. Itachi terus saja memperhatikan Deidara secara diam-diam, bertanya-tanya dalam hati maksud dari senyuman iblis itu.
"Hm, kamarku dimana?" tanya Deidara kepada Itachi. Itachi hanya tersenyum canggung dan membawa Deidara ke kamar kosong di lantai dua. Sebelum sempat mengikuti Itachi, Deidara sempat menyeringai ke arah Kyuubi. Belum sempat Itachi menapaki tangga, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Itachi menengok ke arah Sasuke dan menyuruhnya untuk membuka pintu tersebut.
Sasuke berjalan dengan perlahan menuju pintu. Sedikit kesal karena orang yang ada di depan pintu terus-terusan memencet belnya secara berulang-ulang. Sasuke membuka pintu itu dengan kasar dan mempersilahkan orang yang ada di depan pintu itu untuk masuk. Orang itu berjalan menuju ruang tamu dengan tergesa-gesa.
"Hai." Sapanya pada saat sampai di ruang tamu.
Itachi yang melihat orang itu membelalakkan matanya tak percaya. Kenapa orang itu bisa ada di Negara ini. Bukankah dia sedang menjalankan kuliahnya, "Sa-sasori!"
"Hai, Itachi."
Deidara memperhatikan orang tersebut, wajah imut, pakaian keren, bermerk mahal, dan yang pasti punya banyak uang. 'Mangsa baru.' Batin Deidara sembari menyeringai.
To Be Continued
Hahaha akhirnya selesai juga chapter ini. Maaf ya, ini masih sering memunculkan tokoh-tokoh perusuh dan yang akan dirusuh! Jadi bersabarlah heheh. Yosh! Aku mulai balesin review ya~
99: heheh ini uda aku kasih adegan SasuNaru, ya meskipun masih sedikit sih. Masih kebanyakan permunculan tokoh-tokoh pembuat masalah heheh.
Ryusuke: thanks berkat dirimu, kini aku sudah lanjut dan move on #begajulan
Miharu Aina: hahah makasi atas reviewnya ya. Kau pembaca setiaku #nangis jahe
NamikazeNoah: wow terima kasih atas reviewnya. Salam kenal dari Oyabun-sama #tampang keren
AkamakiKyuu: iya dari awal aku udah nyadar kalo story ini bakal bikin Itachi tambah tua hahah. Makasi reviewnya dan salam kenal dari Oyabun-sama #guekerenbanget
Roronoa D. Mico: yosh! Aku sudah apdet nih? Gimana? Bagus nda chapter ini? Reader: enggak! #pundung dibawah telapak kaki ibu
Wonder Blue Not Login: haduh kamu kenapa nda login sih? Kan kita bisa maen bareng #nda nyambung. Hahah pokoknya makasi atas reviewnya yah
Gunchan Cacunalu Polepel: yo! Guncan! Aku sudah apdet ni! Jangan lupa dibaca ya! Ini uda panjang ni! Ne~ telima kacih gunchan #kelindes ayam
Misyel: KMS itu Konoha Middle School hehehe. Makasi atas reviewnya yah
Hitoshii Rizuki: nyaa~ makasi atas reviewnya ya! Hahah ini uda ada adegan SasuNaru meskipun dikit hehe
Rarisa: kapan mau apdet? Nih aku sudah apdet. Makasi yaa
Ciel-Kky30: ya itu saya kurang tahu ya, silahkan tanya pada FugaMina di alam sana #dirasengan hahah makasi reviewnya
Ichkurorry: makasi pemandu sorakku yang baik hati. sebagai gantinya, aku hadiahin chapter 4 nih hahah
Tia Hanasaki: makasi atas reviewnya, yooo tia!
Seakey07: Kyuunya habis debar-debar jadinya dia diem (Kyuubi: dasar sok tahu) heheh makasi atas reviewnya. Naruto lemot ada alasannya loh #kelilipin mata
ChaaChulie247: heheh halo juda der! Makasi reviewnya ya
puzZy cat: heheh Naru jadi gitu ada alasannya loh #kelilipin mata. Oke tenang aja. Makasi reviewnya ya
Dongdonghae: hehehe makasi udah ngefave cerita abal bin nista ini. Oke sip , ini kan uda apdet
Aoi Ciel: yo Aoi terima kasih ats reviewmu yang superrrr
Kazuki NightNatsu: heheh yo! Makasi atas reviewny ya
Mikacha: yo! Makasi ya reviewnya
Mio Altezza: aduh ini uda bener kok, suer! Heheh ini uda ada sedikit adegan SasuNaru kok.
Saa, Mind to Review, Minna-san?
