BAKTERI CINTA KONOHA
Kenapa Efeknya Berbeda?!
"Hmm, Hmm, Hmm, Hmm," Sakura tak henti-hentinya bersenandung kecil, mengabaikan tatapan aneh kunoichi-kunoichi di sekitarnya. Pasalnya saat ini Sakura sedang berada di dalam ruang perkumpulan medic-nin Konoha untuk mendengarkan kuliah bulanan yang rutin dilaksanakan oleh Tsunade sejak perang dunia keempat berakhir.
"Sakura-san," Bisik Hinata.
"Kau sepertinya senang sekali. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Hinata dengan suara lirih.
"Eh, apakah aku terlihat sesenang itu, Hinata?" Tanya Sakura balik dengan suara yang tak kalah lirih. Sakura menekan pipinya yang merona dengan sepasang telapak tangannya, membuat wajahnya terlihat lucu.
"Kau ingin menceritakannya padaku, Sakura-san?" Tawar Hinata.
"Kau mau mendengarkannya?" Tanya Sakura yang tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya sedikitpun. Hinata mengangguk.
"Baiklah jika kau memaksa, Hinata," Jawaban Sakura membuat Hinata sedikit sweatdrop. Padahal tak ada satupun kalimat paksaan yang meluncur keluar dari mulut Hinata.
"Sebenarnya, semalam Sasuke-kun menyatakan cintanya padaku." Cerita Sakura bersemangat. Mata Hinata membulat.
"Benarkah?" Desis Hinata kaget.
"SSSstttt!" Seorang kunoichi bersurai hitam gelap memandang Sakura dan Hinata kesal karena tak bisa berkonsentrasi mendengarkan apa yang dibicarakan Tsunade di depan podium.
Sakura mengangkat sebelah tangannya, tersenyum kikuk dan menganggukkan kepalanya sedikit, mewakili permintaan maafnya.
"Kau tahu apa yang dia katakan padaku, Hinata?" Desis Sakura tepat di lubang telinga gadis cantik bermata indigo di sampingnya.
"Apa?" Tanya Hinata.
"Sakura, maafkan aku. Sebenarnya dari dulu aku suka padamu." Sakura mengulangi ungkapan singkat hati Sasuke padanya dengan sedikit mendramatisir ceritanya.
"Lalu dia mendekat dan mencium keningku. Disini." Sakura menunjuk bagian tengah keningnya.
Hinata tersenyum maklum. Sakura memang sejak lama mencintai Sasuke. Mungkin selama Hinata mencintai Naruto. Dan mendapatkan sambutan dari laki-laki yang sangat dicintainya, adalah hal yang sangat wajar jika Sakura tak sedikitpun berusaha menyembunyikan rona bahagianya.
"Dan dia bilang padaku untuk mau melahirkan anak-anak Uchiha kelak." Bisik Sakura kembali di telinga Hinata membuat gadis pemalu itu merasakan panas pada daun telinganya.
"Ekhhh?!" Tanpa bisa dicegah, Hinata memekik kaget. Membuat semua orang yang berada dalam ruang pertemuan tersebut sontak menoleh padanya.
"Hinata?!" Sakura mendelik kaget.
"BERISIK!" Tsunade melemparkan dua batang kapur tepat sasaran pada kening dua kunoichi malang ini.
"DIAM ATAU KELUAR!" Ancam Tsunade garang.
"Ha'i, Tsunade-sama." Setitik air mata bergantung pada sudut mata beriris berbeda dari dua kunoichi yang keningnya memerah sakit.
oOo oOo oOo
"Nyam. Nyam. Nyam." Mulut Temari terlihat penuh mengunyah satu bulatan dango entah untuk tusuk yang keberapa.
"Hahhh…" Shikamaru melirik Temari tak percaya wanita yang terlihat sangat kurus disampingnya ini bisa menumpuk puluhan tusuk dango tanpa isi di atas piringnya.
"Hey, Temari. Apa kau tak takut perutmu sakit karena terlalu banyak makan dango?!" Tanya Shikamaru. Temari hanya melirik Shikamaru dengan ekor matanya.
"Hmm… Enak sekali," Gumam Temari disela kunyahannya. Menghiraukan pertanyaan Shikamaru.
Shikamaru mau tak mau mendengus geli menatap Temari yang bisa-bisa terlihat begitu gembira hanya karena makan dango.
"Kau mau membuatku bangkrut?" Protes Shikamaru saat Temari mengangkat tangan untuk menambah 5 tusuk dango lagi.
"Hmm.. Ya." Jawab Temari tanpa banyak berfikir.
"Bukankah sudah aku katakan padamu untuk tak menyesali janjimu?" Tambah Temari.
"Cih. Mendokusai!" Gerutu Shikamaru.
"Hmm.. Nyam. Nyam. Nyam." Temari lagi-lagi menghiraukan Shikamaru, baginya sebutir dango terasa lebih menarik daripada gerutuan kesal Shikamaru.
"Paman, tambah 5 tusuk lagi." Teriak Temari dengan sangat gembira.
"Ya ampun!" Shikamaru menepuk keningnya kasar.
"Silahkan dangonya, gadis cantik." Goda paman penjual dango.
"Terima kasih, Paman." Temari tersenyum lebar karena pujian dari paman penjual dango.
Shikamaru memutuskan untuk berhenti memikirkan nasib uang-uangnya yang ketakutan di dalam dompet, atau menghitung jumlah tusuk dango di atas piring Temari yang semakin bertambah banyak. Shikamaru mulai menyesap kembali segelas ocha yang sudah sangat dingin. Shikamaru memang sengaja tak memesan apapun kecuali segelas ocha dalam genggamannya karena tidak ingin menambah tagihan lebih banyak dari yang Temari lakukan.
"Temari!" Panggil Shikamaru yang mulai kesal karena sedari tadi merasa terabaikan.
"Ada apa?" Tanya Temari dengan mulut yang tak dibiarkannya kosong sebentar saja.
"Berapa umurmu?"
"Hmm?" Temari memandang Shikamaru heran.
"Memangnya ada apa dengan umurku?" Temari menjawab pertanyaan Shikamaru dengan pertanyaan lain.
"Hey! Jawab saja." Gertak Shikamaru. Temari menelan dangonya, menatap wajah serius Shikamaru.
"21." Jawab Temari singkat.
"Kau, tidak ingin menikah?" Tanya Shikamaru ragu.
"Ya. Tentu saja aku akan menikah." Temari mulai mengunyah kembali sebutir dango yang masuk bulat-bulat ke dalam mulutnya.
"Aku sedang menunggu seseorang," Temari tak memandang Shikamaru sedikitpun, perhatiannya lebih difokuskan pada sisa dango dalam piring keenamnya.
"Siapa?" Tanya Shikamaru dengan ekspresi wajah yang lucu antara menahan rasa penasaran dan kaget.
"Seorang pria." Temari memandang Shikamaru.
"Pria pemalas dari Klan Nara." Temari lagi-lagi memenuhi mulutnya dengan sebulat penuh dango. Senyumnya terlihat begitu lebar, entah senang karena dango atau berhasil membuat Shikamaru tersipu.
"Mendokusai." Lirih Shikamaru yang memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah pada kedua wajahnya.
oOo oOo oOo
"Hahahahaha." Ino tak berniat mengecilkan suara tawa mengejeknya mendengar cerita Hinata tentang kapur Tsunade yang menghantam keningnya dan Sakura ganas. Ino sendiri baru pulang dari tugas mingguannya membantu mengajar di akademi ninja sebagai seorang medic-nin, jadi Ino tak ikut dalam kelas Tsunade.
"Salah sendiri kau berani berisik di kelas Tsunade-sama." Ejek Ino sembari melirik kening Hinata yang masih menyisakan bekas luka.
"Lalu, benarkah Sasuke-kun mengatakan cintanya seperti yang diceritakan Sakura?" Tanya Ino kemudian.
"Jika melihat wajah bahagia Sakura-san, aku pikir dia tidak berbohong, Ino-san." Jawab Hinata yang masih menggosok-gosok keningnya yang memerah.
"Duke! Aku tak menyangka Sasuke-kun benar-benar menyukai Sakura!" Umpat Ino.
"Daijobou, Ino-san?" Tanya Hinata khawatir.
Ino menghentikan sejenak langkahnya, membuat Hinata menghentikan langkahnya juga.
"Entahlah, Hinata." Ino menerawang ke atas langit, memandangi awan-awan kegemaran Shikamaru yang sangat bervariasi bentuknya.
"Aku tak yakin apakah aku akan baik-baik saja." Jawab Ino. Dicobanya untuk membuat senyuman tulus yang terlihat gagal. Membuat Hinata merasa bersalah bercerita tentang Sakura dan Sasuke.
"Bagaimana dengan Sai-kun?" Hinata mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Sai-kun?" Ulang Ino.
"Yaaaa, hmmm, saat ini sikapnya cukup manis juga." Ino terlihat sedikit tersipu, Hinata menebak telah terjadi sesuatu antara Ino dan Sai.
"Apa terjadi sesuatu, Ino-san?" Tanya Hinata penasaran. Ino melanjutkan langkah, Hinata berusaha mensejajarkan langkah dengan Ino.
"Aku malu menceritakannya, Hinata." Jawab Ino ragu.
"Tapi, aku juga ingin menceritakannya pada seseorang." Ino terlihat bingung, membuat Hinata tertawa geli.
"Baiklah, baiklah, jangan menertawakanku, Hinata!" Rajuk Ino.
"Baru kali ini ada seorang laki-laki yang bersikap begitu manis padaku. Tentu saja membuatku bingung apa yang aku rasakan." Ino mengerucutkan bibirnya, benar-benar merajuk.
"Apa kau merasakan geli di sekitar perutmu, Ino-san?" Tanya Hinata yang masih saja tersenyum geli.
"Apa?" Ino menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Ya, kata orang saat kau jatuh cinta seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutmu." Jelas Hinata.
Ino terdiam, sepertinya memikirkan sesuatu.
"Ya, aku benar-benar tidak tahu apa yang aku rasakan saat Sai-kun menggendongku." Jawab Ino tak sadar.
"Menggendongmu, Ino-san?" Tanya Hinata kaget.
"Eh? Hmm, ya." Ino akhirnya memutuskan untuk bercerita juga.
"Kemarin setelah aku dan Sakura mengantar Sasuke-kun dan Sai-kun ke rumah sakit, aku memilih untuk menyendiri di pohon desa." Ino memulai ceritanya.
"Aku masih menangis untuk beberapa saat sampai aku merasa langit sudah berubah warna menjadi orange. Jadi aku putuskan untuk pulang saja ke rumah. Aku juga sudah sangat lapar."
"Entah aku yang terlalu lapar dan lemas karena terlalu banyak menangis atau bagaimana, saat salah satu dari beberapa anak kecil bertubuh gempal menabrakku, aku hampir jatuh terjerembab." Hinata dapat melihat perubahan raut wajah Ino yang sedikit tersipu.
"Lalu tanpa aku sadari ternyata Sai-kun sudah menangkap tubuhku, jadi aku tak terluka."
"Dia menyampaikan maaf padaku, Hinata!"
"Saat aku tanya untuk apa. Sai-kun. Dia bilang walaupun dia tidak ingat apa yang terjadi, dia merasa aku menangis karena dia. Jadi dia meminta maaf padaku."
"Lalu dia menggendongku. Rasanya aku malu sekali dilihat dan ditertawakan banyak orang disekitarku." Kulit putih Ino mulai ternoda rona merah walau masih tipis, pikirannya menerawang kembali pada saat Sai menggendongnya seperti seorang pengantin. Ino bisa mendengar bisikan orang-orang di sekitar mereka jika Ino dan Sai terlihat begitu serasi.
"Kau, jatuh cinta pada Sai-kun, Ino-san." Pernyataan Hinata membuat rona pada pipi Ino mulai terlihat semakin jelas.
"A-apa?" Gagap Ino yang secara spontan menghentikan kembali langkah kakinya.
"Aku tidak mungkin semudah itu jatuh cinta pada laki-laki lain." Sanggah Ino.
"La-lagipula, kenapa harus dengan Sai-kun?" Ino, daripada mencoba menolak pernyataan Hinata, lebih terdengar menanyakan kejelasan perasaannya pada dirinya sendiri.
"Hey, Ino! Apa berteriak di tengah jalan menjadi hobimu sekarang?" Sindir seseorang.
Ino dan Hinata menoleh pada suara serak seseorang di belakang mereka. Terlihat seorang pemuda dengan wajah malasnya yang berdiri berdampingan dengan seorang gadis berkuncir 4 yang tersenyum tipis namun terlihat begitu manis pada mereka.
"Shikamaru? Temari-san?" Ino sedikit kaget juga melihat kebersamaan Shikamaru dan Temari.
"Konnichiwa, Ino, Hinata," Sapa Temari yang tetap mempertahankan senyuman manis yang sangat jarang diperlihatkannya pada orang lain. Ino memasang pandangan menyelidik.
"Konnichiwa, Temari-san, Shikamaru-kun." Balas Hinata dengan senyuman yang tak kalah manis dari Temari.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Ino tanpa basa-basi.
"Apa kalian sedang berkencan?" Tebak Ino yang merasa bahwa sepertinya Shikamaru sudah terkena efek bakteri yang diam-diam ditaburkan Ino pada dango yang dibelinya untuk Shikamaru.
"Hmm…" Shikamaru menggosok-gosok kepala nanasnya dengan gerakan lambat.
"Jika mentraktir wanita disampingku dango sampai uangku terkuras habis kau sebut kencan, mungkin memang kita sedang berkencan." Ino melongo tak percaya. Bahkan seorang Shikamaru yang selalu melabeli semua hal "merepotkan", dan terlihat sangat malas berurusan dengan wanita yang menurut Shikamaru sangat merepotkan, sekarang terlihat begitu manis dengan sikapnya yang malu-malu dan jangan lupakan rona merah tipis yang bertengger pada kedua pipinya.
"Ahahaha, jangan pedulikan si bodoh ini." Temari sepertinya sangat sweatdrop dengan sikap dan jawaban Shikamaru.
"Otaknya hari ini sedikit tidak beres." Tambah Temari.
"Kami tidak sedang berkencan. Dia hanya membayar usahaku merawatnya kemarin." Temari terlihat salah tingkah, kulit wajahnya yang putih tak berhasil menyembunyikan rona merah karena malu.
"Temari-san ayo ikut kami sebentar." Ino menyeret Temari menjauh dari Shikamaru. Hinata mengekor di belakang mereka.
"Apa Shikamaru makan dango yang aku belikan kemarin?" Tanya Ino segera setelah merasa sudah berada di tempat yang tak mungkin bagi Shikamaru mendengar bisikan-bisikan mereka.
"Ya." Jawab Temari singkat. Tak mengerti maksud dari pertanyaan Ino.
'Gawat! Apa Ino ingin menagih uang dango kemarin padaku?' Tebak Temari dalam hati.
"Lalu apa Shikamaru merasakan sakit kepala?" Tanya Ino selanjutnya.
"Ya, dia mengeluhkannya padaku setelah memakan habis dango darimu." Jawab Temari yang semakin tak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Hmm, hmm," Ino manggut-manggut.
"Jadi, apa kau mencium Shikamaru?" Tanya Ino dengan senyuman jahil.
"APA?!" Teriak Temari sangat keras, membuat jantung Hinata hampir saja melorot dari tempatnya. Bahkan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka sempat menghentikan langkah untuk mencari tahu siapa yang berteriak sekencang itu di suasana setenang sekarang.
'Sial! Bagaimana Ino tahu aku diam-diam mencium pipi Shikamaru?!' Umpat Temari dalam hati.
"A-apa-apaan pertanyaan itu?!" Gagap Temari berusaha keras menyembunyikan kegugupannya.
"Kau tak perlu malu mengakuinya, Temari-San." Ino tersenyum sangat jahil. Temari menatap Ino tak percaya.
"U-untuk apa aku mencium pemalas itu?!" Bohong Temari mencoba memudarkan senyum jahil Ino. Namun percuma saja. Semakin Temari membantah, semakin Ino terlihat tak percaya.
"Kenapa sih kau teriak-teriak?" Tanya Shikamaru yang mendekati ketiga kunoichi yang terlihat sangat menikmati acara bisik-bisik tetangga mereka.
"Hora, Shikamaru! Kau menguping?!" Tuduh Ino sengit.
"Hey, aku baru saja sampai disini dan aku tak mendengar apapun!" Bantah Shikamaru malas.
"Sudah-sudah jangan bertengkar teman-teman," Hinata mencoba mendinginkan suasana sebelum memanas.
"Hey, Shikamaru! Aku ingin bertanya. Apa Temari-san…"
"Ayo pergi, Shikamaru! Gaara pasti sudah mencariku!" Sebelum sempat Ino menyelesaikan pertanyaannya, Temari sudah menyeret Shikamaru menjauh.
"Temari jangan tarik-tarik. Kau pikir aku sapi?!" Protes Shikamaru.
"Hey…. Jawab dulu pertanyaanku!" Teriak Ino kesal karena diabaikan.
"Kau tak bisa berbohong padaku, Temari-san!" Ino masih berteriak sangat keras agar Temari mendengarnya.
"Huh! Dasar pasangan aneh!" Gerutu Ino.
Hinata sibuk terkikik geli melihat tingkah konyol teman-temannya.
"Apa kau juga memberikan bakteri itu pada Shikamaru-kun, Ino-san?" Tanya Hinata.
"Ya! Aku benar-benar gemas dengan keangkuhan mereka untuk saling mengakui perasaan masing-masing!" Jawab Ino penuh semangat.
"Lupakan mereka! Kau lihat kan, Hinata? Bahkan seorang Nara Shikamaru bisa terkena efek bakteri pemberian Senpai. Hebat bukan?!" Puji Ino.
"Ya," Hinata tersenyum tipis dan mengangguk. Mencoba membuang jauh-jauh pikirannya tentang Naruto yang entah karena apa tak sedikitpun terpengaruh oleh bakteri cinta pemberian Shizune.
oOo oOo oOo
"Hinata-chaaaan….." Teriak Tenten manja, dipeluknya erat-erat Hinata yang baru saja sampai di tempat pertemuan keempat gadis cantik ini.
"Tenten-san, a-ada apa?" Tanya Hinata sedikit sesak.
"Hehehehe, gomen ne," Tenten meringis memamerkan sederet gigi putihnya yang berjajar rapi.
"Apa Neji menyatakan cintanya padamu?" Tebak Sakura.
"Tentu saja," Tenten mengedipkan satu matanya pada Sakura.
"Tenten! Sudah aku bilang hentikan mengedipkan salah satu matamu padaku!" Bentak Sakura tak senang.
"Kapan kau mengatakannya padaku?!" Protes Tenten.
"Sekarang dan untuk selamanya," Jawab Sakura.
"Huh! Kau merusak suasana hatiku saja!" Rajuk Tenten.
"Sudah-sudah jangan bertengkar! Diantara kita berempat, kalian yang paling beruntung mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki yang kalian suka! Jangan protes saja!" Ino semakin memperburuk suasana.
"Kenapa kau ikut-ikutan marah sih, Ino?!" Tanya Tenten tak suka.
"Jangan bertengkar teman-teman," Lagi-lagi Hinata yang menjadi penengah teman-teman kunoichinya yang mudah sekali tersulut emosi.
"Bagaimana Neji Nii-san mengatakan cintanya padamu, Tenten-san?" Tanya Hinata mencoba mengembalikan topic utama pertemuan mereka di kedai dango malam ini.
"Dia tidak mengatakan cintanya padaku sih," Jawab Tenten yang kembali tersenyum ceria.
"Tadi kau bilang Neji menyatakan cintanya padamu?!" Koreksi Ino.
"Tidak, tidak. Neji tak mengatakan cinta padaku." Tenten tersenyum penuh rahasia.
"Lalu?" Tanya Sakura.
"Dia bertanya apakah aku mau menikah dengannya. Kyaaa…." Tenten menjerit centil membuat ketiga teman kunoichinya sweatdrop. Bukan karena cerita Tenten. Tapi lebih karena jeritan Tenten yang terdengar sangat berlebihan.
"Jadi, apa kau berhasil mencium Neji?" Tanya Ino.
"Eh?" Tenten sedikit terkejut dengan pertanyaan Ino.
"Ehm, ya. Tentu saja." Tenten mencoba menutupi kebohongannya dengan senyuman kikuk.
"Ceritakan pada kami," Sakura yang sudah melupakan kekesalannya terlihat begitu antusias.
Sementara ketiga teman kunoichinya bercerita penuh semangat dan entah keseluruhan cerita merasa benar atau tidak tentang keberhasilan bakteri cinta pemberian Shizune, Hinata lebih banyak diam mendengarkan dan bereaksi seperlunya saja.
Ketiga teman kunoichinya yang lupa tentang ketidakterkenaan Naruto akan efek bakteri cinta, mulai bergantian menceritakan perubahan sikap yang manis dari laki-laki pujaan mereka, walaupun Ino masih malu mengakui kekagumannya pada Sai.
Tawa ceria dan sindiran tak pernah absen terdengar dari obrolan keempat, tidak, ketiga kunoichi pahlawan Konoha yang terdengar sedikit melebih-lebihkan cerita mereka karena masing-masing tak ingin kalah cerita dengan temannya yang lain.
"Hihihihi, tak aku sangka kau akhirnya lebih memilih Sai daripada Sasuke, Ino." Ledek Tenten.
"Hey! Shizune-san yang membuatku melakukannya!" Ino sedikit merona malu.
"Tapi kau suka kan?" Goda Sakura.
"Tidak!" Sanggah Ino.
"Lihat-lihat wajahmu memerah karena malu." Tenten ikut menggoda.
"Berhenti menggodaku!" Rengek Ino. Hinata lagi-lagi hanya bisa tersenyum tipis menikmati kebahagiaan teman-temannya.
oOo oOo oOo
Kening Hinata berkerut. Matanya amethysnya menyipit. Wajah sendunya terlihat sekali sedang memikirkan sesuatu.
Saat ini Hinata sedang berjongkok di bawah pohon Sakura yang berguguran di taman kediaman Hyuuga. Pesona malam yang terasa indah dengan taburan bintang dan sinar rembulan yang seindah matanya bahkan tak mampu menarik perhatian gadis cantik ini. Pikirannya melayang kembali pada pertemuannya dengan teman-teman kunoichinya tadi sore.
Bakteri cinta yang dikembangkan Shizune tak dapat disangkal lagi kesuksesannya. Teman-teman kunoichinya berhasil mendapat ungkapan cinta dari laki-laki pujaan hati mereka tak lama setelah mengkonsumsi makanan atau minuman yang diberi taburan bubuk putih yang notabene adalah bakteri cinta yang diam-diam dikembangkan Shizune. Walaupun ada yang tidak terduga seperti Sai dan Ino, ataupun diluar rencana seperti Shikamaru dan Temari.
"Naruto-kun," Gumam Hinata.
'Kenapa efeknya berbeda untukmu?' Pikir Hinata dalam hati.
"Hinata-sama," Suara berat laki-laki dewasa membubarkan lamunannya. Hinata menoleh, mendapati seorang laki-laki dengan mata amethys sepertinya tengah menatap dirinya penuh selidik.
"Ada yang kau pikirkan?" Tanyanya.
Hinata menggeleng. Berdiri dan membalas tatapan laki-laki tadi.
"Tidak ada, Neji Nii-san." Bohong Hinata.
Neji menatap Hinata tajam, mencoba mencari kebohongan yang berhasil disembunyikan Hinata dengan apik dibalik senyum tipisnya.
"Baiklah. Ayo kita makan malam." Neji berbalik dan mulai melangkahkan kaki panjangnya.
"Ano, kata Tenten-chan kau melamarnya, Neji Nii-san?" Hinata terkikik geli melihat wajah Neji yang jarang sekali terlihat merona seperti saat ini.
"Ojii-sama sudah menunggu kita di dalam." Neji segera mempercepat langkahnya mencoba menghindar dari Hinata yang masih saja terkikik geli di belakangnya.
"Tunggu aku, Neji Nii-san." Setengah berlari Hinata mengejar Neji.
oOo TBC oOo
Cand mau nitip salam buat Yui Kazu-san ^^
"Hehe, Arigatou gozaimasu udah mau ketawa dengan guyonan Cand yang garing. Pairing Naruhinanya masih digodok sama produser. Xixixixi. Sok banget Cand ini. Ikuti terus ceritanya ya, Yui-san. :D"
