The Dark Heroine (Remake MinGa verse)

Disclaimer: remake from novel The Dark Heroine by Abigail Gibbs (dengan sedikit bumbu yang pas untuk pair ini); Tuhan YME, Their parents and Agency.

Cast: Park Jimin/Min Yoongi and another cast from BTS and the others; OC

Warning: Typos, AU, OOC, GS (for uke), R-18, DLDR~

Genre: Romance, Thriller, Hurt/Comfort

Summary:

pertemuan tak disengaja di jalanan gelap malam itu membawanya ke garis hidup yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya... sosok yang tak hanya menyebabkan sekujur bulu kuduknya merinding, tetapi juga membuat jantungnya berdebar hebat... Ini adalah perasaan yang mampu melampaui batas antara dunia mereka berdua... cinta itu tidak mengharapkan keduanya mengorbankan takdir masa depan mereka...

.

Last Chapter

.

.

...

Tidak butuh waktu lama untuk menghindar dari Jimin saat tanganku telah menemukan kenop pintu. Aku terhuyung keluar dan membanting pintunya sampai tertutup lagi lalu bersandar di dinding sambil menetralkan napasku. Aku membungkuk, pikiranku kalut. Sesuatu yang hangat mengalir di leherku dan aku menyusurinya dengan jariku. Saat menarik lagi tanganku, dengan ngeri, aku menatap jariku yang sekarang berwarna merah dan basah.

Mereka bukan pembunuh; mereka predator.

Pikiranku berputar dan adrenalinku terpacu di pembuluh darahku. Aku berlari ke pintu, merasa bersyukur karena kepala pelayan sudah tidak ada.

Aku harus berlari dan harus melakukannya sekarang.

.

Chapter 3

.

.

.

.

Yoongi side~

Semak berduri yang menggores kulitku dan telapak kaki telanjangku yang berdenyut merasakan ranting di bawah sana. Namun, aku tetap berlari. Tak peduli jika nanti mereka akan mengetahui jika aku melarikan diri ke hutan –jika mereka adalah vampir seperti yang mereka katakan tadi.

Tadinya aku pasti menertawakan pikiranku. Vampir? Mereka seharusnya hanya mahluk fiksi yang ditakuti oleh anak-anak dan digemari para gadis, mereka tidak nyata.

Aku menoleh ke belakang untuk memastikan apakah mereka sudah mulai mengikutiku atau tidak. Jalanan yang aku lewati mulai makin rimbun, tak ada cahaya sedikit pun yang meringsak masuk.

Bagaimana mungkin orang tidak mengetahui keberadaan mereka? Bagaimana mungkin enam vampir muncul di tengah kota Seoul dan membunuh tiga puluh orang?

Vampir. Itu konyol. Tapi..

Tiba-tiba aku membawa tanganku untuk menyetuh titik yang digigit Jimin. Titik itu sudah tidak berdarah, hanya menyisakan noda darah kering yang mudah dibersihkan. Namun, yang terasa hanya kulit halus, tidak ada apa-apa selain lubang kecil bekas gigitan Jimin.

Krakk

Terdengar suara ranting patah, aku kembali mengarahkan pandanganku ke sekeliling. Mencari dari mana asal suara itu.

Krakk

Suara ranting itu terdengar lagi dan aku kembali memicingkan mataku menembus pepohonan yang rimbun. 'Lari!' ujar suara dalam kepalaku. Aku pun kembali berlari sambil sesekali tetap mengedarkan pandangan.

Krakk

'Lari!' ujar suara dalam kepalaku lagi. Tanpa basa-basi aku mempercepat langkah lariku menembus rimbunnya pepohonan hutan. Nampak sekelebat bayangan di sampingku saat aku tengah berlari. Tanpa mempedulikan itu kupercepat langkah lariku lagi hingga kakiku membawaku keluar dari rimbunnya pepohonan hutan menuju pada hamparan rumput yang luas.

Aku terhenti dan hampir saja terjatuh ketika tanah yang kupijak longsor yang mana membuatku berjengit dan mundur sedikit. Aku mengamati keadaan sekitar, ternyata aku sedang berdiri di tepi danau kecil yang sepertinya sangat dalam dilihat dari gelapnya warna danau tersebut.

Suasana menjadi sunyi dan mencekam, tak lagi terdengar suara ranting patah atau yang lainnya. Yang tersisa hanyalah hembusan angin yang menerpa rambutku. Aku kembali menolehkan kepalaku ke belakang, menelisik gelapnya hutan, memastikan apakah mereka masih mengejarku atau tidak.

Suasana yang sunyi membuatku berlari mengitari tepi danau menuju sisi seberang danau. Dan aku kembali mempercepat langkahku ketika suara ranting terdengar lagi juga langkah kaki yang jelas mengikutiku. Saat ku menambah kecepatan, mereka pun sama menambah kecepatan mereka. Begitu aku sampai pada sisi seberang danau, disitulah aku juga melihat bahwa mereka mengitari danau. Aku merasa terkepung, aku tidak bisa lari kemana-mana. Yang bisa kulakukan hanyalah melangkah mundur dan mundur.

Tiba-tiba enam sosok melompat dari balik pepohonan, aku pun terkejut dan kembali melangkah mundur. Seakan lupa bahwa aku berdiri di tepian danau, aku pun terjatuh ke dalam danau tepat saat enam sosok itu melompat.

Aku merasakan dinginnya air danau, dan aku yakin kulitku pasti mulai membiru. Air banyak masuk ke mulutku ketika aku berteriak minta tolong, aku terbatuk dan tubuhku semakin jauh terjatuh ke dalam danau. Namun aku tak kehabisan akal, kakiku kugerakkan dengan berharap bisa segera mencapai ke permukaan. Namun pada saat aku hampir mencapai permukaan, sesuatu yang terasa seperti rumput laut melilit dan menarik kakiku menuju ke dasar danau. Dan saat aku menunduk, itu bukanlah rumput laut, melainkan tentakel, tentakel sebuah mahluk yang sepertinya adalah cumi-cumi raksasa. Aku mengerang, tak bisakah hidupku normal, sekali saja?

Dengan panik aku menyerang tentakel itu brutal. Namun nihil sepertinya cumi-cumi itu begitu menyukai kakiku, ia terus saja menarikku ke dasar danau. Paru-paruku terbakar, menuntut udara, dan aku pun menyadari tidak ada yang bisa aku lakukan selain menyerah. Pikiranku berkabut, pandanganku mengabur hingga tersisa cahaya putih. Aku rasa sepertinya aku akan mati, dan saat aku akan menutup mataku, aku melihat sosok siluet tubuh, lalu semuanya gelap.

Diculik oleh vampir, mati diseret cumi-cumi. Tragis sekali.

.

Jimin side~

"Yoongi! Bangun!" ujar Namjoon, menunduk di atas tubuh Yoongi yang lemas dan menepuk-nepuk pipinya. Saat ia aku menepuk pipinya lagi, mata gadis itu terbuka, mulutnya mengeluarkan banyak air. Namjoon bergerak menjauh, namun lain denganku, aku menghampirinya dan memberi gadis itu sebuah tamparan yang membuat pipinya memerah sempurna, hanya melanjutkan pekerjaan Namjoon yang tertunda.

Namjoon berbalik menghadapku, matanya menggelap. 'Jimin' geram Namjoon di dalam kepalaku.

Aku mengangkat bahu lalu menyugar rambutku ke belakang. "hanya memastikan." Jawabku dengan suara lantang. Gaun Yoongi menjadi transparan karena basah, dan menampilkan lekukan tubuhnya. Aku bertanya-tanya kesalahan apa yang telah aku lakukan sampai menemukan spesimen yang seistimewa ini. Namjoon melepaskan jaketnya dan meletakkannya pada pundak Yoongi sambil membantu gadis itu duduk. Sepertinya Namjoon mengetahui apa yang kulakukan.

Namun, Yoongi juga menyadari tatapanku. "Oh, Jimin, pahlawanku," ujar Yoongi disela tarikan nafasnya yang terengah, jelas sekali mengandung sindiran yang kental.

"Dan iya, kau adalah gadis yang butuh diselamatkan," jawabku sambil menarik lepas kausku yang basah.

"Hanya itu ucapan terimakasih yang bisa kau dapatkan, jadi saranku, terima saja," gumam Yoongi, jelas sekali gadis itu berpikir bahwa aku tidak tahu kalau ia mencuri pandang ke arah dadaku yang telanjang. Aku mengabaikannya, lalu beralih menyuruh Taehyung dan lainnya untuk kembali ke rumah. Tentu bukan masalah bagiku dan Namjoon untuk mengatasi gadis manusia yang baru saja tenggelam ini, walaupun gadis itu sedikit galak.

Namjoon mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri, namun gadis itu terjatuh lagi, mata Yoongi tidak fokus. Namjoon menangkap Yoongi dan aku melangkah maju, menghela nafas, menghadapi fakta bahwa aku akan menggendongnya. Mata Yoongi berputar saat gadis itu menggeliat dan mengubur diri dalam pelukan Namjoon.

"Kau bawa dia," kataku pada Namjoon, menduka bahwa Yoongi tidak akan terlalu galak bila bersamanya. Namjoon membisikkan beberapa kalimat penenang di telinga gadis itu, yang membuatnya seketika menjadi sejinak anak kucing. Aku menaikkan sebelah alis pada Namjoon, yang dibalas dengan kedipan mata. Lalu Namjoon menggendongnya, membawanya membelah hutan, aku pun mengikutinya dan mendahului mereka.

Di belakangku aku mendengar Yoongi bertanya bagaimana bisa ada mahluk cumi-cumi besar di danau itu. Dan diajawab oleh Namjoon dari mana mahluk itu berasal dan dari siapa kami mendapatkannya.

Kabut telah terangkat di sekitar kami, dan lahan yang membentang sudah tampak jelas. Aku mengangkat tangangku dan menyentuh tangan Yoongi. Seketika itu juga aku diserang oleh emosi dan pikiran Yoongi. Segala amarah, emosi, ketakutannya pada air yang banyak dan berenang hingga kejadian di alun-alun Gwanghwamun, yang terus berulang seperti kaset kusut. Cuplikan teman dan keluarganya juga terbesit, namun ada seorang lelaki paruh baya yang menarik perhatianku, saat ku akan melihatnya lebih jauh, pria itu menghilang, dengan segera aku terhempas dari pikiran Yoongi, terdorong keluar.

Langkahku terhenti dan langsung berbalik ke arah belakang. "Sweety, apa nama keluargamu?"

"Min" jawab Yoongi. "Aku sudah mengatakan—"

"Siapa ayahmu?" tuntutku.

"Dia orang yang sangat berkuasa," kata Yoongi dengan angkuh.

"Berhentilah merajuk, tidak cocok untukmu," tegurku. "Lagi pula, alu berani mempertaruhkan semua warisanku bahwa ayahku pasti bisa mengalahkan kekuasaan ayahmu. Tapi, siapa namanya? Apa pekerjaannya?"

Yoongi menaikkan dagunya dengan bangga. "Min Jaehyun, dan dia Menteri Pertahanan."

Aku bertukar pandangan dengan Namjoon, yang terlihat akan menjatuhkan Yoongi.

"Sial," gumamku.

"Kali ini, kau kena batunya, Jimin," erang Namjoon padaku, matanya berubah tak berwarna, serasi dengan milikku sendiri yang menandakan kekhawatiran kami. Yoongi menatapku, saat aku balik menatapnya, ia membuang muka dan aku lega, meskipun Yoongi berlidah tajam, aku masih memiliki kekuatan untuk mempengaruhinya. "Sang Raja tidak akan menyukai ini," tambah Namjoon.

'tentu saja ia tak akan menyukainya. Begitu pula dengan Dewan.' Aku terdiam dan kembali berlari menuju mansion. Aku sudah memiliki banyak masalah dengan Dewan, hingga mereka tidak meragukanku sebagai calon pewaris tahta. Membawa putri seorang yang berpengaruh di pemerintahan ke dunia kami dianggap pelanggaran serius, bahkan bisa dibilang sebagai dosa besar.

'kenapa aku tidak membunuhnya saja?'

Saat Namjoon mendahuluiku, aku menarik pergelangan tangan Yoongi, menariknya menaiki tangga. Yoongi meringis dan sedikit berjengit, aku melihat luka di kakinya yang membuatku menghela nafas pasrah dan kembali menariknya lagi.

"Apa yang kau lakukan?" tuntut Yoongi, berdiri tegak walaupun tahu ia pasti tidak nyaman dengan perih di kakinya.

"Keluar dari kekacauan ini," merasa lega saat melihat kakak perempuanku, Seokjin, menunggu di depan tangga.

Seokjin memasang wajah cemberut, yang terlihat tidak cocok dengan wajahnya yang bak boneka. Ia menarik tangan Yoongi tanpa mengatakan apa-apa, yang malah memfokuskan perhatiannya padaku.

"Kali ini kau benar-benar membuat kekacauan besar, Adikku" geram Seokjin. Yoongi menatap Seokjin yang lebih tinggi dan ramping dengan tatapan takjub. Seokjin mengabaikannya, seolah terbiasa dengan perlakuan itu. 'bersenang-senanglah dalam perang manusia yang kau picu,' lanjut Seokjin dalam pikiranku, lalu langsung menaiki tangga dengan menggandeng putri Min Jaehyun.

Aku tidak menghawatirkan perang apapun, karena merasa bahwa aku tidak akan sampai menyaksikannya. Terlebih saat sang Raja datang dengan rau wajah murka di aula depan.

Namjoon langsung berlutut dan membungkuk, memejamkan mata dan menyilangkan tangannya. "Your Majesty."

Aku menegakkan tubuh dan meletakkan tanganku kebelakang, mencoba fokus ke mata abu-abunya yang menatapku tajam. Beralasan bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang Yoongi tidak ada gunanya, jadi aku siap menerima terjangan badai dengan seantusian mungkin. "Selamat pagi, Ayah. Aku membawakanmu sarapan."

.

Yoongi side~

"Ini," ujar gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Seokjin. Ia tersenyum saat kami berhenti di depan pintu yang berada di bagian tengah koridor besar yang terbuka. Seokjin membuka pintu, lalu masuk. Aku ragu sejenak, namun setelah beberapa saat, aku mengikutinya.

Ruangan itu sangat luas dengan desain yang mewah. Bahkan, terdapat beberapa jendela melengkung yang birainya cukup luas untuk diduduki.

Aku duduk di sana saat Seokjin menyibukkan diri, menumpuk beberapa barang dan mengatakan sesuatu, yang aku hanya sedikit mendengarnya. "Itu ruang gantinya di sebelah sana. Kami akan membawakan beberapa barang untukmu, tetapi hingga saat itu, kau bisa mengenakan pakaianku, mengingat kau tak jauh lebih besar dariku. Kamar mandinya ada di seberang lorong." Seokjin mengerutkan kening. "Kami pikir mungkin sebaiknya kau tidak menempati kamar yang dilengkapi kamar mandi, tapi di ruang ganti ada wastafel jika kau membutuhkannya," tambah Seokjin ceria. Seokjin tersenyum lagi, tetapi senyuman itu memudar saat ia berbalik ke arahku. "Kau tidak suka bicara, ya?"

Aku menatap Seokjin. 'jika dia berpikir aku akan mengobrol layaknya teman akrab dengannya, dia pasti sudah gila.' Apalagi saat ini aku merasa tidak enak badan, aku tak yakin sudah memuntahkan semua air kotor danau tadi.

Seokjin terlihat salah tingkah. "Yah, sebaiknya kau melepaskan pakaianmu, jadi aku akan meninggalkanmu sendirian." Ia mulai berjalan keluar, lalu berhenti. "Aku akan meminta pelayan membawakan makanan untukmu. Kau vegetarian, kan?" tanya Seokjin. Aku membelalakkan mata, 'dari mana Seokjin mengetahuinya?'

Aku tidak menjawab, dan setelah lama berdiri di sana, Seokjin membuka pintu, melangkah keluar, namun sebelumnya aku bicara.

"Kau tidak terlihat seperti pembunuh," cetusku.

Seokjin tertawa, seperti orang dewasa menertawai pertanyaan anak-anak. "Itu karena aku memang bukan pembunuh." Setelah mengatakan itu, ia menutup pintu, lalu pergi.

Segera setelah Seokjin pergi, aku berlari ke ruang ganti yang luasnya seluas kamarku di rumah. Aku menunduk di wastafel dan tersedak beberapa kali, berharap bisa memuntahkan semua isi perutku. Akhirnya, aku benar-benar muntah.

Setelah mencipratkan air di wajahku, aku meminum air yang ku tampung dengan menangkupkan telapak tanganku. Sesekali aku memalingkan melihat cermin saat melihat lagi bagaimana Oh Sejun terkulai di trotoar, mati mengenaskan.

'Seharusnya kau tidak memikirkan hal itu,' ujar suara di kepalaku. 'Fokus pada keselamatanmu sendiri.'

Pendapat itu benar juga, dan aku berusaha keras untuk memalingkan diri dari cermin, untuk menuju ruang ganti. Pakaian lengkap sudah disediakan untukku dan aku mengambilnya, merasa lega dapat melepaskan gaun basah dan koyak dari tubuhku. Pakaian itu sedikit kecil, namun aku tak mempermasalahkannya, yang penting pakaian itu kering.

Saat aku keluar ruang ganti, sudah ada baki yang berisi segelas air, sepiring sandwich dan secarik kertas. Aku mengambil segelas air dan meminumnya dengan sekali teguk lalu mengambil secarik kertas itu tanpa menyentuh sandwichnya. Aku membuka lipatannya, dan terdapat tulisan tangan yang tak bisa dibaca saking jeleknya.

'Yoongi,

Kau bebas berkeliaran di rumah ini kapan pun kau mau, tapi jangan pergi keluar rumah. Jika kau berpapasan dengan ayahku, membungkuklah dan sapa dia dengan sebutan "Your Majesty." Jika ada yang kau butuhkan, aku akan berusaha sebaik mungkin –minta saja pada pelayan untuk memanggilku.

Park Seokjin

PS. Pembunuh membunuh untuk kesenangan. Vampir membunuh untuk bertahan hidup.'

Aku membacanya dua kali sebelum meremasnya menjadi bola, lalu melemparnya ke sudut ruangan. "Persetan denganmu," gumamku, berjalan ke pintu dobel, mencoba memutar kenopnya selama semenit, yang ternyata terkunci. 'Aku rasa mereka tidak mau mengambil risiko. Toh, aku juga tidak cukup bodoh untuk melompat dari balkon.'

Aku menyenderkan kepalaku ke pintu dobel yang dingin, menghantamkan kepalanku beberapa kali, merasa frustasi dan menyadari pertahananku mulai runtuh. Aku tahu aku sudah tidak kuat menahannya lagi, mataku panas, aku menangis. Harapan yang kusimpan mulai lenyap, tergantikan rasa frustasi tentang tidak dapt menghadapi ini lagi.

Aku berjalan lagi ke kamar, menarik selimut besar dari tempat tidur, melilitkannya di bahuku saat aku bergelung di jendela, mendengar suara air hujan yang jatuh membuatku mengantuk; setelah beberapa saat gerimis berubah menjadi hujan deras yang membasahi halaman. Hujan pagi hari biasanya mengagumkan, tapi ini terlihat suram, saat aku membayangkan berjalan dibawahnya.

'Sungguh klise,' pikirku saat mendengar sambaran petir. Badai. Aku memejamkan mata, menahan air mata saat salah satu jam di mansion ini berdentak sembilan kali.

'Aku tidak akan menangis karena sekelompok pembunuh sadis. Tidak akan.'

.

Hujan masih turun dengan derasnya saat aku terbangun. Diluar sana gelap, selimut yang kukenakan telah merosot dan terjatuh di lantai. Beberapa tetes air terjatuh saat aku menjauhkannya dari jendela. Tanganku terangkat ke leher. Vampir. Itu benar-benar gila.

'Tapi, kau tidak bisa menyangkalnya,' ujar sebuah suara, dan aku tidak menggeleng, berusaha menutupinya dengan pikiran lain.

Beberapa tetes air hujan mengalir dari bagian atas jendela. Aku mengerjapkan mata. Di balik kelopak mataku yang terpejam, aku bisa melihat tubuh yang bersimbah darah tergeletak di trotoar.

'tidak, aku tidak bisa menyangkalnya. Aku tidak mau menyangkalnya. Jika aku melakukan itu, berarti satu manusia menyangkal keberadaan manusia lain. Vampir adalah monster. Monster melakukan hal yang mengerikan. Manusia tidak.'

Jam di sampingku menunjukkan pukul lima pagi. Aku mengucek mata, menyadari bahwa baru kali ini aku bisa bangun sepagi ini dan sekarang pasti sudah berganti hari, 1 Agustus. Hari pertama. Satu hari sudah cukup untuk polisi menemukan saksi, menyiapkan tim pencari dan mulai menemukanku. Ada banyak sekali bukti. Temanku, sepatuku yang tertinggal, pria yang bekerja untuk ayahku yang sempat kulihat malam itu, namun pria itu diam saja.

Aku ragu, bagaimana jika pria itu tahu tentang keberadaan vampir? Bagaimana jika ia tidak melakukan apa-apa karena takut membahayakan hidupnya sendiri? Rasanya tidak berlebihan jika aku menduga orang di pemerintahan mengetahui keberadaan vampir—seseorang pasti tahu tentang mereka.'jika pria itu tahu dan tidak melakukan apa-apa, apakah berarti mereka tidak akan mencariku?' Aku tidak mau memikirkannya. Ayahku pasti mencariku, ia tidak akan menelantarkanku, bahkan sekali pun harus berhadapan dengan vampir.

'benarkah begitu?' ujar suara dalam kepalaku.

Aku melirik kertas Seokjin yang tergeletak di karpet. Aku mengambilnya dan membacanya lagi, ia mengatakan aku bebas berkeliaran di rumah ini, dan aku sangat ingin mandi.

Aku menjatuhkannya lagi, lalu berjalan menuju pintu sambil memasukkan sandwich ke mulutku. Aku mendekatkan kupingku ke pintu, sunyi, sepertinya tidak ada orang, tapi pintu ini terbuat dari kayu tebal yang mungkin dapat meredam suara. Aku menarik napas panjang sebelum membuka pintu dan mendapati koridor yang kosong. Aku melangkah lurus menemukan pintu sesuai arahan Seokjin. Namun sejajar dengan kamrku, terdapat sebuah pintu dobel berpanel yang tidak terlihat seperti pintu jika saja tidak ada bilik dan lampu gas di sisinya. Aku berjalan menuju pintu dobel itu dan bersiap kembali ke kamar bila perlu.

Sepi, aku pun merasa santai dan memberanikan diri memegang kenop salah satu pintu lalu memegang kenop yang lain dengan tanganku yang satunya. Kuputar bersamaan dan pintu sebelah kiri terbuka, aku menatapnya. 'Haruskah aku masuk?'

Saat hendak menutup pintu itu lagi, aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Jantungku berdebar dan aku melompat masuk, menutup pintu dengan sangat pelan, agar tidak terkunci.

Aku menunggu, saat dirasa sudah sunyi lagi, aku mengamati ruangan yang kumasuki. Ruangan itu sangat besar—jauh lebih besar dari kamar yang ku tempati. Desainnya lebih mewah dari kamar yang kutempati dengan aroma kolonye mahal. Di atas perapian terdapat sebuah lukisan dua orang, yang aku yakini itu adalah orang tua Jimin saat masih muda, dilihat dari kemiripan si laki-laki dan dapat dipastikan mereka berdua juga vampir.

Aku memutari tempat tidur dengan langkah sangat pelan, nyaris tersandung gitar yang menonjol keluar dari kolong tempat tidur. Menuju perapian, berjinjit sedikit untuk menyentuh lukisan itu, berdebu. Lalu aku mengambil salah satu majalah dari lemari, membersihkan debunya dan langsung mengembalikannya lagi ke lemari. Bergegas keluar, menyadari siapa pemilik kamar ini.

"Sial," gumamku. Aku tak peduli jika ada orang lain di koridor, aku langsung menuju kamar mandi. Pintu terbanting di belakangku dan beruntung ada palang yang langsung aku turunkan.

Aku kembali terkejut akan kemewahan kamar mandi itu. Aku memandanginya takjub cukup lama, bersih, itulah yang ada di depanku saat ini. Aku sempat kebingungan dengan tombol pancuran, mengotak-atiknya hingga airnya keluar. Aku pun mulai menanggalkan pakaianku, lalu berhenti saat menatap cermin.

Tubuhku sangat kacau, rambut berantakan, lumpur di mana-mana, dan juga bekas darah. Aku yakin diriku saat ini sangat bau dan penampilanku sangat mengenaskan. Aku menggeleng, lalu kembali melepas sisa pakaianku dengan perasaan jijik dan marah. Membiarkan tubuhku dan ototku yang pegal diguyur oleh air hangat. Setelah selesai dengan acara mandi, aku kembali mengenakan pakaianku tadi, kaus dan celana jeans, lalu kembali ke kamar. Kuedarkan pandanganku, kamar ini sudah ditata rapi, bahkan selimut tadi sudah kembali ke tempat asalnya.

Aku merasa lapar saat menyadari piring makanan sudah di ambil. Aku mencoba mengabaikannya dan memilih duduk di tempat tidur. Namun perut keroncongan ini tidak bisa membohongi, aku harus mencari Seokjin untuk meminta makanan. Sepertinya, Seokjin tidak begitu buruk, namun aku masih enggan meminta bantuannya.

Di luar koridor, masih sepi. Aku melewati pintu dobel, merasa gugup akan fakta bahwa kamar tersebut sepertinya milik Jimin. Saat mencapai bagian atas tangga aku menjulurkan badan, berharap bisa bertanya dimana Seokjin berada. Namun, tiba-tiba Namjoon muncul dari koridor bawah, aku kaget dan berusaha menyembunyikan diri yang nyatanya sia-sia karena ia telah melihatku.

"Selamat pagi," sapa Namjoon ceria. Aku tidak menjawab, memilih menggeser tubuh ke pagar tangga, menatap Namjoon was was. "Lapar?" tanya Namjoon. Menyinggung lapar, perutku bergemuruh lagi, Namjoon tergelak. "Aku rasa begitu. Ayolah, aku akan mencarikan sesuatu untukmu." Ia memberiku isyarat untuk mengikutinya ke arah ruang santai, aku terdiam. Saat ia menyadarinya, ia berhenti dan kembali tersenyum. "Aku tidak akan melakukan apa pun terhadapmu. Aku janji."

Namjoon terlihat cukup tulus, aku pun menuruni tangga dan menghampirinya. Ia membuka pintu dan membiarkanku masuk kemudian kami melewati pintu yang lain. Saat memasuki dapur, suasana modern kembali terasa.

Namjoon memutari meja dan mulai mencari di lemari. "Apakah kau suka roti bakar?" tanya Namjoon, kepalanya dijulurkan ke atas konter. Aku mengangguk sambil duduk di salah satu kursi. "Kalau begitu roti bakar saja." Aku mengamati Namjoon melakukan semua itu dengan cekatan. Namjoon bertemu pandang denganku.

"Hei, aku tahu aku sangat seksi, tapi kau tidak perlu menatapku seperti itu." Seringai lebar tersungging lebar di bibirnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Wajahku semerah tomat, lalu menunduk ke arah lantai sebelum beralih lagi ke arah Namjoon. "Aku tidak menatapmu."

Namjoon mengangkat tangannya ke udara. "Tentu saja," kata Namjoon sambil terkekeh. "Tapi, senang melihatmu bicara. Aku mendapatkan kesan kau bukan tipe pemalu."

'Dia benar,' pikirku. 'Biasanya, aku memang bukan pemalu, tapi toh, biasanya aku juga tidak menjadi tawanan vampir.'

Aku masih mengamati Namjoon yang membuka pintu kulkas untuk mengambil mentega dan sebelum pintu tertutup aku melihat botol tinggi berisi cairan merah yang aku yakini bukan anggur. Aku bergidik.

"Aku minta maaf karena tidak bisa membuatkan makanan yang lebih lezat dari roti bakar, tapi di sini kami memang hanya menyediakan cemilan," jelas Namjoon sambil mengoleskan mentega pada roti bakar. "Biasanya pelayan memasak di bawah saat kami menginginkan makanan sungguhan dan bukannya darah."

Namjoon mendorong piring ke arahku, mengamati wajahku, lalu kembali bicara. "Baiklah, kau punya pertanyaan."

Aku mengangguk, menggigit bibir bawahku. "Apakah aku boleh menanyakan apa saja?"

Selama sedetik, terbesit sedikit keraguan di wajan Namjoon, tapi kemudian hilang dengan cepat. "Tentu saja," jawab Namjoon. Selama semenit hanya hening antara aku dan Namjoon, ia menuangkan jus ke gelas dan mendorong gelas itu padaku.

"Semua ini sungguhan, benar kan?"

Namjoon meletakkan sikunya ke konter, menatapku kagum. "Iya. Kenapa?"

"Aku tidak mau memercayai semua ini,tapi aku percaya. Aku sudah melihat terlalu banyak untuk bisa percaya." Aku menunduk. "Sudah berapa banyak orang yang pernah kau bunuh?"

"Aku tidak yakin apakah bijaksana mengatakannya kepadamu," gumam Namjoon.

"Berapa banyak?" ulangku.

"Ratusan, mungkin ribuan... aku sudah tidak menghitungnya," jawab Namjoon. Aku terkejut, bergeser menjauh dari Namjoon. 'sebanyak itu?' Ia menggelengkan kepalanya. "Jangan menatapku seperti itu; jumlah itu termasuk sedikit mengingat aku sudah berusia dua ratus satu tahun." Mata biru Namjoon berubah hitam.

"Bagaimana dengan yang lain?" bisikku, suaraku terdengar serak karena aku berusaha menahan ketakutanku.

"Jimin, mungkin sudah ribuan, dan Taehyung, sekitar tiga puluh orang, tapi itu hanya karena ia belum matang sepenuhnya. Aku tidak yakin dengan yang lain."

Tanganku mencengkeram tepi konter, membuat sisi itu terasa hangat. "Tidak bisakah kalian meminum darah dari pendonor?"

"Bisa."

"Tapi, kalian memilih untuk membunuh."

"Tidak," desis Namjoon, dan aku terkejut oleh perubahan suaranya yang tiba-tiba. "Kami memilih untuk minum dari manusia. Kami tidak pernah berniat membunuh mereka."

"Oh, aku mengerti," cetusku. "Apakah kalian memang berencana membunuh semua orang di alun-alun Gwanghwamun? Karena kelihatannya kalian bukan sekadar mampir untuk minum."

Alis Namjoon diturunkan. "Itu berbeda."

"Kenapa?"

Namjoon tidak menjawab, dan aku memfokuskan lagi perhatianku ke roti bakar. Aku merinding melihat bagaimana Namjoon menganggap orang-orang yang telah dibunuhnya hanya sekadar angka, bukannya orang-orang yang memiliki impian juga orang yang mencintai mereka. Aku bahkan lebih merinding saat Namjoon menganggap tindakannya tidak salah dan berharap aku berpikiran sama. Mereka adalah mangsanya, mungkin akan lebih mudah bagi Namjoon untuk berpikir seperti itu.

"Aku tahu kau berpikir kami adalah pembunuh, Yoongi. Dan, aku tahu akan melakukan apa pun untuk keluar dari sini. Tapi, mungkin, demi kebaikanmu sendiri, akan lebih baik jika kau menyimpan penilaianmu terhadap kami sampai kau lebih mengenal kami."

Aku tetap menatap piring, takut Namjoon akan melihat alisku bertaut tidak percaya. 'Aku tidak akan mengenal kalian dengan lebih baik,' pikirku. 'Aku tidak akan berada di sini terlalu lama.'

'Jangan terlalu yakin,' ejek suara di dalam kepalaku sambil terkekeh. Aku tidak sedang membayangkan, tapi itu suara sungguhan bergema di dalam kepalaku. Aku mendengar Namjoon mengucapkan sesuatu, aku mengerjap beberapa kali, berusaha mendapatkan akal sehatku kembali.

"Apa maksudnya belum matang sepenuhnya?"

Namjoon berjalan ke konter meraih kursi di sampingku. Aku menggeser kursiku ke belakang. "Kita mengubah topik pembicaraan, ya?" Mata Namjoon kembali berwarna biru. "Vampir yang matang sepenuhnya berarti vampir dewasa."

Saat melihat wajahku kebingungan, ia tersenyum. "Seorang vampir terlahir dari orangtua vampir—iya, sebagian besar vampir memang terlahir sebagai vampir dan bukannya diubah menjadi vampir," tambah Namjoon menyela perkataannya sendiri. "Orang yang terlahir sebagai vampir, biasanya akan tumbuh normal sampai ia berusia delapan belas tahun. Jadi, pada setiap tahunnya akan terlihat setahun lebih tua. Mereka belum spenuhnya matang, jadi mereka sedikit lebih lemah dan tidak sehaus vampir dewasa. Taehyung berusia enam belas tahun, jadi dia masih belum matang sepenuhnya sampai dua tahun lagi. Kau mengerti?"

Aku menjentikkan remah roti di piring. "Bisa dikatakan begitu. Tapi, apa yang terjadi jika vampir mencapai usia delapan belas tahun?"

Aku kembali menjentikkan remah roti lain tetapi piringnya miring dan terjatuh. Aku meringis, menunggu piring itu pecah. Namun nihil, karena Namjoon menangkapnya sebelum menyentuh lantai. Dengan santai, ia meletakkan kembali piring itu di konter.

"Kami menjadi lebih cepat dan lebih kuat," lanjut Namjoon dengan suara pelan, mengamatiku yang sedang mengamatinya, mulutku melongo lebar. 'Namjoon bergerak dengan sangat cepat, sangat mudah.' "Dan, kami masih bisa menua, tapi dengan sangat lambat. Berabad-abad bisa berlalu, tapi penampilan kami mungkin hanya menua setahun."

"Jadi, vampir bukan mahluk abadi?" tanyaku mulai sedikit tertarik.

"Secara teori, bukan. Tapi karena proses penuaan kami berlangsung dengan sangat lambat, secara praktiknya kami bisa dianggap mahluk abadi. Vampir tertua di kerajaan ini berusia ribuan tahun dan dia masih sangat tangguh."

"Wow," gumamku. Tak bisa kubayangkan hidup selama itu. Ada ribuan pertanyaan yang mengubur ketakutanku sebelumnya. "Bisakah kalian berada di bawah sinar matahari?"

"Iya, tapi dengan risiko terbakar matahari cukup parah. Jadi, mendorongku keluar tidak akan membunuhku, jika memang itu yang kau rencanakan," ujar Namjoon, memasang wajah lucu dan berpura-pura meleleh. "Dan, jika kau berpikir untuk melemahkanku, memberiku roti bawang putih hanya akun membuat mulutku bau; membelikan aku kalung salib hanya akan membuatku terlihat alim; dan menyiramku dengan air suci hanya akan membuatku berbau harum."

Aku mendengus mendengarnya. "Kalau begitu, bagaimana caranya membunuh vampir?"

"Kau bisa menikamkan pasak ke jantungnya, lalu mematahkan lehernya, atau kau bisa mematahkan dan menggigit lehernya, atau mengisap darahnya hingga kering," jelas Namjoon, ada kilat jail di matanya. "Mayat mereka biasanya dibakar meskipun kau tidak harus melakukan itu."

"Brutal. Apakah kalian bisa berubah menjadi kelelawar?"

Bibir Namjoon bergetar, menahan tawa. "Tidak."

"Apakah kalian bisa menyeberangi air yang mengalir?"

"Bisa."

"Bisakah kalian masuk ke rumah tanpa diundang?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena itu tidak sopan. Dan, untuk menjawab pertanyaanmu selanjutnya, satu-satunya cara manusia bisa menjadi vampir adalah jika darah mereka dikeringkan oleh vampir sementara di saat yang sama mereka juga meminum darah vampir, dan iya, mata kami berubah warna sesuai suasana hati kami."

Aku menyilangkan lenganku di depan dada, dan bergeser menjauh lagi. "Dari mana kau bisa tahu aku akan menanyakan itu?"

Namjoon mengetuk pelipisnya dengan satu jari sambil menyeringai, pipinya menjadi bulat dan tembam. "Membaca pikiran."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Kau serius?"

"Iya, dan kami juga bisa telepati, tapi tidak dengan manusia," jelas Namjoon gamblang. "Aku akan mengatakan sebuah rahasia kepadamu. Selama kau di sini, kunci semua hal privat di dalam pikiranmu dan fokuslah pada satu hal saja jika seseorang mencoba menerobos pikiranmu. Aku tahu itu kedengarannya gila, tapi kau akan berhenti tersenyum saat menyadari ada sebagian orang di sini yang tidak menghargai privasimu."

Aku berhenti tersenyum. "Seperti Jimin?"

"Mungkin." Namjoon mengangkat bahu, berputar di kursinya untuk menoleh ke belakang. "Omong-omong..."

Jimin muncul di samping kulkas, dan dalam sekejap ada pemuda berambut gelap dan berkacamata duduk di kursi di sampingku. Lalu mulai membaca surat kabar yang dibwanya, sesekali mengintip dari balik kacamatanya.

Ada banyak vampir yang datang. Ketenangan yang baru saja kudapatkan bersama Namjoon menguap dengan cepat.

"Pagi, sudah kubilang pakaianku pasti pas untukmu," ujar Seokjin ramah. "Dan aku dengar pasukan kasar ini belum memperkenalkan diri," tegur Seokjin. "Itu Jackson." Seokjin menganggukkan kepalanya ke arah pemuda berambut terang, yang merespons dengan anggukan. "Yang itu Hoseok." Pemuda berambut merah melambaikan tangan. "Dan, yang ini Jongin." Pemuda yang terakhir mengangkat kepalanya dari atas koran.

"Aku yakin kau senang bertemu kami," ujar pemuda itu dengan satoorinya yang khas.

"Kau sudah mengenal saudara-saudara lelakiku yang bodoh." Seokjin mencubit pipi Taehyung, dan pemuda itu mendorong Seokjin menjauh sambil mengerang malu. "Dan, tentu saja, Namjoon." Seokjin tersenyum, dan duduk di sisi lain Namjoon saat gelas berisi darah dibagikan.

"Jimin," gumam Jongin dengan serius sambil membalik halaman surat kabar, "kau harus melihat ini."

Jimin mendekat, dan tanpa mengatakan apa-apa Jongin menggeser surat kabar itu agar Jimin bisa membacanya. Aku sedikit menggeser kursi, dan mengintip dari balik bahu Jimin, agar bisa ikut membaca. Mataku membelalak.

Halaman itu didominasi oleh foto alun-alun Gwanghwamun yang diambil dari udara. Alun-alun Gwanghwamun diberi garis polisi dan tertutup dari mata publik. Foto itu hitam putih, tapi area trotoarnya menggelap karena kubangan darah. Dan tajuk utamanya adalah PERTUMPAHAN DARAH SEOUL: PEMBUNUHAN MASAL DI ALUN-ALUN GWANGHWAMUN.

Aku menyadari kalau sudah berdiri dan mencengkeram meja, berjuang keras untuk bisa tetap berdiri.

.

.

.

~TBC~

.

.

P.S:

Annyeong readers... yoonrae balik lagi nih. ada yang kangen gak? kayaknya ga ada deh.

maaf ya apdetnya lamaaaaa banget. kemaren-kemaren lagi stres ngurus univ dll. baru fresh sekarang, mian ne~

oiya mau ngasih tau, kalo mulai chapter ini sampe chapter kedepannya semua part adalah yoongi side, kecuali beberapa jimin side.. biar kita enak bacanya dan aku enak nulisnya muehehehe. dan mohon dimaafkan kalo emang kurang panjang.

ah sudahlah, cukup cuap cuapnya. oiya jangan lupa follow ig ku ya. dua duanya kalo bisa (lihat di bio). kuy rame in ig ku, yang mau kenalan juga boleh, orangnya baik kok kayak jimin tapi kadang ngeselin kayak yoongi.

oke sekian dan terima kasih. bay bayy~

yang review login kubales lewat pm dan terimakasih buat yang udah mau baca, untuk siders makasih viewnya juga buat yang fav sama fol.

RnR juseyo~

MRR_Kj