A Genderswitch Fanfiction

My Story with (Y)Our Baby

Genre : GS, GaJe always, Sad but Happy end, Hurt dan lain sebagainya.

Length : Unknown

Disclaim : Semua cast itu milik Tuhan. Ipech Cuma pinjem nama. Tapi jangan lupa Fanfiction ini punya Ipech seorang.

Typo everywhere… be carefull.

KyuMin and Others (My beloved OTP)

.

~o0o~

.

.

.

The story begin…

My Story with (Y)Our Baby | KyuMin Fanfiction | GS | #4

.

.

.

"Oppa…" Seohyun. Gadis manis itu melangkah riang dengan menyeret koper hitamnya saat dilihatnya sosok Oppa nya tengah berdiri dengan kacamata hitam yang membingkai mata indahnya dari kejauhan.

Yonghwa menoleh saat merasa panggilan oppa itu ditujukan untuknya. Pemuda bermarga Jung yang memiliki senyuman manis itu tersenyum menanti Seohyun dengan sabar. "Kau datang sendiri? Mana kekasihmu?" Tanya Yonghwa setelah melepas kacamata hitamnya. Pandangannya meneliti sekeliling mencari sosok Kyuhyun yang juga akan berangkat ke Amerika hari ini bersama ia dan Seohyun.

"Tck! Kenapa oppa yang sepertinya sedih Kyuhyun tidak datang huh? Siapa kekasih oppa sebenarnya?" Seohyun bertanya dengan sewotnya. Yonghwa berhenti mencari-cari mendengar suara merajuk yeoja yang kini berstatus sebagai kekasihnya ini. Pemuda itu beralih mengacak poni Seohyun lalu tersenyum manis.

"Tentu saja kekasihku itu yeoja yang sekarang berdiri di hadapanku. Tapi coba oppa Tanya, siapa kekasihmu?" Yonghwa menggoda dengan menoel hidung yeojanya membuat yeoja itu mengerucut kesal.

"Oppa! Sudah kubilang hanya oppa. Masalah Cho Kyuhyun sudah berakhir. Lagipula dia tidak jadi berangkat ke Amerika. Hari ini, dan bahkan suatu hari nanti untuk kuliah di Harvard." Terang Seohyun. Nada bahagia yang begitu kental terdengar dari sana.

"Mwo? Kenapa?" kaget Yonghwa.

"Entahlah. Tapi aku bersyukur pada apapun itu yang membuat Kyuhyun gagal kuliah di Harvard." Seohyun berkata dengan penuh rasa syukur.

"Kenapa begitu?"

"Ish! Jangan banyak tanya, lebih baik kita cepat masuk ke dalam. Dengar? Petugas sudah memanggil kita untuk segera berangkat." Seohyun menarik lengan Yonghwa menuju pintu keberangkatan. Dua sejoli yang sudah menjalin kasih terhitung dua tahun bulan lalu itu tampak mengumbar senyum bahagianya.

~o0o~

"Kyuhyun-ah!" Kyuhyun mendongak kembali menatap Kangin. Sorot matanya menandakan ia bertanya ada apa? "Bisa ahjusshi bicara sebentar?" tanya Kangin ramah. Sejenak Kyuhyun tampak ragu namun ia mengangguk kemudian.

Kangin mengulas senyumnya sebentar kemudian berdiri dan mulai berjalan mengisyaratkan Kyuhyun mengikutinya. Kyuhyun lagi-lagi hanya menurut. Ia berjalan mengekori Kangin mengabaikan orang-orang yang masih duduk diam di ruangan itu.

Sungmin mengembus nafas berat setelah Kyuhyun pergi. Yeoja cantik itu meletakkan separuh potongan kue yang tadi ia makan. Ia merasa tidak bernafsu lagi. "Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Heechul. Sungmin menggeleng pelan. "Aku ke kamar dulu." Setelah mengucapkan itu Sungmin berdiri dan melangkah lesu menjauh dari ruang keluarga. Taemin memandangnya sedih begitupun Donghae dan Heechul.

"Taeminnie, ada Minho menunggumu diluar." Suara lembut Leeteuk mengalihkan Taemin dari tangga. Gadis manis itu tersenyum kecil pada ibunya lalu berdiri, mengambil tas slempangnya dan berjalan mendekati ibunya. "Aku pergi dulu umma." Pamitnya setelah mencium pipi Leeteuk.

"Ne, hati-hati dijalan." Pesan Leeteuk.

"Ne, aku pergi." Pamitnya sekali lagi. Leeteuk meletakkan nampan berisi minuman dan beberapa kue kering di meja. "Kemana yang lain?" tanyanya.

"Kangin sedang berbicara dengan Kyuhyun. Sungmin ke kamar." Jawab Heechul.

~o0o~

"Ada apa ahjusshi?"

"Duduklah dulu." Kangin berujar sembari menunjuk sofa dihadapannya. Ia membawa Kyuhyun kedalam ruang kerjanya agar bisa berbicara dengan leluasa. Kyuhyun menurut, ia segera duduk didepan Kangin namun tidak berani menatap Kangin seperti biasa ketika mereka tengah bercanda.

"Ahjusshi tidak suka keadaan yang canggung seperti ini." Kyuhyun mendongak. Merasa dejavu dengan apa yang ia rasakan sekarang. Semalam ia sudah melakukan hal yang mirip dengan seperti ini bersama Heechul, sekarang Kangin dan ia tahu setelah ayahnya pulang maka orang yang ada dihadapannya sekarang akan berganti dengan wajah rupawan sang ayah. "Ahjusshi lebih suka kita berada dalam keadaan yang sama seperti dulu. Kita bisa bercanda tanpa canggung sama sekali." Sambung Kangin.

Kyuhyun hanya mengulas senyum tipisnya. Bukan hanya Kangin, ia juga risih dengan situasi seperti ini. Tapi ia sendiri entah kenapa tidak bisa bersikap seperti biasanya.

"Maksud ahjusshi apa?" Tanya Kyuhyun meski ia tahu apa maksud orang dihadapannya ini.

"Sebagai orangtua Sungmin, boleh ahjusshi mengatakan sesuatu?" Kyuhyun mengangguk. "Jujur ahjusshi sangat kecewa dengan apa yang kau lakukan terhadap Sungmin. Tapi… entah kenapa ahjusshi tidak bisa memarahimu, tidak bisa memukulmu dan bahkan tidak bisa membencimu. Ahjusshi juga tidak bisa dengan mudah membiarkanmu menikahi Sungmin jika memang kau mau bertanggungjawab padanya." Kyuhyun yang tadinya menunduk kini mendongak. "Ahjusshi tahu kau tidak mencintai Sungmin. Ahjusshi juga tahu kau bahkan punya Yeojacingu. Tapi bolehkah ahjusshi meminta satu hal darimu?"

"Apa?" tanya Kyuhyun lagi.

"Jika tidak bisa memperlakukan Sungmin sebagai istrimu kelak, tolong perlakukan Sungmin seperti biasanya saja." Satu pinta Kangin yang sangat sederhana tapi entah kenapa Kyuhyun merasa… berat. Memperlakukan Sungmin seperti biasanya? Kyuhyun menarik nafasnya kemudian menatap Kangin serius. Ia mulai berdiri membuat Kangin menatap bingung pemuda tampan dihadapannya.

o0o

Kangin memandang hampa punggung Kyuhyun yang menjauh dari pandangannya. Pemuda itu memilih berlalu dari ruangannya tanpa sebab yang pasti.

"Maafkan aku ahjusshi."

Kata ambigu itu yang hingga sekarang masih tersemat jelas dalam ingatan Kangin. Pemuda itu membungkuk, mengucap maaf dengan begitu tulus padanya. Maaf untuk hal apa? Semuanya? Kangin menghembuskan nafasnya berat. Kenapa harus putrinya yang menerima ini?

~o0o~

Heechul hanya mampu memandang putranya saat tiga kali panggilannya tak dijawab sama sekali. Donghae meminta ijin keluar untuk mengikuti Kyuhyun. Ia tahu suasana hati Kyuhyun tengah kacau sekarang.

Sempat mengedarkan pencariannya di luar gerbang kediaman Lee, namun saat ia melihat Kyuhyun tengah duduk menyandar pada tembok gerbang kediaman Lee, menutupi wajahnya dengan kedua telapaknya, pemuda berjuluk ikan nemo itu tersenyum kemudian mendekatinya. Mengambil duduk di sebelah pemuda itu lalu memposisikan wajahnya agar tepat pada Kyuhyun ketika Kyuhyun membuka wajahnya.

Kyuhyun sadar jika Donghae mengikutinya, bahkan posisi pemuda itu dia juga tahu. Tapi ia belum siap saja jika harus berhadapan dengan pemuda childish yang punya tingkat kebijaksanaan setara dengan appanya ini.

"Wae?" suara lembut yang ia tahu berasal dari pemuda yang lebih tua beberapa bulan darinya ini membuatnya menyerah. Ia buka tangkupan pada wajahnya dan mendongak. Menatap langit sembari merangkai kata untuk mulai bercerita pada sosok yang ia panggil Hyung itu.

"Sudahlah, ini tidak akan buruk seperti apa yang kau bayangkan." Sela Donghae kemudian saat Kyuhyun tidak juga berbicara. Donghae hanya menampakkan senyum kekanakannya saat Kyuhyun mulai menatap tidak suka pada kata-katanya.

"Berkata memang mudah Lee Donghae. Tapi menjalaninya tidak lebih mudah dari mengerjakan soal geometri." Kata Kyuhyun pedas.

"Ya, aku tahu itu." Donghae kembali diam. Mengangkat kepalanya dan menatap lurus kedepan. "Sungmin yeoja yang baik." Sambung Donghae lagi.

"Jika dia baik dia tidak akan melakukan ini padaku, Hyung." Tukas Kyuhyun datar.

"Hei hei! Melakukan apa?" Donghae mencoba mengkoreksi. Wajahnya terlihat bingung menatap Kyuhyun.

"Merusak cita-cita ku." Sahut Kyuhyun kesal.

"Kau punya cita-cita?" dengan santai Donghae bertanya. Senyum kekanakannya masih tersemat di bibirnya.

"Tentu saja."

"Apa menjadi pengacara lulusan Harvard adalah cita-citamu?" tanya Donghae lagi. Kyuhyun hanya menatap datar Donghae. "Aku juga punya cita-cita. Aku ingin meneruskan perusahaan appa kelak. Eunhyuk juga punya. Dia ingin jadi penari professional." Terang pemuda komikal itu. Kyuhyun melengos. Ia juga tahu, semua orang punya cita-cita.

"Sungmin juga punya cita-cita." Kata Donghae enteng. Pemuda nemo yang Kyuhyun yakini setelah berpacran dengan Eunhyuk tertular cerewet itu kini terbukti. Dan mendengar kata-kata Donghae seperti ada cubitan keras mampir didadanya. "Dan Kau tahu apa cita-citanya?" Kyuhyun diam saja saat Doghae menatapnya. Pertanyaan sepele yang entah mengapa kini membuatnya merasa diintimidasi.

"Dia ingin jadi pemusik hebat. Dia ingin jadi composer lagu di usia mudanya. Dia ingin punya grup orchestra yang sukses kelak." Terang Donghae begitu lancarnya. "Jika kau berfikir Sungmin merusak cita-citamu sekarang Hyung tanya, siapa yang merusak cita-cita siapa? Huh?"

"Kau masih bisa menjadi pengacara meski tidak ada mendapat embel-embel lulusan dari Harvard. Hyung benar bukan?" sambung Donghae lagi.

"Aku… tidak menyalahkannya, Hyung. A -aku hanya kecewa. Kenapa dia tidak menceritakannya padaku sesaat setelah aku melakukannya? Setidaknya dia bisa menceritakannya padaku. Dan tentang kehamilannya mungkin aku akan mengantisipasi dan menyiapkan mentalku untuk ini. Kenapa dia harus menutupinya Hyung?" wajah penuh ekspresi putus asa Kyuhyun menatap Donghae.

"Tanyakan semua pada Sungmin. Aku tahu dia punya alasan tersendiri kenapa dia menyembunyikannya dari semua orang." Kata Donghae bijaksana.

Kyuhyun kembali menatap lurus kedepan. Mencerna kata-kata Donghae yang memang sebelas-dua belas bijaknya dengan kata-kata sang ayah membuat hatinya perlahan mulai terbuka. Ya, ia sadar, hingga sekarang bahkan isi hatinya selalu menyalahkan Sungmin atas kejadian ini. Mengesampingkan fakta bahwasanya ia adalah dalang dari semuanya. Ia menyalahkan Sungmin atas cita-citanya, namun ia lupa jika bukan hanya ia yang punya cita-cita. Sungmin juga punya dan bodohnya ia tidak tahu apa cita-cita Sungmin. Selama ini hanya ia yang berkeluh kesah pada Sungmin, tapi ia kini sadar ia tidak pernah memberi Sungmin ruang untuk berkeluh kesah padanya.

Hati Kyuhyun menyesak tiba-tiba. Menjadi komposer diusia muda ia tahu itu tidak mudah. Tapi ia yakin Sungmin bisa karena dia ingin. Namun ia sadar bahwa ia sudah menghancurkan cita-cita Sungmin dengan memberinya bayi di usia muda. Rasa bersalah yang pernah ia buang jauh-jauh kini datang begitu banyak memenuhi hatinya.

"A –aku… akan menikahi Sungmin." katanya pelan.

Donghae tersenyum mendengarnya. "Memang seharusnya kau menikahi Sungmin." ujar Donghae.

Dua pemuda berbeda marga itu menoleh saat deru mobil terdengar melewati mereka dan berhenti tak jauh dari mereka. Menampakkan siluet si cantik Eunhyuk dengan rambut cokelatnya. Gadis itu berjalan menghampiri Donghae dan Kyuhyun.

"Cha, kurasa kau kalian harus berbicara." Donghae berdiri dan membersihkan celananya dari kotor debu kemudian mengulurkan tangannya pada Kyuhyun yang dibalas senyuman kecil dari pemuda kelahiran 3 February itu.

"Gomawo, Hyung." Ujaran Kyuhyun yang tulus dibalas senyum tulus juga dari Donghae. Ia mengangguk. "Jangan menyalahkan Sungmin, percaya pada Hyung kau akan menyesal jika menyalahkan Sungmin terlalu banyak." Kyuhyun hanya mengangguk.

"Kalian sedang apa?" tanya Eunhyuk setelah sampai dihadapan dua pemuda tampan yang salah satunya berstatus kekasihnya. "Jangan bilang kau berselingkuh dengan si Cho ini, Hae?" tuduh Eunhyuk penuh canda.

Kekehan Donghae muncul membuat mata bulat kecilnya menyipit. Ia menghampiri Eunhyuk kemudian merangkulnya. "Untuk apa aku berselingkuh dengan calon appa seperti Cho itu jika aku punya calon umma penerus Lee yang cantik ini."

"Lee Donghae!" pekikan Eunhyuk terputus begitu saja saat Donghae membawa gadisnya memasuki gerbang kediaman Lee. Kyuhyun masih diam, memandang gerbang yang sudah sering ia sambangi kemudian mengulas senyum kecilnya.

Orang salah itu bisa sadar kapan saja.

~o0o~

"Eoh. Hyuk, kau sudah datang?" Tanya Leeteuk dengan senyum manisnya.

"Ne, ahjumma. D –"

"Umma, dimana Sungmin?" Eunhyuk yang hendak menanyakan dimana Sungmin mengatupkan mulutnya begitu saja dan menoleh pada Kyuhyun yang baru masuk.

"Sungmin dikamarnya, Kyu." Jawab Leeteuk.

"Anak itu tidak sopan." Eunhyuk hendak menyusul Kyuhyun yang kini tengah menaiki setengah anak tangga menuju lantai dua namun urung saat Donghae mencekal lengannya. "Wae?" Tanyanya.

"Jangan sekarang." Kata Donghae lembut membuahkan kerutan heran di dahi tiga perempuan cantik disekitarnya.

~o0o~

Bunyi desiran angin akhir musim semi begitu terdengar merdu. Sungmin, yeoja manis yang kini meredup sinar wajahnya itu menatap kosong pada pot bunga kaktus mini yang berada di pojok balkon. Duduk di pintu balkon seraya menekuk lutunya.

"Kau senang?" suara datar Kyuhyun terdengar membuat Sungmin mencari asal suara. Ia reflek berdiri saat meliahat siluet Kyuhyun tengah berdiri membelakanginya. Sejak kapan?

"Kau bahagia?" sambung suara itu lagi masih dengan nada datar. Sungmin mendongak, menatap sedih punggung berlapis kaus abu yang kini membelakanginya lalu menggeleng meski ia tahu Kyuhyun tidak akan bisa melihatnya.

"Kau tahu?... Dulu… ada orang yang bilang padaku jika mimpi itu harus diletakkan setinggi mungkin dan juga sejauh mungkin." Sungmin mengamati Kyuhyun dalam diam. Airmata tanpa isakannya mendesak hendak keluar dari tempatnya.

"…dan sejauh serta setinggi apapun itu ia janji akan membantuku mengambilnya. Meskipun dengan keringat sebanyak apapun, sebau apapun, selelah apapun ia sanggup membantuku." Kyuhyun menarik salah satu ujung bibirnya. Menatap lurus pada balkon kamarnya sendiri seraya mengeratkan genggamannya pada pembatas balkon.

Sungmin tercekat. Airmatanya lolos tanpa aba, basah keseluruhan dengan sinar redup menyelimutinya. Orang itu dirinya. Dirinya yang mengatakan itu pada Kyuhyun dahulu. Ingin sekali kini ia meraung dan berlutut dihadapan Kyuhyun sembari mengucap maaf sebanyak yang pemuda itu inginkan. Ia menunduk, membiarkan airmatanya jatuh dengan harapan setelah ini habis dan ia tidak akan bisa mengeluarannya lagi.

~o0o~

"Hei, kau sedang apa? Bukankah hari ini Sonsaengnim tidak memberi Pekerjaan Rumah?" Sungmin memandang hamparan buku yang Kyuhyun sebar dan biarkan terbuka sementara dirinya menelungkup lesu.

"Ming… kau punya cita-cita?" Tanya Kyuhyun tiba-tiba memiringkan kepalanya ke arah Sungmin di kanannya.

"Cita-cita?" sepasang mata kelinci itu menyipit. "Tentu saja punya. Semua orang pasti punya cita-cita Kyu… kau itu aneh." Sungmin terkekeh kecil lalu menyambar PSP hitam Kyuhyun yang tergeletak diatas buku dan ikut menelungkup disamping Kyuhyun seraya bermain.

"Menurutmu, cita—cita apa yang cocok untukku?" dengan wajah polos namun Sungmin menangkap ada keputus asaan disana Kyuhyun bertanya. Namja yang beranjak remaja itu kemudian menerawang langit-langit kamarnya yang putih, mencoba mencari makna cita-cita seperti yang teman-temannya bicarakan tadi siang di sekolah.

"Cita-cita untukmu?"Sungmin bangkit dari telungkupnya. Mulai duduk bersila sembari menatap aneh ekspresi Kyuhyun yang menatap lurus pada langit-langit kamar. "Hei! Kenapa bertanya padaku? Cita-cita itu kau sendiri yang menginginkan, kau yang menentukan karena kau yang menjalaninya." Jawab Sungmin dewasa. Gadis manis itu tersenyum tulus.

"Aku ingin menjadi pengacara hebat seperti Hyunwoo Hyung di film tadi." Kata Kyuhyun lagi tanpa mengubah ekspresi dan posisinya.

"Ah… pengacara ya?" Tanya Sungmin sembari mengingat profesi Hyunwoo di film yang mereka tonton tadi. "Eum… Sepertinya cocok untukmu, kau banyak bicara dan kata-katamu itu sangat pedas Kyu," cibir Sungmin.

"Benarkah?" binar senang terpancar dari mata Kyuhyun. Remaja itu menoleh pada Sungmin yang masih asyik memainkan PSP miliknya.

"Eoh!" tanpa mengalihkan fokusnya dari PSP, Sungmin menjawab.

Kyuhyun cemberut, sosok yang masih mendapat julukan anak kecil dari ibunya itu mulai bangkit dan duduk menyandar pada kepala ranjang. "Tapi kurasa itu sulit."

"Wae?" Sungmin mengernyitkan alisnya tanpa mengalihkan fokus.

"Appa bilang aku harus meneruskan perusahannya kelak. Dan umma bilang aku tidak boleh kuliah diluar negeri." Jawab Kyuhyun sedih. Ia mulai menekuk lututnya dan menumpukan dagunya disana.

"Begitukah.?" Sungmin menoleh kebelakang dan saat melihat Kyuhyun yang murung, ia mem-pause psp nya lalu mendekati Kyuhyun. Ikut duduk disamping Kyuhyun dengan posisi sama seperti Kyuhyun pula. Bedanya jika Kyuhyun menatap lurus kedepan, Sungmin justru memiringkan kepalanya imut memandang Kyuhyun.

"Eoh." jawab Kyuhyun lemas.

"Jangan menyerah. Ahjusshi dan ahjumma bilang kelak bukan? Itu karena mereka belum tahu apa yang kau inginkan. Jika mereka tahu apa yang kau inginkan mereka pasti akan mendukungmu." Senyum manis khas Sungmin terlukis diwajahnya.

"Jinja?" Kyuhyun mengubah posisi kepalanya menjadi miring menghadap Sungmin.

"Ne, umma dan appa bilang semua orangtua menyayangi anaknya dan ingin yang terbaik untuk anaknya."

"Tapi Harvard itu jauh, Ming." Nada lesu disusul hembusan nafas berat terdengar dari Kyuhyun. Bocah laki-laki itu mengubah posisinya, menyelonjor sembari menatap lurus kedepan.

"Apa hanya karena Harvard itu jauh kau menyerah?" kepala Sungmin condong kedepan wajah Kyuhyun, melihat ekspresi lucu bocah itu sembari tersenyum. "Mimpi itu harus diletakkan setinggi mungkin, Kyu. Sejauh mungkin. Kau tahu kenapa?" Kyuhyun menatap Sungmin kemudian menggeleng polos. "Karena jika kita jatuh kita tidak akan langsung jatuh kedasar. Dan jika kita ingin kembali kita akan malas karena sudah jauh jalan yang kita tempuh."

"Tapi itu akan melelahkan Ming." Sangkal Kyuhyun lagi.

"Ada aku, aku akan membantumu."

"Benarkah?"

"Tentusaja! Aku akan membantumu berlari mengejar impian itu meski aku bau keringat sekalipun. Dan aku akan membantu mengangkatmu ke atas lagi meski kau berat." Tekad penuh semangat tergambar jelas dimata Sungmin.

"Ya!"

"Hehe…"

"Kau janji?"

"Ne, kau bisa pegang janjiku." Dua bocah itu saling manautkan jemari kelingkingnya. Senyum sungmin yang terukir tulus membuat Kyuhyun juga memberinya senyum. Kyuhyun tahu, sahabatnya ini memang selalu punya segala macam jurus untuk membuatnya bersemangat menjalani hal baru yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.

~o0o~

"Tapi sekarang? Orang yang berjanji akan membantuku justru malah menghancurkan impianku. Mengubur impianku dalam-dalam hingga aku jatuh ke dasar. Padahal dia bilang jika mimpi itu kita letakkan tinggi kita tidak akan langsung jatuh ke dasar. Dia pembohong aniya?." Remasan pada pembatas balkon kian Kyuhyun eratkan.

Mata tajam teduhnya kini berkilat-kilat penuh emosi. Ia kesal, kecewa karena impian yang bahkan ia dapat kerena Sungmin harus digagalkan oleh orang itu juga. Kyuhyun ingat setiap kali ia hampir menyerah terhadap mimpinya karena sang appa, Sungmin yang memupuk semangat itu hingga tumbuh begitu kuat. Apalagi setahun yang lalu ia ingat bahwa Sungmin jugalah yang mengatakan pada sang appa jika ia ingin menjadi pengacara dan kuliah di Harvard. Yeoja itu yang bahkan membujuk Heechul yang awalnya tidak suka dengan universitas yang ia pilih.

"Hiks!"

"Dia juga bilang padaku bahwa hubunganku dengan kekasihku harus kembali seperti dulu. Tapi apa, dia hanya membual. Toh dia juga yang menghancurkan hubunganku dengan kekasihku. Dia picik!"

Sungmin meraba dadanya yang sesak. Sakit yang bahkan ia tidak bisa merasakan itu kini bersarang disana. Kenapa? "Kyuh…" lirihnya memanggil Kyuhyun.

Kyuhyun memejamkan matanya. Menikmati sesak yang kini mengalir perlahan kedalam dadanya. Percayalah, apa yang ia katakan hanya karena ia terlalu kecewa terhadap mimpinya sendiri. Perlahan ia berbalik dan pemandangan Sungmin yang tengah tertunduk sembari memegangi dadanya membuatnya lebih sesak.

Yeoja dihadapannya ini sudah ia rusak sedemikian, sudah lancang ia titipi makhluk kecil tak berdosa, sudah ia rusak cita-citanya. Dan mengingat hal itu membuat Kyuhyun seolah tersedak akan kesalahannya sendiri.

Perduli setan pada kebenciannya terhadap Sungmin, kekecewaan dan kebencian itu seolah meluber dan mengalir jauh bersama air mata yang kini terlihat membentuk segaris lurus di pipi kirinya. Ia mendekati Sungmin, memandang wajah terisak itu dengan diam sebelum isakan yang juga terdengar darinya membuat pemuda itu memeluk Sungmin erat.

"Maaf, aku tidak bermaksud." Katanya sembari mengeratkan pelukannya. "Uljima." Bisiknya dengan suara serak membuat Sungmin makin terisak keras.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Mencoba mengurangi intensitas airmata yang entah mengapa terus mengalir dari matanya. "Wae?" suaranya bergetar. "Kenapa ini terjadi pada kita Ming?" tanyanya masih dengan suara bergetar. Sungmin mendengarnya meski isakannya tak berhenti. Ia menggeleng dalam dekapan Kyuhyun, menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa disaat aku kembali pada Seohyun dan kenapa disaat impianku sudah didepan mata?" isakan Kyuhyun begitu terdengar menyakitkan bagi Sungmin. "Apa salahku Ming?" racaunya lagi. Nada putus asa yang biasanya selalu dipupuk Sungmin agar kembali bangkit kini terdengar begitu menyedihkan.

Gelengan Sungmin menjawab seolah Kyuhyun tidak salah apa-apa. "Ani… aniya… hiks… kau tidak salah… aku… hiks. Aku yang salah… mianhae…" raungan kesakitan hati Sungmin terdengar begitu pilu. Semua yang terasa sesak didada ia keluarkan dalam wujud tangisan.

~o0o~

Donghae dan Eunhyuk menutup pintu kamar Sungmin perlahan. Mereka lantas tersenyum satu sama lain. Masih dengan bersandar pada pintu cokelat itu Eunhyuk terdengar menghela nafasnya.

"Menurutmu apa Kyuhyun mencintai Sungmin juga, Hae?" ia menoleh menatap wajah komikal kekasihnya yang tersenyum lega.

"Untuk saat ini belum. Tapi tidak menutup kemungkinan nanti Kyuhyun akan mencintai Sungmin." Terang Donghae balas menatap lembut wajah cantik Eunhyuk.

"Aku hanya tak mau sahabat bodohku itu jatuh lagi." Hembusan nafas Eunhyuk terdengar sedih membuat Donghae yang mendengarnya tersenyum.

"Sungmin tidak se putus asa kau sayang," katanya sambil mengacak sedikit poni Eunhyuk. "Dia akan selalu berdiri jika dia jatuh, dan jika dia tidak biasa berdiri dia akan menunggu sakitnya hilang lalu dia akan berdiri lagi. Begitu seterusnya. Ingat?"

Eunhyuk menarik ujung bibir sebelahnya kesamping. "Kau benar. Aku melupakan itu." Ucapnya.

"Kajja, kita kembali saja." Eunhyuk hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Donghae.

~o0o~

"Sore nanti Hannie baru akan berangkat dari China. Nanti malam jika dia sudah tiba kami akan kesini untuk melamar Sungmin secara resmi." Kangin mengulum senyumnya saat melihat Heechul berbicara serius.

"Jadi pernikahan mereka akan tetap dilaksanakan?" Kangin memastikan.

"Tentu saja. Terlepas mereka saling mencintai atau tidak tapi ada bayi yang harus mereka berdua sayangi. Aku yakin, setelah bayi itu lahir cinta itu akan ada di antara mereka." Katanya lagi.

Kangin tampak mengangguk membenarkan ucapan Heechul. Ya, cinta memang bisa datang belakangan, semoga saja itu benar.

"Jadi… kumohon beri kesempatan untuk Kyuhyun." Mohon Heechul kemudian. Ia memang sangat menginginkan Sungmin menjadi menantunya karena ia yakin hanya Sungmin yang bisa menjaga Kyuhyun selain dirinya. Jadi tak ada salahnya kan? Ia yang memohon ijin pada Kangin.

Senyuman Leeteuk dan Kangin menjadi jawabannya. Sepasang orangtua yang sudah memiliki dua putri cantik itu mengangguk. "Tidak kami beri kesempatan pun kau akan menikahkan mereka, Chull-ah." Tegur Leeteuk.

Heechul terkekeh. "Ya, Kau benar. Dan orang yang paling bahagia atas musibah ini adalah aku." Tawaan Heechul terdengar sementara Kangin dan Leeteuk hanya tersenyum maklum. Ya, mereka memang sudah tahu lama perihal Heechul ingin menjadikan putri mereka sebagai menantunya. Dan satu fakta yang terlewat bahwa ada atau tidak adanya kejadian ini, empat tahun kedepan mereka akan tetap dijodohkan sesuai kesepakatan melalui ultimatum yang dibuat Heechul sendiri.

Terkesan egois? Tidak, Heechul tahu siapa Kyuhyun, meski pemuda itu sudah memiliki yeojachingu tapi ia tidak melupakan Sungmin, bahkan semua yang menyangkut yeojacingunya itu tidak pernah lepas dari campurtangan Sungmin. Ia juga tahu konflik batin yang kini tengah Kyuhyun alami. Tapi lagi-lagi ia tahu, Kyuhyun hanya terlalu labil menempatkan antara kekecewaan dan tanggungjawab terhadap Sungmin hingga kebencian yang malah timbul ditengah-tengahnya.

Leeteuk kemudian memutus pandangannya dari Heechul, wanita yang memiliki senyum yang sering dijuluki malaikat itu menoleh pada Donghae dan Eunhyuk yang barusaja turun dari lantai atas menghampiri mereka.

"Sudah selesai?" tanyanya membuat Kangin serta Heechul mengalihkan pandangannya pada Eunhyuk dan Donghae.

Sepasang kekasih itu hanya mengangguk kemudian mendudukkan diri didouble sofa yang ada di ujung.

"Bagaimana mereka?" Tanya Heechul. Donghae mengulas senyum begitupun dengan Eyunhyuk.

"Semuanya butuh waktu, tapi aku yakin akan baik-baik saja ahjumma."Jawab Eunhyuk.

"Ya, Eunhyuk benar." Heechul tersenyum senang mendengar kata-kata Donghae. Semuanya akan-baik-baik saja. Dan ia yakin itu.

~o0o~

Jam dinding putih didinding ruangan ber cat senada itu menunjukkan hampir pukul sebelas siang. Detikan jarum berujung runcing begitu nyaring terdengar seolah ruangan yang berpenghuni dua orang itu tak berpenghuni sama sekali. Kyuhyun masih setia bungkam sejak setengah jam yang lalu sementara Sungmin hanya menunduk dengan isakan yang sesekali keluar dari bibir manisnya yang kini terlihat pucat masih dalam pelukan Kyuhyun.

Kyhuhyun melepas pelukannya terhadap Sungmin saat isakannya mulai mereda. Menghapus garis demi garis yang mencetak seberapa banyak airmata yeoja itu satu persatu. Senyuman tulus mulai terukir di bibir tebal Kyuhyun. Fikirannya terasa lebih baik dari semalam.

"Aku akan bertanggung jawab." Bisik Kyuhyun.

Sungmin mendongak. Mata bulat bertahta foxy beningnya menatap Kyuhyun kaget. Ekspresi lucu yang membuat Kyuhyun mengulas senyum. Namun tak lama karena nyatanya foxy bening itu kemudian mengeruh dengan kesedihan dan menunduk lagi.

"Aku… tidak akan memaksa. Ji –jika kau tidak mau bertanggung jawab… aku tak apa." Cicit Sungmin.

"Kau memang tak apa. Tapi bagaimana bayi itu? Heum?" tanpa disadari Kyuhyun Sungmin tersenyum sedikit. Bayi itu ya? Entahlah. "Jikapun kau tak mau, ummaku akan tetap memaksa. Tidak ada gunanya."

Lagi-lagi foxy bening itu mendongak, menatap cokelatnya iris Kyuhyun yang masih berselimut keraguan. "Ba –bagaimana dengan… Seohyun?" Tanyanya takut.

Kyuhyun terpekur sebentar kemudian mengulas senyum mirisnya. "Akan kufikirkan nanti." Katanya. Ia kembali mebawa Sungmin dalam dekapannya. Member kenyamanan Sungmin sebagai bentuk maafnya.

Teringat permintaan Kangin bahwa jika ia tidak bisa memperlakukan Sungmin seperti tuntutan dalam pernikahan, setidaknya ia bisa memperlakukan Sungmin seperti biasanya. Ia lega, sungguh. Kecewa yang ia rasa bahkan kebenciannya terhadap Sungmin atas hal sepele yang menurutnya besar menghilang begitusaja.

Meninggalkan rasa bersalah merusak Sungmin yang kini mendominasi di dalam dirinya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yeah! Akhirnya bisa publish! #digampar rame-rame

Maap buat keterlambatannya ya? Ipech tau ini lama pake banget. Ipech ada ujian akhir semester kemaren pas abis part 3 nya, abis itu libur dan sinyal semartperen #nyebut merek enggak bisa diajak nego dikampung. #ngeless

Yosh! Yang penting sekarang publish! #senyum lima jari

Oh iya, ada yang nyadar nggak di part awal Ipech nulis Tetem itu junior High School? Typo ya, diralat disini. Tetem itu Senior High School kelas 1.

Si pelastik Soyun selingkuh? Iya die selingkuh dan Kyu belom tau.

Feelnya jelek di part ini? Iya, Ipech akuin itu. Dan maybe ini nggak long chapt.

Thankseu yang udah nyempetin baca dan kasih review… ^^ #paketin cium

Thankseu all…