[4/?]

Karena readers bilang chap sebelumnya kepanjangan, untuk kali ini d(ick) buat singkat-singkat saja ^^

Dan maaf, ini romance dan humor yang gagal -_-! Juga membosankan.

TFR = Thanks For Review

Re-Panda68 : Chap 3 emang fokus ke Kris. 7 Hours ini sebenarnya menceritakan Kris dan Tao, dimana ternyata mereka mempunyai rahasia. Maaf kalau mengecewakan ^^'

chea sansanurui' : Kai kan manis #kedip-kedip alay. D(ick) rasa Tao emang terlahir sebagai uke-_-. Kris dan Tao punya rahasia masing-masing. Selama 7 jam ini semua akan terungkap.

ayp : ChanKai kalau disatuin gimana? #hapadeh. Aa, bertelur? Maksudnya Kris yang buat Tao bertelur? #yadongmodeon.

LVenge : Waktu distudy tour ya, d(ick) gak kepikiran -_-. Anggap aja Kris punya kamar sendiri secara dia tuan muda Wu XD. Kepanjangan? Ini udah d(ick) pendekin. Semoga enggak membosankan.

krispandataozi : Aih, pada dasarnya d(ick) gak pinter buat romance. Selalu gagal jadinya aneh. Disini masih mengungkap rahasia masing-masing, jd kayaknya romancenya pending dulu. Mian.

7D : Kris cuma sial punya ortu aneh, itu aja kok XD. Secepatnya KrisTao jadian.

7 HOURS

LullabyDick

Presents

.

.

"Kau latihan wushu dimana?" Tao bertanya setelah mendengar cerita singkat Kris dan menjadi tahu asal muasal tim Waka-Waka sekaligus kehidupan Kris sendiri.

Kris menjadi gugup, "Aku sudah lupa." –Dan itu lah kebohongan Kris. Tuan muda Wu kita ini masih tidak mau mengatakan kalo dirinya telah lama mengenal Tao.

"Eum... bisakah kita kembali ke matras?" bisik Tao lirih. Tao baru menyadari posisi mereka selama perkataan Kris begitu intim. Kepala Tao yang bersender didada Kris sementara Kris sibuk mengusap surai kehitaman Tao. Masih dalam keadaan berdiri.

Wajah Kris memerah. "A! Ma-maafkan aku." Kris melepas tangannya dari tubuh Tao. Alhasil Tao dan Kris saling salah tingkah. Dimana Kris yang menggaruk rambutnya yang jelas tidak gatal dan Tao yang menatap sepatunya.

Ada perasaan tidak rela saat pelukan itu terlepas –perasaan keduanya.

Tapi, disini status mereka bukanlah apa-apa. Hell! Kris menggigit bibir ketika mengingat status. Apa tadi ia berharap ia dan Tao memiliki hubungan err –lebih?

Tao yang pertama kembali duduk dimatras, disusul Kris kemudian.

"Kau bisa merapat padaku Kris. Aku tahu ini sangat dingin." Tao menopang dagunya pada kedua lutut yang Tao rapatkan sampai ke dadanya. Tidak berani melirik Kris saat menawarkan hal itu.

Kris tertegun namun, "Baiklah." Rasanya Kris ingin melompat kegirangan saat ini juga. Girang? Kris memutar bola mata, 'sepertinya aku benar-benar error berada lama didekat Tao'.

Kris memilih duduk disamping Tao hingga badan mereka saling bersentuhan. "Boleh aku memelukmu?" Kris menelan ludah kasar saat mempertanyakan itu. Percayalah, Kris sangat gugup mendengar balasan Tao.

"Lakukan saja." Suara Tao melemah. Tao semakin menyelusupkan wajahnya pada lutut. Menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas disana.

Kris segera melingkarkan tangannya dibahu Tao. Membawa tubuh Tao lebih merapat dan merapat padanya. Sampai Kris bisa mencium aroma shampoo dari surai kehitaman Tao.

Jantung Kris berdetak keras. Dia tidak perduli Tao mendengarnya atau tidak –yang pasti, Kris merasa sangat bahagia bisa dekat dengan Tao.

Dan ternyata Tao juga merasakan hal sama, jantung yang berdetak keras dan rasa bahagia.

Setelah beberapa menit tidak ada yang mengeluarkan suara.

Tao akhirnya memulai pembicaraan, "Apa yang kau harapkan saat dingin seperti ini?"

Kris berpikir sejenak. "Aku ingin sekali meminum Orange Milk Tea buatan kafe itu."

7 HOURS

Flashback

Tao memutar bola mata bosan melihat pengasuhnya di Seoul itu lagi-lagi terlambat bangun dan mondar-mandir tidak jelas. Padahal Tao yang masih duduk disekolah menengah pertama sudah memakai seragam dan duduk manis menikmati roti bakar buatannya.

"Tao! Apa kau melihat dasi garis putih-biru ku?"

"Dua hari lalu hyung mencampakkannya dibawah tempat tidur."

"Terimakasih." Lalu, "Tao! Aku tidak bisa menemukan ijazah ku! Bantu dulu!"

Tao melirik arloji nya, dia masih punya 20 menit lagi sebelum berjalan 10 menit dan bel berbunyi. Akhirnya Tao memutuskan membantu Kyuhyun –sang pengasuh.

5 menit mencari, Tao menemukannya dibalik timbunan kertas-kertas entah-apa-itu diatas meja Kyuhyun.

"Terimakasih."

"Hm."

Baru saja Tao akan keluar, "A-Tao!" Tao berbalik dan memberi tatapan tajam kepada Kyuhyun. Dan seratus persen tidak mempan bagi orang bebal seperti Kyuhyun.

"Kau menerima tawaran bibi Jung untuk bekerja dikafenya?"

"Begitulah. Lagipula aku menyukai saat bibi Jung mengajariku membuat teh."

"Aku tidak mau eomma dan appamu mengira aku menyuruhmu berkerja Tao." Wajah Kyuhyun berubah datar. Mahasiswa yang telah lulus beberapa bulan itu memang dilimpahkan tanggung jawab terhadap Tao.

"Hyung tenang saja. Aku sudah memberitahu eomma dan appa. Dan mereka setuju saja."

"Apa kau tidak lelah? Pagi kau sekolah, siang bekerja disana, dan malam latihan wushu. Hey! Kau harus punya waktu bermain. Aku tidak mau melihatmu tidak punya teman."

Tao mencibir, "Aku tidak membutuhkan teman yang takut padaku." Kyuhyun terdiam. Tidak berniat lagi membalas perkataan Tao, lagipula Tao sudah berjalan keluar.

Kyuhyun menghela, memang benar. Rata-rata teman Tao takut padanya karena keahlian Tao itu. Dan lagi, banyak geng-geng tidak berguna yang menyerang Tao tanpa sebab. Tao jadi dikira sosok mengerikan.

Kyuhyun ingin sekali membantu, tapi Tao selalu bersikap dingin bila ia ikut campur.

Sepulang sekolah, setelah berpakaian biasa, Tao datang ke kafe dekat tempat tinggalnya. Menyapa bibi Jung –pemilik kafe itu dan memakai pakaian khas karyawan disana. Kafe sedang sepi pengunjung. Daripada menganggur, Tao meminta bibi Jung untuk mengajarinya membuat teh.

Selagi Tao meracik teh, bel perak diatas pintu kafe berbunyi menandakan ada tamu. Tao akan pergi melayani tapi bibi Jung melarangnya. "Biar Chen saja yang melayani. Kau lanjutkan membuat teh. Bibi rasa kau mempunyai bakat disana." Tao mengangguk. Kembali fokus pada teh nya.

Tidak lama bel kembali berbunyi. Tao mengintip sedikit dari pintu dapur kafe itu. Sesosok pemuda bersurai emas dan mempunyai tinggi yang Tao rasa lebih tinggi darinya datang menghampiri dua pemuda yang telah duduk diluan disana.

Pemuda bersurai emas itu terlihat kaya, lihat saja pakaiannya yang Tao kenal baik adalah merek terkenal. Diam-diam Tao sering melihat katalog barang-barang mewah di internet.

"Kau mengintip siapa Tao?" Tao tergagap karena kedapatan oleh Minseok yang merupakan barista dikafe ini. Rata-rata pelayan disini sudah berusia jauh diatas Tao.

"Ti-tidak ada. Aku hanya melihat tamu yang datang."

"Ah, kalau begitu kau saja yang melayani nya. Sepertinya dia teman mereka."

"Tidak usah. Biar aku saja, pelayan baru kita ini sepertinya lebih tertarik meracik teh." Chen berlalu dari belakang. Sedikit mengeluarkan candaan kepada Tao.

Bocah bermata panda yang sering datang ke kafe hanya untuk mencicipi segala rasa dari teh dan berakhir bibi Jung yang meminta Tao untuk bekerja disini.

"Tao, teman mereka meminta teh. Bisa kau membuatnya? Bibi Jung yang menyuruh." Chen menghampiri Tao yang masih berada didapur.

"Tapi, aku baru saja belajar sekali."

"Bibi Jung mengatakan teh mu enak. Bagaimana? Pelanggan pertamamu?" Chen menaik-turunkan alis. Memberi sugesti bahwa ini tawaran menarik dan sayang sekali ditolak.

Akhirnya Tao mengangguk. Tangan lentik itu mulai mengambil alat meracik teh dan tidak ketinggalan teh itu sendiri. Beberapa menit kemudian, Tao menyerahkan teh itu kepada Chen. Harap-harap cemas melihat reaksi pemuda bersurai emas yang Tao akui sangat tampan itu.

Tao mengintip dari pintu dapur, menggigit bibir saat pemuda bersurai emas itu meneguk teh nya.

"Wah... Teh disini sangat enak."

Tao hampir saja memekik kegirangan mendengar respon pemuda bersurai emas itu. Cepat-cepat Tao kembali masuk ke dapur dan melompat kegirangan.

Minseok yang melihat sikap Tao hanya bisa terkikik geli.

"Benarkah dia preman yang ditakuti itu, eoh? Menurutku dia sangat manis." Monolog Minseok.

Hari-hari berikutnya, ketiga pemuda itu akan datang. Lalu Tao pasti langsung bersembunyi didapur. Tao takut bertemu pemuda bersurai emas itu. Entahlah, Tao gugup sendiri jadinya.

Namun ada pertimbangan lain sebenarnya, Tao tahu mereka seusia dengannya. Mereka pernah datang masih memakai seragam sekolah.

Dan Tao takut mereka mengetahui Tao bekerja disini karena Tao pernah mendengar mereka membahas dirinya yang begitu hebat dengan wushu. Tao hanya... malu.

"Aarrggghhhh! Ini sangat sakit!" lamunan Tao pecah seketika mendengar teriakan itu. Tao mengintip dari pintu dapur.

Mendapati pemuda bersurai emas yang dipanggil kedua temannya 'Kris' sedang mengeluh kesakitan. Tao tidak tahu mengapa tapi ketika mobil mewah yang biasa menjemput Kris, pemuda itu kembali bersikap biasa saja.

Dan saat Kris pergi, tubuh Tao membeku mendengar celoteh Jongin dan Chanyeol –begitulah yang Tao dengar panggilan mereka.

"Aku tidak bisa membayangkan fans Kris melihat nya meringis karena latihan Wushu."

Wushu?

Tao menutup pintu dapur. Wajahnya muram. Dia semakin takut memperlihatkan diri kepada mereka terutama Kris. Tao takut, Kris akan mengatainya monster.

Tao menghalau pikirannya, menyeka setitik air mata yang jatuh dari mata pandanya.

Setelah kejadian Kris yang meringis sakit, pemuda bersurai emas itu sudah jarang datang. Hanya kedua pemuda bernama Jongin dan Chanyeol.

Ingin sekali Tao bertanya, tapi semua sudah terjawab saat mendengar pembicaraan Jongin dan Chanyeol. Kris mengikuti les privat setelah orang tuanya mengetahui Kris berlatih wushu.

Tao sedih –tentu saja. Kris lah orang yang selalu memesan teh. Dan Tao yang membuatnya. Bibi Jung berkata, Kris adalah pelanggan Tao jadi Tao harus selalu membuat pesanan pemuda itu.

Setelah dua tahun, Tao sudah kelas tiga sekolah menengah pertama. Dan sedang dalam masa genting menghadapi kelulusan. Kris datang dimalam hari bertepatan Tao yang tidak latihan wushu karena Suhu nya –pelatih wushu baru saja keluar kota.

Kris datang sendiri tanpa Chanyeol dan Jongin.

Jantung Tao berdegup cepat.

Kris begitu menawan.

Chen datang dan mengatakan pesanan Kris adalah teh.

Tao menatap peralatan teh nya. "Aku akan membuat yang spesial untukmu, Kris." Tao mengambil bubuk teh beraroma orange flavour yang baru saja ia temukan saat membeli di supermarket. Menambahkan susu vanilla kental.

Tao menyeduhnya sesuai takaran.

Lalu, Orange Milk Tea pertama Tao telah selesai. Resep Tao sendiri.

"Wow... ini teh apa?" tanya Chen.

"Orange Milk Tea." Jawab Tao.

"Spesial, eoh? Kenapa kau tidak mengantarkan sendiri pesanan ini untuk pemuda tampan itu?" goda Chen.

Rona merah menjalar dipipi Tao. "Jangan bercanda hyung! Antarkan saja." Chen angkat tangan menyerah kemudian pergi membawa teh buatan Tao.

Tao lagi-lagi melakukan kegiatan yang telah lama tidak ia lakukan. Mengintip Kris.

"Ini apa?" Kris bertanya pada Chen. Aroma teh yang merasuk ke indera penciumannya sangat memabukkan. Begitu menenangkan.

"Orange Milk Tea. Pembuatnya sengaja membuat teh itu untukmu." Balas Chen.

"Bisakah aku bertemu pembuat teh itu?"

Chen melirik sekilas ke arah dapur dan yang ia dapati adalah pintu tertutup kencang. "Hahaha... sepertinya tidak. Belum saat nya kalian bertemu. Kalau begitu, aku permisi. Selamat menikmati teh spesialmu."

"Ah, tunggu! Sampaikan padanya rasa terimakasihku. Katakan juga, hari ini adalah hari kebebasanku. Jadi, aku akan lebih sering ke sini."

Chen mengangguk sebelum akhirnya berlalu pergi.

Kris tersenyum senang. Menikmati malam kebebasannya seorang diri dengan rasa Orange Milk tea yang memabukkan.

Dan benar, setelah masuk sekolah menengah atas, Kris hampir setiap hari mampir bersama Chanyeol dan Jongin tapi terkadang sendiri. Kris juga selalu memesan minuman spesial itu.

Meskipun sang pembuat teh tidak pernah menampakkan diri. Kris merasa sangat berterima kasih padanya.

Flashback Off

To Be Continued...

Make A Review please?

Kritik dan saran diterima banget !